Monday, January 11, 2010

Sejarah Tobucil Bagian 2: Berganti Nama Menjadi Tobucil Di Ulang Tahun Kedua


Publikasi kegiatan klab tobucil pertama kali pada bulan September 2002 

 Gagasan untuk membangun jaringan Pasar Buku seperti yang diimpikan oleh Wien, ternyata mengalami banyak kendala, sehingga jejaring Pasar Buku ini menjadi sulit untuk dipertahankan. Untuk menjaga kepentingan strategis pengembangan usaha dan komunitas, maka para pendiri Pasar Buku Bandung saat itu sepakat untuk mengganti nama Pasar Buku Bandung dengan nama yang lebih mandiri dan sesuai dengan visi serta misi para pendirinya. Saat itu Tobucil menjadi nama yang dipilih sebagai akronim dari Toko Buku Kecil. Nilai filosofi dari nama tersebut adalah bahwa semua hal besar di dunia ini selalu diawali oleh hal kecil. Tobucil diharapkan dapat menjadi tempat dimulainya langkah-langkah kecil untuk mencapai hal besar.

Filosofi ini kemudian mempengaruhi keseluruhan strategi dan pendekatan tobucil dalam menjalankan kegiatannya. Hal-hal sederhana dan skala kecil dengan intensitas yang terjaga, kemudian menjadi pilihan strategi promosi, ketika memasuki tahun kedua. Kegiatan-kegiatan temporer dan skala besar seperti yang banyak dilakukan di tahun pertama, sedikit demi sedikit mulai dikurangi. Penghematan biaya promosi juga menjadi pertimbangan penting dalam perubahan strategi ini.

Pergantian nama ini juga diikuti dengan perubahan logo dan atribut Pasar Buku Bandung. Logo tobucil yang bergambar rumah, diadaptasi dari lukisan batik pesisir zaman VOC, yang ditemukan dalam sebuah buku tentang batik-batik kuno saya adaptasi menjadi logo tobucil. Gambar ini diambil dengan maksud tobucil bisa menjadi rumah bagi siapapun yang membuka jendela pikiran, rasa dan jiwanya untuk mau berbagi pengalaman dan pengetahuan. Warna orange dan hitam dipilih dengan pertimbangan: orange, merupakan perpaduan antara aktivitas, kesenangan yang didorong oleh energi hidup yang murni dan membawa kebaikan. Sedangkan hitam melambangkan pemberontakan dan sesuatu yang selama ini masih ada dipermukaan. Untuk itu logo tobucil bisa dimaknai sebagai simbol dari rumah bagi aktivitas individu maupun komunitas yang dibangun dari keterbukaan hati dan pikiran, dimana energi positif dapat memunculkan potensi kreatif yang selama ini masih tersembunyi dipermukaan.

Jargon Supporting Local Literacy Movement menjadi tagline promosi dan positioning tobucil setelah pergantian nama dari Pasar buku Bandung. Lokalitas yang dimaksud dalam jargon tersebut lebih dimaksudkan ke dalam skala wilayah yang menjadi target market utama tobucil. Local Literacy Movement disini bisa sama artinya dengan Think globally Act locally dalam koridor pemaknaan literacy secara luas. Literacy yang tidak sekedar melek baca tulis, tapi juga kemampuan untuk memahami apa yang dibaca dan juga kemapuan untuk membaca diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Seperti kata iqra yang dimaksudkan dalam Al Quran.

Untuk mendukung kegiatan klab, tobucil menerbitkan agenda kegiatan klab baca setiap bulannya. Pada edisi awal, agenda kegiatan perbanyak dengan cara foto copy dengan memanfaatkan mesin foto copy yang ada di Trimatra dengan jumlah terbatas, sampai akhirnya agenda di cetak dengan mesin offset satu warna eks setiap bulannya.

Lahirnya klab

Gagasan klab muncul ketika aktivitas reguler dan berkala menjadi kebutuhan mengejawantahkan tobucil sebagai ruang berkomunitas. September 2002, klab baca minggu sore menjadi klab pertama yang lahir di tobucil. Kegiatan klab ini kemudian menjadi ciri sekaligus kekuatan tobucil yang membedakan dengan toko-toko buku lain serta ruang komunitas yang lain. Klab baca minggu sore membahas buku-buku yang ringan dan bersahabat bagi pembaca pemula. Seperti Tintin, Asterix, novel atau cerpen yang cukup populer. Karena itu peserta kegiatan Klab baca minggu sore sangat beragam dan dari rentang usia yang luas. Mulai dari usia 7 tahun hingga 60 tahun. Namun usia mayoritas dari kegiatan ini adalah 17- 25 tahun. Kegiatan klab baca ini terbuka bagi siapa saja dan tidak ada sistem keanggotaan. Siapapun boleh ikut serta berpartisipasi.

Dari klab baca minggu sore inisiatif untuk membuat kegiatan klab yang lain bermunculan. Di antaranya adalah klab baca Pramoedya (yang saat ini sudah tidak ada lagi) yang secara khusus mengkaji karya Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, klab nulis juga muncul dari inisiatif peserta klab baca minggu sore. Dari inisiatif-inisiatif ini, strategi kegiatan promosi tobucil berfokus pada koridor: membaca, menulis dan apresiasi. Spirit yang dibangun dari kegiatan klab adalah serious but fun. Melalui kegiatan klab tobucil mencoba melakukan pendekatan yang berbeda dalam aktivitas membaca, bahwa membaca apapun bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan. Kegiatan kecil yang dilakukan secara reguler dengan intensitas yang terjaga, memberi publisitas yang baik terhadap tobucil. Kompas Minggu, mencatat apa yang dilakukan tobucil sebagai bagian dari cultural studies. Publisitas di media nasional yang sangat berpengaruh ini, diikuti oleh publisitas di media-media nasional lainnya, seperti Suara Pembaruan, Koran Tempo, Majalah Tempo, Gatra. Hal ini, membuat banyak pihak di kota-kota lain, menghubungi pengelola Tobucil untuk menanyakan bagaimana caranya jika ingin bekerjasama dan membuka toko buku dengan konsep komunitas di kota lain. [bersambung]

Tarlen Handayani, Pendiri dan Program Director Tobucil & Klabs

Sejarah Tobucil Bagian 1: Mulanya adalah Pasar Buku

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin