Showing posts with label Kabar Klabs. Show all posts
Showing posts with label Kabar Klabs. Show all posts

2.6.15

Berani Bicara Lewat Bunga Mimpi



Cara duduk Ulfah Elfani tidak setenang biasanya. Mahasiswi UNISBA itu lebih banyak bergerak. Kue kering yang dia beli sebelum bergabung dengan rekan kelas Public Speakingnya langsung ludes sebelum ujian mulai. Ulfah hanya bisa tertawa gugup saat Theoresia Rumthe menyebut namanya untuk mempresentasikan tugas akhirnya.

Ulfah langsung memposisikan dirinya di hadapan teman-teman dan tiga orang juri yang siap menghakimi caranya berbicara di depan umum. Dengan suara menggelegar, dia menceritakan bunga tidur yang paling diingatnya.

Sore itu, Ulfah bercerita tentang kondisinya yang merasa tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kehidupan nyata. Dia baru menyadari hidup dalam mimpi saat kesulitan menggerakkan ponsel dalam genggamannya. Saat dia pandangi, ponsel itu juga tidak serata aslinya.

“Di sana saya merasa harus bangun, tapi agak kesulitan. Akhirnya malah jadi ereup-eureup,” katanya. Gadis kelahiran 20 tahun lalu itu pun membandingkan mimpinya dengan film Inception. Film Hollywood yang dimainkan oleh bintang film Titanic, Leonardo Di’Caprio  itu menceritakan mimpi di dalam mimpi. Sang sutradara, Chirstopher Nolan membuat para pemerannya mampu menciptakan mimpinya sendiri, hingga masuk ke mimpi orang lain. Lewat Inception, dia membuat para penontonnya terhibur sekaligus mengerutkan kening saat melihat adegan demi adegan yang jauh dari nalar.

Sambil menceritakan bunga mimpinya, Ulfah tak berhenti menggerakkan tangannya. Seolah dia sedang berusaha menyingkirkan kegugupannya. Dia juga sesekali berhenti untuk mengingat apa yang akan selanjutnya dia ungkapkan di depan peserta kelas lain.

Meski begitu, paling tidak sekarang Ulfah bisa bicara di hadapan banyak orang lebih lancar daripada sebelum dia mengikuti kelas Public Speaking. Ulfah mengaku punya krisis kepercayaan diri, terutama jika harus berbicara.

Itulah salah satu alasan yang membuatnya nekad mendaftarkan diri di kelas bimbingan Theo. Selain dia mengaku sebagai fans nya Theo, Ulfah juga mengatakan kalau selama ini dia masih kebingungan menemukan minatnya. Dengan mengikuti kelas yang hadir dua kali dalam satu minggu di Tobucil and Klabs itu, gadis asal Purwakarta itu berharap bisa menemukan hal yang dia minati.

Sebagai mentor, Theo tidak banyak mengajari semua peserta kelasnya. Selama tiga dari tujuh pertemuan, Theo hanya membagikan beberapa teknik dasar cara berbicara di depan umum. Dia lebih banyak mendorong para peserta untuk lebih aktif berbicara lewat berbagai tugas. Theo berusaha mengubah kebiasaan bicara para peserta kelasnya, menggenjot semangat peserta kelasnya untuk berbicara lebih lugas dengan memainkan nada, mimik wajah, posisi, dan gerak tubuh. Memang, hal tersulit dari kelas Public Speaking adalah mengubah kebiasaan.

“Delapan kali pertemuan memang kurang maksimal, itu makanya saya selalu meminta mereka berlatih di rumah. Kuncinya memang berlatih mengubah kebiasaan sepanjang hidup,” ujar Theo.

Ulfah bukan satu-satunya peserta kelas berusaha keras mengubah cara bicaranya. Inne Anastasia, Tani Indira Dewania, Erick Adyowibowo Soemantri, dan Muhammad Sabil adalah empat peserta lain yang selalu setia datang ke Tobucil and Klabs setiap Selasa dan Jumat sore, berusaha keras supaya bisa berbicara lebih baik. Meski belum selancar dan semenarik para MC kondang, mereka sudah berani tampil “cuap-cuap” di depan umum.

Kelas Public Speaking ke-16 baru selesai dan Theoresia Rumthe sedang mempersiapkan kelas selanjutnya. Nah, buat yang tertarik mengikuti jejak Ulfah, Inne, Erick, Sabil, dan Tani, siap-siap ya! 




Google Twitter FaceBook

16.3.14

Satu Bulan Sekali ber-CRAFTPARTY!!!


Berawal dari kegiatan saling tukar kado antara para crafter, maka timbulah ide untuk mengembangkan pertukaran kado tersebut menjadi sesuatu yang bermakna. Tidak hanya sekedar mendapatkan kado yang berupa barang jadi, tapi juga saling berbagi pengetahuan sederhana dalam berkreasi.


Pesta pertama dimulai bulan ini yaitu Maret 2014 tepat hari Sabtu tanggal 15. Tema pertama adalah Friendship-Bracelets. Yup, membuat gelang persahabatan dari jalitan benang dengan pattern yang dapat dipilih sesuka hati di sini. Cocok sekali bukan. Sama seperti CRAFTPARTY ini, semoga saja dengan saling berbagi pengetahuan baru, bisa terjalin persahabatan yang erat dalam berkreasi. J





Siap-siap untuk tema bulan April teman-teman; Daur Ulang di hari Bumi! Siapapun yang berminat silakan hadir ke Tobucil and Klabs, jalan Aceh 56, informasi lebih lanjut hubungi 022-4261548. Silakan bawa ide proyek daur ulangmu sendiri! Lets go Craft Party!

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

22.2.14

Step By Step Menuju Final Project!

Seperti di angkatan-angkatan sebelumnya, pada akhir silabus pertemuan selalu akan ada final project. Sebuah karya agung hasil pembelajaran dari seluruh pertemuan dan kemudian di sidangkan sebagai pertanggung-jawaban. Proses sidang karya nantinya tidak akan terpaku kepada hasil, tetapi juga proses kreatif selama karya tersebut dibuat. Dimulai dari latar belakang pemilihan topik, proses pengumpulan data, riset, dan aspek lainnya.



Setelah menempuh tujuh angkatan, kelas menulis feature angkatan kedelapan kali ini lebih diawasi secara ketat oleh sang mentor Adi dalam melangkah menuju final. Belajar dari angkatan sebelumnya, angkatan kedelapan ini sudah memulai fokus pada final project di pertemuan ke enam. Dimulai dari mengangkat tema atau topik karya, lalu di uraikan secara terbuka baik oleh teman-teman peserta kelas maupun oleh sang mentor.

Sugi memilih topik yang langsung fokus, satu titik, dengan satu masalah inti yang diangkat dalam berbagai sisi dan sudut pandang penulisan. Ia memilih topik ‘nelayan sampah sungai citarum’. Sedangkan Bobi memilih ‘underground dan saparua’ menurut Adi, topik yang Bobi pilih masih terlalu luas, pengekerucutan fokus pada topiknya masih diperlukan dalam pertemuan ini. Dengan metode sederhana yang tokcer Adi menuliskan topik pilihan Bobi pada selembar kertas kemudian menggambar peta pikiran dari topik tersebut. Teman-teman peserta lain membantu Bobi dalam menemukan fokus yang akan diangkat nantinya.

Lain Sugi, lain Bobi, lain pula ketiga perserta cantik ini, Ratna, Meitha, dan Langit. Mereka memilih tema besar dari kesastraan namun dengan pemilihan topik yang berlainan sama sekali. Meitha pada mulanya ingin mengangkat sebuah resort indah di Bali namun urung karena setelah ditelaah hanya bisa menghasilkan sedikit sekali fokus yang menarik. Ia akhirnya memilih topik seorang penulis sastra wangi ‘Djenar Maesa Ayu’ untuk projectnya. Masih tentang sastra, perempuan manis asal Garut, Ratna, memilih topik ‘pameran sastra solo’ sebagai benih karya finalnya nanti. Lalu dari sudut pandang pembaca sastra, Langit memilih topik ‘pembajakan buku’. Sungguh sangat menarik!


Pertemuan ditutup dengan bekal ‘mentah’ dari topik masing-masing peserta untuk kemudian dibawa pulang dan tentunya mulai dieksekusi menuju sebuah karya agung dalam feature. :)

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

28.1.14

Memunguti Sudut Menarik di Pertemuan Ketiga

Tidak seperti biasanya, pertemuan kelas menulis feature kali ini bertempat di Taman Lansia dan dilakukan lebih awal yaitu hari Senin (27/01/14). Sebagai keberlanjutnya dari pertemuan minggu lalu, pertemuan kali ini tidak lagi membahas teori, namun penerapan langsung dari salah satu bagian menulis yaitu pre-writing.

“dengan terjun langsung ke lapangan seperti ini, para peserta dapat merasakan langsung bagaimana proses observasi itu, dan bagaimana mereka dapat menemukan sudut masalah yang akan diangkat dalam tulisan mereka nantinya.” Ucap Adi sembari memangku macbooknya.

Tepat pukul sembilan pagi peserta berkumpul dan mendapat arahan singkat dari mas Adi berhubung mas Zaky tak hadir. Para peserta pun diberikan waktu dua jam untuk berpencar menuju tempat observasi pilihannya masing-masing.



Pemilihan tempat taman Lansia merupakan hasil pemungutan suara para peserta, menimbang banyaknya spot yang menarik di sana. Seperti dua museum yang bersebelahan dengan taman tersebut. Museum perangko di sebelah kiri taman yang gratis biaya masuk, dan museum geologi di seberang yang penuh dengan pengunjung. Para peserta dibebaskan menentukan topik yang akan di angkat dalam tulisan sesuai dengan pilihannya masing-masing.

Tepat pukul sebelas, para peserta kembali berkumpul di taman dan sedikit berbagi kesan hasil kunjungannya. Museum perangko yang membagikan gantungan kunci gratis pada pengunjungnya, fasilitas museum yang kurang maksimal, koleksi perangko yang langka, hingga bincang-bincang singkat dengan petugas museum yang berhasil memberikan data pengunjung kepada salah satu peserta.


Setelah pertemuan kali ini, sebuah karya tulisan pun dituntut untuk dihasilkan agar proses menulis menjadi utuh. Penasaran dengan karya-karya yang akan dihasilkan? Mari kita lihat di pertemuan berikutnya. J

Google Twitter FaceBook

23.1.14

Seluk Beluk Feature dalam Pertemuan Kedua

Setelah sesi perkenalan pada pertemuan pertama, Kamis ini (23/01/14) menjadi pendalaman terhadap feature itu sendiri. Anggap saja pertemuan ini adalah sesi bersahabat dengan feature. Bagaimana sifat sang feature, dan bagaimana menjadi dekat dengan jenis tulisan unik ini. Sebagai pembuka pertemuan, mas Adi membagikan ‘tubuh’ feature kepada peserta yang hadir.



Pre-Writing
Sebuah tulisan atau karya pasti memiliki karakternya masing-masing. Seperti halnya angka-angka dalam rumus matematis, jenis tulisan pun terutama non-fiksi berkelompok dalam kategori yang berbeda-beda. Dalam karya jurnalistik, bentuk umum yang berbeda disebut News dan Views yang terbagi-bagi lagi menjadi jenis tulisan yang lebih spesifik.

Jenis tulisan bentuk News dibagi berdasarkan derajat berita, cara peliputan, kedalaman berita, teknik penulisan, wilayah, dan spesialisasi dalam bidang tertentu. Sedangkan Views menyajikan opini atau pendapat, dan ulasan atas suatu topik yang dapat disajikan ke dalam jenis yang berbeda-beda. Seperti tajuk rencana, artikel, kolom, dan lain-lain.

Tulisan feature dapat dikatakan sebagai pengembangan dari bentuk Views yang memiliki bentuk penyajian yang unik. Seperti yang dijelaskan oleh mas Adi, keunikan feature dapat dihasilkan dari unsur-unsur pembangun tulisan yang sama sekali tak terduga. Contoh sederhananya, dalam menentukan sudut pandang masalah dalam tulisan. Jika berita menyajikan topik banjir yang sedang hangat dengan menuliskan korban-korban, sejauh mana pemerintah turun tangan, atau keadaan di TKP, di dalam feature kita dapat menuliskan seseorang yang justru dapat mengais rejeki lebih banyak di saat banjir seperti tukang pemulung, ojek perahu, dan lainnya yang sama sekali berbeda.

“salah satu sifat dasar feature yang menjadikannya sebuah tulisan unik adalah tulisan yang dihasilkan tidak akan pernah terasa basi.” Sahut mentor berambut gondrong itu.

Selain menentukan sudut pandang masalah, yang harus dilakukan pertama kali dalam menulis feature adalah menentukan atau mengetahui sejauh mana fokus yang akan dibangun dalam tulisan. Menurut Zaky, hal tersebut penting dilakukan karena akan memudahkan proses penulisan nantinya, lalu berlanjut pada menggali bahan yang dibutuhkan dengan observasi, wawancara, dan mencari sumber data yang relevan (dapat dipercaya).

Writing
Layaknya tulisan kebanyakan, sebuah judul pasti di letakkan di awal tulisan, tidak mungkin di akhir kan (hehehe). Tentunya feature pun begitu. Hanya saja pada prosesnya, menentukan judul dalam feature dapat dilakukan setelah tulisan selesai dibuat. Di dalam feature judul juga menjadi sebuah nilai jual dari bentuk tulisan itu sendiri. Harus berkenaan dengan fakta yang ada dalam berita tetapi tidak menjelaskan isi berita. Memilih kata yang ringkas dan menarik perhatian pembaca.

Selain judul tulisan, perbedaan lain terletak pada lead (pembuka/teras) berita. Lead dalam feature dapat disajikan ke dalam beberapa jenis seperti bercerita, pengandaian, pertanyaan, kutipan, dan paparan deskriptif. Kedudukan lead pada feature pun menentukan semenarik apa tulisan itu bagi pembaca. Berkaitan dengan judul, lead yang tepat dalam feature dapat meningkatkan rasa penasaran pembaca pada saat mereka melirik tulisan itu pertama kali.

Selanjutnya adalah isi berita. Fokus masalah yang dipaparkan jangan sampai menyimpang. Memilih diksi dan tatanan kalimat yang menarik memang penting, namun tetap harus sesuai dengan fakta yang didapatkan. Kalimat-kalimat pembangun berita pun sebaiknya adalah kalimat sederhana yang pendek namun kronologis.

“sebaiknya menggunakan kalimat aktif. Dengan menggunakan kalimat aktif akan mempermudah dalam meneruskan tulisan daripada kalimat pasif yang biasanya membuat kalimat lanjutannya mati.” Ujar Adi.

Membangun penutup tulisan dalam feature pun dapat disajikan dengan bentuk yang bermacam-macam, seperti bentuk ringkasan, penutup yang menyengat, bentuk klimaks, atau penutup yang mengambang.

Post-Writing
Sebuah prosedur akhir dari proses menulis adalah editing. Proses editing terbagi ke dalam dua tahap yaitu editing isi dan editing redaksional. Dalam tahapan ini, sang penulis membaca ulang keseluruhan tulisan dan meneliti kalimat atau paragraf yang digunakan. Apakah terlalu panjang, atau tidak berkaitan. Pemilihan kata pun dilihat ulang, apakah penggunaan kata sudah sesuai atau berlebihan. Apakah isi tulisan sudah sesuai dengan visi, tidak mengandung SARA dan lain sebagainya.

----

Setelah mendalami cukup lama, para peserta pun tenggelam dalam pemahamannya masing-masing. Sebagai keberlanjutan dari pertemuan kali ini, mas Adi dan Zaky memberikan tugas khusus untuk pertemuan berikutnya yaitu... terjun ke lapangan! :)


Google Twitter FaceBook

16.1.14

Kelas Menulis Feature; Pertemuan Pertama di Angkatan #8


Berkenalan ataupun memperkenalkan diri tentunya sudah menjadi sebuah petanda bagi setiap pertemuan. Selain nama, pekerjaan, ataupun identitas lainnya yang umum diucapkan ketika berkenalan pasti selalu disertai alasan. Seperti pada kelas menulis feature hari ini (16/01/14), bagaimana para pesertanya dapat berkenalan satu sama lain. Tidak hanya pada orang-orang saja, tetapi juga berkenalan dengan feature itu sendiri.
sang Mentor: kiri; jaket merah: Adi Marsiela, kanan; jaket coklat: Zaky Yamani

Angkatan kali ini berjumlah tujuh orang, yang terdiri dari Ratna, Sugiharto, Bobi, Mutia, dan ketiga perserta lainnya yang berhalangan hadir. Ketertarikan mereka pada penulisan feature mempertemukan mereka walaupun mereka berasal dari tempat yang sama sekali berbeda. Ratna seorang cerpenis dari Garut, lalu Bobi dan Sugiharto mahasiswa jurnalistik, juga Mutia yang mengambil jurusan pendidikan Biologi.

Seperti angkatan-angkatan sebelumya, kelas menulis feature dimentori oleh Adi Marsiela, Zaky Yamani, dan Anwar Siswadi. Pada pertemuan pertama, para mentor tidak langsung lompat menuju materi. Mereka memperkenalkan apa yang akan mereka ajarkan selama delapan pertemuan kedepan pada para peserta. Apa itu feature, bagaimana dan apa saja yang harus dilakukan dalam menulis feature, dari mana saja ide-ide yang dibawakan dalam tulisan feature berasal, bagaimana cara menggali ide-ide menarik yang akan ditulis, hingga membahas berbagai permasalahan dalam menulis yang sering dialami para peserta.

Walaupun pada dasarnya feature bukanlah tulisan fiksi, namun hasil karya yang dihasilkan haruslah semenarik tulisan fiksi. Bagaimana membangun lead yang menarik, mengolah fakta-fakta dalam permasalahan yang diangkat ke dalam tatanan kalimat, frasa, dan diksi yang tepat, hingga bagaimana tulisan bisa membawa pembaca menekuni tulisan sampai akhir tanpa bosan, dibahas secara umum sebagai pengantar.


Tidak berheni sampai disitu, cerita-cerita menarik dari karya wartawan-wartawan mengagumkan pun dipaparkan sebagai contoh. Seperti the perfect storm, fear and loathing in las vegas, dan karya-karya sang mentor yang membumi, menjadikan feature sebagai sosok yang semakin membawa perhatian.

Apa yang didapatkan para peserta setelah berkenalan dengan feature pastilah berbeda-beda, namun tidak berhenti sampai disitu saja. Walaupun perkenalan seringkali terjadi cukup singkat, kelanjutan dari sebuah perkenalan bisa berjalan hingga puluhan tahun bahkan lebih. Sama halnya dengan perkenalan kali ini. Sebuah jembatan menuju karya-karya baru akan lahir dalam feature. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya!




Google Twitter FaceBook

25.11.13

Penutupan yang Menjadi Awalan Bagi Peserta Public Speaking Angkatan 10

 Sudah satu bulan Kelas Public Speaking angkatan 10 ini menjalani masa-masa mentoring menyenang-kan bersama mba Theo. Hari ini kelima peserta kelas yang terdiri dari Rumi, Ari, Febri, Elan, dan Warkim wajib mengikuti final test sebagai bagian dari pembuktian mereka dalam ber-public speaking.

Dentuman beat boxing dari Elan menjadi tanda pembuka acara final test public speaking kali ini, dihadiri oleh mba Elin Bunda ARC dan Adi Marsiela sebagai dewan juri yang akan menilai penampilan mereka, dan tak lupa sang mentor tercinta Theoresia Rumthe.

Dalam berbicara di depan umum tentunya banyak sekali partikel yang menjadi pengaruh terhadap keberhasilan dalam menyampaikan sesuatu. Seperti gestur, intonasi, kejelasan vokal, ekspresi, kepercayaan diri, dan masih banyak lagi. Partikel-partikel itulah yang menjadi landasan penilaian juri dalam final test ini. Penampilan pertama diambil alih oleh Rumi, disusul oleh Warkim, lalu Ari, kemudian Elan, dan terakhir Febri. Walaupun membawakan tema yang sama sebagai bahan yang harus mereka sampaikan, namun warna yang terasa dalam penyampaian mereka sangatlah beragam.

dewan juri dan mentor
Setelah kelimanya tampil, dewan juri berdiskusi singkat dan memutuskan peserta favorit dalam kelas public speaking ini pada Ari, dan pemenang penampilan terbaik pada Elan. Walaupun pembawaan Ari sedikit panik, namun pada penampilannya ia unggul dalam intonasi dan kejelasan vokal, hal yang membuat nyaman bagi pendengarnya. Cerita yang Ari bawakan juga menarik meski konteks ceritanya kurang tersampaikan. Sedangkan Elan justru sebaliknya, ia dapat menyampaikan konteks dalam ceritanya tersampaikan dengan sempurna, hal itulah yang membuatnya menjadi peserta terbaik kelas public speaking angkatan 10 ini.

Selesai sudah periode angkatan 10. Walaupun begitu, bagi kelima peserta hal ini adalah sebuah awal bagi mereka. Berbagai pembelajaran yang mereka dapatkan tentunya akan berbeda-beda efeknya bagi masing-masing personal. Seperti apa perbedaannya? Berikut wawancara singkat dengan mereka.

Kesan apa yang tertinggal dalam diri kalian setelah mengikuti kelas public speaking ini?

Banyak sekali. Terutama kesadaran dalam seni berbicara. Ternyata kegiatan sederhana yang sering kita lakukan dalam keseharian itu tidaklah mudah jika ingin dilakukan dengan benar.

Apa yang kalian dapatkan setelah mengikuti kelas public speaking?

Rumi   : saya jadi bisa mengatasi kekurangan saya dalam berbicara. Dulu saya sulit mengatur nafas dan mengambil jeda ketika berbicara terutama presentasi, setelah mengikuti kelas ini saya jadi bisa mengambil langkah untuk mengatasi keterbatasan saya.
Warkim: sebuah kesadaran bahwa berbicara yang saya anggap sebagai hal yang kecil ternyata tidaklah sepele. Butuh persiapan dalam melakukannya. Berbicara kan juga tergantung kepada khalayak pendengar, entah itu teman-teman, orang tua, atau masyarakat umum, semuanya membutuhkan persiapan yang berbeda-beda.
Elan    : yah, selain ilmu dalam berbicara, saya juga mendapatkan teman-teman baru, proses belajar yang enak, dan tempat yang nyaman.
Ari    : lebih ke bagaimana teknik dalam berbicara sih, seperti macam-macam intonasi dalam bercerita contohnya smiling voice.
Febri   : Rasa percaya diri yang meningkat.

Selama satu bulan ini materi yang diajarkan oleh mba Theo kan berbeda-beda, menurut kalian materi yang mana yang menjadi favorit kalian?

Rumi     : materi cermin, dan spontanitas. Keren sekali, kita jadi bisa mengukur kemampuan diri kita yang sebenarnya. Tidak ada persiapan dan tema yang dipilih pun acak.
Warkim : semua materi favorit. Sebenarnya yang menjadikan materi kelas ini menyenangkan adalah cara penyampaian mba Theo yang asik.
Elan    : saat latihan vokal a,i,u,e,o dan tangtrill. Membuat saya sadar bahwa teknik berbicara itu ternyata tidak mudah dan banyak partikelnya.
Ari       : sama seperti Elan, saat latihan vokal. Saat itu saya jadi tahu ada jenis intonasi yang disebut smiling voice, keren sekali! Saat materi cermin juga seru.
Febri    : materi cermin! Kekonyolan yang timbul saat materi itu membuat kelas makin menarik.

Setelah mengikuti kelas ini, boleh dong kasih saran dan kritikannya sebagai masukan.

Cara penyampaian dalam memberikan materi sih tidak ada, sudah sangat enak dan asik. Paling itu aja sih, tantangan. Saat pembelajaran bagaimana jika kita dihadapkan pada pendengar umum langsung, bukan hanya teman-teman peserta kelas saja. Lalu kalau bisa peserta terbaik kelas angkatan pertama sampai angkatan saat ini berkumpul kembali untuk memperebutkan posisi yang terbaik dari yang terbaik, semacam lomba, pasti seru tuh!



Wah, terimakasih atas partisipasi kalian dalam kelas Public Speaking angkatan 10 ini ya. Semoga pengalaman ini menjadi awalan yang baik dalam seni berbicara bagi keseharian masing-masing. J

Google Twitter FaceBook

14.11.13

“Komedi Sepahit Kopi” Diskusi Buku Kumpulan Reportase Satu Dekade oleh Zaky Yamani

Berita yang menarik tentu dibuat melalui proses yang berliku. Proses itu terkadang tidak mudah dan sangat menantang, sehingga ceritanya tidak kalah menariknya dari hasil reportase itu sendiri....

Begitulah sebuah kutipan yang tertera di belakang jilid buku yang didiskusikan kali ini. Komedi Sepahit Kopi memang berisikan kumpulan artikel bergaya feature namun lebih personal. Keluar dari gaya khas yang biasanya dibawakan oleh seorang reporter. Membawa hal yang ‘tidak biasa’ pastilah proses di baliknya pun tidak biasa. Itulah sebab banyak sekali teman-teman Tobucil berkumpul di beranda sore ini, Jumat 8 November 2013.

Diskusi dibuka dengan suara merdu pianika yang dibawakan oleh Siska kemudian disusul sapaan hangat dari Adi Marsiela sebagai pembawa acara. Setelah sedikit latar belakang buku ini diutarakan, Mas Zaky memberikan pengantar dalam diskusi dengan menjelaskan perkembangan pemikirannya mengenai permasalahan-permasalahan yang ia angkat di dalam bukunya. Banyak sekali kisah yang melatar-belakangi tulisan reportasenya. Seperti kisah keseharian seorang guru tunanetra yang ditolak mengikuti ujian pegawai negeri, bagaimana buruknya fasilitas maupun pelayanan yang diberikan oleh pemerintah bagi masyarakat penyandang cacat, dan hal-hal lain yang tidak mudah orang sadari namun dekat dengan keseharian kita.

Terdapat sepuluh artikel dalam buku ini. Mari kita sebut saja sepuluh cerita. Berhubung hal-hal yang diangkat dalam buku ini adalah permasalahan yang begitu membumi. Bagaimanakah proses diskusi berlangsung? Berikut pemaparan singkat dari rasa penasaran teman-teman yang hadir.

kiri: Adi Marsiela, kanan: Zaky Yamani
Bagaimanakah proses pada diri Mas Zaky dalam menulis buku ini? Tentunya butuh niatan kuat untuk melawan arus media yang mainstream.

Banyak-banyak ngobrol saja dengan orang-orang di sekeliling. Dengan mengobrol dapat membuat saya lebih sensitif. Ketika saya sensitif akan timbul banyak pertanyaan dalam diri saya, dan menurut saya pertanyaan adalah modal bagi wartawan.

Apakah penyeleksian sepuluh cerita selama satu dekade dalam buku ini sepenuhnya diseleksi oleh Mas Zaky sendiri ataukah ada campur tangan orang lain? Editor misalnya.

Sepenuhnya saya seleksi sendiri, dan tidak menentukan tema tertentu juga. Hanya pengkoreksian bahasa dilakukan oleh istri saya.

Kenapa orang harus membaca buku ini?

Saya hanya ingin pembaca tahu dengan cara memberikan potrait lain yang terjadi dan itu terdapat di kota yang sama.

Apakah ada komunitas reporter yang khusus meliput permasalahan yang minor seperti yang Mas Zaky utarakan dalam buku ini?

Tidak ada, mengangkat permasalahan yang begini itu tergantung pada minat dan ketertarikan wartawan masing-masing.

Bagaimana prosesnya menuju keputusan untuk menuliskan liputan yang ‘tidak biasa’ ini? Apakah terdapat unsur tertentu ataukah hanya minat pribadi? Apakah tidak takut jika saja buku Mas Zaky ini tidak bisa diterbitkan karena terlalu ‘tidak biasa’?

Pertama-tama saya tidak mementingkan bahwa buku ini akan terbit atau tidak, yang penting tujuan saya terlaksana saja dulu. Memang pasti akan ada keterbatasan akses yang saya temui dalam prosesnya, namun bagaimana saya menyikapi keterbatasan akses tersebut itu lebih penting. Tidak ada unsur tertentu sih mungkin hanya minat. Bagi saya, apa yang dituliskan dalam buku itu adalah wajah berita.

Adakah tujuan lain dari terbitnya buku ini? Misalnya Mas Zaky berharap sebuah tindak lanjut pemerintah atau siapapun berupa tindakan sebagai respon dari cerita-cerita yang di paparkan dalam buku ini?

Untuk pemerintah sih tidak ada, saya sudah hopeless. Saya lebih mengharapkan bagian dari masyarakat biasa namun memiliki keberanian untuk bergerak. Walaupun tujuan saya tidak cenderung ke arah sana. Ada pembaca yang tahu dan paham juga itu sudah cukup.

Sebenarnya bagaimanakah batas subjektivitas dalam menulis berita itu?

Tergantung lokasi dan perusahaan pers-nya. Ada yang dibatasi oleh negara, ada yang dibatasi oleh perusahaan medianya saja. Walaupun sebenarnya negara bisa saja membatasi jalur-jalur subjektivitas dalam berita apabila suatu masalah berada di luar regulasi. Saya sih mengambil contoh dari seorang wartawan Amerika GlenGreenwald yang sangat berani dalam mengutarakan pemikirannya di dalam sebuah berita. Inginnya seperti dia, bisa menentukan penilaian benar atau salah dari wajah berita jika bukti-bukti memang lengkap.


Alunan lagu wajib versi pianika yang dibawakan oleh Siska menjadi penutup diskusi sore ini.
Bagi teman-teman yang penasaran dengan buku dan bagaimana uniknya gaya reportase sang penulis, silakan mampir ke Tobucil Jl.Aceh 56. Masih tersedia namun terbatas loh! J

Google Twitter FaceBook

26.9.13

Klab Filsafat Tobucil: Vicky-isasi

Rabu, 25 September 2013

Klab Filsafat Tobucil sore itu memutuskan untuk membahas topik yang sedang marak dalam minggu-minggu terakhir ini. Yang dibahas adalah video Vicky Prasetyo yang menggunakan bahasa-bahasa rumit dalam konferensi pers terkait pertunangannya dengan Zaskia Gotik. Pada wawancara tersebut, Vicky terlihat menggunakan kata-kata seperti "29 my age", "konspirasi hati", "labilisasi ekonomi", dan "kudeta". Kata-kata tersebut dijadikan bahan tertawaan karena tampak tidak kontekstual dengan apa yang menjadi topik pembahasannya. Meski terlihat sebagai kasus yang sepele, namun pembicaraan kemarin berkembang menjadi pembicaraan tentang bahasa mulai dari fenomena praksis hingga filosofinya.


Yang menjadi hal untuk dipermasalahkan pertama kalinya adalah mengapa harus ada bahasa yang rumit? Sebagai contoh, bahasa yang dipakai dalam lingkungan akademik biasanya lebih "khusus" dan berbeda dengan bahasa sehari-hari. Tanggapan kemudian datang dari Yuda yang mengatakan bahwa bahasa khusus itu diperlukan untuk menggambarkan fenomena yang lebih spesifik. Namun di sisi lain Yuda mengatakan bahwa cendekiawan yang baik adalah cendekiawan yang bisa menggunakan bahasa yang lebih mudah dimengerti. Liky menanggapi dengan melihat subjek yang mengatakannya. Katanya, "Ini karena kita tahu dia seorang Vicky yang tengah bertunangan dengan penyanyi dangdut, yang dianggap kurang pantas untuk punya akses terhadap bahasa-bahasa semacam itu. Sedangkan orang seperti Yasraf Amir Piliang yang kebetulan seorang cendekiawan, dengan istilah-istilah yang sama rumitnya, tetap dianggap pintar oleh publik." Hal senada juga diungkapkan oleh Difa.

Kemudian Maltje lebih menyoroti sisi ketika Vicky lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam videonya yang lain. Terlepas dari apakah secara gramatikal dia benar atau tidak, yang pasti, menurut Maltje, penggunaan bahasa Inggris yang tidak pada tempatnya menunjukkan inferioritas tersendiri di bawah sadarnya. Maltje memberi contoh ketika orangtuanya hendak membeli printer dan scanner ke suatu tempat, atas kebanggaannya pada bahasa Indonesia, ayah Maltje bertanya pada penjaga toko, "Ada pencetak dan pemindai?" Namun tidak ada satu orangpun yang mengerti kecuali jika diganti dengan printer dan scanner. Namun pembahasan menjadi lebih rumit ketika Jazzy membahas tentang kenyataan bahwa bahasa Indonesia sendiri banyak menyerap bahasa asing dan bahasa daerah. "Jika benar begitu, maka bahasa Indonesia pantas inferior karena tidak beridentitas," ujarnya.

Pembahasan berkembang menjadi apakah bahasa punya keterkaitan dengan tingkat intelektual suatu bangsa. Misalnya Russia punya banyak sekali panggilan untuk satu orang, terkait dengan tingkat kedekatannya (Dmitri atau Micha bisa jadi merujuk pada orang yang sama, tapi beda kedekatan membuatnya menjadi punya panggilan yang berbeda). Rata-rata bahasa daerah di Indonesia misalnya kita ketahui punya tingkatan bahasa tergantung pada siapa mereka berbicara (ada sapaan hormat dan sapaan akrab). Indonesia sendiri hal seperti itu masih sangat lemah dan membutuhkan perkembangan lebih banyak, sehingga mungkin bisa diasumsikan tingkat intelektualnya sendiri masih terus berkembang.

Diskusi ditutup dengan suatu kalimat dari Ludwig Wittgenstein: Kamera bisa memotret dunia tapi tidak bisa memotret kamera itu sendiri, peta bisa menggambarkan dunia tapi tidak bisa menggambarkan peta itu sendiri, bahasa bisa berbicara dunia tapi tidak bisa berbicara tentang bahasa itu sendiri.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

23.9.13

Pra-Konser KlabKlassik

Minggu, 22 September 2013

KlabKlassik tengah dalam persiapan untuk konser gitar pada tanggal 4 Oktober nanti. Konser yang akhirnya diputuskan akan bertajuk A Very Serious Guitar Concert ini tidak akan seperti konser-konser KlabKlassik biasanya yang diwarnai suasana santai dan non-formal. Sebaliknya, konser ini akan berlangsung dalam situasi yang amat formal dan diupayakan untuk tidak sedikitpun menyelipkan humor-humor. Kristianus selaku ketua mengatakan, "Ini dilakukan karena pertimbangan repertoar dari para pemain yang memang kebanyakan diantaranya adalah lagu-lagu klasik yang memang lebih cocok dinikmati dalam suasana yang serius."

Salah satu bentuk dari persiapan tersebut adalah meminta peserta untuk tampil bergiliran membawakan repertoarnya masing-masing. Tubagus, Kristianus, Royke, Irwan, Rendy, Luthfi, hingga Lalang tampil bergantian membawakan karya-karya dari Francisco Tarrega, Antonio Lauro dan Astor Piazzolla. Tidak hanya tampil dalam format solo, direncanakan penampilan di konser nanti juga ada dalam bentuk duet, trio, hingga kuartet. Pada pertemuan minggu depan tanggal 29 September, KlabKlassik akan melakukan pertemuan yang terakhir dalam rangka persiapan konsernya.

Syarif Maulana

Tubagus bermain gitar disaksikan rekan-rekannya.


Google Twitter FaceBook

15.9.13

KlabKlassik Edisi Nonton: Mencari Akar Musik Metal

Minggu, 15 September 2013

KlabKlassik Edisi Nonton sore itu, sesuai yang dijanjikan sebelumnya, mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul Metal: A Headbanger's Journey. Film berdurasi sekitar sembilan puluh menit ini disaksikan oleh tujuh orang peserta. Setelah itu, Rahardianto mengajak para peserta untuk berdiskusi.

Dalam film Metal: A Headbanger's Journey, kita diajak untuk terlebih dahulu mencari akar paling keras dari musik metal. Setelah melalui wawancara disana-sini, maka Sam Dunn (narator sekaligus peneliti) mendapatkan kesimpulannya: Black Sabbath adalah pelopornya. Suara gitar yang katanya mempunyai interval tritonus -konon interval tersebut "dekat dengan iblis"- menjadi fundamen dasar musik metal yang mula-mula diletakkan oleh band asal Birmingham tersebut. Kemudian Sam berkeliling ke berbagai negara untuk mendapatkan fakta-fakta lebih lanjut. Ia pergi ke salah satu festival metal terbesar di dunia yakni di Wacken, Jerman, serta bertemu dengan musisi metal ternama seperti Bruce Dickinson (Iron Maiden), Tom Araya (Slayer), Lemmy (Motorhead), dan George "Corpsegrinder" Fisher (Cannibal Corpse). Mereka diwawancara secara bergantian untuk menjawab apapun tentang musik metal agar kata Sam, "Orang lebih mengenal tentang musik ini sehingga tidak ada lagi yang mispersepsi."


Kemudian ketika masuk sesi diskusi,  Kristianus bertanya tentang, "Adakah metal yang 'asli' itu? Karena sepertinya jika melihat metal-metal dari Skandinavia, mereka sepertinya mengklaim sebagai yang paling asli oleh sebab kebrutalan aksi panggung dan sikap dalam kesehariannya." Rahar kemudian menjawab singkat, "Tidak ada." Kemudian lanjutnya, "Masing-masing grup metal seringkali mengklaim dirinya sendiri sebagai yang paling murni seperti misalnya Manowar atau metal-metal dari Skandinavia. Banyak faktor yang membuat mereka mengakui dirinya sebagai true metal, entah dari musiknya sendiri, atau justru dari attitude. Metal-metal dari Skandinavia kerap mengaku dirinya sebagai metal sejati karena mungkin kedekatannya dengan atribut-atribut satanis."

Pembahasan kemudian menjadi berlanjut pada apakah betul metal itu identik dengan satanisme? Rahar kembali menjawab, "Sebenarnya banyak band-band metal yang kemudian mengakrabkan dirinya justru dengan agama dan ketuhanan. Di Eropa ada christian metal, di Bandung sendiri ada metal yang mengusung lirik-lirik tauhid." Tapi pertanyaan dari Agun kemudian lebih mendalam, "Kita jangan bicara lirik. Kalau musiknya sendiri, punya kontradiksi tidak dengan sifat-sifat kudus dari agama? Misalnya, adakah orang yang mendengarkan metal sambil khusyuk beribadah?" Rahar menjawab, "Bagi saya sendiri, ada metal-metal tertentu yang terasa sangat kudus. Hal ini bisa jadi karena mereka mengambil spirit musik dari gereja-gereja jaman dulu seperti misalnya era Gregorian." Pembahasan kemudian terus melebar menjadi hubungan metal dan ekonomi, hubungan metal dengan jiwa muda, hubungan metal dan popularitas, serta sub-sub genre metal yang lebih kompleks mulai dari drone hingga depressive suicidal black metal. Intinya, menurut Rahar, "Metal itu luas dan kompleks, mungkin lebih rumit dari musik klasik."

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

14.9.13

Klab Filsafat Tobucil: Agama dan Katarsis Sosial

Rabu, 11 September 2013

Sore itu Klab Filsafat Tobucil berkumpul untuk mendiskusikan suatu topik yang dilontarkan oleh Liky Ardianto. Ketika agama seringkali diposisikan sebagai sesuatu yang menurut Marx dianggap sebagai candu bagi masyarakat, Liky dalam kesempatan ini berbalik membelanya, "Sebenarnya agama bisa dapat dilihat dari sudut pandang yang sebaliknya. Ia bisa jadi elemen paling vital dalam pelbagai perubahan sosial." 

Liky (tengah, kacamata) bercerita tentang contoh-contoh kasus agama sebagai katarsis sosial.
Liky memulainya dengan suatu pemaparan cukup panjang yang diambilnya dari novel Jepang berjudul Chinmoku. Dalam novel tersebut diceritakan tentang pemberontakan Shimabara yang merupakan perlawanan dari orang-orang Katolik di Jepang terhadap pemerintahan Shogun. Katolisisme, pada masa itu, dianggap berpihak kepada orang-orang kecil dan karenanya memberikan harapan bagi para petani miskin Jepang -yang kemudian banyak menjadi penganut Katolik-.  

Diskusi kemudian berlangsung cukup seru dengan berbagai pendapat yang merespon cerita dari Liky tadi. Kata Yunita, "Agama sebenarnya dapat bertahan dari segala tantangan kehidupan asal dia bersikap lentur dan fleksibel. Falsafah Kristen secara implisit menyinggung fleksibilitas tersebut dalam kalimat 'Yesus adalah sabda Allah yang hidup'." Kemudian Ping berkomentar panjang lebar tentang bagaimana melihat situasi di Indonesia, orang-orang sering mengaku beragama tapi tidak terlihat dalam tindak tanduk sosialnya. "Meskipun ajaran Islam mengatakan bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman, tapi hal tersebut tidak menjadikan kota lebih bersih padahal sebagian besar orangnya menganut agama Islam." Sebaliknya, ujar Ping, Konfusianisme misalnya, sepertinya jauh lebih tereksplisitkan dalam perbuatan-perbuatan orang yang menganutnya.

Pendapat demi pendapat tentang agama sebagai katarsis perubahan sosial, ditanggapi Liky dengan satu sumber historis lagi. Sekarang Liky menyinggung soal teologi pembebasan di Amerika Latin yang digagas oleh Gustavo Gutierrez. Pendeta Katolik tersebut merasa terusik hatinya ketika melihat ketidakadilan dan penindasan atas kaum papa di negerinya. Ia akhirnya mencanangkan suatu kredo perjuangan berbasis agama yang diikuti oleh banyak negara seperti Brasil, Peru, El Salvador, dan Uruguay. Dalam Islam, lanjut Liky, juga ada yang semacam teologi pembebasan, yakni pemikiran Ali Syariati. "Syariati mengatakan tentang pentingnya Islam sebagai tonggak penegak keadilan dan strategi melawan kezaliman untuk membela kaum tertindas." 

Artinya, diskusi kemarin mencoba memberikan fakta-fakta yang dapat membalikkan pendapat Marx tentang agama sebagai penghambat perubahan sosial. Banyak perubahan-perubahan sosial besar justru mula-mula diinspirasi oleh agama.


Google Twitter FaceBook

8.9.13

KlabKlassik Edisi Playlist: Dari Bach hingga Lifelover

Minggu, 8 September 2013

KlabKlassik untuk pertama kalinya berkumpul setelah terakhir kali mengadakan acara komunitas pada Bulan Ramadhan kemarin. Apa yang digelar oleh KlabKlassik kali ini adalah Edisi Playlist. Seperti biasa, Edisi Playlist mengajak para peserta untuk memutar lagu-lagu kesukaannya -kali ini dalam koridor tema "Lagu Kebebasan"-.


Ada sekitar lima belas orang hadir untuk membawa masing-masing lagu favoritnya untuk kemudian didengarkan dan dibahas bersama-sama. Berikut adalah lagu-lagu yang diputar pada Edisi Playlist kemarin.

Cello Suite no. 1 - Mstislav Rostropovich
Karya komposisi Bach yang cukup populer, yakni Cello Suite no. 1, membuka Edisi Playlist. Lagu yang dibawa oleh Gin-Gin tersebut dimainkan dan diinterpretasi oleh Mstislav Rostropovich secara lebih cepat dari biasanya. Gin-Gin mengaku bahwa lagu tersebut membebaskan karena dimainkan secara solo. Hal itu ditegaskan pula oleh Afifa, "Karena bermain solo, meski tentu saja harus menaati rambu-rambu partitur, tapi ada interpretasi dan ekspresi yang sifatnya personal." Sementara Mas Yunus berujar bahwa ia lebih suka interpretasi Cello Suite no. 1 yang lebih lambat.

The End of The World - Sketter Davis
The End of The World adalah lagu yang juga dibawa oleh Gin-Gin. Tentang lagu ini tidak banyak orang berkomentar kecuali Gin-Gin sendiri yang mengatakan bahwa The End of The World membuat ia menerima kenyataan bahwa dirinya tengah mengalami suatu kecamuk hati. Dengan penerimaan itu, katanya, ia menjadi semakin lebih bebas.

Moro, Lasso - Carlo Gesualdo
Awalnya, Bach dikira sebagai komposer yang secara periodisasi lebih tua. Ternyata Benn meralatnya. Katanya, "Yang saya bawa, Gesualdo, ini berasal dari jaman Renaisans." Karya Gesualdo yang dibuat untuk dua sopran, satu alto, satu tenor dan satu bas tersebut diputar terlebih dahulu sebelum dibahas. Afifa berpendapat bahwa lagu berjudul Moro, Lasso tersebut lebih bernuansa kudus. Namun ketika Benn menceritakan asal muasal lagu tersebut, ada perubahan dalam cara pandang para peserta. Ujar Benn, "Gesualdo adalah seorang sado-masokhis yang jauh lebih duluan dari Marquis de Sade. Ia membunuh anak dan istrinya sendiri dan memutilasinya. Setelah itu, ia mengurung diri di menara dan mempunyai pembantu khusus untuk memukulinya setiap hari." Musiknya tersebut adalah salah satu ekspresi kegilaannya, lanjut Benn.

Miserere - Carlo Gesualdo
Setelah mendengarkan kisah menarik dari Benn tentang Gesualdo, para peserta tampak tertarik untuk mendengarkan lagu berikutnya meskipun Benn tidak merekomendasikan. Alasannya, "Terlalu panjang, hingga sembilan menit." Namun ternyata lagu tersebut tetap diperdengarkan dan para peserta mendengarkan dari awal hingga akhir secara tertib. Rudy berpendapat bahwa ada kemungkinan lagunya yang Miserere ini dibuat ketika Gesualdo mungkin sudah menyadari berbagai kekeliruan dalam hidupnya. 

Feelin So Good - Olivia Ong
Musik bossa-nova ini dibawa oleh Afifa dengan alasan, "Sangat membebaskan dan cocok untuk kita dengarkan di pagi hari sebelum memulai aktivitas." Afifa juga menyebut bahwa mungkin karena dirinya adalah seorang perempuan, maka ia lebih memerhatikan liriknya. Lagu tersebut mungkin dianggap terlalu panjang untuk ukuran sebuah lagu pop yakni lima menit. Kata Rahar, "Biasanya lagu pop itu struktur lagu keseluruhannya sudah dapat kita kenali sejak menit pertama. Sehingga jika lagu pop bisa sampai bisa lima menit, biasanya kita sudah agak bosan di menit ketiga." Meski demikian, Mas Yunus mengoreksi bahwa Feelin So Good adalah bossa-nova. "Ini adalah samba, karena lebih cepat dan rapat," ralatnya.

Wave - Olivia Ong
Meski berasal dari artis yang sama, namun lagu Wave ini dibawa oleh orang yang berbeda. Rudy, sang pembawa, mengatakan bahwa lagu ini sangat membebaskan jika diputar di malam hari. Liriknya pun cukup menarik. Terjadi sedikit diskusi setelah mendengarkan dua lagu bossa-nova secara berurutan. Mengapa bossa-nova menjadi musik yang biasanya cocok diputar di kafe-kafe? Kata Benn, "Mungkin beat-nya cocok untuk santai, tidak terburu-buru, dan membuat kita lupa akan waktu."

Simple Man - Lynyrd Skynyrd
Simple Man, lagu berdurasi enam menit ini dibawa oleh Liky yang baru pertama kali datang ke KlabKlassik. Ketika ditanyai, mengapa membawa lagu ini? Ia menjawab, "Lirik lagu ini cukup mendalam. Tentang bagaimana nasihat orangtua kepada anaknya, bahwa jadi orang itu biasa-biasa saja, tidak usah terlalu begini atau terlalu begitu." Pembahasan menjadi sedikit menyentuh tentang band Lynyrd Skynyrd sendiri yang diakui Rahar sebagai band yang cukup fenomenal dan masih berdiri hingga hari ini. Meski demikian, Rahar dan Benn mengaku bahwa lagu yang ia suka adalah Free Bird.

Air on G String - The Swingle Singers
Lagu ini meski sudah diperdengarkan dari awal sampai akhir, namun Mas Yunus mengaku keliru. Katanya, yang dimaksudnya bukan lagu yang ini melainkan yang bersama Modern Jazz Quartet dimana isinya mengandung improvisasi piano jazz. Kata Mas Yunus, sisi itu yang membuat Air on G String versi The Swingle Singers dan Modern Jazz Quartet memberikan nuansa kebebasan tersendiri. "Ketika kita mendengarkan satu komposisi barok yang 'kaku' dan lantas disambut oleh improvisasi piano yang sangat kaya, kita akan merasakan suatu kebebasan yang mengejutkan," ujar Mas Yunus.

Sore-Sore - Desy Dingdong
Secara mengejutkan, Bagus membawa lagu dangdut untuk diperdengarkan. Kata Bagus, lagu dangdut punya semangat untuk membebaskan terutama ketika ia pikir di sekolah tempatnya kuliah, semua orang menyukai jazz dan klasik. Bagus kemudian bertutur pengalamannya, "Saya waktu itu iseng putar lagu dangdut padahal di kampus saya hampir semua orangnya mendengarkan jazz dan klasik. Namun ternyata ada kakak kelas yang menghampiri dan sangat suka dengan bagaimana saya jujur pada diri sendiri dengan memutar lagu dangdut." Kemudian pembahasan berkembang menyentuh topik Rhoma Irama. Kata Bagus, "Rhoma Irama pernah disebut oleh majalah di luar sana sebagai rock asli Indonesia." 

Les Marseilles - Edith Piaf
Mohammad Syafari Firdaus atau akrab dipanggil Mas Daus, datang terlambat tapi langsung menyuguhkan sebuah lagu yang membuat diskusi menjadi lebih panjang. Les Marseilles, lagu yang menjadi kebangsaan Prancis, dahulunya adalah lagu penyemangat revolusi. Kata Mas Daus, "Biasanya lagu kebangsaan Prancis tidak pernah menjadi perhatian saya. Tapi ketika Edith Piaf menyanyikannya, saya langsung merinding." Meski demikian, Rahar mengatakan bahwa lagu Les Marseilles sekarang menjadi semacam "lagu kebangsaan" bagi kelompok sayap kanan Prancis yang tengah berupaya memurnikan bangsanya dari kaum imigran. Jadi lagu tersebut tidak lagi bernuansa revolusi ataupun kebangsaan, melainkan juga mendukung rasisme. 

Les Marseilles - Django Reinhardt
Kemudian Mas Daus membandingkan versi Edith Piaf tadi dengan versi lain yang dimainkan secara instrumental oleh Django Reinhardt dan Stephane Grapelli. Mas Daus langsung bertanya, "Coba dengarkan, apakah kita mau revolusi jika interpretasinya seperti ini?" Peserta tertawa karena jelas bahwa lagu revolusi memang harus memberikan efek membangun dan bukannya mendayu-dayu seperti yang ditampilkan oleh Reinhardt dan Grapelli. 

I Love (To Hurt) You - Lifelover 
Lagu terakhir dibawakan oleh Rahar. Ia menghadirkan satu musik beraliran black metal yang secara spesifik ia katakan bahwa sub-alirannya adalah depressive suicidal black metal. Katanya, black metal semacam itu akrab dengan rasa sakit untuk menambah efek depresif dalam musik-musiknya. Rahar mengatakan, "Depressive suicidal black metal menganggap bahwa kebebasan adalah bebas untuk mengekspresikan rasa sakit dengan senyatanya." Setelah itu, terjadi diskusi ringan tentang mengapa aliran semacam ini justru timbul di Eropa bagian utara atau Skandinavia. Mas Daus menuding bahwa itu mungkin akibat negaranya terlalu tertib dan makmur, sehingga orang-orang kebingungan mencari apa lagi yang dilakukan. Rahar juga menambahkan bahwa itu bisa jadi disebabkan oleh kepercayaan pada dewa-dewi kuno-nya yang sebenarnya sudah diupayakan untuk digantikan oleh Kristianitas. 

KlabKlassik sore itu meski sudah ditutup dari pukul enam, namun ternyata diskusi antara Rahar dan Mas Daus terus berlangsung. Hal ini didorong oleh keingintahuan Mas Daus akan topik depressive suicidal black metal yang cukup dikuasai oleh Rahar. Namun Rahar berkata, "Minggu depan kita akan sama-sama saksikan dua film yakni Global Metal dan Metal: A Headbanger's Journey. Mari kita bahas lebih dalam nanti." 

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin