Dan sejak awal, sudah diniatkan bahwa tobucil merupakan pintu masuk untuk membangun gerakan literasi tingkat lokal. Karena itulah tobucil adalah komunitas yang berbasis toko buku. Toko bukunya sendiri dibangun karena pertimbangan perlu adanya badan yang bisa memberi dukungan finansial untuk membangun komunitas, sehingga komunitasnya bisa berkegiatan secara mandiri. Jadi faktor bisnis bukan motif utama berdirinya toko buku kecil (tobucil). Karena bagi aku pribadi, jika ingin pure bisnis dan mendapat keuntungan yang banyak, membuka toko buku bukanlah pilihan yang tepat, apalagi jika modal terbatas dan idealisme yang dikedepankan.
Di Bandung, situasi dan kondisinya relatif lebih mudah ya jika di bandingkan dengan kota-kota lain (sejauh yang aku amati). Mungkin karena aku lahir dan besar di Bandung, jadi aku paham betul bagaimana kondisi sosial masyarakatnya. Jadi lebih mudah untuk melakukan pendekatan yang tepat supaya visi dan misi yang kita tuju bisa tercapai. Jadi selain membuat perencanaan, sangat penting untuk membuat analisis situasi dan kondisi sosial masyarakat di tempat kita akan mulai membangun toko buku/komunitas/ taman bacaan/perpustakaan.
Setelah bulat tekat, barulah kita bisa membuat perencanaan. Penting untuk dilakukan adalah menganalisis terlebih dahulu modal/potensi apa yang kita miliki dan apa yang tidak kita miliki. Saat pertama kali aku akan memulai tobucil & klabs, aku sadar betul bahwa aku tidak punya modal uang yang memadai. Tapi aku sadari betul bahwa aku punya banyak teman-teman yang bisa membantu. Ketertarikan aku kepada seni dan budaya membawa aku kedalam lingkungan tersebut. Kemudian banyak teman-teman di lingkungan seni dan budaya yang bersedia membantu tobucil & klabs. Kemudian aku melihat itu sebagai sebuah potensi. Untuk itu kegiatan –kegiatan yang diselenggarakan pun kegiatan seni dan budaya. Jadi yang aku lakukan adalah membuat strategi berdasarkan apa yang aku miliki dan apa yang tidak aku miliki. Karena aku tidak memiliki uang, berarti aku harus pandai-pandai mengelola uang yang masuk/pendapatan untuk membiayai operasional toko dan promosi kegiatan. Disini terasa jaringan pertemanan yang aku miliki menjadi sangat penting. Teman-teman banyak sekali membantu membuat acara dan aku hanya menyediakan tempat untuk berkegiatan saja. Untuk itu biaya yang aku keluarkan untuk promosi, tidak terlalu besar.
Dari kegiatan-kegiatan yang telah diselenggarakan itulah, akhirnya berkembang dan membentuk komunitasnya sendiri. Selama ini aku sengaja membiarkan komunitas yang terbentuk dibiarkan terbuka dan cair dalam artian tidak ada keanggotaan, siapa pun boleh mengikuti kegiatan tanpa paksaan. Karena tujuannya adalah menyebarkan gagasan tersebut seluas-luasnya. Lama-lama terbangun juga hubungan saling membutuhkan yang membuat komunitasnya bisa dikelola bersama-sama dengan melibatkan partisipasi dari para sukarelawan.
Ya, semuanya memang ngga mudah dan butuh waktu ya… aku selalu menganggap keberhasilan aku sama besarnya dengan kegagalan yang aku alami. Jadi jangan takut untuk memulai. Jangan putus asa jika menemui kesulitan. Yakinlah bahwa apa yang kita lakukan adalah dengan niat yang baik. Dan selalu ada jalan keluar dan pertolongan untuk sesuatu yang didasari niat baik. Jangan segan-segan untuk menghubungi aku dan berbagi cerita suka maupun duka saat kau sudah memulai langkah pertamamu. Perjalanan akan terasa menyenangkan jika kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian. Mengetahui ada teman-teman lain yang memiliki cita-cita yang sama akan membuat kita tetap bersemangat. [vitarlenology]
untuk Nilam yang bertanya: 'mba gimana memulainya?'
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment