Tobuciler, Rabu itu, kembali menjadi moderator madrasah falsafah. Rosihan Fahmi alias Kang Ami, yang biasa menjadi moderator utama, berhalangan karena katanya urusan Diknas. Topiknya adalah soal Musik: Bahasa Universal. Yang datang cukup banyak, malah bisa dibilang banyak. Ada Mas Daus, Mas Heru, Mas Oyeh, Mas Iqbal, Mas Frino, Mbak Theo, Mbak Echi, Mas Joko, Karel, serta Ijal dan kawan-kawan yang datang terlambat. Topik dibuka dengan definisi musik yang dikenal dalam arti luas maupun sempit. Sempit, misalnya, tobuciler pernah membaca bahwa definisi musik adalah gabungan dari ritmik, melodi, dan harmoni. Namun secara lebih luas, ternyata ada anggapan bahwa musik itu adalah bunyi. Bahwa berbagai bunyi yang teratur adalah bisa disebut musik. Termasuk kentong-kentongan tukang dagang atau bahkan bunyi rintik hujan.
Namun pembukaan pertemuan ini banyak didominasi oleh penyangkalan terhadap judul tema. Karena barangkali, universal adalah kata yang sudah ketinggalan. Mas Daus yang terang-terangkan menyangkal universalitas ini, menyebutkan bahwa kalaupun musik bisa mempengaruhi emosi seseorang, tapi tetap saja tidak bisa semua orang memahaminya secara utuh. Atau minimal, selalu multi interpretatif. Mas Heru bahkan menegaskan bahwa klaim universal adalah mitos. Arah pembicaraan akhirnya dibelokkan pada pengalaman pribadi berinteraksi dengan musik. Mas Oyeh mengatakan bahwa bukan musik mengubah moodnya, tapi moodnya yang seolah mengatakan dia harus mendengarkan musik apa. Lalu Mbak Echi bercerita, bahwa dalam satu festival paduan suara, ia pernah berjingkrak mengikuti irama musik. Yang membuat ia menyimpulkan, bahwa badannya lah yang dipaksa bergerak oleh musik itu sendiri. Demikian maka Mbak Echi menyebutkan bahwa musik punya universalitas. Mbak Theo, sebagai penyiar yang banyak berinteraksi dengan musik setiap harinya, ia mesti menentukan musik mana yang dianggap tepat bagi pendengar, berdasarkan mood harian.
Diskusi sebenarnya cukup susah diarahkan. Karena memang, tobuciler akui, bahwa musik merupakan subjek yang sulit dibicarakan. Musik jauh lebih baik dirasakan. Tapi diskusi mendadak jadi menghangat, setelah Mas Joko melontarkan isu evolusi. Mas Joko mau mengatakan, bahwa sebelum musik dibicarakan dalam ranah filsafat, mesti digali dulu, sains mau bilang apa soal musik? Mas Joko kemudian mengungkapkan teori evolusi. Bahwa manusia hingga sekarang masih menyukai musik, adalah juga berkaitan dengan evolusi, seperti halnya manusia suka gula yang ada dalam karbohidrat. Barangsiapa yang tidak suka gula, pasti akan tereliminasi dengan sendirinya di waktu kemudian. Pendapat ini dibantah cukup keras, terutama oleh Mas Daus. Yang mengatakan bahwa orang bertahan soal musik, pasti bukan soal evolusi. Dan pendekatan sains untuk musik hampir selalu tidak bisa menjelaskan banyak hal tentang musik itu sendiri.
Diskusi hangat ini akhirnya ditutup, dengan menyimpan pemahaman tentang musik itu sendiri, pada apa yang dirasakan saja. Tobuciler akhirnya memainkan dua karya klasik di akhir diskusi. Lalu Ijal menyumbangkan satu buah lagu ciptaannya berjudul Matahari. Demikian suasana menjadi tidak sepanas sebelumnya. Karena musik, salah satunya, bisa menyejukkan.
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment