Monday, February 22, 2010

Jangan Malu-malu, Ungkapkan Saja!

Teman-teman kecil Tobucil di acara Klab Dongeng Bersama Semi Palar

Melihat ekspresi teman-teman kecil yang hadir di tobucil beberapa waktu lalu, saya jadi teringat sebuah lagu dari Cat Stevens :

.....
Don't be shy just let your feelings roll on by
Don't wear fear or nobody will know you're there
Just lift your head, and let your feelings out instead
And don't be shy, just let your feeling roll on by
On by


You know love is better than a song
Love is where all of us belong
So don't be shy just let your feelings roll on by
Don't wear fear or nobody will know you're there
You're there  

......

Sebuah lagu yang selalu menyenangkan untuk didengar dan memberi sedikit keberanian  untuk mengungkapkan apa yang kita rasakan dengan jujur, sejujur ekspresi teman-teman kecil tobucil.  Semakin tumbuh besar dan dewasa, seringkali kita justru kehilangan kemampuan untuk mengekspresikan perasaan itu. Kebahagiaan mungkin lebih mudah diungkapkan daripada kesedihan, kebingungan, bahkan keputusasaan (selama bukan perasaan yang dimanipulasi, tapi kamu bisa bertanya pada dirimu sendiri apakah perasaan ini sesuatu yang manipulatif atau bukan).  
Jika kamu mengalami kesulitan atau masih malu-malu untuk mengungkapkannya, cara ini mungkin bisa dicoba. Sediakan sebuah toples berukuran bebas dan simpan di tempat yang aman dari jangakauan orang lain. Rasa malu dan kesulitan mengungkapkan biasanya muncul karena tekanan orang-orang di sekelilingmu. Jika kamu tiba-tiba merasa kesal, sedih, nyaris putus asa, tuliskanlah perasaanmu itu di secarik kertas dengan bahasa yang paling mewakili perasaanmu saat itu. Lipat dan masukan ke dalam 'toples keluh kesahmu'. Coba perhatikan, seberapa cepat toples itu terisi dalam sebulan. Setelah penuh, dalam kondisi perasaan tenang kamu bisa membuka dan membaca kembali keluhan-keluhan itu. Saya yakin, kamu akan tersenyum-senyum sendiri ketika membacanya dan menemukan sedikit keberanian untuk menemukan kejujuran pada perasaanmu sendiri. Penasaran? Silahkan coba..

Aceh 56

p.s. toples keluh kesah ini tidak bisa digantikan oleh jejaring sosial maya seperti facebook atau twitter.  

Google Twitter FaceBook

Ulat Sakit Perut Di Klab Dongeng Semi Palar

 
Sebelum mulai mendongeng, kakak-kakak dari Semi Palar mengajak adik-adik kecil sedikit gerak badan untuk pemanasan dan menambah semangat. 

Sabtu pagi kemarin, tobucil kedatangan tamu: teman-teman kecil yang datang untuk mengikuti kegiatan klab dongeng bersama Semi Palar. Kali ini, kakak-kakak mendongeng tentang ulat yang sakit perut karena kekenyangan. Teman-teman kecil berusia 2.5  sampai 5 tahun ini, mendengarkan dongeng tentang ulat ini dengan penuh semangat, bahkan ibu-ibu merekapun tak kalah semangat mendengar kakak-kakak Semi Palar mendongeng. Acara yang berlangsung dari pk. 09.00 sampai 11.00 ini, diisi tidak hanya dengan kegiatan dongeng saja, tapi teman-teman kecil diajak untuk membuat ulat dari kertas di meja-meja yang telah di atur rapi di bawah pohon rambutan.  Seru kan, foto-foto lengkapnya ada di album flickr tobucil & klabs.

 

 

  

  

  
Ayo tunjukkan, mana ulatmu?
Google Twitter FaceBook

Beryubiami Bersama Ibu-Ibu di Universitas Widyatama

 

Tobuciler kali ini meliput kegiatan Tobucil yang berada di luar Aceh 56, tepatnya di kampus Widyatama, jalan Cikutra. Disana, sedang ada Bursa Buku, yang mana diikutsertakan juga beberapa kegiatan. Salah satunya, workshop merajut yang digawangi oleh Mbak Upi, Nana, Erri, Rudi, Moel dan Wiku. Teknik merajutnya, spesifiknya, adalah merajut yubiami, yang berarti merajut tanpa alat bantu apapun, kecuali tangan sendiri. Kala Tobuciler datang, para peserta workshop sudah mengikuti arahan dari Erri secara berjamaah. Jumlahnya, ada sekitar lima puluh orang. Sedangkan awak Tobucil yang lain, terlihat berdiri di antara peserta, untuk mengajari peserta yang kebingungan secara privat. Kebanyakan peserta adalah Ibu-Ibu, tapi coba lihat Rudi, ia berdiri diantara banyak wanita muda, yang mana juga adalah para panitia.

Workshop itu memang tak seberapa lama, hanya sekitar satu setengah hingga dua jam. Namun banyak peserta yang sesudahnya, merasa puas, karena dapat pengetahuan baru. Selain itu, workshop ini juga semakin memperkaya curriculum vitae klab rajut Tobucil yang sudah merambah pelatihannya hingga Jakarta. Bu Nining adalah contoh ibu yang antusias, “Saya bener-bener gak nyangka, merajut gak perlu stik atau jarum.” Bu Dedeh juga mengaku hal serupa, katanya, “Pengetahuan baru ini, bener-bener berguna kalau lagi gak ada kerjaan.” Melihat antusiasme peserta, Tobuciler jadi tertarik untuk mewawancarai ketua panitianya, Alfie, bertanya, darimanakah dapat peserta sebanyak ini? “Ini dari warga sekitar, Mas, gak dipungut biaya, kami tawari satu persatu saja.” Dan kegratisan, biasanya, sering dikaitkan dengan coba-coba. Mumpung gratis. Tapi ini tidak kelihatan, para peserta terlihat sangat bertanggungjawab dalam keikutsertaannya. Mereka tertawa-tawa kecil menyaksikan jalinan benang melingkar-lingkar di jari-jarinya sambil terus berdiskusi dengan workshopper atau peserta lainnya. Mereka betul-betul ingin yubiami ini menjadi karya yang membanggakan bagi orang-orang di rumahnya. Setidaknya itu yang Tobuciler terka dari hatinya.[Syarif Maulana]
 


 Lebih banyak foto Kegiatan Workshop Yubiami di Universitas Widyatama ada di Flickr Tobucil & Klabs
Google Twitter FaceBook

Ketika Baron Menutup Pertemuan Madrasah Falsafah

 
Foto: Desiyanti Wirabrata 

Di sore yang disirami hujan deras, Madrasah Falsafah tetap berkumpul. Meski demikian, kala Tobuciler datang, yang baru hadir hanya Mbak Echie dan Mbak Theo. Sempat Tobuciler bertanya, “Apakah Madfal mau tetap diselenggarakan?” Mereka berdua berkesimpulan untuk menunda. Selain karena hujannya cukup deras, sampai pukul lima, belum ada orang juga yang hadir selain kami bertiga. Tapi berangsur-angsur, menjelang pukul setengah enam, datang beberapa orang, diantaranya Dicky dan Ali. Akhirnya kami memutuskan mengobrol soal topik apa saja, mulai dari soal perbedaan sains, agama, seni, dan filsafat. Lalu soal agnostisisme. Seharusnya, topiknya adalah soal kerbau. Namun karena ada semacam kebingungan, soal akan membahas apa perihal kerbau, jadilah kami bicara ngalor ngidul. Termasuk soal plagiat, soal alay, dan soal Karen Armstrong.

Menjelang pukul tujuh, atau jam resmi berakhirnya madfal, Tobucil kedatangan seorang pengamen bernama Baron. Memang, Baron ini sudah janjian sebelumnya dengan Tobuciler. Tapi sangat menarik ketika mengenal profil Baron secara lebih dekat. Baron ini adalah seorang pengamen, yang bekerja di daerah BIP. Ia menaiki angkot Margahayu-Ledeng setiap harinya, untuk mengamen satu lagu setiap lampu merah menyala. Yang menarik adalah, ia memainkan musik klasik, atau setidaknya, lagu pop dengan menggunakan teknik klasik. Teknik klasik disini dapat diartikan sebagai teknik yang menggunakan keseluruhan jari jemari di tangan kanan, atau dalam istilah lain: fingerstyle. Tobuciler pun meminta Baron memainkan beberapa lagu sebagai bentuk penutup acara diskusi madfal. Dan, Tobuciler dan seluruh awak madfal mengakui, bahwa permainannya sungguh memukau. Ia bermain tiga-empat buah lagu di beranda Tobucil, membuat hangat suasana, hingga Ipey sang kasir pun terbuai karenanya.

Dalam titik ini, Tobuciler menyimpulkan, bahwa banyak sekali filsafat yang gagal mendefinisikan soal musik. Karena musik, barangkali, semata-mata untuk didengarkan. Ia tak bisa ditelaah oleh daya jelajah pikiran yang terbatas. Selain itu juga, ada rasa haru sekaligus kagum dengan kehadiran Baron. Ketika orang kebanyakan menganggap musik klasik sebagai sarana untuk bergaya hidup, Baron tidak. Ia menggunakan musik klasik sebagai medium untuk bertahan hidup.  
Google Twitter FaceBook

Klab Klassik Di Liput 'Hang Out' STV

 

Siang itu, pukul satu, lima orang awak klabklassik berkumpul di Tobucil. Hari itu hari Selasa, dan jelas bukan jadwal rutin kumpul klabklassik. Tapi di beranda Tobucil itu, tak cuma terdapat para awak klab, tapi juga dua orang lainnya. Yang satu membawa mikrofon, satu lagi membawa kamera. Ternyata, mereka berdua dari STV, sebuah stasiun televisi lokal di Bandung. Memang, malam sebelumnya, Tobuciler mendapat telepon dari seseorang bernama Aga. Ia meminta klabklassik untuk diliput demi acara yang digawanginya, yakni Hang Out. Hang Out adalah acara yang berisikan tentang liputan pelbagai komunitas dan kegiatan. Meski mendadak, Tobuciler tetap memenuhi pertemuan tersebut, karena memang ya jujur saja, tampaknya asyik juga masuk tivi.

Dari klabklassik, terkumpulah lima orang, yang kebetulan semuanya pemain gitar. Selain Tobuciler, ada pula Bilawa, Diecky, Mas Yunus dan Luthfi. Kami bersama Aga, yang ternyata host acara tersebut, dan seorang kameramen. Syuting pun dimulai, sekitar dua lebih dua puluh menit. Awalnya, kami kira, semacam syuting kegiatan, sehingga beberapa figuran (diproyeksikan Wiku dan Eri) akan menambah semarak liputan. Ternyata, syuting itu adalah semacam wawancara. Jadi kami duduk berjajar berlima, mengapit Aga, dan kami diwawancara satu persatu layaknya sebuah band.

Kami ditanya banyak hal, mulai dari soal visi misi klab, soal asyiknya ikut klab ini, hingga acara-acara yang sudah digelar oleh klabklassik. Berganti-ganti kami berlima menjawabnya, tidak dominan di satu dua orang saja. Yang menarik adalah ketika tiba saatnya diantara kami-kami mesti mendemonstrasikan beberapa karya. Bilawa memulainya dengan Requerdos de la Alhambra dari Tarrega, lalu berturut-turut Tobuciler dengan Close to You, Mas Yunus dengan Felicidade, dan Luthfi dengan Asturias. Diecky sendiri memilih tidak bermain. Syuting itu sendiri menjadi cukup menggelikan, karena kami sungguh tidak menyangka akan mendapat sorotan kamera yang cukup intensif, terutama ketika bermain gitar. Aga sempat bertanya, “Kenapa sih, kalo main klasik, jarang ada yang ketawa?” Diecky menjawab simple, “Karena urat ketawanya tidak tersentuh.” Demikian kami semua gembira setelah wawancara selesai. Semua kembali ke aktivitas masing-masing. Syuting tersebut akan ditayangkan selasa tanggal 23 Februari jam 22 di STV.
Google Twitter FaceBook

'Virus' Madrasah Falsafah di Radio Trijaya Palembang

 

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba tobucil di hubungi oleh mba Vira Savira, teman tobucil di facebook. Mba Vira ternyata penyiar di radio Trijaya Palembang yang selama ini mengikuti kegiatan tobucil dari jauh. Rupanya kegiatan Madrasah Falsafah cukup menarik perhatian mba Vira, menurutnya kegiatan semacam ini tidak ada di Palembang, karenanya mba Vira mengajak tobucil berbagi cerita tentang kegiatan Madrasah Falsafah ini melalui telepon jarak jauh dan di siarkan langsung untuk pendengar Trijaya Palembang. "Siapa tau, pendengar Trijaya ada yang tertarik untuk membuat kegiatan seperti ini.." kata mba Vira. Tobucil tentu saja senang bisa berbagi dan menularkan 'virus' kegiatan-kegiatan yang ada di tobucil & klabs di kota-kota lain selain di Bandung. S

Seperti apa hasil wawancara Trijaya Palembang dengan Tobucil, buka di sini.
Google Twitter FaceBook

Mempersiapkan Anak Mengenal Internet

Saat ini, rasanya tidak mungkin hidup tanpa komputer dan koneksi internet. Pertumbuhan jumlah pengguna internet dari 25 juta pengguna dan diperkirakan akan meningkat dalam dua tahun ke depan sampai angka 80 juta pengguna, membuat orang tua mesti mengetahui, kapan tepatnya anak-anak bisa mendapatkan komputer mereka sendiri dan terhubung dengan internet. Hal ini menjadi penting, mengingat melepaskan anak-anak bersama komputer dan jaringan internet, seperti melepaskan mereka untuk masuk ke dalam rimba belantara dengan segala macam resikonya. Jika para orang tua bisa membekali anak-anaknya dengan pengetahuan dan cara aman untuk menjelajahi internet, anak-anak justru bisa mendapatkan banyak manfaat dari penjelajahan mereka di dunia maya.

Pada usia 1 dan 2 tahun, anak-anak  bisa mulai diperkenalkan dengan dasar-dasar keyboard dan mouse. Mereka akan melatih keterampilan motorik mereka untuk menggunakan dua alat ini. 

Sementara pada usia 3 atau 4 tahun, anak-anak mulai mampu memahami alur cerita dan teka-teki sederhana untuk di pecahkan. Mereka akan mengenali huruf dan angka. Pengenalan pada komputer diusia ini,  dapat membantu mereka untuk lebih mengenali huruf-huruf, angka dan pola cerita sederhana. Pada usia ini juga, anak dapat diperkenalkan dengan pola penggunaaan komputer yang sehat, seperi cara duduk yang benar dan mengambil waktu istirahat secara teratur ketika menggunakan komputer. Hal yang penting untuk diajarkan pada anak usia 4-5 tahun adalah memastikan bahwa mereka memahami aturan keluarga tentang komputer, seperti meminta izin untuk menggunakan software yang tidak biasa mereka gunakan dan juga pastikan orang tua mendampingi mereka, ketika mereka menggunakan fasilitas online misalnya ketika menggunakan fasilitas game online. Sebagai orang tua, sudah semestinya anda mengetahui situs apa saja yang diakses anak anda pada usia ini.

Usia 6 tahun ke atas, tuntutan untuk lebih mandiri dan leluasa dalam mengakses internet menjadi kebutuhan anak-anak.  Jika mereka mulai membuat account email pribadi, pastikan bahwa orang tua mengetahui alamat email anak-anak anda. Lebih baik jika anda menggunakan fasilitas Outlook untuk inbox email pada komputer rumah, sehingga orang tua masih bisa memantau email-email yang masuk. Beri pengetahuan tentang spam dan email-email yang dicurigai mengandung virus atau tawaran-tawaran yang menyesatkan. Pastikan bahwa mereka memenuhi syarat usia minimal 13 tahun untuk mendapatkan fasilitas email atau blog pribadi.

Sebagai orang tua, anda harus menekankan pada anak-anak anda (tentunya pada diri anda sendiri juga), untuk tidak sembarangan memposting informasi ke internet. Karena anda tidak pernah tau, apa yang akan terjadi dengan informasi-informasi itu. Hindari memposting informasi-informasi pribadi, seperti alamat rumah, no. telpon, atau informasi-informasi yang sekiranya bisa disalah gunakan oleh orang lain. Ajari anak-anak untuk menggunakan bahasa yang santun dan bertanggung jawab ketika mulai menulis di blog mereka.

Sebagai orang tua, andalah yang sesungguhnya berhak untuk memutuskan kapan anak-anak anda akan diperkenalkan dengan komputer dan internet. Jika sudah membuat aturan main, anda juga harus berdisiplin dengan aturan yang sudah anda buat sendiri. Jangan salahkan anak anda, jika mereka tidak mematuhi aturan main yang anda buat, jika anda sendiri seringkali melanggarnya.

Hal yang sangat penting sebelum memperkenalkan anak anda dengan komputer dan internet, pastikan bahwa kebiasaan berkomunikasi secara langsung di keluarga anda berjalan dengan baik. Kebiasaan berinternet tanpa kemampuan berkomunikasi secara langsung dengan baik, hanya akan menjauhkan anak-anak anda dengan dunia nyata di sekelilingnya. Semenakjubkan apapun yang ditawarkan oleh internet, termasuk pesona jejaring sosial seperti facebook, twitter, itu semua bukan sesuatu yang nyata. Keterhubungan anak-anak (dan mungkin anda juga) dengan dunia nyata jauh lebih penting dari petualangan di dunia maya. Aktualisasi diri di dunia nyata adalah kesempatan nyat untuk berkontribusi pada perubahan. Jadi bijaksanalah dalam menetapkan porsi waktu anak-anak terhubung dengan komputer dan internet. Jangan sampai, karena tidak ingin anak  'ketinggalan informasi', orang tua justru menghilangkan kesempatan anak untuk mengaktualisasikan dirinya di dunia nyata. [vitarlenology] Tulisan ini di adaptasi dari sini
Google Twitter FaceBook

"Tobucil buka sampai jam berapa?"

Tugas terbaru saya yang adalah kontributor tetap blog Tobucil mengharuskan saya disiplin setiap minggu menulis. Dan hampir selalu saya tunggu sampai deadline baru saya mulai menulis. Tentu saja ini
bukan kebiasaan yang baik :P Menulis keseharian Tobucil, itulah tugas saya. Saya ingat-ingat lagi apa yang menarik selama seminggu ini. Lalu tiba-tiba muncul pertanyaan ini di kepala saya:

"Tobucil buka sampai jam berapa?"

Tentu itu adalah pertanyaan yang wajar, tapi dalam seminggu ini hampir setiap hari ada saja yang menanyakannya, terutama lewat telepon. Frekuensi pertanyaannya yang kurang wajar menurut saya, hehe. Kalau telinga saya adalah Twitter, mungkin pertanyaan itu bisa jadi trending topic hahaha. Tapi tenang saja, kalau  ada yang bertanya, bakal tetap saya jawab kok :)

Alasan mereka bertanya tentu saja karena tidak tahu, tapi yang saya amati, ada alasan yang membuat pertanyaan ini menjadi sering, mungkin salah satunya adalah  hujan yang terus menerus (dan deras) di sore hari belakangan ini. Menurut saya hal itu berhubungan, walau tentu belum tentu semua yang bertanya alasannya itu hehehe.

Jadi, daripada tulisan saya semakin tidak jelas, ini dia jawaban yang ditunggu-tunggu: Tobucil buka sampai jam 8 malam. Lebih lengkapnya lagi, Tobucil buka dari jam 9 pagi sampai 8 malam :) [Ipey]
Google Twitter FaceBook

Bandung Banjir Di mana-mana, Apa Pendapatmu?

 
Titarubi Tita
pemerintahnya gak becus ngurus kota


Fandy Hutari
Opini sya:tata kota bdg itu udh salah..dulu waktu masa kolonial,sbnrnya pmrntah belanda udh nyusun tata kota yg tepat,mslnya:dago itu daerah pemukiman bukan pusat mall atau pertokoan.pas d pgang pmrnth indonsia,knsep2 it d ubah..jadilah tata kota berantakan dan tmpt resapan air ga ada..begitu mnrt saya.

Canopus Foggy
Padahal katanya banyak lulusan ptn2 yg pinter2 ngurusin drainase....apa krn nilai proyeknya ga komersil?....atau memang tidak punya sense of care??

Garage Wall
Menurut sy, krn ulah manusianya sendiri, manusia serakah terhdp alam... Alam membalas keserakahan manusia. Dan, bkn di bdg aja jkt serta wilayah indonesia tergenang banjir, banjir bah, banjir bandang. Tindakan kita, apa?Jgn saling menyalahkan. Tindakan skrg, gmn respon pemerintah dg masyarakat. Kembali kpd manusianya.
Aska Leonardi
Gimana kalo tobucil ngadain :
Kerja bakti "bersih kotaku sehat wargaku"
Iit Boit
asyik, bisa rafting di jalan.. :D

Vinondini Indriati
ga tahu ya, rumah gue di titik tertinggi ke-2 setelah gunung tangkuban perahu sehhh:P
Kimung Blasted Core
alirkan sj banjirnya ke kantor para pengayom masyarakat, biar diayomi ga ganggu masyarakat lagii yess hheuu
Humam Cinta Damai bwt bandung selatan tambah kedalaman sungai ciliwung...
@Fandy: banyak kepentingan,udah jd lingkaran se'an. 
Eli Amhar Rahmah
Pemerintah seharusnya menggerakkan para intelektual kita untuk menyelesaikan masalah banjir, serahkan pada ahlinya, dananya pemerintah yang harus memfasilitasi kalo perlu, untuk keamanan bangsa kita, rencana kenaikan gaji para petinggi di tunda aja, lebih baik menyelesaikan masalah banjir... :)

Arief Bajingan
MAU GIMANA GA BANJIR???
DIAMPIR SEMUA DAERAH ATAS YG MUSTINYA PENUH POHON, SEKARANG PENUH RUMAH
Rie Vijay
Tentu saja sangat mengganggu. Aku pernah pulang dari Bandung naik bis. Dari Bandungnya sih jam empat sore. Nyampe rumah jam sebelas malem dong gara-gara banjir di Rancaekek.
Awan Rimbawan
lapor...bandung selatan parah...
masak kmrn di pertigaan dayeuh kolot nyebrang jalan pake motor ajah hrs nunggu 1 jam :(

moga2 hujan nya agak redaan :)
Iwuth Wulandari menurut saya sih karena ulah manusia juga sih. sekarang banyak lahan yang semestinya untuk resapan air malah di jadikan rumah,villa atau untuk usaha. pohon banyak di tebang tanpa ada pohon penggantinya.
selain itu masyarakat kurang menyadari dampak membuang sampah di sungai, selokan atau saat berjalan/ naik mobil buang sampah sembarangan aja di jalan.
kesal juga dengan tindakan seperti itu, sekarang giliran udah hujan dampaknya terasa sekali.

Muhammad Rais Alfathoni
mengaca pada diri sendiri dengan pertanyaan apakah ada perbuatan kita yang menyebabkan kebanjiran di bandung...
ya harus ditanggapi dengn serius lah...lagi2 yang korban itu masyarakat kecil.bukan mereka yang punya uang yang bisa menghindar dari kebanjiran...
Tieke Kaelani
Resapan airnya sdh di ganti menjadi tempat bangunan mewah,ya iyalah pasti banjir
Dewi Nurbani Utami
Ga ada lg akar pohon yg menyerap air hujan dihulu jd longsor membuat sungai jd dangkal, jg sampah menutup saluran2 air dikota2. Ayo bebaskan bandung dr banjir! (Prlu dukungan dr smua pihak jg pakarnya)

Nadia Octavialni Ali
kalau di panyileukan, hujan 5 menit juga banjirnya udah amit-amit.. asalusulnya, katanya sungai jebol (dan tersumbat karena sampah menumpuk dimana-mana hiiiiyyyy)
dan para warga melakukukan antisipasi banjir dengan meninggikan masing2 rumah mereka. hasilnya malah jalan raya yang jadi danau.
hay aku juga warga bandung dulu. sekarang aku jadi warga jogya.
HEmmm skrg yg jadi problema sampah di bandung itu lhoh... dari makanan sampah plastik .. krn bnadung itu penduduknya padat kan?
dulu jg saya kost di t4 yang ciut dan gang nya kecil kecil...sampahnya banyak... jd weee banjir ....
coba perhatikan perumahan mewah sampah di kotak sampah masing2 juga kadang masuk selokan ( got )... trus kyknya gak ada program kerja bakti gitu yach...
pendapatku kurangi sampah plastik, pergiat slogan memakai barang non plastik, kembali ke natural lagi.... berdayaakn re-cycle apa aja yg bs di re-cycle... baju mungkin... dibuat tas,, celana jeans dibuat tas, atau apa aja lah... utk mengurangi sampah...moga bermanfaat

aku sedih..sekaligus kesal..karena rumahku berada dkawasan yg sering kena banjir..meski rumahku ga pernah kbanjiran tp aku tetap saja mrasakan akibatnya..jalan raya kebanjiran otomatis akses untuk transportasi darat pun terputus atau terhambat..
mau pergi kuliah atau bekerja pun jd ikut terhambat jg..
aku tidak mngerti bagaimana sistem saluran air di kota bandung ini..setiap hujan besar pasti jalan raya bnyak banjir..seperti di setiabudi..padahal itu kan termasuk dtaran tinggi..mungkin tatakota di bandung itu harus dibenahi..pemerintah harus menaruh perhatian yg tinggi terhadap masalah ini, jgn seenaknya kasih izin pembangunan villa atau mall atau apapun yg mungkin akan mengurangi daerah resapan air..mending lebih diperbanyak kawasan hijau seperti taman kota..
Sudah saat nya kita peduli dan menghargai alam....jaga lingkungan, pelihara tanaman, jangan terus tutupi tanah dengan semen dan bangunan2 komersil, perbaiki saluran air...semuanya bisa dikerjakan dengan mudah kalo kita semua peduli =) jangan hanya mengandalkan pemerintah....tapi kita juga harus bergerak =)

Bandung dan banjir,,,
Mungkin melihat tata kota dan kebiasaan hidup masyarakatnya kurang memperhatikan lingkungan hidup... Ya...wajar saja kalau Bandung menjadi tempat yang langganan disinggahi banjir...
Bandung dan Banjir,,,kayaknya bakal jadi badan dan ekor yang terus menyatu...
Tanah Parahyangan, dianugerahi kontur yang memungkinkannya menampung air. Khusus Bandung, bahkan terbentuk dari danau purba. Jadi memang dari "sono"-nya tempat menggenangnya air. Yang jadi soal adalah kita (Saya dan Anda) tidak berusaha beradaptasi dengan kenyataan itu. Yang dicari adalah bagaimana melawan takdir itu. Dalam banyak film atau novel atau babad, alam ternyata tidak mungkin dilawan. Kemenangan manusia terhadap alam hanya sementara karena alam akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar. Ketika banyak pohon tumbang akhir-akhir ini, yang disalahkan adalah keberadaan pohon dan angin yang terlalu kencang. Padahal itu bukti iklim mikro kota sudah terganggu dan tindakan kita seharusnya bukan malah menebangi pohon yang divonis bersalah karena tumbuh di tengah kota. Jika pola pikir kita terhadap tata ruang terus begitu, maka jangan "ngomel" kalau tinggi air dari semata kaki tahun 80-an, kini "sepantaran" wuwungan atap. Kita harus mengkaji ulang paham "Challange and Respond" kita.
bagian dari "siklus sejarah" bahwa Bandung secara historis bekas danau purba cuma persoalannya manusia2 yang menghuni bandung dan daerah2 yang mengelilinginya bahkan mungkin trmsk kita "campur tangan" mempercepat siklus itu, mcm2 yang dilakukan mulai dari yg terkecil yg seneng buang sampah dari jendela angkot sampai lereng2 sekeliling bandung yang disulap jd villa, perumahan dll. jadi bandung dan banjir sdh memiliki semacam "ikatan emosional sejarah" simbolisasi dari sunda dan galuh (gunung dan air) bertemu dalam mangkuk raksasa berupa danau raksasa.
melihat kondisi saat ini, ga adany resapan air, polusi smakin menggila, penghijauan smakin langka. Pihak pemerintah setempat tidak responsif, Bandung tak akan selamat, tinggal nunggu waktu saja...kota Bandung tak akan selamat,akan menjadi lautan banjir dmana-mana, indikasiny sdah mulai terlihat. Silahkan buktikan sendiri, dgn keliling2 kota Bandung disaat hujan....

Ini adalah ulah sebagian dari kita yang tidak bertanggungjawab; berprilaku tidak semestinya; pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan; pemkot, pemkab, para pengusaha nakal yang tidak beretika, IMB dikeluarkan, padahal itu lahan konservasi, perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan dan prilaku buruk lainnya; sebenarnya malu, di Bandung sangat banyak ahli lingkungan dan tata kota, terutama dari ITB; apa mereka tidak mengimplementasikan ilmunya di tataran praktis?
Banjir yang melanda Bandung sepertinya semakin memarah...Kita juga tidak bisa terus mendesak dan menyalahkan pemerintah yang sedikit lambat dalam menangani banjir di Bandung...Sebenarnya, ini juga sebagai cerminan tuk diri kita sendiri sebagai penghuni Bandung...Contoh sederhana saja..Ketika membuang bungkus permen dengan sekenaknya..Pernah tidak terbersit dalam benak kita bahwa bungkus yang kita buang sembarangan ternyata menjadi penyumbang banjir juga.Kenapa kita tidak sedikit bertahan tuk menyimpan bungkus tersebut sampai kita menemukan tempat yang tepat tuk melepaskannya, yaitu tong sampah...
Penanggulangan banjir sebenarnya juga kembali pada pribadi kita masing-masing..
Masihkah kita membuang sampah sembarangan?
ke sungai, dalam angkot, dalam buskota, ato lempar sekenaknya...
Banjir disebabkan oleh ulah kita sendiri yang masih tidak mau belajar dari kesalahan-kesalahan masa lalu. Setiap musim hujan datang selalu banjir, tidak pernah ada upaya untuk menghentikan atau minimal mengurangi dampaknya. Saya rasa kita harus mulai untuk mencintai lingkungan kita sendiri dengan ikut menjaganya. jangan lantas banjir dianggap sebagai budaya dan kita hanya bersiap menunggunya setiap tahun. Kata-kata Ibu Guru jaman SD dulu masih belum expired "Jangan buang sampah sembarangan"
masalah banjir tidak bisa menyalahkan faktor alam, segala pembenahan perlu dilakukan, mulai dari sistem drainase, penanggulangan sampah, dan aspek lain yang mampu menyebabkan banjir
menandakan jeleknya tata kota di bandung ini, instalasi gorong2 banyak yang diperkecil...coba liat aza di film bule...gorong2 itu bisa bwat tinggal kyak vincent di film beauty and the beas
Banjir itu hanyalah side effect dr global warming. Ini adalah cr Bumi mendinginkan dirinya dr panas yg ditimbulkan manusia. Kalo manusia terkena imbasnya ya itu karna ulah kita. Trus apa yg harus disesali? Bknnya kita yg duluan memulai? Daerah hulu dan gunung kita babat dan dijadikan perumahan. Kita tidak menghormati nadhi Bumi dgn membuang sampah ke sungai. Kita yg memilih untuk menghabiskan isi bumi dgn secara egois menggunakan minyak bumi. Sendirian naik mobil dgn AC hanya karna alasan kenyaman. Tidak peduli dgn panas berlebih yg dihasilkan bumi. Toh apapun yg kita lakukan akan kembali kita tuai. Tinggal kita yg memilih, apakah kita akan meneruskan pola pikir dan gaya hidup kita yg tak selaras lagi dgn Alam ato kita memilih suicidal way of live spt saat ini...
Google Twitter FaceBook

Buku: Irama Visual

Harga: Rp 37800
Penerbit: Jalasutra

Seonggok gambar hanya bisa menarik perhatian, bila ia mampu memberikan dan melukiskan informasi; mengejutkan dan membangkitkan gairah; serta menukik kepada suatu hal. Ketertarikan ini pada level selanjutnya akan mengantarkan kita kepada pengalaman komunikatif, bahkan pengalaman konsumtif.

Oleh sebab itu, komunikasi visual senantiasa dituntun untuk menggunakan cara berkomunikasi yang "berseni". Apalagi, sesuatu yang estetis lebih mungkin dan nyaman untuk dikonsumsi. Hal ini menuntut para desainer untuk lebih mengembangkan nalar kreatif demi mencapai tanda-tanda komunikasi visual yang berkualitas. Karena ia berkewajiban mengomunikasikan diri dengan masyarakat yang kian berbudaya visual.
Google Twitter FaceBook

Kegiatan Klab Minggu Ini

Madrasah Falsafah
Setiap Rabu, Pk. 17.00 - 19.00
Tema 24 Februari 2010: Berkenalan Dengan Filsafat Bagian II

-------

Crafty Kids Club 'Membuat Tas Sendiri'
Sabtu, 27 Februari 2010
Pk. 10.30 - 12.00

Klab baru untuk anak-anak PG (play group) dan SD. Klab ini bertujuan menumbuhkan kreativitas, belajar merealisasikan ide dan gagasan menjadi karya serta melatih kemampuan motorik anak.

Tempat: Tobucil & Klabs
Jl. Aceh No. 56 Bandung
Telp. 022 4261548

Biaya sudah termasuk alat dan bahan:
Per pertemuan: Rp. 50.000

Pendaftaran paling lambat sehari sebelumnya.
Google Twitter FaceBook

Monday, February 15, 2010

Kebahagiaan Satu Meter Persegi Di Rumahmu


Hal yang paling menghibur dan menyenangkan ketika hujan angin menderu-deru di luar sana, adalah berdiam diri di dalam rumah. Membuat 'sarang' di salah satu bagian rumah yang paling nyaman, mengerjakan bebagai macam aktivitas yang sangat kita sukai sambil di temani musik dan minuman hangat. Setelah itu, biarkan saja hujan di luar sana mau sehebat apapun ngamuknya, kita terima saja.

Namun, tidak semua cukup beruntung memiliki rumah yang nyaman itu, dimana kita bisa terlindungi dari amukan hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Seringkali, tempat yang semestinya memberi perlindungan, justru terasa semakin merepotkan ketika cuaca seolah-olah ingin menguji ketahanannya. Bocor di banyak bagian rumah, kebanjiran, jendela-jendela yang tak lagi bisa menahan angin, hal-hal yang menjadi 'dinas gangguan' yang rutin datang di saat-saat buruk dimana kita semestinya bisa mendapat perlindungan yang nyaman. Jika hal itu terjadi dan kamu alami juga, jangan bersedih. Yakinlah, kebocoran sehebat apapun, selama atap rumahmu benar-benar belum ambruk, pasti bisa kamu tangani. Jangan lupakan kebocoran-kebocoran itu, karena di hari panas, kamu punya banyak kesempatan untuk memperbaikinya. Melupakannya, berarti membiarkan 'kesengsaraan' yang sama di hari hujan terulang kembali. Hal yang cukup penting untuk diingat, meski rumahmu itu tidak sempurna dan kau anggap tidak nyaman, kau pasti bisa menemukan bagian yang paling nyaman untuk menjadi sarangmu, meski itu hanya 1 meter persegi saja. Selama ini dia ada di salah satu bagian rumahmu, hanya saja mungkin kamu belum melihatnya.

Yuk, kita temukan yang  satu meter persegi bagian yang nyaman itu, lalu coba temukan  kebahagiaan kita di situ..

Aceh 56
vitarlenology
Google Twitter FaceBook

Setahun KlabKlassik String Trio


 KlabKlassik String Trio (KKST) adalah kelompok instrument dawai yang beranggotakan Afifa Ayu, Azisa Noor, dan Syarif Maulana. Jika pernah menyaksikan Musik Sore Tobucil (MST) beberapa edisi, maka kelompok bertiga ini beberapa kali sempat mengisi. Berhubung ketiganya aktif dalam kegiatan Tobucil, maka bolehlah jika KKST ini dibilang sebagai “home musician”-nya Tobucil. Nah, berkaitan dengan itu, KKST, di hari valentine kemarin, diperingati sebagai ulang tahunnya yang kesatu. Dulu, KKST didirikan di kala valentine tahun 2009, dimana KKST bermain untuk kafe Lara Jonggrang, Jakarta. Dulu, KKST cuma punya lima belas repertoar untuk dua jam permainan, sehingga mesti diulang-ulang lagunya, atau dipanjangkan hingga 10 menit per lagu. Sekarang, Alhamdulillah, lagunya sudah lebih beragam, dan tak perlu secara berlebihan memanjangkan lagu per lagunya.
Valentine kemarin, KKST tampil lagi. Sekarang di Kafe 3 E’s View, Dago Pakar. Tampil bertiga dalam suasana remang-remang, KKST memainkan sekitar dua puluh lima lagu yang bercampur antara pop, jazz, ataupun klasik. Jangan lupa, bahwa Afifa sang violinis juga, bisa menyanyi dengan suara sopran. Jangan heran jika sesekali datang ke Tobucil, format musik kamar ini sedang berlatih ataupun membuat berisik beranda. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

Demam Toy Camera di Tobucil

Kurang dari sebulan terakhir ini, tiba-tiba saja banyak kiriman film-film 35mm kadaluarsa ke alamat tobucil. Selidik punya selidik, ternyata koordinator klabs tobucil, Wikubaskoro sedang keranjingan memotret dengan berbagai macam koleksi toy's cameranya. Hasilnya, tentu saja mengejutkan. Banyak paralaks dan warna yang muncul tentu saja tidak bisa terduga sebelumnya. Di tengah-tengah, teknologi digital, kembali ke sesuatu yang manual ternyata menyenangkan juga. Penasaran liat foto-fotonya? Beberapa ada di sini, tapi kalau mau liat lebih lengkap bisa kunjungi album foto Wiku Baskoro di Flickr.

 

Flower Pop

  
Roti Bakar

Room #1
Google Twitter FaceBook

Perjalanan Paling 'Susah' Menuju Tobucil

Tiada hari tanpa hujan belakangan ini. Hujannya biasanya siang pula, tepat sebelum saya berangkat ke Tobucil :P  Biasanya ya tinggal pakai payung saja lalu berangkat. Walau kebasahan tapi ya sedikit saja,
belum pernah separah tadi (Senin 15 Feb), banjir dimana-mana, kata orang-orang juga macet di berbagai tempat bahkan sampai ada pohon tumbang.

Jarak dari rumah saya ke Tobucil yang sebenarnya cuma 'gitu aja' (sekali naik angkot dan tidak begitu jauh) tapi jadi banyak rintangannya, hehe. Dari depan rumah saja sudah banjir sematakaki. Ya,
memang bisa dibilang 'cuma segitu' sih, tapi cukup mengganggu. Saya yang asalnya memakai sepatu jadi kembali ke rumah untuk menggantinya dengan sendal. Sampai ke tempat menunggu angkot ternyata jalanan sepi sekali, ngga ada angkot.  Akhirnya saya jalan saja sambil menunggu kalau-kalau ada angkot yang lewat. Di jalan itu pun banjir, dan arusnya cukup deras.

Setelah berjalan kira-kira beberapa belas menit, ada juga angkot, tapi angkot itu hanya sampai Jalan Riau, seterusnya jalan kaki. Sampai di Jalan Aceh ternyata banjirnya tidak parah, tapi lalu lintas cukup
padat. Dan akhirnya sampai juga saya di Tobucil, walau tidak basah kuyup, tapi tetap basah :D Pengalaman tadi saya nobatkan sebagai perjalanan saya yang paling 'susah' menuju Tobucil :P

Oiya, mungkin kalian juga pernah punya pengalaman menuju Tobucil yang
kira-kira ribet banget? Boleh share di comment :D [Ipey]
Google Twitter FaceBook

Membicarakan Pasar


 Rabu itu Madrasah Falsafah membahas soal pasar. Rosihan Fahmi alias Kang Ami, tidak bisa hadir, dan Tobuciler yang jadinya menggantikan. Sempat diragukan soal berapa orang yang hadir, akibat hujan yang tak kenal ampun belakangan ini. Tapi sedikit demi sedikit, setelah cuma ada Ijal, Mbak Echi dan Mas Joko, orang-orang mulai berdatangan. Mulai dari Mira, Natalia, Mas Oyeh, kemudian Ervan bersama kedua orang temannya. Pembahasan dimulai dari bagaimana pasar itu pada mulanya: Tempat jual beli, tapi lamat-lamat, karena banyaknya orang berkumpul, jadinya pasar juga menjadi tempat pertemuan, tempat masal, tempat berpromosi, tempat jalan-jalan. Sekarang, di era yang konon dinamakan Posmodern ini, pasar bukan lagi sekedar definisi tersebut, melainkan juga, tindak-tanduk kita adalah mengikuti kehendak pasar. Pembahasan ini kemudian mentok pada ayam dulu telur dulu: Sebetulnya, masyarakat dulu yang butuh, kemudian pasar yang menyediakan, atau pasar menyediakan, lalu masyarakat menjadi merasa butuh, dengan dibantu iklan dan opini tentunya.

Contohnya, kata Mbak Echi, tentang iklan sebuah produk minuman kesehatan yang membawa isu Probiotik. Betulkah memang tubuh kita membutuhkan zat Probiotik tersebut? Atau justru gara-gara iklan tersebut, kita jadi merasa butuh? Kata Mas Oyeh, memang belakangan, isu kesehatan sedang gencar-gencarnya menjadi bahan promosi produk. Bahkan boleh dicurigai, bahwa beberapa penelitian ilmuwan yang hadir di majalah atau jurnal, soal kesehatan, punya kaitan dengan bisnis, atau dalam hal ini, pasar. Hal tersebut juga didukung oleh Mira, yang pernah dimintai tolong membuat slogan iklan sebuah produk. Katanya, pembuatan slogan itu sendiri semena-mena, tanpa penelitian ilmiah, dan yang penting bagi si produsen, adalah laku. Boleh saja mereka mereka-reka isu kesehatan, isu penelitian dan sebagainya, tapi tingkat kebenarannya boleh diragukan. Tapi ada beberapa yang kontra dengan pandangan tersebut, misalnya Mas Joko atau Ervan, yang justru sebaliknya, masyarakat sepertinya yang punya kebutuhan terlebih dahulu.

Diskusi nyaris terjebak pada isu tersebut, jika saja Mas Daus tidak datang. Mas Daus datang, kemudian “melancarkan” jalannya diskusi dengan menawarkan topik soal historiografi dan bagaimana pasar dibicarakan dalam konteks yang lebih konkrit. Maksudnya, ketika menyebut kata “pasar”, maka Mas Daus menekankan, bahwa pasar yang sering disebut, tak lebih dari sekedar kata-kata ideal, sebagaimana halnya kata “keadilan”, “hak asasi manusia”, atau “kebenaran”. Ucapan Mas Daus ini kemudian mengarah pada perdebatan seru dengan Mas Joko. Karena ujung-ujungnya, Mas Daus merasa pasar yang berkembang saat ini tidak fair. Ada kaum tertentu yang termarjinalkan oleh kebijakan pasar saat sekarang. Oleh karena itu, Mas Daus mengusulkan bahwa pasar mestilah atas dasar asas Fair Trade. Sedangkan Mas Joko sebaliknya, bahwa sebetulnya, setiap kaum punya kesamaan hak dalam pasar. Dan oleh karena itu, semuanya berhak bebas. Dan oleh kebebasan itulah, atau disebut Free Trade, pasar menemukan titik kesetimbangannya. Perdebatan kedua kubu ini seru dan berbalas-balasan. Tapi pada akhirnya, forum melihat, bahwa keduanya membawa sudut pandang yang berbeda. Satu melihat dari sudut pandang Platonis, soal ide ideal. Satu lagi dari sudut pandang Aristotelian, soal pemahaman atas indrawi. Jelas, kedua ini sulit dipersatukan, sebagaimana halnya filsafat barat itu sendiri dibangun atas kedua pertentangan tersebut. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

Mencoba (Sedikit) Lebih Mendekati Frank Zappa


Minggu itu, KlabKlassik membahas soal apa siapa Frank Zappa. Pembicaranya adalah Diecky Kurniawan Indrapradja, seorang komponis musik kontemporer. Di KlabKlassik, yang berkumpul cukup banyak, ada sekitar 15 orang. Diecky mulai dari memperkenalkan siapa Zappa. Dan ini cukup menarik, karena ternyata, dari semua yang berkumpul, belum ada satupun yang betul-betul mengenal Zappa, kecuali mendengar sedikit saja namanya. Dan memang, prestasi Zappa begitu menjulang, kalau tidak bisa dibilang monumental. Bayangkan, di Baltimore, kota kelahiran Zappa, tanggal 9 Agustus diperingati sebagai hari Frank Zappa. Lalu katanya, Zappa juga menginspirasi beberapa nama ilmiah untuk jamur-jamuran serta spesies tertentu. Belum lagi, Zappa adalah komposer yang duduk di dua kursi, yakni musik populer dan musik kontemporer sekaligus. Lalu, Zappa juga, bayangkan, meninggal di tahun 1993, tapi hingga tahun 2009, albumnya masih keluar! Dirilis oleh anaknya, tapi sungguh, itu bukan karya “Best of” atau recycle, tapi musik-musiknya yang belum pernah ada di album sebelumnya. Artinya, Zappa ini luar biasa produktif.

Dan ketika mendengarkan beberapa contoh musiknya, sebetulnya kami semua setuju, bahwa musik Zappa bukanlah sesuatu yang mudah didengar. Terdengar aneh, ritmisnya tidak biasa, dan tonalitasnya berubah selalu. Tapi, oleh pembicara satu lagi, Pak Tono dari UPI, ditanggapi bahwa Zappa ini sangat identik dengan komposer abad ke-20, yang mengutamakan pengulangan dalam bunyi-bunyian. Pengulangan itu, tapinya, kemudian berkembang jadi semacam repetisi yang dinamis. Atau kemudian dibahas lagi, bahwa komposer abad ke-20 lekat dengan teknik kolase, yakni menyambung-nyambungkan lagu yang pernah ada, menjadi sebuah lagu baru. Hanya saja, dalam konteks jaman sekarang, kolase seringkali dianggap pelanggaran HAKI. Padahal, kata Pak Tono, itu tak lebih dari sekedar akal-akalan bisnis. Sesungguhnya diantara seniman dan musisi, tak ada istilah pelanggaran macam itu.

Diskusi ditutup dengan kebingungan yang melanda para peserta diskusi. Jelas, karena dalam durasi dua jam, peserta dibombardir oleh aneka musik yang jauh dari apa yang biasa didengar. Juga oleh suguhan video yang banal dan abnormal. Tapi ternyata, semuanya senang dan mengakui adanya tambahan wawasan. Segar seperti halnya hujan yang terus mengguyur di kala valentine tersebut. Tanggal 28 nanti, KlabKlassik akan “menormalkan” situasi dengan membahas Teknik Komposisi Bach. [Syarif Maulana]
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin