Showing posts with label digital detox. Show all posts
Showing posts with label digital detox. Show all posts

19.4.10

25 Contoh Hal yang Dapat Dilakukan Selama Pekan Digital Detox

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

Menjelang pekan Digital Detox, saya menemukan di website ini, beberapa contoh hal yang dilakukan selama tidak berinteraksi dengan jaringan sosial di internet. Contoh kegiatan tersebut cukup jenaka, tapi hmmm boleh juga dilakukan, biarpun contoh-contoh ini ada beberapa yang relevan dilakukan jika di Barat sana. Berikut 25 contoh kegiatan yang bisa dilakukan:
1. Menyewa sepeda, sepatu roda, atau perahu.
2. Pergi ke pub dan memesan minuman yang belum pernah kau pesan sebelumnya.
3. Mengecat tembok rumahmu dengan warna yang lain.
4. Beli CD artis favoritmu.
5. Membeli bumbu masak yang unik, dan buatlah masakan baru dengannya. (contoh: Wasabi).
6. Bertaruh lima dolar di tempat judi terdekat.
7. Membeli majalah porno, terutama untuk kamu yang jarang membelinya.
8. Makan makanan sea-food yang tidak biasa.
9. Menggambar peta, boleh peta buatan atau nyata.
10. Ke toko kerajinan dan membuat sesuatu darinya.
11. Bermain detektif-detektifan.
12. Pergi ke perpustakaan dan membaca buku-buku klasik.
13. Piknik dan mengajak tetanggamu, terutama yang belum kenal sebelumnya.
14. Tulis lagu dan buatlah semacam band.
15. Buatlah rumah pohon.
16. Tanam tumbuhan di pekarangan.
17. Buatlah laptopmu sendiri.
18. Pergi ke kota yang agak jauh dan jarang kau singgahi, berhentilah dan minum-minum di pub setempat.
19. Membuat roti.
20. Menjadi turis di kota sendiri.
21. Memakai topi sepanjang hari.
22. Jalan-jalan keluar dan dengarkanlah berbagai bebunyian. Catat bunyi-bunyian yang belum pernah kau dengar sebelumnya.
23. Pergi naik kereta secara acak, tanpa peduli tujuan.
24. Membuat selai dari buah-buahan.
25. Pergi ke forum diskusi dan bacakan puisi buatanmu.

Patut dicoba, intinya, banyak yang bisa dilakukan selain internetan, kan?


Syarif Maulana
Google Twitter FaceBook

29.3.10

Menghabiskan 8 Jam Sehari di Depan Layar: Sebuah Penelitian

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-teman ke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.


Di dunia dengan toko grosir yang dipenuhi oleh layar televisi, kumpulan film yang disebarkan secara digital, dan video klip di telepon genggam, bangsa Amerika rata-rata dijejali dengan 61 menit iklan dan promosi per hari.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa angka tersebut berlebihan. Tapi tampaknya mereka tetap tidak sadar dan menghindarinya, ungkap Jack Wakshlag, kepala kantor penelitian di Turner Broadcasting.
Faktanya, orang dewasa diekspos oleh berbagai layar, baik itu televisi, telepon genggam, bahkan perangkat G.P.S, untuk sekitar 8.5 jam tiap harinya, menurut penelitian oleh Council for Research Excellence pada hari Kamis. Penelitian menemukan bahwa televisi tetap sebagai media yang dominan untuk konsumsi media dan periklanan. Data menunjukkan bahwa penggunaan komputer telah menggantikan radio sebagai aktivitas media kedua yang paling sering.
Dewan ini didirikan oleh Nielsen Company tetapi memiliki komisi independen. Penelitian berbiaya 3.5 juta dolar ini dibiayai oleh Nielsen, mencari, sebagian, untuk menentukan jikalau perusahaan-perusahaan media perlu menunjukkan format baru untuk pengukuran media.
Para peneliti di Ball State University’s Center untuk media desain, yang menyelenggarakan penelitian untuk dewan, mengatakan bahwa ini adalah observasi penggunaan media terbesar yang pernah dilakukan. Alih-alih terpusat pada apa yang orang-orang tonton, para peneliti memusatkan pada kegiatan nyata yang dilakukan oleh penonton dengan mengamati 350 subyek. Para peneliti ini mengatakan bahwa mereka merekam sikap para subyek selama 952 hari. Sebagai cararan, Orang-orang di bawah 18 tahun tidak termasuk dalam penelitian ini.
Hasil penelitian video konsumen dapat memikat para klien periklanan untuk musim penjualan iklan mendatang. Para peneliti menemukan bahwa menit-menit yang dihabiskan dengan media hampir sama untuk semua golongan usia. Mr. Wakshlag menyebut jumlah waktu “secara mencengangkan konsisten di semua kelompok usia.” Kecuali, bahwa untuk usia 45 – 54 tahun, yang menghabiskan rata-rata satu jam ekstra di depan layar setiap harinya, seperti yang ditemukan dalam penelitian.
“Hal ini bertentangan dengan kebijaksanaan yang umum, tentu saja, yang menyatakan pada kita bahwa kelompok yang lebih muda menghabiskan waktu lebih banyak dengan media berbasis layar,” ujar Michael Bloxham, direktur di pusat Ball State.
Di antara kejutan-kejutan lain, para peneliti menemukan bahwa bukan hanya kaum muda yang membagi perhatian mereka di antara bermacam layar dan mesin; mereka yang berusia di sekitar 20, 30, dan awal 50 tahun pada dasarnya melakukan beberapa hal pada jumlah waktu yang sama. Mereka yang berusia di atas 55 tahun secara jelas ditemukan tidak suka melakukan beberapa hal sekaligus. “Itulah perbedaan generasi yang ada, jika memang ada,” ujar Mr. Bloxham.
Walaupun para peneliti menekankan bahwa penelitian ini tidak disiapkan untuk membuktikan poin spesifik apapun tentang konsumsi media, banyak sekali data yang sesungguhnya cukup menghibur untuk industri pertelivisian, ujat Mr. Wakshlag. Data tersebut menegaskan kembali banyak hal yang telah Nielsen temukan di penelitian yang lalu, yaitu bahwa televisi tertinggal jauh di tengah-tengah dominasi tayangan video. Penelitian Ball State menemukan bahwa rata-rata orang dewasa Amerika dijejali 5 jam dan 9 menit siaran televisi setiap hari, hampir 15 menit via perangkat DVR dan 2.4 menit tayangan video di komputer.
“Walaupun orang-orang memiliki kesempatan untuk menonton video di komputer dan telepon selular mereka, televisi mempertanggungjawabkan 99 persen dari video yang ditonton selama 2008,” kata Mr. Bloxham. “Bahkan 98 persen di antara usia 18 hingga 24 tahun.”
Di antara penonton yang lebih muda, ada indikator utama yang membuat jaringan internet mempengaruhi penggunaan media. Data menunjukkan bahwa yang berusia 18 hingga 24 tahun – biasanya siswa-siswa dan para pendatang baru di dunia kerja – menonton televisi paling sedikit disbanding kelompok usia lain (tiga setengah jam per hari), menghabiskan lebih banyak waktu mereka dengan saling mengirim pesan dengan teks (29 menit per hari) dan menonton video online (5.5 menit per hari).
Penonton yang sedikit dewasa, usia 25 hingga 34 tahun, menghabiskan sebagian besar waktu mereka menonton video DVD atau VCR. Mereka yang berusia 35 sampai 44 tahun menghabiskan waktu mereka di jaringan internet dibandingkan kelompok usia yang lain, 74 menit rata-rata per harinya. Demografi selanjutnya, usia 45 hingga 54 tahun menghabiskan lebih banyak waktu pada e-mail. Konsumen di atas usia 65 tahun yang paling banyak menonton televisi, menurut penelitian ini.
Para peneliti menemukan bahwa televisi dan video game lebih banyak menarik perhatian, sementara aktivitas lain (seperti mendengarkan musik) sering mereka lakukan sambil melakukan hal lain.
Lebih dari 30 persen rumah tangga memiliki digital video recorder, yang memungkinkan mereka untuk membagi waktu nonton dan mempercepat iklan. Penelitian menemukan bahwa rata-rata orang Amerika menonton televisi selama hampir 15 menit menggunakan DVR tiap harinya.
Mr. Wakshlag mengatakan bahwa para pemilik baru DVR “menggunakannya untuk pembagian waktu menonton yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang sudah lama memilikinya.” Mr. Bloxham mencatat bahwa lebih banyak orang menerima DVR sebagai bagian dari layanan peningkatan mutu oleh perusahaan tv kabel, daripada membeli sendiri.
Sementara penelitian menemukan rating yang pada umumnya sejajar dengan rating yang Nielsen dan perusahaan lain laporkan tiap hari dan bulannya, para peneliti menemukan bahwa orang-orang merasa bahwa mereka lebih jarang menonton televisi daripada kenyataannya.
Saat subyek penelitian diminta untuk mengingat kebiasaan mereka, “mereka menganggap remeh waktu yang banyak mereka habiskan di depan televisi,” sekitar rata-rata 25 persen, ujar Mr. Wakshlag. Mereka juga cenderung melebihkan penggunaan media mereka.

Sumber diterjemahkan dari sini
Google Twitter FaceBook

22.3.10

The Existence Doesn’t Mean You’re Exist

 Gambar diambil dari sini

Dalam rangka mendukung Digital Detox Week, 20-26 April 2010, Tobucil & Klabs mengundang teman-teman untuk berbagi pengalaman soal hubungan teman-teman dengan internet (termasuk games online, jejaring sosial di internet). Tobucil menganggap Digital Detox sangatlah penting untuk menemukan kembali makna, hidup ditengah-tengah informasi yang berlimpah ruah yang membuat kita seringkali kehilangan kemampuan untuk memilihnya sesuai dengan apa yang kita butuhkan. Jika teman-teman termasuk yang sedang berjuang untuk mengatasi ketergantungan pada internet atau sudah melewatinya, pengalaman teman-teman akan sangat berharaga untuk dibagi. Silahkan kirimkan pengalaman teman-temanke tobucil@gmail.com, tulisan yang masuk akan dimuat di blog ini sampai akhir April 2010.

 Awalnya

Saya mengenal internet kurang lebih sudah satu dekade ini. Bermula dari rasa penasaran khas anak-anak SMP yang merasa aneh dengan banyak bermunculannya sesuatu yang bernama “warnet” alias warung internet. Padahal biasanya istilah warnet itu sering kami pakai untuk kedai pinggir jalan tempat makan indomi dan kornet. Saya merasa (waktu itu) harus mengenal internet dan segala kegunaannya. Kebetulan, Bapak saya sering cerita tentang fungsi-fungsi email. Saya merasa tertantang untuk sekedar tahu agar di millennium yang baru ini tidak semakin ketinggalan. Karena sering tidak punya uang saya masih harus menahan rasa ingin tahu.

Dimulai dari Kesenangan yang bukan Hobi

Ternyata tidak salah kalau ada orang bilang, banyak jalan menuju Roma. Seorang sahabat yang duluan punya komputer di rumahnya sering mengajak saya untuk ‘ngewarnet’. Saya rasa inilah titik dimana saya menjadi paham dan tahu bagaimana cara menggunakan internet bahkan sebelum saya begitu menguasai komputer. Hanya dengan mengamatinya dan menghafalkan beberapa perintah di browser, saya mulai merasa percaya diri untuk ngewarnet sendirian. Dan karena sering mengeksplorasi internet sendirian, tanpa teman bertanya dan waktu yang singkat (dulu saya hanya mampu sewa satu jam tiap online) maka saya menjadi lebih paham dan tahu seluk beluk praktis internet. Rasanya bangga sekali waktu bisa pamer unjuk kebolehan ngewarnet rame-rame (6 orang satu komputer) sekedar mencari kord gitar Oasis, “Don’t Look Back in Anger”, lalu “Jaded’-nya Aerosmith, sampai (maaf) buka website porno.

Alasan lainnya yang membuat saya merasa harus kenal internet adalah karena kesenangan. Waktu itu, zamannya saya dan sahabat saya itu menyenangi balap mobil Formula 1. Entah mengapa ada yang menarik dari lengkungan moncong mobil Ferrari atau chimney diatas sidepod McLaren-nya Hakkinen. Sebulan sekali saya pasti baca majalah F1 Racing. Kami berdua seakan jadi orang yang benar-benar tahu bagaimana persaingan Schumacher dan Mika Hakkinen yang mati-matian mempertahankan title juara dunianya. Lalu kenapa Juan Pablo yang Montoya bisa lebih cepat dari Ralph Schumacher. Hingga kenapa ada minuman yang dinamakan Tuaca Schumachersmackers. Kami tahu semua itu karena kami membacanya.

Dari sekedar membaca itulah akhirnya kami menjadi benar-benar kecanduan dan mad about F1. Foto-foto mobil F1 di majalah rasanya kurang cukup untuk memberikan kami perasaan senang dan bahagia. Kebetulan, di internet juga banyak sekali situs yang menyediakan foto-foto yang dapat didownload dengan resolusi tinggi dan yang penting: GRATIS. Entah karena beberapa situs mulai sadar akan pentingnya hak cipta maka mereka tidak lagi menggratiskannya. Kemudian, hampir seluruh situs langganan kami tidak lagi jadi situs gratisan. Minimal, kami harus punya uang 1 dolar amerika untuk sekedar foto mobil McLaren terbaru.

Saya merasa ada semacam perasaan ketergantungan ketika saya tidak bisa lagi mengunduh foto-foto mobil F1 secara gratis. Rasanya memang tidak menyenangkan ketika saya hanya bisa melihat previewnya saja. Ada juga semacam perasaan kehilangan karena pernah punya sesuatu yang berharga tapi harus melupakannya. Perlahan, saya bisa melupakan semua itu karena saya sudah mulai lumayan bosan dengan F1 ketika kesempurnaan seorang manusia bernama M (bukan Muhammad) Schumacher menjadi harga mati bagi F1. Dan semua itu membosankan. Sama membosankannya dengan duduk berjam-jam sambil membaca buku pelajaran Sejarah.

Seiring berjalannya waktu, saya mencari kesenangan baru. Saya kembali pada kesenangan saya yang dulu: Sepakbola. Sebenarnya, F1 dan sepakbola tidaklah jauh berbeda. Keduanya, menggunakan kecepatan, taktik, dan strategi untuk mencapai kemenangan. Namun, teknologi yang digunakan di F1 seakan membuat unsur sport F1 perlahan-lahan menghilang. Berbeda dengan sepakbola yang masih lekat dengan kesederhanaannya. 22 pemain. 3 wasit. Satu bola. Dua gawang. Dan ribuan mata penonton.

Dalam periode itu, saya tidak terlalu banyak bermain dengan internet. Kecuali hanya untuk e-mail saja. Sisanya, sering habis untuk surfing di website e-ducation dan beberapa situs tentang sejarah Indonesia dan dunia, sambil sesekali membuka halaman khusus dewasa dan browsing di website klub sepakbola favorit yang selalu dihati: AC Milan.

Sewaktu SMA, game online Ragnarok sedang jadi trending topic diantara pecinta game. Saya melihat beberapa teman saya rela untuk menginap di warnet yang menyediakan paket happy hours setiap malamnya. Lalu, saya juga melihat bagaimana loyonya teman saya yang tiga hari tiga malam ngajedog (baca: diam, nangkring) didepan komputer, hanya beristirahat ketika ingin buang air saja. Saat-saat itulah yang membuat saya berpikir kembali bahwa internet dan segala produk turunannya telah menjadi racun, terutama racun gaya hidup, lifestyle ecstasy, yang jelas-jelas merusak tapi memberikan kesenangan yang luar biasa dahsyatnya.

Hey World, I’m on Friendster. But find me in Google first.

Menjelang kelulusan SMA medio 2004, rasanya semua orang mulai menyebut-nyebut friendster. Dari pertama kali mendengar namanya, saya menganggap friendster itu hanya sebagai tool untuk pertemanan di dunia internet. Saya masih belum tahu friendster itu apa dan bagaimana dan apa manfaatnya sampai saya masuk semester 1. Setelah mendapat penjelasan dari seorang teman, baru saya mencoba friendster. Rasanya sangat menyenangkan ketika bisa melihat identitas diri kita menjadi “ada” dan bisa dilihat seluruh dunia. Apalagi bisa bertemu kawan-kawan lama. Sejenak waktu itu saya merasa kalau friendster ini jadi dunia kedua atau second life.

Semasa kuliah, saya benar-benar mengalami suatu perubahan yang disebabkan oleh internet. Saya benar-benar kecanduan dengan yang namanya friendster. Karena entah mengapa saya selalu senang melihat-lihat page kecengan saya dan kadang-kadang mengunduh beberapa fotonya. Sebuah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan di zaman facebook sekarang ini. Selain itu, saya juga merasa bahwa Google adalah segalanya. Drs. Google adalah orang yang tepat untuk ditanyai sesuatu. Dan, anehnya saya mulai sering merasa putus asa bila tidak berhasil menemukan bahan-bahan utnuk tugas yang saya cari lewat Google. Padahal, masih ada perpustakaan dengan koleksi bukunya yang bertumpuk-tumpuk itu dan banyak lagi search engine lain dengan metode pencarian yang berbeda yang bisa jadi alternatif selain Google.

Saya tahu itu beberapa hari sebelum kuliah pertama Information Retrieval pada semester 4. Setelahnya, saya jadi lebih tahu query seperti apa yang cocok untuk bahan tugas dan search engine mana yang akan saya gunakan. Dan itu berhasil untuk saya yang selalu mendambakan nilai A untuk setiap mata kuliah yang terlanjur ditulis di KRS. Dalam kesenangan yang seperti itu ternyata (lagi-lagi) perilaku seperti itu berdampak buruk juga bagi mentalitas mahasiswa dalam penyusunan tugas. Seringkali, kita sebagai mahasiswa menjadi lebih bodoh dari murid SMA karena hanya mengcopy dan paste saja bahan yang didapat setelah nyembah Mbah Google tanpa melalui proses editing. Jadinya, kebanyakan tugas kami adalah sama, hanya covernya saja yang berbeda.

Saya mengakui bahwa saya pernah melakukannya tetapi sejak awal saya sudah mengantisipasi hal ini dengan menjadikan bahan-bahan hasil jalan-jalan di internet sebagai referensi saja. Sisanya, kalau masih bisa menuangkan opini atau sekedar mengutip buku teks rasanya saya suah puas untuk tugas saya. Tetapi, kita selalu tidak puas pada satu titik. Maka dari itu, saya punya prinsip “boleh Google kita sama, tapi punya saya beda”. Walau kita menggunakan Google yang sama tetapi bahan yang saya punya pasti berbeda karena saya menggunakan query yang lebih bervariasi dan search engine yang beragam. Pada waktu-waktu itu, selama kuliah, email memiliki peranan yang lumayan penting karena fungsinya. Selain karena sudah mulai tahu yang namanya milis, seringkali alamat email diperlukan untuk beberapa keperluan, seperti membuat akun gratis di forum-forum internet.

Check out My Profile on Facebook but Too Much Facebook Will Kill You

Habis lulus kuliah, facebook mulai menggusur friendster. Saya juga sudah mulai meninggalkan friendster dengan alasan sudah tidak relevan dan sulitnya mencari teman. Belum lagi, banyaknya “kepalsuan” seperti yang kini dialami facebook. Dalam periode ini, banyak media yang bisa menggantikan penemuan handphone sebagai alat komunikasi tercanggih. Selain facebook ada juga YM, Skype, blog, dll. Semua itu punya sensasi masing-masing. Saya senang facebook karena kemudahannya untuk mencari teman yang benar-benar teman, setidaknya yang pernah saya kenal dan saya tahu. Kemudian, facebook juga menyediakan fasilitas sharing yang beragam khas web 2.0 yaitu notes, links, hingga video. Dan yang terpenting adalah Status Update yang semakin menandakan dan menegaskan eksistensi dan keberadaan kita di internet.

Saya pernah sampai memikirkan status yang akan saya update esok hari kalau ketemu facebook karena waktu itu internet di kantor sempat di blokir. Yang paling menyiksa adalah perasaan ingin stastusnya diperhatikan dan dikomentari karena ternyata hal ini berdampak luar biasa karena sesuai sifat dasar manusia yang selalu ingin diperhatikan dan kalau bisa dikomentari. Rasanya memang tidak menyenangkan tetapi kenapa saya selalu menginginkannya. Padahal yang diupdate itu Cuma hanya untuk bilang “Good morning selamat pagi, kerudung kuning menawan hati”. Lalu kawan-kawan yang lain hanya berkeluh-kesah karena busway yang ditumpanginya mogok, kena macet, atau terjebak demo.

Ada yang mengupdate status sambil berdesak-desakan di KRL dan banyak pula yang mengomentarinya. Ada juga yang cukup merasa eksis dengan mengupdate menu sarapannya, ada lagi yang merasa bangga dan berharga dengan menulis “@Kantor, bentar lagi meeting sama bos” padahal mungkin ia tidak pernah menginginkan meeting itu sekalipun, walau sudah tahu meeting akan selalu membosankan karena penuh dengan omong kosong. Setelah apa yang saya lalui dengan keadaan itu saya masih cukup sadar bahwa saya masih punya eksistensi yang nyata dihadapan diri sendiri bukan dihadapan orang lain dan bukan pula lewat media sosial seperti facebook.

Awal Sebuah Kesadaran

Saya telah mencapai titik jenuh dan puncak kebosanan dalam berfacebook karena semuanya hanya palsu dari sekian banyak kepalsuan di dunia ini walaupun semua teman di facebook saya rasanya mencoba untuk tetap jadi dirinya masing-masing dengan memperlihatkan sisi lain dari hidupnya yang sudah begitu. Saya mengembalikan lagi facebook sebagai media dimana kita bisa bertukar informasi sambil kadang bercanda dengan mengomentari foto dan status teman-teman. Saya kembalikan facebook sebagai media yang benar-benar mendekatkan yang jauh tetapi tidak menjauhkan yang dekat. Untuk komunikasi yang lebih bersifat langsung saya kembali disadarkan untuk menggunakan handphone saya yang ada empat itu dan berhenti menggunakan facebook, email, YM, atau twitter.

Kebetulan, semenjak saya jadi user facebook saya juga menemukan kebebasan untuk menjadi diri sendiri lewat blog (selendangwarna.blogspot.com). Sehingga, saya punya ruang tersendiri untuk jadi diri saya. Saya mencoba belajar untuk jadi pribadi yang orisinil lewat blog. Saya lebih senang untuk menjelajahi link-link blogger yang ada dari blog teman-teman saya daripada harus menghabiskan waktu di facebook. Saya belajar untuk tidak lagi sembarangan mengambil kutipan dari tulisan orang lain hanya untuk sekedar menegaskan eksistensi saya sebagai pribadi yang kelihatan harus lebih dari yang lain, tahu lebih banyak, dan itu palsu.

Saya jadikan blog sebagai media belajar menulis. Saya mencoba menulis apa saja yang saya mau dengan berbagai gaya dan topik yang terserah saya. Tidak ada ikatan perasaan untuk menegaskan kembali eksistensi lewat jagad maya. Kalaupun ternyata tulisan saya di blog sama dengan notes yang ada di facebook, itu karena saya buat setting note di facebook untuk mengambil feed dari blog saya secara otomatis. Jadi saya tidak perlu repot mengcopy-paste tulisan dari blog untuk dijadikan note di facebook. Sampai saat ini, saya rasa itu adalah satu dari sekian banyak keunggulan facebook dan kemudahan internet bagi saya.

Saat ini, saya telah dan masih menganggap internet dan berbagai medianya hanya sebagai pelengkap dan bumbu kehidupan saja supaya tidak terlalu jenuh. Saya mengembalikan fungsi internet sebagai media. Terkadang internet memang bisa jadi media eskapis yang sangat baik untuk jiwa yang lelah. Saya menyadari bahwa internet memang telah menjadi kebutuhan tetapi tidak semua kebutuhan dapat dipenuhinya.

Maka dari itu, sebagai media atau yang disebut ‘channel’ dalam paradigma Lasswell, yang bersifat interaktif dengan segenap efek yang ditimbulkannya, saya rasa penting bagi kita untuk mulai memahami dan menyadari bahwa kebiasaan internet yang sehat bisa dimulai dari diri kita sendiri sebelum menularkannya ke orang lain. Kita bisa mulai perubahan yang kecil mulai dari mengidentifikasi kebutuhan yang kita perlukan dari internet yang sudah terlanjur jadi information superhighway agar kelak tidak kehilangan arah dan semakin tenggelam dalam dunia yang sengaja dibuat nyata dan ada.

Tangerang, 13 Maret 2010, 01.25

Anggi Hafiz Al Hakam
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin