Mody sedang menjelaskan sejarah kamera
Tobuciler datang pukul 9 lebih 10 menit. Kenapa? Karena dikiranya, kegiatan Bandung Basic Photography Course (BBSC) tidak akan dimulai terlalu tepat waktu. Atau kalaupun tepat, hanya ada beberapa gelintir orang yang datang, dan sisanya menyusul kemudian. Ternyata, acara yang seyogianya dimulai pukul sembilan itu, memang dimulai pukul sembilan, dan telah disesaki orang-orang. Jumlahnya jika Tobuciler hitung, ada sekitar 17-18 orang. Semuanya terasa antusias, setidaknya terlihat dari ketepatan waktu datang mereka. Setelah minggu kemarin BBSC membahas sejarah dan perkembangan fotografi, kali ini sang fasilitator, Mody Affandi membahas macam-macam kamera dan pelbagai fasilitasnya. Pengetahuan ini, bagi Tobuciler sendiri, ternyata lumayan. Jadi Tobuciler menyimak dengan seksama, sambil sesekali mencatat. Karena selain informasinya lengkap, Mody juga mampu memaparkan dengan baik dan runut. Selain itu, terdapat banyak contoh kameranya sendiri, yang terhampar di meja Tobucil.
Cerita-cerita tentang Kamera Format Besar, Kamera Format Sedang, Kamera Format Kecil, Kamera Jenis Khusus, Kamera Advanced Photo System, dan Kamera Digital, dipaparkan dengan mendetail. Bahkan terdapat selipan-selipan cerita yang menarik, misal sebuah kamera bermerk Haselblad yang berformat medium format digital, disewakan 3 juta sehari di Jakarta, atau ada kamera bermerk Leica yang nyaris tidak bersuara ketika melakukan pemotretan. Kelas yang berdurasi dua jam itu, nyaris tidak terasa, meskipun isinya sejarah semua. Sempat mengira, bahwa tidak akan nada semacam praktek potret memotret dalam pertemuan kali ini. Karena, dalam jadwal, teknik memotret baru diajarkan di pertemuan ketiga.
Namun akhirnya, Mody mengharuskan peserta untuk keluar Tobucil, dan berkeliling secukupnya, untuk mendapatkan objek yang menarik. Tobuciler juga ikut berkeliling, memotret yang sedang memotret. Adia misalnya, ia sedang belajar memotret benda bergerak. Teknik panning namanya, yakni memfokuskan satu objek, tapi memblurkan objek yang lain. Lalu ada pula Wira yang dengan jeli memotret daun-daun yang melingkar di pohon. Adapun Rangga yang memotret objek-objek khas perkotaan, seperti anak jalanan dan gedung-gedung. Mereka di luar cukup lama, lebih dari satu jam. Ketika kembali bersama-sama di Tobucil, Mody meminta mereka untuk mencetak satu yang terbaik, dan dikumpulkan minggu depannya. Lalu Mody memesankan, “Ketika ditanya kenapa foto ini yang dipilih, mesti punya argumentasi, jangan cuma ‘bagus aja’,” Demikian BBSC itu ditutup dengan tepuk tangan, menyiratkan antusiasme di wajah para peserta. Berharap lensa mereka mampu menangkap banyak momen di kemudian hari. [Syarif Maulana]
Hunting di lapangan Saparua
Bookmark this post: |


0 komentar:
Post a Comment