-Tobucil, Jumat 31 Juli 2009-
Spend all your time waiting
for that second change
for break that would make it okay …*
“Kamu tau, nggak, komputer Tobucil mati ?” tanya Mbak Elin di tengah rapat mingguan pengurus Tobucil. “Wah … nggak tau. Dari kapan ?” Tobuciler balik bertanya. “Dari kemaren sore,” sahut Mbak Elin.
Disinyalir, komputer mendengarkan obrolan Mbak Elin dan Mbak Tarlen pada Kamis (30/7) yang kira-kira seperti ini :
Mbak Elin : Ceu, kapan beli komputer baru teh ?
Mbak Tarlen : Nabung-nabung dulu, deh ...
Mbak Elin : Iyalah, nungguan ieu (sambil menunjuk si komputer) modar wae-lah. Ini juga masih bisa dipake …
… lalu … BLEZZZ … di sore hari, si komputer modar tiba-tiba. Mau tak mau Tobucil membeli komputer baru. “Entar yang ini dituker tambah aja,” kata Mbak Tarlen. Maka, Jumat siang itu, datanglah Kang Odang untuk membawa si komputer yang telah tewas sebagai kusuma bangsa.
Komputer Tobucil ini dibeli pada tahun 2003, setelah Mbak Tarlen bekerja di Japan Foundation. Ia ikut Tobucil berpindah-pindah tempat. Ia adalah saksi berbagai peristiwa, penyimpan beragam rahasia, pendengar yang tak banyak berkomentar, penghibur di segala suasana, pun pekerja yang tekun dan tak banyak menuntut.
Sebelumnya, komputer ini memang sudah beberapa kali bermasalah. Mengingat usia dan kerjanya yang cukup keras, tidak heran jika dia sakit-sakitan sekali-sekali.
Namun, kali ini penyakitnya sudah tak tertolong. Atau mungkin percakapan Mbak Elin dan Mbak Tarlen membuatnya tak lagi menolong dirinya sendiri menghadapi penyakit. Ia yang tidak post power syndrome mencukupkan baktinya dan meninggal dengan tenang. “Mungkin dia tau diri aja,” duga Mbak Tarlen.
In the arm of the angel,
fly away from here
You’re in the arm of the angel
may you find some comfort there …*
Selamat tinggal komputer yang setia
Tobuciler percaya esensimu tak perlu sayap untuk terbang ke surga …
*diambil dari lirik lagu “Angel”, Sarah McLahlan
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment