Madrasah Falsafah merupakan salah satu klab paling konsisten di Tobucil. Jika kau datang hari Rabu sore, sekitar jam lima atau enam, pasti menemukan mereka tengah kumpul-kumpul di beranda. Konsistensi Madfal ini, menurut Rosihan Fahmi, sang koordinator, bukannya tanpa kekhawatiran. Ada semacam hal yang disayangkan, yakni ketiadaan dokumentasi yang mumpuni. Padahal, apa yang dibicarakan di Madfal, menurut Ami, meski terkadang spontan, tapi cukup berbobot. Dan jika disistematisasikan dengan baik, maka akan mampu menghasilkan semacam dokumen atau artikel yang bermanfaat bagi orang lain.
Sebetulnya telah hadir upaya semacam itu, yang digagas sekitar akhir November 2010. Yakni mengepung satu tema, lewat berbagai sudut pandang berdasarkan "keahliannya" masing-masing. Ujicoba pertama bertemakan kemiskinan. Pertemuan pertama bertemakan kemiskinan dalam sepakbola, pertemuan kedua bertemakan kemiskinan di daerah-daerah terpencil di Indonesia, dan pertemuan ketiga mempermasalahkan kemiskinan lintas generasi. Semuanya dikawal oleh pemakalah yang berbeda, tergantung latar belakang apa yang dikuasainya. Dengan cara seperti ini, menurut Ami, diharapkan masing-masing pemakalah kemudian bisa menuliskan apa yang sudah dibawakannya, termasuk jalannya diskusi. Jika memang topik-topik tersebut dikuasainya, maka pastilah tak seberapa sulit menuliskannya secara lebih sistematis, ketimbang "orang luar" yang menyimpulkan.
Hal lain yang diharapkan Ami terjadi di tahun 2011, adalah regenerasi. Hal ini sebetulnya sudah cukup berjalan, dari kenyataan bahwa Madfal, ada atau tiada Ami, tetap konsisten berkumpul. Bahkan beberapa tema sudah sanggup dimoderasi oleh peserta-peserta lain yang non-Ami. Hal ini sepertinya menjadi kekhawatiran Ami yang cukup beralasan, mengingat dalam sekitar satu bulan terakhir, Ami urung hadir oleh sebab kesibukannya dan urusan keluarga. Demikian apa yang diharapkan oleh Ami dan Madfal-nya, semoga tercapai di tahun 2011. Hidup ini absurd dan tak bertujuan barangkali, merunut kacamata para eksistensialis, tapi kita wajib merumuskan tujuan kita sendiri. Meski selalu direvisi, meski selalu disangkal sendiri.
Bookmark this post: |

0 komentar:
Post a Comment