Sunday, June 28, 2009

Mengingat Hal-hal Baik

 

“Inget Si A ?” tanya seorang teman. “Oh, inget. Yang suka ngerebut pacar orang ?” tanggap teman yang lain. “Inget acara bulan kemarin ?” tanya teman yang lain lagi. “Inget, inget. Yang dekornya jelek banget itu kan ?” tanggap teman yang lainnya lagi.

Ingatan kita kerap mengidentifikasi seseorang atau peristiwa melalui hal yang buruk. Trauma bisa menguapkan kesan-kesan yang baik, tapi kesan-kesan baik tak mudah menguapkan trauma. Mungkin secara alami, sistem itu menjaga manusia agar terus waspada dengan ingatan sebagai radarnya.

Namun ada kalanya kesadaran kita perlu membantu ingatan mengidentifikasi melalui hal-hal baik.

 

“Inget Si A ?”

“Oh, inget. Yang cantiknya unik itu kan …?”

“Inget acara bulan kemarin ?”

“Inget, inget. Yang pengisi-pengisi acaranya semangat banget dan dateng on time itu kan ?”

 

“Ingat Michael Jackson ?”

“Oh, yang bikin taman bermain buat anak-anak kan ?”

“Yang beberapa lirik lagunya menyentuh dan dalem ?”

“King of Pop yang jadi icon taun 80an … ?”

 

Mengingat hal-hal baik adalah sistem kesadaran yang mensugesti kita untuk menjadi hal-hal baik juga. Bersama blog Tobucil minggu ini, mari mengingat hal-hal baik dan menjadi hal baik yang menyebar ke segala arah seperti sinar berlian.

Teman-teman, semoga kami dapat tinggal dalam kesadaranmu sebagai hal-hal baik.

Seperti kalian yang senantiasa terjaga sebagai ha-hal baik dalam ingatan kami.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

resizedkartu pos dari Ibu Maria

Bagi Saut Situmorang, Poetry is a Joy Forever

mainpic Saut Situmorang menyambangi Tobucil bersama dua orang temannya. Sambil menyanyikan lagu Utha Likumahuwa dengan suaranya yang berat, ia duduk di beranda Tobucil. “Bang Saut bakal lama, nggak, di sini ?” tanya Tobuciler. “Sampai besok pagi. Kenapa ?” ia balik bertanya. “Mau, nggak, diwawancara buat rubrik ‘Teman Tobucil’ di blog Tobucil ?” tanya Tobuciler lagi. “Gimana kalau aku aja yang ngewawancara kau ?” eh … ia malah balik bertanya lagi.

Singkat cerita, akhirnya wawancara dengan Bang Saut Situmorang terlaksana juga.

Teman Saut : Panggilnya Mas aja, dia kan dari Yogya.

Tobucil : Nah … jadi mau dipanggil apa ini ? Bang atau Mas ?

Kangmas Saut : Kangmas.

Tobucil : Ok. Kangmas. Menurut Kangmas Saut, hal baik itu apa ?

Kangmas Saut : Saya.

Tobucil : Hmmm … alesannya ?

Kangmas Saut : Ya … karena tentang saya, kan nggak mungkin saya mengatakan hal-hal jelek tentang diri saya. Namanya juga ‘filosofi saya’. Bahasanya gaulnya megalomania narsistik …

Tobucil : Entar, entar, ini lagi dicatet …

Kangmas Saut : Kau harus belajar short hand sephamore kayak pramuka itu …

Mas Agus Rakasiwi : Semaphore.

Tobucil : (masih sambil mencatat) Hahahaha …

Kangmas Saut : Jangan kau catat itu !

Tobucil : Catet, ah, ini kan ‘filosofi saya’ hehehehe …

Kangmas Saut : Oh, ya sudah.

Tobucil : Sip. Nah. Berikutnya. Menurut Kangmas puisi itu apa ?

Kangmas Saut : “Poetry is a joy forever”, ini saya kutip dari kata-kata penyair Romantik Inggris, John Keats, “Beauty is a joy forever”. Can you handle that ?

Tobucil : Can, can. But why does it?

Kangmas Saut : Because I’m a poet. Because I write poetry.

Tobucil : Terus hal terbaik dari puisi ?

Kangmas Saut : Itulah hal terbaiknya. It gives joy. Memberikan kesenangan, bukan kebahagiaan. Kalau tidak memberikan kesenangan buat apa ?

Tobucil : Terus menurut Kangmas bedanya “kesenangan” dan “kebahagiaan” ?

Kangmas Saut : Kebahagiaan itu itu abstrak banget. Kalau kesenangan lebih down to earth, memberikan hiburan. Hiburan itu sesuatu yang tidak elitis. Kalau kebahagiaan itu lebih elitis, philosophical, … yah … begitulah.

Tobucil : Jadi menurut Kangmas senang lebih baik daripada bahagia ?

Kangmas Saut : Tidak juga. John Keats memilih istilah “joy” karena kesan kata “joy” lebih down to earth saja. Itu juga berkaitan dengan konsep kaum romantik. Diksi-diksi John Keats pun menunjukkan hal itu.

Tobucil : Selama Kangmas jadi sastrawan, apa hal yang paling inspiratif buat Kangmas ?

Kangmas Saut : Maksudnya pengaruh ? Ya … begini aja. Saya dulu di Medan kan ambil sastra Inggris. Saya dulu di sana susah sekali mendapat buku. Tapi ketika saya merantau sebelas tahun di New Zealand, saya menemukan second hand book shop. Itu merupakan sebuah penemuan yang luar biasa untuk cara pandang.

Tobucil : Terus kalau penyair yang paling inspiratif siapa ?

Kangmas Saut : A, kita ngomongin ini aja … sini kutulis … (mengambil alih bolpoin dan buku Tobuciler kemudian mulai mencatat : Baudelaire, Rimbaud, Lautreamont, dan para penyair surrealis Perancis, juga para penyair berbahasa Spanyol seperti Federico Garcia Lorca dan Pablo Neruda. Terakhir saya berkenalan dengan para penyair The Beats dari Amerika)

Tobucil : Banyak amat …

Kangmas Saut : Biar jangan kau taunya-taya aku lagi.

Tobucil : Hehehe … nah, sekarang, hal baik dari Tobucil buat Kangmas apa ?

Kangmas Saut : Karena dulu waktu saya berperang dengan Alwi dari Cirebon dan para penyair Bandung, Forum Sastra Bandung, debatnya di Tobucil. Ada almarhum Benny.R. Budiman yang paling sengit mengritik artikulasi Bahasa Perancis saya karena dia Sarjana Bahasa Perancis. Itu berkesan buat saya. A, malam itu juga untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan anak muda bernama Frino Baricianur Barus yang juga membela Cyber Sastra.

Tobucil : Wah … kapan, tuh ?

Kangmas Saut : Sudah lama. Mungkin sebelum kau lahir. Kapan kau lahir ?

Tobucil : Kemaren.

Kangmas Saut : Kau kerja di sini dari kapan ?

Tobucil : Hari ini. Kan lahir juga baru kemaren … hehehehe … Nah, terakhir. Kangmas udah nerbitin berapa buku, sih ? Mangga dicatet sendiri (menyorong bolpoin dan buku Tobuciler ke hadapan Kangmas Saut)

Kangmas Saut : [mencatat : 1. Saut Kecil Bicara dengan Tuhan (kumpulan puisi), 2. Catatan Kecil (kumpulan puisi), 3.Otobiografi (kumpulan puisi), 4.Politik Sastra (kumpulan esei)] Wah … sudah empat … hebat juga aku, ya …

Tobucil : Cieee … Ok, deh… sip. Segitu dulu. Makasih, lho …

Kangmas Saut : Sudah lebih dari tiga halaman ini, harusnya ada bir dingin.

Tobucil : Aer putih dingin aja, tuh, sehat …

Sambil merapi-rapikan catatan, Tobuciler menyanyikan lagu Easy dari Faith No More. “Are you easy ?” Kangmas bertanya. “Depends on the context,” sahut Tobuciler. Lalu sesuai namanya, Kangmas Saut menyauti nyanyian Tobuciler, “That’s why I’m easy, easy like Sunday morning …”

Sambil menutup buku catatan, Tobuciler menyadari sesuatu.

In some contexts,” life is a joy forever”.

Like every Sunday morning does.

Sundea

fotodua

fototiga






Biodata Saut Situmorang :

Pekerjaan : Penyair

Tempat tinggal : Jogja

Tempat tanggal lahir : Tebing Tinggi, 29 Juni 1966


Indahnya Hidup, Bintang di Dekat Hatimu, dan Kaos Madrasah Filsafat

 

hidupiniindah Judul Buku : Hidup Ini Indah (Kisah-kisah Penyejuk Hati)

Harga : Rp. 20.000,00

Hidup ini indah adalah serial tentang sketsa hidup yang terlalu berharga untuk kita lewatkan. Beragam kisah hidup ditata di dalamnya sedemikian rupa.

Kisah-kisah itu bisa berasal dari mana saja : para sufi, bijak bestari, penganjur cinta kasih, orang suci, guru kearifan, jauh dari bermartabat. Membacanya kita akan menemukan betapa ada sesuatu yang dicari dalam hidup ini kebahagiaan. Seperti ditunjukkan buku ini, jalan untuk menggapai itu bermacam-macam, tidak satu. Dan kita bebas mengambil inspirasi dari semuanya demi menapak jalan kita sendiri.

----

kalungbintang

Handmade by Dian Rinjani

 

Bintang rajutan warna-warni ini dapat tinggal dekat dengan hatimu. Ia seperti kebaikan yang selalu mempengaruhi nuranimu.

Hanya dengan Rp. 35.000,00 kamu dapat membawa sebuah warna bintang.

Klik di sini untuk informasi lebih lengkap

---

Kaos Ulang Tahun Madrasah Filsafat

Kaos ini di sablon dan di produksi dengan jumlah terbatas sesuai dengan permintaan. Penjualan kaos ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan ulang tahun ke 2 madrasah falsafah tobucil & klabs yang akan menggelar perhelatan 'Pesta Filsuf: Merayakan Filsafat Keseharian' pada tanggal 19 Juli 2009 mendatang (detail acara menyusul).

Gambar karya R.E. Hartanto. Dipergunakan atas seizin senimannya. Dengan membeli kaos ini, berarti anda telah mendukung kegiatan tobucil & klabs. Terima kasih.

----

Spesifikasi kaos:
Bahan Katun Kombat tanpa sambungan
Ukuran: M dan XL
Harga: Rp. 80.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan silahkan kirim email ke: vitarlenology@yahoo.com atau tobucil@yahoo.com
dengan mencantumkan pilihan gambar, warna dan ukuran.

Contoh model kaos :

IMG_1401

 

 

 

 

 

 

 

Klik di sini untuk melihat model kaos yang lainnya

Ketika Laptop Tobuciler Tertiban Benang

 

-Tobucil, Senin 22 Juni 2009-

SRRRB … BRUKKKKK … sepaket benang terjun menimpa laptop Tobuciler. Tobuciler yang sedang menyelesaikan rangkaian publikasi blog Tobucil mendadak terkesiap. Layar laptop gelap. Engselnya pun patah. “Sorry, sorry …,” Mbak Upi yang menyusun tumpukan benang merasa sangat bersalah, “Ya udah, yuk, kita ke BEC sekarang, periksa dulu biar nggak makin parah …”

Maka berangkatlah Mbak Upi dan Tobuciler ke Bandung Electronic Center. “Sebenernya ini bisa, sih, dibetulin, tapi kita nggak ada super glue-nya,” ujar Mas Andi, teknisi setempat. “Kalo kita cariin lemnya gimana, Mas ?” tanya Tobuciler. “Boleh …,” jawab Mas Andi. Maka Tobuciler dan Mbak Upi ngacir mencari lem super.

laptopdanmasandi laptop Tobuciler dan Mas Andi

Mas Andi berusaha keras melekatkan engsel laptop Tobuciler, namun percuma. Diiringi lagu Let It Be yang berkumandang di pertokoan, Mas Andi menyeseali, “Aduh, maaf, nggak kuat lemnya. Udah, nggak usah bayar, kan laptopnya nggak jadi bener …”

Plan B kami adalah menyambangi kediaman A Olih alias A Solihin, sahabat Mbak Upi yang agak ke MacGyver-MacGyver-an. “Ini bisa, sih, dibenerin, dilem pake lem besi. Tapi musti didiemin 12 jam. Biarin laptopnya ditinggal di sini ?” tanya A Olih setelah memeriksa laptop Tobuciler. Diiringi lagu Bimbo yang berkumandang dari radio A Olih, “Salam sayang, kasih sayang, salam sayang kau seorang …,” akhirnya Tobuciler mengangguk.

laptopdanaolih laptop Tobuciler dan A Olih

Tobuciler dan Mbak Upi pulang dengan lemas. Untuk menghibur diri sendiri, kami jalan-jalan ke M&M Dago dan makan-makan di Rumah Makan Padang.

-Tobucil, Jumat 26 Juni 2009-

Setelah rapat mingguan rampung, Mbak Upi masuk ke ruang samping Tobucil dengan wajah sumringah, “Saya baru ngambil laptop kamu.” Tobuciler menyambut dengan sumringah juga. Artinya mulai hari itu Tobuciler dapat kembali bekerja dengan laptop sendiri.

“Akhirnya engselnya gua ganti di Plaza,” cerita Mbak Upi. Agak sulit menemukan spare part untuk laptop Tobuciler karena dia adalah Compaq seri lama. “Pas gua dateng terus engselnya gua tunjukin, ‘ada ini, nggak?’ Penjualnya malah nanya balik, ‘Itu apa, ya, Neng ?’ Yah … ,” Mbak Upi melanjutkan ceritanya. Tobuciler tertawa.

“Mulai sekarang, laptop ditaro di meja, ya, kan udah ada meja. Kalo terjadi apa-apa karena nggak ditaro di meja, itu tanggung jawab sendiri-sendiri,” Mbak Tarlen memperingatkan. Pasca kepindahan AJI, ruang AJI memang menjadi ruang kreativitas bagi kerabat kerja Tobucil. Rakotakotak yang fleksibel itu pun difungsikan sebagai meja kerja, seperti terlihat pada foto berikut ini :

ruangkerja

“Kita cari kursi , yuk, kamu nggak musti ngerjain apa-apa lagi ?” tanya Mbak Upi kepada Tobuciler. “Yuk, kalau udah ada si laptop mah santai, udah tenang hidup … hehehe …,” sahut Tobuciler.

Tobuciler dan Mbak Upi pergi dengan sehat. Untuk menyatakan syukur atas ke-happy ending-an tersebut kami bertamasya ke Balubur.

Sundea

AJI Pindah

 

-Tobucil, Rabu 24 Juni 2009-

Malam Kamis itu mendadak sibuk. Ada apa gerangan? Asosiasi Jurnalistik Independen alias AJI akan pindah markas. Kemana mereka? Ke daerah Tubagus Ismail. Selain karena habis kontrak, menurut pengakuan Mas Agus, sang ketua, di Tubagus juga katanya ada yang namanya Berita Bandung, organisasi yang mereka ajak kerjasama. Mobil berbak terbuka menanti di halaman, bersiap mengangkut segala barang-barang AJI yang macam-macam. Mulai dari komputer hingga meja komputer. Namun, menurut Mas Agus, kepindahan ini barulah secara de facto, karena akan ada kepindahan secara de jure, yang diwujudkan dalam bentuk farewell party. Oh Aji, Oh Ratna, cintamu abadi.

Syaraf Maulini

fotoajipindah

 

 

 

 

 

 

 

foto-foto lainnya ada di Flickr Tobucil. Klik di sini

Naik-naik ke Puncak Gunung Bersama D’Java Strings Duet

-Jumat 26 Juni 2009-

Seperti gigi seri dan gusinya, dua personil D’Java Strings Quartet, Rama dan Ade, datang ke Tobucil bersama Syaraf Maulini, manager mereka. “Personil yang dua lagi mana ?” tanya Tobuciler. “Nyusul,” sahut sang manager. Sambil ngabuburit, Mbak Tarlen, Syaraf, Rama, Ade, dan Tobuciler bertamasya ke Selasar Sunaryo. “Siapa tau taun depan kalian bisa main di sana,” kata Mbak Tarlen pada para personil D’Java.

Perjalanan menuju Selasar Sunaryo bagai “naik-naik ke puncak gunung”. Ketika mobil Syaraf semakin menanjak, Ade sang pemain cello tampak panik, “Ini jauh banget. Apa nanti ada yang mau nonton ?” “Ada, ada, pasti ada,” Mbak Tarlen menenangkan. Setelah pada akhirnya mobil Syaraf terparkir dengan damai di Selasar Sunaryo, kedua personil D’Java menarik nafas lega.

Ketika melihat panggung terbuka Selasar, lagi-lagi Ade panik, “Tapi kalau ujan gimana ?” “Kan ada pawang,” sahut Mbak Tarlen. “Iya, ujannya dipindahin. Jadi kalo pas hari kalian main tau-tau di Tobucil ujan, orang-orang di sana pada tau, ‘Wah, artinya D’Java udah mulai main’,” Syaraf menyimpulkan.

adengintip Setelah melihat-lihat, ternyata kedua personil D’Java Strings Quartet segera jatuh cinta pada Selasar Sunaryo. Ade tampak senang melihat adanya backstage yang unik dan Rama tampak menyukai suasana Selasar. “D’Java foto di sini, yuk, biar profile picture di facebook fotonya ganti, masa’ itu-itu terus ?” usul Rama. “Adik kamu foto pre-weddingnya juga di sini, lho,” kata Mbak Diah, pemegang dokumentasi Selasar Sunaryo. “Ya, jadi kesannya sekalian kan ? Ntar di belakang fotonya sekalian ditulisin ‘D’Java Wedding. Terima …’,” usul Rama lagi. Sebagai informasi, di hari pernikahan adik Rama nanti, D’Java Strings Quartet didaulat untuk tampil.

Setelah puas berkeliling, kami pamit pulang. Di dalam mobil, kami berkhayal-khayal tentang tampilnya D’Java Strings Quartet di Selasar. “Di sana kan dingin. Berarti kita pakai jas,” kata Rama. Tahu-tahu, entah dari mana, tercetus ide mengenakan kostum baju rajutan dari Tobucil. “Oh, iya, kita endorse, tapi nanti di belakangnya ada tulisan kayak di backdrop ‘Tobucil : Sedia Aneka Benang Rajut’ hahahaha …,” kelakar Mbak Tarlen.

Seperti apa penampilan mereka di Selasar kelak ?

Tunggu, tunggu, masih ada yang lebih dekat. Minggu (28/06) D’Java Strings Quartet tampil di Musik Sore #3 Tobucil. Silakan simak liputannya ^_^ v

Sundea

berempat

Hujan, Janganlah Hujan

-Tobucil, Minggu 28 Juni 2009-

Musik Sore #3

Sore itu oh sore itu. Mendung sekali nampaknya. Tobuciler khawatir jika terjadi hujan. Mengapa khawatir? Karena sedang akan ada gelaran musik, dan acara itu sungguh tak kedap air. Musik Sore Tobucil (MST) diadakan untuk ketiga kali, dan yang sekarang persiapan terasa matang. Ada empat penampil, dua lokal, dua impor. Impor, maksudnya, dari Jakarta dan Yogya. Gayanya pun beragam. Yang pertama adalah Deu Galih, yang nampaknya menampilkan lagu-lagu yang amat terpengaruh grunge ala Nirvana dan Alice in Chains. Penampil berikutnya, masih lokal, adalah Tesla Jazz Duo,.yang tampil dengan gaya bebop khas Chick Corea dan Pat Metheny. Yang ketiga, mulai impor, adalah penyanyi bernama Yeyen dan Dian. Mereka dari Jakarta, dan sungguh suaranya, subjektif Tobuciler bilang, seperti Beyonce. Yang terakhir, adalah figur-figur yang rajin menghiasi blog Tobucil sepanjang bulan April, yakni D’Java String Quartet, kuartet gesek asal Yogya.

Tobuciler percaya jika hujan adalah rahmat. Tapi Tobuciler akan nyaris tak percaya jika hujan itu turun kala MST, yang mana secara tren, Bandung sedang tidak diguyur hujan dalam seminggu ke belakang. Dijadwalkan jam tiga, Tobuciler sengaja memolorkan hingga setengah empat, menyesuaikan dengan mental penonton yang juga rajin molor. Deu Galih tampil sebagai pembuka. Dan benar saja, teriakan-teriakan ala Kurt Cobain dan suara interval khas Layne Staley keluar sebagai representasi gaya grunge. Sungguh ekspresif. Tobuciler mendadak ingat, di headline Koran PR tahun 1994, ada tulisan, “Kurt Cobain Mati”. Lantas Tobuciler bertanya dalam diri, “Hah, jadi si Kurt ini mati ga nih?” Tapi ya sudahlah, tak perlu dibahas.

deugalihDeu Galih

Pasca Deu Galih, mestinya Tesla Jazz Duo. Tapi berhubung si penampil baru datang, kasihan kecapean, maka Chris Sinatra diminta tampil, berduet dengan Yunus, Yunus apa ya? Chris Sinatra menyanyikan lagu berjudul Perhaps, Perrhaps, Perhaps, yang dilanjutkan dengan sajian instrumental yang diambil dari karya Depape. Akhirnya Tesla Jazz Duo tampil juga. Tesla ini, Tobuciler sedikit cerita, dulunya rajin datang ke KlabKlassik. Maennya, ya main klasik. Tapi dalam setahun dua tahun kebelakang, ia meninggalkan klasik, dan total ke jazz. Dan ini untuk pertama kalinya Tobuciler menanggap dia untuk tampil sebagai jazzer, alih-alih klasik. Tobuciler kaget, Tesla sudah sedemikian kerennya. Menampilkan jazz bebop, berduet dengan basis Galang, penampilannya sungguh memukau. Menghadirkan suasana galau yang kental di garasi Tobucil. Penonton awalnya berkerat-kerut, tapi lama-lama mulai sadar bahwa itu keren. Tampil dengan lagu-lagu semacam Spain, How Insensitive, dan Theme Song Flinstone, Tesla menginterpretasi semuanya dengan gaya yang, apalah namanya, jazz banget pokoknya.

Setelah itu barulah sesi impor. Tampil dua penyanyi yang Tobuciler datang dari Jakarta, namanya Yeyen dan Dian. Dega? Itu nama manajernya. Menyanyilah mereka empat lagu, Halo yang populer oleh Beyonce, Manuk Dadali, Cinta yang populer oleh Vina Panduwinata, dan sebuah lagu berbahasa Prancis yang dipopulerkan oleh Lara Fabian. Ini sungguh sajian yang memukau, karena suara mereka diatas rata-rata. Duetnya sungguh kompak, dan mampu mencapai nada-nada yang mengejutkan. Diiringi Yunus Apa Ya dan Chris Sinatra, mereka sukses mengundang aplaus penonton meriah, terutama di lagu terakhir, yang berbahasa Prancis itu. Oh, stereotip orang Jakarta yang rajin memacetkan Bandung di akhir Minggu, mendadak hilang.

Di puncak penampilan, D’Java String Quartet yang hadir. Datang dari Yogya, mereka sungguh berbeda dari performa di MST dua bulan lalu. Wajar, kala itu mereka menjelang resital, dan hanya mempersiapkan karya-karya klasik yang khas konser. Yang sekarang, mereka nampak berniat menghibur. Ada dua karya populer, dan satu karya klasik, itupun karya klasik nan populer. Pertama dibuka oleh Allegro dari Eine Kleine Nachtmusic karya W.A. Mozart. Tet Totet Totet Totet Tot Teeeet. Begitulah pembukanya. Lagu kedua adalah variasi dari Cublak Cublak Suweng. Ini dimaksudkan, kata Rama sang punggawa, untuk mengimbangi nama D’Java, yang namanya Jawa, tapi kok maennya klasik semua. Maka dimainkanlah itu lagu Jawa. Sebagai penutup, kuartet yang terdiri dari Rama (violin), Dwi (viola), Danni (violin) dan Ade (cello) itu menampilkan karya ragtime populer dari Scott Joplin, judulnya The Entertainer.

DJava D’Java Strings Quartet

Oh sungguh sore yang menyenangkan, dan tahukah bahwa saat itu tak jadi hujan? Sungguh sebuah berkah, kala teman-teman dari sudut Bandung yang lain mengabarkan tengah terjadi hujan deras. Namun anehnya, itu tak sampai ke Tobucil. Ada teori yang bilang bahwa itu gara-gara ada kampanye JK-Wiranto di Saparua, tempat yang dekat di Tobucil. Ada juga teori yang mengatakan karena awan pun menikmati MST. Sehingga ia mau menahan diri. Apapun itu, yang pasti MST sukses berkonsistensi. Di tengah jalur indie yang semakin tidak jelas karena ternyata tak lagi berurusan dengan minoritas dan kebebasan berekspresi. MST, Alhamdulillah, masih punya semangat khas indie yang dulu sempat didengungkan.


mikrofonspeaker

Syaraf Maulini



Ada lebih banyak lagi foto Musik Sore #3 di Album Flickr Tobucil. Klik di sini

Sebuah Rasa yang Dibungkus Kenangan (Filosofi Permen)

Semalam saya bisa tidak tidur, lebih tepatnya tidak sempat untuk tidur. Hal itu terjadi karena pada pagi ini saya harus membuat beberapa gambar yang harus di bawa saat kuliah studio. Kuliah yang harus dilewati selama 8 jam seharusnya di dukung dengan tidur yang cukup, setidaknya setengah dari waktu kuliah. Tapi kenyataannya, pagi ini membuat saya harus berjuang melawan kantuk yang bergantung di kelopak mata bagian atas.


Perjalanan ke kampus seperti sebuah pit stop yang memeberikan saya kesempatan untuk tidak memandang garis – garis yang terlentang di atas kertas. Namun Setelah sampai kampus, saya kembali harus melanjutkan perjalanan untuk membangunkan garis yang ada dalam imajinasi saya untuk segera berpindah tempat ke atas kertas.


Perasaan lelah bercampur dengan perasaan sepi yang ditawarkan oleh pagi di perjalanan . Mungkin pagi juga terkadang merasa lelah karena harus selalu bangun dan membangunkan tepat waktu setiap harinya. Tetapi saya juga melihat ada orang yang sangat gembira di pagi itu, terlihat dari senyum yang tak lepas dari wajahnya.Mungkin bagaimana kita melhat suasana alam ternyata terhubung dengan suasana alam yang ada di hati kita sendiri.


Ahkirnya setelah sampai kampus saya memutuskan untuk lebih lama lagi berada di pit stop. Saya harus mengisi bahan bakar selain sekedar mengganti apa yang saya kenakan di kosan untuk terus melanjutkan perjalanan hari ini. Namun bedanya kali ini pit stopnya bukan jalanan tapi sebuah supermarket yang menjual berbagai macam barang-barang. Tujuan awal saya adalah untuk membeli air mineral dan sebungkus roti untuk sarapan.


Setelah mengambil dua barang itu, saya kemudian menuju ke kasir untuk membayar.Sebelum menuju ke meja kasir (walaupun meja itu bukan punya sang kasir, tapi entah kenapa di namakan meja kasir) seolah olah ada yang menyapa saya dari rak – rak di dekat situ. Setelah saya lihat ternyata ada masyarakat permen dari berbagai macam suku rasa dan merk bangsa. Seolah olah mereka menawarkan penawar rasa sepi pagi ini dengan berbagai macam rasa yang mereka punya. Ahkirnya saya terbujuk dan berlutut di hadapan mereka untuk memilih merk bangsa apa yang saya ingin beli.


Sewaktu saya memilih mereka dalam bungkus besar yang memuat kira – kira 30-50 bungkus kecil. Saya merasa akrab dengan salah satu bangsa permen. Ada sebuah perasaan rindu teman lama yang tak terjelaskan. Saya menjadi bertanya – tanya tentang hubungan apa yang pernah terjadi antara saya dan bangsa permen itu. Setelah saya pegang, bangsa permen yang bernama dynamite dengan bungkus biru sebagai warna dominannya seolah melayangkan imajinasi saya ke samudra. Mencoba mengingat hubungan apa yang pernah terdampar di luasnya itu.


Sejenak terlintas sebuah gambaran akan masa lalu, akan sebuah mulut yang senang mengunyah bangsa dynamite ini. Gambaran itu lambat laun semakin jelas menampilkan sebuah sosok yang sangat akrab dengan saya. Ternyata bangsa permen ini pada masa lalu menjadi sebuah utusan perasaan saya kepada seorang mantan kekasih sewaktu SMA.

permendynamite
Saya masih berlutut di depan rak masyarakat permen itu, tapi bayangan saya sudah melayang jauh melintasi waktu ke masa – masa SMA saya.


Permen dynamite itu mengingatkan bahwa saat saya SMA, saya selalu membeli permen dynamite dalam jumlah besar. Hal itu saya lakukan karena kekasih saya suka dengan permen itu. Lalu setiap pagi saya membawa 2-3 permen ke sekolah. Setiap pagi dan istirahat, saya memberikan dia satu bungkus permen. Saya selalu memberikan itu karena saat itu saya ingin membuktikan bahwa saya bisa membuat dia senang setiap hari dengan memberikan hal kecil yang dia sukai. Mungkin hal itu terlihat aneh atau percuma, karena bila setiap hari di bawa, daya spesial permen itu akan hilang. Tapi yang saya ingin saya sampaikan adalah bahwa dia selalu ada dalam hal – hal kecil di setiap hari saya.


Kenangan – kenangan yang melintas di dalam pikiran saya itu membuat saya tersenyum sendiri di depan rak permen itu. Saya kembali teringat tentang masa – masa SMA. Di setiap paginya, di setiap waktu istirahatnya, di setiap waktu pulang sekolahnya. Saya rasa hal itu adalah bagian yang menyenangkan pada hidup saya. Terlebih saya tersadar keadaan saya yang sendiri saat ini di banding saat saya memiliki seorang kekasih untuk berbagi. Pada saat itu. Saya senang menjadi “seseorangnya seseorang”.


Kenangan – kenangan itu menjadi sebuah penghibur di pagi hari, di tengah sebuah kewajiban kuliah yang harus saya jalani. Permen – permen itu mampu membangkitkan rasa ceria akan sebuah kenangan manis yang pernah saya alami.


Dari perenungan itu, saya berpikir, ternyata sebuah rasa manis pada sebuah permen dapat dirasakan bahkan sebelum membuka bungkusnya. Yang memberikan rasa manis itu justru saat saya melihat bungkusnya , bukan saat saya mengunyah permen itu.


Hal ini sangat serupa dengan rasa manis ( sebuah perasaan bahagia, ceria, semangat, dll) yang dirasakan pada hidup kita. Perasaan - perasaan itu sebenarnya selalu hadir dalam berbagai macam peristiwa,entah itu rasa bahagia saat kita sedang berdua dengan seorang pacar, atau sedang kecewa saat dihianati orang yang paling kita percayai. Namun sebuah rasa itu pun bisa hadir tanpa kita mengalaminya langsung. Karena sebenarnya setiap peristiwa yang sudah pernah kita alami semua terbungkus rapi oleh sebuah instrument pada pikiran kita bernama kenangan.

Seperti layaknya sebuah permen yang membungkus sebuah rasa tertentu di dalamnya. Kenangan yang dimiliki oleh setiap manusiapun membungkus rasa – rasa yang pernah kita alami sebelumnya. Tinggal kenangan bermerek apa yang ingin kita ambil dari setumpuk rak sejarah yang kita miliki.Saat kita mengambil sebuah kenangan tertentu, kita dapat merasakan kembali rasa yang di timbulkan tanpa harus mengalaminya kembali.

Saat itu saya sedang mengamnbil sebuah permen dynamite yang memiliki rasa mint dan coklat di dalamnya, itu seperti saya merasakan sebuah kenangan yang pada awalnya seperti biasa saja tapi manis setelah dipikirkan kembali. Permen apa yang kalian simpan ? permen asam , pedas, atau permen karet yang selalu kalian alami tapi berubah rasanya ?


Tak sadar karena membayangkan hal – hal yang terjadi pada masa lalu, ternyata saya sebenarnya sudah lama sekali jongkok dan berada di depan rak permen itu. Dan sebuah kalimat dari seseorang menyadarkan saya dari lamunan panjang. Katanya “ mas, maaf mas, mau beli permen yang mana ? mungkin bisa lebih cepat memilihnya karena orang yang di belakang mas mau bayar”.


(satu pelajaran penting, jangan mengingat- ingat sebuah kenangan saat kamu berada di jalur sirkulasi orang jalan atau kamu akan merasakan rasa malu atau bahkan rasa kesal yang di berikan oleh orang2 di sekitar kamu.)
“eh maaf ,maaf ",ucap saya dan malah membeli permen lain.


Perenungan ini terjadi karena salah satu mantan kekasih saya di SMA bernama Angie (sekarang telah memiliki kekasih yang mudah – mudahan dapat memberikan rasa manis di hidupnya).Terima kasih kepada dia ( tanpa ada maksud ingin mengembalikan kenangan antara saya dan mantan kekasih saya) dan orang – orang yang pernah mengisi hidup saya menjadi indah.


Filosofi permen ini saya dapat bukan seperti filosofi buah yang saya tulis sebelumnya. Saya tidak pernah terpikirkan untuk memakan BUNGKUS permenya juga.waaaaaaa, saya harus kuliah….


Nantikan berbagai macam filosofi merk bangsa permen lainnya.terima kasih.

 

fotoanexnya Andreas Anex adalah mahasiswa arsitektur Universitas Parahyangan. Ia memercayai pentingnya kesadaran dalam menjalani keseharian. Itu sebabnya, Anex yang menyukai filsafat ini tak pernah jemu  mencermati dan mencatat segala hal yang terjadi dalam kesehariannya. Silakan berkunjung ke rumahnya di http://aneksophie.multiply.com

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Pondok Kapau : Semangat Literasi di Rumah Makan Padang

Di Jalan Dipati Ukur no.100, Simpang Dago, berdiri rumah makan Padang yang cukup unik. Namanya Pondok Kapau. “Pondok artinya rumah,” ujar Bang Ucok, salah satu pegawai rumah makan tersebut. Sesuai namanya, tampaknya Pondok Kapau pun menjadi rumah bagi banyak orang, terutama mahasiwa.

pondokapau

“Kami buka 24 jam,” ujar Ibu Murdiana Hadi alias Zus Mon, pemilik Pondok Kapau, “Kalau malam Minggu, jam 9 malam sampai 3 pagi, kami juga ada main domino spesifikasi permainan orang Minang. Hanya ada malam minggu karena image orang tua, (takutnya) kesannya Pondok Kapau tempat yang tidak menghasilkan. Padahal di sini buku kan menghasilkan. Hotspot juga menghasilkan.”

Buku dan fasilitas hotspot. Inilah hal paling menarik dari Rumah Makan ini. “Cintailah membaca karena dengan membaca akan timbul satu wawasan dan pengetahuan. Sukses akibat lancarnya komunikasi dan informasi,” imbau Zus Mon. Siapapun yang berkunjung ke Pondok Kapau boleh duduk selama mungkin, berhotspot ria, dan membaca koleksi buku yang ada di sana. “Ada yang dari malam di sini, siang saya datang masih ada,” cerita Zus Mon. 

zusmondanbukubuku

Buku yang disediakan cukup bervariasi, mulai dari buku agama sampai politik. Mulai dari filsafat sampai ilmu pasti. Zus Mon bahkan kerap memfotokopi buku-buku konsumen yang dianggapnya menarik.

Bukan hanya itu, Zus Mon juga menggantung kata-kata bijak di seputar Pondok Kapau. Dengan begitu, sadar tidak sadar pengunjung Pondok Kapau terus membaca dan menerima hal-hal baik. “Kata-kata ini saya dapat dari La Tahzan, Khalil Gibran, atau saya punya ide sendiri. Kalau kamu punya ide, bisa juga kamu beri ke saya, nanti saya ketik dan saya bingkai,” ujar Zus Mon.

contohkatamutiara

Ketika ditanya mengenai hal baik, Zus Mon berpendapat, “Jika seseorang bertanya, kita jangan cepat menilai pertanyaan dia nggak masuk di akal. Mungkin kita yang terlampau cepat menilai. Berpikir positiflah setiap hari.”

Menu Pondok Kapau kurang lebih sama dengan Rumah Makan Padang pada umumnya. “Yang banyak dibeli di sini rendangnya,” Bang Ucok merekomendasikan.

Dengan nasi-lauk seharga sekitar sembilan ribu lima ratusan rupiah, kamu bisa makan kenyang sambil membaca dan berhotspot sepuasnya. Kata-kata bijak pun akan selalu melingkupimu, membuat hal-hal baik tak pernah terasa jauh.

Bagaimana ? Tertarik untuk berkunjung … ?

 

hubungikasir

Sundea

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Jingle Bang Bing Bung Yoo Kita Gabung

 syaraf

Asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Rie Yanti (via message FB):

Halo Kak Syaraf. Boleh ya nanya-nanya lagi.

  1. Kenapa Kak Syaraf bergabung dengan Tobucil?
  2. Bagaimana ceritanya sampai Kak Syaraf dipercaya mengasuh rubrik Off Clinic?
  3. Bagaimana perasaan Kak Syaraf ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para pasien? Apakah Kak Syaraf harus bersemadi dulu untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu?
  4. Apa pertanyaan favorit Kak Syaraf?
  5. Mana yang lebih menyenangkan: mengasuh gitar, mengasuh Off Clinic, atau mengasuh Mbak Tarlen?
  6. Itu di foto buat Off Clinic, Kak Syaraf lagi apa? Kok tampak sedang mengetiaki kamera?
    Makasih jawabannya (musti dijawab lho. Kan udah bilang makasih).

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Rie Yanti, pertanyaan yang menarik dan berpotensi bikin saya jadi terkenal.

  1. Saya terkesan dengan jingle ”bang bing bung yooo, kita gabung”, dan saya akhirnya kecewa ketika tahu bahwa jingle itu bukan bikinan Tobucil, apalagi setelah saya tahu jingle itu lirik persisnya bukan demikian. Tapi karena sudah kadung, ya sudah ceritanya saya membangun aja komunitas musik klasik. Saya tidak tahu bahwa itu adalah syarat pendaftaran untuk bergabung dengan Tobucil. Jadi untuk orang-orang yang mau bergabung dengan Tobucil, selain solat, dirikanlah juga komunitas musik klasik.
  2. Saya tidak ingat persisnya, tapi sudah lama memang saya rajin bantu membantu Sundea dalam urusan blog. Yang pasti saya tidak ada hubungannya dengan Ikang Fawzi. Karena kalau kau perhatikan di sisi kiri bawah layar iklannya, ada tulisan kecil: ”tidak buka cabang”. Soal kepercayaan, Kierkegaard mengatakan ”Percaya itu seperti masuk ke dalam sumur gelap, tak tahu apa yang ada disana, tapi kau memutuskan untuk jatuh ke dalamnya.” Nah, kalo soal kepercayaan terhadap saya untuk mengurus off clinic, jangan tanya Kierkegaard, karena di jamannya belum ada blog.
  3. Apakah pertanyaan ini ada hubungannya dengan kematian Jacko? Oke, perasaan saya, ah, tak penting untuk kau ketahui. Yang pasti, saya tak semedi, karena itu musyrik. Lebih baik saya solat tujuh waktu, terdengar lebih asyik. Jujur yah jujur, menjawab pertanyaan-pertanyaan off clinic sungguh tak mudah. Kadang-kadang saya mencari inspirasi jawaban berjam-jam lamanya untuk satu pertanyaan sederhana yang saya suudzon dia pun tak peduli apapun jawabannya. Tapi, semboyan off clinic kan, ini saya baru kepikiran, adalah, dan siap-siap karena kalimat ini cukup dalam, bahwa, “Apalah bahasa itu, selain sebuah permainan belaka.”
  4. Pernah ada yang bertanya ‘Apakah Tuhan itu ada?’. Itu pertanyaan favorit, karena tak mesti dijawab. Adapun saya senang pertanyaan-pertanyaan dari IBS, karena nampaknya jawaban apapun akan membuat dia terbahak-bahak dan kecanduan.
  5. Lebih baik mengasuh salah, agar salah asuhan. Saya bingung jawabnya, tapi yang pasti saya senang diasuh Mbak Tarlen.
  6. Ah, kenyataan tak pernah seperti tampaknya. Itu saya sedang latihan menulis halus.

Teteh

salamatahari Di hari pernikahan sepupu Dea, sol sepatu Dea tiba-tiba coplok. Dengan keruh, terpaksa Dea nyari tukang sol sepatu terdekat untuk ngebenerin sepatu Dea.

“Bisa ditunggu, nggak, Pak ?” Dea nanya ke tukang solnya. “Kira-kira lima belas menitan, Neng, gimana ?” tukang solnya balik nanya. Karena nggak ada pilihan lain, Dea ngangguk. Sementara Si Bapak ngejait sol sepatu Dea, Dea duduk di sebelahnya sambil bulak-balik nengok jam tangan.

Nggak berapa lama kemudian, dateng anak perempuan yang umurnya paling-paling baru lima taunan. Dia tampak keruh. Kulitnya legam kebakar. Rambutnya kering dan merah. Bajunya kebalik, lusuh, dan bernoda. Dia nadahin tangannya ke Dea, minta-minta. Dea ngegeleng, “Buat ngesol sepatu aja pas-pasan, Dik.”

Anak itu nggak mau tau. Dia malah nyandar di lutut Dea sambil ndongak, natap mata Dea. Dari situ Dea baru sadar kalo sebenernya mata dia bening banget. Saking beningnya Dea bisa ngeliat dua Dea yang jelas sekali di kedua mata dia. Hari itu kerasa nggak terlalu keruh lagi.

“Nama kamu siapa ?” Dea nanya.

“Teteh.”

“Kok pake bajunya kebalik ?”

“Mandi.”

“Oh …”

Abis itu dia cerita macem-macem dengan bahasa Sunda yang nggak jelas artikulasinya. Dia juga nyanyiin lagu dangdut sepotong-sepotong. Udah gitu, dia ngajak Dea toast-toast-an berkali-kali untuk alesan yang nggak jelas apa. Komunikasi absurt itu menyenangkan karena rasanya nyaman banget nemuin diri sendiri di mata bening dia. Meskipun nggak terrumuskan, apa yang dia lakuin termengerti aja buat Dea.

“Ini !” tau-tau Teteh nunjuk bros bunga di baju Dea. Abis itu dia nadahin tangannya lagi. “Aduh, Teh, ini tanda keluarga buat acara pernikahan sepupu aku. Cuma satu,” kata Dea. Teteh nggak mau tau. Lagi-lagi dia nunjuk bros itu dan nadahin tangan lagi. “Maaf, ya …,” sesel Dea. Akhirnya Teteh nggak minta-minta lagi. Dia malah nunjuk ke langit. Dea nggak ngerti maksudnya, tapi Dea merinding.

Dalem waktu sekitar lima belas menitan, sol sepatu Dea selesai dijait. Abis bayar, Dea pamit ke Teteh dan Pak Sol Sepatu.

Siang itu panas banget. Jalan Simpang pun keruh, bising, dan berdebu. Dea nggak bisa nemuin diri Dea sendiri di pantulan jendela mobil, juga di mata orang-orang yang lewat. Supir angkot bicara dengan bahasa yang Dea ngerti, tapi komunikasi absurt Dea sama Teteh lebih jelas buat Dea. Mata bening itu seperti danau. Dea pengen ngaca lagi.

Tau-tau Dea inget Narsisius. Bisa jadi ketenggelemannya sebenernya keputusan yang dia sadar betul.

Mungkin dia bukan jatuh cinta sama bayang dirinya.

Tapi sama kebeningan danau itu sendiri …

Sundea

Selamat Berbahagia

 

Tobucil mengucapkan selamat dan berbahagia kepada Keluarga Bambang Riyadi Irawan dan keluarga Syamsumir atas pernikahan putera-puteri mereka:

Ima dan Hendry

pada hari Minggu, 28 Juni 2009thepengantens

Semoga rumah tangga mereka selalu dilimpahi kasih sayang yang tak pernah habis

---

Dibuka Pendaftaran Klab Menulis Kreatif untuk Anak-anak

Biaya : Rp. 300.000,00/anak untuk 8 pertemuan

Fasilitas : Buku kreativitas, peralatan prakarya.

Waktu : Setiap Jumat pukul 15.00-17.00, mulai 10 Juli 2009

Pendaftaran ditutup pada tanggal 9 Juli 2009

Terbuka untuk anak berusia 8-10 tahun.

Tempat terbatas untuk lima peserta yang paling dulu mendaftar.

Materi :

Pertemuan pertama : berbagi pengalaman menulis

Pertemuan ke dua : menuliskan pengelihatan dan pendengaran

Pertemuan ke tiga : menuliskan perabaan, penciuman, dan pengecap.

Pertemuan ke empat : memahami metafora (majas perumpamaan)

Pertemuan ke lima : Jalan-jalan

Pertemuan ke enam : Menuliskan pengalaman jalan-jalan di minggu sebelumnya

Pertemuan ke tujuh dan delapan : Membuat buku kumpulan tulisan sendiri secara handmade.

Crafty Kids Club

Program Liburan Anak-anak

Peserta dibagi menjadi dua kelompok usia

I. SD Kecil Kelas 1 s/d kelas 3

II. SD besar kelas 4 s/d kelas 6

Materi :

Peserta belajar membuat aneka kerajinan tangan seperti jam, boneka, tas, asesoris, dan jurnal (tingkat kesulitan disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing).

Peserta belajar melatih konsentrasi, ketekunan, komposisi, kerapian, dan selera seninya melalui teknik kerajinan tangan : menempel, menjahit, meronce.

Waktu kegiatan:

Senin s/d Jumat, 6 s/d 10 Juli 2009

pk. 10.00-12.00

Biaya pendaftaran : Rp. 250.000,00, sudah termasuk bahan dan alat

Tempat yang tersedia maksimum hanya untuk 15 orang

Informasi dan pendaftaran hubungi :

Tobucil & Klabs

Jln. Aceh No.56 Bandung, telp. 022 4261548

Perayaan Dua Tahun Madrasah Falsafah Tobucil & Klabs (Pesta Filsuf)

Juli mendatang, Madrasah Falsafah, genap berusia 2 tahun dan kami ingin merayakannya dengan mempertemukan para ‘filsuf’ dalam acara Pesta Filsuf “Merayakan Filsafat dalam Keseharian” untuk saling berbagi pengalaman dan pandangannya lewat sesi-sesi yang kami hadirkan.

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada :
Minggu, 19 Juli 2009
Pk. 10.00 – 21.00
Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung


untuk keterangan lebih lanjut, klik  di sini

 

Reguler Klabs :

Reguler Klabs :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 1 Juli 2009
dengan tema:

“Cantik” (apakah cantik dapat ditentukan standarisasinya ?)

Rabu, 1 Juli 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 8 Juli 2009 : "Seksualitas"

Klab Nonton

Film-film bulan Juli : “You Can’t Beat Neutral on a Moving Train”.

Lebih lengkap, klik di sini

coverderidda

Sabtu, 4 Juli 2009
Pk. 18.15 - 20.00
Derrida
Film oleh Kirby Dick & Amy Ziering Kofman/ 85 menit/ teks bahasa Inggris. Musik: Ryuichi Sakamoto/ 2002
" What if someone came along who chaged not the way you think about everything. But everything about the way you think?"
Salah satu ikon dan tokoh yang paling berpengaruh abad 20. Filsuf asal Perancis ini dikenal dengan sebuatan 'bapak dekonstruksi', karena pemikirannya, kita diajak menengok kembali sejarah, bahasa, seni dan film. Dengan semangat pemikiran Derida, pembuat filmnya, Kirby Dick dan Amy Ziering mengajak penonton melihat potret Derrida sekaligus mempertanyakan konsep dari biografi itu sendiri. Musiknya di garap oleh Ryuichi Sakamoto, musisi yang pernah mendapaktkan Oscar saat menggarap The Last Emperor.

Sunday, June 21, 2009

Saya

Minggu ini blog Tobucil merayakan kesayaan. Ada buku karya Nyi Vinon dan Pak Budi Praptono, ada madrasah filsafat yang menyinggung posisi “saya” dalam facebook, ada Kokorikoko, boneka kodok yang mencari makna “aku” dalam namanya, ada cerita mini Ali Singatuhan di papan tulis, ada Persepolis, film yang diangkat dari komik autobiografi Marjane Sartrapi, dan ada Mbak Endang yang memilih sendiri identitas kesayaannya.

Dalam konteks tertentu, tak ada salahnya menjadi subyektif. “Saya” adalah pilihan untuk berdiri nyaris tanpa jarak dengan obyek.

Menjadi “saya” adalah berani membaca sendiri sebuah peristiwa, sekaligus membiarkan diri sendiri dibaca sebagai bagian dari peristiwa. Di sana terkandung keberanian dan tanggung jawab sepenuh terhadap sebuah sikap.

Ketika mejadi satu mata yang memandang dengan mata hati, “saya” membuat sebuah catatan jadi tidak pucat dan bernyawa. Sifatnya yang komunikatif secara personal membuat “saya” justru tidak narsistik dan egois

Semoga kamu dan Tobucil dapat menjadi saya-saya yang membaca dan membacakan kembali.

Salamatahari, Teman-teman, semogaselaluhangat dan cerah …

Tobuciler

 

IMG_4666

Yuliana Devita, Si Gadis Seuri Koneng

 

nanaseurikonengYuliana Devita alias Nana adalah peserta Klab Merajut yang sering seuri (tertawa). Pada suatu siang yang hujan, ia didapati sedang seuri-seuri sambil merajut di ruang belakang Tobucil. Sementara menunggu Nana dijemput, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”. Psst … siapa sangka gadis girang senantiasa ini sering disangka jutek ?

Tobucil : Na, kalo denger kata “saya” apa yang kebayang sama lo ?

Nana : Saya orangnya … rame. Saya … nggak bisa diem. Saya … saya… kata orang, sih, jutek, tapi … harus kenal dulu. Pasti nggak jutek.

Tobucil : Hah ? Masa, sih, jutek ? Dari awal kenal elo, kayaknya elu orangnya ceria-ceria aja.

Nana : Tapi temen-temen gua pas pertama liat gua bilang, ‘kayaknya orangnya jutek’. Padahal pas udah kenal … ternyata gila juga.

Tobucil : Hmmm. Kalo menurut lo, mending gila apa jutek ?

Nana : Mending gila.

Tobucil : Kenapa ?

Nana : Soalnya kalo gila masih bisa ngajak orang lain bergila ria. Kalo jutek … entar nggak ada temennya.

Tobucil : Ah, siapa bilang ? Orang gila yang suka nongkrong di depan Tobucil selalu sendirian. Ngomong aja ngomong sendiri.

Nana : Aduh, bukan gila Riau 11, maksudnya .. mmm … maksudnya gokil.

Tobucil : Dan gokil itu adalah … ?

Nana : Apa, ya ?

Rudy (menyeletuk dengan ekspresi dinginnya yang khas ) : Pergi membunuh ! Kan go kill.

Tobucil : Hahahahaha … itu mah lebih nggak ada temennya lagi, atuh, Na …

Nana (tampak terpengaruh dan galau) : Iya, ya …

Tobucil : Contoh, deh, contoh kegokilan yang lo maksud …

Nana : Mmm … gua suka mengeluarkan kata-kata aneh. Padahal bahasa Sunda. Kayak misalnya, pas tadi gua bilang ‘seuri koneng’ (nyengir kuning), Mbak Elin bilang, ‘elu mah bahasanya aneh !’ Padahal itu kata-kata yang sering diungkapkan sama orang-orang di rumah. Artinya .. apa, ya ? ‘Hehehe’ (mencontohkan). Gitu, deh …

Tobucil : Coba, coba, lagi, gua foto, biar masyarakat tau yang lo maksud ‘seuri koneng’

Dan Nana mempraktekannya. Dan Tobuciler memotretnya. Lihat foto di awal posting ini.

Tobucil : Elu sering seuri koneng, Na ?

Nana : Misalnya ada orang yang ngomong terus gua nggak ngerti aja, jadi, ya, gua ‘seuri koneng’.

Tobucil : Kalo orang ‘seuri koneng’ gara-gara lo sering, Na ?

Nana : Enggak, mereka mah kalo nggak ngerti langsung tanya, ‘Ngomong apa, sih, Na ?’ Soalnya gua orangnya nggak mudah sakit hati, sih … hehehe …

Tobucil : Hahaha … bagus, bagus. Btw, lu tau seuri yang warna laen, nggak selaen koneng ?

Nana : Kalo minum tinta mah ada. Eh, gua pernah, ya, pas ngisi tinta printer, printer gua tiba-tiba macet. Terus sok-sok disedot gitu sama gua. Gua kira nggak akan sampe ketarik, eh … taunya masuk, Bo, pait banget …

Tobucil : Hahaha … artinya itu ‘seuri bulaoh’ (senyum biru) ato ‘seuri hideung’ (senyum hitam), sekaligus tersenyum pahit.

Nana : Hahahaha … iya.

Telpon Nana berbunyi. “Gua udah dijemput,” ujarnya. “Oh, okz. Bahannya udah cukup, kok. Thank u, ya …,” sahut Tobuciler. Nana mengangguk. Mengemasi barang-barangnya sambil seuri-seuri.

Hmmm … saat itu, kira-kira apa warna seuri-nya ?

Sundeananatiga

nanadua

 

 

Bidodata

Nama : Yuliana Devita

Hobi : Ngerajut, berenang, baca buku ringan

Makanan kesukaan : Apapun kecuali bawang putih dan tomat

Minuman Kesukaan : Teh Botol, Nu Green Tea, Fruitcy

Cita-cita : dokter ???

Kuliah : Teknik Kelautan ITB 2003

Tulis Dirimu : Buku Nyi Vinon dan Budi Praptono

 

covernyivinon Judul buku :Nyi Vinon, Sastra Pranikah
Pengarang : Nyi Vinon
Harga : Rp. 60.000,00

"trah yang lebih unggul adalah trah yang baik dalam dokumentasi; mereka memenangkan sejarah".

Berisi kisah kehidupan dan pemikiran Nyi Vinon, buku cetakan ini merupakan repacakge, kemasan ulang dari buku fotokopian yang telah beredar.

Dicetak terbatas !

---

coverbukuperadaban Judul buku : Membangung Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang (Revolusi Belum Selesai)
Pengarang : Budi Praptono, dkk.
Harga buku : Rp. 25.000,00
Harga Tobucil : Rp. 22.500,00

Sebuah kegelisahan yang menarik untuk dibaca. Wayang adalah kisah pergumulan peran dalang dengan zamannya. Demikian ketika membaca tulisan Budi Praptono. Sebagai cucu dalang secara genealogis dan genetis tetntu ia paham bagaimana mendorong lahirnya sebanyak mungkin wayang berwatak utama. Tidak peduli apakah ia berwujud satriya, raksasa, brahmana maupun punakawan. Itulah yang diperlukan di masa depan.

-Achmad Natsir Budiman, Aktivis Senior Salman ITB-

---

Kaos Ulang Tahun Madrasah Filsafat

Kaos ini di sablon dan di produksi dengan jumlah terbatas sesuai dengan permintaan. Penjualan kaos ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan ulang tahun ke 2 madrasah falsafah tobucil & klabs yang akan menggelar perhelatan 'Pesta Filsuf: Merayakan Filsafat Keseharian' pada tanggal 19 Juli 2009 mendatang (detail acara menyusul).

Gambar karya R.E. Hartanto. Dipergunakan atas seizin senimannya. Dengan membeli kaos ini, berarti anda telah mendukung kegiatan tobucil & klabs. Terima kasih.

----

Spesifikasi kaos:
Bahan Katun Kombat tanpa sambungan
Ukuran: M dan XL
Harga: Rp. 80.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan silahkan kirim email ke: vitarlenology@yahoo.com atau tobucil@yahoo.com
dengan mencantumkan pilihan gambar, warna dan ukuran.

Contoh model kaos :

krem pasir, ukuran M, XL

putihukuran M. XL

 

 

 

 

 

 

 

Pilihan Gambar:
1. Kwan Im, 2. Speechlessism, 3. Potrait as philosopher, 4. Tree in my sleep, 5. postmortem, 6. Cermin. Untuk melihat semua model kaos, klik di sini

Facebook … Oh … Facebook

-Tobucil, Rabu 17 Juni 2009-

Madrasah Filsafat

mbakechie Mbak Echie menelpon Mas Ami, kuncen madrasah filsafat, “Ari juragan Ami, kumaha ditungguan, teh ? Jam setengah genep ieu (Juragan Ami gimana, sih, udah ditungguin ? Jam setengah enam, nih) …”

Pada akhirnya telpon ditutup. Mbak Echie pun mengumumkan pada segenap jemaat madrasah filsafat, “Dia lupa ini hari Rabu.” DOWEWEWENG …

Meski sempat enggan, akhirnya Mbak Echie mengambil posisi sebagai kuncen. Ia membuka diskusi dengan pertanyaan sederhana, “Siapa yang punya account facebook ?”

Ternyata, selain jemaat madrasah filsafat, seluruh hadirin hari itu adalah jemaat jaringan facebook. Mereka mengakses facebook dengan alasan masing-masing. Bagi Mas Iqbal, facebook adalah pemersatu teman-teman dari berbagai area, “Misalnya, saya bisa mempertemukan teman dari area musik dengan teater, teater dengan psikologi …” Lain lagi dengan Mbak Linda, “Selain untuk mencari teman lain, facebook bisa untuk mencari jodoh juga kan …?”

Kadang facebook pun menimbulkan masalah. Mbak Echie pernah mem-block seseorang karena berkomentar sangat tidak etis di wall-nya. “Saya sebel kalau ada comment-comment yang nggak nyambung,” kata Mas Gustar. Ada pula spam “coobface”. "koobface". “Ati-ati kalau ada message yang bahasanya sangat generik dan menawarkan link. Kalau kita klik, semua teman di friend list kita akan dapat message spam yang sama dari kita,” Mbak Echie memperingatkan. Beberapa posting panjang di notes pun kadang membuat pembaca pusing. Jadi apa yang boleh dan yang tidak dalam etika per-facebook-an ?

“Kalau kata aku justru itu yang menarik. Etikanya etika umum aja. Tiap orang harus belajar ngukur dan tanggung jawab sendiri,” ujar Tobuciler. Konseskuensi dari setiap pernyataan adalah respon. “Dalam facebook, orang mengidentifikasi. Kayak di status-status itu, orang bisa nulis apa aja. Di sana mereka mengidentifikasi diri mereka. Fungsi identifikasi itu kemudian disertai dengan fungsi persuasi, orang-orang jadi berkomentar. Lalu setiap orang jadi sibuk mengidentifikasi dirinya sendiri,” papar Mas Iqbal yang dosen di fakultas psikologi. Mas Iman Abda lalu teringat pada aplikasi kuis yang juga sangat diminati di facebook. “Di situ orang-orang juga mengidentifikasi dirinya, kan,” ungkap Mas Iman.

madfalfacebook

Setiap account facebook adalah halaman “saya” dalam jaringan “kita”. Orang-orang saling mengidentifikasi, berbagi, menunggu respon, atau mencari sarana untuk direspon. Sama seperti diskusi madrasah filsafat yang berlangsung saban Rabu sore.

Hmm … jika madrasah filsafat dan facebook punya benang merah, meski tidak hadir, mungkinkah Mas Ami kami tag dalam diskusi kali ini ?

Mari kita “poke” alias “colek” kuncen kita tersebut …

Sundea

Namaku Kokorikoko

 

-Tobucil, Kamis 18 Juni 2009-

 

Iko : Kenapa kodok kalau ada rel kereta, relnya dilompatin ?

Mbak Upi : Ah, ini pasti pertanyaan yang jawabannya garing. Apa ?

Iko : Karena terlalu lama kalau muter … hehehehe …

Mbak Upi : Tuh, kan …

 

Lalu mereka berdua menciptakan aku. Namaku Kokorikoko, kodok pemalas yang tak mau memutari rel kereta. Aku sedikit tidak sehat. Coba lihat; mataku merah, kulitku merah dan weeee … lidahku pucat. Ketidaksehatankuini masih dilengkapi lagi dengan adanya rambut-rambut putih halus di atas kepala. Penata rambutku adalah Iko, murid SD Semi Palar itu.

akudanhairdresserku Tobuciler : Kenapa rambut dia putih, Ko …?

Iko : Kenapa, ya …?

Hah ! Iko tidak menjawab. Baiklah. Aku jawab sendiri saja alasannya. Rambutku putih karena kulitku merah. Kamu tahu, tidak, dalam tradisi Jawa, ada bubur merah-putih yang dibuat jika seseorang akan diganti namanya. Kenapa harus ganti nama ? Karena si empunya nama dianggap terlalu berat menanggung namanya hingga sering sakit-sakitan.

Aku curiga aku pun keberatan nama. Tapi karena aku kodok, buatku tak berlaku “bubur merah-putih” melainkan “tubuh merah-putih”.

Jika harus ganti nama, kira-kira namaku jadi apa, ya ? Hmmm … jumlah huruf yang dikurangi tentu akan membuat namaku lebih ringan. Bagaimana jika “Kokorikok” saja ? Kalau masih terlalu berat, kuganti lagi jadi “Kokoriko”. Kalau masih juga terlalu berat, kuganti lagi jadi “Kokorik”. Begitu seterusnya dan seterusnya.

Tapi, Teman-teman, jika sampai seluruh huruf habis aku masih tetap sakit-sakitan bagaimana, ya? Haruskah aku menjadi kodok tanpa nama ?

(Kodok merah yang berdandan meriah ala rock-star itu bersandar di kaleng polkadot. Ia menerawang mencari “aku” dalam kebernamaannya).

Sundeakokorikoko

Menyedot Teh di Dalam Botol

 

-Tobucil, Kamis 18 Juni 2009-

“Apapun makanannya, minumnya Teh Botol Sosro”

-tagline iklan Teh Botol-

Sebuah buku dengan judul yang sangat panjang : (Membangun Peradaban Bangsa dari Kacamata Cucu Dalang ‘Revolusi Belum Selesai’, Indonesia [Nusantara] Pemimpin Peradaban Baru Dunia) didiskusikan di Tobucil. “Sebetulnya judul ini ada kata-kata kuncinya,” ujar Pak Budi Praptono, sang penulis. “Kuncinya ‘Revolusi Belum Selesai’ dan ‘Indonesia Pemimpin Peradaban Dunia’.” Mengacu pada Bung Karno, Pak Budi melihat bahwa kemerdakaan yang terjadi di Indonesia baru sebatas kemerdekaan fisik. “Jiwa (bangsa Indonesia) belum merdeka, kita kan masih inferior,” ungkapnya lagi. Itu sebabnya melalui buku yang ia tulis, Pak Budi mengajak bangsa Indonesia untuk berani bermimpi menjadi pemimpin peradaban dunia. “Bangsa Amerika, misalnya, bisa besar karena berani mimpi dulu,” begitu kata Pak Budi.

diskusinya

Diskusi yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya tersebut berlangsung khidmat dan nasionalistik bak rapat-rapat di masa kebangkitan nasional. Pak Budi dan Pak Natsir (aktivis senior Salman ITB) yang menjadi pembicara hari itu memotivasi peserta diskusi untuk merasa bangga pada budaya sendiri. Sebagai cucu dalang, Pak Budi juga menyinggung-nyinggung kebudayaan Jawa dan dunia perwayangan. Sebagai perwakilan dari AJI, tak ketinggalan Mas Argus Firmansah urun komentar, “Di dalam buku ini saya melihat pembahasan mengenai local wisdom. Orang-orang barat sekarang justru sedang membaca local wisdom kita.” Fenomena itulah yang membuat Mas Argus optimis bahwa Indonesia akan atau bahkan dapat dikatakan sudah memimpin peradaban dunia.

Hmmm … lalu apa hubungannya diskusi ini dengan kutipan iklan di awal artikel ?

Begini. Ketika Mas Deri, salah seorang peserta diskusi menanyakan upaya apa yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan mental mandiri bangsa, Pak Budi menjawab, “Ya … keberanian untuk keluar dari penjara inferioritas yang tidak kelihatan ini.”

Berbotol-botol Teh Botol yang dipenjara dalam bening dan sempit botol dihidangkan sebagai pelepas dahaga bagi peserta diskusi.

“Yang bikin Teh Botol Sosro ini namanya Sosro Jaya. Dalam bahasa Jawa, Sosro Jaya artinya seribu kejayaan,” ujar Pak Natsir.

Mereka yang terpenjara itu berani keluar lalu mengalir dalam diri manusia.

Menjadi seribu kejayaan.

Lebih dari sekedar teh yang menggenang diam-diam.

 tehbotol

Sundea

Hitam Putih Persepolis

 

-Tobucil, Sabtu 20 Juni 2009-

Klab Nonton

Wajah Tobucil hari itu mendadak muram. Film yang diputar di Klab Nonton malam itulah penyebabnya. Judulnya Persepolis. Film kartun, memang, tapi jangan langsung asosiasikan kartun dengan warna-warni ceria penuh gelitikan canda tawa. Kartun ini beda, bercerita tentang pengalaman eksistensial seorang Iran bernama Marjane Satrapi. Marjane ini sungguh ada orangnya dan masih hidup, maksudnya, Persepolis adalah kisah nyata.

Pada mulanya, Marjane adalah gadis cilik yang dibesarkan di tengah keluarga cukup berada. Hanya saja, keadaan politik Iran yang tengah bergolak saat itu, sungguh tidak memihak keluarganya. Jaman itu, tahun 1978, dikenal sebagai Revolusi Iran. Alkisah, pemerintahan saat itu, yang dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlavi –dalam film hanya disebut sebagai ”Shah of Iran”-, ternyata dinilai oleh rakyatnya terlalu tunduk pada kekuasaan Barat, yang mana kulturnya sering bersinggungan dengan nilai-nilai lokal. Upaya penggulingan kekuasaan datang dari pihak fundamentalis Islam, yang menginginkan pengerasan landasan keagamaan untuk melawan budaya asing. Dalam bagian ini, digambarkan Marjane sebagai gadis dari keluarga yang dalam situasi tersebut sedang tersudutkan. Mengapa? Karena keluarga Marjane dikenal punya pengaruh Barat yang kental. Contohnya, ayah Marjane, senang pergi ke pesta-pesta dan minum alkohol, yang mana ketika fundamentalis Islam mulai berkuasa, hal tersebut dilarang keras.

Film ini memiliki alur flashback. Diawali dari Marjane dewasa dengan format gambar berwarna, cerita masa kecil tadi digambarkan hitam putih. Ini cukup memberikan efek muram bagi para penontonnya. Sepanjang film diputar, nyaris tak ada tawa yang keluar, yang ada cuma pandangan tercenung. Kembali ke film, Marjane lalu dikirim ke Vienna, Austria, untuk sekolah oleh orangtuanya. Kenapa? Karena berbahaya tinggal di Iran dalam keadaan bergolak, kata orangtuanya, apalagi Marjane dikenal vokal dan bandel, berpotensi terkena hukuman polisi susila yang bertugas menegakkan aturan agama.

Di Vienna ini, Marjane mendapat banyak pengalaman. Mulai dari menghisap ganja, bertemu filsuf yang menurutnya gila, berhubungan seks, hingga dikhianati kekasih. Pengalaman panjangnya itu sempat membuatnya melupakan kampung halaman, dan pernah mengaku sebagai orang Prancis alih-alih Iran. Namun akhirnya ia pulang jua, karena ia sendiri memintanya. Di Iran, kondisi politik tak lebih baik di bawah pemerintahan kudeta fundamentalis. Bahkan Marjane remaja semakin vokal menentang berbagai bentuk agamisasi di kampusnya.

Kisah Marjane dalam Persepolis digambarkan hitam putih. Situasi yang nyaris mirip ketika masing-masing dari kita merenungkan masa lalu. Bisa saja memang sebuah situasi silam menyenangkan dan cerah ceria. Tapi jika masuk ke lembah eksistensi yang terdalam –kala ditanyakan lebih jauh masa silam itu dari mana mau kemana-, seringkali yang muncul ya itu tadi, warna hitam putih. Walhasil, belasan orang yang hadir di Klab Nonton tetap termenung selesai menonton. Tak seperti umumnya di bioskop yang setelahnya banyak sensasi meluap-luap, yang tanpa sadar tak lama kemudian terlupakan. Namun seperti film Persepolis yang sesekali muncul gambar berwarna, Klab Nonton juga menyuguhkan warna di tengah kehitamputihannya kala itu. Dari mana datangnya? Rudi Rajut berdiri di samping televisi, lalu mengumumkan, ”Minggu depan akan diputar film karya *blablabla*.” Jujur saja, Tobuciler tak dengar, dan begitupun yang lainnya. Mereka terus bertanya, ”Film apa? Film apa?” Tapi Rudi Rajut tak kunjung menjawab karena malu-malu. Oh, tapi setidaknya, Rudi, kau menyelamatkan kami semua dari lamunan panjang.

Syaraf Maulini

 

 

 

 

 

 

Rudy

Untittled

oleh : Ali Singatuhan

Hari ini saya terbangun dan menemukan diri saya sendiri. Bukan hanya sendiri di rumah. Tapi andaikata saya keluar dari rumah, saya akan tetap menemukan diri saya sendiri. Dan bahkan jika saya menjelajahi keempat mata angin, saya akan tetap tidak bertemu dengan siapa-siapa. Hari ini saya adalah Adam dan hanya Tuhan teman, kekasih, dan obyek saya.

Gedung-gedung masih berdiri di Jakarta. Megah, tapi tiap lantainya kosong. Jalan-jalan metropolitan lengang dan terbuka hingga berkilometer jauhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya adalah orang nomor satu. Tapi ke mana perginya nomor dua, tiga, empat, dan yang lainnya ? Seumur hidup, saya menginginkan semua orang membebaskan saya. Untuk mengangkat kaki mereka dari kepala saya. Tapi setelah saya keluar dari belenggu, mau ke mana saya ?

Untuk pertama kali dalam hidupku saya adalah raja. Tapi saya hanya berkuasa terhadap diri saya sendiri. Saya akan memerintahkan diri saya untuk makan sepuas yang saya mau misalnya. Tapi perut saya akan memberontak. Saya berlari seorang diri di tengah jalan Sudirman. Tapi tubuh saya melamuk, melakukan kudeta terhadap akal saya.

Dengan tenaga yang tersisa aku berlari ke pantai. Di hadapan langit, laut, dan carawala yang tidak terbatas, aku berdoa. Kepada saiapa lagi selain Tuhan karena hanya Dialah yang ada sekarang. Ia bahkan tidak menyisakan berhala untuk aku berpaling dari-Nya.

Aku bertanya kenapa ? Apa yang terjadi ?

Kenapa tidak kamu turunkan kembali semua yang Kau ambil ? Manusia. Makhluk indah itu. Yang berpotensi pada segala macam keburukan, kejahatan, dan kekejain yang megah dan di sisi yang lainnya mampu membuat sebuah oase kedamaian dari semua kekacauan itu. Kejahatan dan kebaikan. Keburukan dan keindahan. Dan semua yang tidak bisa dipisahkan. Itu yang saya inginkan.

Keesokan harinya dunia kembali seperti semula. Saya membuka jendela dan melihat kekacauan itu kembali. Saudara saling menusuk dari belakang. Teman saling mengkhianati. Kesombongan merajai. Darah bercpiratan dan tangis bercipratan.

Saya menutup jendela, lalu bersyukur.

----

Walapun Ali SingaTuhan dilahirkan di Jakarta, ia telah menemukan rumahnya di pelukan Kota Bandung tercinta. Disana ia telah telah tumbuh dan mengecap semua yang ditawarkan kota tersebut: dari lingkungan rumahnya di ujung Desa Ciburial, di tengah-tengah Pesantren Babusalam dengan segala kepermaian alam dan manusianya. Disana, di bawah saung yang dibuat Bapaknya dulu, ia membaca buku-buku yang nantinya akan membentuk hidupnya. Dan disana pula ia mulai menulis cerita-cerita yang alam tersebut bisikkan padanya. Dan pada akhirnya Bandung – beserta para penghuninya yang indah, halus dan bertata karma – menjadi Dunia bagi Ali, menjadi setting, tokoh dan tema dari semua yang ia tulis dan (mungkin) akan tulis di masa depan.

Mbak Endang Melenggang dan Berdendang

 

mbakendang1 Mungkin namanya Endang karena ia suka berdendang dan melenggang. “Waktu kecil saya nari di Cirebon, tapi karena bapak saya pengen punya anak yang jadi artis, saya ke sini, hihihi,” ceritanya kenes.

Hijrah ke Bandung dan mengartis di sekitar lampu merah Dago, dekat Jalan Maulana Yusuf, sejak tahun 80an. “Dari waktu ke Bandung saya udah begini,” kata Mbak Endang, “Saya pernah ditulis di koran, dibilangnya nama asli saya Udin, ke sini buat kerja bangunan. Padahal kalau mau kerja bangunan aja, ngapain ke sini segala ?” ujar Mbak Endang, setengah merengut manja.

Ia kerap menyanyikan lagu artis-artis perempuan seperti Titiek Puspa, Elvi Sukaesih, Rosa, Agnes Monica, dan Ratu. Saya membaca pilihannya itu sebagai sikap dan pernyataan keperempuanannya. “Waktu pertama-tama ke sini, saya nyanyinya lagu Titiek Puspa yang Kupu-kupu Malam. Kalau diresapi bisa sampai keluar air mata. Ibaratnya kan kita ini boneka dunia,” ungkap Mbak Endang.

Ketika lampu lalu lintas kembali merah mencrang, Mbak Endang kembali melenggang dan berdendang. Saya sendiri menyeberang. Bercerita pada teman yang saya mintai bantuan memotret Mbak Endang. “Akhirnya lo tau siapa nama asli Mbak Endang ?” tanya teman saya. “Enggak. Nggak penting. Menurut gua dia ‘Endang’ aja,” sahut saya. “Lo tau dia tinggal di mana ?” tanya teman saya lagi. “Enggak juga. Nggak penting juga,” sahut saya lagi. Bagi saya, yang penting Mbak Endang sudah memilih tinggal pada sebuah identitas yang dia nyatakan dengan yakin. Itu adalah rumah yang dibawanya ke mana saja.

Saya mengamati punggung Mbak Endang yang melenggang.

Dendangnya tertelan suara jalan raya karena mungkin jalan memang merayakannya.mbakendangdariblakang

Sundea

Foto : Gide

G, thank’s for the time to take the pictures, ya …

Soal Jodoh, Pati, Rejeki

IMG_2265 asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Hamba Allah (via message FB):

Halo Kak Syaraf Maulini, mau nanya nih

  1. kenapa cowok masih gemar merayu-rayu wanita lain padahal udah punya pacar?
  2. kenapa cowok brengsek?
  3. kenapa cowok suka memberikan harapan palsu?
  4. soal karir, knapa cari kerjaan dgn gaji yg gede teh susah pisan?!!!
  5. kenapa bos mau mendepak saya padahal saya anak yang rajin???

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Hamba Allah, bolehkah dipanggil demikian? Oke, sini dibantu untuk menggalaukan perasaanmu:

  1. Yang pertama adalah, karena cowok itu tidak cadel. Kalau cadel ia melayu-layu wanita lain padahal udah punya pacal. Kedua, ini saya coba jawab yang benernya: karena bagi kebanyakan pria, merayu tidaklah berdosa. asal tidak sambil mencuri, mabuk-mabukan, dan durhaka pada kedua orangtua.
  2. Karena kalau breng brong breng brong itu namanya musik metal.
  3. Ah, semua harapan itu palsu. Kecuali kau sudah bisa menjawab besok matahari terbit atau tidak? Eh, bener, yang tadi itu jawaban serius.
  4. Gampang, coba masukkan lamaran aja ke warung sate kambing. Disana gajinya gede-gede. Apalagi kalau dalam menu sedia gulai juga. Lebih gede tuh!
  5. Itu artinya dia bosan sama kamu. Ingat kan semboyan ”rajin pangkal pandai” seperti di sampul-sampul coklat? Nah ngapain dia pekerjaan anak rajin kalau sudah dapat anak pandai. Artinya si bos sudah dapat pangkalnya kan?

Pertanyaan dari Gadis Galau (via message FB):

Alo Kak Syaraf Maulini, mau nanya dong, boleh kan?

Jadi gini, bagaimana sih pandangan kakak mengenai situasi ini :

Ada dua cewek, yang satu tuh bisa dibilang tampang biasa-biasa aja, tapi dia itu pekerja keras, akademiknya bagus, dia bisa suatu keahlian sampai keahlian itu ngebuat dia bisa cari uang sendiri, dia mandiri, gak tergantung cowok dan kalau diliat dari personality sih emang cenderung tertutup dan kurang charming. Cowok-cowok pun anggep dia tuh 'saingan', dan bukan cewe yang untuk disukai, dijaga, dan dikeceng.

Lalu ada satu cewe lagi. cewe itu isunya sih dulu pernah sakit berat. ceweknya cantik banget dan lemah lembut bercahaya. kata orang-orang dia tuh loyal, baik, pokoknya princessy deh. walopun akademiknya jelek, dia gak usah terlalu berusaha karena semua cowok selalu mau bantuin. semua cowok deketin, ngeceng, dan menjaga dia. pokoknya dia tuh disanjung-sanjung terus. walopun tanpa harus berusaha banyak.

Terus sekarang ada seorang cowok. dia pacaran (yah uh well hts-an) sama si cewek yang ga cantik. dan dulu dia ngeceng cewek cantik itu. tapi si cowok itu malah jadi sering ngebicarain si cewek cantik, mau pergi ama cewek cantik. Si cewek gak cantik pun jadi bingung, dia kurang apa gitu sama si cowok itu.

Kalo menurut kakak, keadaan ini adil gak sih?

*eh kalo bisa jangan di muat di off clinic. malu hahaha.*

Jawaban dari Kak Syaraf:

Waduh termuat nih, gimana dong? Haha maaf ya, Gadis Galau. Semoga semakin galau, karena itu menyehatkan.

Oke, begini, masalahmu pelik sekali nak. Menurut saya adil loh, tapi kalau saya jawab itu terlalu pendek dan pasti mengecewakanmu. Untuk yang sekarang, akan saya coba jawab serius ya, eh beneran. Pertama, adalah bagaimana menjawab standar cantik? Cantik itu sungguh konstruksi sosial. Coba saja tunjukkan saya gambar kucing pakai pita, saya pasti pikir itu cantik. Tapi contoh itu tak bisa dipakai, karena tadi itu binatang. Tapi setidaknya begini, menggunakan istilah ”cantik” atau ”tidak cantik” sudah merupakan pemilahan yang kurang tepat. Kalaupun demikian, mesti ada tambahan, ”cantik kata siapa?”, ”tidak cantik kata siapa?”. Barulah lumayan keren.

Kedua, adil itu juga, sebenarnya sebuah kata yang tidak jelas. Apakah definisi adil? Apakah semua orang mendapatkan hasil yang sama rata? Jika demikian maka kau komunis, bahaya laten. Ataukah adil itu, setiap orang mendapatkan sesuatu sesuai proporsinya? Jika kau ambil itu definisi kedua, maka tak perlu khawatir persoalanmu itu menjadi persoalan. Karena masing-masing orang punya proporsinya, tinggal selanjutnya, bagaimana cara mensyukurinya. Ada tiga macam cara mensyukuri. Yang pertama adalah ”syukuran”, yakni mengundang orang banyak untuk makan-makan. Yang kedua, adalah ”syukurin”, yakni mengata-ngatai orang yang terkena musibah agar kau lebih puas. Yang ketiga, adalah ”syukur-syukur menang, kalau tidak ya sudahlah,” yakni jika kau melihat Persib sedang tampil di kandang lawan.

Totti

pantha rei ; everything is flowing”

- Heraklitus-

salamatahari Beberapa minggu belakangan ini, Totti, anjing Dea lagi beger berat. Tiap ada kesempatan, dia kabur dari rumah buat gaul, berantem, dan pacaran. Kalo pulangnya sehat-sehat aja mah, nggak apa-apa. Nah ini, tiap pulang, adaaaaa … aja penyakit baru yang dia bawa. Kakinyalah pincang, mulutnyalah rada robek, trus terakhir, dia kena radang mata. Sejak saat itu, semua aksesnya keluar rumah kami tutup rapet-rapet.

Totti jadi gelisah. Tiap malem dia ngelolong-lolong pengen keluar. Dia juga jadi tambah sensitif kalo ada orang ngebuka gerbang. Totti juga bukan anjing yang suka ngejer kupu-kupu dan seneng maen sama orang-orang rumah lagi. Konsentrasi dia selalu keluar gerbang. Kalo lagi natap keluar gerbang, Totti nggak mau lagi dipanggil untuk maen sama Dea dan Vai, ade Dea.

“Gue kangen, deh, sama Totti yang dulu. Sekarang gue udah kayak nggak kenal Totti lagi,” kata Vai. Iya, sih, sebenernya Dea juga kangen sama Totti yang dulu. Yang lucu. Yang bloon. Yang seneng ngejer kupu-kupu dan guling-gulingan sama botol Yakult. Yang selalu bersemangat kalo dipanggil dan diajak maen.

Totti lagi beger. Dea dan Vai tau dia nggak bisa ditahan sebagai anak-anak selama-lamanya. Totti tetep nggak boleh keluar, sih, tapi kita nyoba nerima kalo Totti sekarang ini lagi ngalamin masa-masa pubertas yang cukup rusuh. Kami ngerasa keilangan Totti, but things must flow, mustn’t they?

Sampe pada suatu siang, pas Dea buka pintu, Totti tiba-tiba nyamper. Dia tiduran di deket kaki Dea. Dea elus-elus. Lama-lama dia tidur. Kalo Dea bediri, dia tampak nggak mau ditinggal. Jadi Dea ngambil diary Dea, trus nulis di deket dia sambil kadang masih ngelus-ngelus dia sampe dia tidur pules banget. Dia pasti capek semaleman ngelolong-lolong dan berusaha nggali tanah biar bisa kabur.

Dea ngamatin Totti baik-baik. Ngindera anjing dudul itu lebih sungguh-sungguh. Ngerasain anget tubuhnya lebih sungguh-sugguh. Ngerasain nafasnya yang teratur. Nyentuh idung dia yang basah. Ngerasain bulunya yang lengket dan bau rumput. Dea kenal betul.

Tau-tau Dea sadar kalo Dea nggak pernah keilangan Totti.

Inderalah.tottijulingresize

Ada ketottian yang selalu tinggal.

Karena

dalam kemengalirannya,

air selalu air.

 

Sundea

Musik Sore # 3, Minggu Ini


Reguler Klabs :

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 24 Juni 2009
dengan tema:

“Bermain Persepsi” (digunakan untuk ngetest orang)

Rabu, 24 Juni 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 1 Juli 2009 : "Will/Hasrat"

Perayaan Dua Tahun Madrasah Falsafah Tobucil & Klabs

Pesta Filsuf: “Merayakan Filsafat Dalam Keseharian” Bandung, 19 Juli 2009

klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Klab Nonton

leunig Sabtu, 27 Juni 2009, Pk. 18.15 - 20.00
Leunig Animated: Surreal, Poignant, Funny (2001)

Produser: Bryan Brown Pengisi Suara: Sam Neill/ 55 menit

Animasi 55 menit yang mencoba mengeksplorasi ironi, melankolia, rasa syukur dan semangat bermain dari seoarang kartunis, penulis puisi, filsuf: Michael Leunig.

Seperti juga puisi-puisinya, animasinya tampil dalam kesederhanaan yang dalam, mengajak penontonnya memaknai banyak hal dalam keheningan. Kumpulan animasi yang sederhana, matang dan tidak cerewet dalam berpesan.

Klab Nonton bulan Juni : “Mari Menoton Komik. Mari Membincangkan Realitas”. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Klab Melipat Kertas

Workshop Melipat bulan Juni : Travelling

klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Klab Klassik

Musik Sore Tobucil # 3

Musik sore Tobucil hadir kembali yang ke tiga kali, pada :
tanggal 28 Juni 2009,
pukul 15.00-17.00

Ada lima alasan mengapa MST mesti dihadiri. :

1. Ada musik klasik yang dihadirkan secara santai dan tidak membuat sakit punggungmu

2. Ada macam-macam pengisi acara yang dengan sangat asyik bersedia diapresiasi, dijamin tidak pundungan.

3. Tak ada panggung, artinya suasana menjadi lebih hangat, intim, dan tak berjarak. Jika pemain musik ada kesalahan, pasti ketahuan.

4. Tak perlu bayar, artinya gratis.

5. Tidak ada makanan gratis, artinya MST ini sama saja dengan acara musik kebanyakan, makanannya mesti beli.

Pengisi acara :

-Tesla Manaf Effendy Jazz Duo

-D'Java Strings Quartet

-Klab Klassik Strings Trio feat. Yeyen dan Dian

-Deu Galih


Crafty Kids Club

Program Liburan Anak-anak

Peserta dibagi menjadi dua kelompok usia

I. SD Kecil Kelas 1 s/d kelas 3

II. SD besar kelas 4 s/d kelas 6

Materi :

Peserta belajar membuat aneka kerajinan tangan seperti jam, boneka, tas, asesoris, dan jurnal (tingkat kesulitan disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing).

Peserta belajar melatih konsentrasi, ketekunan, komposisi, kerapian, dan selera seninya melalui teknik kerajinan tangan : menempel, menjahit, meronce.

Waktu kegiatan:

Senin s/d Jumat, 6 s/d 10 Juli 2009

pk. 10.00-12.00

Biaya pendaftaran : Rp. 250.000,00, sudah termasuk bahan dan alat

Tempat yang tersedia maksimum hanya untuk 15 orang

Informasi dan pendaftaran hubungi :

Tobucil & Klabs

Jln. Aceh No.56 Bandung, telp. 022 4261548


Dari luar rumah :

pamerandititikoranje

Sunday, June 14, 2009

Dunia adalah Buku Mewarnai

 

“Kau hanya bisa melihat dengan hatimu,

sebab matamu tak sanggup menangkap apa yang penting.”

       -The Boy Who Ate Stars (Kockha), halaman 48-

Pada suatu hari, Tobuciler meng-sms seorang teman yang menyukai navy blue :

“Eh, di daerah Sawah Kurung skrg langitnya navy blue, lho … tapi semenit lagi warnanya mungkin udh bakal berubah lagi.”

Teman Tobuciler yang senantiasa ilmiah itu lalu membalas :

“Navy blue ? Itu hanya perspesi dan ilusi optik. Karena langit dan awan tidak berwarna. Dan matahari TIDAK berwarna kuning. Kecewakah? Kekekeke …”

“Enggak,” balas Tobuciler, “Kalau langit nggak berwarna artinya kan kita bisa ngasih dia warna apa aja … hehehe …”

Tobuciler pun melempar pandang ke luar jendela mobil. Tahu-tahu ketika itu, tiang listrik jadi merah-kuning-oranye. Penjaja buah jadi hijau jeruk nipis. Polisi jadi biru muda. Rumah-rumah jadi coklat dengan nuansa merah ceri. Rambu lalu lintas jadi putih-ungu-merah muda. Dan Daerah Sawah Kurung jadi warna-warni seperti di toko permen.

Matamu kerap menghantar ilusi optik, tapi yang bukan mata bisa menghantarmu ke mana saja. Terbanglah sejauh-jauhnya bersama imajinasimu dan blog Tobucil edisi hari ini.

Saat tengah mengetik editorial ini, Tobuciler yang duduk dekat jendela melongok keluar.

Meski sudah pukul sepuluh malam …

… angkasa masih navy blue.

 

Salamatahari, Teman-teman, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

rengrengdanbalonsabun

Talent : Reni Renita

Siesca Roselinda Soehjar : Naganaganya tak Menghitung Uang

mainpic “Gua pinjem bentar, ya,” kata Mbak Siesca Roselinda Soehjar saat melihat komputer kasir Tobucil menganggur dan sendiri. Setelah itu, duduklah dia di singasana tampuk kekasiran dan menguasai komputer Tobucil, “Wah … udah lama gua nggak buka facebook …,” ungkapnya girang … hyaaa …

Di tengah kesibukannya bermain game facebook, Tobuciler menanggapnya sebagai “Teman Tobucil”

Tobucil : Emang suka, ya, Mbak, main Pet Society ?

Mbak Siesca : Gua ga suka Pet Society, bedakan, ini Super Poke Pet

Tobucil : Oh … beda, ya ? Emang kalo Super Poke Pet mainnya gimana ?

Mbak Siesca : Jadi, ya … diajak mainnya dikit-dikit … terus …. ditoel-toel … (sesudah itu Mbak Siesca tampak khusyuk mengamati layar komputer).

Tobucil : Ng … jadi gimana maksudnya ?

Mbak Siesca : Jadi … gua punya naga. Nama naga gua “Naga-naganya”. Terus Naga gua ini dikunjungin temen dan (dari situ) dianya dapet koin. Koinnya bisa gua pake buat belanja … (diam sebentar) Tapi kalo barangnya udah kebanyakan, harusnya bisa dijual, ya, bener nggak ?

Tobucil : Ya … nggak tau, di situ mainannya gimana ?

Mbak Siesca : Di situ barangnya nggak bisa dijual. Jadi, ya, kalo gua udah bosen, barang itu bisa gua kasih ke temen gua, terus gua dapet badge, kesannya gua pemberi yang baik, gitu …

Tobucil : Emang Mba Siesca hobinya main Super Poke Pet, ya ?

Mbak Siesca : Enggak juga, sih …

Tobucil : Terus Mba Siesca hobinya apa ?

Mbak Siesca : Menghitung uang. Asik. Gua suka bunyinya yang “kresek-kresek” gitu. Tapi gua cuma suka kalo uang baru, kalo duit lama enggak. Kalo duit lama bunyinya nggak “kresek-kresek” … malah nggak ada bunyinya karena udah melempem. Terus … bau. Sayangnya yang gua itung bukan duit gua. Sial !

Tobucil : Kan kayak orang yang pengen punya anak, Mbak, ngadopsi dulu buat pancingan. Ini juga ngitung duit orang lain dulu buat pancingan … hehehehe …

Mbak Siesca : Gelo, hahaha …

Tobucil : Di Super Poke Pet ada ngitung uangnya, nggak ?

Mbak Siesca : Enggak. Si Naganaganya kerjaannya cuma makan, maen trampolin, maen ayunan, mandi.

Tobucil : Sedih, nggak, di situ nggak ada ngitung uangnya ?

Mbak Siesca : Ga. Ga ada sensasinya ngitung make komputer mah. Yang asik, tuh, menyapukan jari di lembaran uang baru dan mendengar bunyi “tsk … tsk …tsk …”

Tobucil : Terus kegiatan Naganaganya yang Mbak Siesca paling suka apa ?

Mbak Siesca : Belanja dan menata habitat dia.

Tobucil : Hmm … masih berkaitan dengan perdagangan dan perduitan. Btw, Mbak Siesca emang seneng dagang, ya ? Secara kan retail manager di Mahanagari, gitu …

Mbak Siesca : Iya. Gua suka mencapai target … enggak juga, sih … banyak yang gua suka dari jualan. Misalnya, meyakinkan orang untuk membeli barang dan menyukai barang itu juga … eh … gua udah jatuh miskin, nih …

Tobucil : Siapa yang jatuh miskin ? Mbak Siesca ato Naganaganya ?

Mbak Siesca : Gue. Dompet gue sampe penuh dengan bon. Lagi cari mana yang bisa diuangkan untuk makan siang. Gue lagi mau reimburse ke kantor.

Tobucil : Reimburse itu apaan, sih ?

Mbak Siesca : Jadi gua belanja barang kantor kayak foto kopi, beli sampel, atau parkir, tapi pake uang gue, nanti gue kumpulin bonnya, trus gue tuker sama uang ke kantor. Lumayan …

Tobucil : Oh, gitu, toh …

Mbak Tarlen : Sies, coba permisi dulu …

Mbak Siesca : Oh, iya, iya …

Sekelompok customers memasuki Tobucil.

Naga-naganya Mbak Siesca harus mengakhiri pendudukannya di tampuk kekasiran.

Pada saat yang hampir bersamaan, muncul Mas Danu Purwoko.

Naga-naganya pangeran tak berkuda itu datang untuk menjemput Mbak Siesca.

Lalu bagaimana nasib Naganaganya yang dipelihara Mbak Siesca dalam Super Poke Pet ?

Entahlah. Tapi naga-naganya, ia masih juga tak tahu caranya menghitung uang …

Sundea

fotodua

fototiga







Biodata :

Nama : Siesca Roselinda Soehjar

Alamat : Jln. Jembatan Opat no. 11, Bandung

Hobi : menghitung uang

Komik, Kantung, Kaus

reinventing_comics Judul Buku : Reinventing Comics
Pengarang : Scott McCloud
Harga Tobucil : Rp. 40.000,00

Setelah menggebrak dengan karya terdahulunya, "Understanding Comics", kini Scot McCloud menjabarkan dua belas revolusi dalam dunia komik, baik dalam produksi dan penerimaan maupun dalam menghadapi dunia digital yang dihadirkan teknlogi komputer dan internet. McCloud mengungkapkan berbagai kelebihan komik Amerika, Eropa, dan Jepang (manga), berikut perkembangan mutakhir teknologidan budaya untuk memetakan jalan yang bisa ditempuh komik untuk menuju wujud anyar.

Kantung HP Aneka Hewan

Harga Rp. 10.000,00

Hewan imut-imut yang dibuat secara handmade ini akan menjaga telpon genggammu baik-baik.

sibinatangbinatang

“Ayo, ayo, bawa kami pulang,” pinta mereka penuh harap, “Ingin sekali kami mendekap hand phone-mu hangat-hangat …”

sibinatangbinatangjtampakbelakang

Psst … masih banyak pilihan hewan lainnya.

Datanglah ke Tobucil dan pilih sendiri hewan kesayanganmu

Dukung Ulang tahun ke-2 Madrasah Filsafat

Kaos ini di sablon dan di produksi dengan jumlah terbatas sesuai dengan permintaan. Penjualan kaos ini akan digunakan untuk kmembiayai kegiatan ulang tahun ke 2 madrasah falsafah tobucil & klabs yang akan menggelar perhelatan 'Pesta Filsuf: Merayakan Filsafat Keseharian' pada tanggal 19 Juli 2009 mendatang.

Gambar karya R.E. Hartanto. Dipergunakan atas seizin senimannya. Dengan membeli kaos ini, berarti anda telah mendukung kegiatan tobucil & klabs. Terima kasih.

kaosputih

coklatkopi

fotokaos

Spesifikasi kaos:
Bahan Katun Kombat tanpa sambungan
Ukuran: M dan XL untuk semua warna kecuali yang kuning hanya tersedia ukuran M
Harga: Rp. 80.000 (tidak termasuk ongkos kirim)

Untuk pemesanan silahkan kirim melalui telpon ke +62 22 4261548 atau email ke: tobucil@yahoo.com

untuk keterangan dan foto kaos lebih lengkap, silakan berkunjung ke sini

Lingakaran Kecil, Lingkaran Kecil, Lingkaran Besar …

 

Enam, enam, tiga puluh enam …*

semuanakgc

… dan pada suatu bulan ke enam, tiga puluh enam murid SD Gagasceria berkunjung ke Tobucil. “Ini program perpustakaan,” ujar Bu Karin, salah satu guru pendamping mereka. Di Gagasceria, setiap enam bulan sekali, kelas yang paling banyak mengumpulkan point perputakaan berkesempatan berjalan-jalan ke tempat-tempat yang berhubungan dengan buku. “Point dihitung dari banyaknya peminjaman buku, ketaatan mengikuti peraturan perpustakaan, dan bikin resensi,” ujar Bu Karin lagi.

Hari itu tiga puluh enam murid kelas satu dan empat SD Gagasceria tersebut diajak membuat tempat pinsil dari botol Aqua bekas. Mereka membungkus botol tersebut dengan kertas kado, kemudian bebas berkreasi menggunakan kain velt dan kancing.

“Aku bikin burung, ini sayapnya !”

“Aku bikin anjing !”

“Aku nulis namaku sendiri. Nggak jelas, tapi lucu.”

“Aku mau pake kumis biruuuuuuuuuu …,” seru Audi. “Kenapa harus biru ?” tanya Tobuciler. “Pingin aja,” sahut gadis mungil itu tak acuh. “Aku bikin orang yang kayak gorilla,” ujar Ilham. “Kamu seneng gorilla, ya ?” tanya Tobuciler. “Enggak,” sahut Ilham. “Terus, kenapa bikin gorilla?” tanya Tobuciler lagi. “Ya … mau bikin aja,” sahut Ilham sama tak acuhnya.

Di tangan anak-anak, benda apapun dapat menjelma menjadi apa saja. Kumis bisa biru, telinga bisa kotak, wajah bisa hijau. Kreativitas mereka yang intuitif membuat konsep menjadi sesuatu yang cair dan merdeka.

Karena pada dasarnya kreativitas dekat dengan bermain, sesungguhnya setiap anak adalah seniman. “Mereka memang senang kalau disuruh berkarya,” Bu Karin mempertegas keyakinan Tobuciler.

 

farhan Di antara anak-anak yang raya, Farhan, salah seorang murid kelas empat, tampak memegangi perutnya dengan wajah pasi. “Farhan kena maag,” ujar Bu Astri yang juga guru pendamping mereka. Melihat temannya kesakitan, murid-murid Gagasceria yang lain menghampiri dengan penuh perhatian.

“Selonjorin kakinya,” kata seorang anak laki-laki sambil membantu Farhan menaikkan kakinya ke bangku panjang. “Makan obatnya setengah aja,” kata anak yang lainnya. “Minumnya jangan pake Pocari,” sambung yang lainnya lagi. Ada pula yang sekedar duduk di sebelah Farhan dan mengusap-usap punggungnya.

Seni dekat dengan sensitivitas. Tiga puluh enam seniman cilik itu secara jelas menunjukannya.

Lingkaran kecil, lingkaran kecil, lingkaran besar … *

Semoga lingkaran kecil kebaikan yang mereka bina, kelak berdampak.

Tumbuh.

Jadi sebuah lingkaran yang besaaaaar …. sebesar dunia.

Sundea

fotobersama

Melukis di Klab Menulis

 

-Tobucil, Senin 8 Juni 2009-

Klab Nulis

Hari itu, peserta Klab Nulis diajak melukis. Lho ? Kok melukis ? “Kita belajar ‘teknik melukis perasaan’,” ujar Ophan, fasilitator Klab Nulis. Ophan memulai kelas dengan menanyakan aktivitas para peserta dalam seminggu, “apa kira-kira yang paling melelahkan dan menyenangkan ?”

Teman-teman pun mulai bercerita. Evie, misalnya, menceritakan pengalaman ia dan ayahnya yang terkena hipnotis di akhir pekan. “Ternyata ilmuku di perguruan tinggi nggak berpengaruh sama kehipnotis apa enggak,” rengut Evie manja. Secara tidak langsung, Evie sudah mempraktekkan teknik melukiskan perasaan.

melukisperasaan

Selanjutnya, Ophan meminta tiap peserta membuat bayangan perasaan dari pengalaman mereka masing-masing. Dengan bayangan itu sebagai pijakan, Ophan meminta peserta melukiskan perasaan mereka. “Bisa dengan ciri tingkah laku, pesona batin, dan melihat respon lingkungan,” Ophan mengarahkan. Evie menyebutkan “penyesalan”. Donny menyebutkan “kecewa”. Dicky menyebutkan “sebel”. Putri menyebutkan “bingung”. Rudy menyebutkan “senang”. Dan Atta menyebutkan “kenyang”.

Nah, Teman-teman, berikut adalah hasil lukisan teman kita, Atta :

Ia duduk bersandar merosot dari kursinya. Bersendawa berkali-kali. Mengusap-usap perut buncitnya sambil menatap piring-piring yang sebagian kosong dan sebagian masih berisi makanan-makanan yang sudah tak sanggup dilahapnya. Matanya sayu menahan kantuk yang datang setelah perutnya kepenuhan. Tapi ia tersenyum puas, masih merasakan setitik rasa gurih di ujung bibirnya sambil mendesah puas diselingi dengan sendawa-sendawa yang tak mampu juga berhenti.

“Excelent !” puji Ophan. “Lalu ‘bingung’. Bagaimana melukiskan orang bingung ?” lanjut Ophan. Tiba-tiba Wiku yang sekedar melintas menyeletuk, “Kayak Rudy, tah …” DHIERR !!!

Psst … Teman-teman, hari itu Rudy memang tampak sedang bingung. Serampung Klab Nulis, ia duduk-duduk di ruang belakang Tobucil sambil menunggu hujan berhenti. Ketika hujan akhirnya berhenti, ia tiba-tiba berujar ; cool tapi lantang, “Brentinya ujan !”

Segenap umat yang masih duduk-duduk di ruang belakang Tobucil tergelak-gelak. “’Ujannya brenti’, Rudy !” koreksi Tobuciler. Tapi Rudy berlalu dengan datar.

Perasaan apa yang dilukiskan Rudy saat itu ? Entah. Setelah hujan berhenti, perasan Rudy tampak seperti lukisan abstrak yang kontemporer …

Sundea

rudy

 

 

 

 

 

 

Rudy

Mengisi Media Putih

 

-Tobucil, Kamis 11 Juni 2009-

Klab Komik Manyala

Segelintir peserta Klab Komik yang hadir lebih awal tampak asyik menggambar dalam kesunyian. Tanpa interaksi. “Udah mulai ini teh ?” tanya Tobuciler. “Belum, belum. Kan masih nunggu jam tiga. Biasalah, (komikus kan) ga bisa liat media putih … hehehe …,” sahut Harlis dari Funco, komunitas komik Unikom, fasilitator Klab Komik hari itu. “Ga bisa liat media putih ? Wah … jangan sampe kalian ke rumah sakit. Bisa-bisa nanti kalian nggambar-nggambar di suster …,” tanggap Tobuciler cemas.

Setelah peserta Klab Komik berdatangan, kegiatan Klab Komik yang sesungguhnya dimulai. Para peserta dibagi menjadi pasangan-pasangan kemudian diberi selembar kertas dengan delapan panel kosong. “Lewat komik kita bisa saling mengenal,” ujar Harlis. Ia pun menginstruksikan setiap peserta bertanya dalam bentuk gambar kepada pasangannya. Pada panel berikutnya, si pasangan menjawab pertanyaan partnernya, dan begitu seterusnya.

Kegiatan menggambar tidak lagi sunyi dan miskin interaksi. Cekakak-cekikik terdengar. Berbagai ide tumpah ruah dalam panel-panel yang tadinya kosong. Ada lelucon-lelucon slapstick seperti dalam komik Dikei dan Jokk, plesetan liar seperti dalam komik Opick dan Sundea, serta obrolan sederhana dan manis seperti dalam komik Rere dan Samuel.

dikeidanjokk

Ide cerita dan setting pun berkembang luas ke mana-mana. Mulai dari bawah laut sampai luar angkasa. Mulai dari urusan mengupil sampai urusan facebook. Delapan panel komik yang dikerjakan berpasangan ternyata cukup signifikan untuk membuat para peserta saling mengenal. Gaya bertutur dan karakter gambar cukup mampu merepresentasikan penggambarnya.

Hmmm … hari itu tampaknya para pengomik memang tak membiarkan media putih tetap putih, secara harfiah maupun metaforik.

Sebab bisa dikatakan, teman yang belum dikenal juga sebuah media putih …

Sundea

komikdijajar

Diskusi Musik Kontemporer

-Tobucil, Minggu 14 Juni 2009-

Klab Klassik

”Apakah yang dinamakan musik kontemporer? Apakah istilah ini berkaitan dengan situasi ’kekinian’ atau ’masa akan datang’? Jika berkaitan dengan kekinian, lantas apa bedanya dengan musik populer? Jika berkaitan dengan yang akan datang, lantas apa bedanya dengan musik avant-garde atau garda depan? Lantas apa andil musik klasik terhadap kemunculan musik kontemporer? Ayo ikuti diskusi ini, gratis dan tidak memihak capres manapun. Peserta tamu: Royke B. Koapaha (dosen ISI Yogya), Diecky K. Indrapradja (komposer kontemporer).”

Demikianlah promosi yang dibuat oleh KlabKlassik baik di facebook maupun di blog dalam rangka menyambut diskusi musik kontemporer. Seyogianya diskusi yang diadakan hari minggu kemarin menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, tapi apakah yang terjadi? Begini ceritanya, diskusi mulai jam tiga, yang datang ada sepuluhan. Berbekal laptop dan televisi, Diecky K. Indrapradja memulai presentasinya. Kemana Pak Royke Koapaha? Katanya tertidur, jadinya telat, duluan saja, begitu katanya. Cerita Diecky tentang fenomena musik kontemporer di Indonesia cukup menjadi perhatian. Menurutnya, ada permasalahan serius tentang pendefinisian musik kontemporer di Indonesia. Dia pernah menemui, dalam suatu instansi pemerintah, -yang konon isinya pakar-pakar kebudayaan- mendefinisikan kontemporer sebagai: musik jaman sekarang, yang konotasinya Nidji dan kawan-kawan.

Lalu ia melanjutkan panjang lebar, masuk ke wilayah definisi, Chris lantas memotong, “Penting nampaknya untuk melakukan standarisasi secara internasional definisi musik kontemporer ini, karena nampaknya tidak jelas dan abu-abu sekali.” Entah karma atau bukan, Chris kemudian dipotong lagi oleh kehadiran Pak Royke yang nampak cukup dinanti. Wajar saja, Pak Royke ini bisa dibilang salah satu komposer musik kontemporer yang telah cukup lama malang melintang di blantika musik Indonesia. Kehadirannya di Tobucil terasa cukup berharga. Cukup, cukup, cukup terus.

Kedatangan Pak Royke bak kiai di akhir film horror: menyejukkan. Ini terlebih setelah sajian video dari laptop Diecky, -sebuah komposisi karya John Cage berjudul First Construction in Metal- yang dirasa secara subjektif oleh Tobuciler: kurang nyaman didengar. Isinya berupa sekelompok orang yang memukuli benda-benda keras seperti baja, seng, dan besi-besian, namun berupaya untuk mencapai harmoni. Harmoni yang dimaksud jelas bukan estetika yang kita kenal secara umum, melainkan harmoni yang tak wajar, sungguh tak nyaman didengar. Lalu laptop Diecky seolah tak henti menyuguhkan sajian “abnormal”: ada duet piano dan sopran, tapi sang soprano menyanyi dengan duduk di atas piano, dan pianisnya pun tak main tuts piano, tapi hanya memukul-mukul tutupnya; lalu ada gambar-gambar partitur yang ditulis secara tidak wajar: alih-alih macam toge biasa, ini malah ada yang berbentuk spiral, benang kusut, hingga diagram atom!

Dengan candaan yang renyah, Pak Royke selalu mampu menengahi ketakwajaran sajian sore itu, dengan kengernyitan dahi para peserta. Menurutnya, “Berbagai ‘keanehan’ ini, jangan dilepaskan juga dari semangat jaman itu. Waktu itu tahun 1950-an, ketika Amerika baru menang Perang Dunia II. Wajar jika komposer Amerika banyak yang aneh-aneh. Pertama, status pemenang perang membuat mereka merasa punya hak untuk menentukan nilai kebudayaan. Kedua, pemain musik hebat kebanyakan ada di Eropa, sehingga ini juga yang mendorong orang-orang Amerika untuk menampilkan musik anti-virtuositas. Yah, yang begitu, yang bisa dibilang ‘asal bunyi’. Ketiga, Amerika tidak punya tradisi kebudayaan yang kuat. Ya beginilah jadinya, mereka menciptakan semacam kebudayaan yang baru. Bahkan sempet ada pemeo, ‘kalo ga aneh namanya bukan seni!’” Ujaran Pak Royke ini cukup menyegarkan, setidaknya ada semacam kesadaran: bahwa yang “aneh-aneh” itu, ada latar belakang yang masuk akal dan bolehlah dimaklumi.

Masuk akhirnya ke pertanyaan Chris tadi, Pak Royke menjawab sederhana namun dalam, “Kontemporer berarti kekinian, namun didasari oleh sikap yang melampaui kemapanan.” Sebenarnya terjawabkah seluruh pertanyaan yang dilontarkan di awal paragraf ini? Tidak juga, karena tak mesti semuanya dijawab. “Tak mesti kita menanam pohon, kita yang memetik buahnya. Kenapa tidak berpikir anak cucu kita kelak yang akan memetiknya?” demikian ujar Diecky, menengahi sisa kebingungan yang masih menggelayuti peserta. Intinya, tak mestilah kita paham sekarang. Atau bahkan, jangan-jangan, diskusi ini bukan dalam rangka mencari pemahaman. Melainkan sekedar refleksi, dan sedikit mengguncangkan pikiran agar tetap waras senantiasa.

Syaraf Maulini

Surat Buat Awan

Awan, kamu mau ke mana? Sebelum kamu pergi jauh, dengerin aku dulu, ya. Aku mau ngomong, nih.

Aku sukaaa… banget sama kamu. Soalnya kamu lucu. Kamu, tuh, kayak kapas yang ditempel di kertas warna biru.

Kamu ngerasa, nggak, sih, kalau aku suka meratiin kamu? Terus, kamu suka meratiin aku juga, nggak?

Mmm… Aku suka banget liat kamu ngerayap di langit biru. Kamu kalo ngerayap pelan-pelan, kayak takut ketauan matahari. Terus kalo matahari liat, kamu suka nyamar. Jadi domba, mobil, anjing, janggut kakek-kakek. Sambil terus ngerayap di langit.

Sebenernya kamu mau ke mana, sih? Keliling dunia, ya? Aku boleh ikut, nggak? Jadi aku nanti kayak naik permadani terbang, liat bumi dari atas. Pasti seru, deh.

Hah? Aku nggak boleh ikut? Kenapa? Yaaah… Padahal aku udah siap pergi, nih. Ikut kamu jalan-jalan. Tapi kalo kamu nggak mau aku ikut, nggak apa-apa. Aku nggak bakal nangis, kok. Kan, aku masih bisa liat kamu dari sini. Tapi nanti, kapan-kapan, kamu main ke rumahku, ya. Sebentaaar… aja. Aku, kan, pengen megang kamu. Pasti kamu lembut, ringan, dan rasanya manis. Kayak harumanis yang nggak dikasih pewarna. Hmm… Pasti maknyusss, deh.

Eh, kok, kamu buru-buru pergi? Kenapa? Matahari liat kamu, ya? Ya udah kalo gitu. Cepetan pergi, deh. Bukannya aku ngusir. Tapi kalo matahari nangkep kamu, nanti kita nggak bisa ketemu lagi.

Dadah, Awan… Hati-hati di jalan, eh, langit, ya. Mmuuaaah…

(Buat Apid, makasih udah nyalin tulisan ini.

Buat Mbak Tarlen, makasih udah bikin “awan”-nya nggak ilang.)

 

fotorieyanti Rie Yanti adalah pecinta awan. Kalau sedang tidak ada kerjaan atau kepalanya sedang mumet, dia suka bercakap-cakap dengan awan-awan putih.

 

 

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Tanganku Duniaku

 

resizedlima

resizedsatu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

resizedua 

 

resizedtiga

resizedempat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Merajut adalah salah satu pelajaran yang diwajibkan di SLB Wyataguna di bilangan Padjdjaran (khusus siswa SLB Bagian A) untuk memberikan kemandirian  jika mereka kelak lulus dari sekolah tersebut.

 

fotomasbebeng

Agus Bebeng adalah seniman fotografi yang juga stringer kantor berita Antara.

 

 

 

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Galau, Galau, Feeling, Feeling

 

IMG_2265 asuhan Kak Syaraf Maulini

 

 

 

Pertanyaan dari IBS (via FB):

Halo kak Syaraf yang **** (isi sendiri deh, hihihi... :p). Aku mau nanya lagi nih. Boleh dong ya? Ih...boleh dong... :p

1. Katanya kak Syaraf suka ngajarin Filsafat ke Andri Prayoga ya? Ih... keren.... mau dong diajarin filsafat ama kak Syaraf, tapi... kira-kira ntar aku tambah galau atau galaunya berkurang atau tetap galau ya? Hmmm... :p

2. Kak, aku tuh ngerasa kangen terus sama tahun 2001. Kenapa ya? Bingung deh. Emang sih di tahun 2001 banyak banget hal aneh yang terjadi padaku, tapi.... kok bisa sampe sekangen ini sih???? Kak Syaraf punya mesin waktu kan? Balikin aku ke tahun 2001 dong! Please ya? Ayo dong... bisa kan? Harus bisa dong! Masa gak bisa sih? Pasti bisa kan? Ayo dong! AYOOOOOO!!! hihihi... :p

3. Kak, rumah kakak di buah batu kan? Berarti di sana banyak buah berbatu atau ada nama buah yang namanya "batu" kah? Atau gimana?

4. Sekarang masih kena denda di VideoEzzy ga? HIHIHIHI.... :p

5. Kak, mmmm.... minta es krim dong?? hihihi.... :p

6. Kak Syaraf kan pernah bilang kalau kak Syaraf gak akan jadi penggalau sejati lagi melainkan jadi "penggalau semahoni", itu artinya apa?

Udah segitu dulu ya? Aku pengen bobo dulu nih, pengen bermimpi tentang tahun 2001, hihihihi...:p

Jawaban dari Kak Syaraf:

Itu kamu kasih bintang empat untuk diisi sama saya sendiri yah, Hotel Horison deh! Waduh IBS, kalau minggu depan kamu tanya lagi, panggil saya Syaraf SAW ya, memang saya ini nabi?

  1. Galau itu kan erat kaitannya dengan perasaan alias feeling. Nah biar galaumu hilang, akan saya ajari tidak sebatas filsafat, tapi ilmu filsafat alias ilfil!
  2. Wah ini pertanyaan musyrik nih. Tapi saya juga kangen sih pas jaman kaset satunya 2000 rupiah. Nah itu kan jadinya 2001. Tapi sekarang kaset ga jadi 4002 yah? Malah bisa 25001. Ini matematika saya yang jelek atau wajah iblis yang jelek? Mending kita beli bajakan yah meski dilarang. Jangankan kamu, saya pun aneh.
  3. Panjang ceritanya. Jadi Adam dan Hawa itu, kau tahu kenapa dia turun ke bumi? Karena dia makan itu buah khuldi. Lalu apa kabar jika yang dia makan itu buah batu? Tidak akan turun ke bumi siiih.. tapi ya turun ke tenggorokan trus ke lambung aja seperti biasanya. Tapi ya kau tahulah lambungnya akan kesulitan mencerna, dan seterusnya tak perlu dibahas. Lalu apa tadi pertanyaanmu? Oh, yang pasti rumah di buah batu itu adalah hasil karya anak cucu Adam dan Hawa.
  4. Tunggu sampai saya jadi presiden ya. Kebijakan pertama saya adalah restrukturisasi utang VideoEzzy dan proses pelunasannya oleh anak cucu.
  5. Kamu kayak PKI aja, minta sama orang yang bersangkutan. Minta sama Allah dong!
  6. Artinya kamu jangan banyak nanya ahhhh.. Mending kau tidur aja, ngitung dombiru sambil menyanyi bak tangga nada: ”dombiru, rembiru, fambiru, simbiru..”

Turn On Your TV

 

salamatahari Sebetulnya televisi cuma makhluk anget yang suka memeluk. Waktu kita bangunin dengan tombol “on”, ia akan menatap kita dengan mata berbinar. “I’ll keep my eye on you,” kata televisi sambil ngerentangin tangan imajinernya.

 

 

Memeluk kita.

Penuh dedikasi.

Bertaun-taun yang lalu, waktu cucu-cucu almarhum opa-oma masih full team tinggal di Siliwangi, tv selalu jadi temen yang paliiiiiiiing … bisa meluk kami dengan erat dan anget. Kami yang punya kesukaan beda-beda, tau-tau jadi punya satu interest waktu ngumpul di depan tv. Acara yang ditonton kadang jadi nggak penting lagi karena komentar tentang siaran tv seringkali berkembang ke hal-hal yang lebih personal,

“Kita* suka cowok di drama Jepang itu, lho, soalnya ....”

“Ada dosen kita* yang mirip Jhon Banting. Dia yang paling concern sama T.A kita*.”

“Tau, nggak, kenapa lagu ini berkesan banget buat kita* ?”

“Kita* akhirnya udah nyatain ke si itu …”

“Kalo jadi tokoh di sinetron ini, kita* bakal marah banget. Soalnya kita* pernah ngalamin …”

“Jadi inget liburan bareng, nggak, sih, kalo liat F4 lagi ?”

Televisi yang nggak pernah ikut ngobrol sebenernya ngeliatin semua itu dengan mata berbinar. Diem-diem dia ngerentangin tangan imajinernya yang tanpa kami sadarin sebenernya bikin kami lebih rapet dan anget. Waktu pada akhirnya diistiirahatin dengan tombol “off”, televisi nutup matanya dengan patuh. “Still offer you warmth and hug another time you guys need me to,” kata televisi sambil ngelipet tangan imajinernya untuk direntangin lagi lain kali.

Sekarang rumah Siliwangi udah sepi karena anak-anak udah lebih dewasa dan pencar ke mana-mana. Sementara, buat Dea, tv rumah Siliwangi udah kebiasa meluk banyak orang. Diameter pelukannya kerasa terlalu luas untuk meluk satu orang aja. Duduk sendiri di depan televisi bikin Dea justru lebih paham makna “lengang”.

Tapi, ya, Temen-temen, setiap kita bangunin dengan tombol “on”, televisi tetep natap kita dengan mata berbinar. “I’ll keep my eye on you,” kata televisi sambil ngerentangin tangan imajinernya.

Memeluk kita.

Penuh dedikasi.

Turn on your tv sometimes, it’s ok, it’s tame.

Pada dasarnya televisi cuma makhluk anget yang suka memeluk.

Mungkin justru kamu sendiri yang memaksanya memeluk kamu terus menerus …

*kita = kata ganti “saya”

Sundea

Untuk melihat foto si tv, klik di sini

Facebook : antara Realita dan Dunia Maya

Musik Sore Tobucil # 3

Musik sore Tobucil hadir kembali, pada tanggal 28 Juni 2009, pukul 15.00-17.00, yang ke tiga kali. Ada lma alasan mengapa MST mesti dihadiri. :

1. Ada musik klasik yang dihadirkan secara santai dan tidak membuat sakit punggungmu

2. Ada macam-macam pengisi acara yang dengan sangat asyik bersedia diapresiasi, dijamin tidak pundungan.

3. Tak ada panggung, artinya suasana menjadi lebih hangat, intim, dan tak berjarak. Jika pemain musik ada kesalahan, pasti ketahuan.

4. Tak perlu bayar, artinya gratis.

5. Tidak ada makanan gratis, artinya MST ini sama saja dengan acara musik kebanyakan, makanannya mesti beli.

Pengisi acara :

-Tesla Manaf Effendy Jazz Duo

-D'Java Strings Quartet

-Klab Klassik Strings Trio feat. Yeyen dan Dian

-Deu Galih


Regular Klabs

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 17 Juni 2009
dengan tema:

“Facebook” (antara realita dan dunia maya)

Rabu, 17 Juni 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 24 Juni 2009 : "Bermain Persepsi"

Klab Nonton

persepolis_ver3 Sabtu, 20 Juni 2009, Pk. 18.15 - 20.00 Persepolis (2007)
Sutradara: Vincent Paronnaud, Marjane Satrapi/109 menit

Marjane Satrapi tumbuh sebagai gadis tomboy dan memiliki rasa ingin tau yang sangat besar. Cita-citanya saat kanak-kanak, ingin menjadi orang suci, sampai suatu hari, dunia sekelilingnya mengubah hidupnya. Gejolak sosial politik di Iran, memaksanya meninggalkan keluarga yang sangat ia cintai dan negeri yang melekatkan identitas pada dirinya. Sebuah kesaksian perempuan Iran yang kini menetap di Perancis, tentang pergolakan sosial politik pada masa peralihan kekuasaan di Iran.

Klab Nonton bulan Juni : “Mari Menoton Komik. Mari Membincangkan Realitas”. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Klab Melipat Kertas

Workshop Melipat bulan Juni : Travelling

kapalkapal

klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Rubrik :

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary

Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...

Off Clinic :

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kami akan menjawabnya. Rubrik ini diasuh oleh Kak Syaraf Maulini

Sunday, June 7, 2009

Tertawalah, Jadilah Spektrum yang Berpendar Cerah

 

Tawa adalah bentuk ekspresi yang kaya dan dermawan. Ia adalah spektrum kebahagiaan, kejutan, kemerdekaan, ketulusan, dan cinta kasih yang berpendar dan mudah menular. Tawa renyah dan lepas yang kebetulan mampir kepadamu, akan menjadi spektrum kebahagiaan, kejutan, kemerdekaan, ketulusan, dan cinta kasih juga. Ia akan berpendar lagi melalui kamu. Pun melalui orang yang terhampiri spektrum ekspresimu.

Tawa yang memicu pelepasan endorfin (zat pembunuh rasa sakit) juga terbukti secara ilmiah mampu menyembuhkan penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuh. Ia yang dermawan berpendar keluar, tak pernah membuat kekurangan di dalam.

Minggu ini blog Tobucil hadir dengan tema “Tertawa”. Ada Adi Marsiella dan Mas Frino yang tertawa-tawa karena program photoboot, Mas Alwan dan Mbak Elin yang tertawa-tawa di area kekasiran, fotobucil yang menghadirkan berbagai tawa ria di Tobucil, komik Erick bdg, Si Kecil Gina dan jawaban-jawaban khas anak-anaknya, Moel yang tertawa-tawa menjelang presentasi di Pecha Kucha, Rudi yang  dianggap punya  hidup mirip Harvey Pekar, dan Offclinic asuhan Kak Syaraf Maulini.

Kemungilan Tobucil selalu dilimpahi oleh tawa.

Itu sebabnya kami ingin membagi pendar ini kepadamu.

Sebanyak-banyaknya.

Semoga spektrum kebahagiaan, kejutan, kemerdekaan, ketulusan, dan cinta kasih ini menularkan hal baik kepadamu,

seperti kalian yang telah menulari kami hal baik dalam berbagai bentuk.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Tobuciler

 

adimarsielacobra Talent : Adi Marsiella

Gina Salsabrina, Calon Princess yang Berbaju dan Celana

 

mainpic Gina Salsabrina adalah adik sepupu Iman, murid les Mbak Upi. “Kamu umur berapa, sih, Gin ?” tanya Tobuciler. “Dua bulan,” sahut Gina asal. “Empat tahun,” koreksi Nyai pengasuhnya.

Meski sudah dibekali seperangkat bahan meronce kalung, Gina bulak-balik menghampiri Iman yang sedang belajar. “Gin, jangan ganggu A Iman. Sini aja, yuk, ngobrol sama aku …,” ajak Tobuciler. Dan Si Lucu Gina pun ditanggap sebagai “Teman Tobucil”.

Tobucil : Gina lagi bikin apa, sih ?

Gina : Kalung.

Tobucil : Hmmm .. mau bikin kalung yang gimana, nih ?

Gina : Yang kayak Sasi.

Tobucil : Sasi siapa ?

Gina : Temen aku. Dia kalungnya warna-warni.

Tobucil : Woah … keren, doooong …

Gina : Aku punya mainan dokter-dokteran.

Tobucil : Emangnya Gina mau jadi dokter, ya ?

Gina : Enggak, maunya jadi Princess.

Tobucil : Kenapa ?

Gina : Karena cantik.

Tobucil : Emang dokter nggak cantik, ya, Gin ?

Gina : Enggak. Soalnya kalo dokter kan pake topi. Kalo princess enggak.

Tobucil : Oh … gitu, ya … (garuk-garuk kepala). Eh, kalau Gina udah jadi princess, kira-kira Gina mau apa ?

Gina : Mauuuu (menerawang) …. PAKE BAJU !

Tobucil : Lho … ? Emang kalo sekarang Gina nggak pake baju, ya ?

Gina : Iyah.

Tobucil : Terus, yang dipake ini apa namanya ? (sambil menunjuk baju Gina)

Gina : Baju sama celana.

Tobucil : Hehehe … oh, iya, kalo Princess pakenya bukan baju sama celana, ya ? Jadi baju apa, dong ?

Gina : Baju Princess.

Tobucil : Baju Princess ?

Gina : Yang pink ato ungu.

Iman : Yang kayak di istana, Dik, bilang yang kayak di istana …

Mbak Upi : Ayo, Iman, ini nggak diganggu malah mengganggu dirinya sendiri … kerjain dulu tantangannya …

Suara tawa menggelegar dari ruang AJI lagi dan lagi. Gina bulak-balik mengintip-ngintip ke ruang AJI.

Tobucil : Gina mau main ke sana ? Yuk aku temenin … Oomnya baik-baik, kok …

Gina : (menggeleng)

Tobucil : Kenapa ?

Iman : Karena Oomnya kayak nenek sihir ?

Mbak Upi lalu kembali mengisyaraktkan Iman untuk berkonsentrasi.

Gina : Enggak, sih, cuma … kayak orang lain.

Tobucil : Ha ?

Gina : Iya, entar ada lalat yang kemakan …

Tobucil : Ey … ?

Apa maksudnya ? Entah. Princess imut-imut ini memang penuh kejutan.

Ia juga mengejutkan Tobuciler ketika tiba-tiba menutup mulutnya dengan wadah manik-manik dan membukanya lagi. Setelah itu, ia menghampiri Iman yang tampak mulai jenuh belajar, “A Iman pinter, ya …,” ungkapnya penuh ketulusan. Kalimat sederhana itu mengandung sihir yang memotivasi.

Apa wadah manik-manik itu mengandung keajaiban dari negeri dongeng ? Entahlah. Sesungguhnya princess imut-imut itu sendiri adalah keajaiban …

Sundea

resizedua

resizedtiga

 

Naga Bonar dan Tas Limited Edition

 

Nagabonar Jadi 2, Deddy Mizwar Judul Buku : Nagabonar jadi 2
Pengarang : Akmal Nasery Basral
Harga Buku : Rp. 49.500,00
Harga Tobucil : Rp 44.500,00

Novel "Nagabonar jadi 2" yang ditulis oleh Akmal Nasry Basral, seorang wartawan Tempo yang dikenal memiliki mata kronologis yang penuh kejelian, merupakan sebuah perspektif lain. Bila film tampil sangat visual dan grafis, maka novel yang ditulis Akmal ini, membutuhkan indera khusus dengan imajinasi yang bebas dan lepas.

Tentang film Nagabonar, klik di sini

 

 

Tas ini Limited Edition, lho …

tas Bahan: Blacu kanvas
Harga satuan : Rp. 25.000
Tali: webbing sintetis
Stok: 15 pcs (Limited Edition)

design by Vitarlenology

 

informasi selengkapnya, klik di sini

Anda Seniman ? Stress di Hari Senin ? Ikuti Gaya Kami

 

-Tobucil, 01 Juni 2009-

“HUAHAHAHA …,” gelegar tawa membahana dari ruang AJI. Si kecil Gina yang sedang meronce kalung mendadak terkesiap. “Kenapa, tuh, Oom-oomnya ?” tanya Tobuciler. Gina jelas tidak tahu. Ia hanya menggeleng sambil berbisik, “Kayak nenek sihir …”

Ternyata, Teman-teman, Adi Marsiella dan Mas Frino sedang asyik bermain-main dengan program photoboot. “Sini, deh, liat,” panggil Adi yang berkacamata hitam bak bintang film action era 80an. Tobuciler mendekat. Saat melihat wajah Adi yang didistorsi oleh program photoboot, Tobuciler ikut tergelak-gelak seperti nenek sihir juga.

masfrinceadi

“Kenapa kalian tiba-tiba main gini-ginian, sih ?” tanya Tobuciler. “Awalnya Si Adi pengen nyoba kacamata hitam karena kacamata itu adalah kacamata gang Cobra,” papar Mas Frino. “Gang Cobra apaan ?” tanya Tobuciler kurang paham. “Lu tau film Cobra, nggak ? Filmnya Sylvester Stalone,” kata Adi tanpa melepas kacamata hitamnya. Tobuciler yang hidup setelah era Stalone hanya menggeleng.

“Ini, nih, yang kotak kayak seni rupa Cina … hahahaha ….,” Adi tertawa-tawa girang. Sementara itu, sambil menoleh pada Tobuciler, Mas Frino bergaya bak bintang-bintang iklan layanan masyarakat, “Anda seniman ? Stress di hari Senin ? Ikuti gaya kami …”

 

adikotak

Setelah puas berpose, Adi meninggalkan ruang AJI. Saat melihat Gina yang asyik meronce di ruang belakang Tobucil, dengan ramah tamah dan kebapakan ia mengajak Gina turut bergabung dalam keriaan eksperimen photoboot, “Gina mau liat ? Yuk …”

 

gina

Apakah Gina mau ?

Silakan lihat foto berikut ini dan tebaklah …

 

 

Sundea

Mega

-Tobucil, Jumat 05 Juni 2009-

Gelak tawa renyah terdengar dari seputar tampuk kekasiran Tobucil. Ada apa gerangan ?

ketawaketawa

“Nggak ada apa-apa, sih, sebenernya,” sahut Mbak Elin. “Tadi kan Mega nanya, kalo orang bayarnya kurang gimana. Jadi pas Alwan mau bayar, saya nyamper ke kasir. Pas saya gini (mengusap rambut), Alwan juga. Terus teh urang jiga nu ngaca, ya, (saya seperti yang bercermin, ya) sama Alwan. Udah. Cuma gitu, kok,” papar Mbak Elin. “Kok pas diceritain nggak lucu, ya ? Padahal tadi ketawanya girang banget …,” tanggap Tobuciler. “Iya, da tadi mah Alwan cuma grogi karena ada Mega. Hehehe …,” ujar Mbak Elin.

Siapa Mega ?

Bukan, dia bukan kandidat presiden R.I yang kini bersanding dengan Prabowo. Mega adalah gadis manis pengganti Moel dan Yuchan yang cuti serempak. Sebelum resmi bertugas di akhir pekan, Jumat itu Mbak Elin men-training Mega. Mega yang baru lulus SMU dan mengaku sedang punya banyak waktu senggang sudah muncul di Tobucil sejak pagi hari.

Telpon Tobucil berdering.

“Nah, kalo ada telpon, kamu yang ngangkat,” Mbak Elin menginstruksikan. “Bilangnya apa ?” tanya Mega. “Tobucil, selamat … selamat … selamat ulang tahun !” sahut Mbak Elin asal. Mega pun bergegas menghampiri telpon dan mengangkatnya.

“Halo, Tobucil, selamat siang …,” sapa Mega dengan suaranya yang lembut seperti es krim.

Tobuciler menyeringai. Untung kali itu Mega tidak patuh-patuh amat pada instruksi atasan … hehehe …

Sundeameganelpon

Antara Harvey Pekar dan Rudi Rajut

-Tobucil, 6 Juni 2009-

Klab Nonton

Namanya Harvey Pekar. Ia sering sekali menggerutu. Penyebabnya, karena hidupnya selalu dalam celaan, dan kebahagiaan seolah urung menghampirinya. Pekar nyaris kehilangan arah, sebelum ia bertemu Robert Crumb, seorang komikus. Dalam keputusasaan, Pekar ternyata jeli menangkap absurditas kehidupannya sebagai sesuatu yang pantas diangkat. Di masanya, tahun 70-an, Pekar melihat bahwa komik kebanyakan hanya menceritakan dunia fantasi atau superhero. Lantas Pekar menawarkan idenya pada Crumb: untuk mengomikkan kehidupan kesehariannya. Crumb setuju, dan lahirlah komik American Splendor, yang mana pada awalnya, Pekar sendiri yang menerbitkan.

”Rud, tontonlah film ieu, maneh pisan lah.” Itu kata Wiku pada Rudi Rajut sebelum acara pemutaran film di Klab Nonton Sabtu kemarin. ”Kenapa, Mas Wiku?” tanya Rudi. ”Nya pokona nonton we lah, pokona maneh pisan,” kata Wiku yang artinya jangan banyak tanya, Rud. Klab Nonton hari itu yang datang ada lima orang termasuk Tobuciler. Filmnya berjudul American Splendor, yakni kisah nyata mengenai, ya itu tadi, Harvey Pekar. Kisahnya dikomikkan, lalu diangkat menjadi film oleh sutradara Shari Springer Berman. Pekar dalam film ini diperankan oleh Paul Giamatti, biarpun kadang-kadang Pekar yang asli juga ditampilkan.

Lewat komik American Splendor –isinya betul-betul kegiatan harian, seperti masalahnya dengan mobil, wanita, bosnya, hingga berbagai kecemasan dan gerutuannya secara detil-, Pekar berkembang menjadi seorang yang dikenal. Komiknya laku dan ia sering diundang ke acara-acara talkshow yang terkenal di Amerika. Lewat kelarisan komiknya itu pula, Pekar menemukan wanita yang kelak menjadi istrinya, yaitu Joyce Brabner. Keduanya kemudian mengadopsi anak bernama Danielle, yang mana akhirnya mereka semua hidup bahagia selama-lamanya. Oh, itu klise sekali, tidak-tidak seperti itu, Pekar masih Pekar, masih penggerutu dan pecinta absurditas, karena itulah barangkali ia dikenal.

Seperti halnya komiknya, film American Splendor pun tak lebih dari sekumpulan pengalaman harian Pekar. Tak ada lonjakan konflik berarti, kecuali pergulatan antara Pekar dan absurditasnya sendiri. Tapi barangkali, sebagai sebuah sajian eksistensialis dan anti-hero, tema ini justru menarik. Ditambah gaya tutur yang sesekali mengadopsi gaya komik, American Splendor sungguh sebuah tontonan yang penting bagi Rudi Rajut. Benarkah begitu Rud? Sudahkah bertemu apa kesamaanmu dengan Harvey Pekar? Ada Klab Komik Manyala, Rud, jika dirimu kelak ingin menggambarkan keseharianmu

Syaraf Maulini

Share the Laughters @ Tobucil

 

IMG_0841

IMG_2165

 

 

 

 

 

 

 

IMG_0884

IMG_1081

 

 

 

 

 

 

 

 

IMG_1285

IMG_5714

 

 

 

 

 

 

 

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

The Men Who Knit Make a Hit

 

-Gedung Indonesia Menggugat, Jumat 29 Mei 2009-

“Naaah ... ini merupakan karya pribadi saya yang mendapat sponsor benang dari Tobucil,” ujar Moel saat foto diri dan boneka karyanya tampil di slide, “Namanya Mogu, yang singkatan dari monster gurita sebenarnya …”

Meski baru mengalami kecelakaan motor, Moel, yang sudah berlatih dengan sungguh-sungguh, tetap datang untuk mempresentasikan Klab Hobi di ajang Pecha Kucha. Dua puluh slide yang ditampilkan hanya dalam tempo dua puluh detik saja tampak cukup efektif menjejakkan kesan. Selain karena pembawaan Moel yang ringan dan lugu, foto pria bertato yang asyik merajut rupanya mengejutkan hadirin. Ada yang tertawa, ada yang terkesiap, ada pula yang langsung berkomentar macam-macam. Stereotipe “merajut hanya untuk perempuan dan nenek-nenek” sepertinya masih lekat. Padahal apa yang salah dengan pria merajut ?

Di Tobucil, pria dari berbagai profesi dan latar belakang merajut tanpa beban. Mereka yang pemusik, pengusaha, mahasiswa, sampai wartawan harian umum menjalin benang silaturahim sambil menjalin benang-benang rajutan mereka. Dengan bangga mereka menamakan diri mereka “The Men Who Knit”.

Pssst …hari itu seorang pria bernama Rano mendapat hadiah door prize sumbangan Tobucil. Isinya antara lain seperangkat peralatan merajut. Meski sempat tampak terkejut, pada akhirnya Mas Rano tersenyum sumringah. “Gimana, Mas, rasanya dapet hadiah ini ?” tanya Tobuciler. “Senang. Unik,” sahutnya.

Hmmm … kira-kira apakah Mas Rano akan menjadi anggota “The Men Who Knit” yang berikutnya … ?

 

masranodkk Mas Rano (tengah) bersama kawan-kawan

 

The Man Who Crashed

“Moel kecelakaan,” Mbak Upi mengabarkan. Beberapa jenak kemudian, Mbak Upi dan Tobuciler sudah berada di atas motor, berangkat menjenguk Moel dengan perasaan cemas. Jangan-jangan keadaan Moel cukup parah …

Ternyata, Teman-teman, Moel terlihat baik-baik saja. Meski tangannya kaku terkilir, Moel tampak cengar-cengir dan bahagia-bahagia saja. “Gimana, sih, kecelakaannya ?” tanya Mbak Upi. Moel pun bercerita tentang ketidakhati-hatiannya mengendarai motor hingga tertabrak oleh motor lain di dekat Kantor Kursus Pajak, tidak jauh dari Tobucil.

moeldiperban

“Terus kenapa bukan balik ke Tobucil aja ? Bisa jalan kan ?” tanya Mbak Upi lagi. Moel cengar-cengir. Rupanya ia yang terkapar dramatis di pinggir jalan membuat seorang yang baik hati melarikannya ke Rumah Sakit Sariningsih. “Ih, bukannya balik ke Tobucil aja. Jelas-jelas Rumah Sakit Sariningsih lebih jauh daripada Tobucil,” tukas Tobuciler, entah harus geli atau sebal.

Meski sempat memutuskan untuk langsung pulang dan menyerahkan tugas presentasi kepada Wikupedia, secara impulsif Moel tiba-tiba mucul bagai hantu di Gedung Indonesia Menggugat.

Malam itu, Moel Sang Seniman kerajinan tangan itu jadi juga menularkan semangat crafty-nya.

Meski satu dari tangan terampilnya terpaksa menggantung kaku …

Sundea Moelpresentasi

Status Di Samakan

Status-Disamakan

erickErick Sulaiman adalah komikus yang baru saja menerbitkan kumpulan komiknya, From Bandung with Laugh. Kunjungi Erick di Perpustakaan Sketsa –nya



Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...

Tertawa dalam Derita

IMG_2265 asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Gadis Jujur (via message FB):

Kak Syaraf yang imut-imut, saya mau tanya.
1. Saya pernah mendengar istilah "tertawa dalam derita". Maksudnya apa, ya ?
2. Apakah Tawa Dado dan Tata Dado punya hubungan kekerabatan ?

3. Kenapa orang-orang yg ditahan dalam peperangan disebut "tawanan perang" ? Apa mereka suka tertawa-tawa ?

Sekian dulu, Kak
Empat kali empat sama dengan enam belas
sempat tidak sempat harus dibalas
Gadis Jujur

Jawaban dari Kak Syaraf:

1. Itu artinya kamu dikelitikin.

2. Punya, mereka ini adik kakak. Untuk Tawa Dado, ibunya ingin ia menjadi religius-dermawan, karena itu Tawa Dado adalah kependekan dari Tawakal, Wakaf, Dan Doa. Lalu untuk Tata Dado, ibunya berharap ia jadi seorang pekerja keras, maka jika dipanjangkan menjadi Tawakal Tawakal dan Doa. Amin. Adapun si ibu kemudian nikah lagi dengan seorang bule, yang mana anaknya dinamai Tata For Now.

3. Belum tentu. Bahasa Inggris dari ”tawanan perang” kan prisoner of war, tapi belum tentu mereka ini suka maen pris-prisan.

Empat kali empat sama dengan enam belas

Enam belas tambah enam belas sama dengan tiga dua

Ah, susahnya matematika

Pertanyaan dari IBS (via message FB):

Halo, kak Syaraf Maulini. Aku mau nanya lagi nih. Boleh ya? Boleh dong.. masa gak boleh sih? Boleh ya? Ayo.. boleh dong! Boleh! Pokoknya boleh! Nggak boleh nggak boleh! Harus boleh! Ya kak Syaraf ya? Harus pokoknya mah! Ya? Iiih... pokoknya boleh! Boleh! Kenapa sih? Boleh kan? Apa salahnya coba kalo boleh? Nggak salah kan? BOLEH KAN? BOLEH! POKOKNYA HARUS BOLEH! Huahahahaha... :p


1. Kok namanya gak "Syaraf Maulani" aja? Kok malah "Maulini"? Emangnya kak Syaraf cuma maunya sama Lini ya? Gak mau sama Lani?
2. Katanya kalo bodi cewek yang bagus itu 'kayak bodi biola', nah kalo yang 'kayak bodi gitar klasik' itu bodi cewek yang kayak gimana?
3. Kok kak "Syarif Maulana" pernah jadian sama P*rh*t N*b*b*n? Atau cuma gosip belaka? Atau cuma masa lalu belaka? Atau cuma-cuma belaka? Alah.. alah.. atau cuma alah-alah belaka? HUAKAKAKAKAAK... :p
4. Kak, mba Elin kok punya tato kalajengking di kakinya? Biar bisa nakutin kak Syarafkah? Hihihi... :p
(duh, boleh nambah 1 lagi pertanyaan gak? Boleh ya? Boleh... boleh dong, ya? Masa gak boleh sih? Boleh kan, kak? Duh, boleh dong ah! Boleh ya? BOLEEEEEEEHHHHHH!! hihi... :p)
5. Kak Syaraf mau sampai kapan jadi penggalau sejati? Tapi, kayaknya aku deh yang lebih 'penggalau sejati' daripada kak Syaraf. Segala-gala serba GJ (gak jelas), kemaren aja mengalami "jalan2 yang aneh". Riweuh pisan hirup urang teh. Gimana dong, kak? Gimanaaaaaaa??? :p
Udah ya, kak. Dan pastinya, HARUS DIJAWAB! KALO ENGGAK.... BELIIN AKU ES KRIM YANG BANYAAAAAAAKKKKKK!!! HUAKAKAKAKAK... ;p

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo IBS, saya jawab nih dan saya yakin kamu tidak akan belikan saya eskrim, karena kamu toh juga tidak menjanjikan itu:


1. Maunya sih sama Mau, jadi mestinya namanya Syaraf Mausamamau.
2. Yang kayak itu pasangan capres-cawapres Mega-Pro, gitar klasik tidak.
3. Hahaha.. Pirhot Nababan bukan kosakata yang porno, jadi tak perlu banyak-banyak diberi bintang. Tapi kalo banyak-banyak diberi uang dia pasti senang. Dia orang Batak, bukan Belaka. Kalo orang Belaka dia akan bernama Pirhojt van Baban.
4. Oh, akan lebih menakutkan kalo Mbak Elin punya tato kalajusuf.
5. Saya akan berhenti jadi penggalau sejati sekarang juga, dan beralih jadi penggalau semahoni. Cara agar menjadi tidak riweuh? Kau jadi pengasuh off clinic aja, niscaya akan semakin riweuh!

Pertanyaan dari Rie Yanti (via wall FB):


Syaraf, gw mau nanya lagi, neh. Terserah mau dimasukkin ke Off Clinic atau nggak, yg penting dijawab. Nih, pertanyaannya: domba punya perasaan nggak, sih? Kalo punya, gimana perasaan dia, ya, kalo diadu sama domba laen?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Saya gatau apakah domba punya perasaan ato ga, yang pasti dia punya tempat tinggal, yakni di Bandung. Karena sesungguhnya oh, domba itu singkatan dari domisili bandung. Jadinya kalau diadu sama domba lain, mereka terciptalah itu RT, lalu jadi RW, kecamatan, kelurahan, hingga propinsi.

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf Maulini akan menjawabnya.

Tanpa Sepatu

 

salamatahari

Apa hal buruk yang mungkin terjadi jika kamu berjalan di jalan raya tanpa sepatu ?

Pada suatu hari keseimbangan, pulang dari gereja dan Bandung Electronic Center (BEC), kaki Dea lecet digigit sepatu. Dengan sedikit miring-miring, Dea jalan ke tempat nunggu angkot. “Tenang aja, Dea, bentar lagi kamu sampe di rumah,” dalem hati Dea menghibur diri sendiri.

Di dalem angkot tau-tau Dea kepikir, “Kenapa juga harus nunggu sampe di rumah kalo mau ngelepas sepatu ?”

So there I was. Dea ngelepas sepatu Dea dan duduk di angkot dengan kaki telanjang. Ternyata rasanya nyamaaaaaan … banget. Kaki Dea yang tiba-tiba merdeka, bersentuh langsung dengan besi angkot. Perih karena lecet juga jadi nggak kerasa lagi. Dari situ Dea mutusin untuk nyoba jalan tanpa sepatu dari Dago sekitar Dayang Sumbi ke Siliwangi. Norma dan kebiasaan ngelarang Dea, tapi ada sesuatu dalem diri Dea yang berontak, “Memangnya apa, sih hal terburuk yang mungkin terjadi ?”

So there I was. Dea turun dari angkot dengan kaki masih telanjang. Ternyata rasanya menyenangkan, Temen-temen. Kaki Dea yang masih juga merdeka, bersentuh langsung dengan tekstur aspal yang anget. Waktu Dea jalan di trotoar, ada butir-butir alus yang diem-diem tinggal di telapak kaki Dea. Waktu nyusurin tanah di deket trotoar, Dea ngerasain sensasi kehidupan yang menarik. Ada loncatan tekstur yang cukup ekstrim dari kasar aspal ke halus rumput. Ada loncatan suhu yang cukup kerasa dari anget trotoar ke dingin tanah pera.

Apa hal buruk yang mungkin terjadi jika kamu berjalan di jalan raya tanpa sepatu ?

Seharusnya nggak ada.

Dea sampai di rumah dengan perasaan yang kaya dan raya.

Kaki Dea kotor, tapi … kenapa juga jejak sensasi merdeka itu harus Dea sebut “kotor” ?

 

Sundea

ada fotonya, lho … klik, deh, di sini

Mari Menonton Komik

Musik Sore Tobucil

Masih ingat Musik Sore Tobucil? Jika tidak, maka kami ingatkan bahwa acara tersebut akan diadakan kembali sesuai jadwal, yakni dua bulan sekali. Setelah yang terakhir tanggal 12 April, maka sekarang 28 Juni. Siapa saja penampilnya? panitia sudah menyiapkan beberapa nama, tapi kalian pun bisa ikutan. Ini syaratnya:

Syarat penampil:
1. Format akustik
2. Boleh dicolok tapi ampli bawa sendiri (tobucil menyediakan satu ampli)
3. Tobucil menyediakan mic tapi satu saja
4. Maksimal personil delapan orang, boleh lebih, tapi bawa kursi sendiri
5. Aliran musik bebas
6. Tampil dalam durasi sekitar 15-20 menit
7. Mau diapresiasi dan mau mengapresiasi

Syarat agar tampil:
1. Mengirimkan profil kelompoknya ke klabklassik@yahoo.com
2. Mengirimkan contoh musiknya, boleh via CD, VCD, dan DVD ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56, atau informasikan link yang bisa kami unduh, boleh via myspace, facebook, atau youtube. Pokoknya cara apapun lah yang penting kami bisa dengar sedikit musiknya, kalo pun sengaja ngamen di Tobucil pun boleh.
3. Mengirimkan visi dan misinya, “Kenapa mau tampil di Musik Sore Tobucil ?”

Regular Klabs

madrasah falsafah dan klab filsafat tobucil
mempersembahkandiskusi rutin Rabu tanggal 10 Juni 2009
dengan tema:

“Poskolonialisme” (hegemoni barat dalam masyarakat timur)

Rabu, 10 Juni 2009

17.00 - 19.00 WIB
GRATIS!!

Upcoming Madrasaf Filsafat 17 Juni 2009 : "Facebook"

Klab Komik Manyala

Kamis, 11 Juni 2009

Pukul 15.00

Gratis

Tema : Fun with Comic Strip

Pengisi Materi: FUNCO UNIKOM


Klab Nonton

triplets_of_belleville_ver3 Sabtu, 13 Juni 2009, Pk. 18.15 - 20.00 The Triplets of Belleville (2003)

Sutradara: Sylvain Chomet, 81 Menit

Sebuah kisah heroik seorang nenek Madame Souza yang menyelamatkan cucu kesayangannya, Champion. Champion di culik para penculik misterius di tengah perlombaan Tour de France yang diikutinya. Dengan ditemani Bruno, anjing kesayangannya, Madame Souza mengerahkan segala daya upaya untuk menemukan cucunya kembali.

Klab Nonton bulan Juni : “Mari Menoton Komik. Mari Membincangkan Realitas”. Klik di sini untuk keterangan lebih lanjut

Klab Melipat Kertas

fotosampan

Sabtu (minggu ke 2 & 3) Pk. 13.00-15.00
Biaya Rp. 50.000 untuk 2 kali pertemuan (8-10 lipatan) termasuk bahan.

Materi minggu II: yatch, bamboo ship, airplane, space suttle, car

Materi minggu III: party sailboat, banana boat, rowing boat, sampan

Informasi lebih lanjut hubungi:
tobucil & Klabs
022 4261548

Klab Klassik

Minggu, 14 Juni 2009

Waktu : Pukul 15.00-17.00

Tempat : Tobucil, Jln. Aceh no. 56

Tema : Diskusi Musik Kontemporer

Apakah yang dinamakan musik kontemporer? Apakah istilah ini berkaitan dengan situasi "kekinian" atau "masa akan datang"? Jika berkaitan dengan kekinian, lantas apa bedanya dengan musik populer? Jika berkaitan dengan yang akan datang, lantas apa bedanya dengan musik avant-garde atau garda depan? Lantas apa andil musik klasik terhadap kemunculan musik kontemporer? Ayo ikuti diskusi ini, gratis dan tidak memihak capres manapun. Peserta tamu: Royke B. Koapaha (dosen ISI Yogya), Diecky K. Indrapradja (komposer kontemporer).

Dari luar Rumah :

saveourearth

Rubrik :

Papantulis :

Kirimkan tulisanmu tentang apaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Sertakan juga foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Fotobucil :

Jika menemukan obyek menarik di Tobucil, jangan lupa memotretnya. Kirimkan ke tobucil@gmail.com beserta foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Bacakotabandung :

Punya tangkapan tentang kota Bandung ? Bisa berupa foto dan teks, atau foto saja. Kirimkan ke tobucil@gmail.com . Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya …

Visual Diary

Punya karya grafis atau komik yang menarik ? Kirimkan ke tobucil@gmail.com. Sertakan pula foto diri dan biodata singkatmu. Kami tunggu, ya ...

Off Clinic :

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kami akan menjawabnya. Rubrik ini diasuh oleh Kak Syaraf Maulini