Pengantar dari Tobucil: Sebelum diskusi Madrasah Falsafah Rabu kemarin tanggal 10 November, Moh. Syafari Firdaus melampirkan note di Facebook yang ia tautkan pada beberapa orang yang diasumsikannya akan mengikuti diskusi. Diskusi itu sendiri membahas Gasibu di Minggu Pagi, yakni kira-kira berkaitan dengan pasar kaget yang kerap hadir setiap Minggu pagi di kawasan Gasibu, depan Gedung Sate. Note di bawah ini dimaksudkan sebagai pengantar agar setiap yang mengikuti diskusi punya gambaran dan arahan kira-kira apa yang hendak dibicarakan:
Di mana ada orang berkumpul, besar kemungkinan di sana akan muncul pasar. Ini adalah soal bagaimana memanfaatkan peluang untuk berdagang: keuntungan akan mungkin bisa diraih dari orang-orang yang berkumpul di suatu tempat, di suatu waktu; sekaligus juga menciptakan ruang dan peristiwa, untuk membuka peluang selanjutnya―
Ini adalah cerita tentang sebuah pasar. Pasar yang ingin diceritakan ini hanya terjadi pada waktu dan tempat tertentu, dan praktis berlangsung hanya dalam hitungan jam. Pasar kaget, demikian sebagian orang kemudian menyebutnya.
Pasar ini disebut pasar kaget karena pada awal terbentuknya keberadaan pasar ini memang tidak terduga: mengagetkan banyak orang. Boleh dibayangkan, sebuah tempat yang pada awalnya hanyalah jalan, taman, atau lapang tempat jogging yang tidak seberapa luas, tiba-tiba saja pada suatu ketika telah dipenuhi orang-orang dan para pedagang yang sibuk menjajakan barang dagangannya. Tempat yang biasanya mungkin lengang tak terlalu banyak orang, pada saat itu akan penuh sesak, begitu hiruk-pikuk, dan memacetkan jalanan di sekitarnya. Tentu saja, setelah orang-orang tahu di tempat itu pada waktu tertentu secara rutin akan berubah menjadi pasar, mereka memang sudah tidak merasa kaget lagi. Namun, tetap saja peristiwa itu dinamakan sebagai pasar kaget, biarpun sudah tidak mengagetkan.
Munculnya pasar kaget memang bukanlah fenomena istimewa, hanya kejadian biasa yang dengan mudah bisa dijumpai di berbagai tempat di banyak negeri. Di sejumlah tempat di Indonesia, adanya pasar kaget memang sudah lazim terjadi, dan beragam pula macamnya. Meskipun bukan fenomena istimewa, namun ada beberapa hal yang kiranya menarik dalam konteks pasar kaget Gasibu yang berlangsung di setiap hari Minggu: mulai dari awal kemunculannya, pedagang dan berbagai produk dagangan yang ditawarkannya, tempat yang dijadikan arena pasar kaget, sampai pada konsumen yang kemudian memanfaatkannya.
Awalnya adalah ketika ada sebagian masyarakat kota Bandung yang biasa melakukan olah raga ringan di hari minggu pagi: sekadar jalan santai, jogging, ataupun senam bersama di beberapa lapangan terbuka. Konon, sebelum hibuk seperti sekarang, awalnya hanya beberapa pedagang yang ada di sana. Hampir semuanya pedagang makanan dan minuman. Konsumen yang dituju tentu saja orang-orang yang melepas lelah sehabis olah raga, yang membutuhkan minuman dan mungkin sekaligus akan sarapan. Lambat laun, seiring dengan semakin banyak orang yang datang dan berkumpul di lapang terbuka itu, semakin banyak pula para pedagang yang mencoba mengadu peruntungan di sana. Produk yang ditawarkannya pun semakin variatif.
Semakin lama, pasar pun semakin membesar. Areal pasar yang tadinya hanya berada di seputaran Gasibu, kini sudah melebar hingga taman dan lapang Monumen Perjuangan Jawa Barat. Rupanya, kekagetan orang tehadap kemunculan pasar itu hanya sesaat. Selebihnya, yang muncul kemudian adalah rasa ingin tahu. Mereka yang datang ke lapang terbuka itu kemudian bukan saja yang berniat olah raga, namun juga yang memang berniat berbelanja atau sekadar jalan-jalan untuk melihat-lihat keramaian. Untuk sementara waktu, tempat itu pun berubah menjadi semacam tempat piknik keluarga.
Pasar kaget ini biasanya berlangsung dari pagi sampai tengah hari. Lapak-lapak dagangan biasanya akan dipersiapkan dari sejak subuh. Tidak jarang, di antara pedagang itu ada yang sudah mulai menata barang dagangannya dari mulai pukul 02.00 pagi. Lapak-lapak tempat dagang mereka itu biasanya tetap dari minggu ke minggu.
Para pedagang di pasar kaget ini bukan saja mereka yang memang berprofesi sebagai pedagang. Mereka yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh/karyawan, pegawai negeri, atau ibu rumah tangga, banyak pula yang mencoba memanfaatkan peluang dengan berdagang di pasar kaget ini. Motif dagang mereka pun beragam: ada yang sekadar “iseng-iseng berhadiah,” untuk mengisi waktu luang, ataupun memang karena mereka butuh untuk mencari tambahan penghasilan. Dengan kata lain, kemunculan pasar kaget ini sesungguhnya telah membuka peluang untuk menciptakan sektor kerja informal bagi masyarakat.
Para pedagang yang kesehariannya berdagang, sebenarnya banyak yang mempunyai gerai tetap di tempat lain (baik di pasar permanen maupun kaki lima). Pada kasus lain, tidak sedikit juga para pedagang di pasar kaget ini yang tidak memiliki gerai tetap sebagai tempat berjualan sehari-hari. Di luar hari pasar kaget, mereka biasanya menjual barang dagangannya dengan cara berkeliling, melakukan direct selling. Adanya pasar kaget ini tentu saja menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjajajakan barang dagangannya tanpa perlu berkeliling door to door. Menarik untuk diikuti bagaimana perjalanan para pedagang yang biasanya melakukan direct selling ini. Pada awalnya, pasar kaget itu pun bisa terbentuk karena hasil kreativitas para pedagang semacam ini. Mereka tetap bisa bertahan, meskipun produk dagangannya hampir bisa dipastikan produk lokal hasil home industry yang digerakkan oleh modal yang pas-pasan.
Sungguh mencengangkan jika melihat berbagai produk yang ditawarkan di pasar kaget ini. Sangat beragam: mulai dari makanan, pakaian, alat kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak, alat musik dan alat olah raga, sampai dengan aneka hiburan, nyaris lengkap tersedia. Uniknya, barang-barang yang ditawarkannya itu bukan hanya sebatas barang-barang kecil yang mudah dijinjing: kasur, furnitur, bahkan motor bisa ditemukan di situ. Berbagai makanan tradisional yang pada hari-hari biasa terbilang susah untuk bisa dinikmati, justru banyak dijual di pasar kaget ini.
Persaingan antarproduk (terutama di antara produk yang sejenis), memang menjadi suatu hal yang tak terelekkan. Di jenis produk pakaian, hal itu terlihat cukup jelas. Produk pakaian memang boleh disebut sebagai produk terbesar yang diperdagangkan: mulai dari pakaian dalam, aneka jenis baju dan celana, sandal dan sepatu, sampai dengan jaket dan setelan jas, dengan cukup mudah bisa ditemukan. Orang-orang pun punya banyak pilihan: ingin produk bermerk, produk import, produk lokal, ataupun cukup mencari pakaian bekas. Harganya saling bersaing, dan tidak ada bandrol khusus: bisa cingcay, tinggal melakukan tawar-menawar, harga pas, barang akan segera dibungkus untuk dibawa pulang.
Singkat kata, pasar kaget seperti yang muncul di Gasibu pada setiap minggu pagi ini pada akhirnya lebih menyerupai hypermarket atau mall yang memiliki konsep “one stop shopping”. Hukum supply and demand, tampaknya tidak terlalu menjadi perhitungan di sini. Siapa saja bisa datang ke tempat itu dan berjualan di situ. Tidak terlalu menjadi soal apakah produk yang ditawarkannya itu dibutuhkan atau tidak, akan laku atau tidak. Mereka hanya berusaha untuk memanfaatkan peluang yang ada: di mana ada orang berkumpul, di sana akan ada pertukaran, termasuk di dalamnya adalah jual-beli.
Tertarik untuk mencoba berdagang di pasar kaget ini? Anda tinggal mencari ruang kosong untuk menggelar barang dagangan, membayar sedikit retribusi, lalu tunggu dan nikmati. Barangkali, keuntungan akan datang menghampiri Anda bersama semilir udara pagi kota Bandung yang kini sudah semakin lekat terbalut polusi, dan tak sesejuk seperti dulu lagi.