Showing posts with label ruang istimewa. Show all posts
Showing posts with label ruang istimewa. Show all posts

21.3.14

DIY Simple Science with HackteriaLab!

Tepat hari Kamis kemarin, tobucil kedatangan tamu dari Swiss. Mark yang akrab disapa Marjono karena lama tinggal di Jogja ini mempresentasikan dirinya sebagai wakil dari komunitas Hackteria. Apa itu Hackteria? Pada mulanya kami juga bingung untuk beberapa saat, namun setelah Mark menjelaskan, kami lalu ber “ooooo...” ria.


Kebanyakan orang ketika mendengar kata science pasti akan langsung berkerut kening. Mengingat bahwa ketika di sekolah dahulu pelajaran kimia, fisika, dan pelajaran lainnya yang berscience gampang sekali membuat kita pusing kepala. Hahaha. Mark sebagai penggila per-science­-an sangat tidak setuju pada hal itu. Kecintaannya pada ilmu pengetahuan membuat hatinya tergerak untuk membuka wawasan orang-orang bahwa “Hey, science isnt so hard. It is simple and fun.” Ucap bule gondrong itu.

Mark, kanan berkaos coklat
Setelah berkeliling dari kota ke kota di seluruh dunia untuk mempresentasikan apa yang dibawanya, Mark akhirnya bertandang ke Indonesia. Berawal dari pertemuan dengan Ucok penggiat organisasi Life Patch yang juga bergerak di bidang citizen initiative in art, science and technology maka cocoklah sudah, Mark akhirnya bergabung. Berhubung topik yang dibawa olehnya sangat pas untuk kebutuhan di negeri kita tercinta ini.

Mark beserta teamnya membawa beberapa alat sederhana – yang bagi orang awam seperti saya sempat bertanya-tanya, apa alat itu sebenarnya? – dari bahan-bahan recyle yang ternyata dapat menciptakan alat baru yang luar biasa.


Pada awal diskusi Mark memperkenalkan komunitas Hackteria, dia memperlihatkan hasil kunjungannya ke suatu sekolah di Indonesia saat mengajarkan siswa-siswanya untuk membuat Hardware dari bahan CPU tak terpakai namun menjadi Hardware yang berguna bagi CPU lainnya, setelahnya ia memperagakan alat-alat ciptaannya satu per satu. Yang pertama adalah mikroskop. Bukan sembarang mikroskop loh, alat ini dibuat Hackteria dari webcam biasa. Webcam yang banyak terdapat di laptop atau bahkan kamera smartphone teman-teman sekalian. Amazing! Lalu alat transport suara. Bentuknya kecil, hanya terdiri dari batere, chip-chip kecil, dan voala. Sentuhkan satu jarimu di plat kuningan dan satu jarimu yang lain di tempat manapun maka akan keluar suara yang berbeda-beda. Lalu ada ikan-ikan, ternyata eh ternyata ikan itu Mark bawa bukan karena dia memeliharanya, namun ternyata ikan itu adalah sumber energi penghasil listrik!

Mark memperagakan kamera mikronya.
Berbagai macam perangkat Mark tampilkan dalam diskusi kemarin, selain menimbulkan kekaguman, kita pun menyadari bahwa ternyata science tidaklah serumit yang dibayangkan. Bahkan, kita bisa membuatnya sendiri dari bahan-bahan disekitar kita. J

Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :)
Setelah tiga jam terpesona oleh presentasi Mark, diskusi pun selesai ditutup dengan performance Larry Bang Bang, sang tattoo artist unik yang menerapkan bakat briliannya dengan menggunakan BOR! Tentu saja, para peserta yang hadir langsung mengantri untuk mencoba bor tatonya Lary. :D

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

16.3.14

Satu Bulan Sekali ber-CRAFTPARTY!!!


Berawal dari kegiatan saling tukar kado antara para crafter, maka timbulah ide untuk mengembangkan pertukaran kado tersebut menjadi sesuatu yang bermakna. Tidak hanya sekedar mendapatkan kado yang berupa barang jadi, tapi juga saling berbagi pengetahuan sederhana dalam berkreasi.


Pesta pertama dimulai bulan ini yaitu Maret 2014 tepat hari Sabtu tanggal 15. Tema pertama adalah Friendship-Bracelets. Yup, membuat gelang persahabatan dari jalitan benang dengan pattern yang dapat dipilih sesuka hati di sini. Cocok sekali bukan. Sama seperti CRAFTPARTY ini, semoga saja dengan saling berbagi pengetahuan baru, bisa terjalin persahabatan yang erat dalam berkreasi. J





Siap-siap untuk tema bulan April teman-teman; Daur Ulang di hari Bumi! Siapapun yang berminat silakan hadir ke Tobucil and Klabs, jalan Aceh 56, informasi lebih lanjut hubungi 022-4261548. Silakan bawa ide proyek daur ulangmu sendiri! Lets go Craft Party!

Dini Zakia
Google Twitter FaceBook

17.5.11

Crafty Days #5: Musik Sore yang Menghebohkan

Crafty Days edisi lima Tobucil, seperti biasa, memilih musik sebagai pamungkas acaranya. Karena diselenggarakan di waktu sore, maka dinamailah Musik Sore. Untuk Crafty Days ini, diundanglah empat pengisi acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung, lalu disambung Grace dan Tesla, Yustinus Ardhitya, dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Acara yang semestinya dimulai pukul setengah empat ini agak molor karena hujan dan pemasangan sound system yang cukup rumit. Sound System ternyata dipasang cukup serius, plus mixer dan speaker aktif yang mengelilingi beranda mungil Tobucil. 

Ririungan Gitar Bandung (RGB)
Penampil pertama adalah homeband Tobucil, yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB) dari KlabKlassik. Dengan format ensembel gitar akustik, mereka membawakan empat karya sekaligus. Yang pertama Air on G String, lalu Drive My Car, La Cumparsita dan ditutup dengan Canarios. Kecuali lagu nomor dua, sisanya adalah lagu klasik "murni". Meski bermain cukup apik, namun penampilan dari RGB ini belum didukung penuh oleh sound system sehingga volume suara kurang banyak terdengar, terlebih lagi penonton sudah sangat memadati beranda sehingga suara semakin teredam. 

Duo Maut 'Grace & Tesla'
Meski tadinya dijadwalkan Yustinus Ardhitya yang mengisi acara berikutnya, namun Grace dan Tesla menawarkan diri untuk main berikutnya. Duo gitar-vokal ini, meski berbau jazzy, namun berulangkali mereka menekankan bahwa mereka tidak sedang main jazz. Bebas saja, katanya, mau diartikan apa. Mereka berdua membawakan dua karya, yakni Blackbird dari The Beatles, dan Putih Melati dari Guruh Soekarno Putra. Grace dan Tesla, meski cuma berdua, namun sukses menghadirkan suasana mistis. Hal ini terutama keluar dari suara vokal Grace. Berkali-kali ia minta mikrofon diberi reverb atau gema ternyata bukannya tanpa alasan, ia ingin memberi sentuhan mistis itu. Sayang sekali, akibat Grace merangkap jaga stand juga, maka ia cuma menyanyikan dua lagu. 

Yustinus Ardhitya, penyanyi balada plus juragan bengkel mobil

Yustinus Ardhitya hadir berikutnya. Ia bermain gitar vokal dibantu rekannya dengan gitar pula. Ia membawakan karya-karya balada ciptaannya sendiri. Yustinus menampilkan empat lagu, membawa penonton pada suasana lirih, setelah RGB dengan keademannya dan Grace-Tesla dengan kemistisannya. Suara Yustinus termasuk impresif: serak-keras-bertenaga. Genjrengan gitarnya pun asyik dan mantap.

Ammy Kurniawan & Alternative Strings
Penampil terakhir adalah Ammy Alternative Strings. Kang Ammy Kurniawan, pemain biola 4 Peniti, hadir beserta murid-muridnya, para pebiola. Kang Ammy sendiri kemarin tidak bermain biola, melainkan gitar. Mereka menampilkan banyak karya, mulai dari tradisional, klasik, hingga pop yang kesemuanya diaransemen ulang dengan gaya alternative strings. Yang paling menarik adalah kala kelompok tersebut membawakan Java Medley yang menampilkan lagu-lagu daerah seperti Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Cingcangkeling, Rek ayo Rek, Manuk Dadali dan lain-lain. Gaya alternative strings adalah gaya bermain biola yang bebas dan mengedepankan improvisasi. Walhasil, dengan sajian pemain berbanyakan sejumlah 24 orang plus groove gitar Kang Ammy yang asyik mengiringi, puncak acara Crafty Days pun ditutup dengan manis dan juga heboh. 

MC kondang sekaligus gegedug klab klassik merangkap kontributor blog tobucil dan pemandu kelas filsafat pemula, cowo paling banyak jabatannya di tobucil: Syarif Maulana

Foto-foto Crafty Days #5 bisa di lihat di sini

Google Twitter FaceBook

Crafty Days #5: Kisah Even Pembawa Hujan

Crafty Days adalah even tahunan Tobucil yang isinya memuat bazaar dan workshop handmade plus sajian musik. Kemarin, 14 dan 15 Mei, Crafty Days sukses diselenggarakan untuk kali kelimanya. Dua puluh stand handmade memeriahkan halaman Tobucil. Di garasinya, atau beranda, atau Adi Marsella menyebutnya dengan, "Auditorium," selalu sambung menyambung gelaran workshop mulai dari yubiami, scrapbook, boneka pom-pom, merenda, hingga boneka bantal. Auditorium itu juga multifungsi, di lain waktu ia diisi oleh semacam talkshow berbagi pengalaman memulai usaha handmade, serta pagelaran musik dengan perangkat sound system cukup lengkap dan pengisi acara yang cukup serius.

Workshop Boneka Bantal bersama Puri dari Idekuhandmade
Jika awal mula masuk dan melewati pagar Aceh 56, yang pertama "menyambut" di meja stand paling depan adalah Pyur!. Stand yang menjual boneka monster, tas, dompet, dan kayu lukis ini menjadi hangat karena adanya figur Ibu Sutjiharti yang rajin menyapa lembut para pengunjung. Ibu Sutjiharti adalah penjaga stand sekaligus pembuat produk Pyur! ini. Di Crafty Days ini banyak stand yang menarik, diantaranya Oma Anna yang juga menjual selai organik selain barang-barang handmade. Selai organik ini menarik sekali, kata Mba Mei, pembuatnya, "Perbandingan gula dan buah adalah setengah banding satu, jadi buah lebih banyak. Produk selai pada umumnya satu banding satu." Saya mendapati satu rasa, yakni jeruk-melati yang sangat menggelikan di lidah. Selain stand-stand handmade, ada juga stand non-handmade seperti stand makanan takoyaki dari Garasi 10. Stand takoyaki ini cukup fenomenal, di awal kehadirannya di hari Sabtu jam 9 pagi, mereka sudah sold out jam 12 siang! Akhirnya stand takoyaki ini beristirahat selama dua jam untuk mengaduk adonan lagi dan kembali berdagang. Adapun stand keramik, Kandura, selain menjual barang-barang, ia juga mendirikan meja workshop membuat keramik. Dengan harga Rp. 30.000 saja, siapapun yang datang boleh mencoba membuat keramik, dan nantinya si produk boleh dibawa pulang setelah dibakar di tungku 1200 derajat celcius.

Ojan dari Nest of Ojanto  sedang mengikuti workshop Keramik Bersama Tisa dari Kandura Keramik

Acara Crafty Days ini secara umum dipandu oleh MC Theoresia Rumthe. Setiap pengunjung yang datang disapa dan kadang dijahili. Sekarang mari kita tengok stand tuan rumah, Tobucil Handmade. Tobucil Handmade dijaga oleh Dian dan Mayang. Isinya macam-macam, mulai dari benang diskon, keripik dan basreng kering, pameran scrapbook, kacamata, hingga produk kongsi handmade dari Rinja-Rinja, Mogu, Dentelle, Laugh on the Floor, Vitarlenology, Kineruku, dan Wawbaw. Stand tuan rumah, menurut pengakuan Dian, "Alhamdulillah laku banyak." 

keceriaan crafty days

Puncak dari Crafty Days adalah Musik Sore. Diisi oleh empat penampil yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB), Yustinus Ardhitya, Grace dan Tesla, serta Ammy Alternative Strings. Format musiknya sangat beragam, demikian pula aliran yang dibawakannya. Ririungan Gitar Bandung menggunakan format gitar akustik dengan sebagian besar membawakan lagu klasik, Yustinus Ardhitya gitar duet plus vokal dengan berisikan lagu-lagu balada, Grace dan Tesla meskipun sangat jazzy tapi duo gitar-vokal itu ogah dibilang jazz, serta terakhir, Ammy Alternative String yang menyuguhkan format biola berbanyakan sampai dua puluh empat orang!

Mbah dari jendela Aceh 56, saat lagu Happy Birthday dinyanyikan
 Di sela-sela Crafty Days terdapat selipan yang manis. Yakni seluruh penonton musik sore bernyanyi lagu happy birthday yang ke-85 bagi Mbah pemilik rumah sebelah. Tanpa restu Mbah, tentu saja Crafty Days yang ramai ini mustahil terselenggara. Di sela-sela Crafty Days juga terdapat selipan yang akhirnya harus diputuskan bahwa ini manis: hujan. Crafty Days, diselenggarakan bulan apa pun, ternyata selalu diberkahi hujan. Hujan ini terang saja kerap membuat panik para pemilik stand maupun sound system. Karena beranda tempat mereka bernaung termasuk kategori outdoor. Meski demikian, akhirnya perlu diterima bahwa Crafty Days adalah sebagai pembawa hujan itu sendiri. Jika suatu saat Bandung dilanda kemarau panjang dan hewan-hewan kehausan, manusia kepanasan, maka mari kita selenggarakan Crafty Days agar hujan. Sampai jumpa di gelaran berikutnya!  Syarif Maulana 



Foto-foto Crafty Days # 5 dapat di lihat di sini 
Google Twitter FaceBook

7.3.11

(Pra) Koperasi Makmuraya, Demi Kemakmuran Para Anggota


Mungkin ada yang masih ingat, bahwa salah satu bapak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Mohammad Hatta adalah juga bapak koperasi Indonesia. Bung Hatta menafsirkan bahwa bentuk perekonomian yang paling sesuai dengan Pasal 33 UUD 1945, khususnya Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, adalah koperasi.
Koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi.Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani non-anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri.[1]

Idealisme besar koperasi Makmuraya tentu saja sejalan dengan penafsiran Bung Hatta tentang koperasi itu sendiri, Makmuraya yang berdiri pada tanggal 5 Juli 2010 ini, berusaha mengusung semangat kemandirian bagi dan tentu saja memakmurkan para anggotanya, sesuai dengan namanya. Kebetulan saja, para penggagasnya sering berkumpul di tobucil, meski koperasi ini sendiri merupakan organisasi mandiri yang terpisah sama sekali dari tobucil. Dari tujuh orang anggota: Erri Nugraha, Kenti Prahmanti, Palupi, Dian Rinjani, Yuliana, Mulyana dan Tarlen Handayani, kini anggota Makmuraya bertambah menjadi tiga belas anggota (sampai Maret 2011).

Makmuraya bergerak di bidang simpan pinjam. Setiap anggota berkewajiban menyimpan simpanan pokok sebesar Rp.100.000 sekali selama jadi anggota, iuran wajib perbulan sebesar Rp. 20.000 dan simpanan sukarela dengan jumlah sukarela, sesuai dengan kemampuan masing-masing anggota. Dana simpanan ini yang kemudian menjadi dana kewirausahaan mandiri bagi anggota yang membutuhkannya. Anggota bisa meminjam dengan jumlah maksimal tiga kali lipat dari tabungan masing-masing dan pengembaliannya dapat diangsur maksimal sepuluh kali. Dari jumlah angsuran yang telah ditetapkan itu, setiap anggota juga menambahkan bagi hasil usaha sebesar 1.5 % menurun. Di pertemuan tahunan, hasil usaha yang terkumpul ini akan dibagikan kembali bagi para anggotanya. Jadi dari anggota akan kembali lagi untuk anggota.

Hal yang lebih penting dari Koperasi Makmuraya tidak hanya soal simpan pinjam saja, tapi bagaimana setiap anggota yang punya usaha bisa saling mendukung satu sama lain. Misalnya anggota yang biasa membuat kegiatan bisa bersinergi dengan anggota lain yang memiliki usaha membuat jajanan pasar. Jadi koperasi Makmuraya ini juga bisa menjadi semacam kongsi dagang komunitas.

Demikian cara Marmuraya yang terbilang cukup sederhana ini, memakmurkan dan memandirikan anggota-anggotanya. Hal tersebut sejauh ini dirasakan sudah sesuai dengan yang diinginkan Erri sebagai ketua Makmuraya, "Ya, selama ini sudah hampir semua anggota memanfaatkan jasa simpan pinjam dari Makmuraya untuk kepentingan usaha masing-masing."Hal ini juga diakui oleh Bendahara, Kenti Prahmanti, "Alhamdulillah, anggota Makmuraya cukup disiplin dalam mencicil pinjaman masing-masing, jadi aset koperasi bisa bergulir lancar dan berkembang sedikit-demi sedikit tapi pasti. Senang juga kalau nanti bisa bagi-bagi Sisa Hasil Usaha yang cukup lumayan buat para anggota."

Penasaran dengan koperasi Makmuraya boleh tanya-tanya ke: makmuraya@gmail.com blognya masih underconstruction :)

Google Twitter FaceBook

29.10.10

Pasar Tiga Sembilan: Yuk, Bantu Bi Icah Mendapatkan Kembali Rumahnya!



Pada hari Sabtu ,21 Agustus 2010 terjadi kebakaran besar yang melumatkan lebih dari 22 rumah, di perkampungan padat gang Veteran di jalan veteran bandung

Diantara para korban kebakaran, terdapat bi icah,seorang ibu berusia 67 tahun, yang bersama dengan 18 anggota keluarganya kini telah kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda lainnya yang pernah mereka miliki.
Rumah bi icah yang telah ditempatinya sejak tahun 1993 merupakan peninggalan almarhum suaminya, yang sudah lama meninggal.

Saat ini, dengan bantuan dari donatur yang bisa kami kumpulkan, keluarga besar bi icah tersebar menempati beberapa kamar sewaan didekat lokasi bekas rumah mereka berada.
Langkah selanjutnya sudah pasti membangun kembali rumah mereka. Akan tetapi, tingginya biaya yang akan dibutuhkan ,ditambah dengan penghasilan seadanya yang hanya pas-pasan untuk biaya hidup menjadikan rencana pembangunan kembali rumah mereka bagaikan sebuah mimpi yang tidak terjangkau.

Disinilah kami mengajak untuk turut mengulurkan tangan untuk membantu.

Yang ingin kami lakukan adalah menginventarisir kebutuhan yang ada, membuat desain rumah yang sehat, tahan banjir dan bisa dibangun dengan biaya seoptimal mungkin, mengumpulkan dana yang dibutuhkan, baik dari sumbangan donatur ataupun sumber lainnya, dan terakhir melaksanakan proses pembangunan kembali.

Kenapa kami peduli?
Hampir delapan tahun terakhir, bi icah bekerja sebagai pembantu di gedung sunda 39a bandung. Ditempat ini juga bi icah menjalankan sebuah warung kopi sederhana. Diusianya yang tidak muda lagi ini, bi Icah tetap berperan sebagai tulang punggung keluarganya, dengan membantu menafkahi anak, menantu, cucu-cucu, dan bahkan ibunya yang sudah berusia 80 tahun lebih.
Setiap hari, bi Icah selalu menyapa dengan ramah para pengunjung gedung, menawarkan jajanan dan kopi jualannya, juga selalu mengingatkan para pemilik motor untuk mengunci ganda kendaraannya.

Saat terjadi kebakaran, ketika anak anak dan menantunya hanya bisa terpaku dan menangis histeris, bi Icah lah yang berinisiatif mencari para anggota keluarganya satu demi satu dan mengumpulkan mereka di warung tempatnya bekerja.

Pendek kata, menurut kami bi Icah adalah seorang bibi keren.

Dan karena itulah menurut kami, ia harus bisa mendapatkan kembali rumahnya.

PASAR TIGA SEMBILAN

*** PASAR TIGA SEMBILAN EDISI KALI INI DITUJUKAN UNTUK MEMBANTU CAUSE INI:
http://www.facebook.com/pages/Yuuk-kita-bantu-bangun-kembali-rumah-bi-Icah/154213491260431?ref=sgm ***

...The vendor:
12 stand yang menjual segala macam, baik barang baru, baju dan sebangsanya, asesoris, gadget electronic bekas,original artworks, pernak pernik bongkaran kamar, mainan baru dan vintage, dan benda2 lain yang tidak pernah kita duga2 sebelumnya

Tempat: Jl Sunda no 39A bandung (home of Zerotoys ,museum mainan
80an, dan Humanika
Waktu : Minggu 31 Oktober 2010 (Halloween day)
Jam 09.00-18.00
Entry : gratis dong, semua orang boleh datang!

Stand diisi oleh:

- Parental Advisory http://www.facebook.com/group.php?gid=55533366835
- Humanika http://www.rental-kamera.com/
- Tobucil N Klabs http://tobucil.blogspot.com/
- Antoarief.com http://antoarief.com/
- Aldoalfa
- Tribo+Cungki http://tribopopfunganda.tumblr.com/
- Lou Belle/MyTummyToys http://mytummytoys.com/2009/10/14/lou-belle-shop-bandung-indonesia/
- Rebenue Stowree http://rebenue.multiply.com/
- Clockwise http://www.facebook.com/profile.php?id=100001643141081&v=wall
- Virland/Bapak Ranger http://www.virland.com/
- Boneka windu
- Airin and friens
- Angkringan Sunda Tirtayasa

The event:
Pre Halloween party everyone! , doodling artist, Tarrot Reader, guest DJ, satu-satunya toy museum di indonesia, charity tshirt by Parental Advisory, craft workshop by tobucil (?),abang foto Polaroid

Live Painting and Toys Costum by MyTummyToys, The Yellow Dino

Stand:
Rp 100ribu per stand, untuk seharian, lokasi first come first served basis, total stand yang tersedia 12 buah stand, jumlah barang bebas, asal masuk akal dan tidak mengganggu lalu lintas atau stand yang lain. Pendapatan dari sewa stand 100% akan diberikan pada bi Icah

Kontak person:
Aldo (0811221667)
Airin (08562187020)
Google Twitter FaceBook

13.6.10

Musik Spesial Crafty Days


Di Crafty Days, sore yang mendung itu, di beranda Tobucil tertata beberapa amplifier besar. Nampak seperti akan ada acara musik, dan ternyata iya. Sore itu, di Crafty Days, tampil tiga kelompok musik. Semestinya empat, tapi Inaccoustic urung hadir karena vokalisnya sakit. Tiga yang tampil adalah KlabKlassik feat. Theoresia Rumthe sebagai pembuka, lalu Ammy Alternative Strings dan diakhiri dengan Silentium. Sebagai orang yang mengurusi permusikan ini, saya sempat deg-degan karena sudah masuk pukul tiga, tapi belum ada satu penampil pun yang datang. Penampil yang sudah datang, ya baru saya. Akhirnya Mas Yunus datang, yang membuat format KlabKlassik jadi agak lengkap kecuali sang penyanyi, Theoresia Rumthe. Jadilah saya dan Mas Yunus berduet dulu dua lagu. Yang membuat agak deg-degan, karena Ammy Alternative Strings sebagian besar telah berkumpul dan siap main. Hanya saja sang punggawa, Kang Ammy, belum datang. Maksudnya, penonton sudah berjubel, tapi tak kunjung ada pertunjukkan hehe. Namun tak lama kemudian, Theo pun datang, dan kami menyanyikan dua buah lagu yakni Cinta-nya Vina, dan When I Fall in Love. 

Setelah itu, Kang Ammy pun datang, dan kami mesti turun panggung. Kang Ammy bersama murid-muridnya, kalau tidak salah ada delapan, menyiapkan enam lagu. Delapan murid itu adalah murid biola Kang Ammy, tapi lucunya Kang Ammy sendiri tak tampil dengan biola, tapi dengan gitar. Dengan gitar, ia mengiringi murid-muridnya tampil bergantian, adapun pemain keyboard dan drum disana, yang membuat beranda Tobucil sangat meriah dan perhatian orang tertuju kesana. Adapun tercatat beberapa penampil yang menarik, meskipun semuanya keren. Misalnya Ilham yang dijuluki oleh Kang Ammy sendiri sebagai The Feeling Man. Ilham yang masih SD itu, saya tanya, "Kang Ammy, kenapa bukan The Feeling Boy?" Lalu dijawabnya, "Karena Boy kelak akan jadi Man. Jadi biar satu julukan untuk seumur hidup." Itu jawaban filosofis yang bikin tergelak penonton. Penampilan Ammy Alternative String diakhiri dengan lagu In The Mood yang berwarnakan blues, masing-masing dari anak-anak tersebut bergantian menyajikan solo di sela-sela lagu. Penampilan mereka memancing riuh rendah penonton karena Kang Ammy, meskipun bertindak sebagai pengiring, tapi penampilannnya sangat ekspresif dan seringkali ikut menggemulaikan penonton. Akhir segala akhir, manajer dari Ammy Alternative Strings, Mba Utet, menyampaikan promosinya. Bahwa barangsiapa yang ingin belajar biola dari Kang Ammy, bisa langsung dateng loh ke Jalan Progo. 

Setelah itu yang tampil ada Silentium. Sayang sekali ketika mereka tampil, hujan mengguyur sangat lebat, dan cukup mengganggu output suara. Adapun saya terperangkap di area bazaar dalam kerumunan orang dan sulit keluar karena derasnya hujan. Meski demikian, suara Silentium terdengar cukup jelas, dan enak didengar. Diintip-intip, yang mengapresiasi pun betah dan senang. Bahkan Theo terdengar beberapa kali ikut menyanyikan reffrainnya. Saya berhasil mengikuti penuh ketika mereka membawakan dua lagu terakhir, yang mana salah satunya berjudul sampah. Silentium ini komposisinya bandnya amat menarik dan sukses menciptakan harmoni yang pas. Ada gitar, bas, dan kemudian semacam perkusi. Lalu disertai vokalis yang juga memainkan harmonika, sound Silentium amat harmoni dengan bunyi hujan. 

Akhirnya Musik Spesial Crafty Days ditutup dengan pembagian konsumsi, minuman, dan cinderamata dari Tobucil. Musik melengkapkan sore itu.

Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

27.9.09

Komunitas Senja di Tobucil

Suatu hari Minggu, Tobuciler datang ke Tobucil. Niatnya mau latihan Ririungan Gitar Bandung, sekalian bertemu Wiku untuk bertanya soal beberapa komunitas. Komunitas apa saja? Yakni komunitas yang berkumpul di kala senja. Kenapa? Karena itulah topik blog Tobucil minggu ini: soal senja. Dan Tobuciler inilah yang mengusulkan untuk meliput komunitas yang berkumpul di kala senja. Begitulah ceritanya.

Tobuciler sebenarnya ingat, waktu belum terganggu jadwal bulutangkis dan ngajar, ada dua komunitas yang diikuti, yakni Klab Nulis dan Madrasah Falsafah. Pentingkah bulutangkis sehingga Tobuciler mengorbankan Klab Nulis? Ya, penting bagi kesehatan tubuh, tapi tidak penting untuk kita bahas disini. Kedua komunitas itu, ditambah Klab Klassik yang memang jadi urusan Tobuciler, memang aktifnya di kala senja. Nah, ketika bertanya ini itu soal Klab Nulis dan Madrasah Falsafah, Tobuciler mendadak bertanya hal yang lebih mendasar: Wiku, senja itu apa, ya? Tobuciler mengira Wiku akan langsung menjawab sesuai definisi Tobuciler, yakni senja=sore. Tapi tidak, ia pun tak punya definisi pasti. Langsung Wiku memaparkan tiga momen senja: senja awal, tengah, dan akhir. Awal yakni insting purba yang mengatakan, ”Wah, matahari sudah mau terbenam nih,” tanpa ada ciri-ciri fisik tertentu. Tengah adalah momen dimana matahari mulai terbenam. Akhir adalah momen ketika matahari sudah tak kelihatan, langit gelap, tapi mega-mega berpendaran.

Oh, sepertinya senja artinya tidak sedemikian sederhana. ”Definisi yang mengatakan bahwa senja=sore itu, menurut saya, merujuk pada waktu saja. Senja pada dasarnya adalah semacam momentum. Waktunya singkat sekali, dan sulit sekali menemukan situasi senja yang sempurna, yang mana saya baru menemukannya sekali,” kata Wiku. Dimanakah itu, Wiku? Dan kenapa kita jadi membicarakan ini? Meski menarik, tapi Tobuciler mesti ingat judul artikel yang mau ditulis, yakni soal komunitas yang berkumpul setiap senja. Sekedar informasi, Wiku menemukan senja sempurnanya baru-baru saja, terlihat dari Lanud Husein Sastranegara. Oh, alangkah menariknya senja, Tobuciler sungguh baru tahu dari Wiku.

Jadi, bagaimana Tobuciler mau menuliskan soal ”komunitas senja”, jika definisi senja itu sendiri sungguh tak sederhana? Tapi begini saja, yang Tobuciler rasakan, ada sesuatu yang menarik di kala mengikuti para komunitas senja itu. Komunitas senja, pastilah melewati dua suasana, yakni kala langit terang dan di saat langit gelap. Ada perbedaan: Kala terang, api pengetahuan seperti dipercikan kemana-mana, seperti bara dari arang di bawah sate yang sedang dikibas. Tapi ketika gelap, adalah seperti kau mampu melihat tembus pandang ke bawah akar pohon selesai hujan turun. Ada air, ya ada air, yang meresap melalui akar, diam ia sebentar di tanah, sebelum disalurkannya ke seluruh bagian tubuh pepohonan. Nah, di antara terang-gelap itu, Tobuciler merasakan: ada momen keoranyean. Momen yang, entah kenapa, kita yang berkumpul, mau berhenti sejenak. Menikmati remangnya suasana pergantian. Menikmati pergantian tanpa menjadi api dan air, hanya menjadi senja itu sendiri.

Maka mari kita berdoa, bahwa semoga para komunitas senja itu kelak menjadi senja juga.

Informasi Komunitas Senja Tobucil:

klabnulis copy Klab Nulis: Klab Nulis Fiksi berdiri tahun 2007. Dulu sempat ada Klab Nulis ketika Tobucil masih di KGU. Tapi yang ini beda, karena sistemnya kursus. Tutornya bernama Sophan Ajie, orangnya menurut ibunya ganteng dan beragama Katolik. Sekarang Klab Nulis telah selesai meluluskan angkatan kelimanya.



madfal

Madrasah Falsafah: Dipelopori oleh Rosihan Fahmi yang semula sudah mengurus apa yang dinamakan Madrasah Falsafah Sophia. Kegiatannya berkumpul dan berbicara persoalan-persoalan keseharian secara filosofis. Motonya, ”Setiap orang adalah filsuf”. Ini beda dengan moto Tobuciler, ”Setiap orang adalah orang”. Mulai berkumpul di Tobucil tahun 2007.



klabklassik KlabKlassik: Tobuciler malu dan terkesan narsis jika mengatakan KlabKlassik dipelopori oleh Tobuciler, biarpun memang iya. Kegiatannya berkumpul membicarakan musik klasik hingga membicarakan orang lain. Didirikan tahun 2005. Motonya, ”Bach memberkati”.

Syaraf Maulini

Google Twitter FaceBook

20.9.09

Tips-tips Libur Lebaran dari Kak Syaraf

 

Halo semua, libur Idul Fitri telah tiba. Ini berarti, liburnya lumayan panjang, lebih panjang dari hari minggu. Dan tak ada yang lebih menyenangkan, daripada libur yang juga sekaligus mengembalikanmu pada kesucian. Maka itu, penting untuk mempersiapkan dan mengingat hal-hal berikut ini:

  • Solat ied itu solat dulu, baru khotbah. Jadi bagi kalian-kalian yang biasa solat Jumat telat demi mendapatkan solatnya saja, maka telat di solat ied akan membuat kalian mendapatkan khotbahnya saja.
  • Solat ied itu rakaat pertamanya takbir tujuh kali, rakaat keduanya takbir lima kali. Takbir itu bunyinya Allahu Akbar, beda sama Empat Tak yang bunyinya lebih bising, biarpun ia cuma empat, tak sebanyak Takbir.
  • Tanggalkan hati nuranimu di kala lebaran, dan pakailah baju baru. Kenapa? Karena jika kau bawa itu hati nurani, bisa bentrok dengan hati hampela, yang mana adalah salah satu makanan khas lebaran. Iya gitu?
  • Ini penting bagi pria-wanita yang berusia diatas dua puluh tahun, sebaiknya siapkan template jawaban seperti ini (sangat penting untuk diingat):

1. ”Kalau mobil di depan lambat dan berada di kiri.”

2. “Masih balon, nunggu verifikasi KPU.”

3. ”Pekerjaan itu, dikerjai orang. Nah saya pekerja, mengerjai orang.”

4. ”Satu, ya saya ini.” (bilangan satu bisa diganti dua dan seterusnya)

5. ”Minta saja sama mamamu, beul!”

  • Nah, jawaban-jawaban di atas adalah antisipasi jika kau mendapat pertanyaan khas lebaran, yakni:

1. ”Kapan nyusul?”

2. ”Mana calonnya, kok ga dibawa?”

3. “Pekerjaannya apa sekarang?”

4. “Anaknya udah berapa sekarang?” Itu jika ibumu yang ditanya.

5. “Mana angpaonya, beul!”

· Bawa uang receh karena kau akan banyak ketemu pengemis dan calo di jalanan. Dan kau mesti memberinya, karena ini lebaran.

· Siapkan kesabaran, karena ini lebaran. Dilarang marah-marah ketika semua orang sedang ingin damai, padahal belum tentu juga.

Demikian, semoga tips-tips ini bermanfaat sebagai bekal dunia-akhirat. Minal Aidin wal Faidzin dari saya, mohon maaf lahir dan dulmatin. Matilah Dulmatin!

Syaraf  Maulini

Google Twitter FaceBook

19.7.09

Tips Menyablon untuk Pemula

putih Ingin tahu bagaimana cara pemilik Tobucil menyablon kaus-kaus madrasah filsafat ? Ini dia …

 

 

 

Tips Nyablon Untuk Pemula


1. Pilihlah gambar yang tidak membutuhkan akurasi tinggi. Artinya jika nyablonnya masih belepotan pun, hasilnya ga keliatan gagal. Gambar-gambar sketsa atau outline, cocok tuh untuk latihan awal. Jangan memakai gambar yang ngeblock. Gambar seperti itu membutuhkan ketepatan dan warna yang merata dalam membesutnya.


2. Setelah menemukan gambar yang cocok, cetak gambar tersebut di kertas kalkir dan tidak perlu di ubah dalam posisi mirror ketika mengecetaknya. Jika kamu memiliki printer laser, kamu bisa mencetaknya sendiri untuk menghemat biaya. Kamu tinggal beli kalkir ukuran A4. Jangan di cetak memakai printer Deskjet biasa, karena tinta yang menempel tidak akan menghasilkan warna yang pekat.


3. Setelah itu barulah pergi ke tempat cetak screen sablon. Tanyakan ukuran dan screen macam apa yang cocok, apakah kamu mau nyablon di atas kain atau kertas, itu akan membedakan jenis screen yang dipergunakan.
Kamu bisa datang ke PD. Warna Aseli Jl. Otista No. 34 Bandung (dekat Stasiun dari arah pintu Selatan). Atau Lucas Jl. Astana Anyar Bandung. Sekalian juga beli alat untuk membesutnya yang disebut rakel.


4. Pilih tinta dengan jenis pigment karena untuk pemula akan lebih mudah menyablonnya dan juga mudah membersihkannya. Pilihlah pewarna yang waterbase atau  bisa di bersihkan dengan menggunakan air. Jangan yang oilbase karena lebih membahayakan lingkungan.


5. Jangan lupa untuk segera mencuci screen setelah di pergunakan, biar pori-porinya tidak tertutup tinta yang mengering. Cuci dengan menggunakan sponge atau potongan kain. Jangan disikat terlalu keras karena itu bisa merusak gambar. Untuk mengetahui screen yang kamu cuci sudah cukup bersih atau belum, kamu bisa mengarahkan screen kamu ke cahaya (lampu atau matahari). Pastikan bahwa tidak ada bekas tinda yang menempel pada pori-pori gambar. Akan lebih mudah untuk kamu, menyablon dekat kamar mandi atau bak cuci.  Setelah screen  di cuci, keringkan dan setelah kering kamu bisa memakainya kembali.


6. Simpan screen di tempat yang kering dan aman biar tidak sobek atau tertimpa benda-benda lain.
Selamat menyablon..:)

Tarlen

 

P1040150

Pemilik Tobucil dan Koordinator Klabs sedang menyablon

Google Twitter FaceBook

24.5.09

Kumpul-kumpul di Rabu - Sabtu

“Karena yang dicari dalam filsafat bukan kepintaran, tapi kebijaksanaan bersikap,”
-Rosihan Fahmi, kuncen madrasah filsafat-
Filsafat sering dipandang sebagai sesuatu yang mengerikan, sulit, dan eksklusif. “Ami menolak itu semua !” tegas Mas Rosihan Fahmi alias Mas Ami, kuncen madrasah filsafat. Itu sebabnya madrasah filsafat mengangkat topik-topik seperti “Nama”, “Utuh”, “Pagar”, dan hal-hal lain yang dekat dengan keseharian.
Embrio madrasah filsafat adalah Komunitas Sophia yang tumbuh di kampus IAIN. Meski komunitas tersebut mati karena masalah regenarasi, kerinduan untuk berdiskusi terus berlanjut ketika mereka bertemu di ruang-ruang seperti Selasar Sunaryo dan CCF. Topik obrolan yang cukup asyik mengalir secara alami, misalnya, pernah pada suatu kali Mas Dauz melontarkan topik, “Kenapa keledai disebut binatang bodoh ?”
Dan pada suatu hari di tahun 2007, Mas Ami, Mas Bambang Q Anes, Mbak Tarlen, dan Mas Andre bertemu di Ngopi Doeloe. Mereka bersepakat mengadakan diskusi madrasah filsafat secara tetap di Tobucil. Akhirnya, pada tanggal 16 Juli 2007 madrasah filsafat resmi digelar.
Terinspirasi oleh Socrates Café karya Christoper Philips, Mas Ami hanya datang untuk memfasilitasi obrolan. “Kan Socrates juga gitu. Dia datang ke mana-mana hanya untuk memfasilitasi obrolan orang-orang. Socrates bilang dia hanya berperan sebagai bidan yang membantu melahirkan,” ungkap Mas Ami.
Ingin melahirkan pencerahan dibidani madrasah filsafat ? Datang saja ke Tobucil setiap hari Rabu pukul lima sore. Semoga bayi yang kita lahirkan di sana kelak tumbuh menjadi kebijaksanaan yang menjaga kesadaran …
IMG_6304
Klab Nonton
“Bajigur Night”. Ia bukan cikal bakal “Klab Makan”, tapi cikal bakal “Klab Nonton”. “Yang ngadain namanya Erik, anak IKJ. Dulu kita pake tv 21 Inch pinjeman dari Novi (simpatisan Tobucil ketika itu),” cerita Mbak Tarlen. Apakah “Bajigur Night” betul-betul menyediakan bajigur juga ? “Yah, kadang iya, kadang enggak,” sahut Mbak Tarlen. Lho, lalu, apa hubungannya nonton dengan pemilihan nama “bajigur” itu ? “Nggak tau, ya, biar anget aja, kali …,” sahut Mbak Tarlen lagi sambil tertawa kecil.
Sejak Sang Erik menghilang, Bajigur Night mulai tersendat. Namun, semangat menonton tetap berlanjut karena Tobucil menjadi partner Jiffest (Jakarta Internasional Film Festival) Travelling. Klab Nonton baru rutin diadakan pada tahun 2005, setiap Jumat sore, saat Tobucil sudah bertempat di Kyai Gede Utama. Sayangnya, penonton yang kadang ada dan kadang tidak membuat film pun kadang diputar dan kadang tidak. Ketika pindah ke Jalan Aceh 56, Klab Nonton sempat pula diusahakan ada menggunakan layar tembak yang dipinjam dari Mas Setiaji. Ketiadaan televisi ini pun sempat disiasati dengan Klab Nonton yang bekerja sama dengan Cinesophia Universitas Parahyangan. Namun … cara ini pun ternyata kurang efektif.
Dan akhirnya, pada akhir Februari 2009, Tobucil membeli “tipi”. Karena benang Tobucil bernama “Benang Tipi”, tipi yang dibeli ini pun dinamai “Tipi Benang”. Sejak kehadirannya, Klab Nonton rutin dilaksanakan.
“Ada dukanya. Kalo macet. Kayak waktu itu, pernah udah tiga perempat film, tau-tau macet. Jadi nanggung dan penontonnya kecewa,” cerita Mbak Tarlen. “Tapi jangan kuatir, Tobucil bertujuan terus meningkatkan pelayanan. Kami telah mengganti dvd player kami dengan yang baru, Si ‘Cores’,” lanjut Mbak Tarlen.
Kini, setiap Sabtu jam enam sore, Tipi Benang bersanding dengan dvd player Cores menyuguhkan tontonan bermutu untuk teman-teman sekalian. Ayo malam mingguan di Tobucil. Menonton bersama pacar tak selalu harus di bioskop …
Google Twitter FaceBook

Tetangga (part 2) : Keluarga Rumah Nenek

 

Keluasan pekarangan Aceh 56 dijantungi oleh “rumah nenek” bergaya Belanda klasik yang sejak empat puluh tahun lalu dihuni oleh keluarga almarhum Pak Bambang Irawan. Kini empat orang yang baik dan hangat bagai tokoh buku pelajaran Bahasa Indonesia masih tinggal di sana. Mereka adalah Mbah Sukiyah (istri almarhum), Pak Yono (putera almarhum), Pak Yos (juga putera almarhum), dan si kecil Reni (cucu almarhum, puteri Pak Yos). Kadang-kadang anggota keluarga yang lain pun singgah di sana. “Ini memang tempat ngumpul,” kata Pak Yono.

 

teras teras “rumah nenek”

 

Sejak tahun 80-an, bangunan tengah Aceh 56 mulai disewa-sewakan. Beberapa penyewanya antara lain sebuah kantor pengacara, perusahaan pembuka lawan sawah, Tempo, dan terakhir Tobucil. “Dulu sebelum disewa-sewakan di situ kamar anak laki-laki (keluarga Pak Bambang),” Pak Yono menginformasikan.

Apakah tinggal sepekarangan dengan bermacam-macam orang dan kegiatan mengganggu privasi keluarga ? “Nggak pernah ada masalah, malah deket. Setiap yang di sini hubungannya malah nambah jadi kayak saudara,” sahut Pak Yono. Ia lalu bercerita, pernah pada suatu masa ketika Mbah Sukiyah ditinggal sendiri karena anak-anaknya bekerja di luar kota, bagian dalam “rumah nenek” bahkan disewakan kepada Humpus (Hutomo Mandala Putera Suharto). “Mereka juga jadi kayak saudara, Mbah jadi ada yang ngejagain,” kata Pak Yono. Hmmm … lucu juga, ya ?

Memang seperti apa, sih ? bagian dalam “rumah nenek” ini ? Pssst … yuk kita intip sama-sama …

ruangtamuyghangat

ruang tamu yang hangat

 

ruangygduludisewahumpus

ruang yang sempat disewa oleh Humpuss

 

ruangtengahygbisadiintipdariberandatobucil 

ruang tengah

 

ruangmakan

ruang makan

 

dapur

dapur

 

“Sejak kapan, Pak, rumah ini banyak tanemannya gini ?” tanya Tobuciler pada Pak Yono. “Sekitar … taun 80-an,” sahut Pak Yono. “Taneman-taneman ini bikin kesan ‘liburan di rumah nenek’ di sini kuat, lho,” ujar Tobuciler lagi. “Memang konsepnya saya ciptakan begitu. Dan secara psikologis, ada hubungannya suasana banyak tanaman seperti ini dengan keakraban,” ungkap Pak Yono sambil tersenyum menyejukkan.

Di Aceh 56, kita seperti berlibur di rumah nenek setiap hari. Keluarga yang menjantunginyalah yang berdegup sehat dan mengedarkan semangatnya …

 

fotokeluargaresized

Sundea

Google Twitter FaceBook

17.5.09

Selamat Ulangtahun, Selamat Ulangtahun … (part 3)

 

From: Erik Marangga <erikmarangga@yahoo.com>
Subject:
To: tobucil@yahoo.com
Date: Sunday, May 10, 2009, 1:56 PM

Happy belated Birthday to Tobucil.
Toko buku kecil yang mempunyai ruang yang begitu lapang sehingga dari malang pun saya serasa sedang berada di beranda tobuciler.

Wish someday to visit you.
Menikmati secangkir cappuccino dan roto bakar di Beranda Tobucil. hmmm....sounds nice...

from Malang with Love

Erik Marangga
erikmarangga.blogspot.com

---

Dear Tobucil & Klabs,
Untuk ke-2 kalinya kami,  teman2 dr  Malaysia  ke Tobucil... yg selalu siap menjadi tempat kami bertanya, membeli buku, cd, dvd, souvenir dan sebagainya.

 

fotoresized2 

Thks to Mbak Tarlen & gurl at kasir yg banyak membantu semasa kedatangan kami

SELAMAT ULANGTAHUN YG KE 8, TOBUCIL
Semoga Panjang Umur & Sukses!!!!

http://farhyamar.blogspot.com
http://www.flickr.com/photos/farhyamar/

Lots Of Love,
Se7en Fellowship Of Bandung

fotoresized1

Google Twitter FaceBook

Empat K : Klab Klassik Klab Komik

Dua dari antara sekian Klab yang digelar rutin namun bukan setiap minggu di Tobucil adalah Klab Komik Manyala dan Klab Klassik. Minggu ini, mari berkenalan dengan kedua klab tersebut …
KLABKLASSIK : Pada Mulanya

Munculnya ide awal pembentukan KlabKlassik, -uniknya- justru muncul dari penggemar berat musik jazz bernama Dwi Cahya Yuniman. Mas Niman –demikian kami menyapanya- adalah koordinator KlabJazz, sebuah komunitas penyuka musik jazz yang rajin berkumpul di CommonRoom, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Kala itu, sekitar Januari 2005, saya datang ke acara nongkrong mereka, yang juga dalam persiapan penyelenggaraan JazzAid, sebuah konser amal penggalangan dana untuk korban tsunami. Saya tidak sendiri, ditemani oleh Royke Ng dan Christian Reza Erlangga, mendadak kami diperkenalkan sebagai KlabKlassik. Alih-alih menggunakan kata ”klasik”, Mas Niman ingin ”klassik” dengan dua huruf ”s”. Awalnya kami sempat menganggap rancu, tapi perasaan senang lebih mendominasi: kami punya identitas.

KlabKlassik kemudian ikut ditampilkan di acara JazzAid yang berlangsung pada bulan Februari 2005. Jika saya mengingat kembali, formatnya cukup menggelikan. Waktu itu ada saya, Royke Ng, Christian Reza Erlangga, dan Ahmad Indra (semuanya pemain gitar klasik). Kami tampil di panggung berempat, namun tidak dalam bentuk ensembel. Masing-masing memainkan satu lagu bergantian. Sementara yang satu bermain, yang lain duduk termangu. Rangkaian permainan reli itu ditutup oleh lagu Fuoco (karya Roland Dyens) yang ditampilkan oleh Royke Ng. Meski terbilang unik untuk sebuah kelompok musik klasik, tapi saya merasa sambutannya cukup baik. Saat itu, kami melihat secercah harapan baru: apresiasi terhadap musik klasik ternyata punya potensi.

Sejak JazzAid, kami mendapat kesempatan untuk membangun sebuah komunitas di CommonRoom. Meski ”jatah” itu tak banyak, tapi kami berusaha memanfaatkan dengan maksimal. KlabKlassik boleh mengadakan kumpul-kumpul jika dalam satu bulan ada lima minggu. Minggu kelima itulah milik kami. Setiap KlabKlassik berkumpul, suasananya kadang ramai kadang sepi. Ramai biasanya jika kami mengundang musisi ternama seperti Ammy C. Kurniawan dan I Nyoman Mahendra (keduanya violinis) atau memutar video musik yang menarik. Tapi untuk acara diskusi atau nongkrong-nongkrong biasa, peminatnya sangat sedikit. Bisa hanya empat orang atau kurang, bahkan pernah hanya tinggal saya sendirian. Naik turun nasib KlabKlassik ini sempat membuat saya dan kawan-kawan kelelahan. Maklum, saat itu kuantitas peminat masih menjadi ukuran. Padahal, KlabKlassik tidak mewajibkan iuran, semua boleh datang secara gratis. Atas dasar itu, -meniru KlabJazz- kami merasa perlu untuk membuat sebuah even. Even yang sekaligus juga soft launching akan kehadiran KlabKlassik. Lewat even tersebut, kami berharap masyarakat bisa mengenal keberadaan kami, untuk memudahkan sosialisasi visi dan misi kami. Kami memutuskan untuk membuat even bertemakan amal, yang mana judul acaranya didiskusikan bersama Mas Niman. Dalam diskusi tersebut, Mas Niman mengusulkan sebuah nama, yakni Classicares.

Sejak Classicares, kami seperti yang ketagihan membuat even. Meski tidak sesering KlabJazz, tapi kami tetap mengupayakan setidaknya dalam setahun ada minimal tiga acara yang terselenggara.
Komunitas vs Event Organizer
Beberapa konser, karena dokumentasi dan daya ingat saya yang buruk, tak bisa saya paparkan seluruhnya. Selain itu, even-even di atas, -tanpa mengecilkan arti konser yang lain- adalah yang punya kontribusi penting terhadap keberlangsungan klab hingga hari ini. Berbagai konser yang kami selenggarakan tersebut, memang tak jarang membuat kami lebih merasa sebagai event organizer (EO) ketimbang komunitas. Bujukan-bujukan halus secara internal maupun eksternal selalu menggoda kami untuk beralih profil menjadi penyelenggara acara profesional. Menjadi EO memang menggiurkan, apalagi beberapa kali penyelenggaraan konser telah menjadi semacam modal yang lumayan bagi kami. Jadi EO berarti menceburkan diri pada dunia profesionalisme, dimana kami semua berpotensi mendapatkan uang dari setiap kegiatan yang kami selenggarakan. Sebaliknya, uang juga menjadi taruhannya jika kami menemui kegagalan. Dilema ini sempat menjadi perdebatan hangat di antara kami. Ada yang mengusulkan untuk membuat EO yang independen dari KlabKlassik. Artinya, komunitas tetap jalan, tapi EO juga tersedia untuk membantu finansial.
Masukan itu memang ada benarnya juga. Saat finansial tak pernah berhenti jadi persoalan, tiba-tiba datang solusi yang sangat mungkin dilaksanakan. Tapi sebuah pendapat lain tak luput jadi pertimbangan. Katanya, KlabKlassik ini dibangun berdasarkan kecintaan. Seluruh relawan yang menjadi fundamen dalam penyelenggaraan acara, melakukannya karena ada dorongan yang jauh lebih kuat ketimbang uang. Tak dinyana uang adalah penting, tapi karena itu juga, kohesi perasaan bisa melemah, dan dasar segala tindakan lama-lama hanya demi uang semata. Tiba-tiba saja saya merasa, eh masukan yang itu juga benar.
Saat merenungkan setiap orang yang hadir dalam setiap acara kumpul-kumpul klab yang tak konstan itu, ternyata saya sulit untuk memahami alasan mereka. Ada yang sengaja datang dari Subang, ada dokter yang rela meninggalkan istri dan anaknya, ada guru gitar yang mengesampingkan kegiatan gereja, hingga anak kost yang tidak ada kerjaan, namun lebih memilih datang ngalor ngidul bersama kami, ketimbang main game atau berselancar di dunia maya. Sejak kami rajin menyelenggarakan even, kegiatan komunitas otomatis terbengkalai. Tenaga dan pikiran kami seringkali habis untuk persiapan konser. Tapi toh, saat kami memaksakan untuk tetap mengadakan kumpul komunitas dengan resiko program seadanya, mereka-mereka itu tetap datang dengan alasan yang masih tetap tidak bisa saya pahami. Yang lebih mengherankan, saat tenaga dan pikiran mereka kami ajak untuk dihabiskan dalam konser-konser kami, ternyata dengan sukarela mereka bersedia. Hal ini tentu saja mengharukan sekaligus absurd. Dari awal berdiri hingga detik ini, saya pribadi tak pernah berhenti bertanya: sebenarnya apa yang diberikan klab ini, hingga mereka mau merelakan aktivitas kesehariannya, untuk larut bersama keseharian kami yang tak punya kepastian dan kejelasan?

Tanpa perlu menjawab pertanyaan tersebut, saya kemudian memberikan pertimbangan bagi kawan-kawan, untuk membenamkan keinginan menjadi EO. Alasannya kurang lebih persis: jika uang telah menjadi perantara, maka cinta tak lagi sama. Orang-orang yang datang ke klab, pastinya tak berharap mendulang uang, tapi setidaknya mereka punya tempat untuk mengaplikasikan kecintaan mereka. Cinta, barangkali, jika tak diaplikasikan, bisa membusuk dan jadi penyakit yang berbahaya. KlabKlassik, menurut salah seorang bernama Tresna, adalah tempat melepaskan penat dari rutinitas, membantu merefleksikan diri, dan mendapatkan ilmu dari hal yang tak terduga. Konsekuensi dari pertimbangan yang saya ajukan tentu saja: konser tidak usah terlalu banyak, toh kita bukanlah EO. Berkumpul, berdiskusi, berefleksi, dan berbagi pengalaman, mestinya yang menjadi sentral. Even kemudian dibuat, hanya ketika terdapat keinginan untuk memperkuat eksistensi, yang ujung-ujungnya digunakan untuk mengajak orang bergabung di komunitas juga. Ketika kata-kata Tresna yang menjadi acuan, sontak yang lain setuju: klab mesti eksis sebagai komunitas.

Walhasil, di Tobucil, ruang nongkrong kami yang baru selepas CommonRoom, kami mencoba untuk mengkhususkan diri pada kegiatan kumpul komunitas. Terkadang kami mengadakan diskusi dengan mendatangkan narasumber, menjadikan momen tersebut untuk latihan bersama, hingga menyengajakan diri untuk ngobrol tak bertujuan. Dalam setiap kumpul-kumpul itu, saya menjadi tersadarkan juga, bahwa tak menjadi soal tema apa yang dilontarkan, selama hal itu bisa menjadi jembatan mereka untuk bersosialisasi dan berefleksi. Keinginan kami untuk konsisten di jalur komunitas ini, tentunya tak membuat godaan menjadi EO lantas surut. Hanya saja, ketika bisikan halus itu datang, tak henti-henti saya mengingatkan diri, bahwa jalur yang saya pilih ini, -meski tak populer- tetap datang dari lubuk hati saya yang terdalam.

Epilog
Berbagai kegiatan yang kami telah lakukan, ternyata membuat kami tak pernah berhenti melakukan kritik diri. Kritik diri itu berkaitan dengan identitas, visi dan misi, serta tujuan kami. Memang di tengah jalan, perubahan adalah wajar. Misal, kami pernah menginginkan KlabKlassik sebagai komunitas yang mempopulerkan musik klasik dalam gaya dan lebih lentur dan fleksibel. Dalam prosesnya, kami tiba-tiba ingin menjadi komunitas yang terdepan dalam mempertahankan musik klasik dalam akarnya yang terkuat, atau dalam bahasa lain, komunitas yang fundamentalis. Entah di sebelah mana kami kali ini, yang pasti kami menikmati kelenturan bentuk tersebut: diajak serius mangga, diajak santai hayu. Pada akhirnya, mungkin KlabKlassik lebih tepat disebut ruang ketimbang komunitas. Jika komunitas secara harfiah berarti kumpulan orang, maka ruang adalah tempat dimana orang-orang itu berkumpul. Ruang sebagaimana adanya, tak berhak mengintervensi orang-orang untuk melakukan ini-itu. Yang ada barangkali cuma koridor, yang menjaga agar kumpulan individu itu tak meliar melampaui fungsi ruang yang kami sediakan. Yang pasti, di tengah kompleksitas kehidupan manusia dewasa ini, dimana generasi MTV telah berkuasa dan berhak menentukan nilai-nilai musikalitas sesuka hati berdasarkan pertimbangan-pertimbangan pasar, maka tujuan kehadiran kami sebatas menyuguhkan probabilitas pada masyarakat: musik klasik belum mati.
diskusiklabklassik
Klab Komik Manyala dan Tambak Udang Galah
“Klab Komik” adalah salah satu kegiatan yang diadakan oleh Komunitas Cergam Bandung Manyala. KCB Manyala sendiri adalah persataun dari komunitas-komunitas cergam di Bandung, antara lain Funco Unikom, Tribe Studio, Sekolah Komik Pipilaka, dan komunitas-komunitas cergam lainnya. “Kelemahan komikus Indonesia kan mereka sangat individualis,” ungkap Asiza, humas KCB Manyala.
Klab Komik Manyala berkegiatan di Tobucil dengan tujuan memperluas segmentasi. “Biar yang ikut nggak cuma anak-anak komik,” ungkap Asiza lagi. Klab Komik Manyala pertama kali diadakan di Tobucil pada awal tahun 2008. Apa materinya ? “Proses penambakan udang galah bagi kemajuan komikus Indonesia. Sejam cuma mbahas udang galah itu apa, hehehe,” ujar Gide. Hmmm … kok terdengar aneh, ya ?
Sampai saat ini, KCB Manyala masih terus berkegiatan. Mereka bertujuan membagi pengetahuan dan informasi mengenai dunia komik. “Banyak orang yang nggak bergabung di komunitas komik, tapi ingin belajar lebih jauh tentang komik,” ujar Harlis, salah satu peserta Klab Komik hari itu.
Kita doakan saja KCB Manyala dapat terus mendukung kemajuan dunia perkomikan.
Ingin serta di acara-acara Klab Komik Manyala ? Boleh sekali. Pantau kabarnya di blog ini ^_^
titabackinbandung
Google Twitter FaceBook

10.5.09

Kali Ini Mengenai Klab Nulis Bersaudara

Klab Nulis
Ada “dua bersaudara” Klab Nulis di Tobucil. Setelah “Klab Nulis Eksperimental” yang digawangi Sophan Ajie cukup stabil berdiri, lahir sang adik ; “Klab Nulis Kreatif untuk Anak-anak” bersama Sundea. Seperti apa kegiatan kakak beradik ini ? Yuk berkenalan …
Klab Nulis Eksperimental
Cikal bakal Klab Nulis dimulai pada tahun 2002 di Trimatra. “Dulu pemandunya Dien Faqri Iqbal, dosen Psikologi Unpad. Awalnya dia pengen ngembangin nulis sebagai terapi,” cerita Mbak Tarlen. Setelah Mas Iqbal pergi, Klab Nulis sempat berganti-ganti fasilitator. Akhirnya Tobucil menetapkan sistem kursus. Sejak Juni 2008, berdirilah Klab Nulis Eksperimental dibawah asuhan “Kak Ophan”
klabnulisnya
“Sampai angkatan ke dua, saya ngerasa belum nemu polanya. Baru ketemu pas angkatan ke-3,” ungkap Ophan. Kini Klab Nulis sudah memasuki angkatan ke-5. Jumlah peserta semakin banyak dan kegiatan pun semakin seru. “Yang jadi ciri khas kita sidang karya. Itu mulai ada pas angkatan ke-3,” ujar Ophan. Menjelang akhir pertemuan, setiap peserta Klab Nulis ditugaskan membuat karya sebagai tugas akhir. Setelah proses bimbingan, karya itu diuji di sidang terbuka. Juri yang didatangkan pun tidak sembarangan. Ada Mbak Anjar (penulis novel dan cerpen yang sangat produktif) dan Mas Paskalis (penggiat kesenian berlatar belakang filsafat Universitas Parahyangan).
Karena kuatnya ikatan emosional antara para peserta Klab Nulis, kini diadakan semacam ikatan alumni dan forum diskusi yang berkumpul setiap hari Kamis jam 6 sore.
klabnulisdewasa salah satu permainan yang merangsang kreativitas
di Klab Nulis eksperimental
Klab Nulis Kreatif untuk Anak
Klab Nulis Kreatif untuk Anak dimulai pada bulan April 2009. Berikut ini adalah wawancara Tobuciler dengan dirinya sendiri.
Tobuciler : Halo Sundea
Sundea : Halo …
Tobuciler : Apa kabar ?
Sundea : Ah, pura-pura nggak tau, deh … kamu kan saya-saya juga …
Tobuciler : Hehehe … iya, ya. Katanya kamu ndiriin Klab Nulis untuk anak-anak, ya ? Tujuannya apa, sih ?
Sundea : Hmm … sederhana, sih … Dea pengen bikin nulis jadi kegiatan yang menyenangkan untuk anak-anak. Anak-anak sebetulnya imajinatif dan penangkap yang baik untuk banyak hal di sekitar. Mereka juga metaforik, lho, sebab setiap kegiatan bermain itu metaforik … betul kan ? Kamu pasti setuju.
Tobuciler : Ya iyalah, pasti setuju. Terus ?
Sundea : Hmmm … tapi, kalo Dea peratiin, banyak anak yang ngenal nulis sebagai sesuatu yang formal dan akademik karena mereka kenal nulis cuma di pelajaran sekolah. Padahal nulis itu sarana bermain yang tak terbatas. Mereka bisa ngungkapin apa aja dan dengan khayalan sebebas-bebasnya. Pernah nonton “Bridge to Therabitia” ?
Tobuciler : Kalo kamu udah pernah, pasti saya juga udah pernahlah …
Sundea : Nah, iya, kayak gitu prinsipnya. Di Klab ini, Dea pengen ngerangsang anak untuk bermain dan mengungkapkan. Lagian, ya, nulis itu sarana refleksi yang baik, lho. Kalo dari kecil anak-anak udah biasa nulis, sejak dini mereka belajar ngeliat ke dalem dan keluar serta cermat menangkap berbagai makna di sekitarnya. Ada banyak hal yang baru kita sadarin setelah ditulis.
Tobuciler : Oh, gitu (ngangguk-ngangguk). Sekarang anak didikmu berapa ?
Sundea : Dua. Kayla dan Reni. Sekarang mereka lagi belajar bikin karakter dan berpura-pura jadi karakter yang mereka bikin. Seru kaaaan ….
Tobuciler : Oh, iya, iya … seru juga. Klab Nulis anak ini tiap hari apa jam berapa, sih ?
Sundea : Jumat jam tiga sampai jam lima sore. Setelah angkatan ini selesai, kita bakal buka pendaftaran lagi, lhoo. Tunggu aja, ya …
Tobuciler : Sip, sip …
Informasi lengkap mengenai biaya pendaftaran, fasilitas, dan waktu akan menyusul. Pantau terus blog Tobucil …. =D
klabnulak1
klabnulakdua
Google Twitter FaceBook

Tetangga (Part 1) : AJI

Tetangga terdekat Tobucil adalah kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ruang mereka berada satu atap dengan kemungilan Tobucil dan tanpa sekat. Berikut beberapa tangkapan kegiatan di rumah tetangga kami itu ...

sangketua

Ketua AJI : Agus Rakasiwi

haribocorAgus Bebeng dan kebocoran

ngantrimaenzuma Mengantri main Zuma

 deadlinedeadline

Deadline, deadline !

santaidulu  Santai dulu

Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin