Sunday, February 22, 2009

Aura Berbelanja


Aura belanja menyertai Tobucil sepanjang minggu. Suplai benda-benda lucu mengalir untuk dijual, Tobucil membeli televisi, dispenser, dan rak dorong baru. Blog Tobucil pun dimeriahkan oleh kisah penjual buah yang menipu (papantulis) dan teman yang tidak royal “membelanjakan” kata-kata (salamatahari).

Bukan hanya itu, minggu ini madrasah filsafat kedatangan Mas Haryanto Soedjatmiko. Penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” ini secara khusus membagi pemikirannya mengenai eksistensi dan berbelanja. Mengacu pada “aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes, dalam pandangan Mas Haryanto, berbelanja jadi lebih menjanjikan eksistensi ketimbang sekedar berpikir. Bagaimana menurutmu ?

Tobuciler memikirkan pernyataan itu, lalu lahirlah simpulan ini:

Aura belanja menyertai kita senantiasa.

Kita membeli masa depan yang cerah dengan kerja keras hari ini.

Kita membeli senyuman orang lain dengan senyuman kita sendiri.

Kita membeli kehangatan persahabatan dengan komunikasi yang intens.

Kita membeli sesuatu di sana dengan sesuatu dari sini …


Semoga kesetiaan kami hadir dapat membeli separsel kebaikan,

seperti kalian telah membeli semangat kami dengan separsel dukungan …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler



Armely Meiviana : Greenlifestyle atau Garinglifestyle ?

Mbak Armely Meiviana berkunjung ke Tobucil. “Katanya aktivis Greenlifestyle, ya ?” tanya Tobuciler. “Bukan, saya pasivis,” jawabnya. “Ey ? Maksudnya ?” tanya Tobuciler lagi. “Pasivis, nggak muncul di mana-mana,” sahutnya sambil asyik mengelem-ngelem kantong gehu.

Berikut adalah wawancara Tobucil dengan Mbak Mely yang pasivis greenlifestyle, namun disinyalir sebagai aktivis garinglifestyle …

Tobucil : Mbak, kok mau, sih, disuruh ngelem-ngelem di Tobucil ?

Mbak Mely : Emang disuruh, ya ? Ini sebenernya saya lagi laper, tapi karena nggak punya uang, saya ngelem aja. Lumayan, lagi, lemnya lem Fox.

Tobucil : Emang yang bikin lem Fox lebih enak daripada lem lainnya apa ?

Mbak Mely : Karena warnanya putih … apa, ya ? Cobain aja, deh, rasanya lebih enak.

Tobucil : Sejak kapan, Mbak, makan lem ?

Mbak Mely : Emang saya bilang makan ? Nggak nyimak, nih … gimana, sih ?

Tobucil : Hahaha … iya, maab-maab. Kita ngomongin flora-fauna, Mbak, biar greenlifestyle. Andai Mbak Mely jadi bunga, aku jadi apa ?

Mbak Mely : Jadi rumah.

Tobucil : Kenapa ?

Mbak Mely : Saya tanya dulu sama diri saya sendiri, tadi kan spontan (diam sejenak). Nggak taulah, pokoknya rumah ajalah …

Tobucil : Kalau aku jadi kumbang, Mbak Mely jadi apa ?

Mbak Mely : Saya jadi saya aja, deh …

Tobucil : Terus kalau Mbak Mely liat kumbang, mau diapain ?

Mbak Mely : Saya mainin, saya kasih ke ponakan saya, dan saya kasih tau ‘ini kumbang’ … eh, kumbang, tuh, kepik, bukan ?

Tobucil : Bukan.

Mbak Mely : Jadi ?

Tobucil : Kepig itu babi, Mbak …

Mbak Mely : Oh, kepig-pig-an maksudnya ? Hahaha … eh, ini ngomongin fauna, kan ? Ngomong tentang ponakan saya aja. Ponakan saya yang pertama macan, karena suka mengaum, yang ke dua monyet, karena suka memanjat, yang ke tiga sama ke empat saya bingung karena mereka belum menunjukkan tanda-tanda kayak satwa.

Tobucil : Kok bisa, sih, punya ponakan satwa ?

Mbak Mely : Waduh … hanya Tuhan yang tahu … ato mungkin itu karena orangtuanya memang membuat. Saya nggak punya kontribusi apa-apa di situ, bener …

Tobucil : Hehehe … eh, Mbak, Tobucil kan didominasi warna ijo. Ada hubungannya, nggak, sama greenlifestyle ?

Mbak Mely : Apaan ? Dulu mah orens, dulunya lagi gelap, namanya aja ganti-ganti. Dulu Pakuban (Pasar Buku Bandung) … ibarat anak, Tobucil tu kayak anak yang salah nama, sakit-sakitan terus ganti nama (jadi Tobucil).

Tobucil : Emang Tobucil pernah sakit-sakitan, ya ?

Mbak Mely : Sering, apalagi cuacanya kayak gini. Bisa jadi karena pemanasan global. Mungkin negara-negara juga musti ganti nama, ya, biar nggak terkena dampak pemanasan global ? Hehehe … tetep, ya, gue …

Tobucil : Hehehe … ceritain, dong, Mbak, pertama kalinya tau Tobucil …

Mbak Mely : Saya kan naik angkot, ya, kebetulan keneknya kecil, jadi saya bilang “Topcil, topcil !” (maksudnya “stop kecil”) , terus malah nyampe, deh, di Tobucil … gantian sini gua yang wawancara elu. Kalo elu gimana ceritanya bisa dateng ke Tobucil ?

Tobucil : Aku kan naik angkot, keneknya kecil, terus aku bilang “topcil, topcil …”

Mbak Mely : Ih, nyontek !

Tobucil : Yeee … kalo pengalamannya emang sama gimana ?

Mbak Mely : Oh, gitu, ya ? Elu naik angkot apa waktu itu ?

Tobucil : Angkot gelap.

Mbak Mely : Beda kalo gitu, angkot gua warnanya terang. Terus kenek lo itu sekecil apa ? Kayak tuyul gitu ?

Tobucil : Kayaknya iya …

Mbak Mely : Wah … berarti harusnya lo bilangnya “topyul, topyul …” terus lo nyampenya ke Tobuyul … salah alamat lu … eh, mana kameranya ? Sini gua yang foto … nggak fair banget dari tadi elu doang (yang memfoto-foto) …

Sementara Tobuciler mencatat hasil wawancara, Mbak Mely malah memotret-motret Tobuciler. Sepertinya keaktivisannya di greenlifestyle memang isu belaka. Tadi pun Mbak Mely sudah mengkonfirmasi sendiri, bukan ?

Atau … mungkin orang-orang salah dengar. “Greenlifestyle” dan “Garinglifestyle” kan sekilas terdengar mirip-mirip …

Sundea





Buku, Blocknote, Kartu ... Asyik ... belanjaaa ...


Judul Buku : Saya Berbelanja Maka Saya Ada

Pengarang : Haryanto Soedjatmiko

Harga Buku : Rp. 29.000,00

Harga Tobucil : Rp. 26.000,00

Ketika belanja menjadi berlebihan, di situlah orang mulai berkata tentang konsumtif dan ujung-ujungnya konsumeris. Itulah maksud buku ini : hendak menelaah konsumerisme secara ilmu dan praktiknya dalam hidup sehari-hari, antara lain: dalam bidang desain, ruang dan tempat, teknologi, mode, musik pop, dan olahraga. Satu hal yang perlu diingat ialah “paradoks konsumsi” yakni di satu pihak konsumerisme menawarkan kepada kita berbagai kesempatan dan pengalaman. Di lain pihak, kita sebagai konsumen digiring kea rah tujuan yang telah ditentukan (kepentingan kapitalis).


Siapa Mau Floppy Disk Bloc Note ?

Created by Tarlen


Harga : Rp. 10.000,00

Floppy Disk jaman lagi ! Dapat block note unik ini di Tobucil.

Mau tahu cara membuatnya ? Klik di sini

Block Note Hitam-Putih

Created by Moelyana



Harga : Rp. 4500,00

Dapatkan pula blocknote handmade imut-imut bermotif binatang-binatang ini …


Kartu Ucapan

Harga : Rp. 5000,00

Ingin membeli kado di Tobucil ? Bisa sekali. Bingung mencari kartu ucapan ? Tak perlu lagi. Kini Tobucil menyediakan kartu-kartu bergambar lucu dengan ucapan-ucapan yang spesifik dan menarik …


Gara-gara Mariah Carey


-Tobucil, Rabu 18 Februari 2009-

Madrasah filsafat

Dengan langkah cepat, seorang lelaki berkacamata memasuki beranda Tobucil. “Kayaknya itu, deh, penulisnya,” duga IBS. “Lain, lain ieu (bukan, bukan ini),” tanggap Mas Ami saat lelaki itu memasuki kantor pajak. Namun, ketika tak sampai lima menit kemudian lelaki itu keluar lagi dengan wajah bingung, IBS dan Mas Ami saling berpandangan. “Mas Haryanto, ya ?” tembak Mas Ami akhirnya. “Iya,” sahut laki-laki itu.

Hari itu, madrasah filsafat kedatangan bintang tamu. Namanya Mas Haryanto Soedjatmiko. Penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada” tersebut, membawakan materi yang berkaitan dengan bukunya. Tajuknya “Berpikir ala Descartes Bertindak ala Mariah Carey”.

“Kenapa Mariah Carey, bukan Paris Hilton misalnya ?”tanya IBS.

“Karena dia inspiratif, suaranya tinggi sekali, setinggi tuts piano yang paling ujung. Lagu-lagunya juga selalu hits, mengalahkan Elvis Presley dan mendekati The Beatles.”

“Jadi apa hubungannya belanja dengan Mariah Carey ?” tanya Mas Heru Hikayat.

“Mariah Carey adalah orang yang selalu merasa kurang,” sahut Mas Haryanto. Ia lalu bercerita tentang Mariah Carey yang mempunyai seribu sepatu dan hafal persis seluruh sepatunya. Wow !

Selanjutnya, Mas Haryanto membagi pemikirannya mengenai keberbelanjaan dan keberadaan. “Coba sebut satu hal yang ada di pikiran Anda, spontan,”ujar Mas Haryanto. “Bir !” sahut Mas Heru. “Untuk mendapatkan bir kita perlu apa ?” tanya Mas Haryanto. “Teman-teman,” sahut Mas Heru lagi. “Bukan, bukan itu, kita perlu duit untuk belanja,” koreksi Mas Haryanto.

Menurut Mas Haryanto, segala sesuatu harus dibeli. “Paling nggak orang musti cuci muka supaya cakep, meskipun cakepnya cakep alami juga,” tukasnya. Bagi Mas Haryanto, berbelanja melampaui “aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes, “orang harus belanja, beli, membayar, kalau cuma mikir aja nggak akan dapet…” Ia pun berpandangan, belanja akhirnya berkaitan dengan rasa bebas. Dari sana, berbagai pertanyaan berlontaran dari peserta madrasah filsafat.

“Bukannya dikendalikan oleh nafsu belanja justru merupakan keterkekangan ?” tanya Hemut.

“Bagaimana kalau saya punya uang seratus ribu dan malah bingung ngebelanjainnya ?” tanya IBS.

“Apa betul perempuan lebih konsumtif secara psikologis daripada laki-laki ?” tanya Novi.

Lalu pembicaraan jadi meluas ke mana-mana. Peserta madrasah filsafat saling menanggapi satu sama lain, sementara Mas Haryanto sendiri menjadi penonton yang budiman. “Yah … dia kok jadi diem aja ?” tanya Tobuciler. “Nggak apa-apa, silakan, saya menikmati, kok,” sahutnya sambil terus mendengarkan. Hyaaa …

“Jadi sebetulnya apa tolok ukur konsumerisme ? Apa memenuhi basic needs termasuk konsumerisme ?” tanya Hemut. Mas Haryanto lalu menjawab, “Kalau sudah berbicara soal tolok ukur, kita akan berbicara soal moral. Di sini saya tidak membahas masalah moral.”

Tahu-tahu Nita, mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia, menyeletuk, “Kenapa semua orang mengecam konsumerisme ? Menurut saya apa salahnya konsumerisme ? Berdayakan saja. Kalau kita punya barang, ya dijual lagi aja. Itu kan sirkulasi uang juga …”

Hmm … betul juga. Loose some, gain some. Ngomong-ngomong, seandainya Mariah Carey hadir juga di madrasah filsafat hari itu, akankah dia jadi berpikir untuk menjual keseribu sepatunya ?

Sundea

Jelang Siang Trans TV, Jelang Pria Merajut


-Tobucil, Sabtu 21 Januari 2009-

“Udah dateng belom ?” berkali-kali Syarif yang melongok ke beranda. Hari itu dia tampak sumringah dan bersemangat. Menunggu siapa, sih ?

Ternyata, pria-pria merajut di Tobucil sedang menunggu tim dari Jelang Siang Trans TV. Setelah hadir di Kompas Minggu beberapa pekan yang lalu, teman-teman kita ini berkesempatan eksis kembali di media.

“Kok bisa kepikir ngeliput cowok ngerajut di Tobucil, sih, Mas ?” tanya Tobuciler pada Mas Agus, script writer “Jelang Siang”. “Aneh aja. Bayangan orang pada umumnya kan yang ngerajut cewek, nenek-nenek … ini cowok,” sahut Mas Agus yang tampak sangat sibuk mengetik script.

Sementara itu, Agus yang Rakasiwi memarkir motor malang melintang seperti biasa. Mas Anta sang kameramen jadi sangat sulit menentukan angle. “Motor ini gimana, ya ? Soalnya ngeganggu, keliatan banget di gambarnya,” keluhnya sambil menunjuk ke LCD kameranya. Wiku sang koordintor klabs akhirnya turun tangan. Dengan gagah perkasa ia mengangkat-angkat motor Mas Agus Rakasiwi agar terparkir secara lebih tertib.



Setelah berbagai kendala diatasi, shooting siap dimulai. Namun, sesaat sebelum kamera dinyalakan, masih juga ada masalah, “Mas, coba tolong beraktivitas, jangan melamun, nanti penontonnya bingung,” Mas Anta menegur Syarif yang tampak nelangsa. “Eh, iya, Mas … udah mau mulai, ya ? Kirain belum …,” Syarif tersadar.

And … action. Moel, Wiku, Adi Marsiella, Rudy, dan Syarif beraksi dengan rajutan masing-masing. Ketika shooting sedang berlangsung hangat-hangatnya, hujan tahu-tahu turun. “Wah, jangan sampai bocor,” Syarif kuatir, “Kalau sampe bocor, mari kita merajut atap, merajut ataaaap ….”

Merajut atap ? Bukankah sebaiknya teman-teman merajut matahari saja ?

Tobuciler memperhatikan air hujan halus kurus yang jatuh dari angkasa.

Mungkin mereka adalah benang matahari yang terburai …

Sundea




Pohon Segala Rasa


Kalau pernah baca buku atau nonton film Harry Potter, pasti tahu tentang Permen Segala Rasa. Permen yang rasanya bisa macam-macam ini hanya ada di dunia sihir tentunya. Namun mengutip candaan orang-orang Indonesia bahwa “tak ada yang tak mungkin di Jakarta”, maka yang segala rasapun ada di sini. Saya menemukannya ketika tidak sengaja berjalan-jalan di sekitar Museum Mandiri Kota.

Cerita berawal ketika saya dan Mbak Sekar usai berkeliling pasar ASEMKA untuk mencari mainan. Dalam perjalanan, tiba-tiba saya kepingin jeruk. Maklum buah favorit. Makanya ketika melihat tukang jeruk di belakang Museum Mandiri, saya langsung menghampirinya. Tidak lupa menanyakan harga tentunya.

Pegang-pegang, tawar-tawar, saya pun sadar bahwa si penjual membungkus jeruk dengan daun-daun di atasnya. Jeruk yang warnanya kuning Golkar itu semakin segar kelihatannya. Namun, untuk orang yang hidup di dunia perjerukan, pasti akan aneh melihat daun-daun tersebut. Daun itu memang hijau dan segar, sayangnya bukan daun jeruk sungguhan. Daun-daun itu berasal dari pohon yang sering ditanam di pinggir jalan. Saya tidak tahu namanya dan tidak merasa berkepentingan untuk menelitinya lebih lanjut.

Walau tidak hidup di dunia perjerukan, saya tetap tahu bahwa daun itu bukan daun jeruk. Saya tahu bagaimana tekstur, ukuran, dan wangi daun jeruk. Sama sekali tidak saya temui di daun itu. Maka saya pun nyeletuk,

”Loh, Pak. Ini bukan daun jeruk tahu...”
Si Bapak cuma cengengesan.
”Daun jeruk kan wangi-wangi. Saya tahu lagi,Pak”
Si Bapak masih cengengesan.
”Tapi gue lagi pengen banget jeruk. Sekilo ajah deh.”
Si Bapak membungkus jeruk.
”Mending gak usah didaundaunin gini, deh, membohongi konsumen.“
Si Bapak menyerahkan jeruk dan saya menyerahkan uang. Saya berlalu pergi sambil menggerutu dengan Mbak Sekar.

Cerita tidak berhenti sampai sini.

Sabtu lalu datanglah saya ke Museum Mandiri di Kota lagi. Ketika keluar dari pintu halte busway Kota, saya diingatkan dengan kisah saya kemarin. Kali ini, buah anggur korbannya.
Si anggur hijau dan merah ini diikat dengan dihiasi daun-daun di atasnya, yang lagi-lagi bukan daun anggur. Daun itu adalah daun yang sama dengan daun yang menghiasi jeruk yang saya beli waktu itu. Meski tidak hidup di dunia perangguran, saya pun tahu bahwa daun anggur tidak seperti itu.

Setelah itu, saya pun bertanya-tanya, pohon apa gerangan yang daunnya begitu diminati para penjual tersebut untuk membohongi pembelinya?

Sampai saat ini saya belum menemukan jawabannya. Kawan-kawan saya juga tidak tahu. Karena itu saya putuskan bahwa daun tersebut berasal dari Pohon Segala Rasa. Pohon yang daunnya bisa berbuah jeruk atau anggur. Tapi mudah-mudahan orang Jakarta tidak cukup bodoh kalau daun tersebut menjadi hiasan penjual buah pisang. Kalau iya, artinya dunia mau kiamat


Bagi yang penasaran seperti apa daun Pohon Segala Rasa itu, berikut gambarnya:


-em-
Putra Betawi yang gak suka daging ini, lahir pada tanggal 6 Agustus 1982. Hobi bernyanyinya suka bikin orang di sekitarnya gerah dan kangen. Punya kebiasaan iseng berjalan kaki di malam hari bersama sohib sambil mencari tempat asik wat ngopi atau ngeteh sambil diskusi. Bekerja sebagai pustakawan di sekolah Cikal serta aktif sebagai relawan Forum Indonesia Membaca. Di sela-sela penulisan novel anaknya yang tidak kunjung rampung, Em menulis tentang hidupnya dalam beberapa blog. PenggemarAstrid Lindgern ini bisa dijumpai di multiply, friendster, facebook dengan alamat imel mudination@yahoo.com.


kirimkan tulisanmu tentang apa saja ke tobucil@yahoo.com dengan subject "papan tulis". Sertai foto dan biodata singkatmu. Ditunggu, yaaaa

Membaca Separuh Jalan Aceh

Bagian dua

Klik di sini untuk membaca bagian satu


Trotoar sebelah kanan ini tidak dinaungi pohon besar sehingga tampak gersang. Buat me-refresh mata, orang cukup melihat tanaman hias di dalam pot besar itu. Lumayanlah, jadi tidak gersang-gersang amat. Kalau mau jalan kaki di sini pas matahari sedang terik, sebaiknya pakai payung atau topi. Lebih bagus lagi kalau kulit diolesi sunblock. Tidak mau kan gara-gara jalan kaki di trotoar Jalan Aceh kulit jadi gosong?


Mau menyebrang jalan? Hati-hati. Kendaraannya cepet-cepet. Jangan pikir Jalan Aceh selalu sepi (kecuali mungkin kalau malam).

Selama berjalan di trotoar Jalan Aceh, saya tidak hanya menikmati trotoar dan pohon-pohon besarnya. Saya juga melihat Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution.

Pintu akses taman ini sebetulnya ada di Jalan Belitung. Namun dari Jalan Aceh ini kita bisa mengintip ada apa saja di taman bermain tersebut. Kalau Anda begitu penasaran, intip saja taman ini dari dekat, dan lihatlah arena bermain apa saja yang ada di Taman Lalu Lintas. Atau kalau Anda lebih penasaran lagi, masuk saja ke sana. Harga tiket masuknya cuma 4000 perak. Kalau Anda ingin mencoba berbagai permainan, dengar-dengar sih Anda harus membayar lagi 3000 perak untuk setiap permainan.

Bagaimana? Jadi terkenang-kenang dengan masa kecil? Saya sendiri kalau melihat anak-anak bermain dengan gembira di taman ini suka nyesel udah jadi nenek-nenek (hehehe). Coba kalau saya jadi anak kecil terus kayak Peter Pan... Ah, ternyata masa kecil itu sangat menyenangkan.

Tapi sudahlah. Saya harus terima nasib jadi orang gede. Lagipula kalau sekarang masih kecil, tidak mungkin saya bisa jalan-jalan ke Bandung sendirian.

Selain Taman Lalu Lintas, ada taman lain yang bisa kita intip dari Jalan Aceh: Taman Maluku.

Tahun lalu, saya mengunjungi taman ini. Numpang lewat, sebetulnya. Saya penasaran saja dengan Patung Pastor Verbraak dan ingin melihatnya dari dekat.




Waktu itu Taman Maluku dipenuhi sampah. Saya sangat tidak tahan berada di sana. Bagaimana bisa tahan berada di lingkungan yang banyak sampahnya? Sudah begitu, ketika saya menatap patung pastor Verbraak dari dekat, nyamuk berseliweran dan hinggap di tangan saya. Saya jadi berpikir, patung Verbraak sepertinya sering digigit nyamuk. Kalau begitu ia sering gatal-gatal. Pernah nggak ya orang melihat dia sedang menggaruk-garuk tangan atau pipi yang kena gigitan nyamuk?

Itu tahun lalu. Saya dengar kabar, taman yang jaman dahulu kala disebut mollukenpark (ada juga yang menulisnya Molluken Park) ini sedang dibenahi. Semoga saja sekarang taman ini sudah tertata apik, bersih, dan layak dikunjungi, serta menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi patung pastor Verbraak.

Di sebelah Taman Maluku, ada Jalan Saparua. Di jalan ini, ada sebuah gedung olahraga yang kesohor, namanya GOR Saparua. Setahu saya, GOR ini biasa digunakan untuk main badminton. Selain itu, GOR ini juga sering digunakan untuk berbagai event.





Kalau sudah melewati GOR Saparua, berarti Anda akan segera sampai di Tobucil. Ini berarti, berakhir sudah penjelajahan saya menyusuri separuh Jalan Aceh.

Ada yang kurang?

Namanya saja separuh. Tentu saja ada yang kurang. Misalnya saja saya tidak membahas soal Stadion Siliwangi atau redaksi Sindo. Mohon maaf, perjalanan saya tidak sampai ke sana. Mungkin lain waktu saya akan meneruskan perjalanan menyusuri Jalan Aceh sampai ia berakhir di Jalan Riau (R. E. Martadinata).

Atau Anda mau melakukannya?

Tamat

Catatan:

Foto & teks oleh Rie Yanti


Rie Yanti, lahir di Bandung, Juni 1984. Menulis di beberapa blog seperti WarungFiksi.net dan blog Tobucil Kumpulan cerpennya, Bus Kuning, bisa diunduh di sini.



Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Pamali


Rubrik Baru !!!
Visual Diary



Klik pada gambar


Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Banung Grahita, Penabung Kata-kata


Ini Banung Grahita. Temen Dea yang irit bicara. Dea sering ngerasa nama dia cocok sama sifatnya; “Banung” kan berrima dengan “menabung”, “Grahita” berrima dengan “kata-kata”. Kalo Dea terjemahin semau Dea sendiri, “Banung Grahita” artinya “menabung kata-kata”.

Waktu orang-orang bicara segala, Banung lebih banyak diem-diem aja. Bisa jadi dia nangkep banyak kata, tapi disimpenin nggak tau di mana. Kalau dipaksa ngebayar kata dengan kata, Banung paling tau cara berhemat; “Okay”, “Nggak usah”, “Nggak apa-apa”, “Mending tidur”, “Beli casing” …

Menabung kata-kata seperti menabung di bank. Semakin besar jumlahnya, semakin besar juga bunganya. Ditabung bikin kata-kata yang ditangkep telinga Banung berbunga jadi pemahaman dan pengertian yang baik. Makanya, Banung nggak gampang kebawa arus gosip, nggak cepet menilai orang lain, dan lebih arif menyikapi peristiwa.

Karena hemat pangkal kaya, Dea yakin dalem diemnya sebenernya Banung konglomerat kata. Pada suatu saat nanti, waktu semua orang nggak lagi punya kata-kata …






… bisa jadi cuma Banung Grahita yang cukup kaya untuk berderma ^_^

Sundea

Sidang Klab Nulis Mulai Digelar


Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 25 Februari 2009
dengan tema “Berkorban Demi Cinta, Kenapa ?"

Rabu, 25 Februari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Klab Nulis

Klab Nulis

Presentasi Karya

Klab Nulis Angkatan ke- 4

tobucil & klabs 2009

Klab Nulis angkatan 4 telah sampai pada bulan, di bulan ini waktunya para anggota klab nulis untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan 2 orang panelis serta msyarakata umum.

Pada bulan pertama anggota klab nulis mendalami seluk beluk penulisan fiksi dengan berbagai materi dan makalah serta diskusi yang di sampaikan oleh instruktur klab nulis, Sophan Ajie, sedangkan pada bulan kedua para anggota klab nulis melakukan praktek menulis dengan games. Di bulan ini para anggota klab diarahkan untuk membuat karya yang nantinya akan menjadi final projek yang akan dipresentasikan pada bulan terakhir.

Kini bulan terakhir itu telah memasuki batas akhir pengumpulan karya, setelah ini para anggota klab nulis akan mulai mempresentasikan karya mereka setiap senin mulai dari tanggal 23 februari 2009 “ 23 Maret 2009”, berikut jadwal lengkap presentasi karya:

minggu pertama 23 februari 2009:

Ibu Tati : karya tulis cerpen

untuk membaca cerpen Ibu Tatty, klik di sini

syarif : karya tulis cerpen, untuk membaca cerpen Syarif, klik di sini

minggu kedua 2 maret 2009:

nissa : karya tulis novel

minggu ke tiga 16 maret 2009:

feti : karya tulis cerpen

Nilam : karya tulis cerpen

minggu ke empat 23 maret 2009:

sinta : karya tulis cerpen

Evi : karya tulis cerpen

Minggu ke lima 30 Maret 2009 :

Rini : karya tulis cerpen

Asma : karya tulis cerpen

semua karya, akan dimuat di blog tobucil (tobucil.blogspot.com), jadi bagi yang hendak datang bisa membaca karya para anggota klab nulis yang akan mempresentasikan karya mereka. Acara presentasi karya ini terbuka untuk umum, baik itu untuk melihat saja, mengomentari atau ikut mengkritik.

panelis penguji:
paskalis (lulusan filsafat)
tim juri tobucil (terlen, sundea, wikupedia)

Semua diundang untuk meramaikan acara ini, sampai jumpa di acara presentasi karya klab nulis tobucil & klabs.

Salam klab

Akan Dibuka : Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak

Menulis itu bermain, bermain itu menulis. Perhatikan segala sesuatu di sekitarmu, catat, dan jadikan mereka teman bermain.

Bersama Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak, mari berkenalan dengan keseharian, dan menjadikan menulis kebermainan yang menyenangkan … ^_^ v

Bulan Pertama :

(I) Ciptakan tokohmu …

(II) Mari mengenal lingkungan

(III) Mari mengenali pengalaman

(IV) Mari bermain dengan dongeng

Bulan ke dua :

(I) Mari mengembangkan ide dasar

(II) Mari bermain dengan peribahasa.

(III) Mari bermain dengan panca-indera (mata, peraba)

(IV) Mari bermain dengan panca indera (telinga, hidung, pengecap)

(V) Penutup

Di dalam setiap pertemuan, akan diadakan “Waktunya buku harian”. Anak-anak diajak membagi pengalamannya selama seminggu dan membacakan cerita yang ingin mereka bacakan dari buku harian mereka.

Diary yang menarik akan dimuat dalam “diary project” www.tobucil.blogspot.com.

Fasilitas yang didapatkan :

  1. Peralatan berupa diary dan buku kerja, pin, bolpoin, dan spidol warna-warni.
  2. Sertifikat di akhir acara.

Syarat peserta :

  1. Peserta adalah anak-anak berusia 8-11 tahun.
  2. Perserta bersedia mengikuti setiap sesi yang berlangsung +/- 120 menit
  3. Biaya pendaftaran Rp. 250.000,00/paket (2 bulan, tiap bulan empat kali pertemuan, total = 9 kali pertemuan).
  4. Tempat pendaftaran : Tobucil, Jalan Aceh no.56, Bandung telp : 022-4261548, jam 09.00-20.00.
  5. Pendaftaran ditutup 2 Maret 2009, pukul 19.00 WIB.
  6. Untuk kurikulum pertama, peserta terbatas, maksimal 7 anak.
  7. Klab akan diadakan setiap hari Jumat pukul 15.00, dimulai pada tanggal 13 Maret 2009.

Fasilitator : Sundea

Penulis buku anak-anak yang telah menerbitkan dua buah buku, Salamatahari dan Dunia Adin dan sempat menulis naskah animasi iklan untuk “Progres Animation”. Lulus dari Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran dengan skripsi bertopik puisi anak. Saat ini menjadi penulis lepas, mengasuh blog Tobucil (www.tobucil.blogspot.com), dan bergabung dengan komunitas Reading Lights Writer Circle.


Dari Luar “Rumah”

Lomba Artikel Nasional Tentang Perpustakaan

“MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN”

PENGANTAR

Upaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat bisa ditingkatkan dengan memberikan fasilitas pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa perpustakaan.

Bangsa yang maju dapat diukur dari tingkat minat baca masyarakat serta seberapa aktif masyarakat membaca setiap hari. Perpustakaan sebagai penyedia layanan bacaan bagi masyarakat menjadi representasi utama untuk mengukur tingkat minat baca masyarakat, seberapa banyak perpustakaan yang tersedia di suatu negeri, bagaimana fasilitasnya, berapa rasio masyarakat yang menjadi anggota perpustakaan, serta berapa banyak rata-rata buku dipinjam setiap harinya.

Disamping menjadi representasi kemajuan suatu negeri, keberadaan perpustakaan juga diharapkan bisa menjadi agen utama dalam mendorong minat baca masyarakat serta menyediakan bacaan yang cukup dan berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat meningkatkan fasilitas layanan serta melakukan berbagai agenda kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat.

Ada empat elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat, yaitu pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitasnya, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyeknya.

Sebagai apapun dan siapapun kita, mari semua kita berpartisipasi memajukan Indonesia dengan meningkatkan minat baca kita masing-masing dan minat baca masyarakat di sekitar kita. Mari kita ramaikan dan kita majukan perpustakaan perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.


= Lomba Menulis Buku Traveling ==

Dapatkan 2 tiket ke Bali (PP), akomodasi (2 malam), plus uang saku! Caranya gampang banget.

Bagi kamu yang senang traveling dan ingin berbagi cerita tentang tempat menarik yang telah dikunjungi, ikuti lomba menulis buku traveling seri Jalan-jalan dari GagasMedia. Karya yang terpilih akan
dibukukan dan tentunya kamu berhak mendapatkan royalti atas penerbitannya. Sebagai bahan acuan menulis, kamu bisa baca buku Jalan-jalan Bali karya Agung Bawantara dan Maria Ekaristi.
Kamu bisa menulis tempat wisata mana saja yang ada di Indonesia.

- Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya (Jawa tengah)
- Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat)
- Sumatera
- Kalimantan
- Manado
- Maluku
- Wisata Air
- Wisata Pegunungan
- dan lain-lain….

Isi naskah harus meliputi: cara mencapai lokasi wisata, tip dan trik berlibur, wisata kuliner, wisata budaya, budget bepergian, dan foto-foto objek wisata (ingat: foto adalah orisinal jepretan sendiri atau sudah ada izin dari si fotografer).

Syaratnya:
- Panjang naskah minimal 75 halaman, spasi 1.
- Naskah utuh (print out, bukan dalam bentuk CD) dikirim paling lambat tanggal 1 April 2009 ke alamat redaksi: Jl. H. Montong No.57, Ciganjur, Jakarta Selatan 12630.
- Tulis di pojok amplop: Jalan-jalan GagasMedia.
- Jangan lupa lampirkan biodata dan pernyataan tertulis bahwa karyanya adalah orisinal milik karya sendiri.
- Naskah yang tidak terpilih sebagai pemenang akan dijajaki lebih lanjut oleh penerbit (kemungkinan terbit juga ada, lho ...).
- Pengumuman pemenang tanggal 1 Mei 2009 .

Yuk, jalan-jalan keliling Indonesia dan mari menulis ?

“Travel does what good novelists also do to the life of everyday, placing itlike a picture in a frame or a gem in its setting, so that the intrinsic qualities are made more clear. Travel does this with the very stuff that everyday life is made of, giving to it the
sharp contour and meaning of art.” - Freya Stark

Rubrik

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Dapat pula berupa tempat wisata atau kuliner di Bandung. Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary

Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Dari Halaman Crafty Days

Mau tahu cara membuat floppy disk blocknote ? Klik di sini

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^



Sunday, February 15, 2009

Mengakhiri dan Berakhir

“they come too fast, and they pass too slow …”

All I Know – Five for Fighting

Selamat datang di blog Tobucil edisi “mengakhiri”. Minggu ini ada Klab Nulis yang mengakhiri masa latihan dan bersiap menuju sidang terbuka, ada Syarif yang ternyata “belum berakhir”, ada Markus yang mengakhiri masa menggambar komersilnya, ada teman-teman yang mengakhiri kelelahannya dengan tidur, ada handphone Dea yang mengakhiri masa kerja kerasnya, bahkan ada madrasah filsafat bertema galau dan kosong yang membahas kondisi sebelum sesuatu diakhiri.

“Mengakhiri” adalah tindakan konkret, tapi “berakhir” seringkali lebih abstrak. Ia adalah simpulan setelah sebuah perjalanan panjang; kadang mendahului mengakhiri itu sendiri, kadang menyusulnya.

Walau bagaimanapun, jangan takut menempuhnya. Mengenali perjalanan adalah cara terbaik mengabadikan yang berakhir. Ia akan tinggal bersamamu dalam bentuk kesan. Dan menukar kehadirannya dengan sebuah “awal”.

Perjalanan menuju berakhir bersifat sangat personal. Ia milikmu sendiri. Hanya kamu yang tahu kapan kamu tiba …

Semoga minggu yang baru diakhiri akan memberimu awal yang baik

Salamatahari, semogaselalucerah dan hangat …

Tobuciler



Markus Benyamin Diredja Makan Pinsil ?


Kamis itu (12/02) Markus Benyamin Diredja sampai di Tobucil sebelum pukul tiga. “Wah … tiap Klab Komik, elu pasti dateng pertama,” kata Tobuciler. “Iya, itung-itung main ke sini,” sahut Markus. Sambil menunggu pasukan Klab Komik yang lainnya, Markus duduk sambil menggambar sketsa. Sementara itu, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”

Markus : Ini ngobrol tentang apa aja ?

Tobucil : Apaan aja, njawab absurt-absurt juga nggak apa-apa … eh … blog Tobucil minggu ini temanya “mengakhiri” …

Markus : Baiklah, mari kita akhiri saja wawancara ini.

Tobucil : Yeee ! Mulai aja belon ! Btw, lo lagi nggambar apa, sih ?

Markus : Lagi sketching-sketching aja, kan terinspirasi Tita (workshop Graphic Diary Curhat Tita), sketching di manapun. Ini yang udah lama nggak gua lakuin.

Tobucil : Kenapa ?

Markus : Sempet teralih pada kerjaan. Ya … kerjaannya, sih, nggambar juga … masa’ lu nggak tau ?

Tobucil : Ini pura-pura nggak tau aja, buat kepentingan wawancara.

Markus : Emang boleh gitu, ya ?

Tobucil : Boleh-boleh aja. Jadi kenapa tadi ?

Markus : Jadi, gua pernah kehilangan kesenangan gua menggambar, hobi gua dari kecil. Gara-garanya, sih, kealih, kebanyakan kerja, sampai gua ngegambar buat orang lain, bukan buat diri gua sendiri, bukan nggambar apa yang gua suka. Berapa lama, ya, gua keilangan itu ? Setaunan ada. Sampai gua sempet eneg kalo liat kertas. Mual-mual … mencret-mencret …

Tobucil : Gara-gara kertasnya lo makan ? Ya iyalah …

Markus : Enggak, pinsilnya yang gua makan.

Tobucil : Jadi lo mencret karena makan pinsil ?

Markus : Dilanjutin, lagi … sempet, sih, gua ngedrop … ini bukan karena makan pinsil, ya, karena stress yang terpendam. Gua udah coba olahraga segala macem, tapi malah tambah capek dan tambah ngedrop, soalnya masalahnya ada di sini (menunjuk kepalanya).

Tobucil : Terus, kapan lo mulai sadar ngegambar buat diri lo sendiri ?

Markus : Sebenernya, sih, waktu workshop Tita itu … sebulan yang lalu berarti. Tapi dari mulai taun baru, gua mulai kerasa ada yang ilang. Gua capek aja. Gampang sakit. Nah, pas ikut workshop Curhat Tita, gua ngeliat dia getol banget ngegambar, nggak ada abis-abisnya. Yang dia gambar kan keseharian dan keseharian emang nggak ada abisnya. Dulu juga gua gitu, secara itu yang bikin gua masuk Seni Rupa. Tapi belakangan gua udah ga pernah gitu lagi.

Tobucil : Terus, abis workshop Tita, lo mulai gambar buat diri lo sendiri ? Efeknya apa ?

Markus : Kesehatan gua jadi lebih prima.

Tobucil : Nah … kerjaan-kerjaan lo jadinya apa kabar, dong ?

Markus : Kerjaan gua sebenernya lagi agak nyantai juga … sebenernya gua agak cemas, soalnya gua kan musti nabung buat merit (menikah, bukan obat pelangsing). Tapi kalo gua kembali lagi kayak dulu, gua jadi nggambar buat duit (diam sejenak). Tapi yang gitu-gitu gua nggak terlalu mikirin, sih, karena biasanya, kebaikan itu dateng sendiri dalem kehidupan gua. The best thing I can do ya mempersiapkan, kali, ya, supaya pas dia dateng, gua nggak menyia-nyiakannya.

Tobucil : Mempersiapkan dengan cara … ?

Markus : Selain sambil kerja, kebaikan yang gua nanti-nantikan kan bikin (menerbitkan) komik. Jadi itu seiring dengan apa yang gua sedang gua lakukan sekarang (menggambar dan mempersiapkan cerita untuk komiknya).

Tobucil : Hmmm … baiklah. Pertanyaan terakhir, nih …

Markus : Apa ?

Tobucil : Kalo lo bener-bener stress sama kerjaan lo terus nggak menemukan jalan keluar, kira-kira mungkin nggak lo beneran makan pinsil ?

Markus : Hahaha … itu pertanyaan terakhirnya ? Nggak, kayaknya gua akan banyak makan steak …

Tobucil : Stik drum ato stik rajut ?

Markus : Dilanjutin, lagi …

Pasukan Klab Komik tak kunjung datang. Markus betul-betul jadi hadirin tunggal. Meski begitu, ia tampak bahagia-bahagia saja. Ia terus menggambar dan menggambar dan menggambar dengan ekspresi berubah-ubah.

Psst … ini adalah dua dari sekian ekspresinya yang aneh-aneh …

Sundea





Buklat, Buku dan Coklat


Judul Buku : Oasis Inspirasi

Pengarang : Sam Djimun

Harga : Rp. 25.000, 00

Harga Tobucil : Rp. 22.500,00

Berhenti haus inspirasi ! Kami punya Oasis inspirasi ! Bagaimana menjadikan impian Anda, dari para “Dream Stealer”. 52 words of wisdom – penjaga impian Anda, diindonesiakan, based on email, The Daily Motivation – Max Steingart.

Apa maksud narasi di atas ? Kunjungi Tobucil dan akhiri kebingunganmu …

----

Coklat-coklat-coklat

Harga berkisar antara Rp 10.000,00 –Rp. 25.000,00

Valentine belum lewat …

Follow up dengan makan coklat =D




Linting Melinting, Sidang Menyidang

-Tobucil, Senin 9 Februari 2009-

Klab Nulis

Lintingan-lintingan putih terkumpul di atas meja Tobucil. Ophan, sang tutor, dan para peserta Klab Nulis berkumpul di sekitarnya. “Ini undian buat sidang nanti,” Ophan memberitahukan.

“Kalau ada yang bicara (sidang), kita boleh nonton ?” tanya Bu Taty.

“Boleh, justru itu yang diharapkan,” sahut Ophan.

“Yaaah … selama Klab Nulis ini, jadwal saya banyak yang terbengkalai. Tadinya mau saya bayar pas tanggal-tanggal sidang itu (ketika tidak tampil),” kata Nissa.

“Saya minggu ke tiga Februari sampai dengan minggu ke dua Maret mau survey,” Asma menginformasikan.

Saya harus ini, saya harus itu. Bagaimana kalau begini, dan bagaimana kalau begitu. Demi kepastian, akhirnya undian dikocok. Dan JREEENG muncullah … :

23 Februari 2009 : Nilam dan Sufti

2 Maret 2009 : Syarif, Nissa, dan Asma

16 Maret 2009 :Mbak Feti dan Bu Taty

23 Maret 2009 : Evi, Shinta, dan Rini.

“Aku pengennya yang pertama, soalnya kalo yang terakhir, liat yang lain nanti nge-down,” request Evi.

“Nissa kan novel, jangan di yang bertiga, kan dia pasti lama,” protes Asma.

“Iya, kita kan cerpen, entar kita kurang pesona,” Bu Taty mengamini.

Ophan lalu menukar Nissa dengan Sufti, Nissa pun panik, “Jangan, saya jangan yang pertama, kan saya nggak tau medan …”

Ophan garuk-garuk kepala.

Setelah tawar menawar yang cukup alot, keputusan yang membuat semua senang pun terbentuk juga. Ini dia :

23 Februari 2009 : Nilam, Sufti, dan Syarif

2 Maret 2009 : Nissa seorang diri. Ini merupakan kehormatan karena sepanjang sejarah Klab Nulis, Nissa adalah peserta pertama yang membuat novel sebagai tugas akhir.

16 Maret 2009 : Mbak Feti, Bu Taty, dan Evi

23 Maret 2009 : Shinta, Rini, dan Asma.

“Saya kalau apa-apa pasti dapet nomor urut satu. Tapi juara nggak pernah juara satu,” ratap Syarif.

Kira-kira seperti apa, ya, aksi mereka di sidang nanti ? Catat tanggalnya dan saksikan sendiri. Kamu juga diundang menghadiri sidang Klab Nulis di Tobucil, Jln. Aceh no. 56, pukul lima sore. Iya, betul, kamu yang sedang membaca artikel ini … ^_^ v

Sundea




Galau dan Kosong

-Tobucil, Rabu 11 Februari 2009-

Madrasah Filsafat

“Buat saya, galau adalah pilihan hidup,” ujar Wiku, pendiri grup “Bandung Galau Selalu” di facebook. “Galau adalah moment di antara pilihan, sebelum pilihan, atau setelah pilihan. Jadi itu adalah moment ketika kita berpikir bebas, sebelum menentukan sesuatu,” papar Wiku. Apakah kondisi yang dimaksudkan Wiku bermakna sama dengan “Aku berpikir maka aku ada”-nya Descartes ? “Henteu oge (tidak juga),” pendapat Wiku, “Kalau berpikir kan nggak ada unsur perasaannya, kalau galau ada.”

Hari itu, madrasah filsafat mengangkat tema “Galau dan Kosong”. Wiku tampak jadi hadirin yang paling bersemangat mengampanyekan kegalauan. “Dunia-dunia galau yang dipilih itu terus menerus diciptakan karena menyenangkan. Kalau nggak galau, galau-galaukeun weh, kumaha carana (galau-galaukan saja bagaimanapun caranya),” ujar Wiku. “Mungkin lebih tepat ‘menikmati’. Saya lebih suka kata ‘menikmati’ daripada ‘menyenangkan’, seperti orang kadang menikmati rasa sakit,” Mas Dauz, yang sudah lima belas tahun lebih menikmati rasa sakit karena cinta, memberi pandangan.

Lalu bagaimana dengan “kosong” ? Kata yang bersanding dengan kata “galau” sebagai tema madrasah filsafat hari itu ? “Saya nunggu madfal di sini dari jam satu karena kuliah saya kosong. Saya bahagia iya, kan saya ngerajut. Galau iya, karena minggu lalu udah nunggu dari jam satu juga, taunya madfalnya nggak ada, takutnya yang minggu sekarang nggak ada lagi,” Rudy menerjemahkan kekosongan itu dengan harfiah sekali.

Hadirin lain pun punya cara sendiri memaknai “kosong”. Bagi Mas Ami, kosong adalah kondisi ketika ia merasa dirinya tak berharga. Sementara, menurut Mas Oyeah, kosong adalah kondisi ketika seseorang menganggap waktu tidak ada. “Menurut ajaran Sufi, mengosongkan pikiran artinya memusatkan pikiran pada satu hal dan melupakan hal yang lain,” kata Mas Ali. “Artinya, kosong adalah mencari fokus,” tambah Mas Iman.

Malam itu, langit pun tampak kosong. Tidak ada bintang, tidak ada bulan, tapi putih terang. Konon langit seperti itu adalah pertanda adanya badai di suatu tempat.

Malam itu, di suatu tempat, mungkin ada kegalauan yang mengosongkan. Tapi, adakah terperhatikan bahwa kosong itu ternyata putih terang ?

Sundea

klik di sini untuk membaca makalah "Galau dan Kosong"



Sekuel Kisah Cinta


-Tobucil, Jumat 13 Februari 2009-

“Oh baby, it ain’t over ‘til it’s over …”

It Ain’t Over ‘Til It’s Over – Lenny Kravitz

“Disimpen di mana, ya ?” tanya Syarif sambil menimang cokelat yang dikemas manis. Dengan galau style-nya yang khas, Syarif hilir mudik di seputar tampuk kekasiran. “Buat siapa emang ?” tanya Tobuciler. “Buat … Yuchan …,” jawab Syarif malu-malu.

Secara resmi, hubungan Syarif dan Yuchan memang sudah berakhir. Namun, keberakhiran itu tampak bersambung ke episode berikutnya. “Abis putus malah lebih enak hubungannya,” Syarif mengakui.

Karena itulah, Valentine ini Syarif mempersiapkan setumpuk kejutan romantis untuk Yuchan. Syarif sudah memesan hadiah maya yang dikirimkan lewat facebook. Sehari sebelum Valentine, Syarif berniat meninggalkan cokelat di seputar tampuk kekasiran agar saat Yuchan datang ke Tobucil pada pagi hari, kejutan itu memberinya semangat kerja. Sementara Yuchan bertugas di Tobucil, Syarif menitipkan bunga kepada saudara kembar Yuchan. “Jadi pas Yuchan pulang dari Tobucil, ada lagi hadiah dari gua,” ujar Syarif dengan mata berbinar. Semua dirancang sesempurna mungkin. Meski Valentine itu Syarif tak dapat hadir karena harus berlatih gitar, ada bagian dari dirinya yang sepanjang hari menyertai Yuchan.

Setelah memaparkan rencananya kepada Tobuciler, Syarif kembali ke permasalahan semula, “Jadi cokelatnya disimpen di mana, nih ? Mana, ya, tempat yang pasti diliat Yuchan ?”

Di kolong ? Harish kurang setuju. “Entar keinjek. Udah gitu Yuchan bakal mikir, ngapain Syarif ngasih cokelat jelek begini ?” Di meja ? “Bisi disemutin,” kata Mbak Upi. Di kotak rokok ? “Entar cokelatnya jadi bau rokok, nggak ?” Syarif ragu.

Hmmm … bagaimana kalau cokelat itu dikirim langsung ke dalam hati Yuchan ? ^_ ~

Let me guess. Harish pasti akan menanggapi dengan suara dimanis-maniskan, “Ooooh … soo shiiit ….”

Sundea




Zzzz ....

























Sundea bukan fotografer. Dia adalah penangkap keseharian yang mencintai setiap hari. Kunjungi dia di sini







Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Membaca Separuh Jalan Aceh


Apa saja yang bisa kita lihat di Jalan Aceh, tepatnya dari simpang Jalan Merdeka sampai Tobucil? Bukan, bukan mall. Tidak ada mall di Jalan Aceh. Setahu saya hanya ada satu FO (factory outlet) di dekat Stadion Siliwangi. Bagi Anda yang shopaholic mungkin akan kecewa. Tapi bagi Anda yang senang bertualang menyusuri kota Bandung, pasti setuju jika saya katakan bahwa ada beberapa hal menarik yang bisa kita lihat di separuh Jalan Aceh.

Bermula dari Popeye, sebuah restoran fast food. Di sebelahnya ada Banner store. Benar kata Andika Budiman dalam Baca Kota Bandung Tobucil beberapa minggu yang lalu, bahwa toko ini eye-catching. Lihat saja warna-warnanya yang ngejreng. Ada apa saja ya di dalamnya? Pelangi, mungkin. Sepertinya kalau kita masuk ke toko tersebut, kita pun akan merasa warna-warni.

Di sebelah Banner Store ada Cafetaria. Kalau lapar atau haus, Anda bisa memesan makanan dan minuman di sini. Tapi kalau sungkan masuk ke sana, Anda juga bisa jajan di depan Banner Store. Bisa dilihat, ada beberapa gerobak makanan yang mangkal.

Selain gerobak makanan, ada juga angkot jurusan Dago―Kalapa. Daerah ini agak ramai. Namun lewat daerah ini, Anda akan menemukan sebuah pemandangan yang berbeda.

Kita teruskan perjalanan. Lewat Banner Store beberapa langkah, ada sebuah bangunan tinggi berwarna putih dengan banyak jendela. Itu namanya Hyatt Regency. Hotel ini berdiri tegak seperti hendak mencapai langit. Apa dia mau ke angkasa ya? Jadi teringat salah satu lagu pop Sunda. Entah siapa yang menyanyikan. Liriknya seperti ini: Karunya, nya, aduh karunya/ hayang ngapung-ngapung ngawang-ngawang/ teu boga jangjang (kasihan, aduh kasihan/ ingin terbang mengawang-awang/ tidak punya sayap).

Masalah nyambung atau tidak lagu tersebut dengan ketinggian Hyatt, tergantung bagaimana Anda yang menilai. Menurut saya sih lagu tersebut nyambung-nyambung saja. Hyatt didirikan seperti itu biar para tamu yang menginap bisa merasa terbang ke awang-awang. Tapi kalau tidak punya sayap, bagaimana bisa terbang?


Oh ya. Beberapa bulan yang lalu ketika melintasi Jalan Aceh, saya melihat beberapa orang pekerja sedang membuat beberapa bak di sebrang Hyatt. Saya pikir itu bak sampah, ternyata bak untuk tanaman hias. Buat penghijauan ya? Bagus deh. Biar Bandung kembali sejuk dan asri. Kembalikan Bandung Kota Kembang!


Dari Hyatt, kita memasuki kawasan militer. Kenapa saya mengatakan demikian? Karena di Jalan Aceh ini ada markas Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi.



Mungkin karena ini daerah militer, maka trotoar sepanjang Kodam pun tampak bersih dan sejuk. Yah, saya pernah menemukan beberapa sampah di sepanjang trotoar ini. Kenapa ya orang tidak pernah tahan melihat lingkungan yang bersih? Atau karena di sini tidak ada tempat sampah makanya orang membuang sampah di mana saja


Meski begitu, saya nyaman-nyaman saja jalan kaki di trotoar ini. Saya suka trotoarnya yang adem karena dinaungi pohon-pohon besar dan tua. Saya jadi tidak kepanasan sewaktu jalan kaki di sini. Pun dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang dan menimbulkan polusi udara, saya tidak merisaukan masalah itu. Karena karbon yang keluar dari kendaraan diserap pohon-pohon tua tersebut. Ajaib ya? Buat kita, gas karbon beracun. Sebaliknya bagi tanaman, gas karbon justru membantunya untuk berfotosintesis.


Di kanan dan kiri Jalan Aceh, terbentang trotoar. Gunanya tentu saja sebagai tempat jalan kaki.

Ada
bedanya trotoar sebelah kiri (yang sejajar dengan Hyatt) dan trotoar sebelah kanan (yang sejajar dengan Tobucil). Trotoar sebelah kiri ukurannya kecil. Kalau digunakan untuk berjalan oleh 2 orang, rasanya kararagok karena kita tidak bisa berjalan berdampingan dengan teman dengan leluasa.


Sementara trotoar di sebelah kanan (yang sejajar dengan Tobucil) lebih lebar. Membuat para pedestrian merasa lebih nyaman berjalan kaki. Mau jalan berdua sama pacar atau jalan rame-rame bareng teman? Bisa banget. Menari balet atau street dance di sini juga bisa. Awas terbentur pot besar!




Sayangnya,

Bersambung …

Rie Yanti, lahir di Bandung, Juni 1984. Menulis di beberapa blog seperti WarungFiksi.net dan Tobucil.Blogspot.com. Kumpulan cerpennya, Bus Kuning, bisa diunduh di sini.



Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Si (Nuuut)


Selama 5 taun ini, Dea pake hp (nuuuut….sensor, biar nggak nyebut merk). Dea sayang banget sama hp itu. Lebih dari sekedar hp, buat Dea dia itu kayak temen. Kami udah saling ngerti dan ngelewatin banyak susah dan seneng bareng-bareng.

Hp Dea itu udah renta banget. Sebelom dipake Dea, dia sempet sekitar 3 taunan dipake ade dan papa. Staminanya juga udah nggak terlalu bagus; batrenya gampang ngedrop, keypadnya suka mblesek, dan suka ada garis kayak garis khatulistiwa gitu di tengah-tengah layarnya. Tapi nggak masalah. Buat Dea error2nya itu nggak seberapa dibanding hubungan baik yang udah Dea jalin sama dia. Ganti hp? Nggak kepikiran sama sekali.

Mungkin Deanya, sih, nggak masalah. Tapi ternyata orang-orang di sekitar Dea stress ngeliat Dea. Mereka semua ngedesek-desek Dea ganti hp, tapi Dea nggak pernah mau.

Sampeeeee pas ulangtaun kemareeen…jrengjeng….mama dan papa ngehadiahin hp buat Dea. Perasaan Dea kacau. Waktu mindahin sim card, Dea ngerasa bersalah banget sama si (nuuuut). Rasanya kayak ngehianatin temen lama. Trus ada perasaan gini, “Gue udah ngerasa secure sama si (nuuuut). Sama si baru ini gue harus mulai nyusun rasa secure yang baru lagi”.

Begitu Dea make si baru, si (nuuuut) dipake Vai, adenya Dea. Dia punya dua nomer, jadi untuk nomer yang nggak terlalu sering dia pake, dia pake si (nuuuut).

Tau, nggak, tiap denger bunyi si (nuuuut) yang klasik itu, Dea rasanya mau nangis. Selama 5 taun si (nuuuut) udah jadi bagian diri Dea banget. Bunyi itu udah pernah ngasih macem-macem makna buat Dea. Tapi sekarang bunyi itu bukan sapaan buat Dea lagi. Rasanya aneh. Dea jadi ngerasa jauh dan asing sama sesuatu yang selama 5 taun deket dan Dea kenal banget. Dea nggak bisa persis ngejelasin perasaan apa itu. Bukan sekedar kangen. Bukan sekedar terharu. Bukan sekedar sedih….Dea nggak tau gimana nggambarinnya.

Beberapa hari ini Dea sedih-sedihan gitu. Sampe tadi pagi, ada pikiran yang ngelintas di kepala Dea, “Si (nuuuut) udah tua, Dea, kalo kamu sayang dia, kasih dia waktu istirahat. Dipake sama ade-mu itu bagus buat dia. Dia bisa terus gerak tapi cukup santai, sesuai usianya-lah. Lagian kamu sadar, nggak, sim card yang skrg. dipasang di dia itu sim card pertama yang pernah dia kenal. Itu ‘kan sim card papamu jaman baru punya si (nuuuut). Sekarang ini si (nuuuut) dan sim card lama itu lagi nostalgia-nostalgiaan, lho…”

Dea nggak tau itu suara siapa. Diri Dea sendiri, Tuhan, si (nuuut), ato si sim card. Yang pasti penjelasan itu bikin Dea bisa senyum dan lega aja. Kalo emang begitu kondisinya, Dea nggak sedih lagi. Soalnya Dea tau si (nuuuut) seneng. Dan meskipun bunyi klasik dia bukan panggilan buat Dea lagi, somehow Dea percaya dia nggak lupa pernah manggil Dea dengan suara kayak gitu. Dea percaya hubungan Dea sama si (nuuut) nggak terbates sama sekedar panggil memanggil itu.

Buat (nuuuuut) sahabat Dea banget. Kalo inget kita udah ke mana aja…so many things, Pal…

Lomba Artikel Nasional Tentang Perpustakaan


Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 18 Februari 2009
dengan tema “Berpikir ala Descartes, Bertindak ala Mariah Carey"

Bersama penulis buku “Saya Berbelanja Maka Saya Ada”

Rabu, 18 Februari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Klab Klassik

Musik Sore Tobucil
22 Februari 2009
pk. 15.00-17.00

Apa itu Musik Sore Tobucil?

Musik Sore Tobucil adalah acara apresiasi musik yang diadakan oleh KlabKlassik dan Tobucil. Even tersebut digear setiap dua bulan sekali, pada minggu keempat. Lokasinya di beranda Tobucil, Jl. Aceh no. 56.

Siapa Saja Penampil dari Musik Sore Tobucil?

Siapa pun. Meski diadakan oleh KlabKlassik, tapi penampil tidak dibatasi untuk memainkan musik klasik saja. Untuk tanggal 22 Februari ini, pengisi acara adalah Jack & Sally, Ririungan Gitar Bandung, KlabKlassik String Trio, Musik Klasik Tiga, Ophan Blues Trio, dan masih terbuka bagi beberapa penampil lainnya untuk mendaftar secara gratis.
Syaratnya:
- Tidak memainkan musik beraliran keras/cadas
- Tapi memang sulit memainkan musik beraliran keras/cadas, karena harus mau tampil dengan format akustik
- Peralatan membawa sendiri
- Siap diapresiasi

Kenapa diadakan oleh KlabKlassik?
Salah satu tujuan KlabKlassik adalah membentuk apresiator-apresiator yang baik. Apresiator yang baik, dalam versi KlabKlassik, tidak hanya terbatas dalam mengapresiasi musik klasik, tapi juga musik secara keseluruhan. Apresiasi tidak hanya terbatas pada teori dan pengetahuan mengenai musik, tapi juga dari toleransi. Musik Sore Tobucil selain sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut, tapi juga sebagai bentuk dari autokritik KlabKlassik. Diharapkan setelah acara, KlabKlassik dan para apresiator lainnya bisa berkumpul dan mendiskusikan apa yang baru saja didengar dan dilihat.


Klab Nulis

Presentasi Karya

klab nulis angkatan 4

tobucil & klabs 2009


klab nulis angkatan 4 telah sampai pada bulan, di bulan iniwaktunya para anggota klab nulis untuk mempresentasikan karya mereka di hadapan 2 orang panelis serta msyarakata umum.


Pada bulan pertama anggota klab nulis mendalami seluk beluk penulisan fiksi dengan berbagai materi dan makalah serta diskusi yang di sampaikan oleh instruktur klab nulis, Sophan Ajie, sedangkan pada bulan kedua para anggota klab nulis melakukan praktek menulis dengan games. Di bulan ini para anggota klab diarahkan untuk membuat karya yang nantinya akan menjadi final projek yang akan dipresentasikan pada bulan terakhir.


Kini bulan terakhir itu telah memasuki batas akhir pengumpulan karya, setelah ini para anggota klab nulis akan mulai mempresentasikan karya mereka setiap senin mulai dari tanggal 23 februari 2009 – 23 Maret 2009, berikut jadwal lengkap presentasi karya:


minggu pertama 23 februari 2009:


nilam : karya tulis cerpen Ibu Tati : karya tulis cerpen

untuk membaca cerpen Ibu Tatty, klik di sini

syarif : karya tulis cerpen, untuk membaca cerpen Syarif, klik di sini


minggu kedua 2 maret 2009:


nissa : karya tulis novel


minggu ketiga 16 maret 2009:


feti : karya tulis cerpen

ibu tati : karya tulis cerpen

evi : karya tulis cerpen

Nilam : karya tulis cerpen

minggu keempat 23 maret 2009:

sinta : karya tulis cerpen

rini : karya tulis cerpen

asma : karya tulis cerpen

Evi : karya tulis cerpen



Minggu ke-5 30 Maret 2009 :

Rini : karya tulis cerpen

Asma : karya tulis cerpen


semua karya, akan dimuat di blog tobucil (tobucil.blogspot.com), jadi bagi yang hendak datang bisa membaca karya para anggota klab nulis yang akan mempresentasikan karya mereka. Acara presentasi karya ini terbuka untuk umum, baik itu untuk melihat saja, mengomentari atau ikut mengkritik.


panelis penguji:
paskalis (lulusan filsafat)
tim juri tobucil (terlen, sundea, wikupedia)


Semua diundang untuk meramaikan acara ini, sampai jumpa di acara presentasi karya klab nulis tobucil & klabs.


Salam klab


Dari Luar “Rumah”

Lomba Artikel Nasional Tentang Perpustakaan

“MEMBANGUN MASYARAKAT CINTA PERPUSTAKAAN”

PENGANTAR

Upaya menumbuhkembangkan minat baca masyarakat bisa ditingkatkan dengan memberikan fasilitas pelayanan perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna jasa perpustakaan.

Bangsa yang maju dapat diukur dari tingkat minat baca masyarakat serta seberapa aktif masyarakat membaca setiap hari. Perpustakaan sebagai penyedia layanan bacaan bagi masyarakat menjadi representasi utama untuk mengukur tingkat minat baca masyarakat, seberapa banyak perpustakaan yang tersedia di suatu negeri, bagaimana fasilitasnya, berapa rasio masyarakat yang menjadi anggota perpustakaan, serta berapa banyak rata-rata buku dipinjam setiap harinya.

Disamping menjadi representasi kemajuan suatu negeri, keberadaan perpustakaan juga diharapkan bisa menjadi agen utama dalam mendorong minat baca masyarakat serta menyediakan bacaan yang cukup dan berkualitas kepada masyarakat. Untuk itulah diperlukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat meningkatkan fasilitas layanan serta melakukan berbagai agenda kegiatan untuk mendorong minat baca masyarakat.

Ada empat elemen penting yang menjadi obyek bidikan agenda besar peningkatan minat baca masyarakat, yaitu pemerintah, perpustakaan, pustakawan dan masyarakat. Pemerintah sebagai penentu kebijakan utama, perpustakaan sebagai fasilitasnya, pustakawan sebagai agen perubahan dan masyarakat sebagai obyeknya.

Sebagai apapun dan siapapun kita, mari semua kita berpartisipasi memajukan Indonesia dengan meningkatkan minat baca kita masing-masing dan minat baca masyarakat di sekitar kita. Mari kita ramaikan dan kita majukan perpustakaan perpustakaan di negeri tercinta Indonesia.

Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

= Lomba Menulis Buku Traveling ==

Dapatkan 2 tiket ke Bali (PP), akomodasi (2 malam), plus uang saku! Caranya
gampang banget.
Bagi kamu yang

senang traveling dan ingin berbagi cerita tentang tempat menarik yang telah
dikunjungi, ikuti lomba menulis

buku traveling seri Jalan-jalan dari GagasMedia. Karya yang terpilih akan
dibukukan dan tentunya kamu

berhak mendapatkan royalti atas penerbitannya.

Sebagai bahan acuan menulis, kamu bisa baca buku Jalan-jalan Bali karya Agung
Bawantara dan Maria Ekaristi.

Kamu bisa menulis tempat wisata mana saja yang ada di Indonesia.
- Yogyakarta, Solo, dan sekitarnya (Jawa tengah)
- Bandung dan sekitarnya (Jawa Barat)
- Sumatera
- Kalimantan
- Manado
- Maluku
- Wisata Air
- Wisata Pegunungan
- Dan lain-lain….

Isi naskah harus meliputi: cara mencapai lokasi wisata, tip dan trik berlibur,
wisata kuliner, wisata

budaya, budget bepergian, dan foto-foto objek wisata (ingat: foto adalah
orisinal jepretan sendiri atau

sudah ada izin dari si
fotografer).

Syaratnya:
- Panjang naskah minimal 75 halaman, spasi 1.
- Naskah utuh (print out, bukan dalam bentuk CD) dikirim paling lambat tanggal
1 April 2009 ke alamat

redaksi: Jl. H. Montong No.57, Ciganjur, Jakarta Selatan 12630.
- Tulis di pojok amplop: Jalan-jalan GagasMedia.
- Jangan lupa lampirkan biodata dan pernyataan tertulis bahwa karyanya adalah
orisinal milik karya sendiri.
- Naskah yang tidak terpilih sebagai pemenang akan dijajaki lebih lanjut oleh
penerbit (kemungkinan terbit

juga ada, lho ?).
- Pengumuman pemenang tanggal 1 Mei 2009 .

Yuk, jalan-jalan keliling Indonesia dan mari menulis ?
“Travel does what good novelists also do to the life of everyday, placing it
like a picture in a frame or a

gem in its setting, so that the intrinsic qualities are made more clear. Travel
does this with the very

stuff that everyday life is made of, giving to it the
sharp contour and meaning
of art.” - Freya Stark



Rubrik :

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^


Sunday, February 8, 2009

Membela Kegelapan


“Jangan takut akan gelap,

karna gelap melindung diri kita

dari kelelahan …”

Jangan Takut Akan Gelap – Tasya dan Duta

Gelap identik dengan hal-hal negatif. Ia menyimbolkan kebodohan, duka lara, dosa, dan keterpurukan. Kita mengenal istilah “abad kegelapan”, “habis gelap terbitlah terang”, “dunia hitam”, sampai seloroh “au ah gelap”. Gelap cenderung dihindari karena pada dasarnya, manusia takut pada yang tak terlihat.

Padahal, di sisi lain, gelap juga menyanyangi kita. Ia seperti tangan besar yang merengkuh kita dalam pelukan. Seperti pejaman mata yang membawa kita pada khayalan dan kenangan menyenangkan. Seperti guru yang membimbing kita membaca situasi dengan indera di luar pengelihatan. Seperti sleeping bag yang melindungi kita dari dingin dan lelah.

Teman-teman, berbaju hitam ke pemakaman, tak selalu berarti duka lara.

Berbaju hitam bisa berarti bersama-sama melindungi almarhum dari kelelahan, dengan kasih sayang.

Semoga blog Tobucil edisi “kegelapan” ini melimpahimu dengan kasih sayang.

Selamat menyambut Valentine …

Salamatahari, semogaselaluhangat,

Tobuciler



Pak Nahrowi : Dari Kegelapan Sampai Olahraga


Salah satu personel kantor pajak yang aktif beredar dan bergaul, adalah Pak Nahrowi. Ia sering mengobrol dengan masyarakat Tobucil, ikut bermain “Peter Answers” bersama Syarif, dan beberapa kali membantu Tobuciler membujuk beberapa teman untuk diwawancara.

Hmmm … bagaimana kalau kali ini Pak Rowi sendiri yang ditanggap sebagai “Teman Tobucil” … ?

Tobucil : Pak, di kantor pajak ini Bapak megang bagian apakah … ?

Pak Rowi : Wah … umum … operasional.

Tobucil : Yang dikerjain biasanya apa aja ?

Pak Rowi : Macem-macem, seperti laporan, pajak …

Tobucil : Ngomong-ngomong, hari ini kenapa pake baju item (di dalam jaket cokelatnya-red), Pak ?

Pak Rowi : Pengen aja … pengen aja jawabannya (diam sebentar). Karena cuaca dingin aja, kalau pakai baju hitam kan jadi anget.

Tobucil : Emang iya, ya ?

Pak Rowi : (mengangguk) Kalau baju hitam kan menyerap cahaya, gitu, baju putih memantulkan …

Tobucil : (manggut-manggut) Bapak suka warna item ?

Pak Rowi : Ya … suka juga, cuma nggak terlalu paporit. Cuman ya ada … celana juga ada.

Tobucil : Terus, yang favorit warna apa ?

Pak Rowi : Yang lembut-lembut aja.

Tobucil : Kalau item lembut suka ?

Pak Rowi : Item lembut yang gimana ?

Tobucil : Ng … nggak tau juga, sih …

Pak Rowi : Yang udah belel, gitu ? Suka. Justru kalau celana jins, bagusnya yang udah belel.

Tobucil : Pak, kan blog Tobucil yang sekarang kan temanya “kegelapan”. Apa pendapat Bapak tentang “gelap” ?

Pak Rowi : Gelap dalam arti apa ? Ya “gelap” artinya nggak ada cahaya. Kalau “kegelapan” lain lagi, ada yang bilang “dunia gaib” atau apa …

Tobucil : Bapak takut sama dunia gaib ?

Pak Rowi : Enggak. Ya dunia gaib pasti ada, ya biasa-biasa aja sebab dunia lain pasti ada. Semuanya dari diri sendiri aja, kalau kitanya berani, jadinya nggak takut …

Tobucil : Bapak pernah bersentuhan sama dunia gaib ?

Pak Rowi : Sering. Ya seperti mimpi atau liat bayangan di depan muka, atau dengar suara, atau kita merinding karena seperti ada yang megang kita, atau di tempat-tempat tertentu kita bisa merasakan ada makhluk gaibnya …

Tobucil : Terus Bapak ngadepinnya gimana ? Pernah Bapak ajak ngobrol, nggak ?

Pak Rowi : Kalau sampe ngajak ngobrol ya di luar kemampuan saya, saya nggak bisa. Paling diperhatikan saja. Dibiarkan seilangnya.

Tobucil : Pengen, nggak, Pak, bisa ngajak ngobrol ?

Pak Rowi : Ya kalau dikasih kemampuan, kelebihan, ya nggak apa-apa. Kalau sama alam gaib jangan sengaja-sengaja (ditantangin) kayak di “Pemburu Hantu” atau “Uka-Uka”. Kalau kita ketemu (secara natural), mungkin malah biasa-biasa.

Tobucil : Setuju, setuju … sekarang kita ngobrolin hobi, Pak. Bapak hobinya apa ?

Pak Rowi : Paling olahraga, badminton sama main bola …

Tobucil : Kalau menurut Bapak, kenapa bola sepak warnanya item-putih ?

Pak Rowi : Sekarang kan udah nggak semuanya item putih, udah pariasi. Kecuali kalau mainnya di salju, pakai yang hitam biar keliatan …

Tobucil : Iya, ya … menurut Bapak, gimana rasanya main bola di salju ?

Pak Rowi : Kurang tau, belum pernah. Paling main di lumpur kalau saya …

Tobucil : (menyeringai) Terus, kalau pendapat Bapak tentang Tobucil ?

Pak Rowi : Ya bagus, banyak kegiatannya.

Tobucil : Bapak pernah ikutan kegiatannya, nggak ?

Pak Rowi : Enggak. Sebenernya … saya pengen usul … (tiba-tiba tampak malu-malu)

Tobucil : Iya, Pak, usul aja, nggak apa-apa … entar aku sampein …

Pak Rowi : Itu … (sempat sedikit ragu) pengen usul … supaya Tobucil ada olahraganya. Klub Olahraga, gitu, badminton, bola, karena saya kan bisanya itu. Lagipula nanti bisa bikin turnamen untuk menjalin kekeluargaan, misalnya lawan Klab Nulis, lawan temen-temennya Agus (Rakasiwi) …

Sambil sibuk mengetik berita, Adi Marsiella, salah satu anggota AJI yang juga teman Agus Rakasiwi, tahu-tahu menyeletuk, “Tenaganya nggak ada, Pak !” “Iya, dia setiap hari udah olahraga,” tambah Tobuciler. “Olahraga apa ?” tanya Pak Rowi. “Nyari berita … hehehe ….,” sahut Tobuciler lagi.

Apakah kegelapan ada hubungannya dengan olahraga ? Entah. Namun bisa jadi, karena hobi olahragalah Pak Rowi memandang kegelapan dengan sikap yang sehat dan fairplay …

Sundea





Menjual Hitam


Judul Buku : Linguae

Pengarang : Seno Gumira Ajidarma

Harga Buku : Rp. 30.000,00

Harga Tobucil : Rp. 27.000,00

Dalam remang, entah pagi entah siang entah sore, entah malam, kami terus menerus saling menguji daya cinta lidah kami. Selalu remang. Hanya remang. Lebih baik remang – karena cinta yang jelas dan terang, yakin dan pasti, bersih dan steril, seperti bukan cinta lagi. Jadi, memang tak bisa kulihat wajahnya dengan jelas – apakah yang masih bisa dilihat dari sebuah wajah yang terlalu dekat, sehingga tak berjarak, ketika saling menguji lidah, selain ketakjelasan dalam keremangan dengan cahaya lembut yang berusaha menembus gorden ?

(petikan dari cerpen “Linguae” ).

----

Kaus “Madrasah Filsafat”

Harga : Rp. 50.000,00

Ukuran : All Size

Tiap orang adalah filsuf dalam kesehariannya, Anda juga. Kenakan t-shirt ini dan nikmati filsofi hidup yang begitu dekat dengan kulit Anda …




Kisah Pembawa Lentera


“Iman itu tak punya dasar. Beriman itu seperti masuk ke dalam lubang gelap. Kita tak tahu apa yang ada disana. Entah kebahagiaan atau malah malapetaka.”

- Soren Kierkegaard


Jika iman itu identik dengan percaya, maka sebelum percaya, konon berdiri keraguan. Keraguan ini katanya yang menjadi dasar segara pemikiran filsafati. Jika kata Kierkegaard iman adalah lubang gelap, maka filsafat barangkali adalah lenteranya. Lentera itu akan mati pula jika sesuatu telah diimani. Tapi setidaknya, filsafat mampu menerangi perjalanan menuju lubang gelap itu. Jika setiap manusia punya sifat ragu-ragu, maka ia juga berhak berpikir filsafati. Barangkali inilah yang menjadi dasar bagi semboyan madrasah falsafah (madfal) yang terkenal itu: semua orang adalah filsuf. Atau sekaligus juga: semua orang adalah pembawa lentera.


Rabu itu hujan mengguyur Bandung cukup deras. Bagi aktivitas madfal, waktunya terasa kurang tepat. Karena turun di sore hari, tepat ketika mereka seharusnya berkumpul. Hujan memang mereda di malamnya, namun tak cukup untuk menghadirkan para pembawa lentera itu ke tengah-tengah suasana dingin di Tobucil. Walhasil, kehangatan yang dirindukan itu pun tak jadi datang. Kehangatan khas madfal. Kehangatan yang cuma bisa diperoleh dari pijaran lentera.


Biasanya, madfal siap berlangsung sejak pukul lima. Acara dibuka oleh seorang pemasalah yang ditunjuk dengan cara entah bagaimana. Pemasalah itulah yang kelak menawarkan masalah untuk didiskusikan dengan yang lain. Tobuciler mengamati, masalah-masalah yang diangkat tak pernah jauh dari keseharian. Judulnya singkat-singkat, seperti: bahagia, idola, memori, tetangga, alienasi, dan sebagainya. Namun masalah ini tak pernah dibahas dengan singkat pula, selalu ada perdebatan yang alot dan padat. Meski demikian, madfal tak pernah lupa dengan asyiknya filsafat. Lentera itu dimainkan di tengah suasana Tobucil. Pendaran cahayanya diputar-putar sehingga gelap-terang silih berganti. Ada yang saling melempar lentera satu sama lain. Yang tertangkap bersorak hore. Yang jatuh dan pecah tak perlu meratapi. Karena ada sesama pelentera yang siap berbagi.


Demikianlah jika madfal berkumpul. Tobucil sekonyong-konyong jadi hangat dan bercahaya. Namun barangkali lentera-lentera itu tak selamanya mampu berbinar. Ia sesekali mesti dimatikan. Selain untuk istirahat, tapi juga sebagai pengingat, bahwa kegelapan juga punya makna. Maka di akhir madfal, tepat setelah pemasalah atau apapun namanya menutup acara, lentera-lentara itu ditiup secara nyaris bersamaan. Mereka mungkin sadar, jika iman tak dihadirkan, selamanya mereka takkan pulang. Iman itu setidaknya berkata tentang: kami percaya, bahwa kami harus pulang. Maka bubarlah para pembawa lentera. Dengan lentera yang gelap dan kosong. Yang akan mereka nyalakan lagi jika mata sudah bosan dengan kepekatan. Begitulah.

Syarif Maulana


Keroncong Pertemuan


-Tobucil, Kamis 05 Februari 2009-

Di tengah kemendungan siang, dua pria bertopi pet mampir di Jalan Aceh no.56. Yang satu menggendong gitar, lainnya memeluk perkusi. Saat Tobuciler hendak memberi mereka uang receh, Wiku menahan, “Entar aja, alus nu ieu mah (bagus yang ini, sih) …”



Semua indah yang dilihatnya

Seakan di taman bunga

Burung dan kumbang senyum riang

Seakan mengetahui di dalam hatinya …


Setelah satu lagu selesai, Tobuciler berdiri lagi, namun kali ini Mas Anwar yang menahan, “Entar, saya mau request lagu …”

Mas Anwar pun me-request salah satu lagu God Bless. Kedua penyanyi keroncong itu bengong sejenak, lalu akhirnya menggeleng karena asing.

Ketika Pak Bambang, ayah Reni, akhirnya memberi uang receh, kedua pengamen itu beranjak pergi. “Mustinya suruh nyanyi lagi aja, tuh,” kata salah satu Bapak di kantor pajak yang diam-diam juga menikmati alunan keroncong para pengamen tersebut. Iya, ya … mereka kan cukup menghibur. Lagipula, pengamen yang disukai biasanya didaulat membawakan lebih dari satu lagu.

Tapi, Teman-teman, persis setelah kedua pengamen itu meninggalkan halaman Aceh 56, langit berangsur cerah. Ranting dan bunga berayun-ayun ditiup angin. Gerisiknya jadi satu dengan burung-burung yang tahu-tahu bercericau raya. Tobuciler terkesiap.

Mungkin kedua pengamen itu adalah penyihir baik hati yang dikirim ke Aceh 56.

Karena “Keroncong Pertemuan” adalah lagu sekaligus mantra, takdir menunjuk mereka membawakan satu lagu itu saja.

Atau mungkin … kedua pengamen itu dua orang baik hati yang sangat disayang Tuhan. Setiap lagu mereka adalah doa yang senantiasa dikabulkan …

Sundea



Ririungan Gitar Bandung : Siap Sinergi dengan Klab Rajut


-Tobucil, Minggu 08 Februari 2009-

Klab Klassik

“Pengen maen aja.”

Kalimat di atas adalah jawaban dari Alka atas pertanyaan dari kawan-kawan Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang bertanya: “Alka kenapa ikut RGB?”. Alka baru berusia sepuluh tahun. Paling muda dari enam anggota RGB lainnya yang rata-rata berumur dua puluhan. Jawaban polos ini mencengangkan bagi Bilawa, salah seorang RGB-ers. Katanya, “Lihat tuh, orang dewasa sesekali mesti mencontoh pola pikir anak kecil. Kita sering banget merumit-rumitkan jawaban, seperti ‘pengen eksistensi diri lah’, ‘pengen silaturahmi lah’, ‘pengen mengembangkan pendidikan musik klasik lah’, dsb. Tapi intinya, ’kita semua pengen maen kan?’ hayo.” Royke, Trisna, Hin Hin, dan Yunus mengiyakan sambil terbahak-bahak.


RGB adalah proyek baru KlabKlassik (KK). Jika biasanya KK berkutat dengan nongkrong-nongkrong dan sesekali mengadakan konser, sekarang KK berinisiatif membuat latihan bersama. Ini konon dipicu oleh dua acara yang dibuat KK dengan judul Classical Guitar Fiesta. Dari acara tersebut, terlihat potensi gitaris-gitaris klasik Bandung yang cukup besar. Daripada terbuang percuma untuk bermain solo semata, ada bagusnya jika bersatu dalam satu kelompok ensembel besar. Di Jakarta telah berkembang Jakarta Enam Senar (JES) yang anggotanya dua puluhan orang, maka setidaknya Bandung merintis RGB ini. Meski baru terkumpul sekitar sepuluh orang (empat tidak datang ketika latihan minggu), namun keanggotaan RGB ini masih akan terus dibuka.


Latihan pertama RGB berlangsung cukup baik, setidaknya bagi pendengaran Tobuciler. Alka sebagai gitaris paling muda, tak sungkan bermain bersama rekan-rekan lainnya yang lebih muda. Bahkan ia menjadi penghangat suasana. Tak jarang sesekali kalimat polos meluncur darinya, seperti: “Kapan nih udahannya?”. Yang lain selalu terbahak mendengarkan celotehan anak itu. Hari itu lagu perdana karya Georg Philipp Telemann yang berjudul Canon and Minuett itu pun beres tuntas dimainkan.


Kehadiran RGB ini barangkali siap menggoyang kemapanan Tobucil. Hal tersebut disebabkan pemainnya yang sebagian besar baru bisa datang di atas jam 12. Ini jelas berbeda dengan yang dijadwalkan yakni pukul 10. Walhasil, kehadirannya terpaksa bentrok dengan Klab Rajut. Beruntung, di latihan perdana kemarin, Klab Rajut sedang tak banyak yang datang. Jadinya, RGB mendominasi bangku-bangku beranda Tobucil. Hal yang mesti dipikirkan RGB nantinya adalah: bagaimana jika Klab Rajut berjalan normal? Bilawa sempat mengusulkan untuk disinergikan saja. Musik dari RGB yang relatif tenang katanya cocok digunakan sebagai pengiring kegiatan rajut merajut. Lalu timbal balik dari Klab Rajut? Semuanya sempat mengerutkan kening hingga beberapa lama, hingga Bilawa mendapat ilham, katanya, ”Stik rajut itu kan persis tongkat konduktor. Nah bagaimana jika gerakan rajut merajut dijadikan patokan penjaga tempo kita?” jrek nong!

Syarif Maulana



Grayscale



























catatan : ini adalah teman-teman yang sering nangkring di Tobucil.
Kiri atas : Agus Rakasiwi, kanan atas : Rudy Rinaldi, tengah : Frino Barus, kiri bawah : Key, kanan bawah : Agus Bebeng



Desiyanti Wirabrata adalah Pengrajin diskusi; penikmat kopi dan obrolan dari hati, serta penyiar radio Mustika Parahyangan 107.5 FM







Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan ragu memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, yaaa ...

Puas Berkreasi di Crafty Days Recycle Attack


Jumat (5/12) pagi-pagi, Melly udah muncul di rumah Jakarta. Kami janjian ke Bandung untuk acara *Crafty Days & Recycle Attack* tanggal 6-7 Desember 2008. Saya dan beberapa teman yang siangnya nyusul udah "signing kontrak" sama boss Melly untuk jadi SPG booth-nya *Greenlifestyle *di acaranya *Tobucil* ini.

Seperti biasanya, Kaysan yang satu paket sama saya, juga ikut ke Bandung. Didn't know what to expect, plan B-nya, kalau bosen di Tobucil paling Kaysan main ke tempat sepupu-sepupunya. Out of expectation, ternyata oh ternyata...Kaysan abis magrib baru mau pulang ke rumah eyangnya di hari itu.

Besoknya, hari pertama acara (Sabtu), dia nyaris nggak mau beranjak pergi sebentar juga dari Tobucil. Begitu juga Minggunya, pas hari kedua acara. Malah Senin pagi, dia minta ke Tobucil lagi, padahal udah nggak ada acara. Trus minggu depannya pas saya mesti ke Bandung lagi, dia minta ikut mau ke Tobucil.

Halah...penasaran, nggak, ada apa di Tobucil sampai Kaysan maniak gini? Emang pas banget deh kalo Tobucil disebut Dea “Tempat Ok BUat anak keCIL” :-)

"Kaysan mau bantuin ngecat nggak?" - itu sapaan hangat dari K' Mul yang jadi awal semuanya. Seperti biasa, Kaysan nanya-nanya dulu - "ngecat apa, emang mau buat apa dll", sebelum akhirnya dia memutuskan mau.

Akhirnya dia on-off deh bantuin Mul ngecat sampai sore. Sambil diseling buat aneka prakarya, mulai dari gambar-gambar, motong-motong sedotan dan disusun jadi rakit, buat wayang gajah dan harimau juga sekaligus jadi dalangnya, sampai buat pin dari tutup botol. Diajak pergi makan, dia malah pilih tinggal di Tobucil. Wuih padahal ini tempat baru dan orang-orang baru.

Seharian di Tobucil bantuin ini itu dan nanya-nanya, Kaysan mulai paham sendiri besok bakal ada pameran di Tobucil. Sebelum pulang Melly sempet wanti-wanti: "besok jaga pameran ya Kay...". Malamnya dia di rumah cerita deh dengan exciting ke eyangnya kalo besok mau jaga pameran.

Besoknya, pagi-pagi Kaysan udah nggak sabar pergi. Bolak-balik nanya, “Kita ke Tobucil, ya, Bu.”

Sampai di Tobucil, lagi-lagi dia disambut hangat dan diajak lihat robot dari barang bekas, yang dari hari sebelumnya udah disebut-sebut kakak-kakak Tobucil. Langsung dong Kaysan terkesima dan terpaku di depan robot-robot itu.

Lagi-lagi di hari pertama pameran itu Kaysan menolak diajak pergi dari Tobucil, sekalipun dengan iming-iming beli buku yang biasanya tidak pernah dia lewatkan. Siangnya pas diajak pergi lagi, kali ini sama temen mainnya waktu di Bandung, tetap dia milih nggak ikut. Tapi kali setelah rada dipaksa, soalnya mau makan siang, baru dia mau juga keluar dari Tobucil.

Hari ke dua pameran, jadwal saya jadi SPG Greenlifestyle. Jadi memang nggak ada rencana untuk pergi-pergi. Hari itu Kaysan belajar bikin robot sama K' Evan dari Recycle Experience. Semua sepupunya yang datang siangnya, dia tawarin belajar buat robot (hmmm..bakat sales nih). Trus juga nyobain aneka mainan tradisional anak sunda yang digelar Komunitas Hong.

Kaysan juga dapat temen baru yang seumur, sayang lupa tanya namanya, ibunya punya booth makanan. Berdua sibuk eksplorasi segala rupa, mulai dari akur kerja sama gantian dorong main kereta bambu Komunitas Hong, sampai rebutan remote contol-nya robot barang bekas yang bisa jalan.

Sampai di Jakarta, Kaysan langsung bongkar container barang bekasnya. Ada botol plastik, rol tisu gulung, pot bekas yoghurt, kotak-kotak bekas dan masih banyak barang lain yang emang selama ini sudah kami kumpulkan. Langsung deh sibuk dia berkreasi buat segala macam jenis robot. Dan...sampai hari ini masih terus berlanjut.

Malah kalo ada barang yang udah mau dibuang sama orang lain dia suka spontan komentar: "ini bisa kaki, badan, atau apapun yang berasosiasi dengan robot". Benar-benar nggak dikira, pengaruhnya akan begitu besar. Sepertinya datang satu hari sebelum pameran membuat Kaysan cukup akrab dengan suasana Tobucil dan percaya diri untuk esksplorasi sendiri.

Waktu abis acara Crafty Days & Recycle Attack, rasanya udah nggak sabar pengen langsung nulis. Tapi apa daya segala deadline menunggu. Jadi sekarang baru bisa bilang thanks a billion dari Kaysan dan ibunya untuk kakak-kakak semua di Tobucil...K' Tarlen, Dea, Upi, Elin, Mul, Wiku, Rudi, Reni dan so pasti k' Evan dari Recycle Experience...untuk pengalaman baru dan kehangatannya. ***

Tulisan ini dapat juga ditemukan di http://kaysan.multiply.com


Ibu Shanty adalah aktivis Greenlifestyle yang kini berdomisili di Jakarta. Ia adalah Ibu dari Mikail Kaysan Leksmana yang cerdas, menggemaskan, dan tampak sudah belajar mencintai lingkungan sejak dini.




Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …



Cara Menolong Sunset


Suatu kali, ada temen yang nanya ke Dea,

"Lo lebih suka sunrise ato sunset?"
"Sunrise," Dea bilang.
"Kenapa?"
"Soalnya sunrise penuh semangat, harapan, dan keadaan pas segala sesuatu baru mulai ..."
"Kalo gua lebih suka sunset ..."
"Kenapa?"
"Soalnya sunrise nggak perlu ditolong, sunset yang perlu ditolong ..."

***


Tadi pagi, Dea baru bisa ngehayatin istilah "sunset perlu ditolong" yang dibilang temen Dea. Ada sesuatu yang bikin Dea sediiiih ... banget. Bener-bener sedih sampe Dea nggak tau lagi rasanya jadi "sunrise". Dea ngerasa perlu ditolong, tapi nggak tau musti minta tolong sama siapa dan maunya ditolong gimana. Akhirnya Dea duduk sendirian di meja belajar sambil nangis. Udah lumayan lama Dea nggak nangis kayak gitu.

Karena tadi pagi yang "tinggal" cuma Dea dan si perasaan sedih, Dea nggak bisa ke mana-mana kecuali sepenuhnya ngerasain rasa sedih itu. Ternyata, ketika nggak Dea sangkal, sedih itu malah kerasa lebih nyaman. Waktu Dea nangis aja tanpa ditahan, tenggorokan Dea lebih nggak sakit. Capek. Tapi Dea malah baik-baik aja.

Udahnya Dea ngerasa lebih enak. Meskipun masalahnya masih ada, nerima keberadaan si masalah lebih dari cukup untuk nganggep dia hampir sepenuhnya terselesaikan.

Sekarang Dea tau cara nolong sunset. Just let it settled down completely. Dia sunset, jadi nggak semestinya dipaksa jadi sunrise.

Lagian Dea percaya.
Matahari terbit sempurna setelah dia tenggelem dengan sempurna juga.

Let's prepare to rise and shine brighter ^_^ v

Sundea


Rabu Ini : Madfal "Galau dan Kosong"


Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 11 Februari 2009
dengan tema "Galau dan Kosong"

Rabu, 11 Februari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Klab Komik Manyala

Tema : Wordless Comics

Bersama : Azizah.

Jam : 15.00

Tempat : Tobucil

GRATIS !!

Agenda di luar "rumah" :



Rubrik :

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^

Tobucil mengucapkan, selamat menyambut hari Valentine …


Sunday, February 1, 2009

Merayakan Perubahan


Remy’s father: You can’t change nature!

Remy: But, Dad, change is nature!

-Ratatouille movie-

“Eh, jamnya beda !” tunjuk Tobuciler saat melihat jam hijau yang tergantung di dinding Tobucil. “Iya, yang dulu batrenya abis,” sahut Mbak Elin.

“Jamnya berubah, waktu juga berubah terus,” kata Tobuciler.

“Waktu nggak berubah, waktu itu konstan,” sangkal seorang teman.

“Oh, iya, ya …”

“Berarti nggak ada yang perlu dirayakan.”

“Lho, kok ?”

“Sesuatu dirayain karena istimewa. Kalau sama aja buat apa dirayain ?”

Waktu memang konstan, tapi hidup tidak. Waktu menandai perubahan, tapi dia bukan perubahan itu sendiri. Pengertian tersebut justru membangun kesadaran sebaliknya di kepala Tobuciler, “Segala sesuatu istimewa. Mereka perlu dirayakan karena waktu yang terus bergerak menandai yang berubah dan berbuah …”

Mari merayakan ini dan itu; bentuk awan yang tak sama dengan menit sebelumnya, orang-orang di jalan yang berganti setiap harinya, telinga kita yang menangkap beragam suara, buku bacaan kita yang memasuki halaman selanjutnya

Teman-teman, terima kasih untuk selalu ada; konstan seperti waktu dan istimewa seperti hidup.

Terima kasih karena telah membuat setiap tempo kami menjadi hari raya …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah …

Tobuciler



Pak Dadang : Dulu Kueh, Kini Cuankie


Selain Pak Atang the “Roti Man”, Tobucil juga memiliki Pak Dadang the “Cuankie Man”. Karena membludaknya konsumen makanan hangat berkuah pada musim hujan ini, Pak Dadang tampak sering singgah cukup lama di Tobucil. Dan di tengah kesibukannya melayani orang-orang lapar, Tobuciler masih sempat mengobrol dengannya …

Tobucil : Udah jualan dari kapan, Pak ?

Pak Dadang : Yah … paling tiga taunan …

Tobucil : Sebelumnya kegiatan Bapak apa ?

Pak Dadang : Jualan kueh.

Tobucil : Terus, kenapa pindah jadi jualan cuankie ?

Pak Dadang : Ganti propesi aja …

Tobucil : Oo … hehehe … enakan jual kue ato cuankie, Pak ?

Pak Dadang : Ini … (sambil menunjuk pikulan cuankie-nya)

Tobucil : Kenapa ?

Pak Dadang : Ya susahlah, kalo ini kan bisa sore-sore, kalo kueh harus pagi-pagi.

Tobucil : Apa yang istimewa dari cuankie Pak Dadang ?

Pak Dadang : Kurang tau saya …

Tobucil : Ng … maksudnya, misalnya, lebih enak karena bumbunya lebih meresap, kuahnya lebih gurih, atau mie-nya lebih pulen … ato gimana ?

Pak Dadang : Ooh … bumbunya Indofood, saos, sambel, seledri, bawang goreng, Sasa, kecap Bango …

Tobucil : Oh … (sambil melirik topi berbordir ‘Indomie’ yang dikenakan Pak Dadang) baiklah. Kapan, Pak, mulai jualan di Tobucil ?

Pak Dadang : Lupa. Saya lewat, gitu, terus dipanggil.

Tobucil : Seneng, nggak, Pak, jualan di sekitar Tobucil sini ?

Pak Dadang : Lumayan.

Tobucil : Ada yang berkesan, nggak, dari jualan di sini ?

Pak Dadang : Nggak ada, biasa-biasa aja …

Tobucil : Kalau bukan di Tobucil, selama jual cuankie, Bapak punya pengalaman yang berkesan ?

Pak Dadang : Enggak, begitu aja. Ini mah setoran, ada bos-nya …

Tobucil : Oh … begitu, ya. Tapi dari jualan ini masih untung, nggak, Pak ?

Pak Dadang : Ya lumayan. Sehari kadang dapet empat puluh (ribu), lima puluh (ribu), kadang lebih …

Tobucil : Sama jual kue, untungan mana ?

Pak Dadang : Ya ini …

Tobucil : Cuankie-nya seporsi berapa, sih, Pak ?

Pak Dadang : Enam ribu. Tapi ada empat ribu, ada juga lima ribu, terserah yang belinya …

Tobucil : Hmmm … begitu, ya. Udah berkeluarga, Pak ?

Pak Dadang : Sudah.

Tobucil : Udah punya anak ?

Pak Dadang : Sudah. Ada dua, yang satu kelas dua SD, satunya lima taun, belum sekolah.

Tobucil : Mereka suka makan cuankie bapak ?

Pak Dadang : Suka, kalo saya pulang …

Tobucil : Apa lagi, ya ? Ya udah, deh, kayaknya gitu aja. Makasih, ya, Pak, aku pesen satu, deh, cuankie-nya …

Saat Pak Dadang menciduk kuah cuankie, aroma bumbu yang gurih melayang-layang menghampiri hidung Tobuciler. Asapnya yang hangat, seperti mempromosikan kehangatan si cuankie itu sendiri.

Mie yang pulen, bakso yang kenyal, dan batagor yang tenggelam dalam kuah, tampak seksi disiram kecap, saus, dan sambal. Taburan seledri dan bawang goreng di atasnya memberi kesan rasa “kres-kres”. “Cuankie pakai Indomie,” kata Pak Dadang sambil mengantar cuankie kepada teman-teman di kantor pajak.

Hmm … tampaknya, sore itu Pak Dadang akan pulang dengan pikulan kosong. Kedua anaknya harus mencari makanan lain …

Sundea





Perubahan Ukuran dan Penampilan

Perubahan Ukuran

Judul : Tintin

Pengarang : Herge

Harga : Rp. 45.000,00

Harga Tobucil : Rp. 40.500,00

“Tintin” mengalami perubahan ukuran. Kini ia lebih imut-imut dan praktis. Judul-judul yang masih tersedia di Tobucil : “Tongkat Otokar”, “Tintin di Amerika”, “Rahasia Unicorn”, dan “Pulau Hitam”. Buruan … sebelum kehabisan …


Perubahan Penampilan

… dengan membeli kalung ini kamu akan merasa memasuki tahun baru Cina seutuhnya.

Hanya dengan Rp. 100.000,00, kamu dapat memiliki karya seni limited edition ini.















created by Palupi

Untittled






Pram adalah mahasiswa yang juga menjadi freelance photographer. Dapat ditemui di ndutwaria@yahoo.co.id, serta friendster dan facebook dengan alamat email yang sama.





Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan ragu memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, yaaa ...

Tobucil Masuk Tivi ?


-Tobucil, Rabu 28 Januari 2009-

Di tengah kesepian madrasah filsafat, sebuah rombongan lengkap berkamera, tahu-tahu meramaikan suasana. Siapa mereka ? Dari mana datangnya ? Konon mereka adalah tim Production House yang biasa mendistribusikan berita ke televisi-telvisi lokal, antara lain CTC.

Tahu-tahu juga, Wikupedia, Koordinator Klabs Tobucil, sudah duduk di salah satu kursi beranda. Berhadapan dengan pembawa acara yang mirip Irgi Fahrezi, Wiku mengobrol mengenai Tobucil.

“Jadi kamu koordinator semua Klabs di Bandung ?” tanya pembawa acara itu.

“Ng … lain oge (bukan juga) …,” jawab Wiku yang tentu saja bukan koordinator Klab Motor se-Bandung, misalnya …

Penge-shoot-an itu hanya berlangsung sekitar sepuluh menit. Selanjutnya tim production house pulang, menyisakan kebingungan di antara semua teman yang berkumpul di kemungilan beranda Tobucil. Jadi sebetulnya, seperti apa persisnya production house tersebut ? Kapan dan untuk acara apa kira-kira Tobucil akan ditayangkan… ?

Segalanya terjadi begitu cepat, sejenak mengisi ruang yang kosong di madrasah filsafat.

Apakah itu kenyataan ? Atau sebuah mimpi kolektif ?


Entah.

Sundea


foto : Desiyanti

Lima Jagoan. Berubah !


-Tobucil, Kamis 29 Januari 2009-

Klab Komik Manyala

“Gid, jadi lo nonton di sebelah mana ?”

“Nggak jadi nonton, jadinya workshop …”

“Hah ?”

Begitulah. Klab Komik yang direncanakan akan “nonton bersama” itu, berubah topik menjadi workshop bertema “Translasi Gerak dan Suara dalam Komik”. “Tapi prepare for the worst, ya, dua hari yang lalu hp gue ilang, jadi gue nggak sms siapa-siapa,” ujar Gide, sang pemberi materi. Yohan, Markus, dan Devia yang hadir, mengangguk menerima.

Sambil berharap ada wangsit yang mengundang teman-teman lainnya datang, Yohan, Markus, Devia, dan Gide sendiri, mengobrol ngalor-ngdul tentang bermacam hal. Mulai dari anjing galak sampai ideologi negara. Mulai dari jambul Tintin sampai pengaruh Doraemon. Terakhir, Eric datang untuk menjadi “lima sempurna” di antara “empat sehat”. Obrolan pun menjadi … tetap ngalor ngidul … hehehe …

“Workshopnya diundur,” Gide menyampaikan pada Tobuciler yang menunggu-nunggu bahan gosipan. “Lho …? Jadinya buat minggu depan ?” tanya Tobuciler. “Enggak, sih, minggu depan kan Klab Komik nggak ada, minggu depannya lagi udah ada materi, dua minggu ke depannya lagi juga udah ada, berarti … enam minggu setelah sekarang.” JREENG …

Namun, Teman-teman, ketika pertemuan akan disudahi, tampak Gide jadi merasa terbeban dengan kesudahdatangan peserta yang ada. Akhirnya rencana berubah lagi. Materi diberikan meski sekedar garis besar. “Gladi bersih untuk enam minggu ke depan,” kilah Gide.

“Keilangan hp itu seperti lost all of your past and half of your future,” ujar Gide. Tobuciler mengangguk-angguk. Sambil mencatat semua peristiwa yang mungkin dicatat, Tobuciler mengunyah ungkapan yang terdengar renyah dan tepat tersebut.

Hmmm … when you lost all of your past and half of your future, changes are pointed to your present …

Sundea



Party-Party, Men's Party


-Tobucil, Minggu 01 Februari 2009-

Ada pesta di beranda Tobucil. Satu-satunya di Bandung. Release Party KDE 4.2 digelar, berbarengan dengan launching OpenSUSE 11.1 Linux. Hmmm … sebetulnya apa, sih, KDE dan OpenSUSE ?


KDE bukan “Kontes Dangdut Endonesya” dan OpenSUSE bukan seuatu yang “suse dibukenya”. Mereka adalah distro, alias varian, dari program Linux yang terkenal itu. “KDE ini desktop, bikin tampilan friendly dan enak dilihat,” kata Mas Bayu, pengembang distro Linux “blankon”. Seperti dipresentasikannya, menu KDE dapat tampil berputar-putar seperti dadu atau diberi aksen bunga-bunga es yang tampak menyejukkan.


Sementara, OpenSUSE adalah varian Linux yang mengkombinasi segala sesuatu menjadi sistem operasi yang lengkap. “OpenSUSE cabangnya lebih banyak karena dia open source,” kata Mas Andi, koordinator Komunitas OpenSUSE di Bandung. Lalu, apa pula open source ? Open source adalah keterbukaan Linux untuk dikembangkan dan dikembangkan lagi oleh setiap pengguna. Grupnya yang tersebar di seluruh dunia pun senantiasa online untuk membantu user-user baru. “Ada yang komersil, ada yang emang komunitas aja,” ujar Mas Bayu.


Pak Vavai, pengguna OpenSUSE yang hari itu juga berpresentasi, menceritakan senangnya menggunakan program OpenSUSE Linux. “Linux lebih aman dari virus,” ia mengungkapkan salah satu alasannya. Selain itu, support komunitas pun menjadi pertimbangan. “Kalau ada kesulitan, tinggal posting ke millist, selesai. Selesai karena nggak ada yang nggak ada yang nanggepin … hehehe,” ujar Pak Vavai yang tentunya sekedar kelakar.


Setelah presentasi selesai, berbagai pertanyaan dari pestawan (betul-betul pestawan ! Tidak ada satu pestawati pun di acara tersebut, entah mengapa) bergantian terlontar, “Apa OpenSUSE ada versi minimalisnya ?”, “Apa spesifikasi yang paling standar?”, “ Sebagai pengguna baru, sebaiknya saya memakai distro yang mana ?”


Di penghujung acara, Mas Banung, salah satu teman Tobucil, tahu-tahu mengajukan pertanyaan, “Kenapa, ya, Linux lambangnya selalu hewan ?” GEDEBRUS !


Tobuciler melirik icon bunglon menggemaskan yang tergambar di banner OpenSUSE. Juga teringat pada icon penguin imut yang menjadi lambang Linux. Menurutmu, kenapa hayo … ?


Link Open SUSE : www.OpenSUSE.org

Open SUSE Indonesia : www.OpenSUSE.or.id


Sundea



Perjalanan Mandi Matahari


Bagian tiga

Klikdi sini untuk membaca bagian satu, dan di sini untuk membaca bagian dua

Mari berjalan-jalan menyusuri kota Bandung bersama Andika Budiman

jembatan sudah selesai diperbaiki! Artinya pilihan rute saya menuju ke kampus kembali menjadi dua. Setelah mendapati Reading Lights ternyata buka, dengan perasaan lega saya memutuskan untuk pulang. Rencana mandi sinar matahari saya gagal total, tetapi siapa sangka mandi hujan gerimis bisa sama menyenangkannya?




Rupanya ‘perjalanan’ saya belum selesai. Di depan pom bensin Suci, tanpa sengaja saya menabrak sedan putih. Lampu motor hancur dan pintu kiri depan dan belakang mobil yang tertabrak catnya tergores. Pengendara-pengendaranya pun menepi. Saya disalahkan pengendara mobil. Kemudian kami berunding soal ganti rugi, dan berakhir pada nominal 800 ribu. Saya sangat sedih. Apalagi kondisi keuangan tengah cekak, dan harus membebankannya kepada ibu. Mungkin bagi saya 800 ribu merupakan sepotong jaket Fred Perry; mentraktir teman makan di The Wind Chimes; 30 novel paperback; biaya kuliah 5 SKS; atau 160 DVD bajakan. 800 ribu yang bisa saya habiskan untuk membeli Friends, Chocolate, and Lover-nya Alexander McCall Smith, setengah lusin donat untuk teman lingkaran menulis saya, Ice Hazelchoco yang diminum sembari mencemil donat, oleh-oleh untuk kunjungan ke tempat kakak, bahkan membeli jaket kulit palsu di Babe. Namun bagi orang lain, 800 ribu adalah gaji bekerja selama satu bulan. 800 ribu digunakan untuk membeli beras, membayar uang kos, bayar listrik, air, biaya sekolah anak, sampai membeli bahan makanan. Saya menyesali bisa sampai kehilangan 800 ribu sebelum merasakan maknanya yang lain.


Masalah tabrakan selesai petang ini, dan saya berniat untuk terus mengingatnya agar selalu berhati-hati. Perasaan sedih belum hilang, meskipun saya sudah berulangkali mengucapkan maaf kepada ibu. Ketika bersedih, saya teringat perjalanan yang saya lalui sebelum menabrak mobil, dan bertanya-tanya, Saya baru saja mengalami sebuah kejadian yang buruk setelah melalui sebuah perjalanan yang menyenangkan, apakah perjalanan itu tetap eksis? Apakah pengalaman buruk setelahnya lantas membuat perjalanan itu jadi tidak ada? Tidak. Saya tahu bahwa perasaan hangat yang dirasakan di atas motor sambil mendengarkan musik dengan mata jelalatan kemana-mana adalah perasaan yang nyata, yang akan saya ingat-ingat terus setiap mendapat pengalaman yang buruk.


Satu-satunya yang bisa saya lakukan untuk melindungi diri sendiri hanyalah ikhlas menerima keadaan. Things happen randomly, with reasons(?). Di rumah, saya menyalakan komputer dan mengumumkan berita bahwa saya menabrak mobil kepada siapapun yang sedang online. Ketika saya chatting dengan seorang teman baik dan mengeluhkan tentang bagaimana tabrakan ini terjadi karena saya bepergian dengan ‘nggak meaning(ful), si teman itu lantas bertanya, "Emang lu abis dari mana?"


"Keliling-keliling doang. Tadi siang cuacanya cerah banget. I just felt like soaking up the sun."


"Itu MEANING ANDIKA," sahut teman baik saya.

Tamat

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.





Cerita Truk Pasir


Pada suatu siang, sebuah truk pasir dateng ke Tobucil. Platnya bukan

“D”, jadi kemungkinan besar dia dateng dari luar Bandung. Jalannya juga terhuyung-huyung. Pasti karena di baknya ada segunduk muncung pasir yang bikin dia kayak keberatan banget.

Si truk parkir di pekarangan Jln. Aceh no.56. Abis itu, Pak Supir dan temennya keluar dari mobil, ngebuka pintu bak dan … WURRRRR …. Si Pasir ngalir dari dalem bak. Dea meratiin gimana gundukan muncung itu aus, ngalir seperti pasir di jam pasir. Sebentar kemudian, truk jadi kosong. Pasir yang dia angkut dari jauh pindah ke atas batu-batu di pekarangan.

Setelah ngaso-ngaso sebentar, Pak Supir dan temennya kembali ke mobil untuk berangkat lagi. Kali itu si truk udah nggak terhuyung-huyung. Gundukan pasir yang ditinggal bikin punggungnya jauh lebih ringan. “Dia pasti ngerasa lega dan bahagia sekarang …,” pikir Dea.

Tapi … tunggu dulu. Dia kan truk pasir. Waktu jalan-jalan tanpa pasir, jangan-jangan ketrukpasirannya malah jadi nggak utuh. Lagian, setelah nempuh perjalanan jauh bersama, apa tanpa si pasir truk nggak jadi ngerasa sepi ?

Siang itu Dea jadi kepikir.

Untuk beberapa hal, mungkin lega dan hampa hampir nggak berbates.

Sundea

Untuk melihat artikel dengan foto si truk pasir, klik di sini




Ririungan Gitar Bandung


Dari Klabs :

Madrasah Falsafah :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 04 Februari 2009
dengan tema "Selingkuh"

Rabu, 04 Februari 2009
17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming madrasah falsafah, 11 Februari 2009 : “Galau dan Kosong”.

Klab Klasik :

Ririungan Gitar Bandung

Minggu 08 Februari 2009

Jam 10.00 -12.00

Acara dari luar “rumah :

klik pada gambar

Zipper Zone, Master of Your Domain
Mella Jaarsma

1-22 February 2009

Opening :
Sun, February, 8 2009 @ 03 p.m.
officiated by Asmudjo . J. Irianto
at S.14 Jl. Sosiologi no. 14 Komp. Perum. Unpad
Cigadung, Bandung

Public Lecture :
"10 Tahun Perkembangan Seni Mella Jaarsma"
Wed, February, 04, 2009 @ 2PM (open for public)
venue : Soemardja Gallery FSRD ITB, Jln. Ganesha no. 10 Bandung

Workshop :
"Konsep dan Medium"
Wed and Thu 4-5 Febrary 2009 (for magister student only
venue : ruang S2-C (FSRD ITB) dan Soemardja Gallery FSRD ITB

Undangan dapat diperoleh secara GRATIS di Tobucil, Jln. Aceh no. 56



Rubrik

Papantulis :
Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :
Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :
Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Ikuti pula polling rubrik favorit di blog Tobucil ^_^