Cara duduk Ulfah Elfani tidak setenang biasanya. Mahasiswi
UNISBA itu lebih banyak bergerak. Kue kering yang dia beli sebelum bergabung
dengan rekan kelas Public Speakingnya langsung ludes sebelum ujian mulai. Ulfah
hanya bisa tertawa gugup saat Theoresia Rumthe menyebut namanya untuk
mempresentasikan tugas akhirnya.
Ulfah langsung memposisikan dirinya di hadapan teman-teman
dan tiga orang juri yang siap menghakimi caranya berbicara di depan umum. Dengan
suara menggelegar, dia menceritakan bunga tidur yang paling diingatnya.
Sore itu, Ulfah bercerita tentang kondisinya yang merasa
tidak bisa membedakan mana mimpi dan mana kehidupan nyata. Dia baru menyadari
hidup dalam mimpi saat kesulitan menggerakkan ponsel dalam genggamannya. Saat
dia pandangi, ponsel itu juga tidak serata aslinya.
“Di sana saya merasa harus bangun, tapi agak kesulitan.
Akhirnya malah jadi ereup-eureup,”
katanya. Gadis kelahiran 20 tahun lalu itu pun membandingkan mimpinya
dengan film Inception. Film Hollywood yang dimainkan oleh bintang film Titanic,
Leonardo Di’Caprio itu menceritakan
mimpi di dalam mimpi. Sang sutradara, Chirstopher Nolan membuat para pemerannya
mampu menciptakan mimpinya sendiri, hingga masuk ke mimpi orang lain. Lewat
Inception, dia membuat para penontonnya terhibur sekaligus mengerutkan kening
saat melihat adegan demi adegan yang jauh dari nalar.
Sambil menceritakan bunga mimpinya, Ulfah tak berhenti
menggerakkan tangannya. Seolah dia sedang berusaha menyingkirkan kegugupannya.
Dia juga sesekali berhenti untuk mengingat apa yang akan selanjutnya dia
ungkapkan di depan peserta kelas lain.
Meski begitu, paling tidak sekarang Ulfah bisa bicara di
hadapan banyak orang lebih lancar daripada sebelum dia mengikuti kelas Public
Speaking. Ulfah mengaku punya krisis kepercayaan diri, terutama jika harus
berbicara.
Itulah salah satu alasan yang membuatnya nekad mendaftarkan
diri di kelas bimbingan Theo. Selain dia mengaku sebagai fans nya Theo, Ulfah
juga mengatakan kalau selama ini dia masih kebingungan menemukan minatnya.
Dengan mengikuti kelas yang hadir dua kali dalam satu minggu di Tobucil and
Klabs itu, gadis asal Purwakarta itu berharap bisa menemukan hal yang dia
minati.
Sebagai mentor, Theo tidak banyak mengajari semua peserta
kelasnya. Selama tiga dari tujuh pertemuan, Theo hanya membagikan beberapa
teknik dasar cara berbicara di depan umum. Dia lebih banyak mendorong para
peserta untuk lebih aktif berbicara lewat berbagai tugas. Theo berusaha
mengubah kebiasaan bicara para peserta kelasnya, menggenjot semangat peserta
kelasnya untuk berbicara lebih lugas dengan memainkan nada, mimik wajah,
posisi, dan gerak tubuh. Memang, hal tersulit dari kelas Public Speaking adalah
mengubah kebiasaan.
“Delapan kali pertemuan memang kurang maksimal, itu makanya
saya selalu meminta mereka berlatih di rumah. Kuncinya memang berlatih mengubah
kebiasaan sepanjang hidup,” ujar Theo.
Ulfah bukan satu-satunya peserta kelas berusaha keras
mengubah cara bicaranya. Inne Anastasia, Tani Indira Dewania, Erick Adyowibowo
Soemantri, dan Muhammad Sabil adalah empat peserta lain yang selalu setia
datang ke Tobucil and Klabs setiap Selasa dan Jumat sore, berusaha keras supaya
bisa berbicara lebih baik. Meski belum selancar dan semenarik para MC kondang, mereka
sudah berani tampil “cuap-cuap” di depan umum.
Kelas Public Speaking ke-16 baru selesai dan Theoresia
Rumthe sedang mempersiapkan kelas selanjutnya. Nah, buat yang tertarik
mengikuti jejak Ulfah, Inne, Erick, Sabil, dan Tani, siap-siap ya!
Bookmark this post: |






