cheers,
tobucil
Widodo Yudo Baskoro
Hmm...apa ya? Kyk nya diriku ckp mampu menahan diri utk tdk berbelanja brg2 yg mungkin sebenarnya tdk diperlukan bgt. Prioritaskan what we need, not what we want... Standard aja sih,udah kebiasaan dr kecil.
Lily Zhai
Ngak mungkin....karena kita perlu makan dan minum tiap hari...itu semua kebutuhan pokok.kecuali hidup dibiayai orang tua.
Diana Kea
membuatcatatan prioritas apa yang dibutuhkan, selalu membawa catatan keperluan yang akan dibeli, menghindari jalan2 ke tempat belanja tanpa tujuan membeli sesuatu.... :)
Margaretha Nita Andrianti
Karena saya paling bermasalah sama suara perut, maka saya selalu bawa bekal. Pun karena saya cepat haus, saya pun jadi bawa botol minum ke mana-mana. Jadi hari itu, saya ga beli minum atau makan karena udah punya bekal.
dalam menangani hasrat belanja, biasanya saya berusaha mencari tahu apa fungsi benda yang sedang saya ingini. Cara tersebut lumayan berhasil, bahkan sampai pada titik ekstrim, saya malah jadi ga minat sama sekali sam abenda itu. He....
dalam menangani hasrat belanja, biasanya saya berusaha mencari tahu apa fungsi benda yang sedang saya ingini. Cara tersebut lumayan berhasil, bahkan sampai pada titik ekstrim, saya malah jadi ga minat sama sekali sam abenda itu. He....
Syarifah Tika Irmasari
saya paling ga kuat nahan rasa pengen makan diluar,
apalagi masakan jepang..
yang saya lakukan setiap keinginan itu kambuh adalah menyibukkan diri dikamar, nonton film, main, gambar, browsing dan nulis status mengenai keinginan jajan saya di twitter maupun plurk sampe saya lupa..
pokoknya menahan diri saya supaya ngga keluar rumah dan mampir buat jajan diluar...
apalagi masakan jepang..
yang saya lakukan setiap keinginan itu kambuh adalah menyibukkan diri dikamar, nonton film, main, gambar, browsing dan nulis status mengenai keinginan jajan saya di twitter maupun plurk sampe saya lupa..
pokoknya menahan diri saya supaya ngga keluar rumah dan mampir buat jajan diluar...
SiFardie Mohammad Syafarie
yang saya lakukan untuk kebiasaan mengkonsumsi dan berbelanja...hanya mengurangi rasa penasaaran untuk mancoba dan maendapatkan sesuatu yang tidak perlu ddengan membuat menu2 keriatifitas menggunakan bahan seadaanya dirumah.....
Ria Nirwana
Beli bahan makanan sekaligus u/ beberapa hari, jadi dipakai sampai habis. baru belanja lg. Kalau setiap hari belanja, dijumlah2 pasti jadinya lebih banyak.
Aan Julianti
belanja sesuaikan dengan kebutuhan bukan keinginan. apalagi u kaum perempuan masa kini tebih besar keinginan mata dari pada kebutuhan hidup. maka u itu marilah kita sadar diri dan bersyukur bahwa kita hidup bukan sendirian. lebih baik kita amalkan u orang yang lebih membutuhkan.
Sofia Pamela
kadangkala apa yang kita beli ternyata belum tentu apa yang kita butuhkan melainkan sekadar kita inginkan. Jadi, berusaha membatasi saja keinginan mengkonsumsi itu.Toh, 'sesuatu' yang dibeli lalu menjadi milik kita pada akhirnya bukan benar-benar milik kita.
nggak belanja, ya mengkhayal karena khayalan adalah sumber keajaiban dan murah meriah tanpa dipungut pajak
Aku sendiri tipe orang yang ga akan berani ke pusat perbelanjaan kalau tidak jelas tujuannya. Karena biasanya pulang-pulang serasa habis dirampok. He he he...
Aku punya daftar barang-barang yang aku pikir aku perlukan. Barang-barang ini betul-betul tidak bisa digantikan barang lain fungsinya, dan biasanya memang rada mahal. Bisa jadi harus pesan, karena perlu bentuk dan material yang spesifik. Lalu aku menabung untuk masing-masing barang. Kalau dah terkumpul, baru deh belanja satu-satu.
Berhubung suka menerapkan banyak syarat pada barang yang dibeli, aku tidak bisa langsung menemukan barang yang aku cari setiap kalinya. Jadi, biasanya bisa berkali-kali wara wiri pusat perbelanjaan, atau googling di internet.
Dengan cara seperti itu, aku bisa mengurangi dari perilaku belanja karena lapar mata semata.
Aku punya daftar barang-barang yang aku pikir aku perlukan. Barang-barang ini betul-betul tidak bisa digantikan barang lain fungsinya, dan biasanya memang rada mahal. Bisa jadi harus pesan, karena perlu bentuk dan material yang spesifik. Lalu aku menabung untuk masing-masing barang. Kalau dah terkumpul, baru deh belanja satu-satu.
Berhubung suka menerapkan banyak syarat pada barang yang dibeli, aku tidak bisa langsung menemukan barang yang aku cari setiap kalinya. Jadi, biasanya bisa berkali-kali wara wiri pusat perbelanjaan, atau googling di internet.
Dengan cara seperti itu, aku bisa mengurangi dari perilaku belanja karena lapar mata semata.
I dont really like window shoping anyway,i just go to market because i need something..tp utk ga bl apa2 dlm shari kyknya ga mungkin, aku prl beli pulsa atw ke warnet krn kprluan kmps or krjaan,blm lg kprluan anak,wlw ga brlebih tp ttp hrs ada yg dibeli
Wah, tanpa disadari saya sekarang mengkonsumsi dengan sangat hati-hati, dalam hal ini untuk barang-barang seperti pakaian, aksesoris, dll. Yang untuk kebanyakan perempuan menjadi salah satu kebutuhan utama. Seperti misalnya teman saya yang tiap minggu beli baju baru atau setiap ada sepatu yang menarik hati, dia beli, padahal belum tahu mau dipakai kemana.
Dengar-dengar, kebiasaan konsumsi berlebih ada hubungannya dengan psikologi, dari butuh jadi obsesi lalu koleksi. Ibarat kalau kita kecanduan facebook, misalnya, cara paling ekstrim ya cabut aja internetnya, jadi kalau mau menghindari konsumsi berlebih, hindari tempat-tempat perbelanjaan =P
Tapi akan sulit dilakukan kalau dari diri orangnya sendiri belum ada kesadaran.
Dengar-dengar lagi, konsumerisme ada hubungannya dengan pencitraan diri seseorang. Materi-materi tertentu dijadikan alat pembentuk citra diri. Mungkin diperbaiki dari situ dulu.
Dulu waktu masih muda (hehe..), saya hampir sama seperti remaja putri lainnya yang suka belanja, mengikuti tren fashion, dsb. Namun sebelum semakin 'menggila', untungnya orang tua saya jadi membatasi. Lalu saya mulai menyadari bahwa ada cara lain membentuk citra diri, seperti misalnya prestasi (jadi lebih dari sekedar penampilan). Saya punya 'nilai jual' lain dibanding remaja-remaja putri kebanyakan (in my opinion=P).
Yang akhirnya mengubah pola pikir saya secara drastis adalah buku-buku dan film dari teman saya tentang konsumerisme. Sebut saja buku Ishmael karya Daniel Qiunn (ini untuk konsumerisme secara umum). Dari buku itu saya menyadari bahwa manusia itu makhluk yang serakah dan tidak pernah puas, sampai akhirnya ada global warming dsb. Dari situ saya mulai belajar menahan diri, berpantang daging, mengurangi belanja barang-barang yang tidak butuh (memikirkan kalo punya lebih dari satu mah koleksi bukan butuh), akhirnya sekarang cuma punya satu item untuk satu occasion (sepatu olahraga satu, sepatu ke kampus satu, sepatu main satu, hehe.. ), suka e-reuse barang (termasuk jadi rajin belanja ke gedebage=P).
Dan ternyata banyak di lingkungan saya yang menghargai hidup yang bersahaja, jadi saya akan tetap menjalaninya tanpa rasa malu, dan menularkannya ke teman-teman.
Ayo, lebih baik ditabung atau beli buku =P
Terima kasih
Dengar-dengar, kebiasaan konsumsi berlebih ada hubungannya dengan psikologi, dari butuh jadi obsesi lalu koleksi. Ibarat kalau kita kecanduan facebook, misalnya, cara paling ekstrim ya cabut aja internetnya, jadi kalau mau menghindari konsumsi berlebih, hindari tempat-tempat perbelanjaan =P
Tapi akan sulit dilakukan kalau dari diri orangnya sendiri belum ada kesadaran.
Dengar-dengar lagi, konsumerisme ada hubungannya dengan pencitraan diri seseorang. Materi-materi tertentu dijadikan alat pembentuk citra diri. Mungkin diperbaiki dari situ dulu.
Dulu waktu masih muda (hehe..), saya hampir sama seperti remaja putri lainnya yang suka belanja, mengikuti tren fashion, dsb. Namun sebelum semakin 'menggila', untungnya orang tua saya jadi membatasi. Lalu saya mulai menyadari bahwa ada cara lain membentuk citra diri, seperti misalnya prestasi (jadi lebih dari sekedar penampilan). Saya punya 'nilai jual' lain dibanding remaja-remaja putri kebanyakan (in my opinion=P).
Yang akhirnya mengubah pola pikir saya secara drastis adalah buku-buku dan film dari teman saya tentang konsumerisme. Sebut saja buku Ishmael karya Daniel Qiunn (ini untuk konsumerisme secara umum). Dari buku itu saya menyadari bahwa manusia itu makhluk yang serakah dan tidak pernah puas, sampai akhirnya ada global warming dsb. Dari situ saya mulai belajar menahan diri, berpantang daging, mengurangi belanja barang-barang yang tidak butuh (memikirkan kalo punya lebih dari satu mah koleksi bukan butuh), akhirnya sekarang cuma punya satu item untuk satu occasion (sepatu olahraga satu, sepatu ke kampus satu, sepatu main satu, hehe.. ), suka e-reuse barang (termasuk jadi rajin belanja ke gedebage=P).
Dan ternyata banyak di lingkungan saya yang menghargai hidup yang bersahaja, jadi saya akan tetap menjalaninya tanpa rasa malu, dan menularkannya ke teman-teman.
Ayo, lebih baik ditabung atau beli buku =P
Terima kasih
Bring No Money, Simple =)
setuju, bila perlu tiadakan program2 tv yg menghasut masy u/ berangan-angan jauh..
wah pertanyaan yang bagus...
Saat aku berbelanja, hal yang paling aku pikirkan adalah..perlu ga sih gw beli barang ini...
Atau barang yang gw beli ini bakal menghasilkan sampah sebanyak apa..bisa zero waste ga?
We are connected, apa yang kita konsumsi akan berhenti dimana, apakah akan memberikan manfaat buat yang lain ataukah membawa bencana.
Makanya kalau lagi ga mau belanja biasanya nyepi ke daerah yang jauh dari mall, atau malah ke perpustakaan n taman buat baca buku.
Tapi sifat konsumtif yang paling tidak aku sesali adalah belanja buku ^^
Saat aku berbelanja, hal yang paling aku pikirkan adalah..perlu ga sih gw beli barang ini...
Atau barang yang gw beli ini bakal menghasilkan sampah sebanyak apa..bisa zero waste ga?
We are connected, apa yang kita konsumsi akan berhenti dimana, apakah akan memberikan manfaat buat yang lain ataukah membawa bencana.
Makanya kalau lagi ga mau belanja biasanya nyepi ke daerah yang jauh dari mall, atau malah ke perpustakaan n taman buat baca buku.
Tapi sifat konsumtif yang paling tidak aku sesali adalah belanja buku ^^
mungkin mulai membiasakan barter dengan kawan/teman di sekitar, trading sangat mungkin untuk dilakukan, selain tentunya mulai membiasakan diri membuat sesuatu, mengusahakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, dalam byk hal dan kebutuhan, long live D.I.Y, Amin :)
Yang jelas ya tidak pergi ke mall; banyak tempat tujuan lain yang asik semacam ke perpustakaan atau ke rumah teman. Kalo pun misalnya kerja nya di mall, tiap kali ingin sesuatu, pikirkan bahwa meskipun barang tersebut tidak dimiliki kamu tetap bahagia. Atau mengingat keinginan lain yang lebih besar yang hanya bisa tercapai jika kita berhemat, misalnya beramal atau menyumbang korban bencana.:)
pada hari lain ketika harus belanja pastikan juga membawa daftar belanja, dan menuju langsung ke tempat dimana barang tersebut berada tanpa mengelilingi seluruh supermarket.:)
pada hari lain ketika harus belanja pastikan juga membawa daftar belanja, dan menuju langsung ke tempat dimana barang tersebut berada tanpa mengelilingi seluruh supermarket.:)
Menjauhkan sikap boros dan tidak berkiblat pada gaya hidup modern(semu). Mengasah rasa peduli sosial akan menjadikan diri kita sadar bahwa byk orang tdk berdaya yg mmbutuhkan perhatian tulus kita bersama. Mengubah kehidupan mnjadi lebih baik lagi dalam nilai Kemanusiaan.
Belanja dlm sistem ekonomi modern ada fungsinya. Konsumsi adalah pendorong pertumbuhan. Tp yg riskan adalah konsumtifisme. Spt krisis kredit perumahan di AS belum lama. Mereka sdh terlalu lama hidup dgn standar tinggi namun dg sokongan kredit bkn tabungan. Akibatnya utang numpuk stlh belasan tahun. Yaitu saat ini. Jadi seharusnya, utk mengendalikan nafsu, pakai kartu debet drpd kredit. Kita belanja atas kemampuan nyata. Bahaya kredit adalah eksploitasi sumber daya. Jd dgn mengganti sumber belanja dr kartu kredit ke kartu debet, kita dpt menahan laju eksploitasi utk menguras laba sesegera dan sebanyak mungkin. Amin.
Beli apa yang memang jadi kebutuhan yang mendesak, bukan membeli karena untuk memenuhi keinginan ... jadi lebih pada need bukan want
Bawa uang secukupnya saja sangat efektif buat saya. Walaupun terkadang uang yang saya bawa sangat minim, uang yang ada di ATM cukup buat emergency
Tampaknya Indomie dan air putih akan jadi awal yang baik....
tutup mata kuping telinga, kenali kebutuhan diri sendiri bukan yang diinginkan. nature fulfill our needs, no need to buy anything, unless it is urgent. and needed badly.
Rizki Ramadan
tidak mendatangi tempat tempat yang menjual atau memajang produk yang saya suka.. sadar ga sadar sepertinya kita ingin membeli sesuatu bukan karena kita ingin membelinya tapi karena ada yang menjualnya.
akutansi & meditasi
saya menentang ...tang...tang...tang... begini pak / bu...
ehem... ehem...
mungkin kebiasaan mengkonsumsi yang berlebihan tidak terlalu baik untuk kesehatan terutama kesehatan dompet.. tapi kalo mengurangi kebiasaan mengkonsumsi secara global saya rasa salah karena :
1. kalo kita tidak mengkonsumsi sesuatu yang kita butuhkan maka hal tersebut menimbulkan efek samping yang negatif. contoh mengurangi mengkonsumsi kopi di pagi hari... bagi yang sudah melakukan kebiasaan ini selama bertahun2 maka akan timbul pusing2, mual2 dan bahkan yang lebih parahnya lagi kekurangan kadar glukosa dalam darah, karena orang yang punya kebiasaan ngopi di pagi hari suply glukosanya hanya di support oleh kopi tersebut apalagi kalo orang itu punya kebiasaan telat makan.
2. dengan mengurangi kebiasaan mengkonsumsi, kita secara langsung mengurangi perputaran uang. dan hal ini akan menyebabkan lemahnya ekonomi suatu daerah apabila di lakukan secara massal. contoh kecil. coba kita ambil hal yang dianggap masyarakat paling berbahaya. ROKOK. seumpama dalam satu rt ada 10 orang yang punya kebiasaan merokok dan membelinya di warung si A, dengan rokok merk Z yang harganya 10rb/bungkus serta kebiasaan yang sama yaitu total 1 bungkus sehari. maka si A harusnya setiap hari mempunyai omzet 100rb. JIKA 10 orang tersebut mengurangi kebiasaan merokoknya menjadi setengah bungkus @ 5 rb perhari, maka.... omzet si A perharinya akan turun menjadi 50 RB atau rugi 50rb, .... pak/bu, kalo si A itu punya warung segede circle K sih ga masalah. tapi kalo si A cuma punya warung pojok maka KERUGIAN yang di alami si A itu 50rb sehari atau 350rb semingu, atau 2 juta sebulan. DAN ITU CUMA DARI 1 RT coba kalo satu komplek/ kota/ negara .... trus si A dan teman2nya yang cuma hidup dari situ mau makan apa?? SITU MAU NGASIH KERJAAN ??? mikir dong .... (kenapa gw yang sewot yak) hehehe sori terbawa emosi...
jadi menurut saya bukan kebiasaan mengkonsumsinya yang dikurangi.
1. kalo masalahnya kesehatan, coba cari alternatif dari barang yang dikonsumsi, cari yang lebih sehat
2. kalo masalahnya mengurangi pengeluaran, menurut saya salah. bukan pengeluaran yang dikurangi, tapi pendapatan yang ditambah.
3. kalo mau puasa, sebaiknya bukan untuk mengurangi kebiasaan mengkonsumsi tapi coba niatnya untuk ibadah... insya Allah berkah... hehehe
ehem... ehem...
mungkin kebiasaan mengkonsumsi yang berlebihan tidak terlalu baik untuk kesehatan terutama kesehatan dompet.. tapi kalo mengurangi kebiasaan mengkonsumsi secara global saya rasa salah karena :
1. kalo kita tidak mengkonsumsi sesuatu yang kita butuhkan maka hal tersebut menimbulkan efek samping yang negatif. contoh mengurangi mengkonsumsi kopi di pagi hari... bagi yang sudah melakukan kebiasaan ini selama bertahun2 maka akan timbul pusing2, mual2 dan bahkan yang lebih parahnya lagi kekurangan kadar glukosa dalam darah, karena orang yang punya kebiasaan ngopi di pagi hari suply glukosanya hanya di support oleh kopi tersebut apalagi kalo orang itu punya kebiasaan telat makan.
2. dengan mengurangi kebiasaan mengkonsumsi, kita secara langsung mengurangi perputaran uang. dan hal ini akan menyebabkan lemahnya ekonomi suatu daerah apabila di lakukan secara massal. contoh kecil. coba kita ambil hal yang dianggap masyarakat paling berbahaya. ROKOK. seumpama dalam satu rt ada 10 orang yang punya kebiasaan merokok dan membelinya di warung si A, dengan rokok merk Z yang harganya 10rb/bungkus serta kebiasaan yang sama yaitu total 1 bungkus sehari. maka si A harusnya setiap hari mempunyai omzet 100rb. JIKA 10 orang tersebut mengurangi kebiasaan merokoknya menjadi setengah bungkus @ 5 rb perhari, maka.... omzet si A perharinya akan turun menjadi 50 RB atau rugi 50rb, .... pak/bu, kalo si A itu punya warung segede circle K sih ga masalah. tapi kalo si A cuma punya warung pojok maka KERUGIAN yang di alami si A itu 50rb sehari atau 350rb semingu, atau 2 juta sebulan. DAN ITU CUMA DARI 1 RT coba kalo satu komplek/ kota/ negara .... trus si A dan teman2nya yang cuma hidup dari situ mau makan apa?? SITU MAU NGASIH KERJAAN ??? mikir dong .... (kenapa gw yang sewot yak) hehehe sori terbawa emosi...
jadi menurut saya bukan kebiasaan mengkonsumsinya yang dikurangi.
1. kalo masalahnya kesehatan, coba cari alternatif dari barang yang dikonsumsi, cari yang lebih sehat
2. kalo masalahnya mengurangi pengeluaran, menurut saya salah. bukan pengeluaran yang dikurangi, tapi pendapatan yang ditambah.
3. kalo mau puasa, sebaiknya bukan untuk mengurangi kebiasaan mengkonsumsi tapi coba niatnya untuk ibadah... insya Allah berkah... hehehe
mm..gw mah harus dengerin lagu Efek Rumah Kaca yang judulnya "Belanja Terus Sampai Mati".hehhe
Liriknya mengingatkan kita, bahwa berbelanja ternyata hanya menjadi konsumsi kaum urban yang haus dengan prestise..
Liriknya mengingatkan kita, bahwa berbelanja ternyata hanya menjadi konsumsi kaum urban yang haus dengan prestise..
Konsumsi apa yg benar2 menjadi kebutuhan kita..
understanding and manage our needs and self control offcours
puasa juga cuci matanya...biar ga kabita. jadi ga buka2 situs belanja online, n gak jalan2 di mall. hehehe...
Cukup dengan merasa cukup
Aku lbh stuju dgn 'Blanja dgn Bijak' soale stlh kerja & pny baby bener2 krasa bhw qta hrs hemat..kynya apa2 tuh prioritar bwt anak..mulai dr asuransi,bli susu & pampers! Hehehe
mnurut aq cara yg paling mudah utk mengurangi kbiasaan blanja ada satu, yakni tdk membawa uang terlalu bnyk ktika bepergian..
sikap membawa uang berlebih ketika bepergian biasanya membuat qt berbelanja brg2 yg sebenarnya tdk terlalu ptg. dikarenakan qt membawa uang lebih jdlah qt merasa tdk berdosa membelanjakan uang tersebut kpn saja. namun dampak ini akan terasa ktika qt plg krmh. qt akan sadar bhwa brg yg qt beli tersebut tdk terlalu ptg, yg td qt lakukan tersebut hanyalah nafsu blanja smata, ato byasa qt ketahui dgn sebutan "laper mata".
membawa uang dgn jumlah yg tdk terlalu bnyk.. (hanya membawa uang sesuai dgn apa yg akan qt beli, yg sudah qt rencanakan dr rmh) adalah salah satu bentuk usaha qt dlm mengurangi kebiasaan belanja.. krn uang yg akan qt pakai untuk membeli brg2 yg tdk penting tersebut tidak qt bawa, sehingga mau tdk mau qt tertahan membeli brg trsebut.. bnar tdk???
semoga bermanfaat, sebab cara ini sering berhasil menghambat saya mengikuti sikap "laper mata" saya.. n_n
sikap membawa uang berlebih ketika bepergian biasanya membuat qt berbelanja brg2 yg sebenarnya tdk terlalu ptg. dikarenakan qt membawa uang lebih jdlah qt merasa tdk berdosa membelanjakan uang tersebut kpn saja. namun dampak ini akan terasa ktika qt plg krmh. qt akan sadar bhwa brg yg qt beli tersebut tdk terlalu ptg, yg td qt lakukan tersebut hanyalah nafsu blanja smata, ato byasa qt ketahui dgn sebutan "laper mata".
membawa uang dgn jumlah yg tdk terlalu bnyk.. (hanya membawa uang sesuai dgn apa yg akan qt beli, yg sudah qt rencanakan dr rmh) adalah salah satu bentuk usaha qt dlm mengurangi kebiasaan belanja.. krn uang yg akan qt pakai untuk membeli brg2 yg tdk penting tersebut tidak qt bawa, sehingga mau tdk mau qt tertahan membeli brg trsebut.. bnar tdk???
semoga bermanfaat, sebab cara ini sering berhasil menghambat saya mengikuti sikap "laper mata" saya.. n_n
simple, bacalah buku2 tentang bahaya konsumerisme dan perbanyaklah beribadah di mall :D
Selalu membeli kemasan dlm ukuran besar,membeli kmasan refill,menghindari memesan makanan agar brkurang konsumsi plastik kmasan.
Fikranilam Sihar lembur.. kerja dr pagi sampe diusir dr kantor. dijamin pulang langsung tidur, ngga sempet beli apa-apa. hhihi :D
Kita perlu "belajar mengekang diri", sebab terkadang kita berbelanja bukan karena kebutuhan tetapi keinginan/nafsu besar. Think first before you buy something...
Gilar Jodidg mengkonsumsi apa yg saya butuhkan,, buy nothing day lebih nampak seperti aksiaksi simbolik yg justru melanggengkan konsumsi kompetitif layaknya aksi pemberontakan budaya-tanding lainnya yg mendasarkan pada anti-konsumerisme, environmentalisme, penerapan self-help, pengacakan budaya hanya berujung pada radikalisasi diri yg kian hari kian anti-sosial bila tidak ingin disebut apolitis,,
*bagi mereka yg gemar mengkonsumsi makanan organik, selamat bagi kalian yg telah memperparah konsumerisme eksklusif yg lebih hebat lagi,,
Bookmark this post: |








































0 komentar:
Post a Comment