Showing posts with label off clinic. Show all posts
Showing posts with label off clinic. Show all posts

29.11.09

Off Clinic: Menginterpretasikan Musik Klasik


Pertanyaan dari Ima Violin (via message FB):
Halo Kak Syaraf, mau nanya nih. Musik klasik itu kan kaitannya sama interpretasi. Bagaimana, sih, cara menginterpretasi yang baik dan benar, agar enak didengar? Tapi yang saya lihat, interpretasi juga bisa jadi bumerang, bisa jadi sumber konflik. Misalnya si A, menginterpretasi musik barok dengan cara begini, dan si B begitu, lain lagi. Si A dan Si B ini lalu berkonflik, merasa dirinya paling benar? Bagaiman itu, Kak?

Jawaban dari Kak Syaraf:
Halo Ima yang galau, begini nih. Entah kontekstual atau tidak, tapi sepertinya iya. Saya suka mengambil contoh dari salah satu kajian filsafat, namanya Hermeneutika. Yakni semacam ilmu tentang penafsiran. Ada dua hermeneutika yang terkenal, yakni hermeneutika ala Schleiermacher dan hermeneutika ala Gadamer. Bedanya begini: kalau Schleiermacher (susah ya bacanya? Kira-kira dibaca Sleyermakher), itu percaya, bahwa menafsirkan yang sebenar-benarnya, adalah memahami teks dalam kondisi seasli-aslinya. Misalnya, menginterpretasi Fugue karya Bach. Si pemain harus tahu sejarah, siapa Bach, apa yang dia inginkan dalam karyanya ini, dan apa motifnya dalam menulis karya tersebut? Jadi, dalam arti kata lain, Schleirmacher ingin kemiripan yang mendekati persis dalam menginterpretasi sebuah karya. Nah, Gadamer mengkritik pendekatan ini, katanya: kita tidak mungkin mengetahui sejarah suatu karya secara otentik, dan kalopun iya kita tahu, lantas buat apa? Lantas buat apa kita bermirip-mirip ria, tanpa iya tahu keotentikannya. Maka Gadamer punya solusi, jadikan teks itu sebagai pedoman. Sisanya? Marilah menginterpretasi sesuai apa yang kita hayati di jaman dimana kita hidup sekarang. Misalnya, dulu di jaman Bach tidak ada yang bernama Piano, adapun Harpsichord. Maka itu, kata Gadamer, tak perlu memainkan partitur Harpsichord dengan gaya Harpsichord, padahal instrumennya piano. Tidakkah Bach, jika di jamannya sudah ada piano, akan bermain dengan gaya piano? Jadi mainlah dengan kondisi kita sekarang. Teks sesuaikan dengan konteks.

na yang sebaiknya Ima pilih. Boleh Gadamer atau Schleiermacher, atau kedua-duanya digabung. Yang pasti, keduanya pilihan, maka itu, aneh kan jika kemudian ada konflik yang timbul?
Google Twitter FaceBook

22.11.09

Mempertanyakan Soal Pemberhalaan Pada Kak Syaraf Maulini


Pertanyaan dari Landy Rinaldi (via wall FB):
Hai Kak Syaraf, mau nanya, kenapa sih, orang Islam solat menghadap Ka’bah. Tidakkah itu menjadi semacam pemberhalaan? Padahal kan, berhala tidak boleh dari Islam. Terima kasih, Kak Syaraf.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Landy, sepertinya anda galau sekali. Oh, jadi begini, kalo kata saya sih ya, manusia itu makhluk simbolik (homo simbolicum), jadi apa-apa mesti simbolis, mesti “diwakilkan”. Saya pernah ikut kuliah filsafat yang mana Goenawan Mohamad adalah pembicaranya, katanya begini: Manusia itu dilematis dalam menyembah Tuhan. Di satu sisi, ia butuh simbol. Kenapa? Karena Tuhan disebut-sebut sebagai figur tak terjangkau, tak tergambarkan. Maka itu, dibuatlah simbol untuk mencapainya, maksudnya, sebagai medium. Misal, gambar Yesus untuk simbol Yesus, Ka’bah sebagai simbol rumah Allah. Tapi di sisi lain, simbol itu bisa jadi bumerang. Bisa jadi manusia malah menyembah simbol itu sendiri, atau justru karena simbol, manusia jadi menganggap Tuhan biasa-biasa saja, karena indrawi. Misalnya, karena Yesus digambarkan berjanggut dan gondrong, di era 70-an ada teater yang memparodikan Yesus Kristus sebagai seorang bintang rock. Contoh lainnya, orang bisa ribut dan saling membunuh, karena misalnya, ada salib yang dibakar. Padahal, salib itu cuma simbol. Kadang tidak ada korelasi serius antara simbol dan keimanan.


Soal Ka’bah, barangkali ia tidak bisa dikategorikan pemberhalaan. Karena apa yang kita sebut, kita ucap, dan kita hayati dalam ibadah, bukanlah si Ka’bah, tapi Allah itu sendiri. Ka’bah mesti ada, karena manusia butuh arah. Jadi dapat dibayangkan jika Ka’bah tidak ada, maka bebas-bebas saja manusia menghadap kemana, maka itu pula, shalat bisa bertabrakan dan chaotic, dan para jemaat bisa saling menyembah. Jadi jangan khawatir, tetaplah menghadap Ka’bah. Dan pastilah, kita sebagai orang yang terpisah ribuan kilometer dengan Ka’bah, pasti tidak tepat dalam menghadap Ka’bah. Tapi bukan itu intinya kan?
Google Twitter FaceBook

8.11.09

Dua Pertanyaan Singkat

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Hamba Allah yang bernama Harish Banser (via message FB):

Kak Syaraf, bagaimana caranya dapet ijazah Unikom tanpa belajar, tanpa kuliah dan tanpa menyogok dan tanpa balik nama ijasah orang.

Terimakasih

Jawaban dari Kak Syaraf:

Saya punya saran yang sangat penting. Jadi saya akan menyuruhmu, jika memang kau mau mendapat ijazah tanpa syarat-syarat di atas, berbuat Unikom. Apa itu? Meski terdengar seperti pepatah klasik Tionghoa, tapi saya yakini bukan, yakni: U (You) Nyieun Ijazah Ku Olangan, Maneh! Jadi buatlah seperti itu, dan jangan takut untuk menuliskan kata-kata keren seperti cum laude, cogito ergo sum atau kun fayakuun. Buatlah di kertas concorde 120 gram, print dengan kualitas high, dan jangan takut tintanya melebar, karena kan, sekali beli kertas concorde, dapat sepuluh. Tandatangan? Gampang, tinggal tandatangan saja. Setelah beres, simpan ijazah itu, dan pajang di kamarmu. Sebagai motivasi agar kau belajar terus, Nak. Semoga cepat lulus ya.

Pertanyaan dari Rie Yanti (via ngobrol langsung di Taman Lalu Lintas):

Kak, kenapa tempat ini dinamakan Taman Lalu Lintas?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Mudah sekali, karena disini utopis, tak ada supir angkot.

Google Twitter FaceBook

1.11.09

Pendapat Kak Syaraf tentang Miyabi

kaksyaraftiga asuhan Kak Syaraf Maulini

Nama saya Karen. Saya penggemar rubrik Off Clinic. Saya punya beberapa pertanyaan untruk Kak Syaraf Maulini sebagai pengasuh Off Clinic:
1. Kalau saya tidur terus mimpi dalam bahasa Jerman, waktu bangun pagi bahasa Jerman saya lancar juga. Tapi kalau saya mimpi pakai bahasa Indo, paginya bahasa Jerman saya langsung acak-acakan. Pertanyaannya, gimana caranya supaya saya bisa selalu mimpi pakai bahasa Jerman?
2. Dalam olahraga renang, gaya katak memang gayanya seperti katak, gaya punggung memang punggung kita di dalam air. Kenapa ada juga yang disebut gaya bebas dan gaya kupu-kupu, padahal gaya kita tidak bebas dan tidak seperti kupu-kupu?
3. Apa pendapat kakak tentang Miyabi?
Segitu dulu deh. Makasih jawabannya!

Jawaban dari Kak Syaraf:
1. Gampang, kau belajar aja bahasa Jerman yang giat. Banyak bergaul dengan teman-teman Jerman-mu, rajin bawa kamus, baca media-media harian di Jerman, nonton sepakbola liga Jerman (paling penting), makan makanan Jerman di restoran Jerman yang isinya orang-orang ngomong Jerman, dan rajin mengerjakan PR kalau kau memang seorang yang studi berbahasa Jerman. Kalau bukan, sih, tetap kerjakan ya, karena PR pasti wajib untuk nilaimu. Nah, nanti pas tidur, jangan lupa berdoa ya. Berdoanya tak perlu bahasa Jerman, karena Allah, sih, pasti ngerti. Sebelum berdoa cuci kaki dulu, tentunya pakai air Jerman karena kau tinggal di Jerman. Terus boleh lah sebelumnya minum susu. Susu yang tidak mungkin susu Indonesia karena pasti sudah basi kalau kau bawa dari sana. Susu Jerman yang dibeli di Jerman, di swalayan Jerman yang kasirnya juga orang Jerman dan insya allah, sapinya juga sapi Jerman. Nah jikalau kau sudah melakukan itu semua, kau akan selalu pintar berbahasa Jerman, biarpun dalam mimpi bicara bahasa Swahili.
2. Pertanyaan yang menyadarkan saya juga. Saya ini tidak bisa berenang, dan kalau disuruh masuk ke kolam renang, saya kecipak-kecipak asal-asalan. Tapi kok orang-orang bilang saya tidak bisa berenang ya? Bukan mengatakan saya tengah melakukan gaya bebas? Jadi saya agak curiga, bahwa ‘gaya bebas’ yang dimaksud dalam renang adalah ‘bebas-bebas saja bergaya apapun di dalam kolam renang, tapi bebas-bebas juga orang menilai kau itu sedang bergaya bebas atau bukan’. Sedangkan kenapa dinamai gaya kupu-kupu? Karena , memang mirip kupu-kupu, ah. Biarpun saya paham apa yang kau maksud, kan maksud pertanyaanmu, ‘mengapa dinamai gaya kupu-kupu, biarpun tak lebih dulu jadi kepompong lalu ulat?’. Saya beri tahu: kupu-kupu tidak melakukan itu untuk gaya-gayaan, tapi lebih ke metamorfosis.
3. Tentang Miyabi, akan saya gambarkan dalam puisi:

Miyabi, Miyabi
Seharusnya produk shampo bilang terima kasih
Karena sejak ada dirimu
Pria-pria pada rajin keramas

Miyabi, Miyabi
Tak terhitung jasa-jasamu
Membuat pemuda Indonesia jadi mengerti
Betapa berharganya sekeping CD

Dan seserpih flashdisk
Padahal mereka ini benda kecil dan ringkih
Dan dari tadinya tidak tahu apa itu Nero
Kaisar Romawi kah?
Sekarang jadi tahu

Miyabi, Miyabi
Pernahkah terpikir jadi seorang muslimah?
Maka sudah kusiapkan nama jikalau memang iya:
Miya binti Mini

Miyabi, Miyabi
Mengapa tak jadi ke Indonesia?
Seolah-olah kau ini adalah sumber maksiat
Padahal darimu juga sumber manfaat
Manfaat bagi para kiai
Yang kehabisan bahan ceramah
Google Twitter FaceBook

25.10.09

Yoga Bersalah !

kaksyaraftiga asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Yoga Bersalah (via wall FB):

Halo Kak Syaraf, saya mau bertanya berikut ini:

1. Verstehen itu apa?

2. Satu tambah satu kenapa jadi dua?

3. Apa lagi ya?

4. Yakin itu apa?

5. Duluan mana antara pertanyaan apa dengan mengapa?

6. Duluan mana yakin sama berpikir?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Yoga, saya tahu anda galau. Dan dengan itu saya mengerti mengapa pertanyaan anda begini-begini semua. Jangan kira saya sedang menertawakan pertanyaan anda, meski sebenarnya kalaupun saya memang benar-benar tertawa, kau toh tidak tahu. Dengan demikian akan saya coba jawab tanpa Wikipedia, meskipun kalau saya pakai toh kau tidak tahu:

1. Kau tahu, jika kau menganggap ada satu kebenaran utama, universal, objektif dan tak terbantahkan. Nah, verstehen persis kebalikannya. Itu bahasa Jerman, jangan kau pikir itu orang sedang berusaha menyingkat band Verstikel Horisen.

2. Ah, siapa bilang. Kata saya sih tiga. Boleh kan? Dampaknya sih, saya jadi dimusuhi oleh jaman aja. Tapi tidak apa-apa kan?

3. Kau bertanya seolah-olah sedang berada di warung prasmanan dan uangmu dua belas ribu. Tapi kau baru mengambil nasi, telor, dan kangkung (sudah pesan teh botol). Maka demikianlah yang akan kau tanyakan pada diri sendiri.

4. Yakin itu adalah kebenaran bagi dirimu sendiri. Tapi tidakkah semua kebenaran, adalah bagi dirimu sendiri?

5. Duluan pertanyaan.

6. Kata St. Anselmus, kau harus yakin dulu, dan nalar akan kemudian satu per satu mendukung keyakinan kita. Kata Thomas Aquinas, kau harus bernalar dulu, hingga mentok, lantas baru pakai keyakinan. Kalau kata saya sih, kau mesti melewati pipis dan menggaruk bagian yang gatal dulu, baru kau bisa berpikir mana yang duluan.

Google Twitter FaceBook

18.10.09

Sugesti dan Jargon

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Margaretha Nita Andrianti (via FB Chat):

Halo Kak Syaraf, mau nanya ya:

1. Kemarin-kemarin ini temen gua menyuruh gua untuk mempertebal sugesti gua. Masalahnya gua ga percaya sugesti. Kalo misalkan keadaan harusnya baik, ya pasti baik. Kalo buruk, ya berarti lagi apes aja. Padahal menurut gua, sugesti itu bentuk pengingkaran atas apa yang terjadi. Menurut Kak Syaraf, penting ga sih, gua mempertebal sugesti?

2. Menurut Kak Syaraf, jadi “pelawak” itu adalah pekerjaan serius bukan?

3. Gue suka offclinic. Tapi kenapa off? Belum punya izin praktek ya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Margaretha, margamu Retha ya? Kenal sama si Mogu gak?

1. Sebenarnya ada yang lebih penting dari mempertebal sugesti. Yakni mempertebal tulisan (kalau dia tidak terbaca). Oke, tapi saya rasa bukan itu jawaban yang kau inginkan. Sesungguhnya, eh, kalau margamu Retha, jadi namamu siapa ya? Oke, saya panggil aja Marga. Jadi gini Marga, janganlah kau pusing-pusing apakah kau ini sedang bersugesti apa tidak. Kau itu hanya terjebak pada istilah lembaga bernama psikologi. Aslinya, dunia itu adalah apa yang kita pikirkan, seperti kata Kant (saya tidak tahu marganya apa).

Saran saya sih, gunakan hati nuranimu lebih banyak. Sesungguhnya ia sudah tahu apa yang baik apa yang tidak. Soal sugesti, ketika kau mengingkarinya, maka kau sudah dengan sendirinya bersugesti. Jadi jangan ingkari, tapi otaki, atau ersegi anjangi.

2. Menurut saya, tak ada pekerjaan yang lebih sulit daripada pelawak. Karena melawak berarti pula “menelanjangi dunia”. Ia mesti juga seorang psikolog, karena menelusuri hakikat terdalam dari keinginan manusia. Dan pelawak yang baik, menurut saya, tidak sadar dirinya sedang melawak, hanya bersikap cerdas dan mampu memahami nalar universal, kemudian membalikannya. Pasti lucu. Dan itu susah.

3. Udah izin ke Ikang Fawzi, tapi tidak diizinkan. Karena dia bukan Mendiknas.

Pertanyaan dari Penanya Misterius (via Message FB):

Apakah jargon itu ? Apa ada hubungannya dengan jargoff atau Jargngan begadang ?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Penanya Misterius, apa kabar kawan-kawan SMP-mu? Apakah penanya (masih) Pilot atau penanya (masih) Boxy?

Sebenarnya jargon lebih berhubungan dengan jargoan neon. Kenapa? Karena jargon biasanya digunakan partai politik mengusung jargoannya, yang mana pastilah ia pakai neon, setidaknya di rumah atau di kantornya. Di Wcnya pun. Jargon sih, menurut saya, memang semacam moto. Tapi ia tidak pakai kamera. Jadi mungkinkah moto tanpa kamera? Bisa, kalau objeknya adalah kopi. Oke, bedanya, jargon biasanya punya kepentingan untuk mengangkat tema yang dijargonkan tersebut. Dan lainnya, jargon itu sebatas memainkan imajinasi saja, seolah-olah iya, dia begitu, padahal tidak. Misalnya, jargon dari SBY, “Lanjutkan!”, jargon dari Koran BOLA, “Membawa Anda ke Arena”, atau jargon dari Indonesia, “Pancasila!”. Ketika kau sedang menyetrika, terus ada telepon berdering, bukan berarti kau harus menantikan iklan SBY kan untuk menyetrika kembali? Ketika kau tahu Persib sedang kalah, maka kau tidak harus menghindari membaca Koran BOLA kan? Untuk menghindari ia membawamu ke stadion yang sedang rusuh. Atau jika kau seorang komandan upacara yang sedang memimpin anak-anakmu berbaris yang mana beberapa diantara mereka mau pingsan, tidakkah cukup kau baca saja teks yang diberikan pemimpin Paskibra?

 

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com, Kak Syaraf akan menjawabnya.

Oh, iya, Kak Syaraf akan ujian gitar klasik, lho, mari kita doakan bersama …

Google Twitter FaceBook

11.10.09

Bakox_keren dan Gadis Galau Bertanya

kaksyarafdua asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari bakox_keren@yahoo.com (via FB chat):

Selamat malam Bung Syaraf, saya lagi sedang tidak bingung, namun bingung.

1. Kenapa ya anda memilih gitar klasik sebagai lahan anda?Apakah karena anda merasa wajah anda seklasik musik klasik atau karena di jalur mainstream sudah banyak saingan?

2. Apa yang anda pilih: Facebook, Plurk, Twitter, Netlog, atau Hi5? Sebutkan alasannya?

Pertanyaan yang terakhir kalau malas tak usah dijawab ya.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Bagaimana bisa tidak bingung namun bingung? Itu sungguh menandakan anda rajin menabung. Karena ngang nging ngung yo, kita bingung.

1. Saya kira saya tidak akan mengambil jalur main stream, karena itu sudah milik pegawai PLN. Atau jika yang kau maksud adalah main setrum. Saya memilih gitar klasik seolah-olah ada panggilan dari teman-teman komplek pakai sepeda, “Syarif, maen yuuuu!” Itu betul, seperti itu rasanya.

2. Saya sedang tidak malas, tapi saya tidak mau menjawab boleh kan ya? Tapi saya tahu saya tidak boleh, karena akan mengecewakanmu kalau saya tidak menjawab itu. Dan saya tidak mau itu terjadi. Jadi saya jawab aja boleh kan ya? Saya pilih facebook, karena saya tidak tahu keempat lainnya. Kecuali Twitter yang isinya semisal status-status. Tapi menurut saya itu tidak mendidik, karena, kan, bukan Ki Hajar Dewantara. Kalau Plurk saya tidak suka mendengarnya, seperti apa gitu ya, jorok lah pokoknya. Kalau Netlog sepertinya kasar sekali, saya sering denger aja kalo sedang bergaul, “Netlog ah maneh mah!” atau “Eh lu mah yang begini aja gak bisa, dasar netlog!” Biarpun saya tahu sebenarnya pendengaran saya yang diburuk-burukin. Kalau Hi5, itu terdengar seperti kuntilanak SMSan.

Pertanyaan dari Gadis Galau Jakarta (via FB chat):

Halo Dik Syaraf, saya seorang galau yang bekerja di Nokia, dan saya mau bertanya:

1. Mengapa sepertinya perasaan tidak esensial lagi jika pria atau wanita sudah kebelet ingin menikah? Bahasa sederhananya: yang penting nikah, rasa bagaimana nanti.

2. Mengapa mesin Nokia 5630 dan E52 belum datang juga? Padahal customer sudah banyak yang menanyakan.

3. Mengapa saya suka sekali makan?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai, saya kira kegalauan itu cuma ada di Bandung dan di Samsung.

1. Karena apalah artinya kebelet itu, selain harus didahulukan ketimbang yang lain-lain? Kebelet adalah kependekan dari Keinginan yang Betul-betul ingin dan tidak disarankan bagi yang leLet. Jadi kalau kau kebelet pipis atau ee, pastilah tidak dipikirkan bagaimana perasaan itu. Yang kau tahu, kau ingin mereka segera keluar dari hidupmu, barulah setelah itu bisa kau rasakan. Jika dalam bahasa ateisme, tidak ada kehidupan setelah kematian. Maka lawanlah prinsip itu dengan bahasa kalbu (catet ya): kehidupan ada setelah kebelet diatasi.

2. Karena mesin ya cuma mesin, bagaimana mungkin ia datang tanpa diantar orang. Dan orang tak akan datang kalo dia cuma ditanyakan. Orang itu mesti disuruh dulu untuk datang. Dan datang itu juga sebaiknya diiming-imingi, minimal surga. Tapi kok orang sekarang banyak ya yang seperti mesin? Mereka datang, tak ada yang bertanya, tak ada yang menyuruh, tak ada iming-iming. Tapi berbuat seolah harus melakukannya. Padahal di dunia ini, adakah yang harus?

3. Pertanyaan bagus. Kamu hanya boleh sebatas suka sama makanan, itu udah takaran yang pas. Kalo kamu cuma ngeceng atau berlebih hingga sayang, maka niscaya kelaparanlah kau.

 

kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

4.10.09

Subcomandate Mario Teguh Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Subcomandante Mario Teguh (via message FB):

Tadi sore saya baru saja mengikuti diskusi hangat mengenai realitas kekinian agama di tengah-tengah masyarakat yang liberal-sekuralistik. Lalu di malam hari, saya tak sengaja mengikuti acara Mario Teguh di salah satu televisi swasta yang dilindungi pohon beringin. Keduanya memiliki keterkaitan mengenai spiritualitas dan perspektif manusia mengenai masa akhir nanti. Pertanyaan super saya adalah :

1. Mengapa anda tidak memilih karir dalam bidang motivational speaking seperti Mario Teguh? Mungkinkah karena anda tidak memiliki nama seteguh Mario Teguh? Saya sarankan anda memakai nama Luigi Tangguh dan membentuk perusahaan pipa ledeng bersama.
2. Apakah anda percaya dengan ramalan kiamat di tahun 2012 berdasarkan penanggalan bangsa Maya?

3. Mungkinkah anda adalah Imam Mahdi yang diturunkan di era digital untuk menjangkau jiwa-jiwa yang sedang kebingungan mencari cahaya?
4. Apakah anda bisa mencari keterkaitan dari ketiga pertanyaan saya diatas? kalau bisa, tolong dijelaskan dalam 10 kata (hanya boleh dalam Inggris, Batak, Sunda, atau Arab).
Semoga semangat liberal-sekularistik yang menjangkiti masyarakat Indonesia dapat tergantikan oleh spirit Pancasila dan Marhaenisme. Salam Pembebasan!!

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Subcomandante Mario Teguh, rumit sekali namamu. Perlu diketahui bahwa kau sudah sama saja menghina diskusi tersebut seolah-olah mereka yang terlibat adalah tahi ayam. Hangat kan?

Lalu saya mau tanya, kalau nontonnya dibawah pohon beringin, nyolokin stekernya kemana? Hehe maaf. Kok jadi saya yang nanya.

  1. Untuk apa speaking dimotivasi segala? Seolah-olah berbicara itu tidak semua orang mampu. Lebih baik berkarir di bidang-bidang yang memang mesti dimotivasi, seperti motivational dancing, motivational bleeding atau motivational stabbing. Ya kan? Kalau kau menikam seseorang, mesti ada motif nya kan? Tak mungkin tanpa itu. Apalagi jika kau jahit pakai motif tikam jejak.
  2. Saya lebih percaya pada penanggalan oleh Mayasari, biarpun disana tidak tertera kapan kiamat. Tapi saya yakin pada molennya.
  3. Tak perlu Imam Mahdi toh untuk menjangkau jiwa-jiwa yang kebingungan mencari cahaya? Karena kalau memang demikian tugas Imam Mahdi, berarti orang PLN itu selamat semua barangkali.
  4. Bismillahirrahmaanirrahim. Sapertosna both of answers look a like sibutar butar.

Salam Pembebasan! Yang penting tidak tergantikan oleh spirit us. Nanti kebakar.

Pertanyaan dari Raden Prisya (via Yahoo Messenger):

Hai Kak Syaraf, ceritanya begini: Besok saya akan diwawancara, di Wisma Kosgoro. Wawancara itu wawancara kerja, yang mana berkaitan erat dengan apakah saya diterima jadi fashion assistant atau tidak? Doakan ya. Tapi saya bicara di offclinic bukan semata-mata minta doa, tapi juga saran, tentang baju apa yang sebaiknya saya kenakan? Terima kasih, Kak Syaraf.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Pertama, baju itu jangan cuma dikenakan, tapi dipakai yaaa. Kalo kena saja sih, saya yakin kau akan sulit diterima, apalagi kau dan baju belum muhrim.

Kedua, baju itu harus baju baru. Kan, lebaran. Maksudnya bukan baru beli, tapi baru dicuci dan disetrika, atau baru diambil dari gantungannya.

Ketiga, baju itu jangan menutupi aurat. Ini tak bisa saya jelaskan, tapi sebaiknya begitu.

Keempat, pakailah baju yang sopan dan rapi. Terutama setelah tidak ada lagi sopan dan sopiaan.

Ketiga, pakai batik akan lebih asyik. Terutama karena baru saja diklaim oleh UNESCO. Eh, tapi kenapa kita tidak terpikir mengganyang UNESCO ya?

Sudah tepat kau meminta saya untuk mendoakan. Daripada minta didoakan si pewawancara.

Google Twitter FaceBook

27.9.09

Pergitaran, Senja di Batas Kota, dan Senjata Makan Tuan

kaksyarafdua asuhan Kak Syaraf Maulini




Pertanyaan dari Fans Ringan Off Clinic (via YM):

Kak Syaraf mau nanya dong, ada soal pergitaran dan ada soal lainnya.

  1. Kak Syaraf fingering maen gitarnya biasanya gimana aja?
  2. Kak Syaraf Maulini apa? Lini tengah, depan, atau belakang?

Terima kasih Kakak!

Jawaban dari Kak Syaraf:

  1. Fingeringnya tergantung. Tergantung apa? Tergantung pisang di warung. Ada macam-macam fingering. Kalo sedang main klasik, saya pakai keseluruhan jari kanan kecuali kelingking. Kalo sedang main metal, saya pakai plektrum atau pick. Kalo sedang sebel sama orang, saya pakai jari tengah.
  2. Apa ya, yang pasti saya tidak mau lini gempa. Rasanya menggetarkan dan menggalaukan. Waktu lini, saya lagi dipijat refleksi. Kau ada dimana? Dan orang tentunya berhamburan keluar, termasuk tukang pijit saya. Ketika lini selesai dan kami kembali ke posisi, saya bilang, ”Mas, ulang lagi ya pijitnya, kepotong sih tadi.”

Pertanyaan dari Gadis Senja (via SMS):

Kak Syaraf, pertanyaan saya singkat, padat, merayap. Apa hubungan antara Senja di Batas Kota dan Senjata Makan Tuan?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Ada banget, memang lagu Senja di Batas Kota yang dipopulerkan Ermi Kulit ini berkisah tentang weapon eat lord (senjata makan tuan-red), mari kita simak liriknya:

Senja di batas kota
Slalu teringat padamu
Saat kita kan berpisah
Entah untuk berapa lama
Walu senja tlah berganti
Wajahmu slalu terbayang
Waktu engkau kulepaskan
Berdebar hati di dada
Tiada dapat kulupakan
Peristiwa kisah ini
Engkau di seberang sana
Menunaikan tugasmu
Senja di batas kota
Terlukis di dalam kalbu
Hanya bila kau kembali
Hidupku akan bahagia

Nah jadi ceritanya, menurut penuturan Ermi Kulit pada ibunya yang mana saya tak kenal keduanya, ini lagu begini kisahnya: setelah solat Ashar, adalah solat Maghrib. Nah ia selalu telat solat Maghrib, karena tak mampu melihat senja ada dimana. Katanya adzan pun tak terdengar karena belum ada speaker. Dimanakah ia? Ia ada di desa. ”Mak, aku tak mampu pergi ke kota, apalagi untuk sekedar mencari senja,” katanya pada emaknya. ”Disana mencari uang saja digusur, apalagi mencari senja,” tambahnya. Tapi ia basa-basi saja. Ia tahu, emak yang baik pastilah akan menyuruhnya pergi merantau, carilah itu senja, demi ketepatan waktu solat Maghrib-mu. Namun kagetnya ia kala si emak menjawab berbeda dengan pengharapannya, ”Anakku yang baik, ini uang, belilah tivi. Mari saksikan adzan maghrib saja.” Dengan hati sedih sang anak beli tivi. ”Pak, beli tivi satu,” si anak berkata seolah pada tukang bubur ayam, meskipun memang iya. Jadilah si anak dikira gila, dan ditunjukkanlah tukang jual tivi yang sebenarnya.

Singkat cerita, sampailah si tivi di rumahnya. Sejak itu sang anak tak pernah telat solat maghrib lagi. Namun suatu hari, si anak bosan karena terus menerus menyetel TVRI. Akhirnya dipindahkanlah saluran ke Metro TV. Disana didapati berita soal pemboman J.W. Marriott dan Ritz Carlton. Kala dibilang bom bunuh diri, ia dan ibunya berdiskusi panjang lebar. Katanya, ”Mungkin gak, Mak? Kalau itu bukan bom bunuh diri, tapi ia bawa bom untuk diledakkan, tapi karena suatu kesalahan, eh malah meledak di genggamannya!” ”Mungkin aja nak, senjata makan tuan itu namanya,” ”Oh, gitu ya, Mak? Kalo senjata makan tuan, tuannya makan apa dong? Senjata?” ”Bukanlah nak, tuannya makan apa sesuai keinginan dia,” ”Oh, iya juga ya, hehehe.” Demikianlah hubungannya.

Google Twitter FaceBook

20.9.09

Soe Hok Gie Gaya Baru dan Budiman (Bukan) Arif Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Soe Hok Gie Gaya Baru (via message FB):

Saya adalah Soe Hok Gie Gaya Baru yang memilih untuk diasingkan daripada dilokalkan. Berikut adalah pertanyaan saya yang muncul selama saya membaca Catatan Seorang Demonstran :
1. Mengapa pada tahun ini anda tidak melakukan proses mudik pada musim Lebaran? apakah anda ingin menghindari label “konsumtif” yang selalu dilekatkan pada kalangan kelas menengah di Indonesia yang menjalankan proses mudik?

2. Apakah anda mengetahui sejarah etimologis munculnya frase “mudik” dalam kosakata Bahasa Indonesia? Mungkinkah frase tersebut memiliki hubungan persaudaraan dengan Sputnik?

3. Mengapa antonim dari “arus mudik” adalah “arus balik” ? bukannya “mudik” itu sendiri memiliki pemaknaan “balik” ke kampung halaman? Kalau begitu tidak ada perbedaannya donk.

4. Seminggu kedepan akan ada libur panjang bagi kita semua. Menurut anda, bisnis apakah yang akan mendatangkan banyak keuntungan jika dilakukan dalam periode libur selama seminggu ini? Jaga rumah orang? Layanan cuci mobil? Atau pijat plus-plus?

"...tetapi apa yang lebih puitis selain bicara tentang kebenaran."
(Kutipan ini memang tidak nyambung dengan pertanyaan saya, tetapi harus diakui, ucapan tersebut keren dan berpotensi membuat wanita bertekuk lutut. Maka dari itu saya mencoba peruntungan saya di off-clinic untuk mencari jodoh)

Jawaban dari Kak Syaraf:

Bagaimana kau bisa mencari jodoh, kalau kau menyamarkan namamu, Bung? Atau bagaimana kami bisa tahu, bahwa kau bukan antek-antek dari Soe Har To Orde Baru?

  1. Tidak, karena mudik itu biasanya melalui jalur yang panjang, bukan lebar. Jadi mestinya mudik itu dilakukan saat panjangan, bukan lebaran. Tentu saja saya tidak menghindari label “konsumtif”, karena apalah manusia, selain identik dengan konsumtif sebagai kata kerjanya? Kalau label saya ”konsumsi”, baru saya takut. Apalagi ”konsumsi gratis”.
  2. Mudik itu punya sejarah etimologi yang panjang. Ia berasal dari kata ”adik”. ”A” berarti tidak, ”dik” itu panggilan bagi seseorang yang biasanya lebih muda. Jadi kalau kau mudik, kau akan bertemu banyak pedagang atau orang yang menawari ini itu. Nah, kau mesti sering bilang-bilang, ”Tidak, Dik, tidak, tidak.”
  3. Tidak, tidak. “Mudik” itu identik dengan pulang ke tempat dimana kau dilahirkan, dibesarkan, dan buang air pertamamu. Kalo “balik”, identik dengan pulang ke tempat kau buang air ke entah berapa juta. Coba perhatikan.
  4. Saya mengusulkan bisnis “calo silaturahmi”. Jadi jika ada orang yang merasa capek menyambangi satu-satu saudaranya, kau bisa menawarkan diri agar dibayar untuk bersalaman, berciuman, dan bertangis-tangisan dengan sanak saudara si konsumen. Insya Allah menguntungkan.

“… tetapi apa yang lebih puitis selain puisi yang puitis.”


Pertanyaan dari Andika Budiman (via message FB):

Kak Syaraf, saya ada sedikit THR*, nih:

  1. Ketika berkunjung ke rumah keluarga besar di hari lebaran, kita bertemu dengan banyak sanak saudara yang mengenal kita, tapi tidak kita kenal, tapi berharap kita mengenali mereka. Bagaimana supaya kita tidak memupuskan harapan sanak-sanak yang jarang kita temui itu?
  2. Pertanyaan-pertanyaan keluarga besar bersifat ice-breaking tentang kuliah, kerja, perkawinan, dan anak justru seringnya malah jadi ice-making. Memang bisa ya memecahkan es dengan pertanyaan?
  3. Sebagai laki-laki, kakak lebih suka ketupat atau lontong?

*THR=Tanya-tanya tentang Hari Raya

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, Andika, saya juga ada THR nih, yakni Tunjangan Hari Raya, tapi itu buat adik-adik saya. Tentu kamu tidak saya kasih, karena kamu laki-laki.

  1. Ah, ini sama saja dengan analogi begini: kau reuni dengan teman-teman TK-mu atau SD-mu. Itu betul-betul reuni yang janggal bukan? Kau bertemu dengan orang-orang yang ”pernah” dekat, tapi sudah lama sekali sehingga kedekatan itu renggang juga, dan sekarang mesti berkenalan ulang. Betul kan? Jadi yang mempersatukanmu tak lebih dari lembaga SD-mu itu, sisanya kerancuan belaka. Nah, itu sama saja dengan kau bertemu saudara-saudaramu, padahal kau tak kenal ia. Dan apalah yang mempersatukanmu, selain kalian sesama keturunan Adam? Jadi, sapaan pertama yang sopan dan baik adalah, ”Hai, saudaraku, kenapa Adam memakan buah khuldi, sehingga mempertemukan kita ini?”
  2. Bisa dong, yang begitu saja kau tak tahu. Tinggal tanya saja, ”wahai saudara-saudaraku, bolehkah kupecahkan es ini?” Betul kan? Memecahkan es dengan pertanyaan.
  3. Sebagai laki-laki yang sedang lapar, saya akan suka keduanya.

Terima kasih, semoga hari rayamu tak cuma sekedar berbagi pecahan es.


kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaaa ... saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

13.9.09

Lagu-laguan

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Antek Kekiri-kirian (via message FB):

Selamat malam Kang Sarap.

Pertanyaan-pertanyaan di bawah ini hendaknya dijawab dengan judul lagu, dan jelaskan mengapa anda memilih lagu tersebut sebagai jawaban anda. (jawaban tidak boleh diulang)
1. Apakah anda sudah menonton film Cin(T)a?

2. Betulkah saudara anda berperan sebagai figuran dalam film Cin(T)a?
3. Apakah anda pernah menjalani hubungan seperti yang dideskripsikan dalam film Cin(T)a?

4. Bagaimanakah rasanya?

5. Apakah saya harus menjalani hubungan layaknya film Cin(T)a jika saya ingin mengimplementasikan Bhinneka Tunggal Ika?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Terima kasih Antek, ini sungguh pertanyaan yang menggoda iman dan merangsang linangan air liur.

1. Pernah Muda (Bunga Citra Lestari)

Karena pernah dan saya masih muda ketika menontonnya.


2. Dosa (Koil)

Karena gara-gara lagu tersebut, saudara saya jadi menggondrongkan rambutnya dan mencintai gaya gothik. Itulah sebab-musabab ia direkrut jadi figuran yang berperan mempertanyakan Tuhan kala Cina sedang galau. Saya yakin jika yang ia dengarkan adalah lagu-lagu Opik atau Debu, ia mungkin sudah jadi figuran di acara sahur maupun saur sepuh. Karena memang yang namanya figuran tak akan ditanya lagu apa yang ia dengarkan. Saya yakin.


3. Abang Tukang Baso (Melissa)

Abang tukang baso, mari mari sini, aku mau beli. Ya, saya pernah mengalami hubungan seperti Cina dan tukang baso (adegan ketika Annisa memanggil Cin, dan tukang baso menyangka mereka pacaran), yakni ketika saya beli baso.

4. 4’ 33’’ (John Cage)

Karena no comment!


5. Imagine (John Lennon)

Alah, ketahuan kayaknya mau jawab itu. Saya ganti aja deh, pokoknya lagu apa pun yang pakai kunci C-Am-Dm ke G ke C lagi, itu adalah implementasi Bhinneka Tunggal Ika. Karena dari Sabang sampai Merauke nama-nama kunci itu sama semua. Betul?

Apakah harus kau menjalani hubungan macam itu? Jawabannya ada di lagu Master of Puppets-nya Metallica. Tahu kenapa? Karena kau harus mendengarkannya untuk tahu bahwa jawabannya tidak ada di sana.

Catatan:

  1. Jika anda kurang paham dengan jawaban-jawaban di atas karena belum menonton film Cin(T)a, maka menontonnya tidak akan membuat anda jadi paham.
  2. Jawaban nomer 4 Insya Allah, Yesus, Budha dan Brahma, akan lebih mudah jika menyaksikan http://www.youtube.com/watch?v=HypmW4Yd7SY
Google Twitter FaceBook

6.9.09

Jarum Neraka

kaksyaraf asuhan : Kak Syaraf Maulini





Pertanyaan dari Nicky Astria Wannabe (via SMS dari neraka langsung katanya):

Halo Kak, pertanyaan saya singkat, padat, dan tidak terpercaya. Apa pendapat Kakak soal lagu Jarum Neraka-nya Nicky Astria?

Jawaban dari Kak Syaraf (bukan dari surga):

Hai, hmmmm, dipanggil apa ya kamu ini? Oke, halo, Nicky Astria (kependekan dari Nicky Astria dari Neraka), sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena sudah bersedia menjadi wakil kami di neraka. Dengan demikian, kami-kami ini jadi merasa lebih lega dalam memasuki surga. Kami doakan agar dosa-dosamu diampuni Tuhan. Tapi kalau diampuni, tidak jadi masuk neraka dong? Jadi kami tak mewakilkan siapa-siapa di neraka dong? Seharusnya kamu ngerti betapa susahnya mendoakanmu meski kamu orang yang baik.

Oke, biar orang-orang tidak mencapmu sebagai pendusta belaka, saya akan coba cantumkan lirik si Jarum Neraka (tapi kalau kau orang jujur, pasti mengirim SMS dari surga):

Jarum jarum setan menghujam urat nadi
Wajahmu memucat darah membeku lagi
Kini kuterpaksa namun kutak kuasa
Dirimu terancam dalam bahaya
Jarum jarum setan bisa mencabut nyawa
Bila kau coba berhenti memakainya
Tanpa kau sadari tanpa engkau rasakan
kau bunuh dirimu secara perlahan
Tak seorangpun yang bisa bikin
Engkau berhenti
Bila kau mau yang bisa hanya
Dirimu, dirimu sendiri
Jiwamu selalu dalam bahaya
Terancam setan jarum neraka
Jiwamu terancam dalam bahaya
Terancam setan jarum neraka
Jarum neraka

Betul itu di atas adalah lagu Jarum Neraka yang saya ambil dari Kapanlagi.com, bukan sari tilawah surat Al-Jin atau Al-Hujuraat. Oke pendapat saya? Bagus. Ini setidaknya menunjukkan, neraka tak cuma identik dengan api dan setrika raksasa. Hehe setrika raksasa? Saya akan bahas dulu kenapa saya berkata demikian: alkisah di kala SD, saya adalah peminum. Minumnya teh botol. Si mang yang biasa jualan teh botol mendadak tak lagi jualan teh botol. Alasannya, karena Ramadhan. Jadi, kalau saya haus gimana, Mang? Ya tahan atuh, kan puasa. Jadinya entah bagaimana menyambungkannya, si mang menyodorkan buku-buku berwarna, judulnya Neraka. Isinya tentang gambar orang disiksa di neraka, salah satunya dengan setrika raksasa. Setrikanya persis dengan yang dipakai ibu saya buat nyetrika, maka itu saya berani bilang itu setrika.

Lirik di atas sungguh bagus, membuat saya menuduh si mang telah menjual buku-buku yang tidak jujur. Dari Jarum Neraka, saya tahu –sesuatu yang tidak diceritakan di buku-, bahwa di neraka juga ada pelajaran PKK = Persalinan yang menyebabkan kelahiran seorang anak yang kelak mendirikan sebuah mata pelajaran yang penting bagi khalayak SD/SMP/SMA yakni pendidikan Ketrampilan dan Kerajinan.

Analisis:

Coba tengok bait pertama, pastilah teks itu dibikin oleh pembuat kurikulum PKK yang hebatnya setara Mba Upik. Karena dengan bermodalkan tusuk jelujur dan tikam jejak, ia mampu membuat wajah pucat. Bait kedua pun luar biasa, Mba Upik sepertinya mesti mengakui kekalahannya. Ketika jarum ditusuk dan dicabut, pasti benanglah yang ikut bersamanya, alih-alih nyawa. Hebat yah? Bait ketiga ini Mba Upik bisa tertawa lega, karena jarum dimanapun, mau di bumi, mau di neraka, tetap yang bisa bikin berhenti hanyalah kita sendiri. Bait keempat sungguh keren, tapi menurut saya udahlah, gak usah dibahas, karena siapa coba yang mau masuk neraka, meskipun ada pelajaran PKK disana.

Google Twitter FaceBook

30.8.09

Gaya Berfoto

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Raden Prisya (via chat FB):

(Kak Syaraf: Di suatu malam yang galau, saya ngobrol dengan Prisya di chat FB. Lalu Prisya bertanya soal di bawah ini, tapi ia ingin dijawab secepatnya. Kenapa? Karena waktu sudah imsak)

Hai, Kak Syaraf, saya ada kegalauan tingkat tinggi yang mana dituliskan dalam pertanyaan berikut ini: Apabila tiba-tiba seorang fotografer kelas dunia yang telah berpengalaman memotret berbagai selebriti bersedia memotret anda secara gratis dan meletakkan foto tersebut di jejeran karyanya, seperti apa anda akan ingin difoto?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Prisya, betul sekali waktu sudah imsak dan tandanya anda mesti cepat-cepat. Kenapa? Karena kalau batasnya adzan maghrib, namanya bukan imsak dong. Ada lima alternatif gaya sebenarnya, yang mana untuk memilih satu diantaranya, saya sarankan untuk shalat istikharah dulu atau jangan sekalian:

  1. Gaya apapun sambil merem. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, kecuali dia kedapatan paparazzi sedang shalat.
  2. Gaya sedang shalat. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, karena mereka shalat memang untuk Allah, bukan fotografer.
  3. Gaya sedang puasa. Kau tahu, jika kau bukan difoto untuk model sebuah makanan atau minuman, kau bisa interpretasikan model itu sedang berpuasa.
  4. Gaya sedang dipenjara. Kau tahu, selebriti tidak akan melakukan itu, kecuali mereka benar-benar dipenjara.
  5. Gaya ala selebriti. Kau tahu, tak ada satupun selebriti yang melakukan itu, karena mereka selebriti beneran.

Pertanyaan dari Pens Beurat Off Clinic (via YM):

Halo Kak Syaraf, saya senang baca off-clinic sejak saya kelas 5 SD (sekarang saya kelas 5 SD). Mau tanya dong:

  1. Kok kakak mau sih mengasuh off clinic? Suka dukanya apa?
  2. Kok jawabannya keren-keren sih? Inspirasi dari mana tuh?
  3. Rambut kakak paling panjang segimana? Itu pas kapan? Perasaan botak terus. Heuheu.
  4. Gimana caranya supanya gua nemu inspirasi buat bikin pertanyaan off clinic?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, Dik, lama juga yah anda ngepens sama rubrik ini. Baiklah saya jawab, meskipun saya kasian sebenernya, anda kok kecil-kecil sudah galau:

  1. Saya tidak mau sebenarnya, melainkan malu-malu mau. Kau tahu bedanya, Dik? Coba ngacung kalo gak ngerti. Sukanya, kalo saya menjawab off clinic sambil makan-makanan yang enak. Dukanya, kalo saya menjawab off clinic sambil saya mengetahui kalo saya lagi susah buang air. Kau tahu maksudnya, Dik?
  2. Inspirasinya dari Malaysia, Dik. Kau tahu mereka kan tidak kreatif dengan mengklaim banyak kebudayaan kita. Nah saya tidak mau seperti itu, Dik. Jadi mereka mengilhami saya, mereka baik juga kan?
  3. Paling panjang dulu, Dik, waktu SMA. Waktu itu kakak lagi seneng-senengnya sama Metallica. Kau tahu mereka, Dik? Huruf ”c” nya jangan dibaca ”c” yah. Tapi pas kakak mau niru, rambut mereka malah dipotong pendek. Lalu pas kakak ingat peraturan sekolah yang melarang rambut panjang, jadi urung, Dik. Jadi faktor lingkungan ini sebenarnya, Dik.
  4. Ah, Dik. Jangan takut bertanya selama kau masih melihat banyak jalan disana. Karena kalau jalan masih banyak, artinya kau masih mungkin tersesat, yang mana hanya bisa diselesaikan dengan bertanya. Dan jangan takut bertanya, selama kau masih galau, karena ada peribahasa: Dimana ada gula, disitu ada semut. Dimana ada kegalauan, disitu ada semut. Kau ngerti, Dik? Tak ada gading yang tak retak, tak ada tempat yang tanpa semut.

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com atau message ke fb Kak Syaraf : Syarif Maulana. Kak Syaraf akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

23.8.09

Jika Serigala Berbulu Imitasi Bertanya


kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini






Pertanyaan dari Serigala Berbulu Imitasi (via message FB):

Fiat Justitia

Kepada Yth :

Bung Syarap Machiavelli

Di tempat

Terima kasih atas undangannya untuk memberikan pertanyaan di forum terbuka ini. Saya sendiri memang memiliki beberapa kegundahan di hati, yang selama ini selalu ditahan seperti kentut, sehingga menimbulkan komplikasi berkepanjangan, entah itu sembelit, krisis pede, hingga flu jurig.

Beberapa pertanyaan sekaligus kegundahan itu antara lain :

  1. Apakah sosialisme a la Marx, liberalisme a la John Maynard Keynes, dan neoliberalisme a la Milton Friedman memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan musik klasik di Bandung?
  2. Mengapa proses menuju buka puasa dinamakan ngabuburit? Apakah ada kaitannya dengan palu arit?
  3. Bagaimana pendapat anda sebagai Indon mengenai konflik dengan negara tetangga?
    Demikian pertanyaan saya bung. Semoga emisi gas buang saya ini bisa berguna untuk kemaslahatan semua ummat.

Pro Deo et Justitia

Jawaban dari Kak Syaraf:

Fiat Justitia, Ruat Caelum

Baiklah, saya akan mencoba menampung kentutmu yang kekiri-kirian ini.

  1. Marxis berkata, ”Masyarakat jangan ikut campur soal ekonomi, agar negara saja yang totaliter, sehingga mudah itu tercapai kondisi sama rata sama rasa.” (sumber: Manifesto Komunis) Lalu revolusi Keynesian berkata. ”Negara sulit mencapai kondisi full-employment tanpa intervensi pemerintah. Maka jangan posisikan buruh sebagai penawaran semata, tapi juga permintaan.” (Buku Ekonomi SMA) Lalu Friedman mengatakan, ”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.” (pasal 28 UUD ’45) Baik, lalu apa pengaruhnya dengan perkembangan musik klasik di Bandung? Dari Marxis, diajarkan bahwa untuk sama rata sama rasa, aplikasinya adalah jual tiket konser bagi semua orang dua puluh ribu. Lewat Keynes, diajarkan bahwa kita mesti mencicipi SMA dulu karena soal Keynes ada di buku SMA. Apa hubungannya SMA dengan musik klasik di Bandung? Belum tentu ada, tapi tamat SMA jelas sesuatu yang baik. Terakhir, tanpa Friedman, jelaslah tak ada konser-konser yang kumpul-kumpul itu. Jadi cukup jelas bahwa ketiga orang itu adalah Bapak Musik Klasik Bandung.
  2. Baiklah, begini, ngabuburit itu asal katanya burit, sepertinya bahasa indonesianya adalah senja, atau kondisi sore menjelang malam hari. Jadi ngabuburit itu berarti ”menanti senja”. Adakah hubungannya dengan palu arit? Ada, ada, dengan atau tanpa palu arit kan, senja pasti datang.
  3. Oh, soal konflik negara tetangga, saya berpendapat begini: budaya bukan soal-soal batas negara. Karena pengaruh budaya selalu meluas melampauinya. Jadi kala negara tetangga mengklaim, terus kita kebakaran kumis, itu dua-duanya, menurut saya, sama-sama aneh. Budaya adalah identitas kultural, dan tak usah menggunakan jalur hukum untuk mengesahkannya. Semua orang tahu Tari Pendet dan Rasa Sayang-Sayange milik siapa lewat seleksi kultural yang alamiah. Malu nih, ributin budaya dicuri tetangga, padahal kerjaan kita adalah meniru-niru budaya Amerika, Eropa, dkk. Masih mending Amerika, Eropa punya nenek moyang berjauhan sama kita, Malay? Sepertinya sama-sama saja nenek moyangnya, wajar kalo tradisinya bisa sama. Edan, saya jadi serius gini.

Semoga emisi anda menjadikan puasa eksis dengan candilnya.

Pro Deo et Hotel

----

Kirim pertanyaanmu tentang apaaaaaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf akan menjawabnya

Google Twitter FaceBook

17.8.09

Garda Depan Revolusi Bertanya

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini






Pertanyaan dari Garda Depan Revolusi (via message FB):

Selamat malam Mbah Sarap, yang selalu menggendong kemana2. Saya ada pertanyaan :
1. Dari unsur apakah seorang pria dapat dilihat sikap gentlemen-nya? Apakah dari “3 TA” (harTA, tahTA, waniTA), atau dari SARIP (Suku, Agama, Ras, IPK) ?
2. Apa yang seharusnya kita lakukan jika kita menabrak mobil dari supir angkot?
3. Saya ingin membuat sebuah karya epik berjudul “The Galau Concerto” dan “Jomblo Maning Suite”. Kemanakah saya harus berguru mengenai komposisi, agar kedua karya saya itu dapat diterima oleh khalayak ramai secara umum, dan para jombloers secara khusus?
Sekian dan terima kasih. I LOVE YOU FULL.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai, Garda Depan Revolusi. Kau ini apanya Garda Oto atau Garda Pancasila?

  1. Keseluruhan itu bukanlah ukuran ke-gentlemen-an seorang pria, baik 3TA maupun SARIP, itu adalah macam-macam racun dunia. Sebelum masuk ke ukuran ke-gentlemen-an, saya akan kasih tips untuk mengukur kesalehan, yakni dengan SARIP juga: Serahkanlah Amalanmu seolah kau akan Rest In Peace besok. Kesalehan yang lebih dalam juga bisa diukur lewat SARIP, apa itu? Ya kau liat aja si SARIP. Oke, gentlemen yah, pakai saja 3TA, Tamat Alquran, Tamat Adzan langsung solat, lalu Tamat Artinya selesai. Tapi itu masih kesalehan, maklum nih mau puasa. Ke-gentlemen-an sebenarnya tidak bisa diukur sih, sering-sering aja nonton film Gone With The Wind dan Maria Ozawa.
  2. Yang pertama, jangan salahkan wasit biarpun mereka sama-sama goblok. Tapi itu bukan berarti pekerjaan wasit lebih mulia, karena tanpa angkot, tidak ada wasit yang naik angkot. Sedangkan tanpa wasit, supir angkot masihlah eksis. Kau tahu, di bangku angkot derajat manusia sama semua. Hanya jika di hadapan Allah, yang membedakan adalah amal ibadah, sedangkan jika di angkot, yang membedakan adalah lebar pantatmu. Amal ibadah menentukan surga neraka, lebar pantat menentukan apakah sang bangku tetap relevan menampung kiri tujuh kanan lima. Jadi ketika kau menabrak angkot, ingatlah betapa mulianya sang supir menyamakan derajat para manusia. Dalam angkot, presiden dan tukang becak adalah sama, tapi presiden gendut dihitung dua, dan tukang becak kalo kalo naik angkot, becaknya dikemanakan? Setelah kau berpikir demikian, bawalah angkot yang kau tabrak ke bengkel, dan simpan umpatan goblok hanya dalam hatimu semata.
  3. Saya ingat, di Bandung ada beberapa komposer semisal Fauzie Wiriadisastra, Diecky K. Indrapradja, dan Royke B. Koapaha, dan coba kau minta sama mereka, dijamin tak akan diberi. Untuk menimbulkan efek galau, kau bisa coba dengarkan lagu-lagu Frank Zappa, ia menggunakan sedikit saja nada dan memutarnya berulang-ulang hingga selesai satu karya. Tidakkah galau adalah demikian? Kau memasalahkan persoalan yang itu-itu juga, tapi memutar-mutarkan hingga pusing kepala? Untuk jomblo maning suite, kau bisa coba dengarkan karya John Cage yang berjudul 4’33’’, yang berisi tentang keheningan selama empat menit tiga puluh tiga detik. Bukankah begitu rasanya jomblo? Hening maning? Nah sekarang tinggal kau atur waktunya tergantung lama jomblomu, bisa 1254’475000’’ atau lebih lama lagi, terserah.
Google Twitter FaceBook

10.8.09

Persiapan Puasa Ala Kak Syaraf Maulini

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Hamba Allah (kucing_garong@yahoo.com):

Hai Kak Syaraf, sebentar lagi puasa akan tiba, saya mau mengajukan beberapa pertanyaan:

1. Di rumah saya air sering mampet. Bagaimana jika ketika mau berbuka tidak ada air di rumah saya? Bagaimana saya harus berbuka?
2. Apa saja sih hal-hal yang membatalkan puasa? Kok sepertinya simpang siur dan selalu ada perdebatan soal mana yang membatalkan dan mana yang tidak?

Jawaban dari Kak Syaraf:

1. Beli aqua di pinggir jalan dunk ah. Kalo sulit juga, maka kau korek hidungmu sampai berdarah, batal deh.
2. Intinya begini sih sepertinya, setiap kau punya hawa napsu, lalu kau lampiaskan hingga terpuaskanlah hawa napsumu, barangkali itulah artinya batal. Bukan soal masuk nasi melampaui gigi, atau jumlah kata-kata dalam ngomongin orang, atau merk rokok yang kau hisap.


Pertanyaan dari Andika (via message FB):

Kak Syaraf, selamat atas resitalnya! Masih merayakan momen itu, saya memiliki tiga pertanyaan perihal resital:

1. Bagaimana posisi duduk yang seharusnya agar kentut penonton tidak terlalu kedengaran di tengah-tengah repertoire lagu yang sedang dimainkan?
2. Bagaimana mengatasi malu setelah bertepuk tangan keras-keras saat lagu belum selesai?
3. Setelah resital berlangsung selama dua jam dan tidak jelas kapan akan selesainya, apa yang bisa direkomendasikan supaya penonton tetap bangun dan terlihat intelek?
Terima kasih.

Jawaban dari Kak Syaraf:

1. Saya kira tak perlu malu kentut di tengah repertoar. Asalkan kau cermati lagunya. Jadi langkah pertama, kau hitung dulu si lagu itu per biramanya berapa ketuk. Nah kentutlah dengan keras untuk menandai awal birama, niscaya efek kontemporer dari si lagu akan membahana di ruangan. Ini serius. Bisa dicoba. Bisa pun kentutnya di akor terakhir lagu, tapi mesti sedikit panjang dan perlahan, karena setiap menjelang akhir lagu kan selalu memelan.
2. Kau teruskan tepukan itu, tapi ritmisnya diatur, sehingga menjadi metronom sebagai patokan si pemain untuk meneruskan lagunya. Bukannya malu yang didapat, tapi niscaya penonton haru: penonton, udah bayar, dibikin tegang, ternyata mau secara sukarela memberikan dasar ketukan bagi si pemain. Dan sebagai klimaks kerendahan hatimu, selesai acara, pulanglah lebih dulu, dan tutup wajahmu dengan jaket atau kantong plastik. Ceritanya anti riya’ dan popularitas.
3. Kau main cubit-cubitan aja sama rekan sebelah kamu. Tapi sekali lagi, ritmiknya disesuaikan. Pokoknya sebuah performa bukanlah semata-mata kesempurnaan memainkan notasi, tapi keseluruhan acara itu sendiri. Penonton kentut, tepuk tangan, cubit-cubitan, itu adalah bentuk partisipasi dua arah yang indah dalam sebuah pertunjukkan. Kuncinya satu, ritmikal. Biar agak intelek, jangan cubit-cubitan dunk, maen corat-coret pake kapur aja.

---

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf Maulini akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

2.8.09

Cara Mendengarkan dan Mengapresiasi Musik dengan Baik

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari Pirhot Nababan (via message FB):

Kak Syarafyangselalugalau, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab demi memenuhi rasa galau sebelum mendapatkan gelar sarjana :

1. Bagaimana ciri-ciri sesungguhnya dari orang yang sedang galau?

2. Apakah kegalauan merupakan bentuk dari misorientasi? Atau ekspresi wajar dari kekecewaan individu terhadap hal-hal tertentu, misalnya percetakan…eh, percintaan?
3. Apakah kegalauan dapat berdampak positif? Jika iya, bagaimana caranya? Jika tidak, bagaimana agar tetap bisa menjadi positif? *ngotot mode=on*

4. Apakah rasa galau harus dihindari? Atau justru dibiarkan datang dan dibasmi dengan cara minum minuman beralkohol, memakan makanan haram, dan berkeliling-keliling kota sambil memaki-maki lawan jenis?

5. Sekian dulu. Mungkin Kak Syarafyangselalugalau ada pertanyaan untuk saya?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Bung Pirhot, tentang galau saya ahlinya.

1. Tahukah kau apa itu stress? Pernahkah kepikiran bedanya dengan galau? Pertama, galau dan stress itu beda, dan keduanya tidak nyambung. Stress itu pikiran gundah, galau itu hati yang gundah, sedangkan beda itu embe sama kuda, dan nyambung itu nyaman bareng babi tapi tidak dengan maung. Ketiga, ciri-ciri galau, ya yang begini nih. Yang keduanya mana?

2. Galau itu wajar, dan tidak mesti dua belas tahun seperti yang dicanangkan. Apakah ada hubungannya dengan percintaan? Saya rasa justru lebih berkaitan dengan percetakan. Penemu mesin cetak itu kan namanya Johann Galautenberg.

3. Oh, galau itu sumber inspirasi terbesar. Tuangkanlah kegalauan jadi banyak karya-karya yang inspiratif, eh ini serius, jangan ketawa kamu. Mulailah dengan menulis, menggambar, masak, bunuh orang, atau apapun bakatmu. Pastikan setelah galau berakhir, jejak-jejaknya tersisa dalam sebuah karya. Kau tahu, nabi pun galau kala menerima wahyu. Dan kau tahu pula, wahyu tidak selesai di jaman nabi, kita-kita semua masih mendapatkannya.

4. Saya rasa bung Pirhot ini galau sekali. Galau itu sungguh dekat adanya, bahkan lebih dekat dari urat leher kita sendiri, itu ada dalam Al-Quran, tapi kata galau diganti Allah. Jadi mustahil menghindari galau. Saran saya sih, nikmati saja kegalauan, anggap saja dia makanan di meja makanmu. Kalau lapar makanlah, kalau tidak lapar, makan aja kalau emang enak makanannya. Kalau lapar tapi tidak ada makanan, belilah ke luar, kalau tidak ada uang, maka mintalah sama tetangga. Itu gunanya tetangga.

5. Ada. Hidup revolusi!

Pertanyaan dari Ngodongmong (via Yahoo Messenger):

Hai Kak Syaraf, saya mau nanya tentang musik, dan mohon dijawab serius nih hehehe. Bagaimana caranya mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan baik? Itu saja pertanyaannya, terimakasih.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Oke, nama kamu yang bener Ngomongdong kali ya? Coba cek aktenya. Yang pertama adalah, jangan kira segala ilmu pengetahuan tentang musik akan mendekatkanmu pada apresiasi yang baik. Sungguh, seringnya, ilmu tentang musik malah menjauhkanmu pada pendengaran yang hakiki. Kau tahu, semakin banyak tahu, maka semakin banyak aspek yang diteliti, dan kadang-kadang melupakan bagaimana mendengarkan musik itu sendiri, yang mana secara common sense biasa-biasa aja hasilnya cuma dua: enak atau tidak enak. Hal terpenting dari mendengarkan adalah menghilangkan prasangka. Jadi kala mendengarkan, tak perlu tahu secara personal siapa yang main, kalaupun tahu, tak usah dipikirkan. Lalu, tak perlu dibawa-bawa itu yang namanya selera musik, itu awal mula kita susah mendengarkan yang lain. Yang, keberapa ini ya? Berempatilah. Mencoba jadi si pemain, mencoba jadi si komposer, untuk lebih memahami kira-kira apa yang dia mau, dan menghargai usahanya. Nah, ilmu pengetahuan disini akan membantu kita untuk berempati, asal jangan disalahgunakan seperti yang saya bilang tadi. Misal kita punya pengetahuan bahwa bermain biola itu sulit, maka kita akan mudah berempati pada pemain biola. Begitu saja tipsnya, niscaya jika kita memurnikan pendengaran, maka segala musik adalah baik, benar, dan berguna adanya.

---

Kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail.com. Kak Syaraf Maulini akan menjawabnya.

Google Twitter FaceBook

26.7.09

Seseorang yang Ingin Tahu Jawaban Kak Syaraf


kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini

Pertanyaan dari seseorang yang ingin tahu jawaban Syaraf Maulini (via email):
Syaraf Maulini, maap saya agak aneh memanggil dengan kata Kak di depan kepada anda. Saya ada beberapa pertanyaan yg bilamana memungkinkan anda jawab dalam keadaan sadar.
1. Bagaimana menanggapi dan menghadapi wanita yg memiliki kemauan yg keras sehingga lebih terlihat seperti keras kepala?


2. Mengapa sesuatu hal yg telah direncanakan dan dijanjikan pd saat waktu nya menjadi tidak berjalan sebagai mana mesti nya dan bahkan gagal total? Apakah peran takdir ikut terlibat dalam masalah tersebut?
Terima Kasih


Jawaban dari Kak Syaraf:
Wahai, siapa namanya, oh panjang sekali, baiklah, begini ya:
1. Langkah pertama, jangan disiram dengan air keras, meskipun itu akan menggenapkan kata-kata keras. Agar lembut, tentu dengan diberi pengertian dan sesekali cobalah mengalah. Jika itu gagal, maka berilah saran. Saran agar apa? Agar tak terlalu keras kepala. Tapi jangan terjebak dengan keras kelak akan menjadi keras kepala. Karena bukan berarti jika kelak kemauannya lembut, maka kepalanya akan lembut pula.


2. Tentu saja ada. Karena takdir adalah kependekan dari tak direncanakan. Jadi dalam setiap rencana dan janji yang disusun oleh dik panjang namanya, mestilah dalam realisasinya, selalu ada unsur di luar rencana. Tapi biasanya, kita membahas takdir jika itu berkaitan dengan kemalangan. Betulkah? Ya, biasanya jika itu membahagiakan, kita sering menyebutnya keberuntungan semata. Oh, dasar manusia.


Dari Gadis Galau Jakarta (via message FB):
Hai, Kak Syaraf yang serba tahu:
1. Sebutkan lima restoran ter-romantis di jakarta dgn budget yang ga terlalu mahal!


2. Sebutkan soal-soal untk seleksi CPNS Deplu mendatang!

Jawaban dari Kak Syaraf:
Halo GGJ, kira-kira begini:
1. Ada Atmosphere di jalan lengkong, lalu 3 E’s View di Dago Pakar, kau tahu itu punya siapa? Teman kita loh, si Gondo. Ada pun Congo, Boemi Joglo, serta Batagor Kingsley. Kau tahu itu semua tempat-tempat di Bandung? Karena ngapain, orang Jakarta kalo makan pada ke Bandung, kok.


2. Siap? Catat ya:
1. Apa pendapat anda tentang pengeboman di Marriott dan Ritz Carlton kemarin?
2. Apa pendapat anda tentang pendapat SBY tentang keterkaitannya dengan pemilu?
3. Bagaimana cara menyeberangkan nenek-nenek yang baik dan benar, sesuai himbauan pelajaran Pendidikan Moral Pancasila?
4. Apakah kepanjangan CPNS?
5. Apa motivasi anda ke luar negeri? Dan apa bedanya luar dan dalam negeri? Kenapa luar negeri dinamakan luar negeri dan bukan dalam negeri? Oh, itu satu atau dua pertanyaan yah?
6. Apa warna syal merah rajutan Mba Upi? Siapakah Mba Upi itu?
7. Apa hubungannya Tobucil dan CPNS Deplu? Boleh dijawab tidak ada hubungannya loh.
8. Sebutkan rukun iman yang ketujuh dan kedelapan! Kebetulan yang ini saya ada kunci jawabannya: Rukun kepada warga dan rukun kepada tetangga.
9. Jelaskan pemahaman anda tentang sila satu pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, dari sudut pandang kasus Manohara!
10. Apakah anda senang Luna Maya nyanyi lagi Hijau Daun? Jika ya, tak perlu jelaskan!
Demikian soal-soalnya nak galau, jika betul semua, niscaya anda masuk surga.

Google Twitter FaceBook

19.7.09

Kegalauan Pemudi K dan Pertanyaan Anin

kaksyaraf asuhan Kak Syaraf Maulini

kirimkan pertanyaanmu tentang apaaaa … saja ke tobucil@gmail .com Kak Syaraf akan menjawabnya.

 

Kak Syaraf Maulini yang kurang ganteng, saya mau tanya:


1. Kenapa foto Kak Syaraf tampak belakang? malu ya sama depannya??
2. Kak Syaraf, kenapa 50% gaji saya habis untuk arisan??
3. Kenapa ketika di Bandung saya ingin di Jakarta, dan kenapa ketika di Jakarta saya ingin di Bandung?
4. Kenapa pacar saya tidak kunjung melamar saya?
5. Kenapa saya tidak bisa bermain alat musik?
6. Kenapa waktu saya SMA kepribadian saya sanguine melankolis, dan sekarang sanguin phlegmatis? kok bisa berubah
7. Oya dan satu lagi, bagaimana cara mendapatkan harta sebanyak cawapres no 1?
Terimakasih atas jawabannya Kak Syaraf, haleluya!

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai Dik Karina, mari sama-sama kita panjatkan kehadirat pohon pinang:

1. Itu sudah tampak depan. Close up tahi lalat saya.

2. Itu bagus dan kau berhenti di angka yang tepat. Karena meleset sedikit saja jadi 50% plus satu maka pemungutan suara akan berakhir.

3. Karena ketika di Bandung, kau lihat banyak mobil berplat Jakarta. Sedangkan ketika di Jakarta, kau lihat banyak jajanan Bandung yang buka cabang. Ketika di Bandung, kau tak tahan melihat kelakuan geng motor. Kala ke Jakarta, yang bikin kau tak tahan adalah kelakuan para geng mujahidin. Di Bandung, orang Jakarta berpikir untuk makan. Di Jakarta, orang Bandung berpikir untuk cari uang. Uang buat apa? Buat makan juga. Makan buat apa? Kalo lapar ga bisa cari uang, dong. Lalu, ketika kau di Bandung, maka cuaca tiba-tiba gerah tidak karuan, mending ke Jakarta yang sudah lebih jelas gerahnya. Pas ke Jakarta, kau ingin kesejukan Bandung, padahal kan tadi udah saya bilang, cuacanya gerah tidak karuan. Jadi sebenarnya apa yang kau rindukan?

4. Dia kurang percaya diri dengan masa depannya. Kerjaannya pergi ke cenayang terus kan? Ya, kan? Cobalah sekali-kali kuntit dia, pasti dia sedang asyik melamar dengan kartu rator.

5. Ah, semua orang bisa. Nada-nada harmonis itu cuma kesepakatan doank kok.

6. Dik Karina, kamu se-SMA sama saya, tapi kok saya kecewa yah, sejak kapan kamu pakai istilah sanguin untuk meminta nasi? Itu sama saja seperti kau menyuruh nyalakan lampu dengan kata hurungin! Jadi, ya, Dik, yang sopan itu, sanguan untuk meminta nasi. Oke, tadi, apa pertanyaannya? Oh, perubahan, itu wajar kok. Bahkan, kata Lacan, tidak ada identitas diri, yang ada identitas yang dibentuk atas percerminan terhadap orang lain. Jadi jangan heran kalo pribadi anda akan semakin beragam seiring pertambahan usia, bisa jadi sangukoneng antimelamin, sangugoreng pakekambing, hingga sangubereum teumakendog. Asal siap aja, Dik.

7. Kuncinya ya itu, jadi KOPASSUS, KOpi PASte Setiap Uang Selembar. Nanti kalau digerebek polisi usaha KOPASSUS-mu, maka jangan salah, ada tips KOPASSUS lainnya, yakni ”KOk Pusing Ah, Sudah, Sudahi saja Usaha Semua ini”. Dan akhirilah dengan tobat, lewat KOPASSUS ketiga, ”IstiKOmah, PAnjatkan Sujud Sembah Untuk tuhan Semesta alam”.

 

Ada pertanyaan featuring-an, nih … kalau yang ini dijawab agak serius sama pemudi misterius …

Ass..tobucil nin mau nanya, nin orangya agak konyol dalam keseharian tapi nin punya cerita yang cukup serius kalo buat ditulis tolong kasih tips biar nin bisa punya karakteristik dan ceritanya punya soulhelp me terimakasih wasalam...

Anin Sulasikin

Wallaikumsalam Wr. Wb

Anin, nulis itu santai dan ngalir aja, kok. Kuncinya sederhana banget : jujur dan konsisten.

Tulis aja cerita Anin apa adanya Anin, nggak usah berat mikirin harus begini atau harus begitu karena entar tulisannya malah nggak ketulis-tulis. Untuk nemuin karakteristik, sering-sering aja nulis, nanti pasti ketemu polanya.

Sedikit saran, coba, deh, Anin punya buku harian yang konsisten ditulis setiap hari. Isinya bisa apa aja ; keseharian Anin, pemikiran Anin, curhat, pokoknya apapun yang menarik buat Anin. Selamat mencoba, ya …

Google Twitter FaceBook

12.7.09

Cara Menghadapi Cowok Posesif dan Pengatur

kaksyarafasuhan Kak Syaraf Maulini

 

 

 

Pertanyaan dari Enggi (via message FB):

Hai Kak Syaraf Maulini yang ganteng, mau nanya nih.

  1. Gimana caranya menghadapi cowok posesif dan suka mengatur?
  2. Kenapa kalo lagi ada masalah sama ceweknya, cowok terkesan acuh. Udah gitu besoknya kayak yang amnesia aja, terkesan gak ada apa-apa.
  3. Kenapa dalam dunia kerja nampanya keberuntungan mengalahkan kepandaian?
  4. Gimana caranya agar kita tak berpikiran buruk pada cowok ketika dia tidak mengabari kita, padahal kita tahu dia lagi sibuk sama kerjaannya?
  5. Mengapa cewek cantik terkesan dimudahkan dalam segala urusannya oleh semua pihak?

Jawaban dari Kak Syaraf:

Hai dik Enggi yang tidak mau disebutkan namanya, sini kak Syaraf bantu menghadapi kegalauanmu.

  1. Mudah. Dik Enggi bangun saja bangunan kecil berukuran sekira 3 x 4 meter. Lalu suruh priamu tinggal disitu, dan namakan bangunan tersebut poshansip. Tentu lebih memberikan keamanan ketimbang posesif kan? Kalau suka mengatur, saran dari spikotest saya adalah begini: suruh dia melamar jadi tukang parkir. Disana ia dapat menyalurkan minat dan bakatnya, boleh mengatur seenaknya kan? Bisa mengatur manusia untuk ke kiri, ke kanan, atau balas, balas apa entahlah.
  2. Cek dulu, apakah cowok itu Tao Ming Tse? Jika ya, cek lagi episodenya, jika itu berasal dari Meteor Garden volume 2 episode 1, maka jelaslah ia merupakan cowok yang amnesia itu. Terkesan acuh itu perasaan Dik Enggi aja. Atau, apakah sang pria membawa mobil? Coba cek dulu acuhnya, siapa tau kurang setrum.
  3. Betul, saya pun sulit menjawab itu. Dalam komik pun keberuntungan nampaknya selalu mengalahkan keberdonalan.
  4. Dik Enggi mesti menanyakan itu pada suara, dengarkanlah aku, apa kabarnya, pujaan hatiku. Tapi dengan dia sibuk sama kerjaannya, setidaknya Dik Enggi bisa lega karena ternyata dia bukan komunis yang sibuk sama rata dan sama rasa.
  5. Ah, tidak selalu. Ini tidak berlaku bagi pihak a, alias pihaka, alias PHK. Disana perusahaan tak pandang bulu, tapi pandang kecantikan, jadi Dik Enggi ini ada benarnya.

Pertanyaan dari Azisa dan Afifa (di mobil pulang dari kawinan):

Hai Kak Syaraf yang ganteng, mau bertanya agar tak sesat di kawinan:

  1. Ada istilah misogynist untuk pria yang membenci wanita. Kenapa tidak ada istilahnya untuk wanita yang membenci pria? Apakah memang wanita yang membenci pria dianggap wajar dan tak perlu dilabeli macam-macam? Mohon penjelasannya.
  2. Mengapa dalam keluarga, sesama saudara pria jarang sekali saling berdekatan secara gestural? Maksudnya, beda dengan saudara wanita yang akrab satu sama lain, dan mereka mau menunjukkannya. Ini beneran loh, Kak, hasil observasi.

Jawaban dari Kak Syaraf:

Halo Afifa dan Azisa, sini ditunjukkan jalan yang lurus dan benar:

  1. Ada istilahnya, dan yang pasti bukan mistikus cinta karena itu lagunya Dewa. Namanya misandry, berasal dari bahasa Yunani, yakni misos dan andros. Misos artinya benci, sedangkan andros berarti pria. Ada juga perilaku wanita yang disebabkan oleh misandry, namanya misro. Berasal dari bukan-bahasa Yunani, yakni amis dan di jero.
  2. Karena dalam keluarga tak ada apel bendera. Jadi tak ada setengah lencang kanan, jadi untuk apa berdekatan?
Google Twitter FaceBook

LinkWithin

Blog Widget by LinkWithin