Sore itu, KlabKlassik (KK) kedatangan tamu dadakan. Setelah kebingungan mencari tema diskusi, KK seolah kedatangan mesias. Mesias yang kemudian menyelamatkan diskusi KK dari yang tadinya terancam tak berarah tak bertujuan, menjadi padat, menarik, dan kaya pengetahuan. Adalah Gatot Danar Sulistiyanto, seorang komponis dari Yogya yang tiba-tiba datang bersama Diecky, aktivis KK yang sudah biasa hadir. Gatot datang dan menghadirkan tema yang sungguh menggelisahkan situasi di KK. Yang hadir memang sedikit sekali, yakni Gatot, Diecky, Royke, Kevin, dan Tobuciler sendiri. Menjelang akhir diskusi, memang hadir Yunus, tapi itupun mensubstitusi Kevin yang pulang duluan. Oh iya, ada yang ikut diskusi secara tiba-tiba, namanya Kang Bebeng, yang biasanya datang ke Tobucil untuk mengetik, mendadak tergelitik untuk ikut setelah mendengarkan beberapa patah kata dari Gatot.
Tema diskusi itu, berasal dari Gatot, yakni “Musik dalam Alam Bunyi”. Awalnya, KK sulit memahami jalan pikiran Gatot, yang mengatakan bahwa semesta ini adalah musik. Kita selama ini terbelenggu oleh definisi musik secara institusional, seolah-olah musik itu wilayah tersendiri, eksklusif, dan punya akses terbatas. Padahal, musik, ditekankan oleh Gatot, adalah sedekat detak jantung kita, denyut nadi, dan bunyi semesta itu sendiri. Dia mencontohkan dengan sangat baik, misal, bunyi kumpulan kodok di sawah, bagi orang tertentu yang sering dengar, pasti menganggap itulah musik bagi mereka. Kang Bebeng lalu memberikan pandangannya, bahwa dia pernah melihat pagelaran Slamet Abdul Syukur yang berjudul Perkutut Manggung, lalu isinya bukan apa-apa kecuali menyaksikan burung perkutut menyanyi. Kata Mas Bebeng, apakah komponis macam itu, memang punya penghayatan mendalam soal musik, atau justru pelarian karena mereka tidak bisa musik, terus kemudian membuat yang “aneh-aneh” saja, lalu mengklaim dirinya komponis kontemporer?
Diecky kemudian mencoba menjawabnya, bahwa pertanyaan itu sudah biasa terjadi. Tapi yang terpenting dari komponis semisal Slamet Abdul Syukur, adalah idenya. Maksudnya, itu, kenyataan bahwa kita terjajah melodi, membentuk klasifikasi soal mana musik dan mana yang bukan. Slamet, menurutnya, hanya mengajak kita merenungkan kembali soal musik sebagai bebunyian. Kenyataan bahwa seorang kakek yang setiap hari bermain dengan perkututnya, lantas menganggap itu musik, adalah hal yang sama sekali tidak boleh disepelekan. Barangkali, si kakek malah menganggap lagu-lagu dari band-band sekarang adalah bukan musik. Jika diperhatikan, Gatot memang orang yang sangat menghayati bunyi-bunyian. Tobuciler menangkap sesekali, bahwa Gatot seringkali terenyuh dengan bunyi ayam, hingga suara orang gila di sekitar Tobucil yang biasa berteriak-teriak. Dia sempat berceloteh, “Perhatikan teriakannya, melengking indah.”
Saking menariknya obrolan, sampai cukup meluas ke pelbagai ranah, termasuk yang lebih ontologis. Gatot mengemukakan teori body timpanium, yang katanya, manusia ini terdiri dari banyak tombol. Ketika musik hadir, yang merespon tidak cuma telinga, tapi juga seluruh aspek tubuh. Itu bisa menjawab kenapa Beethoven kendati tuli, masi bisa menciptakan karya-karya yang indah. Lalu soal bahwa Gatot percaya adanya gelombang wangsit, yakni gelombang yang frekuensinya di atas 20.000 hertz alias ultrasonik. Gelombang itulah tempat berseliweran mantra, doa, dan wahyu. Jadi bukan tidak masuk akal, orang bisa telepati atau santet. Pembicaraan jadi sangat menarik dan luas, bahkan sampai Royke membahas soal Atlantis yang berada di Indonesia, menurut sebuah teori.
Akhirnya, diskusi ditutup sekitar jam tujuh, setelah tadi dimulai dari jam tiga. Empat jam yang menyisakan pencerahan, setidaknya bagi Tobuciler. Empat jam yang mungkin membuat Kevin yang baru duduk di kelas 1 SMA, berpikir ulang soal kenapa dia mau susah-susah belajar gitar klasik, padahal semesta ini sudah berdenyut dan memainkan musiknya sendiri.[Syarif Maulana]
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment