Monday, January 11, 2010

Kelahiran Kembali



Madrasah falsafah atau madfal rabu itu membahas tentang kelahiran kembali. Tema yang dirasa cocok, menurut Rosihan Fahmi alias Kang Ami, dalam rangka mengawali tahun baru. Di suasana hujan yang rintik itu, yang datang cukup banyak. Cukup banyak untuk ukuran orang-orang yang baru kembali dari masa liburan. Ada sekitar sepuluh orang, diantaranya Mba Eci, Mas Heru, Mas Joko, dan seorang Polandia bernama Ian. Yang meski baru empat bulan berada di Indonesia dan belajar bahasanya, tapi ia dengan fasih menangkap jalannya diskusi dan berusaha menanggapinya.


Diskusi dibuka dengan prolog Kang Ami. Yang mengatakan bahwa tahun baru bagi banyak orang dimaknai perayaan, euforia, gegap gempita. Tapi kemudian, bagaimana seseorang dikatakan lahir kembali, seperti yang didengungkan oleh banyak slogan tentang tahun baru? Apakah memang, tahun baru adalah momen kelahiran kembali? Atau yang biasanya terjadi malah, setelah ledakan euforia tahun baru itu, yang menandai dimulai pelbagai resolusi tersebut, justru hanya menjadi hari-hari biasa saja? Hari-hari biasa yang tidak menandai semacam perubahan diri yang hakiki.


“Land Rover Defender,” kata Mas Heru, “Jika saya punya Land Rover Defender, baru saya merasa lahir kembali.” Hahaha, pengunjung madfal tergelak. Bagi Mas Heru, bukan tahun baru yang menandai kelahiran kembali, tapi jika ia kemudian berhasil membeli mobil itu. Ini tentu patut direnungkan, karena momen kelahiran kembali murni subjektif, dan bahkan konstruktif. Lalu Mba Eci mengatakan, bahwa bagi banyak orang, momen kelahiran kembali adalah menikah. Soal menikah ini ditanggapi oleh Ian. Dengan bahasa Inggris, ia bercerita, bahwa di Polandia, kelahiran kembali adalah ketika seorang pria punya anak, punya rumah, dan bisa menanam pohon. Maka itu semua adalah penanda seseorang memulai kehidupan baru.

Mas Daus yang baru datang kemudian menanggapi, dengan mengatakan bahwa momen kelahiran kembali itu jangan-jangan datang ketika ia sedang malas menulis puisi, lalu tiba-tiba produktif kembali. Maka itu namanya lahir kembali. Tobuciler kemudian mengajukan usul, bagaimana jika kelahiran kembali itu terkait erat dengan penderitaan? Idul Fitri misalnya, konon itu bisa dimaknai sebagai kelahiran kembali karena manusia suci dari dosa. Asalkan, umat islam sukses melampaui penderitaan di bulan Ramadhan. Dekat dengan itu, Mbak Theo berpendapat, bahwa kelahiran kembali itu bisa jadi ketika kita berdamai dengan diri sendiri. Misalnya, tengah konflik dengan orang lain, lalu karena gengsi yang berlebih, kita sulit untuk memaafkan atau meminta maaf. Nah, kata Mbak Theo, kala kita mau dengan besar hati menyelesaikan konflik tersebut, maka akhir konflik bisa dianggap kelahiran kembali.

Kang Ami kelihatan bingung menyimpulkan pelbagai opini ini. Yang khas filsafat: seolah benar semua. Tapi kesimpulan yang sepertinya bisa dianggap mewakili forum adalah, bahwa kelahiran kembali kaitan erat dengan luka. Dengan sesuatu yang bisa dibilang sakit dan tidak bahagia. Tapi ketika kita sukses mengatasinya, maka itulah awal segalanya.
Google Twitter FaceBook

1 komentar:

Anonymous said...

http://markonzo.edu dozen http://www.netknowledgenow.com/members/Albuterol-Sulfate.aspx http://www.netknowledgenow.com/members/Hyzaar-Medication.aspx equatorial bored http://www.ecometro.com/Community/members/ceftin-oral-tablet.aspx http://www.netknowledgenow.com/members/Flovent-hfa.aspx primcalling hoofd http://profiles.friendster.com/nolvadex#moreabout http://www.netknowledgenow.com/members/Tamoxifen-Side-Effects.aspx http://www.netknowledgenow.com/members/Claritin-Side-Effects.aspx groupreform detentions http://inderal.indieword.com/ http://www.netknowledgenow.com/members/Lisinopril-Side-Effects.aspx quantum http://www.netknowledgenow.com/members/Lisinopril-Side-Effects.aspx http://www.netknowledgenow.com/members/Phenergan-Side-Effects.aspx jamal http://riderx.info/members/buspar-side-effects.aspx http://www.netknowledgenow.com/members/Reductil-15-mg.aspx janeiro

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin