Monday, December 14, 2009

Sejarah Klab Klassik: Perjalanan Mencari Cinta (Bagian 1)




Pada Mulanya

Munculnya ide awal pembentukan KlabKlassik, -uniknya- justru muncul dari penggemar berat musik jazz bernama Dwi Cahya Yuniman. Mas Niman –demikian kami menyapanya- adalah koordinator KlabJazz, sebuah komunitas penyuka musik jazz yang rajin berkumpul di CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Kala itu, sekitar Januari 2005, saya datang ke acara nongkrong mereka, yang juga dalam persiapan penyelenggaraan JazzAid, sebuah konser amal penggalangan dana untuk korban tsunami. Saya tidak sendiri, ditemani oleh Royke Ng dan Christian Reza Erlangga, mendadak kami diperkenalkan sebagai KlabKlassik. Alih-alih menggunakan kata ”klasik”, Mas Niman ingin ”klassik” dengan dua huruf ”s”. Awalnya kami sempat menganggap rancu, tapi perasaan senang lebih mendominasi: kami punya identitas.

KlabKlassik kemudian ikut ditampilkan di acara JazzAid yang berlangsung pada bulan Februari 2005. Jika saya mengingat kembali, formatnya cukup menggelikan. Waktu itu ada saya, Royke Ng, Christian Reza Erlangga, dan Ahmad Indra (semuanya pemain gitar klasik). Kami tampil di panggung berempat, namun tidak dalam bentuk ensembel. Masing-masing memainkan satu lagu bergantian. Sementara yang satu bermain, yang lain duduk termangu. Rangkaian permainan reli itu ditutup oleh lagu Fuoco (karya Roland Dyens) yang ditampilkan oleh Royke Ng. Meski terbilang unik untuk sebuah kelompok musik klasik, tapi saya merasa sambutannya cukup baik. Saat itu, kami melihat secercah harapan baru: apresiasi terhadap musik klasik ternyata punya potensi.
    Sejak JazzAid, kami mendapat kesempatan untuk membangun sebuah komunitas di CommonRoom. Meski ”jatah” itu tak banyak, tapi kami berusaha memanfaatkan dengan maksimal. KlabKlassik boleh mengadakan kumpul-kumpul jika dalam satu bulan ada lima minggu. Minggu kelima itulah milik kami. Setiap KlabKlassik berkumpul, suasananya kadang ramai kadang sepi. Ramai biasanya jika kami mengundang musisi ternama seperti Ammy C. Kurniawan dan I Nyoman Mahendra (keduanya violinis) atau memutar video musik yang menarik. Tapi untuk acara diskusi atau nongkrong-nongkrong biasa, peminatnya sangat sedikit. Bisa hanya empat orang atau kurang, bahkan pernah hanya tinggal saya sendirian! Naik turun nasib KlabKlassik ini sempat membuat saya dan kawan-kawan kelelahan. Maklum, saat itu kuantitas peminat masih menjadi ukuran. Padahal, KlabKlassik tidak mewajibkan iuran, semua boleh datang secara gratis. Atas dasar itu, -meniru KlabJazz- kami merasa perlu untuk membuat sebuah even. Even yang sekaligus juga soft launching akan kehadiran KlabKlassik. Lewat even tersebut, kami berharap masyarakat bisa mengenal keberadaan kami, untuk memudahkan sosialisasi visi dan misi kami. Kami memutuskan untuk membuat even bertemakan amal, yang mana judul acaranya didiskusikan bersama Mas Niman. Dalam diskusi tersebut, Mas Niman mengusulkan sebuah nama yang menurut kami sangat brilian: Classicares. 

Konser Pertama

Classicares diselenggarakan pada 9 Desember 2005. Kami memilih gedung Asia Africa Cultural Center di jalan Braga sebagai tempat penyelenggaraan. Bagi saya pribadi, konsepnya cukup nekat untuk ukuran “calon komunitas” yang baru seumur jagung. Dalam satu pagelaran berdurasi tiga jam tersebut, kami menampilkan berbagai musisi dalam format instrumen yang beragam. Pengisi acaranya ada Royke Ng dan Ridwan B. Tjiptahardja (solo gitar), Rara Utami dan Kanisius Kevin Suherman (solo piano), Anime String Quartet (kuartet gesek), Yohanes Siemandinata (kuartet piano), Ammy String Section (ensemble bass, gitar, dan violin), serta Sadaya Chamber Orchestra (orkestra gesek). Keseluruhan pemain yang disebutkan di atas bukanlah musisi “kemarin sore”. Label musisi klasik profesional pantas disematkan pada semuanya.

Bagi saya, acara tersebut berlangsung sangat sukses. Cara mengukurnya memang susah-susah gampang. Wajah penonton yang sebagian besar berseri sepulang konser, tempat duduk yang terisi penuh, musisi yang mengaku puas dengan apresiasi, hingga jumlah dana yang terkumpul untuk kemudian disumbangkan ke Harry Roesli Foundation, barangkali bisa jadi barometer kesuksesan. Namun, yang paling penting bagi kami, jika ibarat bayi yang baru lahir, even tersebut adalah napas pertama bagi kami untuk melanjutkan hidup. Sejak hari itu, 9 Desember diperingati sebagai hari kelahiran KlabKlassik. Ukurannya bukan pada kapan nama KlabKlassik itu disematkan, tapi lebih kepada dimulainya perjalanan kami sebagai komunitas mandiri, yang siap berdiri di atas kaki sendiri. (bersambung)

[Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin