Sunday, February 22, 2009

Aura Berbelanja


Aura belanja menyertai Tobucil sepanjang minggu. Suplai benda-benda lucu mengalir untuk dijual, Tobucil membeli televisi, dispenser, dan rak dorong baru. Blog Tobucil pun dimeriahkan oleh kisah penjual buah yang menipu (papantulis) dan teman yang tidak royal “membelanjakan” kata-kata (salamatahari).

Bukan hanya itu, minggu ini madrasah filsafat kedatangan Mas Haryanto Soedjatmiko. Penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” ini secara khusus membagi pemikirannya mengenai eksistensi dan berbelanja. Mengacu pada “aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes, dalam pandangan Mas Haryanto, berbelanja jadi lebih menjanjikan eksistensi ketimbang sekedar berpikir. Bagaimana menurutmu ?

Tobuciler memikirkan pernyataan itu, lalu lahirlah simpulan ini:

Aura belanja menyertai kita senantiasa.

Kita membeli masa depan yang cerah dengan kerja keras hari ini.

Kita membeli senyuman orang lain dengan senyuman kita sendiri.

Kita membeli kehangatan persahabatan dengan komunikasi yang intens.

Kita membeli sesuatu di sana dengan sesuatu dari sini …


Semoga kesetiaan kami hadir dapat membeli separsel kebaikan,

seperti kalian telah membeli semangat kami dengan separsel dukungan …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Armely Meiviana : Greenlifestyle atau Garinglifestyle ?

Mbak Armely Meiviana berkunjung ke Tobucil. “Katanya aktivis Greenlifestyle, ya ?” tanya Tobuciler. “Bukan, saya pasivis,” jawabnya. “Ey ? Maksudnya ?” tanya Tobuciler lagi. “Pasivis, nggak muncul di mana-mana,” sahutnya sambil asyik mengelem-ngelem kantong gehu.

Berikut adalah wawancara Tobucil dengan Mbak Mely yang pasivis greenlifestyle, namun disinyalir sebagai aktivis garinglifestyle …

Tobucil : Mbak, kok mau, sih, disuruh ngelem-ngelem di Tobucil ?

Mbak Mely : Emang disuruh, ya ? Ini sebenernya saya lagi laper, tapi karena nggak punya uang, saya ngelem aja. Lumayan, lagi, lemnya lem Fox.

Tobucil : Emang yang bikin lem Fox lebih enak daripada lem lainnya apa ?

Mbak Mely : Karena warnanya putih … apa, ya ? Cobain aja, deh, rasanya lebih enak.

Tobucil : Sejak kapan, Mbak, makan lem ?

Mbak Mely : Emang saya bilang makan ? Nggak nyimak, nih … gimana, sih ?

Tobucil : Hahaha … iya, maab-maab. Kita ngomongin flora-fauna, Mbak, biar greenlifestyle. Andai Mbak Mely jadi bunga, aku jadi apa ?

Mbak Mely : Jadi rumah.

Tobucil : Kenapa ?

Mbak Mely : Saya tanya dulu sama diri saya sendiri, tadi kan spontan (diam sejenak). Nggak taulah, pokoknya rumah ajalah …

Tobucil : Kalau aku jadi kumbang, Mbak Mely jadi apa ?

Mbak Mely : Saya jadi saya aja, deh …

Tobucil : Terus kalau Mbak Mely liat kumbang, mau diapain ?

Mbak Mely : Saya mainin, saya kasih ke ponakan saya, dan saya kasih tau ‘ini kumbang’ … eh, kumbang, tuh, kepik, bukan ?

Tobucil : Bukan.

Mbak Mely : Jadi ?

Tobucil : Kepig itu babi, Mbak …

Mbak Mely : Oh, kepig-pig-an maksudnya ? Hahaha … eh, ini ngomongin fauna, kan ? Ngomong tentang ponakan saya aja. Ponakan saya yang pertama macan, karena suka mengaum, yang ke dua monyet, karena suka memanjat, yang ke tiga sama ke empat saya bingung karena mereka belum menunjukkan tanda-tanda kayak satwa.

Tobucil : Kok bisa, sih, punya ponakan satwa ?

Mbak Mely : Waduh … hanya Tuhan yang tahu … ato mungkin itu karena orangtuanya memang membuat. Saya nggak punya kontribusi apa-apa di situ, bener …

Tobucil : Hehehe … eh, Mbak, Tobucil kan didominasi warna ijo. Ada hubungannya, nggak, sama greenlifestyle ?

Mbak Mely : Apaan ? Dulu mah orens, dulunya lagi gelap, namanya aja ganti-ganti. Dulu Pakuban (Pasar Buku Bandung) … ibarat anak, Tobucil tu kayak anak yang salah nama, sakit-sakitan terus ganti nama (jadi Tobucil).

Tobucil : Emang Tobucil pernah sakit-sakitan, ya ?

Mbak Mely : Sering, apalagi cuacanya kayak gini. Bisa jadi karena pemanasan global. Mungkin negara-negara juga musti ganti nama, ya, biar nggak terkena dampak pemanasan global ? Hehehe … tetep, ya, gue …

Tobucil : Hehehe … ceritain, dong, Mbak, pertama kalinya tau Tobucil …

Mbak Mely : Saya kan naik angkot, ya, kebetulan keneknya kecil, jadi saya bilang “Topcil, topcil !” (maksudnya “stop kecil”) , terus malah nyampe, deh, di Tobucil … gantian sini gua yang wawancara elu. Kalo elu gimana ceritanya bisa dateng ke Tobucil ?

Tobucil : Aku kan naik angkot, keneknya kecil, terus aku bilang “topcil, topcil …”

Mbak Mely : Ih, nyontek !

Tobucil : Yeee … kalo pengalamannya emang sama gimana ?

Mbak Mely : Oh, gitu, ya ? Elu naik angkot apa waktu itu ?

Tobucil : Angkot gelap.

Mbak Mely : Beda kalo gitu, angkot gua warnanya terang. Terus kenek lo itu sekecil apa ? Kayak tuyul gitu ?

Tobucil : Kayaknya iya …

Mbak Mely : Wah … berarti harusnya lo bilangnya “topyul, topyul …” terus lo nyampenya ke Tobuyul … salah alamat lu … eh, mana kameranya ? Sini gua yang foto … nggak fair banget dari tadi elu doang (yang memfoto-foto) …

Sementara Tobuciler mencatat hasil wawancara, Mbak Mely malah memotret-motret Tobuciler. Sepertinya keaktivisannya di greenlifestyle memang isu belaka. Tadi pun Mbak Mely sudah mengkonfirmasi sendiri, bukan ?

Atau … mungkin orang-orang salah dengar. “Greenlifestyle” dan “Garinglifestyle” kan sekilas terdengar mirip-mirip …

Sundea





Google Twitter FaceBook

Buku, Blocknote, Kartu ... Asyik ... belanjaaa ...


Judul Buku : Saya Berbelanja Maka Saya Ada

Pengarang : Haryanto Soedjatmiko

Harga Buku : Rp. 29.000,00

Harga Tobucil : Rp. 26.000,00

Ketika belanja menjadi berlebihan, di situlah orang mulai berkata tentang konsumtif dan ujung-ujungnya konsumeris. Itulah maksud buku ini : hendak menelaah konsumerisme secara ilmu dan praktiknya dalam hidup sehari-hari, antara lain: dalam bidang desain, ruang dan tempat, teknologi, mode, musik pop, dan olahraga. Satu hal yang perlu diingat ialah “paradoks konsumsi” yakni di satu pihak konsumerisme menawarkan kepada kita berbagai kesempatan dan pengalaman. Di lain pihak, kita sebagai konsumen digiring kea rah tujuan yang telah ditentukan (kepentingan kapitalis).


Siapa Mau Floppy Disk Bloc Note ?

Created by Tarlen


Harga : Rp. 10.000,00

Floppy Disk jaman lagi ! Dapat block note unik ini di Tobucil.

Mau tahu cara membuatnya ? Klik di sini

Block Note Hitam-Putih

Created by Moelyana



Harga : Rp. 4500,00

Dapatkan pula blocknote handmade imut-imut bermotif binatang-binatang ini …


Kartu Ucapan

Harga : Rp. 5000,00

Ingin membeli kado di Tobucil ? Bisa sekali. Bingung mencari kartu ucapan ? Tak perlu lagi. Kini Tobucil menyediakan kartu-kartu bergambar lucu dengan ucapan-ucapan yang spesifik dan menarik …


Google Twitter FaceBook

Gara-gara Mariah Carey


-Tobucil, Rabu 18 Februari 2009-

Madrasah filsafat

Dengan langkah cepat, seorang lelaki berkacamata memasuki beranda Tobucil. “Kayaknya itu, deh, penulisnya,” duga IBS. “Lain, lain ieu (bukan, bukan ini),” tanggap Mas Ami saat lelaki itu memasuki kantor pajak. Namun, ketika tak sampai lima menit kemudian lelaki itu keluar lagi dengan wajah bingung, IBS dan Mas Ami saling berpandangan. “Mas Haryanto, ya ?” tembak Mas Ami akhirnya. “Iya,” sahut laki-laki itu.

Hari itu, madrasah filsafat kedatangan bintang tamu. Namanya Mas Haryanto Soedjatmiko. Penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” tersebut, membawakan materi yang berkaitan dengan bukunya. Tajuknya “Berpikir ala Descartes Bertindak ala Mariah Carey”.

“Kenapa Mariah Carey, bukan Paris Hilton misalnya ?”tanya IBS.

“Karena dia inspiratif, suaranya tinggi sekali, setinggi tuts piano yang paling ujung. Lagu-lagunya juga selalu hits, mengalahkan Elvis Presley dan mendekati The Beatles.”

“Jadi apa hubungannya belanja dengan Mariah Carey ?” tanya Mas Heru Hikayat.

“Mariah Carey adalah orang yang selalu merasa kurang,” sahut Mas Haryanto. Ia lalu bercerita tentang Mariah Carey yang mempunyai seribu sepatu dan hafal persis seluruh sepatunya. Wow !

Selanjutnya, Mas Haryanto membagi pemikirannya mengenai keberbelanjaan dan keberadaan. “Coba sebut satu hal yang ada di pikiran Anda, spontan,”ujar Mas Haryanto. “Bir !” sahut Mas Heru. “Untuk mendapatkan bir kita perlu apa ?” tanya Mas Haryanto. “Teman-teman,” sahut Mas Heru lagi. “Bukan, bukan itu, kita perlu duit untuk belanja,” koreksi Mas Haryanto.

Menurut Mas Haryanto, segala sesuatu harus dibeli. “Paling nggak orang musti cuci muka supaya cakep, meskipun cakepnya cakep alami juga,” tukasnya. Bagi Mas Haryanto, berbelanja melampaui “aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes, “orang harus belanja, beli, membayar, kalau cuma mikir aja nggak akan dapet…” Ia pun berpandangan, belanja akhirnya berkaitan dengan rasa bebas. Dari sana, berbagai pertanyaan berlontaran dari peserta madrasah filsafat.

“Bukannya dikendalikan oleh nafsu belanja justru merupakan keterkekangan ?” tanya Hemut.

“Bagaimana kalau saya punya uang seratus ribu dan malah bingung ngebelanjainnya ?” tanya IBS.

“Apa betul perempuan lebih konsumtif secara psikologis daripada laki-laki ?” tanya Novi.

Lalu pembicaraan jadi meluas ke mana-mana. Peserta madrasah filsafat saling menanggapi satu sama lain, sementara Mas Haryanto sendiri menjadi penonton yang budiman. “Yah … dia kok jadi diem aja ?” tanya Tobuciler. “Nggak apa-apa, silakan, saya menikmati, kok,” sahutnya sambil terus mendengarkan. Hyaaa …

“Jadi sebetulnya apa tolok ukur konsumerisme ? Apa memenuhi basic needs termasuk konsumerisme ?” tanya Hemut. Mas Haryanto lalu menjawab, “Kalau sudah berbicara soal tolok ukur, kita akan berbicara soal moral. Di sini saya tidak membahas masalah moral.”

Tahu-tahu Nita, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, menyeletuk, “Kenapa semua orang mengecam konsumerisme ? Menurut saya apa salahnya konsumerisme ? Berdayakan saja. Kalau kita punya barang, ya dijual lagi aja. Itu kan sirkulasi uang juga …”

Hmm … betul juga. Loose some, gain some. Ngomong-ngomong, seandainya Mariah Carey hadir juga di madrasah filsafat hari itu, akankah dia jadi berpikir untuk menjual keseribu sepatunya ?

Sundea

Google Twitter FaceBook

Jelang Siang Trans TV, Jelang Pria Merajut


-Tobucil, Sabtu 21 Januari 2009-

“Udah dateng belom ?” berkali-kali Syarif yang melongok ke beranda. Hari itu dia tampak sumringah dan bersemangat. Menunggu siapa, sih ?

Ternyata, pria-pria merajut di Tobucil sedang menunggu tim dari Jelang Siang Trans TV. Setelah hadir di Kompas Minggu beberapa pekan yang lalu, teman-teman kita ini berkesempatan eksis kembali di media.

“Kok bisa kepikir ngeliput cowok ngerajut di Tobucil, sih, Mas ?” tanya Tobuciler pada Mas Agus, script writer “Jelang Siang”. “Aneh aja. Bayangan orang pada umumnya kan yang ngerajut cewek, nenek-nenek … ini cowok,” sahut Mas Agus yang tampak sangat sibuk mengetik script.

Sementara itu, Agus yang Rakasiwi memarkir motor malang melintang seperti biasa. Mas Anta sang kameramen jadi sangat sulit menentukan angle. “Motor ini gimana, ya ? Soalnya ngeganggu, keliatan banget di gambarnya,” keluhnya sambil menunjuk ke LCD kameranya. Wiku sang koordintor klabs akhirnya turun tangan. Dengan gagah perkasa ia mengangkat-angkat motor Mas Agus Rakasiwi agar terparkir secara lebih tertib.



Setelah berbagai kendala diatasi, shooting siap dimulai. Namun, sesaat sebelum kamera dinyalakan, masih juga ada masalah, “Mas, coba tolong beraktivitas, jangan melamun, nanti penontonnya bingung,” Mas Anta menegur Syarif yang tampak nelangsa. “Eh, iya, Mas … udah mau mulai, ya ? Kirain belum …,” Syarif tersadar.

And … action. Moel, Wiku, Adi Marsiella, Rudy, dan Syarif beraksi dengan rajutan masing-masing. Ketika shooting sedang berlangsung hangat-hangatnya, hujan tahu-tahu turun. “Wah, jangan sampai bocor,” Syarif kuatir, “Kalau sampe bocor, mari kita merajut atap, merajut ataaaap ….”

Merajut atap ? Bukankah sebaiknya teman-teman merajut matahari saja ?

Tobuciler memperhatikan air hujan halus kurus yang jatuh dari angkasa.

Mungkin mereka adalah benang matahari yang terburai …

Sundea




Google Twitter FaceBook

Pohon Segala Rasa


Kalau pernah baca buku atau nonton film Harry Potter, pasti tahu tentang Permen Segala Rasa. Permen yang rasanya bisa macam-macam ini hanya ada di dunia sihir tentunya. Namun mengutip candaan orang-orang Indonesia bahwa “tak ada yang tak mungkin di Jakarta”, maka yang segala rasapun ada di sini. Saya menemukannya ketika tidak sengaja berjalan-jalan di sekitar Museum Mandiri Kota.

Cerita berawal ketika saya dan Mbak Sekar usai berkeliling pasar ASEMKA untuk mencari mainan. Dalam perjalanan, tiba-tiba saya kepingin jeruk. Maklum buah favorit. Makanya ketika melihat tukang jeruk di belakang Museum Mandiri, saya langsung menghampirinya. Tidak lupa menanyakan harga tentunya.

Pegang-pegang, tawar-tawar, saya pun sadar bahwa si penjual membungkus jeruk dengan daun-daun di atasnya. Jeruk yang warnanya kuning Golkar itu semakin segar kelihatannya. Namun, untuk orang yang hidup di dunia perjerukan, pasti akan aneh melihat daun-daun tersebut. Daun itu memang hijau dan segar, sayangnya bukan daun jeruk sungguhan. Daun-daun itu berasal dari pohon yang sering ditanam di pinggir jalan. Saya tidak tahu namanya dan tidak merasa berkepentingan untuk menelitinya lebih lanjut.

Walau tidak hidup di dunia perjerukan, saya tetap tahu bahwa daun itu bukan daun jeruk. Saya tahu bagaimana tekstur, ukuran, dan wangi daun jeruk. Sama sekali tidak saya temui di daun itu. Maka saya pun nyeletuk,

”Loh, Pak. Ini bukan daun jeruk tahu...”
Si Bapak cuma cengengesan.
”Daun jeruk kan wangi-wangi. Saya tahu lagi,Pak”
Si Bapak masih cengengesan.
”Tapi gue lagi pengen banget jeruk. Sekilo ajah deh.”
Si Bapak membungkus jeruk.
”Mending gak usah didaundaunin gini, deh, membohongi konsumen.“
Si Bapak menyerahkan jeruk dan saya menyerahkan uang. Saya berlalu pergi sambil menggerutu dengan Mbak Sekar.

Cerita tidak berhenti sampai sini.

Sabtu lalu datanglah saya ke Museum Mandiri di Kota lagi. Ketika keluar dari pintu halte busway Kota, saya diingatkan dengan kisah saya kemarin. Kali ini, buah anggur korbannya.
Si anggur hijau dan merah ini diikat dengan dihiasi daun-daun di atasnya, yang lagi-lagi bukan daun anggur. Daun itu adalah daun yang sama dengan daun yang menghiasi jeruk yang saya beli waktu itu. Meski tidak hidup di dunia perangguran, saya pun tahu bahwa daun anggur tidak seperti itu.

Setelah itu, saya pun bertanya-tanya, pohon apa gerangan yang daunnya begitu diminati para penjual tersebut untuk membohongi pembelinya?

Sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya. Kawan-kawan saya juga tidak tahu. Karena itu saya putuskan bahwa daun tersebut berasal dari Pohon Segala Rasa. Pohon yang daunnya bisa berbuah jeruk atau anggur. Tapi mudah-mudahan orang Jakarta tidak cukup bodoh kalau daun tersebut menjadi hiasan penjual buah pisang. Kalau iya, artinya dunia mau kiamat


Bagi yang penasaran seperti apa daun Pohon Segala Rasa itu, berikut gambarnya:


-em-
Putra Betawi yang gak suka daging ini, lahir pada tanggal 6 Agustus 1982. Hobi bernyanyinya suka bikin orang di sekitarnya gerah dan kangen. Punya kebiasaan iseng berjalan kaki di malam hari bersama sohib sambil mencari tempat asik wat ngopi atau ngeteh sambil diskusi. Bekerja sebagai pustakawan di sekolah Cikal serta aktif sebagai relawan Forum Indonesia Membaca. Di sela-sela penulisan novel anaknya yang tidak kunjung rampung, Em menulis tentang hidupnya dalam beberapa blog. PenggemarAstrid Lindgern ini bisa dijumpai di multiply, friendster, facebook dengan alamat imel mudination@yahoo.com.


kirimkan tulisanmu tentang apa saja ke tobucil@yahoo.com dengan subject "papan tulis". Sertai foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaaa

Google Twitter FaceBook

Membaca Separuh Jalan Aceh

Bagian dua

Klik di sini untuk membaca bagian satu


Trotoar sebelah kanan ini tidak dinaungi pohon besar sehingga tampak gersang. Buat me-refresh mata, orang cukup melihat tanaman hias di dalam pot besar itu. Lumayanlah, jadi tidak gersang-gersang amat. Kalau mau jalan kaki di sini pas matahari sedang terik, sebaiknya pakai payung atau topi. Lebih bagus lagi kalau kulit diolesi sunblock. Tidak mau kan gara-gara jalan kaki di trotoar Jalan Aceh kulit jadi gosong?


Mau menyebrang jalan? Hati-hati. Kendaraannya cepet-cepet. Jangan pikir Jalan Aceh selalu sepi (kecuali mungkin kalau malam).

Selama berjalan di trotoar Jalan Aceh, saya tidak hanya menikmati trotoar dan pohon-pohon besarnya. Saya juga melihat Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution.

Pintu akses taman ini sebetulnya ada di Jalan Belitung. Namun dari Jalan Aceh ini kita bisa mengintip ada apa saja di taman bermain tersebut. Kalau Anda begitu penasaran, intip saja taman ini dari dekat, dan lihatlah arena bermain apa saja yang ada di Taman Lalu Lintas. Atau kalau Anda lebih penasaran lagi, masuk saja ke sana. Harga tiket masuknya cuma 4000 perak. Kalau Anda ingin mencoba berbagai permainan, dengar-dengar sih Anda harus membayar lagi 3000 perak untuk setiap permainan.

Bagaimana? Jadi terkenang-kenang dengan masa kecil? Saya sendiri kalau melihat anak-anak bermain dengan gembira di taman ini suka nyesel udah jadi nenek-nenek (hehehe). Coba kalau saya jadi anak kecil terus kayak Peter Pan... Ah, ternyata masa kecil itu sangat menyenangkan.

Tapi sudahlah. Saya harus terima nasib jadi orang gede. Lagipula kalau sekarang masih kecil, tidak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Bandung sendirian.

Selain Taman Lalu Lintas, ada taman lain yang bisa kita intip dari Jalan Aceh: Taman Maluku.

Tahun lalu, saya mengunjungi taman ini. Numpang lewat, sebetulnya. Saya penasaran saja dengan Patung Pastor Verbraak dan ingin melihatnya dari dekat.




Waktu itu Taman Maluku dipenuhi sampah. Saya sangat tidak tahan berada di sana. Bagaimana bisa tahan berada di lingkungan yang banyak sampahnya? Sudah begitu, ketika saya menatap patung pastor Verbraak dari dekat, nyamuk berseliweran dan hinggap di tangan saya. Saya jadi berpikir, patung Verbraak sepertinya sering digigit nyamuk. Kalau begitu ia sering gatal-gatal. Pernah nggak ya orang melihat dia sedang menggaruk-garuk tangan atau pipi yang kena gigitan nyamuk?

Itu tahun lalu. Saya dengar kabar, taman yang jaman dahulu kala disebut mollukenpark (ada juga yang menulisnya Molluken Park) ini sedang dibenahi. Semoga saja sekarang taman ini sudah tertata apik, bersih, dan layak dikunjungi, serta menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi patung pastor Verbraak.

Di sebelah Taman Maluku, ada Jalan Saparua. Di jalan ini, ada sebuah gedung olahraga yang kesohor, namanya GOR Saparua. Setahu saya, GOR ini biasa digunakan untuk main badminton. Selain itu, GOR ini juga sering digunakan untuk berbagai event.





Kalau sudah melewati GOR Saparua, berarti Anda akan segera sampai di Tobucil. Ini berarti, berakhir sudah penjelajahan saya menyusuri separuh Jalan Aceh.

Ada yang kurang?

Namanya saja separuh. Tentu saja ada yang kurang. Misalnya saja saya tidak membahas soal Stadion Siliwangi atau redaksi Sindo. Mohon maaf, perjalanan saya tidak sampai ke sana. Mungkin lain waktu saya akan meneruskan perjalanan menyusuri Jalan Aceh sampai ia berakhir di Jalan Riau (R. E. Martadinata).

Atau Anda mau melakukannya?

Tamat

Catatan:

Foto & teks oleh Rie Yanti


Rie Yanti, lahir di Bandung, Juni 1984. Menulis di beberapa blog seperti WarungFiksi.net dan blog Tobucil Kumpulan cerpennya, Bus Kuning, bisa diunduh di sini.



Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Google Twitter FaceBook

Pamali


Rubrik Baru !!!
Visual Diary



Klik pada gambar


Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …
Google Twitter FaceBook

Banung Grahita, Penabung Kata-kata


Ini Banung Grahita. Temen Dea yang irit bicara. Dea sering ngerasa nama dia cocok sama sifatnya; “Banung” kan berrima dengan “menabung”, “Grahita” berrima dengan “kata-kata”. Kalo Dea terjemahin semau Dea sendiri, “Banung Grahita” artinya “menabung kata-kata”.

Waktu orang-orang bicara segala, Banung lebih banyak diem-diem aja. Bisa jadi dia nangkep banyak kata, tapi disimpenin nggak tau di mana. Kalau dipaksa ngebayar kata dengan kata, Banung paling tau cara berhemat; “Okay”, “Nggak usah”, “Nggak apa-apa”, “Mending tidur”, “Beli casing” …

Menabung kata-kata seperti menabung di bank. Semakin besar jumlahnya, semakin besar juga bunganya. Ditabung bikin kata-kata yang ditangkep telinga Banung berbunga jadi pemahaman dan pengertian yang baik. Makanya, Banung nggak gampang kebawa arus gosip, nggak cepet menilai orang lain, dan lebih arif menyikapi peristiwa.

Karena hemat pangkal kaya, Dea yakin dalem diemnya sebenernya Banung konglomerat kata. Pada suatu saat nanti, waktu semua orang nggak lagi punya kata-kata …






… bisa jadi cuma Banung Grahita yang cukup kaya untuk berderma ^_^

Sundea

Google Twitter FaceBook

Sidang Klab Nulis Mulai Digelar


Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 25 Februari 2009
dengan tema “Berkorban Demi Cinta, Kenapa ?"

Rabu, 25 Februari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Klab Nulis

Klab Nulis

Presentasi Karya

Klab Nulis Angkatan ke- 4

tobucil & klabs 2009

Klab Nulis angkatan 4 telah sampai pada bulan, di bulan ini waktunya para anggota klab nulis untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan 2 orang panelis serta msyarakata umum.

Pada bulan pertama anggota klab nulis mendalami seluk beluk penulisan fiksi dengan berbagai materi dan makalah serta diskusi yang di sampaikan oleh instruktur klab nulis, Sophan Ajie, sedangkan pada bulan kedua para anggota klab nulis melakukan praktek menulis dengan games. Di bulan ini para anggota klab diarahkan untuk membuat karya yang nantinya akan menjadi final projek yang akan dipresentasikan pada bulan terakhir.

Kini bulan terakhir itu telah memasuki batas akhir pengumpulan karya, setelah ini para anggota klab nulis akan mulai mempresentasikan karya mereka setiap senin mulai dari tanggal 23 februari 2009 “ 23 Maret 2009”, berikut jadwal lengkap presentasi karya:

minggu pertama 23 februari 2009:

Ibu Tati : karya tulis cerpen

untuk membaca cerpen Ibu Tatty, klik di sini

syarif : karya tulis cerpen, untuk membaca cerpen Syarif, klik di sini

minggu kedua 2 maret 2009:

nissa : karya tulis novel

minggu ke tiga 16 maret 2009:

feti : karya tulis cerpen

Nilam : karya tulis cerpen

minggu ke empat 23 maret 2009:

sinta : karya tulis cerpen

Evi : karya tulis cerpen

Minggu ke lima 30 Maret 2009 :

Rini : karya tulis cerpen

Asma : karya tulis cerpen

semua karya, akan dimuat di blog tobucil (tobucil.blogspot.com), jadi bagi yang hendak datang bisa membaca karya para anggota klab nulis yang akan mempresentasikan karya mereka. Acara presentasi karya ini terbuka untuk umum, baik itu untuk melihat saja, mengomentari atau ikut mengkritik.

panelis penguji:
paskalis (lulusan filsafat)
tim juri tobucil (terlen, sundea, wikupedia)

Semua diundang untuk meramaikan acara ini, sampai jumpa di acara presentasi karya klab nulis tobucil & klabs.

Salam klab

Akan Dibuka : Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak

Menulis itu bermain, bermain itu menulis. Perhatikan segala sesuatu di sekitarmu, catat, dan jadikan mereka teman bermain.

Bersama Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak, mari berkenalan dengan keseharian, dan menjadikan menulis kebermainan yang menyenangkan … ^_^ v

Bulan Pertama :

(I) Ciptakan tokohmu …

(II) Mari mengenal lingkungan

(III) Mari mengenali pengalaman

(IV) Mari bermain dengan dongeng

Bulan ke dua :

(I) Mari mengembangkan ide dasar

(II) Mari bermain dengan peribahasa.

(III) Mari bermain dengan panca-indera (mata, peraba)

(IV) Mari bermain dengan panca indera (telinga, hidung, pengecap)

(V) Penutup

Di dalam setiap pertemuan, akan diadakan “Waktunya buku harian”. Anak-anak diajak membagi pengalamannya selama seminggu dan membacakan cerita yang ingin mereka bacakan dari buku harian mereka.

Diary yang menarik akan dimuat dalam “diary project” www.tobucil.blogspot.com.

Fasilitas yang didapatkan :

  1. Peralatan berupa diary dan buku kerja, pin, bolpoin, dan spidol warna-warni.
  2. Sertifikat di akhir acara.

Syarat peserta :

  1. Peserta adalah anak-anak berusia 8-11 tahun.
  2. Perserta bersedia mengikuti setiap sesi yang berlangsung +/- 120 menit
  3. Biaya pendaftaran Rp. 250.000,00/paket (2 bulan, tiap bulan empat kali pertemuan, total = 9 kali pertemuan).
  4. Tempat pendaftaran : Tobucil, Jalan Aceh no.56, Bandung telp : 022-4261548, jam 09.00-20.00.
  5. Pendaftaran ditutup 2 Maret 2009, pukul 19.00 WIB.
  6. Untuk kurikulum pertama, peserta terbatas, maksimal 7 anak.
  7. Klab akan diadakan setiap hari Jumat pukul 15.00, dimulai pada tanggal 13 Maret 2009.

Fasilitator : Sundea

Penulis buku anak-anak yang telah menerbitkan dua buah buku, Salamatahari dan Dunia Adin dan sempat menulis naskah animasi iklan untuk “Progres Animation”. Lulus dari Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran dengan skripsi bertopik puisi anak. Saat ini menjadi penulis lepas, mengasuh blog Tobucil (www.tobucil.blogspot.com), dan bergabung dengan komunitas Reading Lights Writer Circle.


Dari Luar “Rumah”

Lomba Artikel Nasional Tentang Perpustakaan

“MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN”

PENGANTAR

Upaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat bisa ditingkatkan dengan memberikan fasilitas pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa perpustakaan.

Bangsa yang maju dapat diukur dari tingkat minat baca masyarakat serta seberapa aktif masyarakat membaca setiap hari. Perpustakaan sebagai penyedia layanan bacaan bagi masyarakat menjadi representasi utama untuk mengukur tingkat minat baca masyarakat, seberapa banyak perpustakaan yang tersedia di suatu negeri, bagaimana fasilitasnya, berapa rasio masyarakat yang menjadi anggota perpustakaan, serta berapa banyak rata-rata buku dipinjam setiap harinya.

Disamping menjadi representasi kemajuan suatu negeri, keberadaan perpustakaan juga diharapkan bisa menjadi agen utama dalam mendorong minat baca masyarakat serta menyediakan bacaan yang cukup dan berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat meningkatkan fasilitas layanan serta melakukan berbagai agenda kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat.

Ada empat elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat, yaitu pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitasnya, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyeknya.

Sebagai apapun dan siapapun kita, mari semua kita berpartisipasi memajukan Indonesia dengan meningkatkan minat baca kita masing-masing dan minat baca masyarakat di sekitar kita. Mari kita ramaikan dan kita majukan perpustakaan perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.


= Lomba Menulis Buku Traveling ==

Dapatkan 2 tiket ke Bali (PP), akomodasi (2 malam), plus uang saku! Caranya gampang banget.

Bagi kamu yang senang traveling dan ingin berbagi cerita tentang tempat menarik yang telah dikunjungi, ikuti lomba menulis buku traveling seri Jalan-jalan dari GagasMedia. Karya yang terpilih akan
dibukukan dan tentunya kamu berhak mendapatkan royalti atas penerbitannya. Sebagai bahan acuan menulis, kamu bisa baca buku Jalan-jalan Bali karya Agung Bawantara dan Maria Ekaristi.
Kamu bisa menulis tempat wisata mana saja yang ada di Indonesia.

- Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya (Jawa tengah)
- Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat)
- Sumatera
- Kalimantan
- Manado
- Maluku
- Wisata Air
- Wisata Pegunungan
- dan lain-lain….

Isi naskah harus meliputi: cara mencapai lokasi wisata, tip dan trik berlibur, wisata kuliner, wisata budaya, budget bepergian, dan foto-foto objek wisata (ingat: foto adalah orisinal jepretan sendiri atau sudah ada izin dari si fotografer).

Syaratnya:
- Panjang naskah minimal 75 halaman, spasi 1.
- Naskah utuh (print out, bukan dalam bentuk CD) dikirim paling lambat tanggal 1 April 2009 ke alamat redaksi: Jl. H. Montong No.57, Ciganjur, Jakarta Selatan 12630.
- Tulis di pojok amplop: Jalan-jalan GagasMedia.
- Jangan lupa lampirkan biodata dan pernyataan tertulis bahwa karyanya adalah orisinal milik karya sendiri.
- Naskah yang tidak terpilih sebagai pemenang akan dijajaki lebih lanjut oleh penerbit (kemungkinan terbit juga ada, lho ...).
- Pengumuman pemenang tanggal 1 Mei 2009 .

Yuk, jalan-jalan keliling Indonesia dan mari menulis ?

“Travel does what good novelists also do to the life of everyday, placing itlike a picture in a frame or a gem in its setting, so that the intrinsic qualities are made more clear. Travel does this with the very stuff that everyday life is made of, giving to it the
sharp contour and meaning of art.” - Freya Stark

Rubrik

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Dapat pula berupa tempat wisata atau kuliner di Bandung. Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary

Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Dari Halaman Crafty Days

Mau tahu cara membuat floppy disk blocknote ? Klik di sini

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^



Google Twitter FaceBook

Sunday, February 15, 2009

Mengakhiri dan Berakhir

“they come too fast, and they pass too slow …”

All I Know – Five for Fighting

Selamat datang di blog Tobucil edisi “mengakhiri”. Minggu ini ada Klab Nulis yang mengakhiri masa latihan dan bersiap menuju sidang terbuka, ada Syarif yang ternyata “belum berakhir”, ada Markus yang mengakhiri masa menggambar komersilnya, ada teman-teman yang mengakhiri kelelahannya dengan tidur, ada handphone Dea yang mengakhiri masa kerja kerasnya, bahkan ada madrasah filsafat bertema galau dan kosong yang membahas kondisi sebelum sesuatu diakhiri.

“Mengakhiri” adalah tindakan konkret, tapi “berakhir” seringkali lebih abstrak. Ia adalah simpulan setelah sebuah perjalanan panjang; kadang mendahului mengakhiri itu sendiri, kadang menyusulnya.

Walau bagaimanapun, jangan takut menempuhnya. Mengenali perjalanan adalah cara terbaik mengabadikan yang berakhir. Ia akan tinggal bersamamu dalam bentuk kesan. Dan menukar kehadirannya dengan sebuah “awal”.

Perjalanan menuju berakhir bersifat sangat personal. Ia milikmu sendiri. Hanya kamu yang tahu kapan kamu tiba …

Semoga minggu yang baru diakhiri akan memberimu awal yang baik

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat …

Tobuciler



Google Twitter FaceBook

Markus Benyamin Diredja Makan Pinsil ?


Kamis itu (12/02) Markus Benyamin Diredja sampai di Tobucil sebelum pukul tiga. “Wah … tiap Klab Komik, elu pasti dateng pertama,” kata Tobuciler. “Iya, itung-itung main ke sini,” sahut Markus. Sambil menunggu pasukan Klab Komik yang lainnya, Markus duduk sambil menggambar sketsa. Sementara itu, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”

Markus : Ini ngobrol tentang apa aja ?

Tobucil : Apaan aja, njawab absurt-absurt juga nggak apa-apa … eh … blog Tobucil minggu ini temanya “mengakhiri” …

Markus : Baiklah, mari kita akhiri saja wawancara ini.

Tobucil : Yeee ! Mulai aja belon ! Btw, lo lagi nggambar apa, sih ?

Markus : Lagi sketching-sketching aja, kan terinspirasi Tita (workshop Graphic Diary Curhat Tita), sketching di manapun. Ini yang udah lama nggak gua lakuin.

Tobucil : Kenapa ?

Markus : Sempet teralih pada kerjaan. Ya … kerjaannya, sih, nggambar juga … masa’ lu nggak tau ?

Tobucil : Ini pura-pura nggak tau aja, buat kepentingan wawancara.

Markus : Emang boleh gitu, ya ?

Tobucil : Boleh-boleh aja. Jadi kenapa tadi ?

Markus : Jadi, gua pernah kehilangan kesenangan gua menggambar, hobi gua dari kecil. Gara-garanya, sih, kealih, kebanyakan kerja, sampai gua ngegambar buat orang lain, bukan buat diri gua sendiri, bukan nggambar apa yang gua suka. Berapa lama, ya, gua keilangan itu ? Setaunan ada. Sampai gua sempet eneg kalo liat kertas. Mual-mual … mencret-mencret …

Tobucil : Gara-gara kertasnya lo makan ? Ya iyalah …

Markus : Enggak, pinsilnya yang gua makan.

Tobucil : Jadi lo mencret karena makan pinsil ?

Markus : Dilanjutin, lagi … sempet, sih, gua ngedrop … ini bukan karena makan pinsil, ya, karena stress yang terpendam. Gua udah coba olahraga segala macem, tapi malah tambah capek dan tambah ngedrop, soalnya masalahnya ada di sini (menunjuk kepalanya).

Tobucil : Terus, kapan lo mulai sadar ngegambar buat diri lo sendiri ?

Markus : Sebenernya, sih, waktu workshop Tita itu … sebulan yang lalu berarti. Tapi dari mulai taun baru, gua mulai kerasa ada yang ilang. Gua capek aja. Gampang sakit. Nah, pas ikut workshop Curhat Tita, gua ngeliat dia getol banget ngegambar, nggak ada abis-abisnya. Yang dia gambar kan keseharian dan keseharian emang nggak ada abisnya. Dulu juga gua gitu, secara itu yang bikin gua masuk Seni Rupa. Tapi belakangan gua udah ga pernah gitu lagi.

Tobucil : Terus, abis workshop Tita, lo mulai gambar buat diri lo sendiri ? Efeknya apa ?

Markus : Kesehatan gua jadi lebih prima.

Tobucil : Nah … kerjaan-kerjaan lo jadinya apa kabar, dong ?

Markus : Kerjaan gua sebenernya lagi agak nyantai juga … sebenernya gua agak cemas, soalnya gua kan musti nabung buat merit (menikah, bukan obat pelangsing). Tapi kalo gua kembali lagi kayak dulu, gua jadi nggambar buat duit (diam sejenak). Tapi yang gitu-gitu gua nggak terlalu mikirin, sih, karena biasanya, kebaikan itu dateng sendiri dalem kehidupan gua. The best thing I can do ya mempersiapkan, kali, ya, supaya pas dia dateng, gua nggak menyia-nyiakannya.

Tobucil : Mempersiapkan dengan cara … ?

Markus : Selain sambil kerja, kebaikan yang gua nanti-nantikan kan bikin (menerbitkan) komik. Jadi itu seiring dengan apa yang gua sedang gua lakukan sekarang (menggambar dan mempersiapkan cerita untuk komiknya).

Tobucil : Hmmm … baiklah. Pertanyaan terakhir, nih …

Markus : Apa ?

Tobucil : Kalo lo bener-bener stress sama kerjaan lo terus nggak menemukan jalan keluar, kira-kira mungkin nggak lo beneran makan pinsil ?

Markus : Hahaha … itu pertanyaan terakhirnya ? Nggak, kayaknya gua akan banyak makan steak …

Tobucil : Stik drum ato stik rajut ?

Markus : Dilanjutin, lagi …

Pasukan Klab Komik tak kunjung datang. Markus betul-betul jadi hadirin tunggal. Meski begitu, ia tampak bahagia-bahagia saja. Ia terus menggambar dan menggambar dan menggambar dengan ekspresi berubah-ubah.

Psst … ini adalah dua dari sekian ekspresinya yang aneh-aneh …

Sundea





Google Twitter FaceBook

Buklat, Buku dan Coklat


Judul Buku : Oasis Inspirasi

Pengarang : Sam Djimun

Harga : Rp. 25.000, 00

Harga Tobucil : Rp. 22.500,00

Berhenti haus inspirasi ! Kami punya Oasis inspirasi ! Bagaimana menjadikan impian Anda, dari para “Dream Stealer”. 52 words of wisdom – penjaga impian Anda, diindonesiakan, based on email, The Daily Motivation – Max Steingart.

Apa maksud narasi di atas ? Kunjungi Tobucil dan akhiri kebingunganmu …

----

Coklat-coklat-coklat

Harga berkisar antara Rp 10.000,00 –Rp. 25.000,00

Valentine belum lewat …

Follow up dengan makan coklat =D




Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin