Pertanyaan dari Margaretha Nita Andrianti (via FB Chat):
Halo Kak Syaraf, mau nanya ya:
1. Kemarin-kemarin ini temen gua menyuruh gua untuk mempertebal sugesti gua. Masalahnya gua ga percaya sugesti. Kalo misalkan keadaan harusnya baik, ya pasti baik. Kalo buruk, ya berarti lagi apes aja. Padahal menurut gua, sugesti itu bentuk pengingkaran atas apa yang terjadi. Menurut Kak Syaraf, penting ga sih, gua mempertebal sugesti?
2. Menurut Kak Syaraf, jadi “pelawak” itu adalah pekerjaan serius bukan?
3. Gue suka offclinic. Tapi kenapa off? Belum punya izin praktek ya?
Jawaban dari Kak Syaraf:
Hai Margaretha, margamu Retha ya? Kenal sama si Mogu gak?
1. Sebenarnya ada yang lebih penting dari mempertebal sugesti. Yakni mempertebal tulisan (kalau dia tidak terbaca). Oke, tapi saya rasa bukan itu jawaban yang kau inginkan. Sesungguhnya, eh, kalau margamu Retha, jadi namamu siapa ya? Oke, saya panggil aja Marga. Jadi gini Marga, janganlah kau pusing-pusing apakah kau ini sedang bersugesti apa tidak. Kau itu hanya terjebak pada istilah lembaga bernama psikologi. Aslinya, dunia itu adalah apa yang kita pikirkan, seperti kata Kant (saya tidak tahu marganya apa).
Saran saya sih, gunakan hati nuranimu lebih banyak. Sesungguhnya ia sudah tahu apa yang baik apa yang tidak. Soal sugesti, ketika kau mengingkarinya, maka kau sudah dengan sendirinya bersugesti. Jadi jangan ingkari, tapi otaki, atau ersegi anjangi.
2. Menurut saya, tak ada pekerjaan yang lebih sulit daripada pelawak. Karena melawak berarti pula “menelanjangi dunia”. Ia mesti juga seorang psikolog, karena menelusuri hakikat terdalam dari keinginan manusia. Dan pelawak yang baik, menurut saya, tidak sadar dirinya sedang melawak, hanya bersikap cerdas dan mampu memahami nalar universal, kemudian membalikannya. Pasti lucu. Dan itu susah.
3. Udah izin ke Ikang Fawzi, tapi tidak diizinkan. Karena dia bukan Mendiknas.
Pertanyaan dari Penanya Misterius (via Message FB):
Apakah jargon itu ? Apa ada hubungannya dengan jargoff atau Jargngan begadang ?
Jawaban dari Kak Syaraf:
Hai Penanya Misterius, apa kabar kawan-kawan SMP-mu? Apakah penanya (masih) Pilot atau penanya (masih) Boxy?
Sebenarnya jargon lebih berhubungan dengan jargoan neon. Kenapa? Karena jargon biasanya digunakan partai politik mengusung jargoannya, yang mana pastilah ia pakai neon, setidaknya di rumah atau di kantornya. Di Wcnya pun. Jargon sih, menurut saya, memang semacam moto. Tapi ia tidak pakai kamera. Jadi mungkinkah moto tanpa kamera? Bisa, kalau objeknya adalah kopi. Oke, bedanya, jargon biasanya punya kepentingan untuk mengangkat tema yang dijargonkan tersebut. Dan lainnya, jargon itu sebatas memainkan imajinasi saja, seolah-olah iya, dia begitu, padahal tidak. Misalnya, jargon dari SBY, “Lanjutkan!”, jargon dari Koran BOLA, “Membawa Anda ke Arena”, atau jargon dari Indonesia, “Pancasila!”. Ketika kau sedang menyetrika, terus ada telepon berdering, bukan berarti kau harus menantikan iklan SBY kan untuk menyetrika kembali? Ketika kau tahu Persib sedang kalah, maka kau tidak harus menghindari membaca Koran BOLA kan? Untuk menghindari ia membawamu ke stadion yang sedang rusuh. Atau jika kau seorang komandan upacara yang sedang memimpin anak-anakmu berbaris yang mana beberapa diantara mereka mau pingsan, tidakkah cukup kau baca saja teks yang diberikan pemimpin Paskibra?
Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com, Kak Syaraf akan menjawabnya.
Oh, iya, Kak Syaraf akan ujian gitar klasik, lho, mari kita doakan bersama …
Bookmark this post: |
1 komentar:
halo kak Syaraf saya Yoga. mau nanya nih kenapa satu tambah satu jadi dua?
Post a Comment