Hidangan di Ultah Tobucil ke 3
Akhir 2003 salah satu pendiri tobucil yang tersisa, meninggalkan Tobucil. Hal ini, seiring dengan kesibukan pekerjaannya di Jakarta yang menyebabkan saya selalu berada dalam posisi sebagai pihak yang terus menerus mengambil keputusan. Hal ini sesungguhnya telah dirasakan sejak awal Tobucil berdiri (saat itu bernama Pasar Buku Bandung). Saat itu, Rani dan Connie justru memutuskan untuk bekerja di Jakarta dan melimpahkan tanggung jawab pengelolaan Tobucil kepada saya. Situasi ini terus berlangsung. Bahkan ketika Connie Chrysania mengundurkan diri terlebih dulu tahun 2002. Situasi ini, membuat saya pada saat ini seperti memikul tanggung jawab ini sendirian, padahal semua ini adalah cita-cita bersama, semestinya keputusan diambil bersama dan dilaksanakan bersama-sama juga.
Pembicaraan antara saya dan Rani pun dilakukan untuk mengevalusi kembali pembagian peran dan mendapatkan solusi pembagian peran yang lebih berimbang. Namun kesepakatan ini tidak terjadi. Yang ada malah pengunduran diri Rani dari tobucil karena ia memilih untuk fokus pada pekerjaannya di Jakarta. Pengunduran diri ini membawa konsekuensi terputusnya hubungan apapun antara Rani E. Ambyo dan Tobucil untuk selamanya.
Akhirnya, tinggal saya yang tersisa dari tiga orang pendiri Tobucil. Hak dan tanggung jawab Tobucil sepenuhnya ada di tangan saya: apakah tobucil akan lanjut atau selesai sampai di sini. Saat itu menjadi masa-masa terberat dalam hidup saya. Pertama karena saya mesti menemukan kembali seberapa besar saya meyakini cita-cita ini, kedua setelah saya menemukannya, saya harus memikirkan cara untuk menyelesikan persoalan-persoalan yang dihadapi tobucil. Sungguh, biaya belajar ini bukan mudah dan murah. Kehilangan uang, teman untungnya tidak sampai menghilangkan keyakinan saya, bahwa saya mampu melewati semua kesulitan ini. Saya selalu bilang pada diri saya sendiri, 'jika kesulitan ini tidak mampu saya lewati, saya tidak akan pernah bisa menyelesaikan persoalan yang lebih besar dari ini. Saya ingat perkataan sahabat saya, Titarubi saat saya menghadapi masalah ini: 'Tidak ada yang memaksa kamu untuk terus ketika kamu benar-benar tidak sanggup lagi, kecuali dirimu sendiri. Kamu yang memutuskan, bukan orang lain.' Dan saat itu saya memutuskan untuk melanjutkan dan menyelesaikan semua masalah-masalah itu. Bantuan luar biasa datang dari kakak saya tercinta yang sepenuhnya mendukung keyakinan saya untuk melanjutkan tobucil. Sahabat-sahabat saya dan semua kru baru yang kemudian membantu menjalankan kembali tobucil di tempat baru: Pam, Ima, Elvi, Dhini.
Denyut kehidupan tobucil perlahan-lahan kembali normal di KGU 8. Tahun 2003, jadi momentum baru untuk tobucil. Omset pendapatan tobucil yang semakin membaik sehingga demi sedikit hutang-hutang itu dapat dicicil. Masa bulan madu dengan Bandung Center for New Media Art, mengubah bentuk pendekatan kegiatan komunitas yang dilakukan tobucil tanpa mengurangi intensitas kegiatan yang berprinsip pada Low Budget High Impact. Sampai masa kenaikan BBM tiba dan bulan inisiatif membuat payung kegiatan bersama bernama Common Room, muncul. [bersambung]
Baca juga:
Sejarah Tobucil Bagian 1
Sejarah Tobucil Bagian 2
Sejarah Tobucil Bagian 3
Sejarah Tobucil Bagian 4
Ditulis oleh Tarlen Handayani, Pendiri dan Program Director Tobucil & Klab
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment