![]() |
| Mark, kanan berkaos coklat |
![]() |
| Mark memperagakan kamera mikronya. |
![]() |
| Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :) |
Bookmark this post: |
![]() |
| Mark, kanan berkaos coklat |
![]() |
| Mark memperagakan kamera mikronya. |
![]() |
| Oleh-oleh dari Life Patch dan Hackteria; Mikroskop untuk Tobucil :) |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
| Ririungan Gitar Bandung (RGB) |
| Duo Maut 'Grace & Tesla' |
| Ammy Kurniawan & Alternative Strings |
| MC kondang sekaligus gegedug klab klassik merangkap kontributor blog tobucil dan pemandu kelas filsafat pemula, cowo paling banyak jabatannya di tobucil: Syarif Maulana |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
| Workshop Boneka Bantal bersama Puri dari Idekuhandmade |
| keceriaan crafty days |
| Mbah dari jendela Aceh 56, saat lagu Happy Birthday dinyanyikan |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat yang lemah atau rakyat kecil untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi.Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan melayani non-anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri.[1]
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Suatu hari Minggu, Tobuciler datang ke Tobucil. Niatnya mau latihan Ririungan Gitar Bandung, sekalian bertemu Wiku untuk bertanya soal beberapa komunitas. Komunitas apa saja? Yakni komunitas yang berkumpul di kala senja. Kenapa? Karena itulah topik blog Tobucil minggu ini: soal senja. Dan Tobuciler inilah yang mengusulkan untuk meliput komunitas yang berkumpul di kala senja. Begitulah ceritanya.
Tobuciler sebenarnya ingat, waktu belum terganggu jadwal bulutangkis dan ngajar, ada dua komunitas yang diikuti, yakni Klab Nulis dan Madrasah Falsafah. Pentingkah bulutangkis sehingga Tobuciler mengorbankan Klab Nulis? Ya, penting bagi kesehatan tubuh, tapi tidak penting untuk kita bahas disini. Kedua komunitas itu, ditambah Klab Klassik yang memang jadi urusan Tobuciler, memang aktifnya di kala senja. Nah, ketika bertanya ini itu soal Klab Nulis dan Madrasah Falsafah, Tobuciler mendadak bertanya hal yang lebih mendasar: Wiku, senja itu apa, ya? Tobuciler mengira Wiku akan langsung menjawab sesuai definisi Tobuciler, yakni senja=sore. Tapi tidak, ia pun tak punya definisi pasti. Langsung Wiku memaparkan tiga momen senja: senja awal, tengah, dan akhir. Awal yakni insting purba yang mengatakan, ”Wah, matahari sudah mau terbenam nih,” tanpa ada ciri-ciri fisik tertentu. Tengah adalah momen dimana matahari mulai terbenam. Akhir adalah momen ketika matahari sudah tak kelihatan, langit gelap, tapi mega-mega berpendaran.
Oh, sepertinya senja artinya tidak sedemikian sederhana. ”Definisi yang mengatakan bahwa senja=sore itu, menurut saya, merujuk pada waktu saja. Senja pada dasarnya adalah semacam momentum. Waktunya singkat sekali, dan sulit sekali menemukan situasi senja yang sempurna, yang mana saya baru menemukannya sekali,” kata Wiku. Dimanakah itu, Wiku? Dan kenapa kita jadi membicarakan ini? Meski menarik, tapi Tobuciler mesti ingat judul artikel yang mau ditulis, yakni soal komunitas yang berkumpul setiap senja. Sekedar informasi, Wiku menemukan senja sempurnanya baru-baru saja, terlihat dari Lanud Husein Sastranegara. Oh, alangkah menariknya senja, Tobuciler sungguh baru tahu dari Wiku.
Jadi, bagaimana Tobuciler mau menuliskan soal ”komunitas senja”, jika definisi senja itu sendiri sungguh tak sederhana? Tapi begini saja, yang Tobuciler rasakan, ada sesuatu yang menarik di kala mengikuti para komunitas senja itu. Komunitas senja, pastilah melewati dua suasana, yakni kala langit terang dan di saat langit gelap. Ada perbedaan: Kala terang, api pengetahuan seperti dipercikan kemana-mana, seperti bara dari arang di bawah sate yang sedang dikibas. Tapi ketika gelap, adalah seperti kau mampu melihat tembus pandang ke bawah akar pohon selesai hujan turun. Ada air, ya ada air, yang meresap melalui akar, diam ia sebentar di tanah, sebelum disalurkannya ke seluruh bagian tubuh pepohonan. Nah, di antara terang-gelap itu, Tobuciler merasakan: ada momen keoranyean. Momen yang, entah kenapa, kita yang berkumpul, mau berhenti sejenak. Menikmati remangnya suasana pergantian. Menikmati pergantian tanpa menjadi api dan air, hanya menjadi senja itu sendiri.
Maka mari kita berdoa, bahwa semoga para komunitas senja itu kelak menjadi senja juga.
Informasi Komunitas Senja Tobucil:
Klab Nulis: Klab Nulis Fiksi berdiri tahun 2007. Dulu sempat ada Klab Nulis ketika Tobucil masih di KGU. Tapi yang ini beda, karena sistemnya kursus. Tutornya bernama Sophan Ajie, orangnya menurut ibunya ganteng dan beragama Katolik. Sekarang Klab Nulis telah selesai meluluskan angkatan kelimanya.
Madrasah Falsafah: Dipelopori oleh Rosihan Fahmi yang semula sudah mengurus apa yang dinamakan Madrasah Falsafah Sophia. Kegiatannya berkumpul dan berbicara persoalan-persoalan keseharian secara filosofis. Motonya, ”Setiap orang adalah filsuf”. Ini beda dengan moto Tobuciler, ”Setiap orang adalah orang”. Mulai berkumpul di Tobucil tahun 2007.
KlabKlassik: Tobuciler malu dan terkesan narsis jika mengatakan KlabKlassik dipelopori oleh Tobuciler, biarpun memang iya. Kegiatannya berkumpul membicarakan musik klasik hingga membicarakan orang lain. Didirikan tahun 2005. Motonya, ”Bach memberkati”.
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Halo semua, libur Idul Fitri telah tiba. Ini berarti, liburnya lumayan panjang, lebih panjang dari hari minggu. Dan tak ada yang lebih menyenangkan, daripada libur yang juga sekaligus mengembalikanmu pada kesucian. Maka itu, penting untuk mempersiapkan dan mengingat hal-hal berikut ini:
1. ”Kalau mobil di depan lambat dan berada di kiri.”
2. “Masih balon, nunggu verifikasi KPU.”
3. ”Pekerjaan itu, dikerjai orang. Nah saya pekerja, mengerjai orang.”
4. ”Satu, ya saya ini.” (bilangan satu bisa diganti dua dan seterusnya)
5. ”Minta saja sama mamamu, beul!”
1. ”Kapan nyusul?”
2. ”Mana calonnya, kok ga dibawa?”
3. “Pekerjaannya apa sekarang?”
4. “Anaknya udah berapa sekarang?” Itu jika ibumu yang ditanya.
5. “Mana angpaonya, beul!”
· Bawa uang receh karena kau akan banyak ketemu pengemis dan calo di jalanan. Dan kau mesti memberinya, karena ini lebaran.
· Siapkan kesabaran, karena ini lebaran. Dilarang marah-marah ketika semua orang sedang ingin damai, padahal belum tentu juga.
Demikian, semoga tips-tips ini bermanfaat sebagai bekal dunia-akhirat. Minal Aidin wal Faidzin dari saya, mohon maaf lahir dan dulmatin. Matilah Dulmatin!
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Ingin tahu bagaimana cara pemilik Tobucil menyablon kaus-kaus madrasah filsafat ? Ini dia …
Tips Nyablon Untuk Pemula
1. Pilihlah gambar yang tidak membutuhkan akurasi tinggi. Artinya jika nyablonnya masih belepotan pun, hasilnya ga keliatan gagal. Gambar-gambar sketsa atau outline, cocok tuh untuk latihan awal. Jangan memakai gambar yang ngeblock. Gambar seperti itu membutuhkan ketepatan dan warna yang merata dalam membesutnya.
2. Setelah menemukan gambar yang cocok, cetak gambar tersebut di kertas kalkir dan tidak perlu di ubah dalam posisi mirror ketika mengecetaknya. Jika kamu memiliki printer laser, kamu bisa mencetaknya sendiri untuk menghemat biaya. Kamu tinggal beli kalkir ukuran A4. Jangan di cetak memakai printer Deskjet biasa, karena tinta yang menempel tidak akan menghasilkan warna yang pekat.
3. Setelah itu barulah pergi ke tempat cetak screen sablon. Tanyakan ukuran dan screen macam apa yang cocok, apakah kamu mau nyablon di atas kain atau kertas, itu akan membedakan jenis screen yang dipergunakan.
Kamu bisa datang ke PD. Warna Aseli Jl. Otista No. 34 Bandung (dekat Stasiun dari arah pintu Selatan). Atau Lucas Jl. Astana Anyar Bandung. Sekalian juga beli alat untuk membesutnya yang disebut rakel.
4. Pilih tinta dengan jenis pigment karena untuk pemula akan lebih mudah menyablonnya dan juga mudah membersihkannya. Pilihlah pewarna yang waterbase atau bisa di bersihkan dengan menggunakan air. Jangan yang oilbase karena lebih membahayakan lingkungan.
5. Jangan lupa untuk segera mencuci screen setelah di pergunakan, biar pori-porinya tidak tertutup tinta yang mengering. Cuci dengan menggunakan sponge atau potongan kain. Jangan disikat terlalu keras karena itu bisa merusak gambar. Untuk mengetahui screen yang kamu cuci sudah cukup bersih atau belum, kamu bisa mengarahkan screen kamu ke cahaya (lampu atau matahari). Pastikan bahwa tidak ada bekas tinda yang menempel pada pori-pori gambar. Akan lebih mudah untuk kamu, menyablon dekat kamar mandi atau bak cuci. Setelah screen di cuci, keringkan dan setelah kering kamu bisa memakainya kembali.
6. Simpan screen di tempat yang kering dan aman biar tidak sobek atau tertimpa benda-benda lain.
Selamat menyablon..:)
Pemilik Tobucil dan Koordinator Klabs sedang menyablon
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Keluasan pekarangan Aceh 56 dijantungi oleh “rumah nenek” bergaya Belanda klasik yang sejak empat puluh tahun lalu dihuni oleh keluarga almarhum Pak Bambang Irawan. Kini empat orang yang baik dan hangat bagai tokoh buku pelajaran Bahasa Indonesia masih tinggal di sana. Mereka adalah Mbah Sukiyah (istri almarhum), Pak Yono (putera almarhum), Pak Yos (juga putera almarhum), dan si kecil Reni (cucu almarhum, puteri Pak Yos). Kadang-kadang anggota keluarga yang lain pun singgah di sana. “Ini memang tempat ngumpul,” kata Pak Yono.
Sejak tahun 80-an, bangunan tengah Aceh 56 mulai disewa-sewakan. Beberapa penyewanya antara lain sebuah kantor pengacara, perusahaan pembuka lawan sawah, Tempo, dan terakhir Tobucil. “Dulu sebelum disewa-sewakan di situ kamar anak laki-laki (keluarga Pak Bambang),” Pak Yono menginformasikan.
Apakah tinggal sepekarangan dengan bermacam-macam orang dan kegiatan mengganggu privasi keluarga ? “Nggak pernah ada masalah, malah deket. Setiap yang di sini hubungannya malah nambah jadi kayak saudara,” sahut Pak Yono. Ia lalu bercerita, pernah pada suatu masa ketika Mbah Sukiyah ditinggal sendiri karena anak-anaknya bekerja di luar kota, bagian dalam “rumah nenek” bahkan disewakan kepada Humpus (Hutomo Mandala Putera Suharto). “Mereka juga jadi kayak saudara, Mbah jadi ada yang ngejagain,” kata Pak Yono. Hmmm … lucu juga, ya ?
Memang seperti apa, sih ? bagian dalam “rumah nenek” ini ? Pssst … yuk kita intip sama-sama …
ruang tamu yang hangat
ruang yang sempat disewa oleh Humpuss
ruang tengah
ruang makan
dapur
“Sejak kapan, Pak, rumah ini banyak tanemannya gini ?” tanya Tobuciler pada Pak Yono. “Sekitar … taun 80-an,” sahut Pak Yono. “Taneman-taneman ini bikin kesan ‘liburan di rumah nenek’ di sini kuat, lho,” ujar Tobuciler lagi. “Memang konsepnya saya ciptakan begitu. Dan secara psikologis, ada hubungannya suasana banyak tanaman seperti ini dengan keakraban,” ungkap Pak Yono sambil tersenyum menyejukkan.
Di Aceh 56, kita seperti berlibur di rumah nenek setiap hari. Keluarga yang menjantunginyalah yang berdegup sehat dan mengedarkan semangatnya …
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
From: Erik Marangga <erikmarangga@yahoo.com>
Subject:
To: tobucil@yahoo.com
Date: Sunday, May 10, 2009, 1:56 PM
Happy belated Birthday to Tobucil.
Toko buku kecil yang mempunyai ruang yang begitu lapang sehingga dari malang pun saya serasa sedang berada di beranda tobuciler.
Wish someday to visit you.
Menikmati secangkir cappuccino dan roto bakar di Beranda Tobucil. hmmm....sounds nice...
from Malang with Love
Erik Marangga
erikmarangga.blogspot.com
---
Dear Tobucil & Klabs,
Untuk ke-2 kalinya kami, teman2 dr Malaysia ke Tobucil... yg selalu siap menjadi tempat kami bertanya, membeli buku, cd, dvd, souvenir dan sebagainya.
Thks to Mbak Tarlen & gurl at kasir yg banyak membantu semasa kedatangan kami
SELAMAT ULANGTAHUN YG KE 8, TOBUCIL
Semoga Panjang Umur & Sukses!!!!
http://farhyamar.blogspot.com
http://www.flickr.com/photos/farhyamar/
Lots Of Love,
Se7en Fellowship Of Bandung
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |
Tetangga terdekat Tobucil adalah kantor AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Ruang mereka berada satu atap dengan kemungilan Tobucil dan tanpa sekat. Berikut beberapa tangkapan kegiatan di rumah tetangga kami itu ...
Ketua AJI : Agus Rakasiwi
Deadline, deadline !
Bookmark this post:blogger tutorials
Social Bookmarking Blogger Widget |