Monday, December 14, 2009

Kepingan Cerita Koin Ibu Prita



Siang itu Tobuciler iseng-iseng ke  Tobucil. Tobuciler mampir sejenak karena menantikan selesainya proses printing di sebuah tempat. Tak lama duduk di beranda, datanglah berbondong-bondong, para pria berbaju hitam. Jumlahnya, sekitar tujuh atau delapan. Tobuciler sempat mengira-ngira mereka ini mau apa, tapi tak ada satupun pikiran terlintas bahwa mereka ini kemudian menghampiri kotak koin Ibu Prita. Kotak tersebut disediakan oleh Tobucil, sebagai bentuk solidaritas terhadap Ibu Prita Mulyasari yang tengah menghadapi gugatan dari RS Omni Internasional atas tuduhan pencemaran nama baik. Ibu Prita, kemudian mesti membayar 204 juta Rupiah. Solidaritas tersebut ternyata melanda hampir seluruh warga Indonesia. Bentuk solidaritasnya diwujudkan dalam pengumpulan uang koin.
 
Tobuciler kemudian  menanyai beberapa diantaranya, dan diketahui bahwa koin yang mereka kumpulkan berjumlah sekitar Rp. 91.500. Dibawa dalam bungkusan plastik dan telah tertera ada berapa rupiah di dalamnya. Tobuciler yakin mereka ini orang baik, karena setidaknya dengan demikian, ia meringankan orang yang bertugas menghitung koin nantinya. Oh, ada yang menarik, yakni dalam kertas keterangan jumlah koin rupiah, ada keterangan jumlah koin mata uang asing juga. Para pria yang diketahui kemudian berasal dari Urban Design itu, menurutsertakan juga 450 Won, 3 Yuan, 2 Dirham, dan 620 HKD. Jika dihitung dengan koin-koin asing itu, maka totalnya menjadi Rp. 108.400. 
Mas-mas, kenapa membawa koin asing segala? Katanya, agar negara lain tahu, bahwa di Indonesia, hukum dianggap sebagai main-main. Mereka dapat koin asing itu, katanya, kalau ada diantara mereka yang berkunjung ke sebuah negara, dan pulang membawa recehannya. Lantas, apa yang Mas-Mas harapkan dari pengumpulan koin ini? Tidak takut riyakarena sudah mencantumkan jumlah sumbangan dan difoto terang-terangan? Katanya, mereka berharap agar kasus ini jadi pelajaran untuk semuanya. Riya’? entah kenapa, tapi mereka mengaku tidak merasa.

Mereka diketahui, tengah istirahat makan siang. Barangkali mengorbankan perutnya yang biasa diisi makanan di jam yang ditentukan, demi menyisihkan koinnya untuk Ibu Prita. Yang tak lama kemudian juga datang dua orang mahasiswa Unikom yang mengangkut kotak berisi koin juga. Mereka tak sempat ditanyai banyak-banyak, tapi maksudnya cukup jelas, mereka juga menyisihkan waktu dan koinnya untuk membantu orang lain. Orang lain yang entah siapa dan tak mesti kenal juga. Yang terlepas koin ini kemudian sampai ke tangannya, atau genap jadi 204 juta rupiah, barangkali bukan semata-mata masalahnya. Tapi kenyataan bahwa ada kebersamaan yang terbangun, adalah hal yang membuat kita ini ingin lama di dunia.


Wiku dan Errie dari tobucil bersama Ndaru dari posko koin keadilan Jakarta.

Koin-koin yang terkumpul di Tobucil, telah diserahkan ke posko koin keadilan pada tanggal 12 Desember 2009. Lebih lanjut silahkan klik www.koinkeadilan.com
 
Google Twitter FaceBook

1 komentar:

Anonymous said...

Minggu 13 Des 09 aku mampir ke Tobucil utk nempel poster. Saat mau pergi, vespaku susah hidup. Aku bersihkan dulu businya. Saat sedang membersihkan busi itu ada 2 orang ibu dan seorang anak datang. Salah satunya bertanya: "Mas, di sini ngumpulin koin buat Prita ya?" Aku bilang, " ya, silahkan masuk saja". Tak lama kemudian mereka keluar lagi dan bilang bahwa mereka diberi keterangan koin2 tersebut sudah disetorkan. Mereka mungkin batal menyumbangkan koin atau mungkin menemu terminal pengumpulan koin yg lain. (Heru Hikayat)

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin