Sunday, February 27, 2011

Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”


Jakarta Conservatory of Music,
KlabKlassik, Tobucil, Maestro 92,5 FM
Mempersembahkan

Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”
Glenn Bagus - Iswargia R. Sudarno
Sabtu, 12 Maret 2011 pk. 19.30
Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32
Tiket Rp. 30.000
Tersedia di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548) (Mulai hari Rabu, tanggal 2 Maret 2011)
atau hub. Syarif (0817-212-404)

Repertoar:

Sonata for Piano Four-Hand in C Major, KV 521 – Wolfgang Amadeus Mozart
1. Allegro
2. Andante
3. Allegretto

Six Morceaux, Op. 11 – Sergei Rachmaninoff
1.Barcarolle
2.Scherzo
3.Theme Russe
4.Valse
5.Romance
6.Slava

-intermission-

Rapsodie espagnole – Maurice Ravel
1.Prélude à la nuit: très modéré
2.Malagueña: assez vif
3.Habanera: assez lent et d'un rythme las
4. Feria: assez animé.

Trois mouvements de Pétrouchka – Igor Stravinsky
1. Dance Russe
2. Chez Pétrouchka
3. Le semaine grasse

Glenn Bagus memulai studi piano pada usia enam tahun, Pada usia sebelas tahun ia terpilih menjadi anggota Junior Original Concert (JOC), sebuah wadah pelatihan musik dimana para anggotanya di didik secara intensif untuk mengarang komposisi musik dan menampilkannya pada ajang nasional dan internasional. Selain itu Glenn juga aktif mengikuti berbagai ajang Kompetisi Piano, dimana ia berhasil meraih piala Grand Prize pada Yamaha Piano Competition pada tahun 1991. Glenn kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi musiknya di Berklee College Of Music, USA dan meraih gelar Bachelor Of Music. Ia juga kemudian terpilih menjadi satu-satunya pianist yang bukan berkewarganegaraan Amerika untukbergabung dengan Disney All-American College Orchestra; dimana mereka mengadakan konser secara rutin di Epcot Center, Disenyland, Florida, USA; dan bekerjasama dengan artis-artis dunia seperti Peabo Bryson, Shirley Jones, Kenny Werner dan Betty Buckley. Setelah kembali ke Indonesia dan berkarir dalam bidang musik sambil menimba ilmu di bidang Busines/Management, Glenn terpilih untuk kembali melanjutkan studi musiknya di University Of Miami, USA atas beasiswa dari Fulbright Foundation. Glenn berhasil mendapatkan gelar Master Of Music dengan predikat Magna Cum Laude.

Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Sebagai pianis ia telah tampil di empat benua, dan menjadi solis bersama beberapa orkestra di tanah air seperti Orkes Simfoni Nusantara, National Youth Orchestra Indonesia, Jakarta Chamber Orchestra, dan Orkes Simfoni Institut Seni Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis & pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis- pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Ia juga kerap memberikan master class di beberapa kota besar di Indonesia dan juga di Asia International Piano Academy and Festival di Korea. Hingga kini murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.
Google Twitter FaceBook

KlabKlassik Edisi Playlist #3: Dari Deathmetal hingga Kerispatih

Minggu, 27 Februari 2011

KlabKlassik minggu keempat selalu diisi dengan edisi playlist. Yaitu berkumpul dan mengapresiasi musik sama-sama, atau bisa juga dinamakan active listening. Musik yang disetel itu sendiri berasal dari masing-masing yang datang, mereka membawa satu musik favorit yang dimasukkan ke dalam flashdisk. Kebetulan hari itu juga klab mengundang Ismail Reza, salah seorang penggiat Tobucil di masa lampau tapi juga sekaligus seseorang yang menurut Mba Tarlen adalah "pengamat progressive rock". Berduet dengan analis rutin klab yaitu Diecky K. Indrapraja, mereka menjadikan suasana playlist menjadi lebih hidup, berbobot, dan berwawasan.

Lagu pertama datang dari Hin-Hin. Gitaris band metal Beside tersebut membawa satu lagu dari band metal Swedia yang beraliran melodic deathmetal. Sebagai lagu pembuka, lagu tersebut cukup bising dan mengagetkan. Terutama liriknya yang kurang jelas dan hanya terdengar seperti teriakan-teriakan saja. Kata Hin-Hin, ia menyetel lagu ini untuk meluruskan, bahwa band-band metal tak selamanya menyuarakan lirik-lirik satanik. Di antaranya ada yang menyinggung isu politik, agama, bahkan cinta yang tak jarang dibalut syair-syair puitik. Mas Reza menambahkan bahwa ketidakjelasan lirik itu seperti yang sudah lumrah dan disengaja. Band-band tersebut seolah menjadikan suara vokal bukan lagi penyampai kata, tapi juga instrumen seperti halnya gitar, bas, dan drum. Padahal, lucunya, kata Mas Reza, lirik-lirik itu seringkali kompleks. Namun kenapa dibuat kompleks kalau ujung-ujungnya tak terdengar mereka ngomong apa?

Lagu berikutnya dari Bebeng, ia menyetel Music of The Night dari soundtrack Phantom of The Opera. Lagu ini gagah, orkestratif, dan jangkauan dinamikanya sangat luas. Beben menyukainya karena lagu tersebut punya nilai historis, ia jadi ingin menggeluti dunia choir gara-gara lagu ini. Mba Tarlen, pemilik Tobucil juga ternyata mengikuti forum ini. Lewat dua lagu yang ia bawa, yakni lagu White Stripes berjudul The Hardest Button to Button versi band dan orkestra, ia ingin menyuguhkan perbedaan keduanya. Namun forum tersebut sepakat bahwa versi band jauh lebih hidup. Padahal, White Stripes hanya bermodalkan dua orang dengan dua instrumen, yaitu gitar (merangkap vokal) dan drum. Kata Mas Reza, hebatnya White Stripes berasal dari vokalisnya, Jack White yang sangat menguasa blues. Blues, bagi Mas Reza, adalah syarat utama bagi sebuah lagu untuk menemukan feel-nya.

Setelah itu diputar berturut-turut lagu bawaan Nia yakni dari Daft Punk yang berjudul Something About Us. Lagu tersebut dikomentari Iyok dengan satu kata saja: "Galau!" Setelah itu lagu dari Mas Reza yaitu Sunn-O dengan judul cukup unik: megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért. Lagu kelam berdurasi sembilan menit tersebut bertemakan semacam mantra-mantra yang kerap diucapkan kala inkuisi gereja pada kaum bid'ah. Lagu tersebut disambut oleh lagu tak kalah absurdnya, yaitu Four Voice Canon dari Larry Polanski. Lagu tersebut berasal dari Diecky. Setelah dikuras otaknya oleh dua lagu terakhir tersebut, forum playlist didinginkan oleh tiga lagu terakhir yaitu lagu Paman Doblang dari Kantata Takwa (bawaan Kang Tikno), lagu  dari Glee (Martina) dan lagu dari Kerispatih (Dini). Ketiganya menjadi penutup diskusi minggu itu.

Ternyata, selama ini musik hanya menjadi latar kehidupan kita saja. Ia dinikmati sebagai komponen tambahan. Namun ketika musik dinikmati sebagai musik: Kita mendengar dengan serius, diam, dan konsentrasi, maka ternyata hal tersebut adalah kegiatan yang cukup melelahkan juga. Dua jam setengah, sepuluh lagu, kami berkeringat, sakit kepala, gelisah, namun jangan-jangan secara batin menjadi sehat.




Google Twitter FaceBook

Filsafat Untuk Pemula: Menyoal Mitos

Selasa, 22 Februari 2011

Alkisah, Dewa Thor bangun dari tidurnya dalam keadaan tanpa palu. Apa maksudnya? Thor mempunyai palu sakti, lewat benda tersebut ia bisa menciptakan guntur dan menurunkan hujan. Hanya saja hari itu palunya tak ada di sampingnya, diambil entah kemana. Selidik punya selidik, raksasa bernama Thrym lah yang mencurinya. Setelah bernegosiasi, Thyrim mau mengembalikan, asal ia mengawini Freyja, Dewi Kesuburan yang notabene ada di pihak Thor. Freyja yang menolak dikawinkan dengan raksasa, akhirnya membuat Thor dan Loki (dewa lainnya)mesti membuat operasi "anti teroris". Keduanya akhirnya memutuskan untuk mengambil peran sebagai berikut: Thor berpura-pura menjadi Freyja dengan baju pengantin, sedangkan Loki menjadi pendamping mempelai. Keduanya terbang menuju Jotunheim tempat si raksasa bernaung. Akhirnya, singkat cerita, Thor sukses membawa pulang palunya meskipun berkali-kali hampir terbuka kedok pengantin palsunya.

Demikianlah orang-orang Skandinavia pra-Kristen menjelaskan asal-usul hujan. Mereka percaya, jika musim kemarau tiba, maka palu Thor sedang berada di Jotunheim. Sedangkan kala musim hujan datang, berarti Thor sukses mengambil kembali palunya dari raksasa. Cerita di atas mengawali pertemuan Filsafat untuk Pemula edisi kedua yang bertemakan mitos. Kelas Filsafat untuk Pemula tersebut dihadiri oleh empat orang yaitu Ibu Maria, Rudi, Wawan dan Tanto.



Thor memakai baju pengantin, gambar diambil dari sini


Fungsi mitos pun menjadi bahasan, misal: Mitos sebagai cara untuk menjaga alam. Ketika kita tahu bahwa laut dikuasai Poseidon, maka personifikasi tersebut membuat kita berpikir ulang jika hendak merusak laut. Jangan-jangan manusia doyan merusak alam belakangan ini karena mitos dihancurkan, karena pemilahan benda hidup dan benda mati. Padahal mitos mengisyaratkan bahwa di balik segala yang "mati", terdapat kehidupan. Mitos juga perlu diakui menciptakan ritual dan kebudayaan. Pada titik itu manusia dipersatukan. Dalam ritual dan kebudayaan, manusia menemukan dirinya dalam hubungan mikrokosmos-makrokosmos. Yang mana mikrokosmos itu mesti dijalin dalam konteks manusia sebagai makhluk sosial.

Di akhir diskusi, mitos dipertanyakan kembali: masihkah penting dalam kehidupan kita sekarang? Atau jangan-jangan, di tengah kehidupan "serba logis" dengan tetek bengek pengetahuan dan teknologi yang mendegradasikan moral, mitos justru perlu dilirik kembali dalam upaya memanusiakan kembali manusia.

Google Twitter FaceBook

Sunday, February 20, 2011

KlabKlassik: Bermain Musik bersama Ammy Kurniawan

Minggu, 20 Februari 2011



Minggu sore itu beranda Tobucil kehadiran rak-rak efek dan amplifier. Ternyata akan diadakan workshop mengenai alternative strings dari Ammy Kurniawan, pemain biola grup band 4 Peniti. Ammy yang cukup aktif di blantika musik nasional sebagai additional player dari beberapa band seperti Rif, Ari Lasso, hingga Nidji, memulai acara ini dengan paparan selama kurang lebih 45 menit. Paparan itu adalah mengenai apa itu alternative strings. Berdasarkan paparan Ammy, alternative strings adalah cara mengekplorasi teknik-teknik dalam bermain biola sehingga sanggup menciptakan efek yang atraktif, menghibur, dan improvisatif. Lagu-lagu yang dimainkan akan terasa berbeda dan lebih hidup, karena basisnya: bermain musik harus senang, dan tidak boleh tertekan. Hal tersebut juga yang ditekankan Ammy berulang-ulang, bahwa kata "main" adalah hal yang penting dalam musik.

Ammy kemudian memulai prakteknya dengan memperagakan beberapa teknik, semisal chop and groove, contoh-contoh improvisasi, dan penggunaan efek-efek. Yang menarik adalah kala Ammy memperagakan looping, Dengan looping, ia bisa membuat empat suara biola sekaligus. Ia menciptakan langsung di tempat, ritmik, bass line, harmoni, hingga melodinya, yang ia beri judul "Orang Sunda". Dengan looping, keempat suara yang ia ciptakan terpisah dapat menjadi satu karya lengkap, seperti beberapa orang sekaligus!

Workshop kemudian menjadi interaktif kala Ammy mengajak beberapa orang yang datang untuk bermain biola. Yang tampil ke depan adalah Fiola dan Brigitta dengan biolanya masing-masing. Namun sayang, lagu Canon yang sudah disodorkan oleh Ammy, tidak disikapi dengan improvisasi bebas oleh kedua violinis tersebut. Ammy mengatakan bahwa ini adalah "penyakit musik klasik", yaitu kala orang terlalu takut dalam bermain musik. Kebetulan saat itu ada murid Ammy bernama Abigail yang berani mencoba berimprovisasi sehingga suasana interaksi kembali terbangun. 


Di akhir acara, Diecky berbicara seperti halnya Kiai di penutup film horor. Ia menetralisir dan mendudukkan keadaan menjadi "kembali tertib". Kata Diecky, "Ammy mengajarkan kita untuk menjadikan instrumen barat sebagai sesuatu yang tak harus membuat kita jadi mesti berkiblat kesana (Barat). Instrumen barat adalah cuma alat, untuk mencari tahu jati diri kita sebenarnya. Ya bagi Ammy, orang Sunda itu sendiri. Kesundaan."
 
Foto oleh Desiyanti Wirabrata
Google Twitter FaceBook

Peluncuran Buku "Perjalanan Teater Kedua": Mencari Jalan Pulang

Kamis, 17 Februari 2011


 Kamis sore itu, beranda Tobucil tengah disesaki pengunjung. Rupanya ada semacam diskusi, tepatnya peluncuran buku "Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata" karya Afrizal Malna. Acara peluncuran yang diadakan di Bandung ini, adalah untuk ketiga kalinya setelah di Jakarta dan Yogyakarta. Dimoderatori oleh Sophan Ajie (tutor Klab Nulis), acara sempat berlangsung datar di hampir enam puluh menit pertama. Pertanyaan kurang banyak bermunculan, namun dicurigai ini disebabkan oleh moderator yang kurang jeli melihat keadaan. Menyadari situasi ini, moderator langsung membuka keran sesi tanya jawab, dan walhasil pertanyaan, komentar, dan tanggapan langsung bersahut-sahutan.

Iqbal memulainya dengan sesuatu yang ia sendiri bingung apakah itu pertanyaan, komentar, atau tanggapan (?), yaitu mengenai hubungan manusia dengan alam dalam teater. Ungkapan ini adalah berdasarkan pengalamannya di Mentawai kemarin, dimana penduduknya menganut agama "urat daun". Terinspirasi dari hal tersebut, Iqbal bertanya, bagaimana hubungan pemain dengan panggungnya? Seperti misalnya, bagaimana sebuah properti disucikan? Iqbal dilanjut Agus Bebeng, yang secara gamblang mengungkapkan kekecewaannya pada teater sekarang yang seperti sinetron, atau ia menyebutnya dalam istilah, "Teater tak mampu lagi membuat tidur saya terganggu." Antariksa, mengungkapkan bahwa jangan-jangan teater dewasa ini mesti mengimbangi percepatan twitter atau Facebook yang sangat cepat dan instan. Teater harus disesuaikan dan memang tak lagi mesti agung. Konsep keagungan teater mesti mulai dilupakan dan pihak-pihak teater mesti menerima kenyataan ini. 

Afrizal Malna sendiri, dan narasumber lain yakni Irwan Jamal, menjawab bergantian. Memang, acaranya menjadi bukan tentang pembahasan buku, melainkan justru mempersoalkan permasalahan-permasalahan di dunia teater saat ini. Afrizal menyebutkan bahwa teater, sebagaimana halnya juga galeri, membutuhkan kuratorial. Sedang Irwan Jamal melihat bahwa persoalan teater adalah ketertinggalannya dari teknologi masa kini yang begitu cepat. Misalnya teknologi SMS, membuat orang kehilangan ruang-ruang kontemplasi. Mereka tidak lagi punya waktu untuk merenung dalam kesendirian karena ponsel dan internet membuat mereka harus terus bersinggungan dengan yang lain. Afrizal kemudian menambahkan, bahwa akibat teknologi tersebut, imbasnya pada dunia teater adalah bahwa orang-orangnya tak lagi mampu berlatih keras dan lama.Afrizal mencontohkan bahwa kala ia pentas dulu, persiapannya bisa mencapai sembilan bulan, dengan latihan lebih dari dua belas jam per hari.

Acara yang berlangsung hingga hampir pukul sembilan malam itu ditutup oleh pernyataan mengesankan dari Afrizal, "Hidup ini absurd, kadang saya juga tak tahu harus ngapain. Tapi saya merasa teater memberi jalan pulang."
Google Twitter FaceBook

Thursday, February 17, 2011

Alternative String Workshop Bersama Ammy "4 Peniti" Kurniawan

Klab Klassik mengundang teman-teman yang mendalami atau meminati alat musik string untuk belajar bersama bertukar trik dan tips, bersama Ammy Kurniawan (pemain biola "4 Peniti").
Minggu 20 Februari 2011, Pk. 15.30 di Tobucil & Klabs Jl. Aceh 56 Bandung.

Workshop Gratis berhadiah kopi gratis pula..! Datang ya..:)


Google Twitter FaceBook

Wednesday, February 16, 2011

“Berfilsafat Adalah Hak Setiap orang"

Filsafat dikalangan masyarakat kebanyakaan seringkali diidentifikasi serta difahami sebagai sesuatu yang rumit,sulit, dan membingungkan bahkan menyesatkan!. Tidak berhenti disana, filsafat seringkali disimpan sebagai sesuatu yang hanya layak dan patut digeluti oleh orang-orang tertentu saja serta diidentikan dengan  orang-orang serius, pintar, memiliki IQ diatas rata-rata, berkacamata tebal atau dengan kata lain ranah filsafat adalah ranah eksklusif. Terlebih filsafat seringkali hanya dihadirkan untuk kalangan dan diperuntukan kaum akademis saja, yang dituturkan oleh para profesor-profesor lawas dengan sejumlah teori-teori rumit. Filsafat demikian menjadi semakin berjarak dan jauh dengan hakikat filsafat pada dirinya sendiri; mencintai kebenaran!.

dat nen geen flosofie, naar allean filosoferen noet leren” (“kita bukan harus belajar filsafat, melainkan berfilsafat”) kurang lebih demikian kata-kata yang seringkali dikatakan oleh seorang Immanuel Kant. Apa yang dikatakan oleh Sang Filsuf Jerman itu, kemudian dijabarkan oleh C.A. Van Peursen : bukan belajar pengetahuan historisnya, tetapi belajar menjadi seorang filsuf. Maksudnya, mempelajari filsafat tidak mesti terbatas hanya pada kajian macam-macam system filsafat yang pernah muncul di sepanjang sejarah dunia pemikiran, akan tetapi kita harus berpartisipasi dengannya, menceburkan diri kedalamnya. Kenikmatan, kepuasan dan gairah filsafat tidak akan pernah jatuh begitu saja dipangkuan kita tanpa berfilsafat. Dengan kata lain, tidak ada aturan bahkan larangan untuk berfilsafat. Tiap orang berhak berfilsafat!.

Filsuf itu Manusia Biasa

“Ana Batsaru Mislukum” (saya adalah manusia biasa, seperti kamu), kata-kata ini sempat meluncur dari mulut seorang Rasul Muhammad SAW. Apabila seorang yang bergelar Nabi & Rasul berani “menurunkan derajat”-nya sampai titik terendah seperti itu, apalah artinya gelar seorang filsuf. Para filsuf hanyalah manusia biasa seperti kita layaknya. Sebagaimana yang dikatakan Van Peursen diatas, kelebihan mereka hanyalah oleh karena kemauan, kebersediaan serta keberanian mereka dalam menceburkan dirinya kedalam jurang dalam pemikiran, untuk mencintai jalan sekaligus menyatu dengan tujuan filsafat;mencintai kebenaran.

    Apa yang kita imagikan terhadap sosok hebat Socrates, Plato, dan sejembreng nama filsuf lainnya, lebih karena kita sangat berjarak dengan mereka. Sehingga kabar yang sampai ketelinga kita hanya hal-hal tertentu saja, hal-hal yang hebat dan mengagungkan saja. Penilaian seperti ini yang membuat kita semakin berjarak dengan mereka. Alhasil, kita semakin terperdaya hingga kita keburu nafsu menyimpulkan mereka itu filsuf yang agung, dan kita bukan bagian dari mereka, kita tidak layak menjadi bagian dari mereka. Seolah kapling menjadi seorang filsuf sudah sold out!.

    Seorang Rasul Muhammad saat mengatakan “Ana Batsaru Mislukum”, bukan tanpa maksud atau sekadar sikap kerendahan hatinya, namun lebih dari itu Ia berharap, setiap langkah-langkahnya yang baik bisa ditiru dan dilanggengkan oleh setiap generasi ke generasi atas nama mencintai kebenaran bahkan kebenaran itu sendiri. Dengan kata lain tiap orang berhak dan berkewajiban melanggengkan mencintai kebenaran. Pada dasarnya ada titik singgung antara jalan yang diambil oleh para nabi dan filsuf bahkan setiap orang dalam mengamini hidup; adalah jalan permenungan, jalan penyempurnaan diri. Bukankah jalan ini yang tengah kita ikhtiarkan saat ini?

    Mari kita tengok, siapa sesungguhnya sosok Socrates!. Socrates (± 4699-399 SM) disebut-sebut sebagai seorang filsuf Yunani dari Athena. Ia tersohor dengan pendapatnya tentang filsafat sebagai suatu usaha pencarian yang perlu bagi tiap intelektual. Ia hanyalah seorang anak tukang pahat yang bernama Sophronicus; dalam usia pertengahan ia menikah dengan Xanthippe. Xanthippe sering disebut-sebut pula sebagai sosok istri yang suka mengomel dan mencaci maki, walaupun tak ada dasar yang kuat atas pernyataan tersebut. Tidak diketahui secara pasti apa pekerjaan Socrates sesungguhnya. Bisa jadi, ia hanya seorang pemahat seperti apa yang dipekerjakan bapanya. Disebutkan pula, dengan melupakan urusan-urusan pribadinya, ia selalu sibuk dengan pembicaraan mengenai kabajikan, keadilan dan katakwaan di tempat-tempat pertemuan penduduk Athena. Demikianlah Socrates, sosok manusia biasa yang beristrikan Xanthippe, yang memiliki bapa sebagai pemahat. Yang membedakan dirinya dengan manusia kebanyakan di Athena adalah keberanian mengambil jalan untuk menceburkan diri dalam mencintai kebenaran. Hidup yang tidak diperiksa, adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani, itulah “kredo suci” yang keluar dari mulut seorang Socrates. 

Berfilsafat adalah Hak Setiap Orang

“Mungkinkah…pendidikan kita mengabaikan pendidikan rahsa?...dalam bahasa filosof John Henry Newman, yang menaruh minat besar pada pendidikan, rahsa itu mungkin semacam Illuminative sense. Illuminative sense adalah bagian intelektual manusia yang dapat mengandaikan adanya kompleksitas suatu obyek, dan adanya pelbagai kemungkinan manusia mengambil sikap terhadap objek tersebut. Illuminative sense itu mirip dengan phronesis dari Aristoteles, yakni semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita, tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara mengenai kebenaran. Pendeknya, pendidikan rahsa, Illuminative sense, atau phronesis itu akan membuat kita jadi tahu diri.”

Dari kutipan di atas, saya memahami bahwa pada tiap-tiap orang memiliki kemampuan dalam menghadapi problematika atau objek permasalahan yang kompleks sekalipun. Hal ini mensyaratkan pada pengakuan akan adanya rahsa, Illuminative sense, atau phronesis yang melekat pada diri kita. Bisa jadi, ini merupakan sisi lain dari daya intelek, atau mungkin sisi terdalam kemampuan dari daya intelek manusia. Sembari mengamini keyakinan Edward D. Bono, yang mengatakan bahwa kemampuan berpikir atau sering juga disebut dengan kemampuan berlogika adalah suatu “pemberian” yang perlu dilatih dan dikembangkan. D. Bono mengatakan seperti itu lebih karena, ia menyangkal adanya anggapan dan stereotype masyarakat yang kadung memilah bahwa ada yang disebut manusi bodoh dan pintar. Padahal baginya, daya intelektual adalah sesuatu yang bisa dilatih dan dikembangkan, agar manusia mampu memecahkan setiap permasalahan kehidupannya. Ya, intellectual exercise!.
Filsafat hanyalah suatu jalan, cara dan gaya. Objek yang dihadapi dengan jalan tersebut adalah permasalahan hidup kita sendiri. Untuk itulah mari berfilsafat, karena berfilsafat adalah hak setiap orang!...

Bandung, 8 Februari 2011
Rosihan Fahmi
Pengelola Klab Madrasah Falsafah Sophia  
Tulisan ini untuk pengantara Kelas Filsafat Untuk Pemula
Google Twitter FaceBook

Sunday, February 13, 2011

Filsafat untuk Pemula: Upaya Membangunkan Asia

Hari pertama kelas Filsafat untuk Pemula Tobucil dihadiri oleh tiga orang saja. Kelas berbayar yang rutin setiap Selasa ini, memang berbeda dengan Madrasah Falsafah hari Rabu. Bedanya, Filsafat untuk Pemula menghadirkan topik-topik terstruktur dan pola pembelajaran yang lebih sistematis, sedangkan Madrasah Falsafah bercorak diskusi yang dipandu moderator. Meski demikian, ke-tiga-orang-an tersebut tidak menyurutkan kelas tersebut untuk memulai pembelajaran debutnya secara maksimal. Bambang Q-Anees, dosen UIN Sunan Gunung Djati, didaulat menjadi narasumber edisi perdana ini. Edisi pertama ini lebih merupakan perkenalan, soal apa yang mau dibahas dalam delapan pertemuan ke depan dan soal pertanyaan kritis apa yang mau diajukan.

Namun yang terjadi tidak sebatas dua hal di atas, melainkan terdapat juga paparan-paparan yang sangat inspiratif. Bambang Q-Anees atau akrab dipanggil Mas BQ, mengawalinya dengan era filsuf alam di Yunani sana. Belum buyar lamunan peserta tentang Yunani, Mas BQ langsung melemparkan mereka ke Cina, berkisah tentang temuan-temuan bangsa mereka yang mengagumkan. Renaisans Eropa, yang konon dipicu oleh tiga hal yakni kompas, mesiu, dan mesin cetak, ternyata ketiganya tak murni diciptakan di Barat. Kompas misalnya, konon diciptakan oleh para pelaut Cina atau Bugis. Mesiu juga diciptakan di Cina, dan mesin cetak boleh jadi dari Guttenberg (Jerman), tapi kertas yang dipakai sebagai output mesin cetak itu sendiri dari Cina!

Tututan Mas BQ ini, jujur saja, cukup sulit untuk diikuti, karena melompat-lompat, melempar-lemparkan, dan tidak ajeg lurus pada satu cerita secara fokus. Misal, di satu peristiwa ia menceritakan kisah Syafi'i Ma'arif yang tengah berkunjung ke Yunani. Kala itu Yunani tengah dilanda anarki, dan Syafi'i Ma'arif bertanya pada supir taksi, "Yunani kok bisa-bisanya anarki, kan disini pusat kebudayaan dan intelektual?" Kata sang supir dengan kalemnya, "Ah, itu kan cerita dulu." Mas BQ mengomentari, jangan-jangan Plato dan Aristoteles itu tidak pernah ada. Karena banyak bangsa yang mengabadikan semangat leluhurnya lewat nyanyian dan tarian, tapi Yunani yang tersisa cuma puing-puing reruntuhan Acropolis dan Artemis. Sedangkan bangsanya sendiri tak punya "ingatan yang menubuh" tentang leluhuhrnya. Intinya, Filsafat untuk Pemula adalah upaya untuk membongkar cara pandang kita akan Barat-sentris atau Yunani-sentris. Dibukakan fakta-fakta dan penalaran bahwa Timur juga punya kekuatan dan sangat layak, atau bahkan yang semestinya di-kiblat-kan.

Filsafat untuk Pemula diakhiri pukul tujuh, setelah sebelumnya dimulai pukul lima. Mas BQ menutupnya dengan mengutip Karl May, "Hati-hati dengan Asia, ia adalah raksasa yang tengah tertidur. Ketika ia bangun, maka peradaban lain akan terlampaui." Maka barangsiapa yang ikut kelas ini, sesungguhnya ia adalah bagian dari upaya membangunkan Asia dari tidurnya. Sampai jumpa tanggal 22, topiknya: mitos.


Bambang Q-Anees (kiri)

Google Twitter FaceBook

Klab Nulis: Bersastra Lewat Musik

Klab Nulis, sesuai dengan temanya "Menembus Batas Terkira", hari itu peserta betul-betul mencoba menembus batas terkira. Sophan Ajie, sang tutor abadi, Jumat itu kebetulan mengajak saya untuk berbagi soal bersastra lewat musik. Pembicaraan dibuka lewat teori Leonard Bernstein (1914-1990) tentang musik. Jadi musik katanya, dibagi empat, yaitu musik sebagai ilustrasi suatu cerita (narative literary meaning), menggambarkan suatu objek (atmospheric pictorial), menggambarkan emosi diri, dan musik absolut (absolute music).

Setelah dipaparkan satu per satu contoh musiknya, sampailah pada apa yang dinamakan musik absolut. Musik absolut inilah yang sesungguhnya yang akan menjadi bahan utama untuk inspirasi karya. Musik absolut adalah musik untuk musik itu sendiri. Ia tidak mengilustrasikan apapun kecuali dirinya. Saya mencontohkan Symphony no. 5 dari Beethoven. Ia tidak menceritakan apa-apa. Dan justru ketidakberceritaan itu, membuat musik sesungguhnya melemparkan kita pada "ranah tak bertuan". Mari dibuktikan, Symphony no. 5 disetel keras-keras, sementara para peserta menuliskan apa saja selama musik itu diputar. Hasilnya mencengangkan, imajinasi liar dan tak berbatas, walaupun beberapa diantaranya punya kesamaan, misalnya tentang situasi kerajaan beserta pangeran dan putri raja. Yang menarik adalah tulisan Mas Teguh, dimana ia menampilkan monolog tentang keinginannya untuk menari.

Sesi menjadi sedikit galau ketika lagu Pink Floyd yang diputar berjudul the Great Gig in The Sky. Band dengan aliran psychedelic rock tersebut menghadirkan atmosfer muram ke tengah-tengah peserta. Psychedelic sendiri merupakan efek yang biasa ditimbulkan obat-obatan seperti LSD atau mushroom. Tulisan-tulisan yang dihasilkan dari lagu tersebut, sungguh galau dan memabukkan. Halusinatif. Misalnya Ibro bercerita tentang seekor gajah pink. Singkat, padat, tapi mengena! Pada akhirnya, musik memang melemparkan kita pada imajinasi tak terbatas, ia tak terbatas kata-kata, bahkan terlalu miskin untuk digambarkan dalam bahasa, seperti hmmmm Tuhan?

Suasana Klab Nulis
Google Twitter FaceBook

Pelucuran dan Obrolan Buku Karya Afrizal Malna: "Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata"


iCAN, Afrizal Malna, dan Tobucil & Klabs mengundang Anda untuk hadir dan ikut serta dalam peluncuran dan obrolan buku karya Afrizal Malna "Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata" di Tobucil & Klabs, Bandung, Kamis 17 Februari 2011, jam 5 sore. 

Narasumber: Afrizal Malna, Antariksa, Titarubi
Penanggap: Irwan Jamal, Taufik Darwis

“Buku ini penting. Saya dapat menarik kesimpulan bahwa Afrizal termasuk pengamat kegiatan teater dan sastra kontemporer di Indonesia yang paling lihai. Dengan matanya yang tajam,... separuh mata seniman, separuh mata sosiolog, dia bisa melihat banyak hal yang gampang luput dari pemandangan orang lain.” – Michael H. Bodden

“Membaca buku Afrizal ini saya bahkan merasa tidak hanya menghadapi suatu antologi saja, melainkan sebuah kamus atau ensiklopedi di mana kita bisa mencari dan mendapatkan sekian banyak informasi yang berguna” – Marianne Koenig

*) Pada saat acara peluncuran buku "Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata" akan dijual dengan harga khusus Rp. 90,000,-

Contoh isi dan info mengenai buku:
http://canmanage.net/perjalanan-teater-kedua/

Acara serupa di Solo:
http://www.facebook.com/event.php?eid=161242140593633


Google Twitter FaceBook

Thursday, February 10, 2011

Rumah Belajar Semi Palar Mencari Guru

Teman-teman ada info menarik, barangkali ada yang berminat jadi guru:

Rekan2 semua,

Pesan ini ditujukan bagi mereka-mereka yang suka tantangan, suka belajar, suka hal-hal baru dan senang berbagi. Mereka yang ingin membagikan apa yang dimiliki dengan menjadi seorang guru (full time). Rumah Belajar Semi Palar membuka kesempatan untuk rekan-rekan bergabung menjadi bagian dari tim guru di Semi Palar.

Rumah Belajar Semi Palar adalah sebuah sekolah formal (PG, TK dan SD) dengan metoda pembelajaran alternatif (aktif dan terpadu).
Konsep pendidikan yang diterapkan adalah pembelajaran holistik. Untuk memperoleh gambaran tentang Rumah Belajar Semi Palar, silakan tilik blog atau website kami.

Aplikan yang dicari adalah mereka yang punya antusiasme dan minat besar terhadap dunia anak dan pendidikan. Merasa dirinya adalah pembelajar, ingin terus mengembangkan diri serta mampu dan suka bekerja dalam tim. Pendidikan akhir sarjana dari bidang studi apapun. Minat terhadap bidang lain (mis: musik, fotografi, seni budaya, alam lingkungan, craft, dll) adalah nilai tambah.

Aplikasi terdiri dari :
• Surat Lamaran Kerja
• CV selengkapnya (seminar, keterlibatan di komunitas, pengalaman organisasi dll.)
• Tulisan pendek mengenai pendidikan (opini, pengalaman, pengamatan - 2 halaman A4)
• Tulisan tentang ‘aku’ (siapa aku, keluarga, minat, hobi, sifat, cita-cita dll.)

dikirim ke:
Rumah Belajar Semi Palar.
Jl. Sukamulya 77-79, Bandung
[022 70173412 | semipalar@gmail.com | www.semipalar.net | www.semipalar.blogspot.com ]
Contact person : kak Andy / kak Nia

Terima kasih dan sampai jumpa di Semi Palar.
Google Twitter FaceBook

Sunday, February 6, 2011

Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius

"Alam semesta ini terbuat dari air." -Thales (624 SM - 546 SM)
"Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu." - Konfusius (551 SM - 479 SM)

Meski keduanya hidup sejaman, tidak ada cerita bahwa Thales dan Konfusius pernah berjumpa dan berkenalan. Keduanya sibuk mengurusi negerinya sendiri, tak ada cerita bahwa keduanya sempat pelesiran menyeberangi pulau apalagi benua. Thales berasal dari Yunani, meskipun beberapa pendapat tak sepakat ia persis lahir di Yunani. Karena tempatnya berpijak dinamakan Miletos, atau wilayah yang menjadi bagian dari Asia Kecil, atau malah disebut-sebut sebagai cikal bakal Turki. Dalam sudut pandang geografis hari ini, berarti jelas Thales lebih dekat ke "Timur".

Namun geografis barangkali tak penting-penting amat bagi dunia filsafat Barat dari dulu hingga sekarang. Yang terpenting adalah klaimnya: bahwa Thales adalah bagian dari peradaban Yunani. Yakni peradaban yang dikatakan sebagai "cikal bakal lahirnya filsafat". Kelahiran itu, katanya cuma mungkin terjadi di Yunani, oleh sebab beberapa hal, misalnya:
  • Yunani menganut sistem polis atau negara kota, dimana masing-masing polis telah melahirkan demokrasi sendiri-sendiri. Dari situ tradisi berpikir bebas dimulai, karena setiap orang bebas bicara.
  • Banyak pekerjaan kasar di Yunani dijalankan rutin oleh para budak. Sehingga banyak warga (terutama kalangan menengah ke atas) yang "kurang kerjaan". Ini menyebabkan mereka punya cukup waktu luang untuk merenungkan hakekat kehidupan serta kebijaksanaan.
  • Di Yunani lahir mitos-mitos yang ditulis oleh Hesiod dan Homer sejak 800 SM. Mitos tersebut menunjukkan tradisi penulisan yang kuat, karena sumbernya masih berupa kitab-kitab utuh dan jelas. Dengan tradisi dokumentasi yang mantap, Yunani percaya bahwa setiap karya buah pikir akan senantiasa lestari.
Poin terakhir soal mitos itulah yang didobrak oleh Thales. Ketika masyarakat Yunani hidup dalam alam mitos, maka ia mencoba jalan lain untuk menjelaskan alam semesta, yakni lewat logos atau akal budi. Mitos bisa menjelaskan bahwa alam semesta ini dimulai dari perkawinan Uranus dan Gaia, tapi Thales tidak cukup puas. Ia melihat bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan tidak bisa hidup tanpa air, lalu di ujung daratan seringkali berbatasan dengan air, maka ia menyuarakan temuan beraninya tanpa khawatir kemurkaan Dewa Zeus: bahwa alam semesta ini, jangan-jangan, terbuat dari air!


Thales, gambar diambil dari sini

Thales, atas pernyataannya yang nampak sederhana itu, diklaim oleh dunia filsafat Barat sebagai filsuf pertama. Ketika ditanya darimana filsafat dimulai? Sepakat Barat menjawab: ketika Thales mengatakan bahwa alam semesta ini dari air. Lalu bagaimana dengan Konfusius, seseorang yang sejaman, meskipun berjauhan? Mari kita bahas.

Konfusius lahir di Negara Lu, atau masuk ke wilayah Cina sekarang. Ia lahir di tengah pergolakan politik dan degradasi moral yang dahsyat. Cina berada dalam krisis, dan di periode yang sama bermunculan banyak aliran filsafat. Konfusius adalah salah seorang pembawanya, dimana Lao Tse, di sisi lain, adalah persis sosok yang berseberangan dengannya. Lao Tse, mengajarkan keseimbangan kosmos sebagai antitesis kondisi kehidupan yang serba khaos. Dialah cikal bakal Taoisme yang berbasis Yin-Yang itu. Sedangkan Konfusius tak mau manusia hanya menantikan keseimbangan dan cenderung pasif, ia ingin manusia aktif berbuat, bertindak, dan bereksistensi dalam aktivitas-aktivitas etik keseharian.

Konfusius seperti ogah membahas filsafat sebagai ontologi (hakekat) seperti layaknya Thales. Ia langsung membicarakan aksiologi, yakni bagaimana filsafat ini bisa berguna bagi keseharian. Konfusius langsung pada logika praktis tentang bagaimana seharusnya anak bersikap, bapak bersikap, raja bersikap, menteri bersikap, hingga pemusik bersikap. Barangkali jika Konfusius bertemu Thales, ia akan mengganggap apa yang dilakukan Thales adalah buang waktu dan sia-sia, seperti halnya Sang Guru mengritik lawannya, Lao Tse dengan segala argumen kosmisnya.

Meski demikian, filsafat Barat tetap berpijak kuat pada klaim bahwa Thales adalah anak sahnya, dan peradaban Yunani sebagai tempat yang membesarkannya. Konfusius mungkin disebut-sebut, tapi tidak cukup sering untuk disebut sebagai filsafat. Kadang ia dituduh sebagai agama yang mengada-ngada, atau bentuk kebudayaan, atau paling bentar gerakan spiritual.


Konfusius, gambar diambil dari sini

Pertanyaan kritis untuk didiskusikan:

  • Jika Konfusius yang berpijak pada etika ternyata tak cukup kuat untuk disebut filsafat, bagaimana dengan Socrates, yang oleh Barat dianggap sebagai manusia etik sejati, yang justru lahir jauh ratusan tahun pasca Konfusius?
  • Apakah yang menyebabkan dunia filsafat Barat lebih mengakui peradaban Yunani sebagai awal berkembangnya tradisi logos ketimbang peradaban Cina dengan Konfusius-nya?
  • Bagaimana dengan tradisi berpikir Mesir, Arab, atau India yang secara timeline sejarah punya peradaban yang lebih tua ketimbang Yunani?
  • Bagaimana cara agar kita tetap jernih melihat beberapa peradaban "non-Yunani" sebagai bagian dari sejarah kelahiran filsafat?
Syarif Maulana


*) Handout ini adalah salah satu materi pertemuan "Kuliah Singkat Filsafat untuk Pemula" di Tobucil, 8 Februari 2011, jam 17.00-19.00.

Google Twitter FaceBook

Madrasah Falsafah: Membicarakan Bahasa

Rabu, 2 Februari 2011


Hari itu saya terlambat datang ke Madfal. Diskusi sudah berjalan tiga puluh menit ketika saya datang. Topiknya pun, tak ada yang mau memberitahu soal apa, karena kata Mas Oyeah, "Bahasa tak mampu melukiskan topik hari ini!" Okelah, jadi saya ikuti saja alur diskusinya yang mengalir cukup bebas sore itu. Yang pertama saya dengar adalah ucapan kang Ami (Rosihan Fahmi), moderator Madfal, "Bahasa adalah rasa. Ia mewakili dirinya, pribadinya." Lalu ditimpali oleh Ijal, "Sebentar, apakah bahasa juga dipengaruhi gestur?" Pertanyaan Ijal itu dijawab dengan menarik oleh Wienny, yang menyodorkan pengalamannya menonton film berjudul Lie to Me. Menurutnya, tubuh adalah sumber kejujuran. Meskipun diusahakan untuk jujur, tapi secara detail pasti ada gestur yang menyatakan dia berbohong, "Misalnya, dulu kita berpikir kalau orang tidak mau bertatapan mata berarti dia tengah berbohong. Tapi ternyata bisa jadi orang terus-terusan menatap mata karena dia sedang berbohong. Dia ingin meyakinkan lawan bicaranya dengan menatap mata terus menerus."

Saya menimpali, bahwa politisi salah satu pekerjaannya adalah mengatasi tubuh dan gestur. Politisi ulung tau caranya tetap tersenyum meskipun perasaan tidak mendukung. Iqbal punya pendapat lain, ia melihatnya bahwa bahasa adalah biologis, ketika kita mengatakan, "An*ing!", maka intonasi naik menyebabkan emosi juga naik. Akibat membahas itu, obrolan Madfal menjadi terkerucutkan pada omongan an*ing itu, maksudnya dibedah secara filosofis. Saya mulai bisa tahu bahwa sepertinya semua ini tengah membicarakan soal bahasa. Menurut Iqbal, penting sekali orang untuk marah dan kadang-kadang mencaci, untuk membebaskan tekanan dari dalam diri. Ungkapan-ungkapan seperti an*ing dan beberapa perkataan yang tidak normatif justru adalah upaya manusia untuk melawan kemapanan. Bahkan Jazzy mengatakan bahwa dalam beberapa kata-kata dalam bahasa Inggris, ada kata-kata kasar yang justru diadaptasi ke dalam bahasa baku agar itu seolah-olah resmi.

Saya jadi ingat, ketika seorang guru Yoga mengatakan, bahwa orang yang tidak pernah bersenandung, kemungkinan punya potensi psikopat dan pembunuh. Hal tersebut menunjukkan adanya korelasi menarik antara senandung sebagai kegiatan tak sadar, dan senandung sebagai ekspresi pembebasan bawah sadar. Bahwa manusia, dalam segala gerak-gerik realitasnya yang terbatas, membutuhkan ruang untuk menumpahkan berbagai unek-unek. Diecky bilang, ada seni sebagai sarana pembebasan, tapi Madfal kemarin bilang: ada an*ing sebagai mediumnya.

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

Nurul Wachdiyyah: Awak Baru Tobucil yang Senang Jalan-Jalan

Nurul Wachdiyyah, biasa dipanggil Ulu. Ditanya darimana panggilan tersebut, ia menjawab dari ayahnya, sejak ia kecil. Ulu adalah punggawa Tobucil terbaru. Tugasnya relatif sederhana namun cukup vital bagi perkembangan Tobucil, yakni: mengurus Facebook Tobucil. Meski terkesan sederhana (karena Facebook sudah seperti keseharian bagi masyarakat sekarang), namun perlu diingat bahwa publikasi berbagai kegiatan hari ini sangat efektif bila dilakukan via Facebook. Jika melihat keaktifan Facebook Tobucil belakangan ini, perlu diketahui bahwa itu adalah bagian dari kinerja Ulu. Mari kita ngobrol-ngobrol sejenak. 

Ulu, kenal Tobucil sejak kapan? 
Dulu saya suka maen ke Tobucil waktu masih di Kyai Gede. Sekitar tahun 2006 itu, saya kerjasama dengan Tobucil soal tempat pendaftaran jalan-jalan wisata sejarah.

Wisata sejarah?
Iya, jalan-jalan dari Asia Afrika ke Gedung Sate hehe. Saya emang senengnya jalan-jalan, dan gak perlu jauh-jauh, di Bandung pun banyak tempat seru!

Wah, terus-terus?
Terus-terus yang mana nih?

Yang kenal Tobucil dulu, baru kita ngomongin wisata.
Oke, terus dulu itu saya sering nongkrong, ikutan Klab Baca, Klab Rajut, dan Klab Nulis. Selain itu, bibi juga kerja jadi shopkeeper, jadi sering berkunjung deh.

Oke, nah, kalau soal jalan-jalan, senengnya kemana nih?
Saya senengnya mengeksplorasi dalam kota, dan saya jatuh cintanya sama kawasan Pecinan. Disana aura perdagangan kuat dan eksotis, banyak rumah-rumah yang masih bergaya lama. Wah pokoknya seru! Pengennya sih di Tobucil ini bikin Klab Jalan-Jalan, tapi konsepnya masih digodok sama Mba Tarlen.

Oke, gimana sih ceritanya bisa jadi bagian dari Tobucil sekarang ini?
Ya, ini karena rekomendasi temen aja. Kebetulan kawan saya punya hobi yang sama dengan Mba Tarlen. Eh kebetulan mereka sedang perlu untuk mengurusi blog, akhirnya saya diajakin deh. Emang kebetulan udah kenal dari dulu juga.

Oke, secara spesifik, Ulu itu ngapain aja sih kerjanya?
Ya, intinya publikasi aja. Biasanya setelah blog diupdate, saya langsung publikasikan di Facebook. Setelah itu saya juga menjawab pertanyaan seputar Tobucil yang dilontarkan via Facebook. Awalnya agak sulit, tapi lama-lama setelah banyak nanya sama Mba Tarlen, jadi ngerti juga.

Oke, terakhir, seneng gak di Tobucil?
Seneng banget, memang Ulu seneng dengan suasana bekerja seperti ini.

Seperti ini bagaimana?
Ya, gak kaya kantor banget. Jadi berantakan, tapi pada tempatnya. Dan gak cubical seperti di kantor-kantor yang serba rapi tapi kaku. Apalagi kalau ada anaknya Mba Elin, Aurora. Jadi bikin tentram.

Saya mewawancarainya kala itu menjelang maghrib. Menjelang Ulu habis jam kantornya yang sementara hanya datang setiap hari Senin dari jam 13-18. Setelah wawancara ia langsung bersiap pulang ke rumahnya yang jauh, di Ciparay. Tempat ia sehari-harinya memancing. Kenapa,?karena ia punya kolam besar berisi lele dan berbagai jenis ikan. Boleh loh kalau mau pesan, katanya begitu.



 Ulu kala sedang jalan-jalan (dokumen pribadi dari Facebook)
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin