Sunday, November 28, 2010

Apresiasi Lagu Favoritmu

"Mengapa kita diberi dua telinga dan dua tangan, karena berlatih atau bermain musik, porsinya mesti sama dengan mendengarkan musik."

Minggu, 28 November 2010

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Diecky K. Indrapradja di tengah forum diskusi KlabKlassik yang menyajikan acara apresiasi bersama. Ini program baru, intinya, masing-masing peserta diskusi yang hadir membawa serta satu lagu untuk didengarkan dan dibahas bersama. Yang hadir saat itu adalah Fathimah, Kristianus, Yunus, Tesla, Aldi dan Ali. Semua nama itu diluar saya dan Diecky sebagai host diskusi. Fathimah mendapat kesempatan pertama, pianis muda itu memperdengarkan karya Chopin berjudul Piano Concerto #1 gerakan pertama berjudul Allegro Maestoso. Fathimah menyukai karya itu, karena digubah oleh Chopin dalam usia sangat muda, yakni 17 atau 18 tahun. Karya berdurasi sembilan belas menit itu diperdengarkan sampai tuntas dan peserta kagum oleh kemahiran Chopin dalam mengomposisi di usia muda. 

Berikutnya adalah aldi, yang memperdengarkan karya Tchaikovsky, judulnya Waltz of the Flowers. Karya waltz yang cukup mahsyur ini, sangat kaya akan instrumen-instrumen orkestra, termasuk oboe hingga triangle. Diecky kemudian membandingkan, bahwa jelas Tchaikovsky sudah lebih matang dalam mencipta Waltz of The Flowers ketimbang kala Chopin saat mencipta Piano Concerto. Hal tersebut terlihat dari kekayaan instrumen yang digunakan Tchaikovsky. Lalu pasca Aldi, tiba giliran Kristianus yang menampilkan soundtrack film Pirates of Caribbean, yang berjudul Pirates of Caribbean, dimainkan oleh Epica, band rock bersama dengan orkestra. Apakah ini bukan klasik? Iya, memang bisa dibilang bukan, secara periodisasi. Tapi memang acara apresiasi bersama ini terbuka bagi semua jenis musik. Tesla mengritik bahwa musik Epica ini kurang detail. Tapi Ali membela bahwa untuk musik-musik ilustrasi film, tidak usah kedetailan yang diperhatikan, tapi yang menjadi titik berat adalah kesesuaian dengan adegan.

Acara mendengarkan bersama ditutup oleh karya Tesla yaitu Play Dead. Tesla memperdengarkan karya ciptaannya sendiri, yang merupakan interpretasi pada karya rupa yang akan dipamerkan 11 Desember nanti. Durasinya 9:31, cukup panjang dan melelahkan didengarkannya. Absurd dan "Nadanya mengkhianati saya," demikian komentar Ali. Maksudnya, sulit ditebak, dikira kesini taunya kesana. Lalu kami membahas soal interpretasi, bahwa kesesuaian antara karya rupa dan karya musik bisa dipertanyakan ternyata. Karena apa yang dinamakan "sesuai", itu bisa jadi karena direka-reka oleh penikmat. Saya ingat karya Marchel Duchamp yang menhadirkan kloset dalam kondisi apa-adanya-ia di sebuah galeri. Awalnya kloset itu ditolak karena dianggap bukan seni. Tapi kala dipajang, pengunjung jadi berpikir, "Iya juga ya, seni itu, jangan-jangan tergantung konteks ruang dan waktu. Dulu kita percaya bahwa ada benda yang indah pada dirinya sendiri, tapi ketika melihat kloset ini di galeri, mendadak kloset tempat buang air menjadi sebuah karya seni." 

Pesan akhir karya Tesla ini dirumuskan oleh Diecky. Bahwa interpretasi apapun adalah bebas dan diserahkan pada masing-masing penikmat. Yang dilarang adalah memaksakan keragaman interpretasi pada orang lain. Padahal sudah jelas, manusia berbeda satu sama lainnya, tak bisa dipaksakan sama dalam memahami sesuatu. Tertarik ikut acara mendengarkan bersama KlabKlassik ini? Setiap minggu keempat setiap bulannya ya, bawa lagu favoritmu dalam format mp3. Sampai jumpa bulan depan!
 

Google Twitter FaceBook

Klab Nulis: Mengenal Hermeneutika

Senin, 22 November 2010

Hari Senin itu, tutor utama Sophan Ajie urung hadir membimbing Klab Nulis. Begitupun co-tutornya yakni Puji. Klab Nulis jadinya didaulatkan pada saya, yang kebetulan hari itu bertugas untuk menenerangkan soal hermeneutika. Akibat hujan, yang hadir ternyata cuma berdua, yakni Martia dan Arlin. Yang lainnya entah kemana, yang pasti show must go on. Hermeneutika mesti tetap dijelaskan semata-mata karena itu amanah yang diemban. Yang menjadi tantangan adalah, bagaimana konsep hermeneutika dijelaskan sesederhana mungkin agar mudah dicerna lalu dipahami.

Hermeneutika, biarpun istilahnya terdengar rumit, sebetulnya bisa diartikan sesederhana "menafsir". Hermeneutika adalah kegiatan menafsir, yang diambil dari nama dewa Yunani, Hermes. Hermes adalah dewa yang tugasnya menyampaikan pesan dari Zeus ke dewa lain atau kepada manusia. Uniknya, menurut beberapa cerita, Hermes ini kerjanya berbohong, memelintir ucapan, dan menyampaikan ucapan yang tidak persis sama. Ini menarik ketika kegiatan menafsir adalah kegiatan yang hampir mustahil tidak sama dengan apa yang dikehendaki si pengucap. Apabila yang kita tafsir adalah teks buku sejarah, novel, atau kitab suci, selama kita tidak bertemu dengan si penulis buku dan berbincang langsung dengannya, maka yang kita pahami sesungguhnya adalah sebatas pemahaman cakrawala kita saja. Tidak akan persis sama dengan maksud si penyampai, dan tidak mungkin sama.

Para pemikir yang merumuskan pemikiran soal hermeneutika, banyak sekali. Namun untuk kelas menulis kemarin, disampaikan dua saja diantaranya yang paling penting. Yang pertama adalah Friedrich Schleiermacher, begini ilustrasinya:


Schleiermacher percaya, bahwa untuk memahami suatu teks seutuhnya, kita tidak cuma harus membaca teksnya, tapi juga memahami penulisnya. Selain penulisnya, juga kondisi jaman serta lingkungan dimana ia hidup. Misalnya, membaca buku Hegel misalnya, kita mesti tahu bahwa si pengarang ada di era Romantik, dimana nasionalisme sedang kental, dimana para filsuf dan seniman senang dengan segala hal yang berbau lebay. Dari situ kita bisa tahu kejiwaan si penulis seperti apa, dan memahami teks yang dia tulis dengan jelas dan tegas.

Satu lagi, namanya Hans George Gadamer, ia menolak konsepsi Schleiermacher habis-habisan. Harusnya, menurut Gadamer, seperti ini:


Pembaca atau penafsir, menafsirkan teks itu sesuai tempat dan jaman dimana si penafsir berada. Menurutnya, mustahil kita mengetahui kejiwaan si penulis teks, wong kita mengulang apa yang kita perbuat lima menit yang lalu saja mustahil diulangi! Yang benar adalah, memproduksi ulang itu sesuai dengan kebutuhan kekinian tempat penafsir itu hidup. Jika Schleiermacher bilang bahwa penafsiran teks itu sifatnya historis, maka Gadamer hendak berkata, penafsiran itu sifatnya produktif. 

Demikian kiranya ringkasan pemikiran hermeneutika yang diperkenalkan di Klab Nulis. Hal ini berguna bagi kegiatan menulis, karena penulis yang baik, konon mesti pembaca yang baik. Dan pembaca yang baik, juga penafsir yang baik. Baik yang seperti bagaimana? Ya itu terserah, entah baik menurut Schleiermacher atau Gadamer, keduanya asik-asik saja. Dan juga jangan dilupa, bahwa menulis sesungguhnya adalah jua kegiatan menafsir. Menafsir gagasan apa yang ada di kepala. Selamat menafsir, Klab Nulis!


Google Twitter FaceBook

Friday, November 26, 2010

Setahun Perjalanan Pulang Sahabat Paskalis Trikaritasanto

 
Untuk Paskalis Trikaritasanto (13 april 1974 — 26 november 2009). Ketulusanmu, dedikasimu dan komitmenmu pada klab nulis tobucil & klabs, menjadi inspirasi abadi bagi kami. Terima kasih untuk hidup dan kehadiranmu di hati kami.  Selamat kembali pulang ke kerajaanNya.

Tobucil, 26 November 2010 
Kami yang selalu mengenangmu
Tobucil & Klabs 

Google Twitter FaceBook

Sunday, November 21, 2010

Mengenal World Music

















World Music adalah idiom yang rajin sekali diangkat belakangan ini. Ada dua even, yaitu Bandung World Jazz Festival dan Monju (Monumen Perjuangan) West Java World Music Festival. Walaupun even pertama dibumbui kata "jazz", namun esensi yang ingin diraihnya kira-kira sama: Ada unsur etnis, lokal, dan non-Barat disana. KlabKlassik kemudian melihat fenomena penamaan World Music ini sebagai hal yang menarik sekaligus bermasalah. Untuk itu dibuka diskusi, minggu kemarin, dengan judul Mengenal World Music yang dibawakan oleh Diecky K. Indrapraja.

Diecky awal mulanya melemparkan pernyataan membingungkan: Apakah perbedaan musik Barat dan musik Timur? Seluruh peserta diskusi kesulitan menjawabnya, sebelum ditengahi oleh Diecky sendiri. Musik Barat, adalah musik yang diciptakan untuk musik sendiri. Mereka rasional, bisa dijelaskan, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akal. Sedang musik Timur, adalah musik yang seringkali ditujukan untuk segala hal di luar musik itu sendiri. Misal, musik angklung untuk persembahan pada Dewi Sri, sedang beberapa musik tertentu untuk minta hujan. Hal tersebut, bagi kacamata Barat adalah irasional, tapi juga eksotik. Timur tidak mengenal pengilmiahan musik sekaligus pertanggungjawaban secara akal. Bagi Timur, musik adalah bagian harmonisasi alam, yang artinya "Ya memang begitu adanya", tak usah dijelaskan.

Yang menarik kemudian, World Music adalah istilah yang merangkul musik-musik "irasional" tersebut, dalam satu kesatuan kata "world" itu. Permasalahannya kemudian, karena Barat yang memberi istilah World Music, hal tersebut dicurigai sebagai penyederhanaan, dan pemiskinan atas kekayaan kebudayaan masing-masing komunitas. Bayangkan jika sekitar tiga ratus etnis dan budaya di Indonesia memiliki musiknya masing-masing, lalu seluruhnya dirangkum secara sederhana dalam istilah "Musik Indonesia", barangkali keunikannya masing-masing menjadi tak tampak dan malah kehilangan jati dirinya. 

Setelah itu, Diecky memaparkan beberapa contoh musik, yang meminta peserta diskusi menebak: Ini komposer Barat atau Timur yang buat? Ada beberapa contoh seperti Krakatau, atau Discus, ataupula seorang komposer Jerman yang membuat karya piano dengan latar pengiring gamelan Bali. Ada pula sinden orang Amerika juga diiringi gamelan Bali. Pertemuan sore itu memperkaya telinga peserta, karena playlist milik Diecky banyak berisi lagu-lagu yang jarang ditemui di pasar-pasar umum. Pertemuan hari itu sampai pada kesimpulan yang mendalam: Orang Barat yang mempelajari musik Timur, biasanya ia telah lebih dahulu paham musiknya sendiri, baru eksplorasi ke luar. Sedangkan orang Timur kebanyakan, ia lebih dahulu belajar musik Barat, tanpa paham akar tradisinya sendiri. Efek negatifnya, mereka mudah terseret-seret kemanapun Barat pergi. Dan yang selamat adalah mereka: orang Timur yang belajar musik Barat, agar kemudian mengenal siapa dirinya. Dari mana ia berasal.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Cerpen dan Novel

Di sore itu, Klab Nulis di bawah arahan Sophan Ajie, tengah membahas hal yang cukup penting, yaitu outline tugas akhir karya tulis. Karya tulis yang dimaksud adalah, setiap menjelang penutupan Klab Nulis, peserta diwajibkan menulis karya dalam bentuk cerpen atau novel. Sebelum peserta menuliskan cerpen atau novel yang dimaksud, Sophan Ajie alias Ophan memaparkan secara sigkat perbedaan antara keduanya. Cerpen adalah cerita yang lebih singkat dan padat. Di dalamnya terdapat adegan demi adegan. Cerpen cenderung satu alur dan nyaris tidak ada percabangan. Sedang novel adalah kumpulan alur-alur, ceritanya pun lebih panjang. 

Khawatir peserta bingung, maka Ophan mencari satu contoh diantara para peserta. Dimintailah Ibu Meta untuk menceritakan ide cerita yang akan ia tulis nantinya. Ibu Meta hendak berkisah tentang kematian, begini kira-kira ceritanya: Alkisah ada pengunjung di galeri, sedang melihat-melihat pameran. Lalu pengunjung itu tertarik pada salah satu lukisan tentang orang yang menanti ajal. Setelah lama memandangi, pengunjung tersebut tersedot pada salah satu lukisan, dan bertemu dengan orang yang terdapat pada lukisan tersebut. Orang tersebut tengah kebingungan menghadapi penyakit yang menggerorogotinya. Ia membutuhkan sahabat. Ibu Meta kemudian belum tahu bagaimana kelanjutannya, tapi sosok orang di dalam lukisan itu di akhir kisah Ibu Meta, menghadapi kematiannya sendirian.

Mendengar garis besar cerita ini, Ophan memberi beberapa masukan. Misal, coba tengok beberapa adegan awal, ketika pengunjung berada di ruang galeri dan memandangi lukisan. Menurut Ophan, pemaparan tentang itu berpotensi panjang dan mempunyai alur tersendiri. Karena galeri dan memerhatikan lukisan adalah setting yang mesti dibangun secara kuat. Ophan malah khawatir Ibu Meta jadinya membuat novel. Lalu juga Ibu Meta disarankan berhati-hati dengan akhir cerita yang absurd. Maksudnya, jika Ibu Meta menyelipkan tema persahabatan, barangkali di tengah persahabatan itu mesti ada kesetiaan. Yang artinya, jangan sampai sosok dalam lukisan itu mati sendirian. 

Kelas menulis berlangsung hingga malam dalam suasana yang menyenangkan. Setelah membahas ide cerita Ibu Meta, Ophan melatih imajinasi para peserta. Salah satunya dengan cara masing-masing menyebutkan satu kata, lalu kaitkan. Dasarnya adalah "Elis makan baso", lalu disambung kata "CD", kata "filsafat", "hujan", "dingin", dan "SBY". Kaitkan, dan ternyata mengasyikan. Peserta diuji nalarnya untuk menjelajah sejauh yang ia bisa. Sayang sekali nalar, jika ia diciptakan tanpa dipergunakan. Kata Kierkegaard, "Nalar itu mesti digunakan sejauh mungkin, agar kita tahu keterbatasannya."

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Apa Lagu Favoritmu?

KlabKlassik hari Minggu, tanggal 28 November, akan diskusi dengan membawakan program baru. Program tersebut akan berisi apresiasi bersama tentang lagu-lagu favorit masing-masing peserta diskusi. Setelah apresiasi, akan diadakan pembahasan dan analisis tentang lagu favorit tersebut. Syaratnya, membawa satu buah lagu dalam format mp3 dan dimuat dalam flashdisk. Lagu yang diputar, bebas-bebas saja, boleh pop, rock, klasik, jazz, ataupun dangdut. Setelah diperdengarkan, peserta diskusi akan sama-sama membahas dan menganalisa beberapa aspek yang mungkin. Pukul 15.00 sampe 18.00, di Tobucil, Jl. Aceh. no. 56. Mari mendengar lebih banyak, karena telinga kita dua, sedang mulut cuma satu.


Google Twitter FaceBook

Sunday, November 14, 2010

'Prikitiw', 'Cihuy', dan 'Ckckck'

Kamis, 11 November 2010

Klab Nulis tengah bergairah. Di bawah bimbingan Puji yang sementara menggantikan Sophan Ajie kemarin, para peserta dibimbing untuk mengerjakan tugas akhir. Tugas akhir tersebut, sesuai tradisi Klab Nulis yang sudah berlangsung turun temurun, adalah menulis cerpen. Mengemban amanah Sophan, Puji mengemukakan tiga pilihan tema yang diberikan Sophan bagi pesertanya. Terdengar cukup unik, berikut tiga tema tersebut: 'Prikitiw', 'Cihuy' dan 'Ckckck'.

Apakah gerangan itu? Tidak ada apa-apa. Sophan hanya memberikan tiga tema tersebut tanpa penjelasan. Artinya, interpretasi diserahkan pada para peserta. Ini sangat membingungkan tapi juga sekaligus menantang. Karena nyaris setiap orang punya interpretasi 'lurus' tentang masing-masing tema tersebut. Misal, 'Prikitiw' berkaitan dengan genitnya pria dalam melihat wanita, lalu 'cihuy' identik dengan anak kecil yang kegirangan diajak main temannya, serta 'ckckck' identik dengan rasa tak percaya. Padahal, kata Puji, ketiganya bisa diputarbalikan sesuai konteks. Misalnya, bagi pembunuh psikopat, rasa setelah membunuh itu bisa jadi 'cihuy'. 'Ckckck' bisa jadi kekaguman melihat pemandangan alam. Atau, bahkan, keseluruhannya bisa tak terimplisitkan di tulisan, tapi merupakan ekspresi dari orang yang membaca cerpen tersebut. Misal, ketika membaca cerpen Ervan tentang kelucuan anak kecil, orang yang membaca jadi mengatakan, 'cihuy'.

Artinya, boleh dibilang, Sophan memberikan semacam garis batas putus-putus. Jika dilihat dari kejauhan, garis putus-putus itu tak terlihat dan hanya kelihatan seperti garis lurus tegas. Tapi dari dekat dan jernih, semuanya bisa bersinggungan, berlarian, hilang tak terlihat dan keluar di tempat tidak diduga. Selamat berjuang peserta Klab Nulis!

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Gasibu Minggu Pagi, Disfungsi atau Alih Fungsi?


Rabu, 10 November 2010

Madfal Rabu 10 November 2010 mendiskusikan soal Gasibu di hari Minggu pagi. Tampaknya warga Bandung sudah maklum, lapangan Gasibu tiap Minggu pagi berubah jadi pasar, makin membesar, dan menjadi area non-kendaraan bermotor. Jika Anda punya kepentingan lain di waktu tersebut, sebaiknya Anda menghindari area Gasibu, demikian salah satu poin diskusi. Dengan kata lain, Gasibu Minggu pagi telah menjadi kepentingan tersendiri.

Lapangan tepat di seberang Gedung Sate, pusat pemerintahan Jawa Barat tersebut, bagian tengahnya dilengkapi dengan lintasan lari. Dulu, Gasibu Minggu pagi memang identik dengan kegiatan jogging. Para peserta diskusi kemudian berbagi ingatan tentang fungsi yang pelan-pelan berubah. Mulai dari para pedagang makanan-minuman yang hadir untuk memenuhi kebutuhan para pengunjung Gasibu hingga akhirnya makin lebih ramai kegiatan perdagangannya daripada kegiatan olahraganya.

Seturut paparan Moh. Syafari Firdaus, hal menarik dari membesarnya pasar Gasibu adalah para pelopornya sebagian merupakan pedagang asongan (direct selling) yang biasanya tidak punya gerai tetap, atau orang-orang yang butuh penghasilan tambahan. Dengan demikian ini merupakan gerakan informal. Mengamati keadaan terkini, selain soal makin beragamnya barang yang diperdagangkan, adalah soal kemungkinan berlangsungnya logika khas pasar: siapa yang punya modal akan menang. Ada kemungkinan para pedagang dengan modal kapital kuat makin menguasai banyak lahan di sana.

Lebih jauh, saat diskusi menyoroti ragamnya dagangan di sana, mulai dari berbagai makanan—jadi maupun mentah, barang kebutuhan sehari-hari, hingga kendaraan bermotor, gerai waralaba pasar swalayan, juga pakaian bekas dan sisa ekspor, kemudian terungkap satu hal menarik tentang pakaian bekas atau sisa ekspor ini. Ada kemungkinan, pembeli berminat bukan karena harga yang murah, tapi karena ini peluang untuk mendapatkan merk tertentu yang agak langka. Dengan demikian ada kemungkinan ini bukan sekedar pasar bagi kelas menengah-bawah, melainkan sudah menjadi gaya tersendiri bagi kelas menengah-atas. Jika dugaan ini benar, berdasar logika pasar tadi, maka segmen kelas menengah-bawah sedang sedikit demi sedikit, nyaris diam-diam, disingkirkan oleh segmen kelas lebih atas, yang, seperti biasa, menjanjikan keuntungan lebih besar. Selain keterpinggiran kelas menengah-bawah yang sudah kadung dianggap lazim, pergeseran ini juga melanggengkan pemilahan kelas.   

Bagi Dien Fakhri Iqbal, pandangan pesimis ini bisa dilanjutkan: bahwa kesan pemerintah membiarkan pertumbuhan organik pasar Gasibu, alih-alih menunjukan lemahnya kontrol, justru merupakan strategi pengawasan.

Hal lain adalah soal pertemuan antarmanusia. Bahwa ini bukan semata pasar tempat orang mencari barang kebutuhannya, perputaran barang, dan dinamika harga, melainkan tempat di mana orang bertemu orang. Ketiadaan patokan harga yang ketat meleluasakan proses tawar-menawar yang mengandalkan komunikasi antarmanusia. Penjual menghadapi pembeli sebagai manusia, demikian juga sebaliknya. Dihubungkan dengan kemungkinan “pemilahan kelas” di atas, sempat muncul guyonan tentang “pemindai status sosial”. Jangan-jangan, pembeli mulai membuka harga bukan karena perhitungan selisih harga bagi keuntungan pribadinya, melainkan berdasarkan asumsinya mengenai status sosial si calon pembeli. Dia tidak akan mengambil keuntungan terlalu banyak dari pembeli yang “manusiawi”: yang memperlakukan dia sebagai manusia dan mengajaknya berbicara. Sebaliknya, pada pembeli yang berorientasi pada barang pemenuhan kebutuhan atau apalagi yang berorientasi pada citra yang terbangun dari merk, maka dia akan memperlakukannya dengan kurang “manusiawi”: pasang harga yang menguntungkan.

Amrizal Salayan mencoba mengatasi kemungkinan-kemungkinan di atas dengan refleksi tentang “pergerakan vertikal dan horisontal”. Baginya, pusat-pusat perbelanjaan yang aturan mainnya kaku dan megah merupakan gerakan vertikal. Ini inisiatif dari atas dengan segmen terbidik yang tegas. Pertumbuhan organik pasar Gasibu baginya merupakan contoh pergerakan horisontal yang cair dan tanpa ketegasan bidikan segmen. Ini inisiatif dari bawah yang bersifat macam jejaring, melebar-mendatar, menyapa sesama, manusiawi dan hangat. Pergerakan horisontal tengah menggembosi pergerakan vertikal. Maka baginya, bukan disfungsi pun bukan alih-fungsi, melainkan “dwi-fungsi”.  

Saya kira diskusi ini baiknya diteruskan dengan amatan lebih lanjut menyangkut pilahan “pasar tradisional” dan “pasar modern”, dan tinjauan mengenai ruang publik—misalnya amatan atas dampak dari “Dago Car Free Day” yang juga berlangsung hari Minggu pagi di Bandung. Saya sendiri akan melemparkan masalah “Jakarta Paska Suharto” berdasarkan hasil bacaan saya atas tesis Abidin Kusno dalam buku “Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto” pada Rabu 17 November 2010. Diskusi ini masih akan melanjutkan bahasan atas isu komunalitas, pemilahan kelas, dan ihwal ruang publik. Semoga Bach memberkati amatan kita agar makin tajam dan bernas.

Heru Hikayat
Google Twitter FaceBook

Pasar Kaget: One Stop Shopping

Pengantar dari Tobucil: Sebelum diskusi Madrasah Falsafah Rabu kemarin tanggal 10 November, Moh. Syafari Firdaus melampirkan note di Facebook yang ia tautkan pada beberapa orang yang diasumsikannya akan mengikuti diskusi. Diskusi itu sendiri membahas Gasibu di Minggu Pagi, yakni kira-kira berkaitan dengan pasar kaget yang kerap hadir setiap Minggu pagi di kawasan Gasibu, depan Gedung Sate. Note di bawah ini dimaksudkan sebagai pengantar agar setiap yang mengikuti diskusi punya gambaran dan arahan kira-kira apa yang hendak dibicarakan:


Di mana ada orang berkumpul, besar kemungkinan di sana akan muncul pasar. Ini adalah soal bagaimana memanfaatkan peluang untuk berdagang: keuntungan akan mungkin bisa diraih dari orang-orang yang berkumpul di suatu tempat, di suatu waktu; sekaligus juga menciptakan ruang dan peristiwa, untuk membuka peluang selanjutnya―

Ini adalah cerita tentang sebuah pasar. Pasar yang ingin diceritakan ini hanya terjadi pada waktu dan tempat tertentu, dan praktis berlangsung hanya dalam hitungan jam. Pasar kaget, demikian sebagian orang kemudian menyebutnya.

Pasar ini disebut pasar kaget karena pada awal terbentuknya keberadaan pasar ini memang tidak terduga: mengagetkan banyak orang. Boleh dibayangkan, sebuah tempat yang pada awalnya hanyalah jalan, taman, atau lapang tempat jogging yang tidak seberapa luas, tiba-tiba saja pada suatu ketika telah dipenuhi orang-orang dan para pedagang yang sibuk menjajakan barang dagangannya. Tempat yang biasanya mungkin lengang tak terlalu banyak orang, pada saat itu akan penuh sesak, begitu hiruk-pikuk, dan memacetkan jalanan di sekitarnya. Tentu saja, setelah orang-orang tahu di tempat itu pada waktu tertentu secara rutin akan berubah menjadi pasar, mereka memang sudah tidak merasa kaget lagi. Namun, tetap saja peristiwa itu dinamakan sebagai pasar kaget, biarpun sudah tidak mengagetkan.  

Munculnya pasar kaget memang bukanlah fenomena istimewa, hanya kejadian biasa yang dengan mudah bisa dijumpai di berbagai tempat di banyak negeri. Di sejumlah tempat di Indonesia, adanya pasar kaget memang sudah lazim terjadi, dan beragam pula macamnya. Meskipun bukan fenomena istimewa, namun ada beberapa hal yang kiranya menarik dalam konteks pasar kaget Gasibu yang berlangsung di setiap hari Minggu: mulai dari awal kemunculannya, pedagang dan berbagai produk dagangan yang ditawarkannya, tempat yang dijadikan arena pasar kaget, sampai pada konsumen yang kemudian memanfaatkannya. 

Awalnya adalah ketika ada sebagian masyarakat kota Bandung yang biasa melakukan olah raga ringan di hari minggu pagi: sekadar jalan santai, jogging, ataupun senam bersama di beberapa lapangan terbuka. Konon, sebelum hibuk seperti sekarang, awalnya hanya beberapa pedagang yang ada di sana. Hampir semuanya pedagang makanan dan minuman. Konsumen yang dituju tentu saja orang-orang yang melepas lelah sehabis olah raga, yang membutuhkan minuman dan mungkin sekaligus akan sarapan. Lambat laun, seiring dengan semakin banyak orang yang datang dan berkumpul di lapang terbuka itu, semakin banyak pula para pedagang yang mencoba mengadu peruntungan di sana. Produk yang ditawarkannya pun semakin variatif.

Semakin lama, pasar pun semakin membesar. Areal pasar yang tadinya hanya berada di seputaran Gasibu, kini sudah melebar hingga taman dan lapang Monumen Perjuangan Jawa Barat. Rupanya, kekagetan orang tehadap kemunculan pasar itu hanya sesaat. Selebihnya, yang muncul kemudian adalah rasa ingin tahu. Mereka yang datang ke lapang terbuka itu kemudian bukan saja yang berniat olah raga, namun juga yang memang berniat berbelanja atau sekadar jalan-jalan untuk melihat-lihat keramaian. Untuk sementara waktu, tempat itu pun berubah menjadi semacam tempat piknik keluarga.

Pasar kaget ini biasanya berlangsung dari pagi sampai tengah hari. Lapak-lapak dagangan biasanya akan dipersiapkan dari sejak subuh. Tidak jarang, di antara pedagang itu ada yang sudah mulai menata barang dagangannya dari mulai pukul 02.00 pagi. Lapak-lapak tempat dagang mereka itu biasanya tetap dari minggu ke minggu.

Para pedagang di pasar kaget ini bukan saja mereka yang memang berprofesi sebagai pedagang. Mereka yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh/karyawan, pegawai negeri, atau ibu rumah tangga, banyak pula yang mencoba memanfaatkan peluang dengan berdagang di pasar kaget ini. Motif dagang mereka pun beragam: ada yang sekadar “iseng-iseng berhadiah,” untuk mengisi waktu luang, ataupun memang karena mereka butuh untuk mencari tambahan penghasilan. Dengan kata lain, kemunculan pasar kaget ini sesungguhnya telah membuka peluang untuk menciptakan sektor kerja informal bagi masyarakat.

Para pedagang yang kesehariannya berdagang, sebenarnya banyak yang mempunyai gerai tetap di tempat lain (baik di pasar permanen maupun kaki lima). Pada kasus lain, tidak sedikit juga para pedagang di pasar kaget ini yang tidak memiliki gerai tetap sebagai tempat berjualan sehari-hari. Di luar hari pasar kaget, mereka biasanya menjual barang dagangannya dengan cara berkeliling, melakukan direct selling. Adanya pasar kaget ini tentu saja menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjajajakan barang dagangannya tanpa perlu berkeliling door to door. Menarik untuk diikuti bagaimana perjalanan para pedagang yang biasanya melakukan direct selling ini. Pada awalnya, pasar kaget itu pun bisa terbentuk karena hasil kreativitas para pedagang semacam ini. Mereka tetap bisa bertahan, meskipun produk dagangannya hampir bisa dipastikan produk lokal hasil home industry yang digerakkan oleh modal yang pas-pasan.

Sungguh mencengangkan jika melihat berbagai produk yang ditawarkan di pasar kaget ini. Sangat beragam: mulai dari makanan, pakaian, alat kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak, alat musik dan alat olah raga, sampai dengan aneka hiburan, nyaris lengkap tersedia. Uniknya, barang-barang yang ditawarkannya itu bukan hanya sebatas barang-barang kecil yang mudah dijinjing: kasur, furnitur, bahkan motor bisa ditemukan di situ. Berbagai makanan tradisional yang pada hari-hari biasa terbilang susah untuk bisa dinikmati, justru banyak dijual di pasar kaget ini.

Persaingan antarproduk (terutama di antara produk yang sejenis), memang menjadi suatu hal yang tak terelekkan. Di jenis produk pakaian, hal itu terlihat cukup jelas. Produk pakaian memang boleh disebut sebagai produk terbesar yang diperdagangkan: mulai dari pakaian dalam, aneka jenis baju dan celana, sandal dan sepatu, sampai dengan jaket dan setelan jas, dengan cukup mudah bisa ditemukan. Orang-orang pun punya banyak pilihan: ingin produk bermerk, produk import, produk lokal, ataupun cukup mencari pakaian bekas. Harganya saling bersaing, dan tidak ada bandrol khusus: bisa cingcay, tinggal melakukan tawar-menawar, harga pas, barang akan segera dibungkus untuk dibawa pulang.

Singkat kata, pasar kaget seperti yang muncul di Gasibu pada setiap minggu pagi ini pada akhirnya lebih menyerupai hypermarket atau mall yang memiliki konsep “one stop shopping”. Hukum supply and demand, tampaknya tidak terlalu menjadi perhitungan di sini. Siapa saja bisa datang ke tempat itu dan berjualan di situ. Tidak terlalu menjadi soal apakah produk yang ditawarkannya itu dibutuhkan atau tidak, akan laku atau tidak. Mereka hanya berusaha untuk memanfaatkan peluang yang ada: di mana ada orang berkumpul, di sana akan ada pertukaran, termasuk di dalamnya adalah jual-beli.

Tertarik untuk mencoba berdagang di pasar kaget ini? Anda tinggal mencari ruang kosong untuk menggelar barang dagangan, membayar sedikit retribusi, lalu tunggu dan nikmati. Barangkali, keuntungan akan datang menghampiri Anda bersama semilir udara pagi kota Bandung yang kini sudah semakin lekat terbalut polusi, dan tak sesejuk seperti dulu lagi.
Google Twitter FaceBook

Resital Trumpet dan Piano


Sejak hari ini, Tobucil menjadi tempat penjualan tiket konser musik klasik dari dua orang pemain yang sudah malang melintang di permusikan klasik nasional maupun mancanegara. Mereka adalah Iswargia R. Sudarno dan Eric Awuy. Keduanya akan menampilkan duet antara piano dan trumpet. Konser itu sendiri akan berlansung hari Rabu, tanggal 24 November 2010 di Auditorium CCF, Jl. Purnawaman no. 32. Sebelum tampil di Bandung, keduanya terlebih dahulu manggung di Erasmus Huis Jakarta pada tanggal 19 November dan Auditorium ISI pada tanggal 22 November. Tertarik untuk menyaksikannya? Silakan datang ke Tobucil dan dapatkan tiketnya. Informasi tentang profil pemain dan program yang akan ditampilkan, klik saja disini.

Google Twitter FaceBook

Sunday, November 7, 2010

Sastra dan Agama


Kamis, 4 November 2010

Kedatangan saya agak telat untuk meliput Klab Nulis hari itu. Namun saya agak keheranan ketika duduk di tengah-tengah mereka, ternyata belum ada satupun tulisan yang mereka bubuhkan di atas masing-masing kertasnya. Ternyata, Klab Nulis hari itu memang tiada acara menulis, melainkan diskusi. Tutor Klab Nulis, Sophan Ajie, sedang berhalangan dan digantikan oleh kawannya, Puji. Mereka membahas topik yang amat serius dan menarik, yakni sastra dan agama.

Puji rupanya memulai diskusi dengan kutipan Sartre, bahwa suatu saat nanti, gereja-gereja akan kosong, dan gedung teater akan penuh. Karena sastra akan menggantikan agama. Ungkapan ini sangat menggelitik nalar dan membangkitkan gairah diskusi, ada yang pro dan ada yang kontra. Namun Puji meredakan sejenak, dengan bertanya: apakah perbedaan dan persamaan antara sastra dan agama? Martina, salah seorang peserta menjawab: sama-sama mencerahkan, tapi sastra dinamis, agama statis. Yang lain menjawab tiada bedanya, malah agama adalah karya sastra jua. 

Yunita, peserta lainnya, bertanya kritis: apakah ada, sastra yang salah itu? Yang misal, bertentangan dengan agama. Oh, banyak, demikian dijawab Puji. Dan yang biasanya laku, justru yang seperti itu, yang out of the box. Tapi salah-benar kemudian, adalah ditentukan oleh rezim yang berkuasa ketika sastra itu dibuat. Di Indonesia misalnya, ketika masa orde baru, maka yang dibredel adalah sastra-sastra yang berkaitan dengan komunisme. Maka itu sastra tidak ada istilah "benar-salah", karena semuanya bergantung kekuasaan. Atau mengutip Nietzsche, "Kebenaran adalah kekuasaan." Orang yang memenangkan ronde main poker, ia bisa menentukan langkah pertama di putaran berikutnya.

Di akhir diskusi, muncul kesadaran bahwa agama sesungguhnya punya nilai dinamis jua. Itu muncul dari kesusateraan agama yang multitafsir. Agama selalu punya nilai yang melulu relevan untuk diinterpretasi setiap jamannya, termasuk oleh sastra. Agama adalah salah satu dari empat pilar peradaban utama, selain dari filsafat, sains dan seni (baca: sastra). Keempatnya menopang satu sama lain, maka itu hipotesis Sartre tentang sastra kelak menggantikan agama, amatlah pincang. Karena ketika agama hilang dari muka bumi, peradaban menjadi goyah karena kehilangan satu pilar penyangganya.

Google Twitter FaceBook

Digital Signature untuk Para Pengguna Internet


Rabu, 3 November 2010

Madrasah Falsafah sore itu ditandai dengan absennya sang punggawa, Rosihan Fahmi. Meski demikian, acara tetap dimulai dengan Hafizman Cahyo sebagai pemasalah. Sebagai orang dengan latar belakang teknologi informasi, ia mengemukakan masalahnya dimulai dari kejadian yang menimpa istrinya berkaitan dengan online shopping. Istrinya kena tipu hingga satu juta rupiah oleh penjual di lapak internet. Mas Cahyo yang tidak menerima penipuan ini, kemudian berusaha mencari sang penjual dengan berbagai cara.

Atas kejadian tersebut, Mas Cahyo mengusulkan bahwa semua pengguna internet mesti mempunyai digital signature. Apakah gerangan? Semacam KTP dunia maya yang didata di pemerintah, agar tidak sulit kemudian mencari data pengguna manapun, termasuk jika ada penipuan. Ini ide brilian yang sempat mencuat ke permukaan oleh pemerintah, namun sayang Depkominfo malah menjual ke pihak ketiga alias pihak swasta. Topik penipuan online shopping dan digital signature ini dilemparkan ke forum untuk dibahas.

Komentar pertama datang dari Myra. Menurutnya, ia belum pernah kena tipu di online shopping, karena ia selalu berhati-hati dalam memilih penjual, yang mana ia dapatkan dari rekomendasi kawan-kawannya di dunia maya. Dalam mekanisme dunia maya, menurut Myra, terdapat seleksi alam yang memungkinkan penjual yang pernah menipu, barang dagangannya sulit laku. Tapi Mas Cahyo mementahkannya dengan mudah: bagaimana jika penjual yang sudah di blacklist, membuat account baru dengan nama lain? Atau, mekanisme seperti itu, berarti harus ada yang kena tipu pertama kali dong?

Berbagai tanggapan pun masuk dari peserta lain. Misal, Diecky mengatakan bahwa pemerintah kita masih sulit mengelola dunia maya, karena dunia nyata pun soal identitas belum jelas. Buktinya, Diecky punya KTP hingga tiga buah. Lalu Iqbal menanggapi, bahwa jika negara intervensi hingga ke detail dunia maya, itu sudah kurang ajar juga. Atau Pak Amrizal memberikan tanggapan dengan menceritakan pengalamannya di kampus, tentang pencurian soal. Heru Hikayat tidak tinggal diam, ia berbagi soal penjualan lukisan di dunia maya, yang katanya minim penipuan karena mengandalkan reputasi.

Di akhir diskusi menarik tersebut, Mas Cahyo mengatakan bahwa jangan-jangan permintaannya soal digital signature adalah murni utopis. Ia menyatakan nyaris mustahil setiap orang disadarkan memiliki KTP dunia maya, ketika dunia maya justru menjadi pelampiasan identitas yang menyenangkan. Tapi ada satu poin bagus yang saya tangkap dari Mas Cahyo kemarin: kenikmatan pengejaran penjahat di dunia maya, adalah ketika dunia maya dan dunia nyata bersentuhan meski sedikit. Itu menyenangkan.

Google Twitter FaceBook

Saturday, November 6, 2010

Pengiriman Pertama Bantuan Posko Tobucil ke Korban Letusan Merapi


 Bantuan dari warga Bandung

Sejak di buka, tanggal 27 Oktober 2010, posko bantuan bencana Mentawai dan Merapi, Tobucil & Klabs, mendapatkan sumbangan bantuan dari warga Bandung dan sekitarnya, berupa baju dewasa, baju hangat, selimut, tas sepatu, makanan bayi, susu, peralatan bayi, makanan, obat-obatan, peralatan mandi.

Selain itu, teman-teman crafter dari Bandung, Bogor dan Jakarta melalui kegiatan merajut bersama untuk kemanusiaan dan  Craft for Humanity, mengumpulan bantuannya berupa barang-barang handmade yang dibuat khusus untuk korban bencana, berupa selendang /syal penghangat, kupluk, selimut, sepatu bayi, amigurumi, notebook.

Sebanyak 15 karung (@ karung berukuran 60kg) dikirimkan ke Yogjakarta untuk disalurkan kepada korban yang membutuhkannya. Bantuan yang terkumpul dari posko Tobucil & Klabs ini dikoordinasikan dengan Posko Studio Biru di Jl. Suryodiningratan No. 39 Yogjakarta yang dikelola oleh Titarubi dan teman-teman (terima kasih untuk Om Ari).

Untuk itu, tobucil & klabs mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada warga Bandung yang sudah menyerahkan bantuannya yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu, crafter & knitter di Bandung, Jakarta dan Bogor. Leuwi Gajah Paket yang sudah memberikan jasa pengiriman bantuan secara gratis (thanks to Danu!).

Dari Craft for Humanity

Terima kasih kepada Leuwi Gajah Paket yang mengantarkan bantuan ini sampai ke Yogjakarta

Update: Bantuan sebanyak 15 karung, telah diterima dengan baik oleh Posko Studio Biru pada tanggal 7 November 2010 dan akan segera disalurkan langsung kepada korban yang membutuhkan. 

Google Twitter FaceBook

Merajut Kehangatan Untuk Korban Bencana

Yuk, merajut bersama untuk kemanusiaan!
Ada yang berbeda di hari Minggu, 31 Oktober 2010. Tobucil tampak lebih meriah dan ramai dari minggu biasanya. Sejak pk.11 siang, teman-teman yang ingin merajut bersama untuk membantu korban bencana Mentawai dan Merapi, berdatangan. Esti, dosen Kriya Tekstil FSRD ITB, malah datang mendahului yang lain. "Aku mau pilih-pilih benang dulu sambil menunggu yang lain," kehadirannya memang sengaja untuk merajut bersama. Tak berapa lama kemudian, satu persatu teman-teman dari klab merajut tobucil berdatangan. Dian Rinjani dan Palupi Kinkin yang selama ini mengajar di kelas crochet dan knitting, sengaja meliburkan kelas di hari itu dan mengajak murid-murid yang datang dan merajut bersama. Setiap yang datang, disediakan benang gratis dan bisa langsung bergabung untuk merajut bersama.

Kakak dan adik
Tak lama setelah kegiatan merajut bersama ini dimulai, datang dua orang kakak adik:  Aci dan adik laki-lakinya datang dari Margahayu untuk bergabung dan merajut bersama. "Mba, tapinya aku belum bisa yubiami, bisa minta diajarin dulu ga? adikku juga mau belajar."  Otomatis, Rudi dari The Men Who Knit didaulat untuk mengajari Aci dan adiknya., tak berapa lama kemudian adik kakak itu sudah asyik beryubiami ria. " Jangan lupa ya, panjangnya dua meter biar bisa sama panjangnya," Palupi Kinkin mengingatkan para yubiamiers yang hadir.
Belanja dulu, mumpung di tobucil.. :D
Segera meja di garasi tobucil dipenuhi benang, rajutan, botol minuman ringan, cemilan, dan suasana canda tawa pun mengiringi acara merajut bersama untuk kemanusiaan ini. Dari halaman depan terdengar suara mobil berhenti dan keriuhan orang-orang menghampiri teman-teman. Ternyata rombongan milis mari_merajut@yahoogroups.com yang sedang melakukan wisata benang ke Bandung. Ari Asih, tante Yeti dan tante Yeni dari Yen's rajut,  terlihat hadir diantara kerumunan itu. Sebelas orang  di tambah tante Yeni dan dua orang pegawainya menambah kemeriahan suasana. " Kita mau ke dalam dulu ya, ingin belanja benang dulu," kata Ari Asih yang menjadi kepala rombongan wisata benang. Sementara tante Yeni dan dua pegawainya bergabung untuk beryubiami bersama. Beberapa pak benang dari Yen's rajut sumbangan tante Yeni, menambah pilihan benang yang ada.
Adi Marsiela dan rajutannya
 Setelah merajut tanpa henti selama kurang lebih 3 jam, Adi Marsiela, jurnalis dan juga aktivis The Men Who Knit ini, berhasil menyelesaikan sebuah syal sepanjang satu meter. "Udah ya, saya harus ngetik dulu, biasa lah deadline kerjaan," Adi pun berlalu dari tobucil. Adi pergi, datang teman-teman klab klassik. "Mau latihan ya?" Mas Yunus salah satu penggiat klab klassik, mengiyakan. Menjelang sore, petikan gitar yang terasa malu-malu, mengiringi teman-teman yang masih asyik merajut.  Sementara rombongan wisata benang, berpamitan pulang, karena mereka harus melanjutkan perjalanan kembali ke Bogor dan Jakarta. "Kita mau mampir dulu nyari oleh-oleh nih.." disela-sela cipika cipiki setelah foto bersama teman-teman tobucil usai.

Rombongan wisata benang
 Menjelang magrib, satu persatu undur diri. Tobucil pun kembali lengang. Saya, Palupi Kinkin, Dian Rinjani,  Kenti, Wiku Baskoro, Errie Nugraha, Rudi, memandangi hasil rajutan teman-teman semua. Ada tiga puluhan syal  dan lima belasan kupluk, jumlah ini akan bertambah karena teman-teman perajut membawa sebagian benang-benang yang tersisa untuk dirajut di rumah masing-masing.

 "Semoga kehangatan rajutan teman-teman semua bisa mengahangatkan hari-hari dingin di pengungsian."

Foto-foto bisa di lihat di album foto tobucil

(vitarlenology)
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin