Sunday, November 7, 2010

Digital Signature untuk Para Pengguna Internet


Rabu, 3 November 2010

Madrasah Falsafah sore itu ditandai dengan absennya sang punggawa, Rosihan Fahmi. Meski demikian, acara tetap dimulai dengan Hafizman Cahyo sebagai pemasalah. Sebagai orang dengan latar belakang teknologi informasi, ia mengemukakan masalahnya dimulai dari kejadian yang menimpa istrinya berkaitan dengan online shopping. Istrinya kena tipu hingga satu juta rupiah oleh penjual di lapak internet. Mas Cahyo yang tidak menerima penipuan ini, kemudian berusaha mencari sang penjual dengan berbagai cara.

Atas kejadian tersebut, Mas Cahyo mengusulkan bahwa semua pengguna internet mesti mempunyai digital signature. Apakah gerangan? Semacam KTP dunia maya yang didata di pemerintah, agar tidak sulit kemudian mencari data pengguna manapun, termasuk jika ada penipuan. Ini ide brilian yang sempat mencuat ke permukaan oleh pemerintah, namun sayang Depkominfo malah menjual ke pihak ketiga alias pihak swasta. Topik penipuan online shopping dan digital signature ini dilemparkan ke forum untuk dibahas.

Komentar pertama datang dari Myra. Menurutnya, ia belum pernah kena tipu di online shopping, karena ia selalu berhati-hati dalam memilih penjual, yang mana ia dapatkan dari rekomendasi kawan-kawannya di dunia maya. Dalam mekanisme dunia maya, menurut Myra, terdapat seleksi alam yang memungkinkan penjual yang pernah menipu, barang dagangannya sulit laku. Tapi Mas Cahyo mementahkannya dengan mudah: bagaimana jika penjual yang sudah di blacklist, membuat account baru dengan nama lain? Atau, mekanisme seperti itu, berarti harus ada yang kena tipu pertama kali dong?

Berbagai tanggapan pun masuk dari peserta lain. Misal, Diecky mengatakan bahwa pemerintah kita masih sulit mengelola dunia maya, karena dunia nyata pun soal identitas belum jelas. Buktinya, Diecky punya KTP hingga tiga buah. Lalu Iqbal menanggapi, bahwa jika negara intervensi hingga ke detail dunia maya, itu sudah kurang ajar juga. Atau Pak Amrizal memberikan tanggapan dengan menceritakan pengalamannya di kampus, tentang pencurian soal. Heru Hikayat tidak tinggal diam, ia berbagi soal penjualan lukisan di dunia maya, yang katanya minim penipuan karena mengandalkan reputasi.

Di akhir diskusi menarik tersebut, Mas Cahyo mengatakan bahwa jangan-jangan permintaannya soal digital signature adalah murni utopis. Ia menyatakan nyaris mustahil setiap orang disadarkan memiliki KTP dunia maya, ketika dunia maya justru menjadi pelampiasan identitas yang menyenangkan. Tapi ada satu poin bagus yang saya tangkap dari Mas Cahyo kemarin: kenikmatan pengejaran penjahat di dunia maya, adalah ketika dunia maya dan dunia nyata bersentuhan meski sedikit. Itu menyenangkan.

Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin