-Tobucil, Senin 7 September 2009-
Klab Nonton
Tobuciler berlari-lari ke beranda Tobucil. “Katanya filmnya udah mulai, ya ?” tanya Tobuciler pada Andika yang tampak sedang menonton. “Ini baru dicoba, belum resmi dimulai. Baru nyoba kan ?” Andika bertanya lagi pada Wikupedia yang juga baru keluar dari kemungilan Tobucil. “Udah mulai,” sahut Wiku. “Oh, udah mulai ? Boleh tolong diulang lagi, nggak ?” tanya Andika lagi. “Boleh, boleh,” dan Wiku pun me-rewind film When the Night Falls Before the Night Falls yang diputar di program Ngabuburit Bareng Johnny.
Lho ? Kenapa Andika bisa dengan bebasnya meminta panitia memutar ulang film ? Apa peserta Klab Nonton lain tidak marah ? Tentu tidak, Teman-teman. Masalahnya, pukul tiga siang itu, Andika adalah satu-satunya peserta Klab Nonton yang sudah datang. Ketika film hampir berjalan separuhnya, barulah hadir tiga peserta lainnya. Ada Lydia dan Henny, lalu ada IBS yang muncul dengan mulut ditutup masker, “Ini karena diabetes aku. Soalnya aku kalo kena debu sedikit pasti batuk-batuk,” kata IBS tanpa membuka maskernya. Ada-ada saja.
Dengan lima penonton ; Andika, Lydia, Henny, IBS, dan Tobuciler, Klab Nonton tetap berlangsung. Film mengenai Reinaldo Arienas, penulis homoseksual yang subversif itu, cukup mencekam (setidaknya bagi Tobuciler). Karya Reinaldo gemilang dan dipuja, namun juga dihujat dan membuat ia bulak-balik masuk penjara dan disiksa. Bukan hanya itu, Reinaldo pun punya kekasih oportunis, Pepe Malas. Pada akhirnya Pepe Malas celaka. Balon udara yang ditumpangi Pepe Malas jatuh di laut ; malas mengantarnya terbang lebih jauh.
Meski bukan pemeran utama, Johnny Deep hadir gemilang dalam film ini. Ia memainkan peran ganda; sebagai Bonbon, waria seksi di penjara, dan sebagai sipir bengis yang justru membantu Reinaldo keluar dari penjara. “Hmmm … mungkin selain karena buku Reinaldo, film ini dijuduli When the Night Falls Before the Night Falls karena malam dan kegelapan yang berat pekat seakan-akan jatuh menimpa seluruh tokoh dalam film ini, ya,” Tobuciler menduga-duga.
Tetapi malam di seputar Jalan Aceh tidak jatuh. Ia turun pelan-pelan seiring dengan film When the Night Falls Before the Night Falls yang tamat sekitar pukul lima sore. Lydia dan Henny pamit duluan. “Kirain yang dateng banyak, soalnya di facebook yang nge-klik attend banyak,” kata Lydia yang anggota grup Tobucil di facebook. “Iya, sampai dua ratus orang, lho,” Andika menimpali.
Tak terasa hari semakin gelap. Lalat-lalat berganti shift dengan nyamuk-nyamuk. Adzan berkumandang. Andika berbuka puasa lalu shalat, sementara IBS pulang dijemput taksi.
Malam turun seperti garasi toko yang ditutup perlahan. Keesokan harinya, pagi akan mendorongnya kembali seperti garasi toko yang dibuka perlahan.
Tobuciler tersenyum ketika sisa cahaya berpamitan seperti SPG toko, “Besok ke sini lagi, ya … terima kasih sudah berbelanja …”
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment