Monday, August 10, 2009

Packy

Packy adalah ransel saya, dibeli 10 tahun lalu ketika saya baru masuk SMA. Waktu itu, fungsi Packy tidak lebih sebagai penampung buku, alat tulis, dan bekal makanan serta minuman saya ke sekolah.

Ketika saya kuliah, Packy jarang dipakai. Tapi belakangan, saya kembali menggendong Packy setiap kali pergi ke Bandung. Sebetulnya, lengan Packy terlalu besar untuk bahu saya, tapi cuma Packy yang sanggup menampung banyak barang ketika saya bepergian.

Karena sering dibawa pergi, Packy pun bukan lagi sebuah backpack yang kerjanya cuma mengangkut berbagai barang yang saya perlukan. Saya sering pergi sendiri. Otomatis cuma Packy yang menemani saya.

Kalau saya ke CCF, Packy saya suruh menunggu di lemari penyimpanan tas. Begitu juga kalau saya ke Gramed, Packy saya titipkan dulu di tempat penitipan tas. Ketika saya kembali, Packy selalu berkata, “Ceritain dong apa aja yang ada di dalem.” Sambil menggendongnya keluar, saya bercerita padanya tentang apa yang saya lihat di CCF atau Gramed.

Kalau ke Tobucil, Packy saya ajak ke dalam, kemudian Packy saya dudukkan di karpet. Kadang-kadang Packy ngobrol bersama tas Tobuciler dan tas-tas yang lain. Packy tampaknya senang ada di sana karena bisa bertukar cerita bersama teman-temannya sesama tas.

Kalau saya ke perpustakaan PSS (Pusat Studi Sunda), Packy dengan setia menunggu di ruang tamu karena tas tidak boleh dibawa ke ruang baca. Tapi pernah juga Packy saya ajak ke ruang baca dan ikut membaca di sana.

Kalau sedang kedinginan atau merasa sendirian di tengah kerumunan, saya dekap erat Packy. Packy tidak pernah mengeluh sesak. Sebaliknya, Packy selalu menenangkan saya dan mengatakan kalau saya tidak sendiri.

Dan, kalau saya bosan menunggu kereta datang di stasiun Bandung, sambil duduk, Packy saya ajak main ucang anggé. Packy saya dudukkan di kaki, kemudian saya acung-acungkan Packy sambil tangannya saya pegang.

Cang anggé, ucang anggé

Mulung muncang ka paranjé

Digogog ku anjing gedé

Anjing gedé nu Ki Lebé

Ari gog, gog, cungungung!

Packy saya acungkan ke atas. Saya tahu, Packy tertawa-tawa karenanya.

Di dalam kereta, baik saat berangkat atau pulang, Packy mencatat banyak hal. Karena di dalam kereta ada banyak orang dari berbagai kalangan dan profesi. Mereka mondar-mandir di gerbong buat cari uang, membaca koran, ngobrol, melamun, merokok, ngemil, atau orang-orang seperti saya yang pergi sendiri dan cuma ditemani tasnya.

Sampai di rumah, saya keluarkan barang-barang dari dalam tubuh Packy. Packy pasti merasa lelah. Ia ingin istirahat.

Sebelum Packy terlelap, saya bisikkan sesuatu padanya: Packy, makasih udah nemenin aku. Kapan-kapan, kita pergi lagi.

Packy pun tertidur. Nyenyak.***


fotorieyanti Rie Yanti suka sekali mencorat-coret “Papan Tulis” Tobucil dan mengoceh di Warung Fiksi.

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

1 komentar:

vbi_djenggotten said...

gila...kirain cuma aku yang betah make tas berusia 6 tahun...
ternyata ini malah udah 10 tahun...

kalah deh...nyerah aku...

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin