Pertanyaan dari Landy Rinaldi (via wall FB):
Hai Kak Syaraf, mau nanya, kenapa sih, orang Islam solat menghadap Ka’bah. Tidakkah itu menjadi semacam pemberhalaan? Padahal kan, berhala tidak boleh dari Islam. Terima kasih, Kak Syaraf.
Jawaban dari Kak Syaraf:
Hai Landy, sepertinya anda galau sekali. Oh, jadi begini, kalo kata saya sih ya, manusia itu makhluk simbolik (homo simbolicum), jadi apa-apa mesti simbolis, mesti “diwakilkan”. Saya pernah ikut kuliah filsafat yang mana Goenawan Mohamad adalah pembicaranya, katanya begini: Manusia itu dilematis dalam menyembah Tuhan. Di satu sisi, ia butuh simbol. Kenapa? Karena Tuhan disebut-sebut sebagai figur tak terjangkau, tak tergambarkan. Maka itu, dibuatlah simbol untuk mencapainya, maksudnya, sebagai medium. Misal, gambar Yesus untuk simbol Yesus, Ka’bah sebagai simbol rumah Allah. Tapi di sisi lain, simbol itu bisa jadi bumerang. Bisa jadi manusia malah menyembah simbol itu sendiri, atau justru karena simbol, manusia jadi menganggap Tuhan biasa-biasa saja, karena indrawi. Misalnya, karena Yesus digambarkan berjanggut dan gondrong, di era 70-an ada teater yang memparodikan Yesus Kristus sebagai seorang bintang rock. Contoh lainnya, orang bisa ribut dan saling membunuh, karena misalnya, ada salib yang dibakar. Padahal, salib itu cuma simbol. Kadang tidak ada korelasi serius antara simbol dan keimanan.
Soal Ka’bah, barangkali ia tidak bisa dikategorikan pemberhalaan. Karena apa yang kita sebut, kita ucap, dan kita hayati dalam ibadah, bukanlah si Ka’bah, tapi Allah itu sendiri. Ka’bah mesti ada, karena manusia butuh arah. Jadi dapat dibayangkan jika Ka’bah tidak ada, maka bebas-bebas saja manusia menghadap kemana, maka itu pula, shalat bisa bertabrakan dan chaotic, dan para jemaat bisa saling menyembah. Jadi jangan khawatir, tetaplah menghadap Ka’bah. Dan pastilah, kita sebagai orang yang terpisah ribuan kilometer dengan Ka’bah, pasti tidak tepat dalam menghadap Ka’bah. Tapi bukan itu intinya kan?
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment