Sore itu, hujan sangat deras. Membuat Tobuciler dan Wiku Pedia pesimis atas terselenggaranyaMadrasah Falsafah. Karena,waktu telah menunjukkan lima lima belas menit, dan belum ada seorangpunhadir, termasuk Rosihan Fahmi, sang moderator. Akhirnya sambil menanti, Tobuciler berinisiatifmeng-SMS Kang Ami, isinya: “Kang, hujan ya? Dateng Madfal gak nih?” Lalu dijawab, “Kamu aja ya, yang moderatorin dulu buat hari ini..” Hehe, memoderatori siapa? Kosong kok. Tapi tidak demikianketika dinantikan beberapa menit kemudian, ternyata datang jua Mira dan Mayang. Nyaris bersamaan.Meski cuma berdua, tapi Tobuciler bertanya pada mereka, “Hari ini temanya Mengenal Filsafat, kitacuma bertiga nih. Mau jalan aja ga?” Jalan disini, maksudnya, apakah Madfal mau tetap ada?
Mereka menjawab mau, dan dimulailah Madfal. Dalam topik Mengenal Filsafat ini, awalnya, Tobucilerberbagi soal sejarah filsafat dari era Yunani. Tapi terhenti hingga zaman Skolastik, karena Mayang dan Mira sepertinya bosan. Akhirnya, Mira melemparkan topik, “Jika Tuhan itu maha segala maha, makakalau dia Maha Baik, sekaligus juga Maha Jahat dong. Kalau dia Maha Pencipta, berarti dia jugasekaligus Maha Tidak Pencipta dong?” Dan tepat ketika Mira berkata itu, ajaibnya, satu per satu orangberdatangan, mulai dari Mas Joko, Mas Iman Abda, Mba Ecie, Ijal, Mas Daus, dan Mas Tanto yang jadinya bergabung, setelah sedari tadi duduk di pinggir-pinggir karena katanya, sedang berteduh saja diTobucil.
Jadilah, pembicaraan melebar menjadi soal Tuhan. Dimulai dari perdebatan antara Mas Iman Abda dan Mba Ecie soal apa itu agnostik, pendapat Mas Joko soal Tuhan tak lebih sebagai gagasan yang menular, pendapat Mas Daus soal Tuhan itu berasal dari naluri manusia untuk mencari sesuatu di luar dirinya, hingga Ijal, pendatang baru Madfal, yang sedang memulai petualangan galaunya lewat buku Dunia Sophie. Topik Mengenal Filsafat, menjadi bingung, apakah memang, dalam berkenalan dengan filsafat, mesti membicarakan Tuhan dulu, atau justru malah belakangan? Namun pada akhirnya, pembicaran soalTuhan selalu menjadi persoalan yang tak pernah selesai. Pembicaraan menjadi tak terfokus, danujung-ujungnya bermuara pada pendapat pribadi tentang Tuhan itu sendiri apa. Tapi, pertanyaan yang terpenting: iyakah bahwa soal Tuhan itu persoalan?
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment