Sunday, September 6, 2009

Sepulang Mbak Kenti Prahmanti Mengajar di Malaysia

mainpic Kenti Prahmanti adalah kakak sulung Mbak Tarlen (pemilik Tobucil) dan Mbak Upi (koordinator Klab Rajut). Beberapa waktu yang lalu, Mbak Kenti yang lembut dan keibuan ini kembali dari Kualalumpur, Malaysia. Apa yang dilakukan Mbak Kenti di sana ? “Aku mengajar,” sahut Mbak Kenti.

Suka melayani sesama, gemar membuat kue, dan terampil menyulam pita. Di tengah keasyikannya menyulam pita itulah Tobuciler mengajaknya mengobrol …

Tobucil : Kenapa senengnya sulam pita, Mbak, bukan ketrampilan yang lain ?

Mbak Kenti : Sebenernya waktu pertama kali berkenalan dengan dunia craft itu aku bikin cross stitch, terus crochet juga sempet, baru beberapa tahun yang lalu aku bikin sulam pita. Dulu sulam pita belum terlalu heboh dan aku pengen aja nyoba bikin yang lain. Sebenernya sulam pita sama aja sama yang lain, medianya aja yang beda. Tapi enaknya, sulam pita nggak harus ngitung-ngitung kayak croschet atau cross stitch. Mainnya di padu padan warna aja. Asyik, kok, okelah untuk belajar mencintai craft. Ini lebih gampang, nggak itungan.

Tobucil : Kan nggak itungan, tuh. Artinya dibanding yang lain dia lebih nggak pamrih dan suka melayani, ya ?

Mbak Kenti : Hahaha … mungkin, ya, makanya dia lebih simpel.

Tobucil : Hehehe … kalau menurut Mbak Kenti sendiri, melayani itu apa ?

Mbak Kenti : Kalau menurutku, memberikan sesuatu yang kita punya kepada orang lain, bukan selalu harus harta, ya, berbagi aja …

Tobucil : Ada hubungannya nggak sulam pita sama hobi melayani dan ketanpapamrihan ?

Mbak Kenti : Nggak ada, deh, kayaknya … justru hobiku ini dipake untuk cari duit. Dulu, waktu masih di Kualalumpur, ini justru jadi sumber penghasilanku yang ke dua. Sehari-hari aku ngajar di D3 Farmasi, kalo weekend ada murid, aku ngajar sulam pita.

Tobucil : Wooow … mengajar terusss … emang hobi, ya, Mbak, ngajar teh ?

Mbak Upi : Bukan, ngajar itu kutukan !

Mbak Kenti : Hahaha … sebenernya iya, mungkin kutukan. Soalnya waktu kecil aku suka ngajar adik-adik sepupuku menyanyi, kalau liburan main sekolah-sekolahan gitu. Terus kakekku melihat dan dia bilang, “Wah, kamu itu cocok kalau jadi guru …” padahal waktu itu aku nggak mau jadi guru.

Tobucil : Terus kapan kutukan itu mulai bekerja ?

Mbak Kenti : Kayaknya … waktu aku ngelesin tetanggaku yang mau Ebtanas. Aku inget waktu itu aku dibayar dua belas ribu sebulan, itu taun ’92. Dan semenjak itu aku memberi les …

Tobucil : Terus, kalo sekarang ada kesempatan ngajar lagi, Mbak Kenti mau ?

Mbak Kenti : Ya mau, dong …

Tobucil : Berarti udah seneng beneran, ya, ngajar … hehehe … menurut Mbak Kenti, apa yang menyenangkan dari ngajar ?

Mbak Kenti : Kalau aku liat muridku lebih bisa eksplor dan bisa lebih bagus dari aku. Kadang mereka nggak tau arahannya, terus mereka suka cerita. Yang aku suka kalau mereka udah sukses, terus mereka masih inget dan datang lagi ke aku. Yang pasti aku suka kalau muridku jadi lebih bagus dari aku …

Tobucil : Sekarang tentang Malaysia, nih, Mbak. Sebagai orang yang pernah di Malaysia, apa pendapat Mbak Kenti tentang Malaysia ?

Mbak Kenti : Dari segi apa, nih ?

Tobucil : Segi … apa, ya ? Segila-gilanya, deh … hehehe …

Mbak Kenti : Sebenernya ada beberapa segi positifnya. Dari segi pemerintahan, mereka sangat respect sama Sultan. Terus mereka malu melanggar peraturan, misalnya mereka malu kalau buang sampah sembarangan. Tapi kalau lain-lainnya … mereka terlalu dimanjakan, jadi semangat juangnya kurang. Di sana kan masyarakatnya dibagi dua yang pri (melayu) dan non pri (Cina dan India). Yang pri ini yang dimanjakan dengan fasilitas. Kayak sekolah negeri, memang nggak diperuntukkan untuk yang non pri. Di sana media juga lebih banyak memberitakan yang bagus-bagus. Banyak aturan juga. Misalnya pernah ada penyanyi yang buka t-shirt terus tiga bulan nggak boleh manggung. Artis cowok yang rambutnya gondrong-gondrong juga suka jadi bahan pembicaraan.

Tobucil : Waduh … kaku juga, ya … terus waktu itu Mbak Kenti ngerasa nyaman, nggak, di Malaysia ?

Mbak Kenti : Dari segi fasilitas, misalnya transportasi, ya lebih nyaman. Di sana ada monorel, jadi nggak macet. Kalau di sini kan trasnportasinya ruwet banget. Tapi tetep aja di sana aku jadi warga negara kelas dua. Kalau orang nanya, “Dari mana asalnya ?” dan aku jawab, “Dari Indonesia …” nanti pasti dijawab lagi, “Pembantu aku juga dari Indonesia …” (JREKJEDESS !!! sound effect Lenong)

Meski “hujan batu di negeri sendiri, hujan emas di negeri orang”, ada kalanya kita memilih batu.

Tapi mungkin yang menjadi masalah adalah, batu dan emas sama-sama benda padat berat. Sebagai curah hujan, mereka tak ada bedanya. Saat mereka terjun beramai menimpa kepala, kebocoran dan memar-memar tak terhindar.

Lalu… kira-kira di negeri mana ada hujan air biasa … ?

Sundea

fotodua

fototiga

 

 

 

 

 

 

Biodata Mbak Kenti

Namaku Kenti, lengkapnya Kenti Prahmanti. Anak pertama dari empat bersaudara. Hobbyku membaca, membuat kue, membuat kerajinan seperti sulam pita, merajut, dsb. Oh ya aku juga suka buat baju sendiri, lho

Pekerjaanku dulu adalah mengajar di Sekolah Menengah Farmasi. Tapi sekarang hanya mengajar homeschool saja.

Cita-ctitaku dulu pengen jadi dokter (standard banget) tapi nggak kesampean. Dunia yang kugeluti sekarang masih berkaitan dengan dunia kesehatan, membantu dokter memilih obat yang tepat untuk pasiennya.

Mengajar dan bekerja di Apotik dua hal yang aku suka, selain hobi-hobiku lainnya tentunya karena di dua bidang ini aku bisa melayani dan berkhidmat pada sesama.

Google Twitter FaceBook

2 komentar:

Grace Dwitiya Amianti said...

Hehehehe :D aku ketawa-ketawa baca kisah Mbak Kenti ini...

Anonymous said...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin