Jika mencari saya di tobucil beberapa hari terakhir ini, saya pasti ada di depan TV, sibuk menontoni kembali dan menyimak hampir semua film Benicio Del Toro_ salah satu aktor favorit saya. Gara-garanya adalah The Wolfman, film terbarunya yang saya tonton di bioskop minggu lalu. Pulang menonton saya terganggu oleh pertanyaan: mengapa saya sangat menyukai Del Toro? apa yang membuat dia begitu menarik (selain wajahnya yang tampan dan matanya yang memukau tentu saja). Rasa penasaran itu membuat saya membongkar koleksi film saya yang dibintangi olehnya (termasuk film-film penting Del Toro: Basquiat, The Usual Suspect, Traffic, Fear and Loathing in Las Vegas, Che). Saya tontoni lagi semuanya dan mencari jawabab atas pertanyaan saya itu. Dan saya menemukan beberapa jawaban yang membuat saya mengerti kenapa saya begitu menggemarinya. Dan ternyata cukup melegakan rasanya saat saya menemukan alasan-alasan mengapa saya mengerti dan melakukan sesuatu.
Begitu pula sebaliknya, ketika saya sudah berusaha keras untuk mengerti, ternyata saya tetap saja tidak mengerti. Mau memaksakan diri segimanapun juga, tetap saja saya tidak bisa mengerti mengapa si A bertindak seperti itu, misalnya. Tapi dari upaya untuk berusaha mengerti yang tidak berhasil itu, ternyata saya tetap menemukan alasan. Alasan yang seringkali tidak saya sadari: mengapa saya tidak mengerti. Mengerti bahwa ternyata saya memang tidak mengerti, ternyata sama pentingnya dengan mengerti bahwa saya memang bisa mengerti satu hal. Ketidak mengertian tanpa alasan, seringkali berujung pada kungkungan prasangka, asumsi dan sikap tidak toleran pada perbedaan yang menjadi faktor penyebab mengapa kita sulit mengerti.
Jadi jangan heran jika suatu ketika teman-teman datang ke pertemuan klabs di tobucil dan menemukan pesertanya sedang beradu argumen tentang sesuatu. Itu adalah upaya untuk menemukan alasan untuk mengerti dan tidak mengerti. Sebagian orang yang siap menemukan alasan itu, akan bertahan, datang kembali dan menemukan lebih banyak alasan yang membesarkan hatinya untuk menemukan toleransi. Sementara yang belum siap, biasanya akan menyingkir dan mencari caranya sendiri untuk menemukan alasan atas kemengertian dan ketidak mengertiannya itu di tempat lain.
Maka selamat datang di Tobucil, tempat dimana kamu bisa menemukan sebagian (jika tidak besar, bisa kecil saja) alasan untuk mengerti dan tidak mengerti. Kami di sini senantiasa menyambut teman-teman semua dengan cara yang teman-teman mengerti maupun tidak teman-teman mengerti sekalipun.
Aceh 56
vitarlenology
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment