Ketika Madfal berkumpul sore itu, sebenarnya yang akan dibicarakan adalah soal Menunggu. Rosihan Fahmi, sang moderator, sudah hadir bersama Mas Heru, Mbak Eci, Mas Oyeh, dan Mbak Tarlen. Sambil menunggu beberapa orang lagi, Mba Eci tiba-tiba mengingatkan Kang Ami soal tagnya beberapa hari lalu, soal di sebuah universitas di Kanada, ada banyak anak baru yang gagal dalam ujian Bahasa Inggris. Kegagalan ujian itu, diasumsikan karena seringnya mereka menggunakan bahasa tidak baku dalam Facebok maupun Twitter. Pembahasan kemudian menjadi menyerempet pada Alay, yakni sekelompok anak muda yang rajin menggunakan bahasa tidak baku dalam penulisan di dunia maya (baca: Friendster, Facebook atau Twitter) atau SMS. Ketidakbakuan itu, cukup ekstrim sebenarnya. Mereka menggunakan angka, huruf besar kecil dalam satu kalimat, atau huruf dobel yang tidak kaidah, serta menambahkan huruf tertentu di belakang kata. Misal: T0bbucHieL @d4lah T3mp4t y@n6 Ga0el AbieZz!
Akhirnya, diputuskanlah bahwa sore itu mesti membahas Alay, karena terasa sebagai fenomena yang terbaru dan bagi kalangan tertentu, cukup memprihatinkan. Kang Ami membuka isu Alay dengan keprihatinan dalam membaca SMS anak muda sekarang yang seringkali tidak bisa dipahami. Dicky, yang mewakili golongan muda (ia masih SMA kalau tidak salah), mengatakan bahwa terdapat anekdot macam ini di kalangan remaja, “Jika mau gaul, jadilah Alay terlebih dahulu”. Jadi sedikitnya ia mau menceritakan, bahwa Alay adalah pra-syarat seseorang untuk menjadi eksis. Obrolan pun berkembang, dan Tobuciler mengamati, bahwa yang menarik adalah: Ada kecenderungan bahwa orang muda sedikit banyak memaklumi keberadaan Alay, karena mereka dianggap dalam proses yang belum selesai. Tapi beberapa peserta Madfal yang kira-kira generasinya sudah jauh berbeda dengan Alay, menganggap bahwa apa yang mereka perbuat adalah sesuatu yang mesti dicegah, dan punya tingkat kekronisan tertentu.
Seperti misalnya, Ervan, yang sepertinya baru mengikuti Madfal, menganggap bahwa yang penting dari Alay, bukanlah membahas bagaimana mereka bisa jadi seperti itu. Tapi lebih bagaimana cara agar kita semua dapat memaklumi keberadaan Alay. Termasuk jika Alay tidak punya alasan atas apa yang dia perbuat, dan berkata, “Ya memang, mau gua ini, terus kenapa?” Hal tersebut ditentang terutama oleh Mbak Tarlen, karena semestinya, orang bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan, karena setiap perbuatan pasti ada dampak sosialnya. Ya, sepertinya Tobuciler juga setuju, walaupun waktu itu tak sempat mengungkapkan. Mengutip Sartre: “Setiap pilihan individu, adalah konsekuensi bagi seluruh umat manusia.” Demikian akhirnya Madfal ditutup, dengan pelbagai pendapat yang tidak bermuara pada kesimpulan apapun. Biarkan semua menjadi bingung, setidaknya hidup ini pernah disikapi serius. Terlalu serius.[Syarif Maulana]
Tulisan saya tentang Alay juga bisa di baca di sini
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment