Thursday, October 14, 2010

Membedah Prosa Kelopak Terakhir

Sore itu, kumpul-kumpul Madfal, hujan rintik-rintik di luar beranda. Senja hampir berakhir, tapi kegiatan tak kunjung akan mulai. Yang sudah datang saat itu adalah Mas Iman, Diecky, Mba Echie, Mas Daus, dan Andria beserta kawannya. Dua terakhir itu sepertinya baru pertama kali mengunjungi Madfal. Kami gelisah, dan bertanya, "Siapa yang seharusnya memulai?" Lalu saya berinisiatif menanyakan pada Kang Rosihan Fahmi via SMS. Dijawabnya cepat: Hari ini membahas prosa berjudul Kelopak Terakhir dari Dini. Langsung kami celingukan, mencari, manakah Dini? Ternyata ia datang setelah gelap, sekitar jam enam lebih lah. Kedatangannya pun, entah disengaja atau tidak, tidak langsung membuka diskusi. Tapi saya mencoba berhusnudzon, oh, dia sedang nge-print prosanya, untuk dibagikan pada para hadirin.

Dan ternyata memang iya, Dini pun tak lama kemudian duduk di tengah-tengah forum. Membagikan tulisannya, ia mengajak hadirin membacanya dalam hati. Namun sayang sekali, tulisan setebal lima halaman itu terasa kepanjangan untuk beberapa peserta Madfal. Mas Iman bertanya, "Apakah diskusi hari ini bisa dilakukan tanpa harus membacanya? Dalam artian, kita berbicara esensinya, atau kita mesti paham prosa yang Dini tuliskan ini?" Mba Echie sedikit lebih sarkas, "Ini, setelah koma tidak ada spasi, berarti secara teknis tata cara penulisan pun belum kamu lampaui, bagaimana aku bisa membaca ini lebih lanjut?"

Pembahasan Madfal kala itu memang jadinya semacam kritik terhadap tulisan Kelopak Terakhir tersebut. Jadi Kelopak Terakhir adalah cerita tentang bunga, yang sedang bergulat batinnya melihat alam sekitar dan manusianya. Bunga senang ketika menanti mentari menyinari, dan bunga sedih ketika penduduk semesta seolah bersembunyi kala ia mulai merekah. Demikian lima halaman tersebut kira-kira padat berisi tentang pergulatan batin itu semata. Tak lama kemudian setelah Dini menceritakan garis besar tulisannya, pelbagai masukan pun datang.

Paling banyak dari Mas Daus tentunya, sebagai penggiat sastra. Dini dikritik habis tentang kerancuan sudut pandang. Memang dalam tulisan itu, antara "aku" si tanaman, dan "aku" si gadis kecil, bergantian tanpa transisi, yang bisa menyebabkan pembaca kebingungan. Diecky berbeda lagi, ia mengajak seluruh peserta Madfal, sebelum memasuki ranah konsep, untuk bersama-sama mengoreksi tulisan Dini secara teknis. Daus langsung mengeluarkan pulpennya, dan srat srut mencoreti tulisan Dini di banyak tempat. Mulai dari titik, koma, jumlah titik-titik, kata sambung dan yang lainnya.

Memang jadinya, ini seperti ladang pembantaian bagi seorang Dini. Tapi yang menyenangkan adalah bagaimana Dini merespon. Ia mendengarkan, mencatat, dan menerima masukan. Dan menurut pengakuan Andria, yang baru datang, ternyata berbagai masukan bagi Dini, adalah pengetahuan bagi ia. Dini, dengan segala kelemahan tulisannya, justru telah menunjukkan kecerdasannya. Karena orang bodoh, adalah bukan ia yang tak paham suatu pengetahuan. Tapi ia yang keras kepala.
Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin