Sore itu Tobuciler datang lebih awal. Lebih awal dari jadwal madrasah falsafah (madfal) yang seyogianya pukul lima. Lebih awal karena Tobuciler memang janjian dengan seseorang pada pukul dua belas. Daripada pulang dulu, lebih baik tunggu saja. Kebetulan, Rosihan Fahmi alias Kang Ami, moderator madfal juga datang lebih cepat, sekitar pukul empat. Akhirnya kami pun mengobrol, sambil menunggu pukul lima.
Obrolan kami berdua soal macam-macam. Macam-macam yang berujung pada program madfal 2010, tepatnya Januari 2010. Maka dirancanglah apa-apa yang mau dibicarakan pada Januari 2010, sambil sesekali diseling celetukan, “Pada kemana ya orang-orang?”. Karena memang, waktu telah menunjukkan jam lima lewat, tapi tak ada satupun orang menunjukkan keberadaan.
Mestinya, hari itu membahas soal ketelanjangan. Soal bagaimana telanjang menjadi tabu di satu budaya, tapi tidak di budaya lainnya. Soal bagaimana telanjang menjadi seni di satu konteks, tapi jadi porno di konteks lainnya. Pengusul topik tersebut adalah Kunto. Tobuciler ingat, topik ini diusulkan kala akhir bulan lalu. Seperti biasa, madfal punya tradisi untuk membuat topik selama sebulan penuh, di akhir bulan sebelumnya. Pengusul topik pun tidak terlihat batang hidungnya.
Januari 2010, akhirnya ditentukan topik: Minggu pertama, akan dibahas semacam renungan awal tahun. Minggu kedua, akan dibahas soal musik sebagai bahasa universal. Minggu ketiga, akan dibahas soal Umberto Eco dan kaitannya dengan “aku dan novel”. Minggu keempat, akan dibahas soal filsafat untuk pemula. Apakah gerangan yang terakhir itu? Jadi sudah dibahas bersama Kang Ami, bahwa sekali dalam sebulan, penting kiranya membahas ulang filsafat secara teoritikal dan periodisastif. Sehingga barangkali, bisa menjaring massa lebih banyak dan beragam. Barangkali ada beberapa yang ingin datang, tapi merasa tidak bisa ambil bagian karena menganggap filsafat terlalu berat dan ia tidak punya modal apa-apa tentangnya. Jadi topik keempat ini adalah semacam kembali ke dasar filsafat, tentang apa itu filsafat dan siapa tokoh-tokoh besar beserta pikirannnya.
Sempat datang memang, Mas Oyeh, Mas Heru dan Mas Daus. Tapi itu sudah hampir jam tujuh. Sehingga topik memang tak mungkin dibahas. Namun kata Kang Ami, “Justru, inilah ketelanjangan itu.” Mana, Kang Ami? Ya, ini. Kita sedang berada dalam kondisi telanjang. Membicarakan soal madfal tanpa sehelai orangpun. Tapi cuek saja, karena memang, madfal adalah milik kita sendiri, sebagaimana layaknya tubuh. Kami tertawa semua. Sambil bagi Tobuciler, tersirat perasaan bahwa memang ada benarnya juga.
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment