Monday, August 10, 2009

Persiapan Puasa Ala Kak Syaraf Maulini

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Hamba Allah (kucing_garong@yahoo.com):

Hai Kak Syaraf, sebentar lagi puasa akan tiba, saya mau mengajukan beberapa pertanyaan:

1. Di rumah saya air sering mampet. Bagaimana jika ketika mau berbuka tidak ada air di rumah saya? Bagaimana saya harus berbuka?
2. Apa saja sih hal-hal yang membatalkan puasa? Kok sepertinya simpang siur dan selalu ada perdebatan soal mana yang membatalkan dan mana yang tidak?

Jawaban dari Kak Syaraf:

1. Beli aqua di pinggir jalan dunk ah. Kalo sulit juga, maka kau korek hidungmu sampai berdarah, batal deh.
2. Intinya begini sih sepertinya, setiap kau punya hawa napsu, lalu kau lampiaskan hingga terpuaskanlah hawa napsumu, barangkali itulah artinya batal. Bukan soal masuk nasi melampaui gigi, atau jumlah kata-kata dalam ngomongin orang, atau merk rokok yang kau hisap.


Pertanyaan dari Andika (via message FB):

Kak Syaraf, selamat atas resitalnya! Masih merayakan momen itu, saya memiliki tiga pertanyaan perihal resital:

1. Bagaimana posisi duduk yang seharusnya agar kentut penonton tidak terlalu kedengaran di tengah-tengah repertoire lagu yang sedang dimainkan?
2. Bagaimana mengatasi malu setelah bertepuk tangan keras-keras saat lagu belum selesai?
3. Setelah resital berlangsung selama dua jam dan tidak jelas kapan akan selesainya, apa yang bisa direkomendasikan supaya penonton tetap bangun dan terlihat intelek?
Terima kasih.

Jawaban dari Kak Syaraf:

1. Saya kira tak perlu malu kentut di tengah repertoar. Asalkan kau cermati lagunya. Jadi langkah pertama, kau hitung dulu si lagu itu per biramanya berapa ketuk. Nah kentutlah dengan keras untuk menandai awal birama, niscaya efek kontemporer dari si lagu akan membahana di ruangan. Ini serius. Bisa dicoba. Bisa pun kentutnya di akor terakhir lagu, tapi mesti sedikit panjang dan perlahan, karena setiap menjelang akhir lagu kan selalu memelan.
2. Kau teruskan tepukan itu, tapi ritmisnya diatur, sehingga menjadi metronom sebagai patokan si pemain untuk meneruskan lagunya. Bukannya malu yang didapat, tapi niscaya penonton haru: penonton, udah bayar, dibikin tegang, ternyata mau secara sukarela memberikan dasar ketukan bagi si pemain. Dan sebagai klimaks kerendahan hatimu, selesai acara, pulanglah lebih dulu, dan tutup wajahmu dengan jaket atau kantong plastik. Ceritanya anti riya’ dan popularitas.
3. Kau main cubit-cubitan aja sama rekan sebelah kamu. Tapi sekali lagi, ritmiknya disesuaikan. Pokoknya sebuah performa bukanlah semata-mata kesempurnaan memainkan notasi, tapi keseluruhan acara itu sendiri. Penonton kentut, tepuk tangan, cubit-cubitan, itu adalah bentuk partisipasi dua arah yang indah dalam sebuah pertunjukkan. Kuncinya satu, ritmikal. Biar agak intelek, jangan cubit-cubitan dunk, maen corat-coret pake kapur aja.

---

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf Maulini akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin