Showing posts with label Papan Tulis. Show all posts
Showing posts with label Papan Tulis. Show all posts

4.12.11

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Firman Hamdani


Sejak dua minggu kemarin, akan dimuat berturut-turut tulisan dari peserta Kelas Filsafat untuk Pemula yang telah berakhir tiga minggu lalu setelah belajar selama delapan pekan. Temanya adalah tentang filsafat modern. Pemuatan ini menunjukkan hasil belajar (output) yang sudah diterima selama periode pertemuan tersebut. Berikut adalah tulisan output dari Firman Hamdani.

Pengalaman kelas filsafat diantaranya adalah saya dapat mengetahui pemikiran dan karya para filsuf dari berbagai peradaban sehingga cakrawala semakin terbuka lebar dan ingin lebih banyak mengetahui dan mencoba mencari referensi lainnya.

Selain itu, dalam perjalanannya saya juga mengalami  yang mungkin disebut dengan kegalauan yang mengakibatkan pergulatan batin semakin kencang dalam aktivitas sehari-hari. Hal itu menjadi sebuah resiko ketika terjun berfilsafat. Tetapi karena keawaman hal itu tidak lekas membuat saya menjauhi filsafat malah mencoba bersemangat untuk lebih terjun mendalami filsafat.

Karena belajar filsafat menimbulkan kegalauan tetapi dibalik itu menghadirkan juga pintu harapan. Di kelas ini juga sangat asyik, menggugah dan membanggakan karena mendapatkan pesan nilai-nilai moralitas. Hal itu tergambar ketika di salah satu pertemuan dijelaskan bahwa kita harus terjun kepada suatu kondisi agar kita dapat merefleksikan dan penyikapan tentang arti kehidupan.

Kelas filsafat ini juga mengajarkan tentang bagaimana dalam mewarnai kehidupan kita dituntut mencari sebuah kebenaran di setiap aspeknya, meskipun dijelaskan juga terkadang kebenaran itu relatif. Komunikasi bahasa antara manusia tidak luput juga dalam pembahasan.

Beberapa poin penting yang didapatkan dalam kelas ini adalah kita bisa  memaknai kehidupan, dan mencoba menjadi manusia baru. Proses mendewasakan pikiran dalam menemukan kematangan intelektualitas merupakan manfaat yang diraih sehingga kitapun mencari sebuah identitas  utuh dalam diri kita yang sudah tertanam untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan. 

Pada intinya dalam kelas ini saya mendapatkan manfaat berharga yang tertuju kepada dalamnya kebijaksanaan diantaranya etika, estetika dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal tersebut merupakan gambaran yang pada prinsipnya mengajarkan untuk terus memperpanjang tali silaturahmi dan terus menabur  kebaikan kepada lingkungan sosial.

Diakhir pertemuan yaitu pertemuan ke delapan kami para murid kelas filsafat juga diberikan pemahaman tentang cara bagaimana mengarungi kehidupan untuk tidak menghindar dari kompleksnya masalah tetapi dengan strategi penyelesaian masalah cepat. Selain itu, juga diajarkan tentang   mengatasi kecemasan yang timbul dalam mengarungi kehidupan disebabkan karena adanya masa depan, tetapi dibalik itu muncul  harapan yang dapat ditemukannya mutiara kehidupan paling berharga.

Terimakasih kepada kang Ami dan Kang Syarif yang telah banyak  berbagi pengetahuan dan pengalamannya dalam kelas filsafat. 

Firman Hamdani     

Google Twitter FaceBook

27.11.11

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Rudy Rinaldi


Sejak minggu kemarin, akan dimuat berturut-turut tulisan dari peserta Kelas Filsafat untuk Pemula yang telah berakhir dua minggu lalu setelah belajar selama delapan pekan. Temanya adalah tentang filsafat modern. Pemuatan ini menunjukkan hasil belajar (output) yang sudah diterima selama periode pertemuan tersebut. Berikut adalah tulisan output dari Rudy Rinaldi.

Saya memahami bahwa awal berdirinya filsafat modern diawali dengan lahirnya zaman renaisans di daratan Eropa. Ditandai berpindahnya pemikiran theosentris ke antroposentris, Dimulai dari reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther kepada petinggi-petinggi gereja yang pada saat itu secara tidak langsung memegang kekuasaan negara.  Selain memegang kekuasaan negara, petinggi-petinggi gereja pun “membatasi” pemikiran pemikiran yang datang kepada masyarakat dimana pada saat itu apabila ada suatu paham yang keluar dari ajaran gereja dapat dipahami sebagai paham yang “menyimpang” contoh seperti pemikiran Galileo galilea. Semangat renaisans lahir bukan hanya “didobrak” oleh kaum filsuf saja melainkan dari berbagai kalangan seperti seniman maupun musisi, lahirnya semangat ini menandai telah berakhirnya jaman kegelapan di eropa.

Perpindahan pemahaman Tuhan sebagai pusat atau theosentris ke manusia sebagai pusat atau yang kita sebut antroposentris patut kita pertanyakan. Memgapa pada masa paham theosentris eropa disebut sebagai jaman kegelapan atau Dark Age dan mengapa pula bahwa perpindahan kepaham antropsentris disebut sebagai pencerahan? bukankah jika kita renungkan kembali peham tentang Tuhan sebagai pusat segala sesuatu dapat menjadikan kita “Manusia” dan memahami keberadaan kita? Namun apa yang terjadi malah sebaliknya manusia telah menjauhi kemanusiaannya sendiri. Dengan kata lain bahwa pemegang kekuasaan ajaran theosentris telah gagal menjadikan manusia sebagai manusia. Dan jika saya ingin berlebihan pemegang paham theosentris menjadikan Agama sebagai komoditi untuk meraih kekuasaan.

Apabila saya pahami kembali pada masa itu Agama telah gagal menjadi “sekolah” untuk manusai belajar menjadi manusia, melainkan “memaksa” manusia untuk menghaba kepadanya dan menjauhkan manusia dari kemanusiaanya bahkan membuat jarak dengan satu sama lainya. Bukankah Agama hadir untuk manusia dan bukan sebaliknya.

Laihrnya semangat renaisans membawa eropa menuju abad pencerahan. lahirnya pemikiran-pemikiran, pemahaman-pemahaman tentang pengetahuan baru memandai bangkitnya eropa. juga penemuan-pememuan yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan semakin membangkitkan gairah masyarakat eropa sebagai manusia-manusia yang maju diantara manusia yang lainnya. Paham-paham baru yang dilontarkan oleh para filsuf juga menandai pemahaman antrposentri telah menjadikan manusia eropa berada di zaman yang lebih maju serta berhasil menjadi “sekolah” bagi manusia untuk belajar menjadi manusa.
Google Twitter FaceBook

20.11.11

Filsafat untuk Pemula: Tulisan Penutup dari Iman Purnama

Selasa, 15 November 2011

Setelah tujuh pertemuan membahas materi, akhirnya kelas filsafat untuk pemula menemui pamungkasnya. Isinya adalah tentang kesan-kesan yang didapat selama kelas tersebut berlangsung. Rudy mengatakan, "Saya jadi ngerti pemikiran modern. Plus saya juga jadi mengerti kecemasan terbesar saya, yaitu: saya tidak pernah cemas." Lalu Firman berkata, "Jadi bertambahlah pergulatan batin saya." Grace menambahkan, "Saya jadi bertambah kritis, dan suatu waktu jadi berdebat dengan dosen karena mengatakan Yesus itu filsuf." Iman, peserta yang rajin hadir selama tujuh pertemuan, berhalangan di kelas pamungkas oleh sebab suatu keperluan. Namun ia tetap menyumbangkan tulisan via e-mail. Di bawah ini akan dipaparkan tulisan Iman, sebagai bentuk output dari kelas filsafat untuk pemula yang berjalan delapan pertemuan. Di posting-posting berikutnya akan diangkat juga tulisan dari teman-teman yang lain. Selamat membaca dan sampai jumpa!


Bandung, 15 November 2011

Untuk Mas Ami, Mas Syarif, Rudi, Firman “Dave Grohl”, Grace, Irman, Bapak Guru Agama, Teteh Berkerudung, Mas-mas Jawa yang kerja di penerbitan, kucing belang cokelat-putih, dan semua penghuni kelas filsafat Tobucil. Semoga tidak ada yg lupa disebut. Kalaupun ada, ya maafkanlah.

Barangkali, apa yang didapat dari filsafat modern tidak begitu banyak dari saya pribadi. Begitu-begitu saja. Tidak ada yang baru. Zaman pencerahan, sekularisme, jubah agama mulai dilepas, ilmu pengetahuan berkembang, orang-orang mulai atheis, dan lain-lain. Intinya, sepertinya umat manusia paling maju dalam periode ini (makanya namanya “modern”, seolah-olah “keren”, padahal mungkin juga tidak. Biasa saja). Tapi, jangan lupa juga, semua kemajuan itu juga ternyata membawa dampak lain. Perang Dunia yang dua biji itu terjadi di zaman ini. Bom atom yang bikin manusia cacat seumur hidup sampai ke mental-mentalnya, digunakan di zaman ini. Belum lagi muncul dua kekuatan yang saling ledek, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Dalam bidang filsafat sendiri, Hegel berhasil menyempurnakannya. Sistemnya menjadi utuh. Barangkali benar yang Mas Ami dan Mas Syarif sering bilang, “Filsafat itu dari Socrates sampai Hegel itu 'hapalan', ke bawahnya bebas. Eksperimen.” (Tentang filsafat modern sendiri bisa dilihat di tulisan sebelumnya. Itu bagian kecil dari tugas filsafat komunikasi saya di kampus). 

 Bagi saya sendiri, yang paling penting dari setiap pertemuan kelas filsafat bukan pengajaran filsafat modernnya, tapi sesi bebasnya. Kalau tentang filsafat modern, itu bisa dibaca di buku-buku, terus bertanya kalau tidak mengerti. Bisa lah sedikit-sedikit paham dengan cara seperti itu. Saya sendiri, tanpa bermaksud sombong, mulai baca Dunia Sophie sejak 2 SMA. Jadi sudah tidak asing dengan hal-hal seperti itu. Hanya saja sekarang lebih lengkap pemahamannya, berkat temen-temen semua, tentunya. 

 Tapi kalau di sesi bebas? Belum tentu. Karena ya harap maklum, katanya filsuf itu orang yang ribet, susah dimengerti, bicara tentang hal-hal “absurd”, dan sibuk di dunianya sendiri. Jadi, ketika mau bicara dalam kelompok atau forum, mungkin apa yang ingin disampaikannya sebenarnya tidak sama persis dengan apa yang diucapinnya. Seringnya apa yang tersampaikan, hanya secuil, hanya beberapa bagian; padahal mungkin dalam kepalanya itu berputar-putar banyak pikiran, gagasan, saran, pendapat, dsb, yang meledak-ledak ingin keluar. Nah, pada titik itulah, kecerdasan menyampaikan pertanyaan atau pendapat (komunikasi) diolah. Bagi saya, dan mungkin beberapa teman lain, yang dibesarkan dalam lingkungan sekolah dimana guru berceramah seperti ustadz, itu menjadi pengalaman tersendiri. Pelan-pelan saya belajar. Apalagi yang sering dibahasnya tentang filsafat: sesuatu yang abstrak, mengawang-awang, dan seringkali “radikal”. Ngomong-ngomong, saya kuliah di komunikasi juga ingin belajar hal seperti itu, hehehe. Syukurlah, saya bisa banyak belajar. I hate studying, but i love learning... 

 Di sisi lain, filsafat bagi saya bukan ilmu yang harus dipelajari benar-benar. Dalam artian, menghapal setiap pemikiran filsuf, tahunnya, pertentangannya, konteks zamannya, dsb, itu cuma secuil dari “kegiatan filsafat” saya. Kalau ditanya tentang Sartre atau Descartes, misalnya, saya pasti menjelaskan pemikiran mereka dengan tergagap-gagap, karena belum paham benar. Belum 'molotok' lah istilahnya kalau orang Sunda bilang. Lebih baik saya sodorkan buku tentang mereka saja. “Yeuh baca, urang ge can ngarti-ngarti amat.” 

Lalu, untuk apa filsafat? Menentang agama dan Tuhan? Ah, tidak juga sepertinya. Walau orang-orang luar sering menganggap orang yang berfilsafat itu atheis atau agnostik, termasuk kepada saya, tapi sebenarnya saya tidak bermaksud demikian juga. Mungkin iya, kalau mencermati perkembangan zaman sekarang, dimana agama dijual begitu indah di layar kaca dan di tempat-tempat lain, sehingga kehilangan ruhnya yang paling hakiki, menjadi atheis atau agnostik suatu pilihan yang “wajar” dan “menggoda”. Tapi bukan itu tujuan saya. 

Lalu, apakah untuk menggulingkan pemerintahan? Hahahhaha. Tidak juga. Barangkali ada yang kenal filsafat bermula dari Karl Marx dan aliran “kiri”. Biasanya orangnya itu aktivis; sering demo, kritis, debat, dsb. Ada teman saya yang seperti itu. Tapi, lagi-lagi, itu bukan saya. Bagi saya sendiri, politik tidak cukup sekedar digulingkan, tapi di-”babi”-kan. Jadi, nanti sintesisnya adalah “babi guling”. Kalau teman-teman yang sering demo itu bertujuan “menggulingkan” pemerintahan, maka saya cukup mem-”babi”-kannya saja. Memang benar, semua orang punya fungsinya masing-masing di alam yang fana ini. Hahahha. Duh, ngelantur...

Balik lagi ke topik. Jadi untuk apa filsafat? Kadang-kadang saya juga suka tidak mengerti. Pusing-pusing mikirin dunia, bikin galau menahun, dan hal-hal “muram” lainnya. Tapi, walaupun begitu, entah mengapa, saya kadang suka kangen ke filsafat. Barangkali disana filsafat berfungsi sebagai “jeda” bagi saya. Di tengah kegiatan atau aktivitas (yang mungkin padat), filsafat berguna untuk menelaah kembali, merenungkan kembali: apa sebenarnya tujuan saya? Apa maksud dari semua kegiatan saya? Semua proses pembatinan itu pada akhirnya suka “mencerahkan” kehidupan (walaupun prosesnya itu sendiri gelap dan suram). Mungkin benar apa kata Emha Ainun Nadjib, “Tak ada terang, tanpa gelap. Jika sudah terang, mari gelapkan ruangan, agar bercahaya itu benderang.” Itu kalimat favorit saya. 

Begitulah, saya memang bukan ahli filsafat yang hapal begitu banyak pemikiran filsuf-filsuf besar. Saya juga bukan seorang “pemberontak” dalam hal politik ataupun agama/Tuhan. Saya cuma senang menghayati setiap proses kehidupan itu sendiri. Setiap tahapannya, setiap prosesnya, setiap “semangat zaman”-nya, setiap penelusuran pemikirannya, setiap galaunya, setiap lika-likunya, setiap terjunnya, dan hal-hal lain yang serupa. 

 Barangkali disana filsafat bagi saya bukan sekedar “alat”, tapi jalan hidup. Mungkin pada prosesnya itu gelap dan suram, tapi tak apa-apa. Anggap saja berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian ke tepian (Eh bener ga sih peribahasanya? Lupa). Oh ya, satu lagi, filsafat bagi saya berguna untuk merasa tidak sia-sia ada di bumi ini. Itu saja kira-kira. 

Hujan turun semalaman. Paginya jalak berkicau dan daun jambu bersemi; 
Mereka tidak mengenal gurindam dan peribahasa, tapi menghayati adat kita yang purba 


Tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita manusia, merasa bahagia. 
Mereka tidak pernah bisa menguraikan hakikat kata-kata mutiara, 
Tapi tahu kapan harus berbuat sesuatu, agar kita merasa tidak sepenuhnya sia-sia. 


 Hujan, Jalak, dan Daun Jambu – 

Sapardi Djoko Damono

Salam galau,


Iman Purnama
Google Twitter FaceBook

2.10.11

Menyambut (Kembali) Djava String Quartet


Djava String Quartet (DSQ) yang akan tampil Jumat ini di Auditorium CCF bukanlah kelompok yang asing bagi Tobucil. Mereka pernah tampil di beranda Tobucil sekitar Juni tahun 2009 dalam acara Musik Sore Tobucil. Penampilannya amat memikat dengan beberapa lagu yang terdengar ceria, yaitu Eine Kleine Nachtmusic dari Mozart, Cublak-Cublak Suweng (video di atas), dan ditutup dengan The Entertainer, sebuah karya ragtime ciptaan Scott Joplin. Sambutannya sangat meriah, terlebih lagi kenyataan bahwa dua bulan sebelumnya mereka sukses menggelar konser di CCF Bandung dengan rekor penonton sold out. Kenyataan lain kedekatan DSQ dengan Tobucil, juga terbukti dari peran Mba Tarlen (pemilik Tobucil), yang pernah menjadi manajer bagi DSQ.

Jumat ini mereka hadir lagi. Djava String Quartet dengan formasi yang sama, Ahmad Ramadhan (biola), Danny Ceri (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto), dan Ade Sinata (cello) akan menampilkan gelaran lagi di Auditorium CCF. Meski personil sama, tentunya kematangan mereka berbeda. Jika dua tahun lalu itu mereka tengah menjalani masa-masa debut, sekarang mereka sudah aktif hingga ke mancanegara. Konser di Bandung ini persis digelar hanya beberapa hari setelah kepulangan mereka dari konser tur di Filipina. Jika tertarik untuk melihatnya, bisa ke Tobucil untuk membeli tiketnya. 




Google Twitter FaceBook

26.9.11

Wajah-Wajah Berkuasa

(Tulisan Heru Hikayat sebagai bahan diskusi Madrasah Falsafah Rabu 21 September dan akan diteruskan untuk tema Etika Media di Pesta Filsuf bulan November)

Hari-hari ini kita dikelilingi potret. Secara khusus potret itu adalah potret para politikus yang sedang berusaha menampilkan dirinya layak mendapatkan suara kita. Potret dalam pengertian harfiah adalah representasi dari orang. Pengertian ini seringkali dipersempit menjadi gambar wajah. Itulah yang mengepung kita: wajah-wajah. Apakah yang bisa dikatakan gambar wajah-wajah itu pada kita?

Para politikus jelas menampakan keyakinan bahwa gambar wajah akan mampu menyampaikan pesan pada kita para pelihat—para warga yang sedang dirayu untuk memberikan suaranya. Pesan apa yang hendak mereka sampaikan? Tentu saja segala sesuatu yang baik tentang diri mereka sendiri.

Darimana datangnya keyakinan ini—keyakinan bahwa gambar (khususnya gambar wajah) bisa menyampaikan pesan politis?

Seni melalui penyederhanaan bentuk mampu memampatkan pesan. Hingga kini logo dengan bentuk tertentu bisa memancing kemarahan banyak orang atau sebaliknya memicu tindakan patriotik.

Dalam tulisan ini saya memanfaatkan seri dokumenter keluaran BBC. Dokumenter populer yang dituturkan dengan memikat, memanfaatkan sejumlah besar hasil penelitian ilmiah dan ditujukan bagi penonton awam: siapapun bisa mengapresiasinya dengan mudah. Rangkaian seri ini diberi judul “How Art Made The World” (Bagaimana Seni Membentuk Dunia), di dalamnya ada satu seri berjudul “The Art of Persuasion” (Seni untuk Meyakinkan).

Dalam seri ini diceritakan Darius Maharaja Persia adalah pemimpin politik pertama yang menciptakan logo politik pada sekitar tahun 500 SM. Pasalnya sederhana, kemaharajaan Persia melingkupi wilayah amat luas dengan ragam bahasa dan sebagian besar warganya buta huruf hingga penyampaian pesan dengan bahasa tertulis tidak praktis. Darius kemudian menciptakan citra dirinya sebagai “Si Pemanah”. Ahli memanah bagi Bangsa Persia bukan semata soal kemampuan militer, melainkan kemampuan menjaga keseimbangan dan kontrol. Inilah kualitas pemimpin yang bijaksana. Darius-si-pemanah menjadi pelopor dari berbagai logo politik yang kita akrabi hari-hari ini.

Kemaharajaan Persia tidak berumur panjang. Alexander dari Macedonia mengambil alih wilayah luas tersebut. Alexander Agung kemudian memperbaharui strategi kampanye Darius: ia menjadikan potret dirinya sebagai logo politik. Di jaman Alexander segala sesuatu yang berasosiasi dengan dirinya jadi sumber kewenangan. Kewenangan yang berasal dari satu pusat, yaitu Alexander sendiri, merentang hingga ke seluruh wilayah yang sudah takluk secara politis. Potret adalah asosiasi yang kuat. Lalu bagaimana caranya menyebarkan citra itu? Di jaman kita menyebarkan citra mudah sekali. Tapi di jaman Alexander belum ada kamera dan internet. Ia kemudian mencetakan potret dirinya pada koin. Uang sebagai alat tukar menjadi media sebaran yang efektif sekaligus menandai wilayah kekuasaannya yang luas.

Hingga kini sebaran potret secara masif masih efektif menunjukan siapa yang berkuasa. Jaman Suharto, setiap ruangan kelas di seluruh sekolah di negeri ini memajang potret dirinya. Citra Jenderal murah senyum itu begitu dominan, terus-menerus mengingatkan warganya tentang siapa yang (sedang) berkuasa. Inilah yang hendak dicapai oleh para politikus di masa peralihan kekuasaan seperti sekarang: mengupayakan dominasi tampilan dirinya. Inilah alasan kenapa ruang-ruang terbuka kita dibanjiri potret mereka. Sebelum mereka menempati kursi kekuasaan resmi yang memungkinkan mereka mencetak citra dirinya menjadi monumen, nama jalan, gambar perangko atau uang, mereka harus memanfaatkan celah-celah di ruang-ruang umum.       

Kembali pada dokumenter BBC, diceritakan kejayaan Yunani pada gilirannya diambil-alih oleh Romawi. Sekitar tahun 40 SM Roma terancam perpecahan gara-gara perseteruan kaum Monarki dan Republikan. Kaisar Augustus berhasil muncul mengatasi perpecahan dua golongan ini. Augustus memenangi persaingan karena berhasil memanfaatkan kekuatan citra. Diceritakan bahwa jaman itu kesetiaan politis seseorang bisa dilihat dari caranya berpakaian. Kaum Republikan selalu memilih gaya yang tradional-kaku, Monarki memilih gaya yang flamboyan-trendy. Augustus sendiri berasal dari golongan Monarki. Jika ia tetap dengan penggambaran dirinya dalam gaya tipikal kaum Monarki maka ia akan dianggap ancaman oleh kaum Republikan. Agustus kemudian mengubah citra dirinya menjadi lebih rendah hati, sederhana, dan tidak tampak mengancam. Patung dirinya, walau menggunakan baju zirah, namun bertelanjang kaki dan tidak menggenggam senjata. Citra negarawan yang rendah hati namun tegas ini disebarkan di pusat kerajaan dan berhasil meyakinkan Kaum Republikan.  

Demikianlah para politikus hari-hari ini menggunakan strategi yang mirip dengan Augustus. Potret mereka mengenakan setelan jas dan dasi, menunjukan dirinya yang modern dan berpendidikan. Kaum perempuan kebanyakan akan menampilkan dirinya berjilbab menunjukan kesalehan Islami. Modern-berpendidikan-saleh (Islami), merupakan nilai-nilai yang diyakini akan mengatasi beragam golongan pemilih secara umum, setelan jas-dasi juga baju taqwa dan jilbab merupakan kode-kode yang diyakini bakal menyampaikan nilai-nilai tersebut.       

Para politikus mengabaikan fakta betapa kamera sudah begitu tersebar hari-hari ini, hingga pengalaman merumuskan citra diri bisa dimliki oleh semua orang. Dalam keseharian kita tahu dari praktek berfoto dalam photo box misalnya, atau foto di studio, semua orang akan bergaya. Di ruang-ruang ini disirkulasikan gaya khas tertentu yang dianggap keren. Semua orang yang memasuki ruang ini akan terpengaruh oleh kekhasan tersebut. Perhatikan para orang tua yang tengah berupaya memfoto anak balita mereka. Betapa mereka berusaha keras meminta si anak untuk memandang kamera. Pose menatap pada kamera dianggap keren dan karenanya bahkan anak balita pun diminta (tepatnya dipaksa) untuk menaatinya. Di hadapan kamera semua orang dituntut menampilkan gaya tertentu yang dianggap keren.

Sekarang bayangkan sesi pemotretan dengan latar khusus dan biaya yang tidak murah. Para wisudawati rela bangun jauh lebih pagi agar bisa berdandan di salon dengan tujuan bukan hanya tampil di acara wisuda dengan meyakinkan tapi agar kemudian foto dirinya sebagai wisudawati bisa dipajang di ruang tamu. Bagi wisudawan, menyewa, meminjam atau membeli setelan jas dan dasi adalah kewajiban (sebagai kode kemodernan dan berpendidikan). 

Dalam Bahasa Indonesia kita punya ekspresi “diabadikan” untuk menunjuk tindak pengambilan foto. Ekspresi ini dengan tepat merujuk tujuan dari tindakan ini: membekukan momen pilihan. Apa yang layak diabadikan tentu saja merupakan hal-hal yang istimewa dan, kalau bisa, selalu baik.

Jika semua orang tahu bahwa di hadapan kamera haruslah bergaya maka semua orang juga punya pengalaman bagaimana kode-kode yang ditampilkan merupakan konstruksi fiksional. Jejaring sosial di internet macam facebook makin menggenjot fiksi ini. Dalam media macam fecebook tiap orang tahu bahwa ia dapat menampilkan dirinya sesuai yang ia mau. Bagaimana diri yang nyata  dan objektif makin tidak relevan, atau mungkin mengawang entah di mana.

Itulah hal pertama yang menjadi kelemahan praktek kampanye para politikus melalui potret: keyakinan berlebihan bahwa citra bisa mewakili kenyataan, bahwa kode-kode pilihan mereka bisa tetap ada dalam koridor yang ajeg untuk ditafsirkan oleh para pembaca sesuai maksud asali.

Kelemahan kedua, berkaitan dengan sebaran potret yang memusat di kota, adalah tata kota kita yang buruk. Para pemimpin yang berkuasa tidak pernah memperhitungkan tata kota agar lebih artistik sebagai latar dari penyampaian pesan mereka. Gambar-gambar yang telah diperhitungkan komposisinya dengan baik pun harus tampil di lingkungan yang secara artistik kurang mendukung (apalagi gambar-gambar yang buruk komposisinya). Selain itu, lemahnya kebijakan pengaturan bagi iklan visual membuat ruang-ruang strategis kota bising dengan gambar. Hingga sekali waktu di simpang lima Semarang, saya sempat melihat billboard bergambar pemimpin partai, begitu kebapakan melambaikan tangannya—tampak jelas diupayakan untuk berkesan karismatik—tapi ia bersebelahan dengan gambar model perempuan cantik berkulit putih tengah memamerkan ketiaknya. Dalam ruang bising macam ini, mana yang lebih menarik?
Google Twitter FaceBook

18.9.11

Ada Apa dengan Abad Modern? (Artikel Pengantar)

(Pengantar untuk Kelas Filsafat untuk Pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?”)


Setelah Eropa dilanda krisis kepercayaan terhadap kekuasaan gereja, masuklah mereka pada suatu fajar pemikiran yang baru. Inilah perubahan dari yang tadinya teosentris (Tuhan sebagai pusat) menjadi antroposentris (manusia sebagai pusat). Dari yang tadinya takaran benar salah adalah teks-teks Tuhan, sekarang takaran benar salah menjadi rasio manusia itu sendiri. Era itu disebut dengan Renaisans, yang berlangsung sekitar abad ke-15 dan dimulai di Italia. Selain dipicu oleh kekecewaan terhadap gereja, Renaisans juga didorong oleh penemuan akan tiga hal: Mesin cetak, kompas, dan mesiu. Dengan mesin cetak, ide bisa disebarluaskan secara massal dan seragam. Dengan kompas, manusia tidak takut berlayar mengarungi lautan karena selalu tahu arah pulang. Dengan mesiu, manusia mempunyai senjata menakutkan untuk kolonialisasi. Renaisans bisa dibilang merupakan cikal bakal pemikiran modern. 

Efek dari atroposentrisme itu salah satunya adalah kepercayaan bahwa alam harusnya dikuasai manusia. Sebelumnya, alam adalah sesuatu yang tak sanggup diprediksi, yang berbagai pergerakannya adalah metafisis dan di luar kuasa manusia. Kemajuan teknologi membuat manusia percaya bahwa manusia tidak perlu tergantung lagi pada alam. 

Pasca Renaisans, periodisasi dalam abad modern dapat dibagi menjadi era Barok, Pencerahan, Romantik, hingga Abad ke-20. Meskipun pemikiran di dalamnya sangat beragam, namun pemikiran modern dalam digeneralisasikan menjadi beberapa poin sebagai berikut: 

1. Oposisi biner. Pemikiran modern percaya akan adanya kebenaran absolut. Standar yang berlaku bagi semua. Contoh, “Kriteria orang beradab adalah punya skor TOEFL yang tinggi. Maka orang yang tidak punya skor TOEFL yang tinggi adalah orang tidak beradab.” 

2. Subjek. Pemikiran modern berpusat pada manusia. Kebenaran sejati ada pada individu. Subjek ada dalam kondisi sadar dan menentukan nasibnya sendiri. 

3. Grand-Narrative. Mirip dengan oposisi biner, pemikiran modern percaya akan adanya narasi besar seperti Keadilan, Kesejahteraan, Hak Asasi, atau misalnya Ideologi. Grand-Narrative ini dianggap seolah-olah berlaku bagi semua keadaan, bahwa sungguh-sungguh ada keadilan sejati bagi seluruh manusia, kesejahteraan sejati bagi seluruh manusia, dan seterusnya. 

4. Tuhan. Oleh sebab kekecewaan serius terhadap periode sebelumnya (Pertengahan), ateisme menjadi berkembang dan dideklarasikan. Para filsuf seperti Nietzsche dan Sartre dengan terang-terangan menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada dengan berbagai argumen filosofisnya. 

Empat poin di atas tentu saja merupakan generalisasi yang berlebihan. Nyatanya ada banyak sekali pemikiran yang khas dan barangkali mempunyai beberapa perbedaan dari apa yang digariskan di atas. Namun sebagai pengenalan awal, dalam rangka pemetaan dan garis besar, empat poin di atas boleh juga dijadikan pegangan. 

Kelas filsafat untuk pemula Tobucil dengan tema “Ada Apa dengan Abad Modern?” kira-kira ditujukan untuk menjawab berbagai pertanyaan sebagai berikut: 
•Apa sesungguhnya Abad Modern itu? 
• Bagaimana detail pemikiran di dalamnya?
• Bagaimana jalinan antar pemikiran satu dan lainnya? 
• Bagaimana dengan modernisasi di Timur?



Google Twitter FaceBook

28.8.11

Inilah dia Cerpen Terbaik Klab Nulis Angkatan Sepuluh

Hujan Tanpa Pelangi
oleh: Fuad Hasan

Suara teriakan warga bercampur suara pecahan kaca terdengar ketika beberapa orang polisi membawanya keluar dari rumah, sambil tetap menunduk Pelangi bisa melihat warga yang tampak berkerumun di pekarangan bunga yang dulu selalu dirawat ibunya itu. 

“Anjing, bangsat, setan, pembunuh!!” Begitu warga meneriakinya, 

Beberapa dari mereka bahkan ada yang iseng berusaha memukul wajah ataupun menarik paksa jilbabnya, beruntung polisi sigap melindungi dirinya dari pukulan-pukulan warga, sampai akhirnya ia dibawa dengan sebuah mobil ke kantor polisi.

Satu bulan kemudian, setelah melewati proses hukum yang panjang dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan ayahnya.

Masih terngiang hingga kini ketika dengan tegas hakim berkata “25 tahun kurungan penjara” 

Ketukan palu yang dilanjutkan oleh tangisan histerisnya. Ia bahkan belum hidup selama itu. Ia berpikir bahwa inilah akhir dari masa depannya. Menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara. Tidak ada lagi tanaman milik ibunya, tidak ada lagi gerobak unik milik ayahnya, hanya jeruji , tempat tidur dan toilet seadanya.

Gadis itu bernama Pelangi, nama yang dia dapatkan hanya karena dia lahir di sore hari setelah hujan reda. Jauh sebelum pembunuhan itu terjadi, Pelangi adalah seorang gadis manis yang jarang bicara. Selain kedua orang tuanya, bunga selalu menjadi teman dia bicara. Bunga yang sebetulnya milik ibunya, yang terkadang membuatnya cemburu, namun tak ragu ia sayangi karena dia begitu menyayangi ibunya.

Bersama kedua orang tuanya, dia tinggal di desa di mana senyum dan keramah tamahan masih menjadi sesuatu yang murah. Suara klakson dan knalpot kendaraan bermotor menjadi sesuatu yang sangat mahal. Disini, kecuali hujan turun, suara tetangga yang sedang berteriak dari dalam rumah dapat dengan mudah terdengar hingga jarak dua sampai tiga rumah.

Selepas pulang sekolah, sambil menunggu ayahnya pulang berjualan, dia biasa menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya, membaca buku-buku tentang berbagai macam pengetahuan, tentang sejarah negara, tentang jenis-jenis hewan dan cara mereka tumbuh. Tentang matahari dan bulan yang datang silih berganti. Terkadang ibunya mengajak dia mengaji dan belajar tentang agama. “Berbaktilah pada orang tua nak, Tuhan menyayangi anak yang berbakti” begitu ibunya biasa menasehatinya sehabis mengaji.

Ayahnya adalah seorang pengidap polio, penyakit yang diderita hanya karena ketidaktahuan orang tua ayahnya tentang pentingnya imunisasi. Penyakit yang akhirnya memaksa ia untuk berjualan bakso karena selalu gagal mendapatkan pekerjaan. 

Nyatanya Tuhan memang maha adil, kekurangan fisik yang diderita ayahnya tertutupi dengan tingkat kreativitas yang tinggi. Dengan brilian ayahnya menciptakan gerobak dengan motor penggerak, yang akhirnya mempermudahnya dalam mendorong gerobak ketika harus berjalan berpuluh-puluh kilometer.

Ketika itu dia masih berseragam putih abu dan lebih tertarik dengan bedak dan gincu daripada sepasang boneka yang dulu dihadiahi orang tuanya. Tak ada satupun orang yang meragukan kecantikannya sehingga tidaklah sulit untuk dia mendapatkan perhatian dari banyak lelaki. Selalu terpikir dalam benak Pelangi bahwa hidupnya nyaris sempurna. Orang tua, lingkungan, dan wujud fisik yang rupawan. Apalagi yang perlu dia cari.

Tapi nyatanya memang tak ada gading yang tak retak. Tuhan tidak pernah mengizinkan mahlukNya meraih kesempurnaan yang hanya akan menjadi milikNya. 

Suatu malam ketika hujan turun begitu derasnya, Ibunya pergi. Tanpa pamit dan tentu saja bukan untuk kembali.

Ayahnya yang dulu bersahabat dengan ayat suci, kini lebih memilih bersahabat dengan alkohol dan meja judi. Sampai akhirnya, nyaris tidak ada lagi harta yang tersisa. Semua habis di meja judi.
Dalam bernaknya terlintas, bahwa mungkin ini saatnya untuk berbakti, sebagaimana yang diajarkan oleh almarhumah ibunya dulu. Tanpa sempat menyelsaikan sekolahnya, Pelangi memutuskan untuk mencari pekerjaan. Salah satu wujud berbakti yang dia rasa paling tepat dilakukan saat itu.
Pergilah Pelangi mencari pekerjaan, bermodalkan paras cantik dan kemolekan tubuh. Namun untuk mendapatkan pekerjaan rupanya ijazah pendidikan jauh lebih berharga daripada paras cantik, beberapa minggu berselang, pekerjaan tak juga didapatkan. 

Sampai suatu hari temannya yang bernama Midah datang menawarinya pekerjaan. Tentunya bukan pekerjaan yang membutuhkan ijazah sebagai syarat utama. 

“Kamu hanya perlu menemani pelanggan minum bir. Itu saja!” begitu Midah menjelaskan mengenai pekerjaan itu.

Karena keinginan yang kuat untuk berbakti, maka dengan terpaksa Pelangi mau bekerja ditempat yang orang-orang sebut pub itu. Setiap malam selepas isya, dia gunakan gincu serupa cahaya lampion kemudian membiarkan rambutnya tergerai sampai menutupi payudaranya yang setengah terbuka lalu siap melayani pelanggan menghabiskan gelas demi gelas bir sampai pagi menjelang.

Rupanya Midah lupa atau sengaja lupa menjelaskan bahwa tangan para pemabuk itu kerap kali tidak bisa diam, awalnya jemari itu hanya menyentuh tangan dan wajah, lama-lama merayap ke segala arah. Beruntung peraturan pub yang melarang pelanggan menyetubuhi pelayan di tempat, membuat Pelangi masih bisa mempertahankan kehormatannya.

Batinnya menangis. Ingin rasanya dia berhenti, namun keinginan kuat untuk berbakti membuat Pelangi bertahan. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan untuk kemudian digunakan oleh ayahnya untuk mabuk dan berjudi.

Dengan tubuh molek dan wajah rupawan ditambah dengan pakaian yang menantang, membuat semua pria ingin menyetubuhi dirinya, termasuk ayahnya.

Suatu hari ketika hujan turun begitu deras, sang ayah yang sedang mabuk berjalan ke arah ke kamarnya, dengan langkah sulit ia memaksa masuk, seakan tidak peduli dengan tangisan Pelangi yang semakin kuat, ayahnya terus menghampirinya, lalu dengan paksa menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat di badan mereka.

“Jangan takut sayang, ayah cuma mau mengajarkan kamu bagaimana berbakti” begitu kata ayah.
“Jangan ayah, istigfar! Ini Pelangi anakmu”
“Justru karena kamu anakku, maka ibumu tidak akan keberatan bila aku mencintaimu”
“Jangan ayah, jangan.”

Hujan yang turun semakin deras menenggelamkan teriakan Pelangi, semenjak hari itu, setiap hujan turun, ayahnya selalu menyetubuhinya berulang-ulang. Sampai hujan akhirnya reda.
Cinta dan juga keinginannya untuk berbaktilah yang membuat dia tetap bertahan, menutup rahasia perbuatan dosa sang ayah. Bukankah agama melarang manusia untuk membuka aib orang lain. Begitu pikirnya.

Rasa cintanya yang besar pada sang ayah juga, yang akhirnya membuat dia memutuskan untuk membunuh sang ayah. Ketika anjuran agama tak lagi dihiraukan, maka hanya dengan membunuh ayahnya dia dapat menyelamatkan sang ayah dari dosa yang lebih besar tanpa perlu membuat orang lain tau apa dosa ayahnya.

Sekarang di sinilah dia, di balik jeruji, menanti pelangi yang entah kenapa tak juga tiba setelah hujan reda, di cap berdosa karena menyelamatkan sang ayah dari dosa.

Google Twitter FaceBook

6.2.11

Peta Besar Filsafat: Antara Thales dan Konfusius

"Alam semesta ini terbuat dari air." -Thales (624 SM - 546 SM)
"Jangan lakukan apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu." - Konfusius (551 SM - 479 SM)

Meski keduanya hidup sejaman, tidak ada cerita bahwa Thales dan Konfusius pernah berjumpa dan berkenalan. Keduanya sibuk mengurusi negerinya sendiri, tak ada cerita bahwa keduanya sempat pelesiran menyeberangi pulau apalagi benua. Thales berasal dari Yunani, meskipun beberapa pendapat tak sepakat ia persis lahir di Yunani. Karena tempatnya berpijak dinamakan Miletos, atau wilayah yang menjadi bagian dari Asia Kecil, atau malah disebut-sebut sebagai cikal bakal Turki. Dalam sudut pandang geografis hari ini, berarti jelas Thales lebih dekat ke "Timur".

Namun geografis barangkali tak penting-penting amat bagi dunia filsafat Barat dari dulu hingga sekarang. Yang terpenting adalah klaimnya: bahwa Thales adalah bagian dari peradaban Yunani. Yakni peradaban yang dikatakan sebagai "cikal bakal lahirnya filsafat". Kelahiran itu, katanya cuma mungkin terjadi di Yunani, oleh sebab beberapa hal, misalnya:
  • Yunani menganut sistem polis atau negara kota, dimana masing-masing polis telah melahirkan demokrasi sendiri-sendiri. Dari situ tradisi berpikir bebas dimulai, karena setiap orang bebas bicara.
  • Banyak pekerjaan kasar di Yunani dijalankan rutin oleh para budak. Sehingga banyak warga (terutama kalangan menengah ke atas) yang "kurang kerjaan". Ini menyebabkan mereka punya cukup waktu luang untuk merenungkan hakekat kehidupan serta kebijaksanaan.
  • Di Yunani lahir mitos-mitos yang ditulis oleh Hesiod dan Homer sejak 800 SM. Mitos tersebut menunjukkan tradisi penulisan yang kuat, karena sumbernya masih berupa kitab-kitab utuh dan jelas. Dengan tradisi dokumentasi yang mantap, Yunani percaya bahwa setiap karya buah pikir akan senantiasa lestari.
Poin terakhir soal mitos itulah yang didobrak oleh Thales. Ketika masyarakat Yunani hidup dalam alam mitos, maka ia mencoba jalan lain untuk menjelaskan alam semesta, yakni lewat logos atau akal budi. Mitos bisa menjelaskan bahwa alam semesta ini dimulai dari perkawinan Uranus dan Gaia, tapi Thales tidak cukup puas. Ia melihat bahwa manusia, hewan, dan tumbuhan tidak bisa hidup tanpa air, lalu di ujung daratan seringkali berbatasan dengan air, maka ia menyuarakan temuan beraninya tanpa khawatir kemurkaan Dewa Zeus: bahwa alam semesta ini, jangan-jangan, terbuat dari air!


Thales, gambar diambil dari sini

Thales, atas pernyataannya yang nampak sederhana itu, diklaim oleh dunia filsafat Barat sebagai filsuf pertama. Ketika ditanya darimana filsafat dimulai? Sepakat Barat menjawab: ketika Thales mengatakan bahwa alam semesta ini dari air. Lalu bagaimana dengan Konfusius, seseorang yang sejaman, meskipun berjauhan? Mari kita bahas.

Konfusius lahir di Negara Lu, atau masuk ke wilayah Cina sekarang. Ia lahir di tengah pergolakan politik dan degradasi moral yang dahsyat. Cina berada dalam krisis, dan di periode yang sama bermunculan banyak aliran filsafat. Konfusius adalah salah seorang pembawanya, dimana Lao Tse, di sisi lain, adalah persis sosok yang berseberangan dengannya. Lao Tse, mengajarkan keseimbangan kosmos sebagai antitesis kondisi kehidupan yang serba khaos. Dialah cikal bakal Taoisme yang berbasis Yin-Yang itu. Sedangkan Konfusius tak mau manusia hanya menantikan keseimbangan dan cenderung pasif, ia ingin manusia aktif berbuat, bertindak, dan bereksistensi dalam aktivitas-aktivitas etik keseharian.

Konfusius seperti ogah membahas filsafat sebagai ontologi (hakekat) seperti layaknya Thales. Ia langsung membicarakan aksiologi, yakni bagaimana filsafat ini bisa berguna bagi keseharian. Konfusius langsung pada logika praktis tentang bagaimana seharusnya anak bersikap, bapak bersikap, raja bersikap, menteri bersikap, hingga pemusik bersikap. Barangkali jika Konfusius bertemu Thales, ia akan mengganggap apa yang dilakukan Thales adalah buang waktu dan sia-sia, seperti halnya Sang Guru mengritik lawannya, Lao Tse dengan segala argumen kosmisnya.

Meski demikian, filsafat Barat tetap berpijak kuat pada klaim bahwa Thales adalah anak sahnya, dan peradaban Yunani sebagai tempat yang membesarkannya. Konfusius mungkin disebut-sebut, tapi tidak cukup sering untuk disebut sebagai filsafat. Kadang ia dituduh sebagai agama yang mengada-ngada, atau bentuk kebudayaan, atau paling bentar gerakan spiritual.


Konfusius, gambar diambil dari sini

Pertanyaan kritis untuk didiskusikan:

  • Jika Konfusius yang berpijak pada etika ternyata tak cukup kuat untuk disebut filsafat, bagaimana dengan Socrates, yang oleh Barat dianggap sebagai manusia etik sejati, yang justru lahir jauh ratusan tahun pasca Konfusius?
  • Apakah yang menyebabkan dunia filsafat Barat lebih mengakui peradaban Yunani sebagai awal berkembangnya tradisi logos ketimbang peradaban Cina dengan Konfusius-nya?
  • Bagaimana dengan tradisi berpikir Mesir, Arab, atau India yang secara timeline sejarah punya peradaban yang lebih tua ketimbang Yunani?
  • Bagaimana cara agar kita tetap jernih melihat beberapa peradaban "non-Yunani" sebagai bagian dari sejarah kelahiran filsafat?
Syarif Maulana


*) Handout ini adalah salah satu materi pertemuan "Kuliah Singkat Filsafat untuk Pemula" di Tobucil, 8 Februari 2011, jam 17.00-19.00.

Google Twitter FaceBook

14.11.10

Pasar Kaget: One Stop Shopping

Pengantar dari Tobucil: Sebelum diskusi Madrasah Falsafah Rabu kemarin tanggal 10 November, Moh. Syafari Firdaus melampirkan note di Facebook yang ia tautkan pada beberapa orang yang diasumsikannya akan mengikuti diskusi. Diskusi itu sendiri membahas Gasibu di Minggu Pagi, yakni kira-kira berkaitan dengan pasar kaget yang kerap hadir setiap Minggu pagi di kawasan Gasibu, depan Gedung Sate. Note di bawah ini dimaksudkan sebagai pengantar agar setiap yang mengikuti diskusi punya gambaran dan arahan kira-kira apa yang hendak dibicarakan:


Di mana ada orang berkumpul, besar kemungkinan di sana akan muncul pasar. Ini adalah soal bagaimana memanfaatkan peluang untuk berdagang: keuntungan akan mungkin bisa diraih dari orang-orang yang berkumpul di suatu tempat, di suatu waktu; sekaligus juga menciptakan ruang dan peristiwa, untuk membuka peluang selanjutnya―

Ini adalah cerita tentang sebuah pasar. Pasar yang ingin diceritakan ini hanya terjadi pada waktu dan tempat tertentu, dan praktis berlangsung hanya dalam hitungan jam. Pasar kaget, demikian sebagian orang kemudian menyebutnya.

Pasar ini disebut pasar kaget karena pada awal terbentuknya keberadaan pasar ini memang tidak terduga: mengagetkan banyak orang. Boleh dibayangkan, sebuah tempat yang pada awalnya hanyalah jalan, taman, atau lapang tempat jogging yang tidak seberapa luas, tiba-tiba saja pada suatu ketika telah dipenuhi orang-orang dan para pedagang yang sibuk menjajakan barang dagangannya. Tempat yang biasanya mungkin lengang tak terlalu banyak orang, pada saat itu akan penuh sesak, begitu hiruk-pikuk, dan memacetkan jalanan di sekitarnya. Tentu saja, setelah orang-orang tahu di tempat itu pada waktu tertentu secara rutin akan berubah menjadi pasar, mereka memang sudah tidak merasa kaget lagi. Namun, tetap saja peristiwa itu dinamakan sebagai pasar kaget, biarpun sudah tidak mengagetkan.  

Munculnya pasar kaget memang bukanlah fenomena istimewa, hanya kejadian biasa yang dengan mudah bisa dijumpai di berbagai tempat di banyak negeri. Di sejumlah tempat di Indonesia, adanya pasar kaget memang sudah lazim terjadi, dan beragam pula macamnya. Meskipun bukan fenomena istimewa, namun ada beberapa hal yang kiranya menarik dalam konteks pasar kaget Gasibu yang berlangsung di setiap hari Minggu: mulai dari awal kemunculannya, pedagang dan berbagai produk dagangan yang ditawarkannya, tempat yang dijadikan arena pasar kaget, sampai pada konsumen yang kemudian memanfaatkannya. 

Awalnya adalah ketika ada sebagian masyarakat kota Bandung yang biasa melakukan olah raga ringan di hari minggu pagi: sekadar jalan santai, jogging, ataupun senam bersama di beberapa lapangan terbuka. Konon, sebelum hibuk seperti sekarang, awalnya hanya beberapa pedagang yang ada di sana. Hampir semuanya pedagang makanan dan minuman. Konsumen yang dituju tentu saja orang-orang yang melepas lelah sehabis olah raga, yang membutuhkan minuman dan mungkin sekaligus akan sarapan. Lambat laun, seiring dengan semakin banyak orang yang datang dan berkumpul di lapang terbuka itu, semakin banyak pula para pedagang yang mencoba mengadu peruntungan di sana. Produk yang ditawarkannya pun semakin variatif.

Semakin lama, pasar pun semakin membesar. Areal pasar yang tadinya hanya berada di seputaran Gasibu, kini sudah melebar hingga taman dan lapang Monumen Perjuangan Jawa Barat. Rupanya, kekagetan orang tehadap kemunculan pasar itu hanya sesaat. Selebihnya, yang muncul kemudian adalah rasa ingin tahu. Mereka yang datang ke lapang terbuka itu kemudian bukan saja yang berniat olah raga, namun juga yang memang berniat berbelanja atau sekadar jalan-jalan untuk melihat-lihat keramaian. Untuk sementara waktu, tempat itu pun berubah menjadi semacam tempat piknik keluarga.

Pasar kaget ini biasanya berlangsung dari pagi sampai tengah hari. Lapak-lapak dagangan biasanya akan dipersiapkan dari sejak subuh. Tidak jarang, di antara pedagang itu ada yang sudah mulai menata barang dagangannya dari mulai pukul 02.00 pagi. Lapak-lapak tempat dagang mereka itu biasanya tetap dari minggu ke minggu.

Para pedagang di pasar kaget ini bukan saja mereka yang memang berprofesi sebagai pedagang. Mereka yang sehari-harinya bekerja sebagai buruh/karyawan, pegawai negeri, atau ibu rumah tangga, banyak pula yang mencoba memanfaatkan peluang dengan berdagang di pasar kaget ini. Motif dagang mereka pun beragam: ada yang sekadar “iseng-iseng berhadiah,” untuk mengisi waktu luang, ataupun memang karena mereka butuh untuk mencari tambahan penghasilan. Dengan kata lain, kemunculan pasar kaget ini sesungguhnya telah membuka peluang untuk menciptakan sektor kerja informal bagi masyarakat.

Para pedagang yang kesehariannya berdagang, sebenarnya banyak yang mempunyai gerai tetap di tempat lain (baik di pasar permanen maupun kaki lima). Pada kasus lain, tidak sedikit juga para pedagang di pasar kaget ini yang tidak memiliki gerai tetap sebagai tempat berjualan sehari-hari. Di luar hari pasar kaget, mereka biasanya menjual barang dagangannya dengan cara berkeliling, melakukan direct selling. Adanya pasar kaget ini tentu saja menjadi kesempatan bagi mereka untuk menjajajakan barang dagangannya tanpa perlu berkeliling door to door. Menarik untuk diikuti bagaimana perjalanan para pedagang yang biasanya melakukan direct selling ini. Pada awalnya, pasar kaget itu pun bisa terbentuk karena hasil kreativitas para pedagang semacam ini. Mereka tetap bisa bertahan, meskipun produk dagangannya hampir bisa dipastikan produk lokal hasil home industry yang digerakkan oleh modal yang pas-pasan.

Sungguh mencengangkan jika melihat berbagai produk yang ditawarkan di pasar kaget ini. Sangat beragam: mulai dari makanan, pakaian, alat kebutuhan rumah tangga, mainan anak-anak, alat musik dan alat olah raga, sampai dengan aneka hiburan, nyaris lengkap tersedia. Uniknya, barang-barang yang ditawarkannya itu bukan hanya sebatas barang-barang kecil yang mudah dijinjing: kasur, furnitur, bahkan motor bisa ditemukan di situ. Berbagai makanan tradisional yang pada hari-hari biasa terbilang susah untuk bisa dinikmati, justru banyak dijual di pasar kaget ini.

Persaingan antarproduk (terutama di antara produk yang sejenis), memang menjadi suatu hal yang tak terelekkan. Di jenis produk pakaian, hal itu terlihat cukup jelas. Produk pakaian memang boleh disebut sebagai produk terbesar yang diperdagangkan: mulai dari pakaian dalam, aneka jenis baju dan celana, sandal dan sepatu, sampai dengan jaket dan setelan jas, dengan cukup mudah bisa ditemukan. Orang-orang pun punya banyak pilihan: ingin produk bermerk, produk import, produk lokal, ataupun cukup mencari pakaian bekas. Harganya saling bersaing, dan tidak ada bandrol khusus: bisa cingcay, tinggal melakukan tawar-menawar, harga pas, barang akan segera dibungkus untuk dibawa pulang.

Singkat kata, pasar kaget seperti yang muncul di Gasibu pada setiap minggu pagi ini pada akhirnya lebih menyerupai hypermarket atau mall yang memiliki konsep “one stop shopping”. Hukum supply and demand, tampaknya tidak terlalu menjadi perhitungan di sini. Siapa saja bisa datang ke tempat itu dan berjualan di situ. Tidak terlalu menjadi soal apakah produk yang ditawarkannya itu dibutuhkan atau tidak, akan laku atau tidak. Mereka hanya berusaha untuk memanfaatkan peluang yang ada: di mana ada orang berkumpul, di sana akan ada pertukaran, termasuk di dalamnya adalah jual-beli.

Tertarik untuk mencoba berdagang di pasar kaget ini? Anda tinggal mencari ruang kosong untuk menggelar barang dagangan, membayar sedikit retribusi, lalu tunggu dan nikmati. Barangkali, keuntungan akan datang menghampiri Anda bersama semilir udara pagi kota Bandung yang kini sudah semakin lekat terbalut polusi, dan tak sesejuk seperti dulu lagi.
Google Twitter FaceBook

19.7.10

Saya dan Menulis

Saya suka sekali menulis. Sejak kecil. Saya menulis sajak di diary. Tapi isinya bukan tentang cinta atau laki-laki, melainkan tentang gunung, bunga, kebun. Beranjak remaja saya masih suka menulis di diary. Isinya lebih warna-warni: tentang cowok, teman-teman, keluarga, diri sendiri.
    Kelas tiga SMA saya menulis cerpen sampai jadi satu buku. Semuanya ditulis tangan dan tidak ada yang dikirim ke media massa. Cerpen-cerpen saya cuma dibaca teman-teman.
    Saya sempat berhenti menulis sewaktu kuliah. Tapi saya menulis lagi ketika jatuh cinta pada awan. Awan putih yang kehadirannya selalu sebentar, membentuk aneka rupa seperti aktor yang bermain pantomim: lucu dan bisu. Tapi saya tidak bisa menyentuhnya. Awan terlalu jauh di angkasa. Saya di bumi.
    Maka saya menulis tentang awan. Cerpen, puisi, atau tulisan-tulisan lain yang tidak saya tahu namanya. Awan tidak tahu saya menulis tentangnya. Tidak apa-apa. Awan tidak perlu tahu.
    Dan ia memang tidak pernah tahu.
    Tapi awan selalu membuat saya ingin menulis. Saya menulis tanpa henti. Tentang awan, matahari, rumput, sandal, kursi.
    Lama-lama saya jatuh cinta pada menulis. Lalu saya berpikir, mungkin menulis itu soulmate saya. Pasangan saya bukan awan, tapi menulis. Saya ingin hidup dengan menulis. Saya yakin menulis bisa membuat saya bertahan hidup dalam kesulitan apapun.
Rie Yanti suka menulis tentang apa saja, bahkan tentang hal-hal sepele. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di  http://ceritarie.wordpress.com/
Google Twitter FaceBook

2.5.10

Ucapan Selamat dari Para Awak Tobucil

Memasuki ulang tahun Tobucil yang ke-9, saya mencoba mengumpulkan ucapan selamat, doa, dan harapan dari awak-awak Tobucil dan orang-orang yang rajin datang ke Tobucil, ini diantaranya:

Rosihan Fahmi   (Koordinator Madrasah Falsafah): Terima kasih Tobucil n Klabs yang baik hati. Yang telah menerima dan menaungi klab filsafat hingga kini. Semoga kebersamaankita mampu saling memberi warna dan berkah bagi kita semua.

Palupi Kinkin (Koordinator Klab Rajut): Semoga Tobucil dapat terus bermanfaat buat lingkungan disekitarnya.

Elin Purwanti (Manajer SDM): Selamat so pasti buat Tobucil sayang semoga Tobucil tetap menjadi Tobucil. Sori rif otak urang milu libur yeuh semoga besok udah bisa diasah lagi.

Joko Supriyadi (Aktivis Madfal): Semoga Tobucil semakin menjadi literate akan berbagai hal di sekitar, semoga terus bertahan dan tetap kondusif.

Rudy Rajut (Aktivis Tobucil, mau madfal, klabnulis, atau rajut, semua ikut): Tobucil is My Haven (pasti maksudnya Heaven –red) in the earth.

Arul (Aktivis Madfal): Selamat ulang tahun Tobucil, semoga cemilan dan makanannya lebih banyak sehingga lebih betah di Tobucil. Pendapat soal literasi dalam keseharian? Ini dia, literasi dalam keseharian, keseharian dalam literasi.

Eri (Aktivis The Men Who Knit): Selamat ulang tahun Tobucil, harapan saya Tobucil bisa melakukan trip keliling dunia dan saya ikut.

Grace Tobing (Aktivis Madfal): Selamat ulang tahun Tobucil, semoga koleksinya semakin cihuy!

Iman Abda (Aktivis Madfal): Bonne Anniversaire Tobucil ke-9, tetaplah menjadi tuang yang sehat bagi komunitas literasi di Bandung.

Syarif Maulana (Koordinator KlabKlassik): Selamat ulang tahun untuk Tobucil yang ke-9, semoga galau selalu.

Royke Ng (Guru Gitar Klasik/ aktivis KlabKlassik): Met ultah utk Tobucil. Semoga Tobucil eksis terus ^_^

Heru Hikayat (Kurator Independen/ aktivis Madfal): Tobucil tetap rock lah!

Diecky Kurniawan Indrapradja (Komposer/ Aktivis KlabKlassik): Selamat ulang tahun untuk Tobucil, harapannya ya, semoga panjang umurlah! Dan semoga akan ada pesta yang hebat!

Ruri Fitriyanti (Aktivis Madfal): Selamat ulang tahun untuk Tobucil, semoga semakin bisa mengakomodasi hobi yang sudah ada disini dan perbanyak cemilan serta minumannya ya hehe.
Google Twitter FaceBook

12.4.10

Tiga Tahapan untuk Memaksimalkan Digital Detox-mu

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Diterjemahkan dan dikembangkan dari sini

Menjelang Minggu Digital Detox yang sudah semakin dekat, situs adbusters.org menyuguhkan tiga tips singkat mengenai bagaimana menyikapi minggu tersebut, agar lebih bermakna dan efektif bagi partisipator. Artinya, minggu tersebut jangan sampai dirayakan seperti histeria massa semata, melainkan punya daya reflektif yang kuat dan menjadikan dunia ini tempat yang lebih baik setelahnya, berikut tahapan-tahapan tersebut:

1. Lakukan Momen Keheningan

Pada saat bangun tidur untuk pertama kalinya di hari pertama Minggu Digital Detox, lakukanlah secara lebih perlahan dan lambat. Dalam artian, buat dirimu menyadari apa yang kau lakukan, dan jangan langsung bergerak seolah-olah dirimu adalah robot yang bergerak sesuai tuntutan mekanis. Sempatkan waktu untuk merenung sejenak dan sangat disarankan dalam suasana hening. Jika kau melakukan Digital Detox, pastilah kau adalah orang yang rajin berinteraksi dengan komputer. Perlu diingat bahwa Digital Detox sama sekali tidak melarang untuk melakukan koneksi dengan internet, melainkan menjauhkannya dari jaringan sosial untuk sementara serta games online. Nah, sebelum menyalakan komputer, ada baiknya merenungkan selama 60 detik di depan layarmu yang belum nyala dan masih berwarna hitam. Lihatlah wajahmu disitu, dan renungkan hubungannya dengan layar di depan. Adakah hubungan kalian begitu erat? Atau sebatas dua benda yang satu mati yang satu hidup? Jika demikian, kenapa kau mau menghabiskan waktu di depannya ketimbang dengan orang-orang di dunia nyata?

2. Perlambat

Dalam situs dipertontonkan semacam animasi satu menit, tentang bagaimana rutinitas orang kota itu pada umumnya. Mereka menghabiskan waktu untuk kerja, perjalanan menuju kantor, dan berkomunikasi via telepon atau internet. Sedangkan waktu untuk bercengkrama dengan keluarga, kekasih, atau binatang piaraan, hanya beberapa menit saja. Maksud perlambat disini adalah: perlambat tempo hidupmu, jangan biarkan rutinitas memenjarakan keinginanmu untuk memperkaya batin. Jadi, dihimbau untuk lebih banyak tersenyum dengan orang sekitar, menyapanya, dan mengobrol akrab dengan teman-teman. Adapun luangkan waktu lebih banyak dengan keluarga, pacar, atau binatang piaraan. Hal tersebut akan mencegah alienasi dari rutinitas yang membenamkan kesadaran.

3. Sambungkan Kembali Dirimu dengan Realitas

Gunakan seminggu tersebut untuk berkumpul dengan teman-teman lama. Buatlah acara pertemuan yang menyenangkan seperti hiking atau makan bersama. Buatlah pertemuan tatap muka kembali menjadi utama alih-alih via Facebook atau Twitter. Nikmatilah senyum, sedih, senang, susah, dan ekspresi-eskpresi yang langsung ditampakkan padamu. Karena dalam jaringan sosial, apa yang ditampilkan seringkali tidak alami dan tidak sesuai keadaan yang sebenarnya. Pun pesan emosionalnya seringkali tidak sampai. Buatlah dirimu menjadi manusiawi kembali dalam upaya mengembalikan diri dengan realitas ini.

Selamat Mencoba!



Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

5.4.10

Tiga Permintaan

Jika kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk mengajukan 3 permintaan yang pasti akan dikabulkan, apa yang akan kita minta? Sebaris pertanyaan ini sungguh membuat saya tergelitik dan kembali menilik ke dalam diri saya. Seandainya hal itu terjadi pada saya, 3 permintaan apa yang akan saya lontarkan. Jika harus memilih 3 permintaan dari sekian banyak hal yang kita inginkan, setidaknya bagi saya. Diberi waktu untuk merenungipun sepertinya masih cukup sulit untuk menjawabnya.
Pertanyaan itu setajam pisau yang langsung menyayat tajam. Sebenarnya pertanyaan ini menyelubungi hal yang sangat penting. 3 hal yang kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Mungkin tujuan hidupmu, seseorang yang teramat berharga buatmu, keinginan terpendam yang tak pernah terwujud, hal-ikwal duniawi yang selama ini kamu impikan, semua berkecamuk dan berpacu untuk menjadi yang utama.
Ada yang menjawab, kesehatan, panjang umur dan rezeki yang berlimpah. Ada juga seorang yang lebih bijaksana menjawab, kesehatan, hidup bahagia dan bisa berada di sisi Bapa di surga. Tapi sebenarnya apa cukup hanya 3 permintaan buat manusia yang selalu dilingkupi dengan perasaan tamaknya?
Penjelasan dari Pastor tadi pagi sungguh membuat saya tercengang. Dijelaskan tak mungkin manusia bisa puas dengan semua yang diberikan Tuhan. Setelah 3 permintaan tersebut, pasti akan tetap ada lagi permintaan yang diinginkan oleh manusia. Lagi..lagi..dan lagi tanpa pernah merasa puas atas apa yang telah kita dapatkan.
Seharusnya hanya satu permintaan yang perlu kita ajukan. Satu permintaan yang dijamin akan membuat kita menjadi lebih menikmati hidup, satu permintaan yang akan mengubah pola pikir kita tentang hidup, satu permintaan untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki. Rasa puas untuk semua yang telah kita dapatkan. Yaa.. rasa syukur akan membuat kita menjadi manusia baru yang lebih menghargai hidup dan berhenti untuk terus meminta. Melepaskan kita dari belunggu nafsu dan obsesi untuk mendapatkan lebih dan lebih setiap harinya.
“Apakah kita akan meminta hal itu jika diberi kesempatan meminta 3 permohonan?” Saya tau hal itu tidak segampang mengkata-katakannya, tapi setidaknya dengan mengetahui kita sudah selangkah lebih dekat, bukan?


Ivy alias Natalia Oetama adalah penggalauwati yang rajin menghadiri Madrasah Falsafah dan juga pernah beberapa kali Tobuciler temui di Reading Lights Writer Circle. Aktif menulis blog dan chatting sampai tengah malam untuk mencari kebenaran.
Google Twitter FaceBook

29.3.10

Antara Nyepi dan Earth Hour

Tulisan ini dimodifikasi sedikit dari sini



Foto diambil dari sini

Malam minggu tanggal 27 kemarin, dunia memperingati earth hour. Yakni kampanye yang bertujuan dalam rangka mengurangi resiko global warming dengan cara mematikan lampu selama satu jam dari jam 20.30 hingga 21.30.

Terlepas dari benar-tidaknya earth hour mengurangi resiko global warming serta buruknya kesadaran masyarakat kita, saya pribadi menemukan banyak hal yang menarik dalam satu jam kegelapan tersebut. Kegelapan dalam dunia kita pasca Edison segera menjadi hal yang langka serta identik dengan keterbelakangan. Dulu pemerintah rajin mencanangkan program LMD (Listrik Masuk Desa) yang mana mencirikan desa sebagai simbol keterbelakangan karena ketiadaan listrik (baca: penerangan listrik). Istilah "mati lampu" juga segera berkembang menjadi istilah dengan konotasi negatif, dekat dengan musibah, dan identik dengan ketidakmungkinan melakukan sesuatu. Alasan "mati lampu" bisa juga menjadi favorit para mahasiswa jika tak mampu mengumpulkan tugas, yang anehnya, para dosen kebanyakan mafhum. Bahkan di kita ada istilah "menerangkan", yang berarti "menjelaskan", ada upaya membuat orang dari tidak tahu menjadi tahu. Artinya jika "menerangkan" berkata dasar "terang" membuat orang menjadi tahu, berarti mungkin tadinya adalah "gelap" alias tidak tahu. Dalam bahasa gaul juga terdapat istilah "tau ah gelap", menyiratkan kondisi bahwa gelap adalah sama dengan ketidaktahuan. Ada pun dalam istilah kriminalitas ada yang namanya "penggelapan uang". Pokoknya "gelap", dalam padanan kata bahasa Indonesia (atau mungkin bahasa-bahasa lainnya di dunia), hampir selalu bertautan dengan kebodohan dan kejahatan.

Kebetulan dua hari sebelumnya adalah Hari Raya Nyepi, yang kondisi kegelapannya jauh lebih parah dari earth hour. Jika earth hour cuma sejam, maka Nyepi dua puluh empat jam. Jika earth hour cuma urusan lampu, maka Nyepi terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api [baca: lampu atau listrik), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Menarik jika kedua "fenomena kegelapan" ini dikaitkan.

Menurut kepercayaan umat Hindu sebagai penyelenggara Nyepi, segala hal yang bersifat peralihan, selalu didahului dengan perlambang gelap. Misalnya seorang bayi yang akan beralih menjadi anak-anak (1 oton/6 bulan), lambang ini diwujudkan dengan 'matekep guwungan' (ditutup sangkar ayam). Wanita yang beralih dari masa kanak-kanak ke dewasa (Ngeraja Sewala), upacaranya didahului dengan ngekep (dipingit). Demikian halnya dengan Nyepi, yang merupakan bagian dari upacara untuk memperingati Tahun Baru Saka. Contoh paling mudah untuk Nyepi ada di Pulau Bali. Pada hari-H, pulau itu mendadak lengang dan bisa dibilang "mati". Mengapa harus dari kegelapan? seperti biasa, penjelasan agama seringkali kurang memuaskan, yakni: untuk menyucikan Buwana Alit (alam manusia) dan Buwana Agung (alam semesta). Adapun penjelasan yang lebih mengakar, namun masih abstrak, yaitu demi menyucikan hati dan sanubari. Sebenarnya tak hanya Hindu, agama-agama besar lainnya pun menjelaskan pentingnya semacam transisi demi memperoleh kesadaran baru, yang mana transisi tersebut sepertinya harus gelap, sakit, susah, dan kadang darah. Islam misalnya, transisi untuk mencapai Idul Fitri yang konon mengembalikan manusia kepada kesucian, mesti melewati yang namanya puasa sebulan penuh. Adapun upacara kurban (bukan hanya Islam yang punya), juga seringkali dipakai sebagai simbol penyucian. Artinya, transisi menurut agama, mestilah lewat sesuatu yang tidak disukai oleh tubuh.

Jika memang dunia pasca Edison menganggap kegelapan sebagai malapetaka, tidakkah earth hour jadi penting sebagai upaya transisi kesadaran, jika mengambil esensi ritual-ritual keagamaan seperti Nyepi? Barangkali inilah cara untuk "menyucikan" masyarakat metropolis yang bergelimang "dosa" dari rutinitas yang membentuknya menjadi mekanistik. Mekanistik itu membawanya pada "kesadaran harian" yang melulu soal kerja, uang, pemenuhan hasrat dan lain-lain yang cuma bisa dilakukan jika ada penerangan (bercinta boleh gelap gulita, tapi pasti ogah jika tak lebih dahulu melihat pasangannya). Kala upacara Tahun Baru Masehi masih dirayakan dengan gegap gempita, terang benderang, hiruk pikuk, dan ujung-ujungnya tidak membentuk kesadaran baru yang "sadar malapetaka", maka earth hour mengajak kita untuk "merayakan tahun baru" dengan cara lain, yakni lewat berdiri dalam kegelapan dan kesunyian -sebuah simbol yang tak populer belakangan-. Hal tersebut, bagi saya, sukses menyadarkan bahwa terang benderangnya dunia akhir-akhir ini memang terlalu menyilaukan bagi penglihatan kesadaran. Alih-alih ia bisa melihat, yang ada memandang dengan mata terpicing, atau malah menutupnya. Gelap.

Syarif Maulana

 
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin