Monday, March 8, 2010

Pengalaman Sebagai Kontributor Tetap Tobucil


 Menjadi kontributor tetap blog Tobucil, adalah perkara gampang-gampang susah. Gampangnya, karena apa yang diliput, biasanya kegiatan yang cenderung kecil. Kecil dalam artian, jumlah pesertanya tak terlalu banyak, dan ruang yang digunakannya pun tak besar. Sehingga meliput sambil menyeruput kopi atau online di laptop, tidaklah menyebabkan banyak berita terbang percuma. Karena masih terdengar, masih terlihat, masih tercermati, meski sambil melakukan kegiatan yang lain. Sulitnya, adalah konsistensi klab yang belakangan agak turun naik, sehingga Tobuciler seringkali sulit mencari berita. Maksudnya, Tobuciler memang menjadwalkan diri untuk datang ke Tobucil pada hari tertentu saja, disesuaikan dengan jadwal klab-klab tertentu yang memang menjadi bahan liputan. Namun sejauh ini, yang secara konsisten dapat diikuti, adalah Madrasah Falsafah dan Klabklassik.

Mungkin ada beberapa klab yang memang konsisten, tapi seringkali bentrok dengan kegiatan Tobuciler di luar, seperti klab rajut misalnya, atau crafty kids. Atau jika Tobuciler sedang berhalangan keluar kota, maka liputan rutin di hari minggu seperti Klab Fotografi, jadi luput. Tapi memang, meliput blog Tobucil, adalah perkara yang menantang, jika dikaitkan dengan penyesuaian jadwal keseharian Tobuciler. Tapi bagi Tobuciler sendiri, adalah penting untuk senantiasa berdekatan dengan keseharian Tobucil. Selain mempunyai banyak sekali kegiatan positif, format komunitas juga semakin efektif belakangan. Setelah kita ketahui banyak sekali kegiatan berbagi pengetahuan dalam format guru-murid, atau seminar, atau organisasi profit, yang menemui jalan buntu. 

Dengan meliput, sesungguhnya, Tobuciler sukses menyerap pelbagai pengetahuan. Seperti misalnya ketika meliput Klab Fotografi, Tobuciler jadi tahu soal sejarah kamera, lensa, dan teknik-teknik memotret. Dan juga, yang penting lainnya, adalah beruntung, mempunyai kesempatan untuk memaksakan diri menulis setiap minggunya. Maksudnya, banyak orang bilang, menulis adalah soal inspirasi. Tapi lama kelamaan Tobuciler tak serta merta setuju. Karena dengan demikian, berarti inspirasi mesti dinantikan kedatangannya. Padahal tidak, inspirasi mesti dijemput, dan dibawa kemari. Dan kegiatan rutin menulis dengan dateline beginilah, yang membuat gaya bertutur dan teknik penulisan menjadi semakin maju dan berkembang.[Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin