Sunday, January 18, 2009

Perjalanan Mandi Matahari

Mari berjalan-jalan menyusuri kota Bandung bersama Andika Budiman …

Ketika berjalan kaki sepulang Sholat Jum'at, saya menyadari langit hari ini sangat cerah. Di halaman rumah, saya mendapati jemuran yang kering semua. Setelah melewati hari-hari liburan dengan banyak menonton DVD, banyak membaca buku, dan sedikit melakukan yang lainnya, saya tergoda untuk pergi dan bermandi sinar matahari. Sekalipun selanjutnya kesibukan browsing situs gosip dan mengunduh lagu memaku tubuh saya di depan komputer sampai jam empat sore, dan terik matahari telah digantikan sekumpulan awan abu-abu, saya tetap maju dengan keputusan mengeksekusi rencana mandi matahari.

Sarang laba-laba dan bulu-bulu kucing yang melekat pada motor bebek lungsuran dari kakak pun saya bersihkan. Mesin motornya, saya panaskan. Demi menambah kadar tantangan dalam jalan-jalan kali ini, saya menetapkan beberapa aturan: 1. Tidak boleh berhenti di tempat yang menyediakan banyak buku dan DVD; 2. Dilarang berhenti di manapun yang bukan tempat outdoor. Singkatnya, tujuan dari perjalanan ini adalah tidak ada tujuan. Selain aturan-aturan tersebut, saya juga meniatkan akan melintasi jalan-jalan kota yang asing bagi saya sebagaimana melakukan fact-checking atas cerpen-cerpen saya yang berlatarkan Bandung.


Perjalanan pun dimulai. Berbekal dua liter bensin, mau tak mau saya harus menyusuri Jalan A. H. Nasution. Sambil berkendara saya mendengarkan lagu-lagu yang baru saja diunduh, lagu-lagunya Vivian Girls. Kontan garage rock, raungan vokal perempuan, dan sedikit shoegaze mungkin, menginvasi kedua telinga. Setelah terbiasa dengan bunyi-bunyi itu, saya mulai memerhatikan jalan. Gerimis kecil mulai terasa ketika saya sampai di depan LP Sukamiskin. Kecuali kepadatan di pertigaan Cicaheum, di mana kadang-kadang badan bus menutupi jalan bagi kendaraan yang ingin melaju ke Jalan Hasan Mustapa, arus lalu lintas di daerah ini relatif lancar.


Berhubung gerimis, motor cenderung saya kemudikan di jalan raya yang dinaungi pepohonan rindang. Ketika sampai di ujung Jalan Surapati, saya belok kiri dua kali dan menyusuri Jalan Diponegoro dan Jalan Supratman. Bunyi-bunyi di telinga berhenti. Saya kembali mendengarkan lagu, kali ini lebih folk dan menenangkan: album Michigan-nya Sufjan Stevens. Selain pohon-pohon yang rimbun dan godaan Toko Buku Togamas, Cargo Factory Outlet menarik perhatian saya. Sore ini, untuk menghindari hasrat mampir ke sana dan ke sini, saya berpakaian sekenanya saja. Kaos FCUK cokelat palsu yang biasa dipakai tidur, jaket biru lungsuran kakak, Levi's 505 warna khaki, dan sendal jepit hitam. Levi’s-nya istimewa. Celana jeans yang dibeli di Babe itu berlingkar pinggang 30. Ia dibeli saat saya merasa celana jeans yang berlingkar pinggang 28 tak mampu lagi menerima saya apa adanya. Walaupun gejala typhus kembali membuat celana-28 muat di pinggang, celana khaki itu tetap menjadi andalan saya karena konsisten memberikan kenyamanan.


Jalan Supratman yang teduh


Intensitas gerimis meninggi ketika saya sampai menjelang perempatan Jalan Merdeka. Di sebelah restoran Popeyes saya menemukan Banner Store, entah sudah berapa lama toko itu ada di sana. Ada yang tahu bagaimana cara kerja Banner Store ini? Toko ini sangat eye-catching. Warna-warnanya hangat, tetapi modern. Saya melantur memikirkan obsesi saya: film Milk. Milk adalah biopik tentang Harvey Milk, politikus pertama di Amerika Serikat yang open homosexual. Selain tema yang menarik, akting Sean Penn yang mendapat Oscar buzz, dan Gus Van Sant sebagai sutradara; bonus dari film ini adalah aktor mana yang memerankan Scott Smith, pasangan hidup slash manajer kampanye Harvey Milk. Smith diperankan aktor super ganteng James Franco! Inilah obsesi yang sebenarnya. Kenyataan bahwa Franco memerankan manajer kampanye serta merta membuat saya tertarik pada masalah per-banner-an.


Banner Store

Saya sempat melintasi Jalan Merdeka, melirik bangunan megah Sekolah Santa Angela, dan bangunan SD Banjarsari yang kini berbeda dengan semasa saya sekolah di sana dulu. Saya berbelok ke Jalan Jawa, memandang bangunan mencolok ABN-AMRO Bank yang sekarang berubah nama jadi RBS. Melewati SMP 5, berbelok di Jalan Kalimantan, melewati SMA 3 dan 5, lalu melewati Taman Lalu Lintas.


Bangunan SD Negeri Banjarsari yang mewah untuk ukuran sekolah negeri



Memiliki orangtua bankir, saya sempat bercita-cita bekerja di ABN-AMRO Bank


Secuil Taman Lalu Lintas


Saya melamun dan baru tersadar ketika sudah di Jalan Purnawarman yang lama tidak dilewati. Ketika SD saya rutin ke sana mengikuti bimbingan belajar di Ganesha Operation. Jalan Purnawarman berakhir di dekat kampus Unisba. Saya lantas belok kiri dan menemukan

Bersambung …

Andika Budiman tinggal di Bandung sejak kelas 1 SD. Ia mulai menggunakan angkutan kota pada kelas 3 SD, dan mulai rutin menggunakan motor sejak menjadi mahasiswa tingkat 1. Andika senang berjalan kaki sore-sore di kawasan permukiman yang sudah agak tua. Sejauh ini jalanan favoritnya di Bandung antara lain Jalan Pagergunung, Jalan Hegarmanah, Jalan Cipunagara, Jalan Progo, dll.




Google Twitter FaceBook

0 komentar:

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin