-Tobucil, Selasa 06 Oktober 2009-
“Lampunya udah bisa dinyalainnn … lampunya udah bisa dinyalainnnn !!!” seru Reni sambil berlari-lari ke beranda Tobucil. Lampu apakah ? Lampu kolam, Teman-teman. Seperti telah diceritakan pada blog minggu sebelumnya, Pak Yono dari keluarga rumah nenek berinisiatif membuat kolam di Pekarang Aceh 56.
Hujan yang turun gerimis dan lampu klasik yang jingga temaram membuat Selasa malam itu terasa sentimentil. “Saya memang sengaja ambil (lampu) warna kuning, kuning itu hangat, putih itu dingin,” ujar Pak Yono.
Rencananya Pak Yono akan menambah “sentuhan kehidupan” di kolam tersebut. “Maunya tumbuhan yang bisa hidup di full matahari, atau setengah matahari. Mungkin terartai, atau kaktus, belum tahu juga,” kata Pak Yono. Ia pun berencana memelihara ikan-ikan yang dapat memakan jentik-jentik nyamuk. “Karena air di kolam ini seribu liter, jadi ikannya kira-kira … dua belas. Ikan kecilnya juga dua belas pasang. Mungkin nanti ikan komet, soalnya bright,” kata Pak Yono lagi.
Si centil Reni berlari-lari sambil berpose-pose di sekitar kolam. Tobuciler pun memotretnya.
Setelah difoto, tahu-tahu Reni berkomentar, “Kalo foto di sini serasa di manaaaa … gitu. Serasa di Paris Hilton !” Ey ? Paris Hilton ?
“Air itu plastis, atraktif, dinamis, dan terus bergerak,” Pak Yono menjelaskan sambil mengamati pipa di kolam. Tobuciler melirik Reni. Tidak ada kamera yang mengarahnya lagi, tapi dia masih saja plastis, atraktif, dinamis, dan – ini yang penting – terusssus bergerak, berpose, dan berseru-seru, “Permisiiii … artis cantik mau lewattt, permisiiii … artis cantik mau lewattt….”
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment