Ibu Euis, Wailan dan mba Upik
Sabtu pagi itu, Tobuciler datang. Sengaja datang, untuk meliput Crafty Kids Club perdana dari Tobucil. Biasanya memang, kelas-kelas kerajinan Tobucil ditujukan bagi umum. Umum yang mana jadinya malah orang dewasa yang banyak ikut. Tapi mulai sekarang dibuka program baru, namanya Crafty Kids, yang khusus bagi anak-anak, mulai dari usia Playgroup hingga SD. Kala Tobuciler datang, hanya ada tiga orang. Tiga orang itu adalah Palupi alias Mbak Upi sebagai pengajar, dan dua orang lagi yang berposisi sebagai ibu dan anak. Anak itu adalah si peserta. Namanya Wailan, umurnya empat tahun. Badannya gemuk sekali, “30 kilogram kayanya,” ujar si Ibu.
Hari itu Wailan membuat kartu. Dan Tobuciler diperlihatkan olehnya kartu tersebut. Kartu yang sudah dihias sedemikian rupa sehingga berwujud babi dua dimensi. Babi yang bisa dilipat dan dibuka tengahnya sehingga bisa ditulisi. Mata, hidung, dan mulut babi terbuat dari kain. Meski Wailan tampak asyik bermain sepanjang kelas, tapi toh jadi juga satu karya orisinalnya. Kata Mbak Upi, “Kalau Playgroup memang tidak apa-apa sambil main. Biar kenal dulu. Nanti kalau usia SD, baru bisa diajari menjahit, kayak tusuk jelujur.” Beberapa kali Mbak Upi menyindir Wailan dengan mengatakan, “Wailan kalau gak mau nyobain lagi, biar ibu aja yah yang nyobain. Jadi nama program ini jadi Crafty Mom.” Sambil bercanda tentunya.
Tobuciler banyak tertawa melihat tingkah polah Wailan. Karena anaknya sangat aktif baik dalam beraktivitas maupun bicara. Membuat Crafty Kids perdana ini meski belum ramai pendaftar, tapi tetap hangat. Sebagai informasi tambahan, Crafty Kids ini biaya pendaftarannya per kali datang, harganya lima puluh ribu saja.
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment