Sunday, December 6, 2009

Alienasi Di Ruang Publik




Madrasah Falsafah

Selasa malam, Tobuciler mendapat SMS, isinya begini:
“Tuan syarif yang baik hati, sudikah kau menggantikan posisiku di madfal sore esok? Kemungkinan besar aku absen dulu.”

SMS itu, adalah dari Rosihan Fahmi alias Kang Ami, koordinator Madrasah Falsafah di Tobucil. Tobuciler baru sekali menggantikan Kang Ami sebagai moderator, yakni kala topiknya berjudul Modernisme. Yang kedua kali ini, Tobuciler sempat berpikir-pikir, karena ternyata tugas sebagai moderator sama sekali tidak mudah, terlebih jika mengingat peran Kang Ami dalam Madfal, yang bisa dibilang sentral. Namun Tobuciler akhirnya mau, karena topik yang akan dibawakan, adalah topik yang Tobuciler ajukan, artinya: Tobuciler mesti bertanggungjawab. Kedua, karena ah, hitung-hitung belajar, pasti ada yang bisa dipetik.

Pada harinya, yang datang cukup banyak, ada sepuluh orang lebih sepertinya. Diantaranya ada Mas Heru, Mbak Eci, Mas Iman, Mbak Linda, Mbak Upi, Mbak Tarlen, IBS, dan Kunto. Topik yang Tobuciler ajukan adalah, soal alienasi di ruang publik. Mas Heru membuka obrolan dengan teori blur-nya, yang mengatakan bahwa dalam satu kerumunan, kita bisa fokus hanya pada satu orang, sedangkan yang lainnya buram, karena kita punya kedekatan dan keakraban pada orang tersebut. Jadi bagi Mas Heru, kunci alienasi terletak pada fokus dan keintiman. Semakin kita fokus pada seseorang, maka semakin teralienasilah orang-orang di luar fokus tersebut.


Mbak Tarlen punya sudut pandang yang berbeda lagi, katanya, alienasi berasal dari desain ruang. Ini menarik, karena katanya, desain ruang sangat menentukan seseorang merasa diterima atau diasingkan. Ia mencontohkan taman di New York, yang masih berfungsi sebagai tempat orang berkumpul dan menyegarkan diri dari rutinitas. Secara spesifik, Mbak Tarlen seolah mau berbicara bahwa faktor alam dan lingkungan, jauh lebih memberikan penerimaan, ketimbang ruang-ruang pertemuan kota-kota besar pada umumnya, yang banyak didominasi beton dan baja. Pembicaraan kemudian meluas ke soal taman-taman di Indonesia. Mas Iman mengatakan bahwa taman di Indonesia banyak yang sudah dikomersialisasi dan diberi nama. Diberi nama, salah satunya, menyebabkan adanya pengidentifikasian, seperti contohnya, Taman Lansia di Cilaki. Tadinya, sepertinya, taman itu untuk umum. Tapi setelah diberi nama lansia (lanjut usia), maka Mas Iman enggan lagi berada disana. Sedangkan komersialisasi, diartikan sebagai tiket masuk yang mesti dibayar pengunjung untuk menikmati area taman. Barangkali ini ada kaitan erat dengan biaya maintenance, tapi sangat berefek pada bagaimana pengunjung merasa nyaman terhadap taman. Taman tidak menjadi area terbuka yang menghindari manusia dari gejala alienasi, tapi jadi semacam tempat dimana hanya segelintir orang yang bisa masuk.

Obrolan memang banyak melebar dan meluas, terutama setelah IBS curhat soal alienasi yang dialaminya di keluarga. Meski demikian, akhirnya diambil kesimpulan, meski pasti lemah, karena soal alienasi sendiri sulit dijabarkan: bahwa setidaknya, keterasingan adalah persoalan akut manusia sekarang. Manusia sekarang, yang kata Albert Camus, nerakanya ada pada ketika ia berhenti dari segala rutinitas keseharian, dan bertanya, “Apa yang sedang saya lakukan sekarang?” Keterasingan berangkat dari identitas. Ketika sebuah ruang, atau sebuah keluarga, atau sebuah lingkungan, mengidentifikasikan dirinya sebagai sesuatu, maka otomatis, yang lain-lain jadi liyan, jadi terasing. Dan dunia sekarang adalah dunia yang dipenuhi banyak macam citra dan identitas. Solusinya? Tobuciler tak punya yang betul-betul mujarab, tapi kata Mas Heru dua minggu lalu sangatlah bisa dicoba: Amor Fati, cintailah hidupmu. Cuma itu, barangkali, satu-satunya. [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin