Tobuciler sudah bikin event invitation di Facebook. Isinya tentang pertemuan itu, pertemuan yang akan membahas soal musik populer. Di situ, sih, yang katanya mau ikut banyak. Ada setidaknya tiga puluh orang mengafirmasi datang. Tapi jika kau melihat fotonya, jelaslah itu bukan tiga puluh. Atau bisa saja Tobuciler berbohong, bahwa ada dua puluh enam orang lainnya yang tidak ikut terfoto. Dikarenakan fokus kameranya kecil, atau fotografernya malas mengatur gaya tiga puluh orang. Memangnya, di Jonas? Tapi Tobuciler tak mau bohong, karena takut dosa. Takut celaka.
Sore itu kami berempat. Setelah latihan rutin Ririungan Gitar Bandung, kami tahu akan sama-sama membahas musik populer. Hanya berempat? Oh, tidak apa-apa. Lanjut saja.
Maka topik pun dibuka, “Apakah musik populer itu? Apakah memang ada ciri musikalnya? Atau suatu istilah yang dikaitkan dengan keterkenalan saja?” Opini kemudian bermacam-macam. Kata Kang Trisna, musik populer itu istilah yang cair. Ia ingat jaman ketika lagu One dari Metallica diputar di MTV. Lagu One itu, durasinya sembilan menit. Dan pada jamannya, sekitar tahun 1990-an, adalah yang paling populer. Sekarang kan, lagu sembilan menit, mana ada. Rudi lain lagi (ia tak masuk foto, jadi kami sebenarnya berlima), ia berpendapat, bahwa musik populer ada ciri-cirinya, yakni lagu-lagu yang mudah dicerna, biasanya soal cinta. Gara-gara Rudi, Mas Yunus jadi ikutan, “Kalau kata saya sih, musik populer itu adalah musik yang diakui masyarakat luas.”
Oh oke, jika begitu, mari kita pergalau diskusinya, “Kalau memang musik populer itu adalah musik yang diakui masyarakat. Dimana peran industri? Apakah ia berfungsi melihat perilaku masyarakat, lantas memproduksi musik yang memfasilitasi masyarakat? Atau malah sebaliknya, ia bertindak sebagai otoritas yang menentukan selera masyarakat itu sendiri? Jadi sebenarnya masyarakat tidak tahu apa-apa, industrilah yang mengotakan.” Oh, Kang Trisna menanggapi, “Menurut saya, yang kedua sih. Industri cuma ingin uang, tidak mungkin ia cukup punya itikad baik untuk memfasilitasi masyarakat.” Lalu Rudi ikut lagi, “Iya, saya juga melihat bahwa keberadaan pop melayu semisal Kangen dan ST12, adalah hal yang memang dibuat-buat oleh industri. Tidak ada usaha yang besar dari band itu sendiri.” Kang Trisna kemudian menanggapi dengan baik sekali, setidaknya kata Tobuciler, “Ada teman saya bilang, kalau mau laku, bikin yang bagus sekali, atau yang jelek sekalian. Seperti Kangen misalnya, jangan-jangan soal mereka ini adalah dari kalangan kurang mampu, adalah eksploitasi industri juga.”
Tobuciler lalu melemparkan kegalauan yang terakhir, “Jika demikian, masih adakah tempat bagi kemampuan musikalitas yang baik dalam dunia industri musik populer belakangan?” Masih ada, ada, itu kata Mas Yunus. Band-band seperti Gigi, Dewa, Padi, adalah contoh mereka-mereka yang memang punya kemampuan musikalitas. Sehingga terasa sekali, karya-karyanya lebih abadi, pengikutnya lebih setia. “Iya, masih kok, buktinya saya suka lagu-lagu Republik Cinta,” itu pasti kata Rudi. “Iya, ada, dan buktinya akan ketahuan nanti. Mereka akan jadi band yang everlasting. Tidak tenggelam dalam geliat musik populer yang dibentuk oleh industri,” demikian kata Kang Trisna.
Diskusi seolah-olah serius, padahal diselingi gelak tawa yang jika dituliskan disini, maka susah untuk dimengerti: masa tulisan isinya ketawa-ketawa? Pada akhirnya, diskusi musik populer berakhir seperti semestinya diskusi: tidak ada hasil apa-apa. Tidak ada kepastian apa-apa, pun kejelasan soal apa itu musik populer. Biarkan hasil diskusi membuat kami berempat (dengan Rudi jadi berlima) kebingungan. Bingung atas apa yang sebenarnya dimaui nalar. Karena setiap ia tahu sesuatu, ia semakin bodoh, semakin tahu bahwa apa yang ia tahu pasti adalah bahwa ia tidak tahu apa-apa. Itu kata Socrates.
Bookmark this post: |
0 komentar:
Post a Comment