Sunday, December 6, 2009

Menuangankan Cerita Ke Dalam Komik





Klab Komik Manyala


Ketika Tobuciler datang, workshop itu sudah dimulai. Workshop yang diadakan oleh Klab Komik Tobucil. Dengan topik, bagaimana menuangkan cerita ke dalam komik. Workshopper-nya, namanya, Okky T. Baskara, setidaknya itulah yang Tobuciler lihat dari kartu namanya. Yang datang ada sekitar, sembilan orang pada mulanya, sebelum kemudian menyusul seorang bernama Indra yang datang terlambat. Tobuciler tadinya berharap bahwa yang namanya Klab Komik, tentulah mesti ada acara menggambar bersama. Dengan demikian Tobuciler bisa menikmati gambar-gambar para peserta, karena memang gambar lebih mudah dinikmati ketimbang tulisan.


Tapi ternyata, workshop itu sama sekali tidak ada acara gambar-menggambar. Kak Okky banyak berbagi soal tahap-tahap penceritaan dalam sebuah komik. Ia mengawali bagannya dengan ide global. Lalu katanya, setelah ide global, ada yang dinamakan prolog. Prolog atau pengenalan, kemudian dilanjutkan dengan pengenalan masalah. Setelah itu muncul konflik yang dilanjutkan dengan klimaks. Klimaks diakhiri dengan resolusi, dan kemudian komik ditutup dengan epilog. Haruskah demikian? Tidak, tidak, kata Kak Okky. Katanya, semua itu bisa diacak, asal tetap ada. Kak Okky mencontohkan komik terbitan Vertigo, yang butuh berpikir keras untuk mengikuti alur ceritanya. Karena, itu tadi, tahap-tahapnya yang tidak berurutan. Lalu, salah satu bertanya, “Kak, kalo komik komedi, adakah konflik?” Dijawab serentak oleh Kak Okky dan Azisa, “Ada.” Azisa adalah salah satu penyelenggara workshop, yang tampaknya pada hari itu merangkap juga sebagai moderator. “Namanya konflik itu, pokoknya ketika seseorang mempunyai tujuan, lalu ada yang menghambat atau menghalangi. Bahkan komedi itu, kelucuan-kelucuannya bersumber dari konflik. 

Pertanyaan-pertanyaan kemudian berdatangan dari para peserta, dan tidak melulu berkaitan dengan topik hari itu. Misalnya ada yang bertanya soal bagaimana membuat percakapan yang baik. Lalu dijawab sederhana oleh Kak Okky, “Itu soal wawasan.” Katanya, banyak membaca akan sangat membantu untuk membuat percakapan yang berbobot. Lihat saja, masih kata Kak Okky, komikus yang mempunyai latar belakang berbeda, misalnya dari ekonominya, akan menghasilkan karakter percakapan yang berbeda. Obrolan-obrolan menarik tersebut berlangsung hingga gelap, yang tadinya dimulai jam empat lebih. Menarik dan mengingatkan Tobuciler pada Klab Nulis asuhan Sophan Ajie yang sempat Tobuciler ikuti. 

Di penghujung acara, Azisa memberikan PR pada para peserta, untuk dikerjakan minggu depannya. Soal apa? Begini topiknya: Ada jagoan yang menapakkan kaki di tempat penentuan. Ia banyak bekas luka di sekujur tubuhnya, luka bekas pertarungan. Di hadapannya muncul sesosok manusia, dan si jagoan berkata, “Akhirnya kau menampakkan diri juga.”  Menarik kan? Dan penasaran seperti apa Klab Komik menerjemahkan paragraf tersebut dalam gambar? Datang dan nikmati, hari Jumat jam empat di Tobucil, yang ternyata rutin. [Syarif Maulana]

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin