Monday, March 8, 2010

Memoderasi Sebuah Diskusi Filsafat


Sejak Rosihan Fahmi alias Kang Ami mulai sering-sering mendampingi istrinya karena akan melahirkan, moderator resmi Madrasah Falsafah (Madfal) tersebut menjadi sering absen. Imbasnya, Tobuciler menjadi sering menggantikan Kang Ami untuk memoderasi. Memoderasi sebuah diskusi filsafat, bukanlah perkara yang mudah. Butuh napas panjang, dan telinga yang setia mendengarkan masing-masing pendapat. Berikut, Tobuciler akan berbagi kesan-kesan dan pelajaran yang didapat selama memoderasi madfal, biarpun baru beberapa kali saja menggantikan Kang Ami.

1.    Pekerjaan tersulit di dunia ini, adalah mendengarkan. Mendengarkan seseorang berbicara tentu mudah, tapi yang tersulit, adalah ikhlas menerima apa yang ia katakan, hingga ke lubuk batin yang terdalam. Inilah modal terpenting yang mesti dimiliki moderator dalam versi Tobuciler. Ia mesti punya keikhlasan dalam mendengarkan pelbagai pendapat yang masuk, untuk lalu mengkorelasikan antar kejadian. Karena peserta Madfal seringkali memulai forum dengan menceritakan kegelisahan pribadinya. Tugas moderatorlah yang membuat cerita-cerita personal itu jadi bahan diskusi bersama. Dan juga, keikhlasan dalam mendengarkan, membuat sang pencerita bertutur lebih nyaman. Untuk hal ini, Tobuciler sangat mengagumi Kang Ami. Kang Ami tidak pernah menyela selama peserta belum selesai bicara. Dan iapun mendengarkan dengan seksama.

2.    Peka dalam melihat situasi. Forum diskusi, seyogianya adalah milik bersama. Adalah tugas moderator untuk merasakan, apakah diskusi ini telah didominasi pihak tertentu, atau sudah kondusif. Maka itu, moderator penting sekali dalam melihat, mana yang terlalu banyak berbicara, dan mana yang belum kebagian. Karena belum tentu orang yang tidak bicara, sesungguhnya tidak mau bicara. Ada yang memang mau bicara, setelah diberi kesempatan. Itu terjadi terutama pada orang-orang yang baru datang ke Madfal. Tobuciler biasanya mulai panik jika sudah terjadi debat antara dua orang saja. Biarpun suasana seru dan panas, Tobuciler tetap mesti melihat kawan lain yang sekiranya mau bicara dan ada kemungkinan justru bisa meredakan suasana.

3.    Wawasan. Bagi Tobuciler pribadi, memoderasi sebuah diskusi filsafat, penting untuk terlebih dahulu bermodalkan pengetahuan tentang filsafat itu sendiri. Agar tahu, apa yang sesungguhnya dicari, dibedah, dan sekaligus mengetahui pisau bedah apa yang dipakai untuk suatu masalah. Maksudnya, alangkah konyolnya, di tengah perdebatan tentang Tuhan, Tobuciler mendadak mengangkat ayat di Al-Quran, dan mengajak seluruh peserta untuk beriman. Tobuciler merasa penting untuk merangsang diskusi untuk setidaknya menyentuh tiga faktor khas filsafat: ontologi (hakekat), epistemologi (apa yang mampu diketahui), dan aksiologi (kegunaan praktis). Tobuciler sendiri, sebelum mulai memoderasi, biasanya menyempatkan diri untuk baca-baca soal topik yang akan diangkat, termasuk mencari pendekatan filsafat apa yang kira-kira enak digunakan untuk membedahnya.

4.    Bimbing Penuh Para Penggalau Pemuda. Bahasa Tobuciler agak kacau, tapi maksudnya: jika ada peserta madfal yang kiranya masih baru mengenal filsafat, maka alangkah baiknya untuk senantiasa mengingatkan bahaya filsafat ini. Maksudnya, filsafat bagi Tobuciler, berbahaya, jika didalami setengah-setengah. Sehingga orang-orang yang sekiranya baru mengenal, justru mesti diberi vaksin. Maksudnya, membiarkan mereka untuk kenal filsafat hingga ke kedalaman tertentu, sampai nalar kira-kiranya berhenti di satu titik, semata-mata karena sadar keterbatasannya. Akan jadi perjalanan panjang memang, tapi Tobuciler berharap bahwa madfal punya andil dalam mengingatkan para pemuda galau tersebut, agar jangan setengah-setengah. Karena tidak ada jalan kembali! Filsafat adalah one way ticket! Dan omong kosong jika kita kelak menyuruhnya kembali ke jalan iman, yang diridhoi Tuhan YME.

5.    Hati-Hati Perdebatan antara MSF dan JS. Jika menemukan kedua orang dengan inisial tersebut di Madfal, maka berhati-hatilah akan terjadi perdebatan seru dan panas. Keduanya adalah argumentator handal, dan anda yang tidak kuat iman, pasti akan bimbang mendukung mana yang dianggap tepat. Namun Tobuciler mengingatkan, bahwa keduanya sesungguhnya menganut pandangan filsafat yang berbeda. Sehingga jika diteliti lebih cermat, keduanya sama-sama benar dan sama-sama salah. MSF cenderung formalis dan Aristotelian. Sedangkan JS tipikal Platonis dan Kantian. Dalam sejarah filsafat barat, kedua kubu tersebut tak henti-hentinya berdebat. Tapi kalau boleh jujur, keduanya mestilah ada, agar suasana madfal tidak terlalu damai.

Demikian lima poin kesan dan pelajaran yang didapat selama memoderasi Madfal. Semoga bermanfaat bagi siapa-siapa yang kelak akan memoderasi sebuah diskusi filsafat. Jangan lupa juga untuk membiarkan kegalauan menyelimuti anda. Karena disitulah kuncinya. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin