Jika Rabu sore sekitar jam tiga kau ada disana, pasti tak akan luput dari pemandangan mengerikan itu. Di tengah hujan besar yang ditumpahkan dari langit Kota Bandung, Tobucil adalah salah satu tempat yang kena imbasnya. Air meluncur bak air terjun dari salah satu bagian atap di beranda Tobucil. Luncuran air itu sempat membuat panik warga Tobucil, dan Tobuciler yang ikut panik juga, gagal mengabadikannya.
Setelah hujan agak reda, Tobuciler bertanya pada orang-orang di sekitar kantor konsultan pajak (sebelah Tobucil). Kebetulan, air jatuh di dekat kantor mereka. Kata Pak Uhrowi, memang sengaja air itu di-“bah”kan, karena hujan terlalu deras, dan sepertinya kain yang menggantung di bawah atap sudah kelebihan beban air. Daripada kain itu kemudian robek dan berdampak kebocoran yang lebih luas, lebih baik dikonsentrasikan bocor di satu titik saja. Itupun setelah melihat besi penyangga atap yang nyaris patah.
Walhasil, lantai beranda Tobucil pun sempat tergenang air, karena memang air yang ditumpahkan sangat deras dan durasinya cukup lama. Kata Pak Uhrowi, besi di atap tersebut mesti di las dulu. Dilas, sambil menunggu hujan deras agar tidak berkunjung dulu, agar pekerjaan cepat selesai. Karena tahukah apa yang dikatakan Pak Yono? Ini bukan ancaman, tapi jika hujan besar sedang melanda, dan atap belum selesai dilas, maka segala kegiatan di beranda Tobucil mesti dipindahkan dulu ke teras untuk sementara. Madrasah Falsafah nyaris jadi korban pertama bocornya atap tersebut, namun ternyata hujan reda sebelum kegiatan dimulai. Dan ketika para penggiat Madfal mulai berfilsafat, maka air bah pun tak punya kekuatan menghentikan daya pikiran. [Syarif Maulana]
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment