Tobuciler, sebelum punya kegiatan di hari Rabu sore, adalah pemuda yang rajin datang ke Madrasah Falsafah. Ikut diskusinya, kadang ikut berdebat juga, biarpun seringnya pura-pura malu-malu. Dalam beberapa kali pertemuan yang Tobuciler ikuti itu, Tobuciler tahu bahwa Madfal (singkatannya) menarik banyak perhatian orang. Orang yang dalam dirinya tersimpan banyak pertanyaan: pertanyaan soal hidup, Tuhan, cinta, kasih sayang, logika, perasaan, dan pertanyaan soal temannya dimana ya? Yang terakhir itu, ditujukan bagi orang yang datang ke Madfal untuk janjian, bukan dalam rangka membicarakan filsafat. Demikian pertanyaan universal, yang entah kenapa, ada dalam diri setiap manusia. Bedanya, ada yang mau terus bertanya, ada yang mau sedikit bertanya lantas cari jawaban di kitab suci, lalu ada yang berhenti bertanya biarpun dengan resiko sesat di jalan. Madfal menampung manusia-manusia yang masuk kategori pertama.
Atas dasar itu, Tobuciler cukup sedih ketika Wiku memberitahu, bahwa belakangan Madfal tidak seramai biasanya. Terutama sejak tiga minggu terakhir. Ada apa kenapa? Katanya, koordinatornya, Rosihan Fahmi alias Kang Ami, sedang jarang datang. Oleh akibat suatu keperluan yang, Tobuciler husnudzon, pasti baik buat dirinya. Dan Tobuciler husnudzon, bahwa Kang Ami tak mungkin meninggalkan Madfal yang sudah ia bangun sedemikian rupa, oleh karena alasan yang kira-kira kurang penting, seperti mencorat-coreti tembok fly over surapati, atau apalah. Apa hubungannya ketidakdatangan Kang Ami dengan sepinya Madfal? Karena itu, Kang Ami sudah cukup dikenal, tak hanya sebagai koordinator yang baik, ia mampu membawa alur pembicaraan menjadi terarah. Ia juga pandai membaca keadaan, soal siapa yang kira-kiranya terlalu dominan dalam diskusi, siapa yang ingin bicara tapi malu-malu, siapa yang ingin ke toilet tapi tidak tahu dimana, serta siapa yang tidak memperhatikan jalannya diskusi.
Ketika Kang Ami jarang datang, maka ternyata, suasana diskusi Madfal menjadi tidak semenarik biasanya. Pernah dicoba beberapa orang untuk menggantikan kehadiran Kang Ami, tapi tetap, Kang Ami tak tergantikan, karena memang hanya ada satu Kang Ami di dunia ini, sepertinya begitu kata Tuhan. Jadinya, pembicaraan kurang terarah, dan dampak lainnya, keikutsertaan jadi berkurang. Wiku kemudian bilang sama Tobuciler, bahwa bolehlah sesekali Tobuciler menjadi moderator menggantikan Kang Ami, jika beliau berhalangan. Padahal, Tobuciler sepaham juga dengan Dia, bahwa hanya ada satu Kang Ami di dunia. Tapi tentunya Tobuciler tidak bisa mengemukakan itu sebagai alasan jika Tobuciler tidak mau menjadi moderator. Tapi kenyataannya, Alhamdulillah, Tobuciler mau, dan dengan senang bersedia. Karena buat Tobuciler yang juga senang filsafat, adalah pengalaman yang pastinya akan berharga, jika nantinya berada di tengah-tengah diskusi, lalu mendengarkan pendapat orang sana-sini, soal sudut pandangnya masing-masing mengenai sesuatu.
Yang menarik adalah, setidaknya bagi Tobuciler, bahwa Madfal sangat menjadi perhatian, ketika sebentar saja menjadi sepi. Seolah-olah, dan insya allah iya, bahwa Tobucil dan Madfal punya rasa saling peduli yang tinggi. Karena bisa saja, sepi itu dianggap biasa, biasa sebagaimana halnya komunitas yang terus menerus membangun dirinya. Yang namanya sepi, itu dinamika saja. Tapi hal tersebut tidak berlaku berlama-lama bagi Madfal. Madfal sepi, maka Tobucil dan awak-awak di dalamnya langsung peduli soal apa dan kenapa itu bisa terjadi, dan kalau bisa dicari solusinya.
Bookmark this post: |
3 komentar:
eiys gaya nulisnya tu yang tentang madfal, gaya siapa ya?hahahahahahaha
Mungkin tanpa sadar terpengaruh..hehe
saya pernah ikut sekali madfal,tp sing sumpah malu pisan euy..tips dong saya pengen ikutan lagi tp bagaimana mengatasi kemaluan saya? "kemaluan lho mas mbak" hehehe
Post a Comment