Sunday, November 8, 2009

Ketika Berlebihan Dipertanyakan

n198179313975_6812 Rabu itu, Tobuciler datang ke Madrasah Falsafah. Hal yang sudah lama tidak dilakukan oleh Tobuciler, karena oleh suatu hal yang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan malas datang ke Madfal. Madfal selalu menarik, dan, bagi Tobuciler, meski obrolannya berat-berat, tapi bisa dianggap penyegaran. Penyegaran karena, mungkin bisa mengutip kata Bambang Sugiharto: olahraga, adalah sehat, karena darah kita diguncangkan. Begitupun filsafat, kita mengguncangkan jiwa dan pikiran kita, agar, juga sehat.
Rabu itu, Madfal sedang membahas sebuah topik, yakni: Berlebihan dalam Gaya Hidup. Tobuciler datang telat, karena oleh suatu hal yang, sama sekali tidak ada kaitannya dengan sengaja datang telat. Dan ternyata, tidak apa-apa Tobuciler datang telat. Tetap boleh datang, duduk, dan mengikuti diskusi yang sudah dimulai sejak lima belas menit. Waktu itu Mas Daus yang sedang berbicara, soal ia yang pernah melihat tumpukan buku-buku bekas. Salah satunya buku Sapardi Djoko Damono, pujangga favoritnya. Harganya, sangat murah, tiga ribu lima ratus katanya. Atas murahnya harga buku tersebut, Mas Daus memborongnya habis. “Saya sampai membeli buku-buku yang tidak saya perlukan. Karena memang bukunya kelewat murah. Nah, apakah itu berlebihan?” Ia melempar pertanyaan pada forum,
Lalu datang komentar dari seorang peserta Madfal berkelamin perempuan. Yang Tobuciler tak sempat tanya nama. Dia bilang, “Sebenarnya, kata saya sih, konteks berlebihan itu biasanya ada di Asia. Kalo berdasar pengalaman saya, di Barat sana, orang-orang membeli barang sesuai fungsi. Sedangkan di sini, yang utama adalah merk, citra” Mas Heru menimpali, “Iya, memang, kenyataan bahwa dalam situasi sekarang, yang menjadi konsumsi tidak lagi barang beserta fungsinya, melainkan tanda.” Tobuciler sempat menambahkan, “Apakah mungkin, apa yang dinamakan berlebihan itu, adalah ketika kita mengonsumsi terlalu banyak petanda, ketimbang penanda?” Petanda dan penanda yang dimaksud adalah istilah Saussurean, yang berarti, petanda adalah tanda atau simbol, penanda adalah makna serta konsep dibalik tanda. Istilah tersebut awalnya berkembang dalam ranah linguistik.
Berbagai lontaran pendapat dan saling debat menjadikan Madfal cukup seru. Oia, ada yang lain dari Madfal sekarang, yakni kembalinya peran Rosihan Fahmi alias Kang Ami, sebagai moderator. Hal yang beberapa minggu kemarin sempat tidak ia pegang karena suatu keperluan, sehingga Madfal kondisinya bagai kapal ditinggal nakhoda, bus ditinggal supir bus. Ia melakukannya, menurut Tobuciler, dengan sangat baik, membuat jalannya diskusi sangat runut dan tidak melebar kemana-mana. Pada akhirnya, sang moderator memberi konklusi, yang kira-kira seperti ini: Bahwa berlebihan, punya konteksnya. Setiap orang punya batasnya sendiri, setiap aspek kehidupan pun punya. Dalam hal ini, misalnya, logika seni rupa, punya definisinya sendiri soal apa itu berlebihan. Dan memang iya, lukisan yang harganya miliaran, yang bagi beberapa orang terasa berlebihan, ternyata tidak juga untuk ukuran tertentu. Bagaimana dengan di Indonesia? Barangkali, katanya, yang diukur adalah prioritas. Ketika memajang patung berharga miliaran di tengah kota, padahal banyak anak SD yang putus sekolah, maka itu dirasa berlebihan. Terus bagaimana, Kang, kalau berlebihan itu kemudian dibagikan? Ini adalah pertanyaan yang menggantung, kata Kang Ami, karena belum sempat dibahas kemarin. Belum sempat karena jam sudah menunjukkan setengah delapan malam, lebih tiga puluh menit dari yang dicanangkan.
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin