Sunday, July 31, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Dari Haydn sampai Zappa

Minggu, 31 Juli 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8 mengusung tema "Musik Religi". Musik religi yang dimaksud bukan seperti Haddad Alwi atau Maher Zain, melainkan "musik apapun yang meningkatkan spiritualitasmu". Keenam orang yang hadir membawa musiknya dalam flashdisk. Semuanya bercerita tentang kisah dibalik musik yang ia bawa, ternyata suasana spiritual tidak bisa dihindari. 

1. Joseph Haydn - String Quartet in D Minor
Lagu pembuka ini diusung oleh Mba Tarlen. Mengingatkan ia pada pengalamannya menemani proses rekaman Djava String Quartet (kuartet gesek dari Yogya). Proses rekamannya berlangsung dari jam delapan malam hingga lima pagi, materinya ya lagu Haydn ini. Bagi Mba Tarlen sendiri, ia terkesan pada ambience yang dihasilkan oleh ruangan dan juga karya itu sendiri, "Seperti bertemu Yesus Kristus." Pembahasan meluas menjadi bagaimana band-band dulu, yang proses rekamannya masih analog, mencari tempat-tempat rekaman yang ambience-nya disesuaikan. Mereka tidak mengandalkan efek-efek digital seperti sekarang. Misalnya Pink Floyd yang kata Mas Ismail Reza pernah rekaman di kastil berhantu.

2. Dream Theater - Spirit Carries Within
Lagu yang dibawa oleh Mas Yunus ini baginya sangat spiritual. Katanya, "Tengok liriknya:"


Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

Untuk Dream Theater yang biasa memainkan rock progresif yang cepat, lagu ini agak anomali. Dream Theater memainkan sebuah lagu balad bertempo lambat. Di tengah-tengah, sayatan gitar John Petrucci mengundang komentar Mas Reza, "Bagian ini yang bikin lagu tersebut terasa religius."

3. Burzum - Kaimadaltas Nedstigning
Lagu yang dibawa oleh Mas Ismail Reza ini mengusung genre Black Metal. Artis dari Norwegia tersebut memang menawarkan isu religi. Burzum "marah" pada agama Kristen yang notabene telah mendominasi kepercayaan di Norwegia yang tadinya beragama pagan (menyembah Thor, Odin, dsb). Di lain kesempatan, Burzum juga pernah membakar beberapa gereja. Namun, kata Mas Reza, "Burzum sudah tepat, ia menyerang institusinya. Ia tidak pernah menyerang personal manusia yang memeluk agama. Yang ia serang adalah klaim sepihak dari gereja yang sering menuduh pagan sebagai sesat." Lagunya sendiri berdurasi cukup panjang dengan distorsi sangat tinggi namun anehnya bertempo lambat. Rudi menyebutnya, "Aneh, metal biasanya bikin segar, tapi ini bikin ngantuk."

4. Steve Reich - Tehilim
Lagu yang ditulis tahun 1981 ini berdurasi sebelas menit. Ditulis oleh komposer minimalis AS, Steve Reich. Materi lagunya adalah ayat-ayat yang diambil dari kitab suci Yahudi, yang kemudian dinyanyikan oleh choir. Dengan apik, Steve Reich menjadikan komposisinya bergaya canon atau sahut-sahutan susul-menyusul. Meskipun durasinya panjang, namun peserta Playlist cukup betah mendengarkannya. Hal tersebut diperkuat Diecky kala pertama jatuh cinta pada Tehilim, "Aku menemukan ini di rumah Mas Slamet Abdulsjukur. Mendengarkannya sungguh membuatku terlena, seperti dzikir." Lagu tersebut juga merangsang Diecky untuk membuat sebuah karya yang bermaterikan ayat Al-Qur'an, tapi kemudian dikomposisi ulang.

5. Frank Zappa - G-Spot Tornado
Lagu Frank Zappa ini dibawa oleh saya. Menghadirkan sebuah komposisi cepat yang diramu oleh Zappa dengan teknologi komputer yang ia kuasai. Yang menjadi menarik adalah motif Zappa membuat karya ini. Kata Diecky, "Zappa berambisi membuat karya yang tidak bisa dimainkan oleh manusia." Meski demikian, menjelang akhir hayatnya, Pierre Boulez dan orkestranya sanggup mengimitasi G-Spot Tornado dengan sangat cantik. Zappa yang meninggal setahun setelah orkes tersebut manggung memainkan karyanya, mengatakan, "Boleh saja manusia menirunya, tapi tetap saya yang harus menjadi konduktornya." Demikian sang maestro meninggal dengan wasiat yang mengesankan.

6. Pearl Jam - Sometimes
Lag yang dibawa oleh Mba Tarlen ini diambil dari album Pearl Jam yang "gagal" yaitu No Code. Dianggap gagal karena hanya terjual 500.000 kopi dan isi dari album tersebut hampir semuanya bertempo lambat. Tidak ada grunge cepat yang menjadi khas Pearl Jam di album seperti Ten. Mba Tarlen merasa bahwa meski Eddie Vedder sang vokalis dikenal ateis, tapi dalam lagu ini ia menunjukkan sisi spiritualitasnya. Terlihat dari liriknya yang mendalam, menyiratkan kerinduannya pada Tuhan:

Sometimes I know sometimes I rise
Sometimes I fall sometimes I don't
Sometimes I cringe sometimes I live
Sometimes I walk sometimes I kneel
Sometimes I speak of nothing at all...
Sometimes I reach to myself, hear God..

7. Ennio Morricone - Gabriel's Oboe
Gabriel's Oboe adalah lagu kedua yang dibawa oleh Mas Yunus. Diambil dari film The Mission. Ceritanya Gabriel, seorang misionaris, berjalan menuju air terjun dan ia meniupkan oboe nya. Di belakangnya, menguntit beberapa orang dari suku setempat yang siap membunuh sang pastur. Namun mereka urung karena mendengar suara oboe nya yang begitu menyayat. Bagi Diecky, ini sangat spiritual, "Ketika kamu punya satu nafas terakhir sebelum mati, apa yang kamu lakukan?"



KlabKlassik Edisi Playlist #8 seolah menunjukkan adanya upaya untuk mendahului MUI yang masih sibuk menentukan awal mula Ramadhan. Karena di Tobucil kemarin, kegiatan spiritual sudah dimulai sebelum Ramadhan ditentukan.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Pena Akhir Pekan: Sang Guru dan Secangkir Kopi

Jumat, 29 Juli 2011

Tobucil di akhir pekan kemarin kedatangan kelompok diskusi. Mereka mengadakan suatu bincang-bincang tentang buku yang baru saja ditulis oleh sejarawan AA, judulnya Sang Guru dan Secangkir Kopi. Buku tersebut merupakan tulisan yang diluaskan dari percakapan antara penulis dan salah satu sejarawan besar Indonesia, Onghokham. 



Onghokham (1933-2007) adalah sejarawan yang tidak banyak menulis buku. Hanya empat dan itu ditulis di masa tuanya (mulai tahun 2000-an). Namun setelah ia meninggal, banyak orang yang berinisiatif untuk menulis buku tentangnya, salah satunya AA ini. Dalam buku tersebut AA memaparkan pemikiran-pemikiran Ong tentang banyak hal, mulai dari revolusi Prancis, masyarakat Jawa serta pemerintahan Orde Baru. Tak jarang ia juga menyelipkan keeksentrikan sang guru di tengah-tengah pembahasan serius, sehingga membaca buku tersebut menjadi tak lelah dan hangat. Misalnya, kebiasaan Ong untuk meninggalkan AA tidur di tengah-tengah perbincangan tanpa pamit, atau jamuan makan malam yang ditutup dengan anggur.

AA mengemukakan bahwa cukup wajar jika Ong kurang dikenal oleh generasi muda sekarang, pertama oleh sebab minimnya karya buku yang ia tulis, yang kedua adalah faktor-faktor yang membuat ia agak didiskriminasikan oleh sejarah Indonesia. Diantaranya, menurut AA, adalah seksualitasnya (Ong seorang gay) dan ke-Tionghoa-annya. Padahal kemampuan Ong sangat mumpuni. Selain tajam dalam menganalisis, Ong juga dikatakan Mba Tarlen sebagai, "Pendongeng yang luar biasa. Membaca bukunya tidak seperti membaca buku sejarah yang seringkali kaku, tapi seperti membaca buku dongeng." Dalam bukunya, Ong sering memberi wejangan pada AA bahwa dalam menulis sejarah, harus ingat kata History. Penggal kata itu jadi His Story. Yang terpenting dari sejarah adalah manusia (His) dan harus ada unsur mendongeng (Story).

Meski yang hadir tak terlalu banyak, diskusi tentang Sang Guru dan Secangkir Kopi tetaplah hangat. Hadirin aktif bertanya. Bagaimanapun juga, dengan segala kontroversi, Ong tetap harum namanya. Penulis Goenawan Mohamad (GM) memuji kemampuan memasaknya seraya berkata, "Bagi Ong, sejarawan dan juru masak tiada beda: sama-sama mengolah dari detail, meracik dengan metode yang ajek, dan menutupnya dengan sentuhan personal." 

Diskusi di Tobucil tersebut sebenarnya berlangsung dua kali. Yang pertama jam empat hingga jam enam, yaitu tentang "Museum dan Reka Batas". Diskusi tersebut dipandu oleh Mbak Prathiwi dan Hafiz Amirrol yang menghadirkan AA sendiri dan Deddy Wahjudi. Isi perbincangannya sendiri adalah seputar museum dan kaitannya dengan arsitektur, ruang publik, dan fungsi-fungsi sosial. Diskusi tersebut diadakan oleh kelompok Pena Akhir Pekan (PAP). Rencananya mereka akan membuat secara berkala dengan topik yang berbeda-beda.

Syarif Maulana


Google Twitter FaceBook

Tuesday, July 26, 2011

Nge-PAP di @tobucil Membicarakan Museum dan Ong Hok Ham


Google Twitter FaceBook

Monday, July 25, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Menyambut Ramadhan dengan Musik Religi

Secara sederhana, religi diartikan sebagai sistem kepercayaan. Lebih dari itu, religi biasanya dikaitkan dengan "sistem kepercayaan yang ditujukan untuk membangun spiritualitas". Contoh kegiatan religi yang cukup besar yakni Bulan Ramadhan - yang akan disambut oleh umat Islam dalam beberapa hari lagi saja-. Di dalamnya terkandung seperangkat latihan untuk membangun spiritualitas, mulai dari puasa dan shalat malam bersama-sama. Atas dasar itu, -sehubungan dengan kedekatannya dengan Ramadhan- pertemuan KlabKlassik Edisi Playlist berikutnya akan bertemakan "musik religi" atau jika dimaknai secara bebas: "Musik yang kamu percayai telah berhasil membangun spiritualitasmu".

Pertemuan ini akan berlangsung hari Minggu, tanggal 31 Juli 2011 jam 14.30 sampai 17.30. Sistem kepercayaan edisi playlist ini masih sama, yaitu masing-masing orang membawa satu lagu "religi"-nya dalam flashdisk, yang nantinya akan didengarkan sama-sama lewat laptop dan speaker yang sudah disediakan oleh pihak kami. KlabKlassik Edisi Playlist ditujukan untuk membangun kesadaran apresiasi, lewat saling mendengarkan musik yang barangkali bukan yang disukainya. Acara ini rutin dipandu oleh dua komentator yaitu Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Pertemuan akan dilaksanakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Terbuka untuk umum dan gratis.


Google Twitter FaceBook

KlabKlassik di Rukustik #3

Sabtu, 23 Juli 2011

Malam Minggu itu, KlabKlassik mendapat kesempatan untuk bermain di luar "rumahnya" di Tobucil. Tempatnya masih semacam toko buku atau lebih tepatnya perpustakaan, namanya Rumah Buku. Terletak di Hegarmanah, KK bekerjasama dengan ITB Student Orchestra menyajikan pertunjukkan musik klasik. Pertunjukkan tersebut menjadi bagian dari acara yang disebut Rukustik. Setelah Rukustik #1 menghadirkan Efek Rumah Kaca dan Rukustik #2 menghadirkan Mimimintuno, KK dan ISO ini termasuk ke dalam jilid tiga.


Akibat macet yang terjadi di banyak ruas jalan protokol Kota Bandung, acara yang harusnya dimulai pukul tujuh ini mundur sekitar dua puluh menit. Yang menarik adalah, pertunjukkan tersebut tidak seperti konser musik klasik pada umumnya. Di concert hall, penonton hanya datang untuk menyaksikan performa si pemain. Sedangkan acara Rukustik kemarin, penonton diberi kesempatan untuk bertanya dan berdiskusi. Wajar jika tajuk besar acaranya itu sendiri menjadi Everything You Always Wanted to Know About Classical Music, but Were Affraid to Ask.

Acara dibuka oleh Ariani Darmawan alias Mbak Rani. Setelah itu tampil secara bergantian penampil dari KK maupun ISO. Keduanya menampilkan repertoar musik klasik yang terentang dari Era Renaisans hingga Era Romantik. Formatnya pun beragam, mulai dari solo gitar, duet gitar, ensembel gitar, duet biola, duet biola dan piano, hingga format mini chamber. Menurut pengakuan Budi Warsito alias Mas Budi, Rukustik kali ini tidak hingar seperti sebelumnya. Menimbulkan efek syahdu sekaligus "ngantuk".

Penampilan Ensembel Gitar KK alias Ririungan Gitar Bandung (RGB)

Acara menjadi cukup menarik ketika seluruh penampil menyajikan repertoarnya, diadakan sesi interaktif antara pemain, penonton, dan beberapa narasumber yang dihadirkan. Diskusi itu, secara garis besar berkaitan dengan peristilahan musik klasik itu sendiri. Bimo, seorang pemain biola, mengatakan bahwa musik klasik adalah musik yang lahir di Eropa Barat dan sekitarnya. Lalu Jazzy mengacu istilah klasik pada penamaan yang biasa dilakukan oleh ahli sejarah. Klasik biasanya mengacu pada periode antara 500 SM hingga 500 M. Ecko punya pendapat lain lagi, "Musik klasik bagi saya mengacu pada instrumentasi yang digunakan."

Diskusi menjadi cukup seru ketika Pak Tono, salah seorang penonton yang juga dosen apresiasi musik, mengatakan bahwa musik klasik adalah persoalan gramatika, atau yang Bilawa sebut dengan style. Artinya, di luar peristilahan dan upaya mendefinisikannya dalam bahasa, istilah musik klasik ternyata dikembalikan pada "pengalaman estetika" masing-masing pendengar. Orang yang rajin mendengarkan banyak musik, akan tahu mana yang klasik dan mana yang tidak. Meski demikian, tetap ada upaya menjelaskan dengan kata-kata, salah satunya datang dari Jazzy, bahwa classic jangan-jangan ada akar kata class. Class ini secara umum bisa diartikan bahwa musik klasik punya arah kepada musik yang memang berkelas, yang secara strata sosial hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang dari kelas tertentu.

Acara malam itu ditutup dalam ketidakjelasan tentang istilah musik klasik itu sendiri. Namun acara tersebut barangkali memang tidak ditujukan untuk mencari kesepahaman. Misi yang diemban adalah menghindari istilah musik klasik dipakai sembarangan untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Dengan adanya diskusi semacam demikian, diharapkan terdapat kesadaran bahwa istilah musik klasik itu sendiri ternyata tidak mudah dirumuskan, sehingga otomatis semestinya punya dampak untuk tidak mudah juga dalam digunakan. Seperti halnya kata "posmodernisme" atau "kontemporer" yang dahulu, sebelum menjadi bahan diskusi, boleh digunakan untuk apapun.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Penutup

Tanpa terasa, kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan yang merupakan angkatan kedua, memasuki pertemuan pamungkas. Pada pertemuan terakhir ini, tidak banyak yang dibahas kecuali beberapa kesan tentang tujuh pertemuan kebelakang yang membahas mulai dari Era Patristik, Filsafat Islam, hingga Embrio Filsafat Modern. 

Sekali lagi, seperti dibahas sebelum-sebelumnya, Abad Pertengahan adalah era sekitar 500 M hingga 1400 M. Dalam rentang waktu hampir seribu tahun itu, sebagian besar kawasan Eropa mengalami "mabuk agama". Kekristenan menjadi "tren" kala itu. Ajaran Yesus tersebut dirumuskan pada masa Patristik (sekitar 400-500 M) menjadi sebuah ajaran yang sistematik. Kredonya disusun, pun dogmanya, sehingga Kristen menjadi sebuah agama yang sanggup membela diri melawan filsafat Yunani -yang masa itu masih cukup kuat sebagai sisa-sisa peninggalan kekuasaan Romawi-.

Pada Era Skolastik, Kristen diajarkan secara sistematik di sekolah-sekolah. Hal ini punya pengaruh dari filsafat Aristoteles yang -ironisnya- masuk ke Eropa via kedatangan Islam dari Timur Tengah. Filsafat Aristoteles notabene pernah amat berkembang di Eropa bersamaan dengan kekaisaran Romawi dan zaman Hellenisme. Namun pada Abad Pertengahan, pemikiran tersebut "diusir". Filsafat Aristoteles ditampung oleh Islam dan mempunyai andil atas timbulnya -apa yang oleh banyak ahli sejarah disebut dengan- Golden Age of Islam. Lewat andil filsafat Aristoteles, lahir pemikir-pemikir progresif dalam dunia Islam seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd. Ketiganya bahkan menjadi acuan bangsa Eropa juga ketika Islam bersentuhan dengan Kristen baik lewat perdagangan maupun Perang Salib.  

Secara umum, posisi filsafat di Abad Pertengahan bisa dibilang tidak terlalu populer. Rasio digunakan untuk pembenaran bagi keimanan. Kalaupun ada pemikiran-pemikiran filosofis, kerap lahir dari gereja. Tokohnya antara lain St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas. Bagi kaum skeptik, bahkan disebutkan bahwa filsafat di Abad Pertengahan dibunuh oleh paham teosentrisme (Tuhan sebagai pusat). Meski demikian, hal tersebut tidak sepenuhnya benar karena bagaimanapun Abad Pertengahan tidak hanya berpusat di Barat. Belahan bumi lain seperti Timur Tengah, Cina, Jepang dan India di periode yang nyaris bersamaan justru menemukan masa keemasan dalam filsafatnya.

Rentang panjang Abad Pertengahan akhirnya tergantikan oleh Era Modern yang dipicu oleh berbagai faktor. Misalnya borok yang dikandung Abad Pertengahan itu sendiri, seperti otoritas gereja yang melampaui batas. Mundurnya Abad Pertengahan juga punya andil faktor eksternal seperti digalinya kembali teks-teks Yunani kuno secara serius, sehingga Eropa mengalami suatu kerinduan terhadap kebebasan berpikir. Teosentrisme berganti menjadi antroposentrisme yang berpusat pada manusia. Era Modern ditandai awal mulanya dengan Era Renaisans.

Demikian penggalan delapan pertemuan Kajian Abad Pertengahan. Menghasilkan beberapa poin-poin penting yang diharapkan mampu memicu kesadaran tentang betapa periode ini di wilayah Eropa sering disebut kelam oleh para sejarawan, namun di sisi lain adalah periode keemasan bagi peradaban lain. Sekali lagi, Kelas Filsafat untuk Pemula mengajak peserta untuk menengok alur sejarah dari berbagai sisi. Tidak semata-mata linear, tidak semata-mata pro-sejarah Barat. Sejarah adalah konstruksi, juga gramafon besar dimana bangsa-bangsa berbicara satu sama lain. Mengapa harus mendengarkan satu suara saja?

Sampai jumpa di angkatan berikutnya!

Syarif Maulana

Google Twitter FaceBook

Sunday, July 17, 2011

Persembahan dari AAS: Let's Play Violin 2!

Ammy Alternative Strings (AAS) bukanlah nama baru di antara kegiatan Tobucil. Tercatat sudah dua kali AAS tampil di beranda. Pertama ketika gelaran Musik Sore Tobucil, yang kedua adalah baru-baru kemarin ini, Crafty Days #5. Kang Ammy Kurniawan sebagai penggagas AAS itu sendiri, pernah mengadakan workshop bermain biola di Tobucil.

 Penampilan AAS di Tobucil kala Crafty Days #5

Hari Minggu, 17 Juli kemarin, AAS mengadakan home concert-nya yang kedua. Setelah sukses digelar tanggal 23 Desember tahun 2009 dengan tajuk Let's Play Violin, AAS mengadakan edisi sekuelnya dengan judul Let's Play Violin 2. Berbeda dengan jilid satu yang diselenggarakan di Auditorium CCF, AAS kali ini bermain di Bumi Sangkuriang. Seperti biasa, AAS tampil dengan format anak-anak didik Kang Ammy yang seluruhnya bermain biola, diiringi oleh band, termasuk oleh Kang Ammy sendiri yang juga fasih dengan gitar.

Konser ini dibuka dengan penampilan solo Ilham Akbar yang membawakan lagu Indonesia Raya. Penonton berdiri dan ikut menyanyi, sehingga suasana menjadi cukup khusyuk. Tema Let's Play Violin 2 ini adalah memasyarakatkan lagu-lagu daerah. Kata Kang Ammy, "Harusnya sebelum orang mencari ke luar, gali dulu apa yang ada di negeri sendiri." Lagu-lagu daerah itu sendiri dibawakan dalam format medley. Misalnya, ada Java Medley, isinya mencakup lagu tradisional Jawa seperti Cingcangkeling dan Tanduk Majeng. Demikian ada juga Sulawesi Medley, Kalimantan Medley, meskipun ada juga lagu yang tampil "sendiri" seperti Janger dan Yamko Rambe Yamko. Seperti biasa, kang Ammy juga selalu menyelipkan lagu ciptaan sendiri seperti Kupu-Kupu Kecil, Duo Etude, dan Rose for You.

Kang Ammy sukses mengemas pertunjukkan AAS ini menjadi atraktif. Yang digali tidak cuma harmoni dan kekompakan musikal, tapi juga penampilan visual. Meskipun relatif sederhana, namun terlihat jelas bahwa Kang Ammy mengorganisasi beberapa koreografi. Ini menjadi nilai plus ketika instrumen biola secara stereotip sering dikaitkan sebagai alat musik yang dimainkan dengan duduk dan membaca partitur. Kang Ammy secara berani mengacaukan imej tentang instrumen biola dengan membawanya berlari, menari, dan melenggak-lenggok.
 Duet Kang Ammy dan Bimo di Let's Play Violin 2.
Photoshot by Dadan Oldskull

Kang Ammy Kurniawan adalah musisi yang cukup aktif tidak hanya di blantika musik Bandung tapi juga nasional. Ia sering mengisi rekaman dan menjadi additional player untuk band seperti Nidji, Mocca, Ari Lasso, dan Hijau Daun. Ammy juga pernah menjadi bagian dari Violin All-Star yang tampil di RCTI bersama Henri Lamiri, Didit, dan Oni. Bandnya, 4 Peniti, cukup aktif dan dikenal. Sudah mengeluarkan satu album dan reguler tampil di Jakarta International Java Jazz Festival. Meski demikian, dari seluruh aktivitas musiknya, ia mempunyai tendensi untuk melabuhkan hatinya di bidang pengajaran dan komposisi. Terbukti dari kegiatan mengajarnya di Jalan Progo nomor 15 yang semakin berkembang serta produktivitasnya yang tinggi dalam menulis karya baru.

Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Embrio Filsafat Modern

Berbanding lurus dengan pertemuan yang hampir mencapai ujung, tema kajian Abad Pertengahan juga memasuki akhir dari jamannya. Topik kali ini adalah 'embrio filsafat modern', atau bisa dibilang, yang dibahas adalah berakhirnya Abad Pertengahan dan mulai memasuki Renaisans. Renaisans (kira-kira abad ke-14) sendiri dikategorikan sebagai awal mula filsafat modern yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Teosentris digantikan oleh antroposentris. Artinya Tuhan sebagai pusat digantikan oleh manusia sebagai pusat.
  • Perkembangan sains yang pesat oleh sebab motivasi manusia untuk menaklukkan alam.
  • Penjelajahan laut menjadi marak (Age of Discoveries) dengan latar belakang gold, gospel, dan glory. Penjelajahan ini juga berujung pada kolonialisasi yang ada hubungannya dengan penemuan mesiu. 
  • Adanya reformasi pada gereja yang berujung pada lahirnya Prostestanisme oleh Martin Luther dan John Calvin.
Perubahan era ini bukan tanpa sebab. Abad Pertengahan itu sendiri menciptakan penyakit yang lambat laun membunuh dirinya sendiri:
  • Adanya jual beli surat pengakuan dosa dari oknum-oknum yang mengatasnamakan gereja. Makin mahal surat yang dibeli, makin besar juga kemungkinan dosa diampuni.
  • Sempat terjadi adanya dua Paus (kepala gereja Katolik) dalam waktu yang bersamaan. Lengkapnya baca di sini.
  • Alkitab dan pengetahuan-pengetahuan teologis tidak mempunyai akses langsung terhadap masyarakat karena penggunaan bahasa Latin.
  • Adanya otoritas mutlak dari pihak gereja termasuk pada urusan sains.
Faktor-faktor tersebut merupakan dorongan internal. Adapun dorongan eksternalnya berasal dari dipelajarinya kembali teks-teks filsafat Yunani dan Romawi yang sebagian besar dibawa oleh Islam. Kebebasan berpikir ala Yunani ini mendasari timbulnya kemandirian nalar yang dirayakan oleh Renaisans. Ini menjadi maklum karena Abad Pertengahan adalah era yang cukup mempersenjatai diri dari serangan filsafat Yunani yang notabene sanggup memporakporandakan bangunan kekristenan. 

Dengan era Renaisans ini, fajar pemikiran di daratan Eropa merekah menyongsong jaman baru. Jaman yang melahirkan ideologi-ideologi besar semisal Kapitalisme dan Marxisme, juga konsep nasionalisme seperti di era Romantik, revolusi Prancis yang menggulingkan monarki absolut, termasuk mimpi buruk seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II.

Setiap perubahan jaman selalu merupakan respon atas apa yang terjadi pada manusia. Sekelompok pemikir (baca: filsuf) bertugas untuk membaca jaman dari kejauhan, melihat sendi-sendi persoalan dan kemudian pelan-pelan mengajak orang-orang untuk melakukan perubahan.

Google Twitter FaceBook

Monday, July 11, 2011

Bedah Buku 'Setelah Marxisme' dari Donny Gahral Adian

Sabtu, 9 Juli 2011

Donny Gahral Adian (kanan berbaju putih), Tamrin Amal Tamagola (sebelah kanan Donny), dan Yasraf Amir Piliang (sebelah kanan Tamrin), dalam bedah buku 'Setelah Marxisme'


Sabtu sore itu, ada kumpul-kumpul di Tobucil. Tujuannya adalah membahas sebuah buku yang baru diterbitkan, judulnya 'Setelah Marxisme', ditulis oleh Donny Gahral Adian. Pengajar filsafat di UI tersebut adalah penulis yang cukup produktif, beberapa buku yang ia tulis diantaranya 'Percik Pemikiran Kontemporer' dan 'Fenomenologi'. Bedah buku itu sendiri menghadirkan dua komentator yang cukup kompeten, yaitu sosiolog dari UI, Tamrin Amal Tamagola dan pengajar dari ITB, Yasraf Amir Piliang. Bertindak sebagai moderator adalah koordinator Madrasah Falsafah, Rosihan Fahmi.

Moderator membuka acara dengan mendengarkan komentar-komentar dari Pak Tamrin maupun Pak Yasraf yang sudah diberi kesempatan untuk membaca buku itu terlebih dahulu. Apa yang dikatakan baik oleh Pak Tamrin maupun Pak Yasraf, ternyata didominasi oleh kritik. Menurut Pak Tamrin, sasaran dari pembaca mesti dirumuskan. Jika pembaca adalah pemula, maka bahasanya terlalu sulit. Selain itu, Donny juga dianggap kurang berhasil mengambil benang merah antara satu pemikiran dengan pemikiran lain. "Seperti akordeon," kata Pak Tamrin, "Donny menekan, tapi lupa meregangkan kembali."

Lain lagi dengan Pak Yasraf, awal mula ia langsung mengritik tentang penggunaan kata "Setelah" dalam buku tersebut. Apakah setelah ini dalam bahasa Inggrisnya disebut "Post", "Beyond", atau "After"? Ketiganya memiliki arti yang berbeda. Jika yang digunakan adalah Post misalnya, maka artinya memang setelah, namun lebih mengarah kepada kritik terhadap yang sebelumnya. Sama halnya dengan Pak Tamrin, Pak Yasraf juga mengritik buku ini tidak mempunyai benang merah antara pemikiran yang satu dengan pemikiran lainnnya. 

Donny kemudian memulai "pembelaannya" dengan meminta maaf. Ia menjelaskan bahwa memang awal mula pembuatan buku itu adalah semacam kompilasi dari materi kuliah yang ia berikan pada mahasiswa S1 nya yang sudah memasuki semestar enam atau tujuh. Akibatnya, Donny mengakui bahwa pemula yang membaca buku itu akan bingung, terutama yang sangat awam. Misalnya, dalam buku tersebut Donny menjelaskan tentang pemikiran Antonio Gramsci tentang hegemoni. Kemudian ia juga menjelaskan tentang bagaimana cara Gramsci melakukan counter terhadap hegemoni, yaitu melalui intelektual organik. Intelektual organik itu sendiri tidak dijelaskan seperti apa, dan tidak diceritakan bedanya dengan intelektual tradisional. Meski demikian, Donny, di penutup forumnya meyakini bahwa bukunya ini adalah buku tentang Marxisme yang mempunyai daya gedor yang dahsyat.

Buku 'Setelah Marxisme' ini diterbitkan oleh Penerbit Koekoesan. Isinya adalah sejumlah teori ideologi kontemporer dari Marx, Gramsci, Lukacs, Habermas, Barthes, Adorno, Althusser, Zizek, dan Eagleton. Dapat diperoleh di Tobucil dengan harga Rp. 30.000.

Google Twitter FaceBook

Filsafat untuk Pemula: Bangkitnya Filsafat Islam

Selasa, 5 Juli 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula sedikit lagi menemui puncaknya. Memasuki pertemuan keenam dari total delapan, kali ini yang menjadi bahasan adalah filsafat Islam.

Filsafat Islam menemui puncaknya di Abad Pertengahan. Penyebabnya antara lain, masuknya filsafat Aristoteles pada peradabannya. Pemikiran Aristoteles memicu kemajuan pesat di bidang sains dan ilmu pengetahuan. Namun yang menjadi bahasan, adalah adanya faktor internal dalam diri Islam sendiri yang bisa mendorong majunya filsafat. 

Penyebabnya adalah Al-Qur'an itu sendiri. Al-Qur'an kadang-kadang memuat ayat yang kontradiksi satu sama lain. Misalnya, ada ayat yang menyebutkan tentang takdir kita sudah diatur dari alam sebelumnya (tertulis dalam kita Lauh Mahfuz). Tapi di sisi lain, ada ayat yang menyebutkan bahwa kita juga menentukan nasib kita sendiri. Ini tentu saja bertentangan. Al-Qur'an juga memiliki beberapa muatan kata atau kalimat yang ambigu, yang maknanya tidak ajeg. Contoh paling sering adalah adanya kata qur'u dalam Al-Qur'an, yang mana Abdullah bin Mas'ud dan Zaid bin Tsabit (keduanya sahabat Nabi) bertentangan mengenai artinya. yang satu mengatakan qur'u artinya haid, satu lagi bersuci.

Jika Allah menghendaki, tentunya bisa saja qur'u ini diartikan secara gamblang dalam Al-Qur'an itu sendiri. Namun Allah memilih tidak, seolah-olah memang perbedaan pandangan adalah sesuatu yang Ia kehendaki. Maka dari itu, Al-Qur'an dengan segala ambiguitas bahasanya, mengundang umat untuk memaksimalkan nalarnya untuk menginterpretasikan isi. Itulah yang menjadi cikal bakal mengapa Islam juga punya kandungan filosofi.

Pembahasan masuk ke dalam para sufi, yaitu orang-orang yang secara khusus menggeluti filosofi dalam Islam. Contoh sufi-sufi besar antara Jalaluddin Rumi, Al-Hallaj, dan Rabi'ah Al-Adawiyah. Mereka mengupayakan masuk ke inti semangat dari Islam itu sendiri. Memang, beberapa diantaranya mengundang kontroversi, seperti misalnya Al-Hallaj yang mengatakan Ana Al-Haqq atau 'Akulah kebenaran'. Menyebabkan ia dihukum mati. Namun lebih jauh dari itu, sufi adalah kelompok orang yang tidak terpaku pada hukum-hukum Islam yang sudah pasti mengundang perdebatan. Mereka mengetahui bahwa berbicara mengenai syari'at pasti tidak ada habisnya dan malah memperuncing perbedaan. Sufi melihat Islam dari sudut pandang yang lebih holistik. Bahwa Islam mengajarkan cinta, dan cinta ini adalah sarana satu-satunya mencapai sang khalik. 

Syarif Maulana

Tarian Darwis, digagas oleh Jalaluddin Rumi sebagai sarana penyatuan dengan Yang Khalik. Gambar diambil dari sini.
Google Twitter FaceBook

Wednesday, July 6, 2011

Diskusi Buku: Setelah Marxisme


Dengan hormat mengundang kehadiran kawan-kawan pada diskusi buku "Setelah Marxisme" (Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer) karya Donny Gahral Adian. Sabtu, 9 Juli 2011, 14.30 WIB-selesai TOBUCIL, Jl. Aceh No. 56 Bandung Pembicara: Tam...rin Amal Tamagola (Sosiolog UI ) Yasraf Amir Piliang (Pengajar & Peneliti Budaya Visual FSRD ITB) Moderator: Rosihan Fahmi Terbuka untuk umum.
Google Twitter FaceBook

@else_press Present: Fully Booked, Featuring @tobucil & @vitarlenology


Fully booked
Museum of Ourselves


Thursday-Friday
July 7-8, 2011
_

Bumi Sangkuriang.
Concordia Terrace & Garden
Jl. Kiputih no. 12 Bandung
_

Programs:
- Zine Cooking: Fully booked #00 Museum Glossary
- Photography Showcase: Muhammad Asranur, Andrys Adisyahwarman, Happen Sk8Magazine
- Children Books Illustration: Emte, Ykha Amelz, Ella Elviana, EorG, Lidia Puspita
- Book Launch: TURIYA, by Maradilla Syachridar -featuring Dike Wicaksono & Theoresia Rhumte
- Talks: Soeria Disastra, Nareend/Happen Sk8Magazine, Maradilla, Tobucil, Omuniuum, Else-Press, and more
- Surfboard Shaping: Lucas and Sons Tailormade Surfboards
_

Music & Tunes:
Sarasvati • Sir Dandy • Katjie Piering • Anto Arief
Egga • Hendra RNRM • Marah • Hazawude • Luks • Marin
_

NO ADMISSION FEE
DONATE BOOKS FOR YOUR TICKETS IN !
_

Organized by:
A.C.E

Supported by:
Develop • Gusto • Else-Press • Unkl347 • Lucas and Sons Surfboards • Tobucil • Omuniuum • Happen Sk8Magazine
_

‘Museum of Ourselves’

Pada dasarnya membuat buku hampir sama dengan tujuan berdirinya museum, yaitu membekukan sebuah momen, sebuah ide, pengetahuan, atau kisah, agar tercatatkan dan dapat dimaknai lagi oleh orang lain yang membacanya. Oleh sebab itu, tema eksibisi kali ini menyoroti kesempatan yang sesungguhnya dimiliki oleh semua orang untuk membuat museum sendiri, bagi dirinya secara individu maupun secara kolektif bersama dengan komunitasnya, dengan cara membuat buku.

Salah satu cara termudah yg kini dapat dilakukan adalah menerbitkannya sendiri tanpa bergantung pada persetujuan banyak pihak. Dengan semakin dekatnya jarak antara konsumen dan produsen (baca:printing company), maka banyak proses yang dahulu mesti dijembatani oleh penerbit dapat dipotong langsung oleh para penulis/penyusun buku. Masyarakat dapat bebas menyampaikan opininya tanpa sensor penerbit, melempar ide, bahkan membuang sampah dalam buku yang mereka terbitkan sendiri.

Namun, apa dampaknya terhadap kualitas materi bacaan yang dihasilkan? Apa bedanya buku yang diluncurkan sendiri dengan melalui institusi penerbitan? Bagaimana nasib para penerbit, baik yang besar maupun yang kecil, dengan maraknya fenomena self-publishing?

Eksibisi “Fully Booked -Museum of Ourselves” ini berusaha untuk merepresentasikan kesempatan setiap individu untuk melahirkan karya reproduski cetak berupa buku, dibalik carut marutnya dunia penerbitan, khususnya penerbit kecil/small presses, yang banyak terombang-ambing karena tarik-menarik antara idealisme dan pasar.

Pengunjung di acara ini akan diajak berkenalan dengan bermacam praktisi yang sudah biasa berkecimpung di dunia buku, dan berdiskusi langsung dengan mereka. Bahkan, ada ‘zine cooking demo’ di mana audiens diminta untuk berpartisipasi ‘memasak’ buku, sehingga akan pulang membawa zine buatannya sendiri. Publik tidak dikenakan biaya untuk masuk ke acara ini, namun diminta untuk membawa buku bekas yang kelak akan didonasikan kepada mereka yang lebih membutuhkannya.
Google Twitter FaceBook

Monday, July 4, 2011

Filsafat untuk Pemula: Masa Skolastik

Selasa, 28 Juni 2011

Kelas Filsafat untuk Pemula Kajian Abad Pertengahan memasuki pembahasan mengenai situasi puncak Abad Pertengahan. Bagaimana sebuah jaman disebut mengalami masa puncak? Yaitu ketika  dia mengalami suatu keorisinalitas yang membedakan dirinya dari jaman-jaman lain. Karena suatu jaman pasti pernah mengalami masa transisi yang mempunyai sisa-sisa pengaruh dari jaman sebelumnya. Periode puncak Abad Pertengahan adalah ketika marak dibangun akademi-akademi di hampir seluruh daratan Eropa yang isinya mengajarkan doktrin, teologi, dan apologi (argumentasi untuk membela agama Kristen).

 Lukisan Abad Pertengahan tentang suasana sekolah di era Skolastik. Gambar diambil dari sini.

Periode puncak ini juga ditandai dengan masuknya filsafat Aristoteles yang sempat runtuh bersamaan dengan runtuhnya Romawi oleh kaum Barbar. Filsafat Aristoteles ternyata sukses dan berkembang di wilayah kekuasaan Islam dan menjadi cikal bakal lahirnya banyak saintis Islam seperti Ibnu Sina (Avicenna) dan Ibnu Rusyd (Averroes). Lewat perang Salib dan jalur perdagangan, dunia Islam dan Kristen Eropa terhubungkan dan maka itu pemikiran Aristoteles bisa masuk juga. 

Berbeda dengan filsafat Plato yang "mengawang-ngawang" karena kerap membahas tentang dunia ide, pemikiran Aristoteles lebih "membumi" dan eksistensial. Aristoteles menyatakan bahwa masing-masing makhluk di dunia mempunyai ciri-ciri yang membedakan satu sama lain. Ia mengklasifikasikannya, dan lebih daripada itu, Aristoteles juga mengklasifikasikan berbagai ilmu-ilmu sehingga menjadi multidisiplin. Hal tersebut berperan penting pada perkembangan sains karena pemilahan itu punya efek terhadap spesialisasi dan pendalaman. Selain itu, Aristoteles juga menjadi orang yang pertama kali merumuskan logika beserta penalaran dan premis-premisnya. Filsafat Aristoteles menjadi hal yang krusial pada masa Skolastik dan diajarkan di sekolah-sekolah.

Masa puncak abad pertengahan juga tidak mungkin dilepaskan dari nama Thomas Aquinas. Lewat bukunya, Summa Theologiae, Aquinas dengan lengkap memberikan fondasi teologi disertai penalaran yang kuat. Salah satu pemikiran Aquinas yang terkenal adalah via negativa. Menurutnya, Tuhan lebih baik dirumuskan dengan kata "bukan" daripada "adalah". Misal: Tuhan itu bukan manusia, bukan binatang, bukan tanaman, bukan malaikat, dan bukan iblis. Ketimbang Tuhan adalah cinta. Reduksi via negativa jauh akan lebih mengena pada definisi Tuhan itu sendiri.

Pada akhirnya, masa puncak juga tidak selalu mengandung muatan positif. Selalu ada di dalamnya muatan-muatan antitesis yang nantinya menggerogoti dari dalam dan menyebabkan jatuhnya suatu masa keemasan. Oknum gereja yang korup dan menjual surat penebusan dosa berlangsung pada fase ini, termasuk ketika gereja Katolik dipimpin oleh dua hingga tiga Paus sekaligus oleh sebab kekacauan kekuasaan.


Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin