Monday, January 25, 2010

'It Might Get Loud' Di Klab Klassik


Gambar di ambil dari sini


Jika kamu pernah menganggap KlabKlassik (KK) adalah perkumpulan ortodok yang melulu membahas Bach, Mozart, Betthoven dan siapa-siapa yang sejamannya, maka andaikata kamu datang hari Minggu tanggal 24 kemarin, niscaya kamu akan menyesal dan minta maaf karena pernah menuduh seperti itu. Karena dalam pertemuan KK tersebut, diputar semacam film dokumenter. Film yang membahas soal gitar elektrik, dan pelbagai proses kreatif yang mendasari tiga gitaris elektrik ternama di dunia, yakni Jimmy Page (Led Zeppelin), Jack White (White Stripes) dan The Edge (U2). Film tersebut berjudul It Might Be Loud, dirilis tahun 2008, dan disutradarai oleh Davis Guggenheim.

Diputar film macam itu, KK bukannya tak tertarik. Tapi justru antusias, terutama Kang Tikno, yang memang bergerak di pembuatan gitar, termasuk gitar elektrik. Film tersebut memanjakan mata dan telinga, karena selain visualisasi yang bagus, juga penampilan para gitarisnya yang, tak aneh jika mereka dijuluki para legenda. The Edge misalnya, dia menggunakan bertumpuk-tumpuk amplifier dan efek untuk satu lagu saja. Lagu lain, bisa jadi amplifiernya berbeda, efeknya pun berbeda. Kang Tikno menginformasikan, bahwa The Edge, “gitaris yang tekniknya biasa-biasa, tapi sound gitarnya paling susah ditiru.” Lalu ada joke menarik dari Kang Tikno: Masih ingat band Indonesia namanya the Fly? Kata Kang Tikno, jika ada lomba mirip U2, maka The Fly juara satu, dan U2 sendiri juara dua. Karena The Fly lebih U2 daripada U2 itu sendiri, dalam konotasi negatif. Kembali ke film, Jimmy Page misalnya, dia hebat dalam membuat riff-riff gitar yang kadang galak, kadang sendu, kadang menohok langsung ke memori pendengarnya. Rock, di tangan Page, menjadi tak cuma sekedar distorsi-distorsi bising, tapi punya pola-pola indah dan mesti diulik dengan pendekatan teknis yang tak sederhana. Jack White? Ia mengambil blues sebagai dasar ekspresi dan tonalitasnya, tapi kemudian dikembangkan menjadi performa yang lebih atraktif dan tidak melulu sendu. Ketiganya punya karakter kuat, dan menjadi simbol di bandnya masing-masing. Yang terpenting dari ketiganya: semua bekerja keras.

Demikian KK mendapatkan tambahan wawasan. Kenyataan bahwa dalam mengapresiasi, butuh prasyarat pengetahuan, dan juga empati. Dengan demikian, tak ada gunanya menganggap musik klasik sebagai ranah eksklusif yang dipenuhi kekayaan harmoni dan keluhuran teknis. Lihat mereka, White, Page, maupun The Edge, tak perlu teknik njelimet, ataupun kesempurnaan yang berlebihan. Don’t think, just play. Dan penonton segala masa pun memujanya. 



Serius menonton 'It Might Get Loud'

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin