Sunday, September 6, 2009

Kain Malam

 

image gambar diambil dari sini

 

Tadi malam, ketika jarum panjang tepat menunjukkan angka satu, masih ada yang belum tertidur. Bunyi serat kain yang terbelah menyadarkanku akan hadirnya orang lain. Bebunyian berasal dari langit-langit. Aku menajamkan pendengaran, ternyata langit malam yang menjadi biang keladi berisiknya malam itu.

Aku keluar kamar, berjalan perlahan ke lantai tiga - lantai tempat jemuran yang menghadap langsung ke langit malam. Tanpa menggunakan alas kaki, aku berjalan hati-hati. Sesampainya disana, aku melihat sebuah wujud. Ia berdiri menjulang di langit dengan sekotak manik-manik di sampingnya, membelakangiku. Dengan jarum yang sangat besar, ia menjahit manik-manik itu pada kain hitam yang membentang sangat luas.

"Lagi apa?" tanyaku.

Dia tidak membalikkan wujudnya, terus membelakangiku. Kucoba dengan suara yang lebih keras, "Ehm ... lagi apa?"

Ia berbalik. Dengan sedikit ulasan senyum, ia berkata, "Aku lagi menjahit. Kamu belum tidur?"

Aku menggeleng. Kukatakan kepadaNya bahwa akhir-akhir ini aku susah tidur.

"Sudah berapa manik-manik yang Kau jahit?"

"Hmm ... mungkin 100 atau 200. Sekarang ini sulit mendapatkan manik-manik yang bagus, manik-manik yang bersinar cerah dan kontras dengan warna hitam."

"Kenapa?"

"Karena para penjual manik-manik lebih sibuk jalan-jalan pakai mobil, membuat pabrik-pabrik besar yang asapnya menjunjung tinggi ke tempatKu, dan hal-hal lainnya ketimbang membuat manik-manik cerah yang dulu mudah Ku dapatkan."

"Kau sepertinya cukup memiliki kemampuan. Kenapa tidak Kau saja yang buat?"

"Setiap masing-masing jiwa sudah ada tugasnya dan sudah ada perannya. Sudah Aku buat begitu. Biar saja."

Sementara Ia terus menjahit, aku memperhatikan. Jahitannya begitu cepat dan rapi sehingga benang-benangnya tidak terlihat. Terkadang Ia mengaduh lucu ketika jarum menusuk tangannya kemudian Ia bilang ke jarum agar tidak main-main dan tidak nakal. Ia juga berbicara pada setiap manik-manik agar tidak copot hingga kain putih menyingkap malam.

"Kau tidak masalah jika di atas sendirian?" tanyaku.

"Tidak. Kamu?"

"Walaupun aku hidup dengan banyak orang, kadang aku merasa sendirian."

"Kamu bisa menjahit?" tanyaNya.

"Bisa, tapi hanya sedikit. Aku hanya bisa menjahit kancing."

Ia terus menjahit. Diambilnya manik-manik bulat yang paling besar. Warnanya putih pucat. Teksturnya tidak rata. Dengan hati-hati, Ia mengambilnya kemudian setelah menyimpannya di tempat teratas, Ia menjelujur sisinya.

"Aku paling suka itu. Tidak ada alasan, aku hanya suka," ujarku.

Ia menghentikan pekerjaannya sebentar. Sambil tertawa kecil, ia berkata, "Semua orang suka yang ini."

Tiba-tiba kain hitam itu semarak dengan warna-warni manik-manik. Berniat berlama-lama untuk menikmatinya, Ia berkata, "Segeralah masuk. Tidur. Besok kamu kerja."

Ibarat anak kecil, aku menurut. Kulambaikan tangan kepadaNya dan sesegera ia menghilang sebelum aku tanya namaNya. Kulangkahkan kaki perlahan menuruni tangga, takut menganggu orang lain. Aku masuk ke kamar, berbaring, dan segera tertidur.

 

fotonia Nia Janiar adalah seorang pianis, guru piano, anggota band akustik, guru untuk anak berkebutuhan khusus, seorang anak, teman perempuan yang baik, tergila-gila pada seni dan musik, sanguinis melankolis, tidak menyukai makanan yang berbau, tidak menyukai daging selain ayam, adiksi pada susu cokelat dan teh melati, dan suka mengutarakan opini.

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin