Sunday, September 6, 2009

Kisah (Tidak) Mencari Makanan yang Ditusuk

Tobuciler lapar. Bagusnya, Tobuciler tidak bingung kemana mesti mencari makan, karena ingat ada tugas tentang wisata kuliner. Kata SMS dari Sundea di suatu hari, diberitahukan tema blog berikutnya adalah soal tusuk. Kaitan wisata kuliner dengan tusuk? Jika kau seorang yang malas berfikir dan minim kreasi, pastilah langsung berpikir sate. Sate, sate, Tobuciler mencari, sate mana yang mesti dikunjungi? Tobuciler ingat, kala kecil dulu, jika makan bersama keluarga di luar rumah, pastilah warung sate menjadi pilihan. Ada satu, di Buah Batu, namanya Leman’s. Ada beragam binatang yang dagingnya bisa ditusuk untuk jadi sate, tapi Leman’s fokus di kambing. Kelebihan Leman’s, kata Ayah, dan Tobuciler setuju, adalah sate kambing biasanya berbau kambing, tapi ini tidak, baunya sate. Dan satu lagi, si sate selalu disajikan diatas piring panas alias hot plate.

image

Jika waktu kecil dulu bersama keluarga, sekarang Tobuciler tidak. Tobuciler pergi sendiri saja ke warung sate, sekalian menunaikan tugas meliput, sekalian nostalgia masa kecil. Leman’s buka cabang di Paskal Hyperskuare, sebuah kumpulan ruko di daerah Pasir Kaliki. Tobuciler kesana dengan membawa uang dan kamera. Dipesannya lima tusuk sate dan semangkok gulai kambing. Tak lupa nasi pun dipesan. Minumnya? Air mineral saja, merk jangan disebut. Menunggu hingga dua puluh menitan, Tobuciler pakai untuk foto-fotoan. Yang difoto, demi liputan, tentu saja warung sate itu sendiri. Berada di food court, ia sebenarnya tak lagi pantas disebut warung, kios barangkali.

Datang jua pesanan itu. Sebelum makan dan berdoa, Tobuciler memotret apa-apa yang dibutuhkan, yakni apalagi, kalau bukan sate itu. Dilumuri saus kacang, kecap, dan bumbu cabe, membuat Tobuciler mesti bergulat dengan batinnya sendiri: tahanlah sejenak, jangan langsung dimakan, kau mesti lebih dahulu memotret demi liputan. Dipotretlah sate itu, sambil berpikir-pikir tulisan apa yang mesti dipaparkan di blog, apakah liputan ala Bondan Winarno, atau pemikiran filosofis seperti Nietzsche. Sambil makan, pikiran Tobuciler melayang-layang, memikirkan: kok saya malas-malas amat yah, topik wisata kuliner ditusuk langsung saja ingat sate, adakah yang lain? Oh, iya, ada cilok, ada kambing guling, ada apa lagi ya? cuma itu kali ya, saking malasnya berpikir.

Di sela-sela mengunyah sate kambing, Tobuciler sekarang pindah ke gulai. Disendoknya si gulai, berharap agar sedikit dagingnya bisa ikut bersama, pindah ke piring Tobuciler. Setelah terhidang di piring, tangan kiri Tobuciler yang memegang garpu langsung siaga seperti pramuka siaga. Ditusukkanlah ke daging, untuk menahan agar sendok di tangan kanan bisa leluasa memotong daging sehingga lebih kecil, sehingga lebih masuk akal untuk masuk ke mulut. Dari situ barulah tersadar: oh, ini juga ditusuk! Si gulai itu makanan yang ditusuk juga. Ternyata sangat banyak makanan yang bisa ditusuk di sekitar kita. Banyak juga yang bukan makanan yang bisa ditusuk di sekitar kita. Tobuciler meneruskan. Hingga perut kenyang.

image

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin